Beranda blog Halaman 3

Ketua Umum Hidayatullah: Peradaban Islam Harus Menjawab Persoalan Zaman

0

YOGYAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengajak generasi muda Islam untuk memandang pembangunan peradaban bukan sekadar sebagai gagasan, melainkan sebagai ikhtiar menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat menjadi pemateri dalam kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali di Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). Dalam forum yang mengangkat tema “Peradaban Islam, Sebuah Ilusi?” itu, ia menekankan pentingnya kemampuan umat Islam membaca perubahan zaman sekaligus meresponsnya dengan nilai-nilai Islam.

Menurut Naspi, tantangan kehidupan modern terus berkembang dan menyentuh berbagai sektor, mulai dari ekonomi, sosial, teknologi hingga perkembangan pemikiran. Kondisi tersebut menuntut umat Islam tidak cukup hanya memahami ajaran secara normatif, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata.

“Islam harus mampu menjawab tantangan riil saat ini. Pertanyaannya, apakah Islam mampu menjadi payung besar bagi seluruh cabang ilmu?” ujar Naspi dalam forum tersebut.

Ia menegaskan, peradaban Islam seharusnya melahirkan kehidupan yang memberikan manfaat, ketenangan, pencerahan, dan kebaikan bagi masyarakat. Karena itu, nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku dan karya yang dapat dirasakan secara langsung.

“Islam itu harus membahagiakan, mencerahkan, menerangkan. Berikan senyum dan perkataan yang baik kepada kehidupan,” katanya.

Naspi juga mengingatkan bahwa upaya membangun peradaban Islam menghadapi tantangan dari dua arah. Dari eksternal, umat dihadapkan pada derasnya arus globalisasi, liberalisme dan sekularisme, serta perkembangan teknologi digital yang turut mengubah pola interaksi dan cara manusia mendapatkan informasi.

Sementara dari sisi internal, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, antara lain pola pikir yang kaku, rendahnya literasi, persoalan ekonomi, hingga konflik di tengah umat.

“Tantangan kita bukan hanya dari luar. Dari dalam juga ada rigiditas berpikir, literasi yang lemah, persoalan ekonomi, dan konflik internal. Semua ini harus kita jawab jika ingin membangun peradaban Islam,” tuturnya.

Dalam konteks kaderisasi, Naspi menilai generasi muda memiliki posisi strategis untuk mengambil bagian dalam menjawab berbagai tantangan tersebut. Karena itu, forum NGL tidak hanya diarahkan untuk memperkuat wawasan keislaman, tetapi juga membangun kapasitas intelektual dan kepemimpinan peserta.

Ia mendorong generasi muda agar memiliki kemampuan membaca dinamika zaman secara kritis, tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam. Kemampuan tersebut, menurutnya, penting agar generasi penerus tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi mampu menawarkan gagasan dan solusi bagi persoalan masyarakat.

Dengan perspektif tersebut, gagasan tentang peradaban Islam tidak ditempatkan sebagai romantisme terhadap kejayaan masa lalu. Peradaban justru harus dibuktikan melalui kemampuan umat menghadirkan kehidupan yang lebih baik serta memberikan jawaban terhadap kebutuhan manusia pada zamannya.

Kegiatan NGL Regional Jawa-Bali menjadi salah satu ruang pembinaan generasi muda untuk mempertemukan wawasan keislaman, intelektualitas, dan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang terus berubah.

Reporter: Achmad Jaelani Abdul Rahim
Editor: Susanto Bachtiar

Milad Emas Pesantren Hidayatullah, Kiai Naspi Arsyad Tekankan Regenerasi dan Investasi SDM

0

BALIKPAPAN (HidayatullahSulsel.or.id) — Memasuki usia 50 tahun, Hidayatullah didorong semakin serius menyiapkan generasi penerus melalui regenerasi kepemimpinan dan investasi sumber daya manusia (SDM). Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kesinambungan perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad menyampaikan hal itu dalam peringatan Milad Emas ke-50 Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (5/8/2026).

Menurut Kiai Naspi, keberlanjutan organisasi tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman generasi sebelumnya. Hidayatullah perlu secara sistematis menyiapkan kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, wawasan intelektual, dan kecakapan membaca perkembangan zaman.

Karena itu, ia menempatkan program rejuvenasi atau regenerasi kepemimpinan sebagai salah satu agenda strategis organisasi. Penguatan kapasitas pengurus, kata dia, membutuhkan investasi yang direncanakan dan berkelanjutan.

“Kita harus mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kualitas pengurus. Kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan manajerial, administratif, membaca peluang, dan mengembangkan sumber daya. Semua itu membutuhkan investasi,” tegas Kiai Naspi.

Ia mengungkapkan, DPP Hidayatullah mulai memberikan ruang yang lebih luas kepada kader muda untuk terlibat dalam kepemimpinan. Pemberian ruang tersebut sekaligus diarahkan untuk menjadi proses pembelajaran agar kader memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai ketika menerima amanah yang lebih besar.

Selain kepemimpinan, pengembangan kualitas intelektual kader juga menjadi perhatian. Naspi menyampaikan adanya komitmen untuk memperkuat program pendidikan, termasuk dukungan beasiswa jenjang magister dan doktor.

Bahkan, DPP Hidayatullah menargetkan lahirnya sedikitnya lima profesor dari kalangan kader dalam periode kepengurusan saat ini.

“Kita ingin Hidayatullah dikenal bukan hanya karena dakwahnya, tetapi juga karena gagasan, keilmuan, dan kualitas sumber daya manusianya. Untuk itu kita harus melahirkan lebih banyak doktor, profesor, pemikir, dan pemimpin masa depan,” ujarnya.

Kiai Naspi juga mendorong Pemuda Hidayatullah mengambil peran lebih besar dalam pengembangan gagasan. Kajian, riset, dan berbagai formulasi solusi atas persoalan masyarakat dinilai perlu diperbanyak agar kontribusi kader tidak hanya terlihat dalam aktivitas dakwah, tetapi juga dalam ruang intelektual dan sosial.

Ia menilai usia setengah abad merupakan momentum bagi Hidayatullah untuk memasuki fase organisasi yang semakin matang. Kedewasaan tersebut, menurutnya, harus tercermin dalam kemampuan membaca potensi, mengelola dinamika, serta mengambil keputusan secara bijaksana.

Di tengah proses tersebut, Naspi mengingatkan agar persaudaraan tetap menjadi kekuatan utama organisasi. Dinamika internal merupakan hal yang tidak terhindarkan, tetapi tidak boleh menghilangkan ikatan hati antarkader.

“Yang paling kita syukuri bukan hanya perjalanan lima puluh tahunnya, tetapi ikatan hati yang tetap terjaga. Dinamika tentu ada, tetapi hati kita tidak saling membelakangi,” katanya.

Peringatan Milad Emas di Gunung Tembak juga menjadi momentum untuk mengenang jasa para perintis Hidayatullah. Kiai Naspi mengajak seluruh keluarga besar Hidayatullah mendoakan para pendiri dan as-sabiqunal awwalun yang telah meletakkan fondasi perjuangan organisasi.

Ia mengingatkan generasi saat ini agar menjadikan warisan perjuangan tersebut sebagai amanah yang harus dilanjutkan, bukan sekadar sejarah yang dikenang.

“Seluruh yang bergabung di Hidayatullah datang untuk berjuang. Karena itu tugas kita adalah mempertautkan hati, menjaga persaudaraan, dan terus menguatkan perjuangan bersama,” pesannya.

Peringatan Milad Emas ke-50 Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak dihadiri Rais Am Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, para pembimbing, guru, santri senior, pengurus, serta warga Kampus Hidayatullah dari berbagai generasi. Momentum tersebut sekaligus menjadi penanda penting untuk memperkuat fondasi kaderisasi dan menyiapkan kepemimpinan Hidayatullah pada masa mendatang.*/

Enam Alumni STIS Hidayatullah Balikpapan Ditugaskan ke Berbagai Pesantren di Sulsel

0

BALIKPAPAN (HidayatullahSulsel.or.id) — Sebanyak enam dari 75 alumni Sarjana Hukum (S.H.) STIS Hidayatullah Balikpapan yang menerima amanah penugasan dakwah tahun 2026 akan mengabdi di berbagai pesantren Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Penugasan tersebut merupakan bagian dari distribusi 75 alumni STIS Hidayatullah ke berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperkuat dakwah dan pengabdian Hidayatullah di tengah masyarakat.

Prosesi penugasan digelar di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ahad (2/8/2026), dalam kegiatan Penugasan Dai dan Daiyah Sarjana Hukum STIS Hidayatullah Balikpapan Tahun 2026.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad dalam taujihnya mengingatkan para alumni bahwa penugasan tidak semata-mata berkaitan dengan penempatan geografis, tetapi menjadi bagian dari proses tarbiyah untuk menguji dan membentuk kualitas pengabdian seorang kader.

Ia menyebut fase penugasan sebagai marhalatu syaqqil anfus, yakni tahapan ketika seorang kader ditempa untuk keluar dari kenyamanan pribadi dan belajar mendahulukan amanah dakwah serta kepentingan umat.

“Penugasan bukanlah hukuman, melainkan proses pembentukan jiwa yang melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan kepemimpinan,” ujar Naspi.

Menurutnya, para sarjana yang telah menyelesaikan pendidikan tidak hanya membawa bekal akademik ke tempat tugas. Mereka juga membawa amanah untuk melanjutkan estafet dakwah dan menerjemahkan ilmu yang diperoleh menjadi pelayanan serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam menjalankan tugas di daerah masing-masing, Naspi mengingatkan para kader untuk tetap memegang ats-tsawābit, yakni prinsip-prinsip dasar perjuangan yang tidak berubah meskipun medan dakwah berbeda.

“Seorang kader boleh berpindah, namun yang tidak boleh berubah adalah akidahnya, manhaj perjuangannya, keikhlasannya, adabnya, ibadahnya, loyalitasnya kepada jamaah, serta komitmennya dalam melayani umat. Kader boleh lentur dalam strategi, tetapi tidak boleh goyah dalam prinsip,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi para alumni yang akan menghadapi lingkungan dan tantangan dakwah yang beragam. Menurut Naspi, ukuran keberhasilan kader bukan ditentukan oleh nyaman atau tidaknya lokasi penugasan, melainkan oleh kesungguhannya menjaga amanah dan nilai-nilai perjuangan.

“Nilai seorang kader tidak diukur dari apakah tempat tugasnya sesuai dengan keinginannya, tetapi dari kesediaannya taat ketika amanah itu justru tidak sesuai dengan keinginan pribadinya,” katanya.

Naspi juga mengingatkan para alumni agar tidak menjadikan fasilitas maupun penghasilan sebagai ukuran keberhasilan dalam menjalankan tugas. Ia meminta kader menjaga perasaan sesama dan menghindari sikap mempertontonkan kemudahan yang diperoleh di tempat tugas.

“Jangan pernah membanggakan besarnya gaji atau fasilitas di tempat tugas. Jangan melakukan flexing. Bisa jadi ada saudara-saudara kita sesama kader yang tetap istiqamah berdakwah dengan penghasilan yang sangat terbatas,” pesannya.

Khusus bagi enam alumni yang akan ditempatkan di pesantren-pesantren Hidayatullah di Sulsel, penugasan tersebut diharapkan dapat memperkuat aktivitas pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Keberadaan kader baru juga menjadi bagian dari kesinambungan kaderisasi Hidayatullah. Mereka diharapkan tidak hanya menjalankan tugas sesuai bidang keilmuan, tetapi mampu beradaptasi dengan kebutuhan pesantren dan masyarakat serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 75 sarjana hukum STIS Hidayatullah Balikpapan secara resmi menerima amanah penugasan ke berbagai wilayah Indonesia. Bagi Hidayatullah, distribusi kader tersebut menjadi salah satu instrumen untuk menjaga kesinambungan dakwah sekaligus memperluas kontribusi organisasi melalui pengabdian para alumninya.

Obituari Ustadz Muallimin: Alumni Bastra SMAN Malili, yang Memilih Jalan Sunyi

0

Oleh: Ahkam Sumadiana*

Hari ini saya mendapat kabar duka tentang kepergian Ustadz Muallimin Amin. Kabar itu membawa saya kembali pada sebuah masa yang telah berlalu berpuluh-puluh tahun. Saya teringat seorang anak muda yang ketika itu masih duduk sebagai siswa SMA Negeri Malili, Luwu Timur. Ia adalah salah satu peserta Bastra atau Daurah Islamiyah yang kami laksanakan pada tahun 1987 sampai 1988.

Saya mengenal Muallimin pertama-tama sebagai seorang siswa. Ketika itu, saya belum mengenalnya sebagai seorang ustadz, apalagi sebagai seorang da’i yang kelak akan menghabiskan sebagian hidupnya di berbagai pelosok negeri. Namun, sejak awal, ada sesuatu yang saya ingat dari dirinya. Ia termasuk siswa yang bersemangat dan cukup menonjol dalam mengikuti kegiatan pembinaan Islam yang kami laksanakan.

Kegiatan Bastra tersebut diprakarsai dan dikawal langsung oleh Ibu Manseng, guru agama di SMA Negeri Malili, bersama Bapak Abd. Karim dan Bapak Labesse. Para instruktur dan pemateri yang terlibat di antaranya Ustadz Aziz Qahhar, Ustadz Khairil, Ustadz Abd. Majid, dan saya sendiri. Ada pula beberapa orang lainnya yang turut mengambil bagian, tetapi setelah waktu berjalan sedemikian panjang, saya tidak lagi mampu mengingat seluruh nama mereka.

Peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa dan siswi Muslim, mulai dari kelas I sampai kelas III SMA Negeri Malili. Pada masa itu, kami berusaha memberikan pembinaan keislaman kepada para siswa dengan memperkenalkan pemahaman Islam yang lebih utuh. Kami ingin mengajak mereka mengenal Islam bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai jalan hidup yang harus dipelajari, diyakini, dan diamalkan secara kaffah.

Pada waktu itu, kami para instruktur masih memiliki latar belakang yang cukup kental dengan tradisi HMI. Bersama dua orang akhwat yang secara khusus menangani pembinaan para siswi Muslimah, kami berusaha menyampaikan materi sesuai dengan pemahaman yang kami miliki. Salah satu contoh kehidupan Islam yang kami perkenalkan kepada para peserta adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Balikpapan.

Siapa yang menyangka, bertahun-tahun kemudian, tempat yang dahulu kami ceritakan kepada para siswa itu justru menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Muallimin.

Atas izin dan kehendak Allah SWT, setelah kegiatan training tersebut, terjadi perubahan yang cukup besar di SMA Negeri Malili. Hampir seluruh siswi Muslimah mulai mengenakan jilbab. Bagi kita sekarang, pemandangan seperti itu mungkin sudah biasa. Namun, pada masa itu, keadaannya sangat berbeda.

Kami masih berada di zaman Orde Baru. Mengenakan jilbab di lingkungan sekolah belum menjadi sesuatu yang lazim. Bahkan, seorang Muslimah yang mengenakan jilbab pada waktu itu masih sering dipandang asing. Mereka yang berusaha menjalankan ajaran Islam secara lebih kaffah pun tidak jarang mendapatkan kecurigaan dan stigma sebagai kelompok yang ekstrem atau radikal.

Persoalan jilbab kemudian berkembang menjadi pro dan kontra di lingkungan sekolah. Ketegangan itu akhirnya memunculkan aksi demonstrasi para siswa. Sejumlah siswa diamankan dan ditahan di kantor polisi Malili. Salah seorang di antara mereka adalah Muallimin Amin.

Saya tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Muallimin ketika itu. Tetapi satu hal yang saya ingat, pengalaman tersebut tidak membuat semangatnya untuk belajar dan menjalankan Islam menjadi surut. Justru setelah keluar dari tahanan, semangatnya untuk mendalami Islam dan berusaha menjalani kehidupan secara kaffah semakin kuat.

Pada akhirnya, Muallimin mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia memilih untuk berhijrah ke Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Saya tidak lagi ingat siapa saja yang ikut serta dalam perjalanan hijrah ke Hidayatullah Balikpapan pada waktu itu. Namun, saya mengetahui bahwa Muallimin kemudian menjalani proses pembinaan dan kaderisasi di KMM Gunung Tembak. Dari sanalah perjalanan panjangnya sebagai seorang kader dan pejuang dakwah semakin menemukan bentuknya.

Muallimin memang memiliki karakter seorang da’i dan mujahid. Ia tidak hanya berbicara tentang dakwah, tetapi menjalani kehidupan dakwah itu sendiri. Setelah menyelesaikan proses pembinaannya di Gunung Tembak, ia kemudian ditugaskan ke berbagai daerah dan wilayah di Papua, yang pada masa itu masih dikenal sebagai Irian Jaya.

Di sana ia mengabdikan hidupnya untuk dakwah. Jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, dan berada di medan pengabdian yang tentu tidak selalu mudah. Tetapi ia tetap menjalaninya. Ia telah memilih jalan hidupnya dan berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Kini, setelah mendengar kabar kepergiannya, ingatan saya kembali kepada Muallimin yang dahulu saya kenal sebagai seorang siswa SMA Negeri Malili. Saya mengenangnya sebagai seorang anak muda yang memiliki semangat, yang berani mengambil keputusan untuk kehidupannya, dan yang kemudian benar-benar menempuh jalan yang pernah ia pilih.

Saya merasa bersyukur pernah mengenal dan membina dirinya, meskipun tentu saja pembinaan itu hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang hidupnya. Setelah itu, banyak orang dan banyak guru yang ikut membentuk dirinya. Yang jelas, Muallimin telah tumbuh menjadi seorang ustadz dan da’i yang mengabdikan hidupnya untuk umat.

Hari ini, murid yang dahulu pernah duduk dalam ruang pembinaan itu telah mendahului kami semua.

Ustsdz Muallimin, selamat jalan.

Sebagai seorang guru yang pernah mengenalmu sejak engkau masih menjadi siswa, saya hanya bisa mengenang perjalananmu dengan rasa haru dan bangga. Engkau telah menempuh perjalanan yang panjang, dari seorang siswa di SMA Negeri Malili, kemudian memilih jalan hijrah ke Gunung Tembak, menjalani pembinaan, lalu mengabdikan diri di berbagai medan dakwah hingga ke tanah Papua.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal saleh dan pengabdianmu. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan kekhilafanmu, melapangkan kuburmu, memberikan cahaya dan ketenangan di alam barzakh, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Kami yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ini tentu akan selalu mengenangmu dalam doa.

Selamat jalan, Ustsdz Muallimin. Selamat jalan, muridku. Selamat jalan, sahabat seperjalanan dalam dakwah.

Semoga Allah SWT menerima pengabdianmu dan menempatkanmu di antara hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menganugerahkan kepadamu husnul khatimah dan, dengan rahmat serta kasih sayang-Nya, memasukkanmu ke dalam golongan para syuhada yang diridhai-Nya.

Selamat jalan, Mujahid. Semoga kita dipertemukan kembali di tempat yang lebih baik, di sisi Allah SWT.

*Penulis adalah Ustadz Ahkam Sumadiyana, M.A., aktifis HMI era 90an.

Hadiri Temu Kader di Luwu Utara, Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar Serukan Penguatan Kepemimpinan Islam

0

LUWU UTARA (HidayatullahSulsel.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Dr. KH. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., menekankan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga keberlangsungan perjuangan Islam berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri dan memberikan pembinaan kepada sekitar 50-an kader tingkat Ula dan Wustha se-Luwu Raya dan Ajatappareng dalam Temu Kader di Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Kabupaten Luwu Utara, Rabu (29/7/2026).

Kehadiran Ustadz Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, yang juga merupakan pendiri sekaligus Pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan, menjadi perhatian utama dalam kegiatan silaturahmi dan konsolidasi kader tersebut. Ia hadir bersama Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Shaleh, S.S., M.I.Kom.

Dalam pembinaannya, Ustsdz Dr. Abdul Aziz Qahhar menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan unsur fundamental dalam kehidupan berjamaah dan perjuangan Islam. Ia menukil perkataan masyhur yang dinisbatkan kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan.”

Menurut Ustsdz Dr. Abdul Aziz, konsep Imamah Jamaah bukanlah gagasan yang muncul belakangan, melainkan bagian dari nilai perjuangan Islam yang telah terbingkai sejak turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW.

Ia menegaskan, perjuangan Islam membutuhkan proses yang sistematis, berkelanjutan, dan ditopang oleh pembinaan kader yang kuat.

“Tidak ada Sistematika Wahyu tanpa perjuangan. Tidak ada harakah tanpa tarbiyah (pembinaan atau pendidikan), tidak ada Islam tanpa ilmu,” tegas Ustadz Dr. Abdul Aziz.

Ia kemudian menjelaskan bahwa perjuangan Islam harus ditopang oleh tiga komponen utama yang saling berkaitan dan berkesinambungan, yakni tarbiyah, dakwah, serta perjuangan di jalan Allah.

Menurutnya, ketiga unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kader yang memiliki pemahaman keislaman, kesiapan berjuang, serta komitmen terhadap kepemimpinan dan kehidupan berjamaah.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Shaleh, dalam arahannya mengingatkan para kader agar terus memperkuat pemahaman terhadap jati diri Hidayatullah.

Ia menegaskan bahwa jati diri Hidayatullah pada hakikatnya adalah Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, pemahaman terhadap jati diri tersebut perlu terus dikonsolidasikan dan ditanamkan kepada seluruh kader.

Ustadz Muhammad Shaleh juga menekankan prinsip jama’atun minal muslimin yang menjadi bagian dari karakter Hidayatullah. Menurutnya, prinsip tersebut harus mendorong kader untuk mampu membangun komunikasi dan berinteraksi secara baik dengan berbagai komponen umat Islam.

“Teman-teman, ketika berinteraksi dengan harakah lain, jangan bangun komunikasi hitam putih. Bangun kebersamaan dengan harakah lain, bangun komunikasi yang baik,” pesannya.

Namun, ia mengingatkan bahwa keterbukaan dalam membangun ukhuwah tetap memiliki batas, khususnya menyangkut prinsip-prinsip dasar keislaman.

“Kecuali dalam hal prinsip, maka kita tentu tidak boleh berbaur, seperti dalam hal penegakan akidah,” lanjutnya.

Lebih jauh, Ustadz Muhammad Shaleh mengingatkan kader agar mengimplementasikan nilai Imamah Jamaah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui sikap taat dan responsif terhadap keputusan serta agenda organisasi.

Menurutnya, ketika terdapat panggilan untuk menghadiri pertemuan atau menjalankan instruksi organisasi, kader semestinya merespons dengan baik sebagai bagian dari bentuk ketaatan dan komitmen dalam kehidupan berjamaah.

Temu Kader tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus konsolidasi bagi kader tingkat Ula dan Wustha di wilayah Luwu Raya dan Ajatappareng. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman kader mengenai jati diri, kepemimpinan, kehidupan berjamaah, serta kesinambungan pembinaan dalam perjuangan dakwah Islam.*/

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Silaturahmi dengan UAS di Rujab Bupati Luwu Utara

0

LUWU UTARA (HidayatullahSulsel.or.id) – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh, S.S., M.I.Kom., bersilaturahmi dengan dai nasional Ustaz Prof. Dr. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. (UAS) di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Luwu Utara, Ahad (26/7/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung di sela rangkaian kunjungan UAS ke Kabupaten Luwu Utara dalam rangka menghadiri Tabligh Akbar yang digelar di Lapangan Taman Siswa, Masamba. Kehadiran UAS dalam kegiatan tersebut disambut antusias ribuan masyarakat yang memadati lokasi acara.

Silaturahmi Ketua DPW Hidayatullah Sulsel dengan UAS menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan ukhuwah antara Hidayatullah dengan ulama serta tokoh umat. Dalam pertemuan tersebut, keduanya juga membahas sejumlah isu strategis terkait penguatan dakwah dan pendidikan Islam, khususnya di wilayah Luwu Raya dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pentingnya penguatan dakwah bil hikmah di tengah masyarakat. Dakwah dinilai perlu terus dikembangkan dengan pendekatan yang bijaksana, mencerdaskan, dan mampu menjawab kebutuhan umat, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Selain itu, dibahas pula peran kader Hidayatullah dalam menjaga ukhuwah Islamiyah serta mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan umat melalui dakwah dan pendidikan. Dukungan terhadap pengembangan pesantren dan lembaga pendidikan Islam di kawasan Luwu Raya juga menjadi bagian dari pembicaraan dalam silaturahmi tersebut.

Dr. Muhammad Saleh menyampaikan apresiasi atas kehadiran UAS di Masamba. Menurutnya, kehadiran dai nasional tersebut memberikan energi positif sekaligus semangat baru bagi masyarakat dan para kader dakwah untuk terus istiqamah dalam menjalankan tugas-tugas keumatan.

“Kehadiran UAS di Masamba ini adalah energi baru. Semoga dakwah kita semakin satu barisan untuk umat,” ujar Dr. Muhammad Saleh usai pertemuan.

Ia berharap silaturahmi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sinergi antara Hidayatullah, para ulama, dan berbagai elemen umat dalam memperkuat dakwah Islam yang moderat dan mencerahkan.

Sinergi tersebut diharapkan turut mendorong lahirnya generasi rabbani yang memiliki kedalaman ilmu, kokoh dalam iman, serta beradab dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Sambut UAS, Siap Dukung Safari Dakwah di Sulsel

0

MAROS – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Dr. Muh. Saleh, M.I.Kom., menyambut langsung kedatangan dai kondang nasional Prof. Ustadz H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D. (UAS) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Jumat (24/7/2026) dini hari.

Usatdz Muh. Saleh hadir bersama jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, di antaranya Kepala Departemen Organisasi DPW Hidayatullah Sulsel Ust. Drs. Muhammad Kaisar, serta Ketua BMH Sulsel Khairil, S.H., S.E. Penyambutan tersebut juga dihadiri Ketua Sahabat UAS Sulselbar H. Hasbi Hasibuan, Lc dan jajaran.

Kehadiran pimpinan DPW Hidayatullah Sulsel dalam penyambutan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus dukungan terhadap agenda dakwah UAS di Sulawesi Selatan. Ustadz Muh. Saleh menegaskan, Hidayatullah memandang penting sinergi antar-lembaga dan organisasi keislaman dalam mengawal dakwah Islam yang menyejukkan sekaligus memperkuat ukhuwah dan silaturahmi keummatan.

“Kami sengaja menjadi bagian dari penyambutan ini sebagai bentuk penghormatan dan sinergi antar-lembaga keagamaan dalam mengawal dakwah Islam yang menyejukkan serta mempererat silaturahmi keummatan di Sulawesi Selatan,” ujar Ustadz Muh. Saleh.

Ia juga menyatakan kesiapan DPW Hidayatullah Sulsel beserta jajaran untuk mendukung kelancaran rangkaian safari dakwah UAS selama berada di Sulawesi Selatan, khususnya dalam agenda Tabligh Akbar di wilayah Luwu Raya.

Tabligh Akbar tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur bersama sejumlah pemangku kepentingan daerah, termasuk Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari ICAT Sulsel, Madyan Tour & Travel, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, termasuk Hidayatullah.

Rangkaian Tabligh Akbar dijadwalkan berlangsung di tiga wilayah Luwu Raya. Agenda pertama digelar di Lapangan Andi Djemma, Belopa, Kabupaten Luwu, Sabtu (25/7/2026) malam selepas salat Isya.

Selanjutnya, UAS dijadwalkan menyampaikan tausiyah di Lapangan Taman Siswa, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Ahad (26/7/2026) pagi. Safari dakwah tersebut kemudian berlanjut ke Lapangan Pendidikan, Malili, Kabupaten Luwu Timur, pada Ahad malam selepas salat Isya.

Usatdz Muh. Saleh mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan agenda dakwah berskala besar tersebut. Menurutnya, sinergi lintas lembaga dan organisasi merupakan kekuatan penting dalam menghadirkan kegiatan keumatan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Rangkaian Tabligh Akbar bersama UAS diperkirakan akan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah di Luwu Raya. Sebelum menuju Luwu Raya, UAS juga dijadwalkan mengisi khutbah Jumat di salah satu masjid di kawasan Antang, Makassar, Jumat siang (24/7/2026).

Kiai Nashirul Haq: Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Pejuang Generasi

0

BALIKPAPAN (HidayatullahSulsel.or.id) — Guru dan dosen di lingkungan Hidayatullah didorong untuk memandang tugas pendidikan bukan semata sebagai profesi, melainkan sebagai bentuk pengabdian untuk menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah Ustaz Kiai H. Dr. Nashirul Haq dalam Pembinaan Guru dan Dosen bertema “Meneguhkan Jati Diri Guru dan Dosen Pejuang, Demi Lahirnya Kader Rabbani” di Aula LPPH, Balikpapan, Sabtu (11/7/2026).

Kiai Nashirul Haq menekankan bahwa ukuran keberhasilan seorang pendidik tidak semestinya diletakkan pada aspek materi. Lebih dari itu, seorang guru dinilai dari nilai dan pengaruh yang ditinggalkannya pada peserta didik.

“Jangan biarkan nilai seorang pendidik ditentukan oleh besarnya upah yang diterima. Kemuliaan guru terletak pada pengaruh yang ia tinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya,” ujarnya.

Menurutnya, guru dan dosen memiliki posisi strategis dalam membentuk manusia. Mereka tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, membangun karakter, serta mempersiapkan generasi yang akan melanjutkan estafet kehidupan.

Karena itu, Kiai Nashirul Haq mengingatkan pentingnya niat yang lurus, ketulusan, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Ketiga hal tersebut menjadi modal penting agar aktivitas pendidikan tidak kehilangan orientasi pengabdiannya.

Untuk menggambarkan makna pengabdian tersebut, ia mengisahkan seorang guru di daerah terpencil yang harus berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk menjalankan tugas mengajar. Meski hanya memperoleh honor sekitar Rp150 ribu per bulan, guru tersebut tetap bertahan menjalankan tugasnya.

“Bukan karena besar kecilnya upah, tetapi karena ia memahami bahwa mendidik adalah panggilan jiwa dan bentuk pengabdian yang nilainya jauh melampaui materi,” tuturnya.

Kiai Nashirul Haq juga mengingatkan bahwa hasil perjuangan seorang guru tidak selalu dapat disaksikan secara langsung. Nilai yang ditanamkan melalui proses pendidikan dapat terus tumbuh dan memberikan dampak jauh setelah seorang pendidik menyelesaikan tugasnya.

“Ketika seorang pendidik bekerja dengan totalitas, ia sedang menanam benih yang mungkin tidak ia panen sendiri. Namun, dari benih itulah akan tumbuh pemimpin, ulama, dan orang-orang yang memberi manfaat bagi masyarakat. Itulah warisan terbesar seorang guru,” katanya.

Pembinaan yang diikuti puluhan guru dan dosen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali jati diri pendidik di lingkungan Hidayatullah. Guru dan dosen diharapkan tidak berhenti pada fungsi pengajaran, tetapi juga tampil sebagai teladan dalam proses pembentukan kepribadian peserta didik.

Melalui penguatan tersebut, para pendidik diharapkan mampu menjalankan amanah pendidikan secara lebih utuh dan konsisten, sekaligus mengambil peran dalam menyiapkan kader rabbani yang kelak dapat memberikan kontribusi bagi umat dan bangsa.*/Abana

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Buka Rakerwil Pemuda, Dorong Kader Muda “Tancap Gas” Maksimalkan Peran Dakwah

0

Gowa (HidayatullahSulsel.or.id) – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan di Aula Abdullah Said, Pondok Pesantren Tahfidz Quran (PPTQ) Ashabul Jannah, Bollangi, Kabupaten Gowa, Sabtu (4/7/2026).

Rakerwil yang mengusung tema “Pemuda Menggerakkan Bangsa” tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 Juli 2026, dan diikuti jajaran Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan bersama pengurus daerah (PD) Pemuda Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi agenda strategis untuk menyusun program kerja tahunan sekaligus merumuskan arah gerakan kepemudaan Hidayatullah di tingkat wilayah.

Pembukaan Rakerwil turut dihadiri unsur Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, PW Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan, DPD Hidayatullah Kabupaten Gowa, Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar, Yayasan Ashabul Jannah Gowa, BEM STAI Al-Bayan Makassar, serta mahasiswa Pesmadai Makassar.

Sebelum pembukaan resmi, peserta menerima sambutan dari Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Rahmat Ghafur Rachman, S.E., dilanjutkan Kepala Departemen Organisasi PP Pemuda Hidayatullah, Zulfahmi, Lc., kemudian ditutup dengan arahan sekaligus pembukaan resmi oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman.

Dalam arahannya, Ustadz Dr. Muhammad Saleh menegaskan bahwa Pemuda Hidayatullah harus tampil sebagai generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus keberanian dalam memikul amanah dakwah dan kepemimpinan.

Menurutnya, karakter tersebut selaras dengan sejarah Sulawesi Selatan yang telah melahirkan banyak tokoh besar yang dikenal cerdas dan pemberani, seperti Arung Palakka dari Bone dan Sultan Hasanuddin dari Gowa. Semangat kepahlawanan itu, kata dia, harus diwarisi oleh kader-kader Pemuda Hidayatullah dalam bentuk kerja nyata membangun umat dan bangsa.

Selain menekankan kualitas kepemimpinan, ia juga menyoroti perlunya peningkatan etos kerja para kader muda.

“Saat ini saya lihat kekuatan pemuda baru sekitar 30 persen yang dikerahkan. Belum maksimal. Kita butuh tancap gas. Injak gas sampai 100 kilometer per jam,” tegasnya.

Namun demikian, menurutnya, energi perjuangan seorang kader tidak hanya bertumpu pada kemampuan organisasi, melainkan harus bersumber dari kekuatan spiritual.

Ia mengingatkan bahwa qiyamul lail merupakan fondasi utama yang akan melahirkan ketangguhan seorang dai dan aktivis dakwah.

“Shalat lail itu modal pemuda dalam melakukan peran dakwah. Lihat Surah Al-Muddatstsir. Perintah dakwah diawali dengan perintah qiyamul lail. Bangun malam, baru siap menebar risalah,” ujarnya.

Ustadz Muhammad Saleh Usman juga mengingatkan bahwa gerakan Hidayatullah dibangun di atas visi Al-Qur’an yang berawal dari wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbik, sehingga setiap kader dituntut menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan berpikir, bergerak, dan memimpin.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengulas pentingnya Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah Hidayatullah, yakni metodologi yang dirumuskan oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz KH Abdullah Said rahimahullahu, melalui ijtihad menjadikan urutan turunnya wahyu (tartib nuzuli) sebagai kerangka pembinaan kader dan pengembangan organisasi.

“SW ini adalah kekuatan kita di Hidayatullah. Dengan adanya Sistematika Wahyu, kita memiliki panduan yang jelas dalam membina kader dan mengelola organisasi. Dari situlah Hidayatullah dapat terus eksis hingga hari ini dan, insya Allah, akan terus berlanjut pada masa mendatang,” ujar Ustadz Muhammad Saleh Usman.

Melalui Rakerwil tersebut, Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan diharapkan menghasilkan program-program strategis yang mampu memperkuat peran organisasi dalam pembinaan kader, pelayanan umat, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui gerakan dakwah, pendidikan, dan kepemudaan.

Sulit Mengakui Kesalahan: Ujian Terberat Seorang Pemimpin

0

Oleh : Ahmad Firdaus*

Ada orang yang begitu mudah berbicara tentang taubat, tetapi sangat sulit mengakui kesalahannya sendiri.Ada yang mengajak orang lain rendah hati, tetapi gengsi meminta maaf kepada sesama. Semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan untuk mempertahankan citra daripada mempertahankan kebenaran.

Padahal, seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya keputusan yang selalu benar, melainkan dari keberaniannya mengakui kekeliruan ketika nyata-nyata salah.

Ironisnya, ada yang memilih “berapologi” dengan cara lain. Ia memperbanyak kegiatan sosial, dakwah, sedekah, membangun masjid, membuat program kemasyarakatan, bahkan semakin sering tampil di depan publik. Semua itu memang amal yang baik. Namun, amal-amal tersebut tidak dapat menggantikan kewajiban meminta maaf kepada orang yang telah disakiti atau dizalimi.

Dalam Islam, hak Allah dapat diampuni dengan taubat, tetapi hak sesama manusia menuntut penyelesaian. Selama permintaan maaf belum disampaikan dan kezaliman belum diperbaiki, persoalan itu tetap menjadi beban.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun yang lainnya, hendaklah ia meminta halal darinya hari ini, sebelum datang hari ketika dinar dan dirham tidak lagi berguna.” (HR. al-Bukhari).

Para sahabat memberikan teladan yang agung. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah merasa dirinya selalu benar. Umar bin Al-Khattab bahkan pernah berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kesalahanku.” Kalimat ini lahir dari jiwa besar, bukan dari orang yang haus pujian.

Para ulama salaf juga demikian. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Kerendahan hati ilmiah seperti inilah yang membuat ilmunya terus hidup hingga hari ini.

Sebaliknya, ketika seseorang lebih sibuk mempertahankan nama baik daripada mencari ridha Allah, ia akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan diri.

Kesalahan dibungkus dengan jasa. Kritik dijawab dengan pencitraan. Permintaan maaf diganti dengan aktivitas. Seolah-olah banyaknya manfaat dapat menghapus kewajiban menyelesaikan hak manusia.

Padahal, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang tidak pernah salah. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang jujur ketika salah, berani meminta maaf, dan segera memperbaikinya.

Mengakui kesalahan tidak mengurangi kehormatan. Justru itulah yang meninggikan kehormatan. Orang mungkin mengagumi kecerdasan, kekayaan, atau kepemimpinan seseorang. Namun, mereka akan mencintai pemimpin yang rendah hati, yang mampu berkata, “Saya keliru. Maafkan saya.”

Sesungguhnya, meminta maaf bukanlah kekalahan. Yang kalah adalah orang yang dikalahkan oleh gengsi dan egonya sendiri. Sedangkan yang menang adalah orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya demi kebenaran dan ridha Allah.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi menjadi cermin bagi kita semua. Sebab, setiap manusia bisa salah. Yang membedakan kemuliaan seseorang bukanlah sedikitnya kesalahan, melainkan seberapa cepat ia kembali kepada kebenaran dan berani meminta maaf.

*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2917-2022