Beranda blog Halaman 4

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Monev Semester I 2026, Perkuat Tarbiyah, Dakwah, dan Ekonomi Umat

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Semester I Tahun 2026 yang diikuti seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Sulawesi Selatan serta seluruh departemen di lingkungan DPW, Selasa (23/6/2026), bertepatan dengan 8 Muharram 1448 Hijriah.

Kegiatan berlangsung secara hybrid, memadukan pertemuan daring melalui Zoom Meeting dengan pelaksanaan luring di Kantor DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan di Makassar. Agenda ini menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian program selama periode Januari–Juni 2026 sekaligus menyusun langkah strategis menghadapi enam bulan terakhir tahun ini.

Dalam sesi evaluasi, setiap DPD mempresentasikan perkembangan program di daerah masing-masing. Paparan mencakup pembinaan kader, pelaksanaan halaqah, perkembangan pondok binaan, hingga berbagai aktivitas dakwah yang menyentuh masyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman, menegaskan bahwa organisasi akan memfokuskan perhatian pada dua prioritas utama, yakni penguatan program tarbiyah dan dakwah serta pengembangan sektor ekonomi sebagai penopang keberlangsungan program.

Menurutnya, tarbiyah merupakan ruh gerakan Hidayatullah sehingga harus memperoleh perhatian penuh di seluruh daerah. Ia menekankan pentingnya menghidupkan halaqah dan menjaga konsistensi pelaksanaan Lailatul Ijtima sebagai sarana pembinaan kader yang berkesinambungan.

“Tarbiyah harus mendapat perhatian penuh. Halaqah harus hidup dan Lailatul Ijtima harus rutin. Kader yang kuat lahir dari pembinaan yang istiqamah. Dakwah juga harus mampu menjangkau masyarakat luas, bukan hanya terbatas pada lingkungan internal,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa keberhasilan seluruh program organisasi sangat bergantung pada kemandirian ekonomi. Karena itu, setiap DPD didorong mengembangkan potensi ekonomi melalui koperasi, wakaf produktif, maupun unit-unit usaha yang mampu menopang kebutuhan operasional organisasi.

“Semua program membutuhkan biaya. Karena itu ekonomi umat harus digerakkan. Jangan sampai program yang baik berhenti hanya karena tidak memiliki dukungan pendanaan operasional,” tegasnya.

Usai pelaksanaan Monev secara daring, tim DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke berbagai zona di Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dipadukan dengan agenda Halaqah dan Lailatul Ijtima di masing-masing DPD sehingga proses monitoring dapat dilakukan secara langsung di lapangan.

Melalui kunjungan tersebut, tim DPW tidak hanya melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program, tetapi juga memberikan pendampingan, arahan, serta membantu menyelesaikan berbagai kendala yang dihadapi pengurus daerah.

Pelaksanaan Monev yang berlangsung pada 8 Muharram 1448 H ini menjadi titik evaluasi pertengahan tahun bagi DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan. Evaluasi tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat pelaksanaan program selama semester kedua sehingga target-target organisasi hingga akhir tahun 2026 dapat dicapai secara lebih optimal./*Rsk

Ustadz Dr. Muhammad Saleh: Hijrah Dimulai dari Mengoptimalkan Potensi Diri dan Menghidupkan Hati

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Suasana khusyuk menyelimuti ruang utama Masjid Umar Al-Faruq Al Bayan seusai pelaksanaan salat Subuh, Senin (22/6/2026). Dalam ta’lim terjemah lafdziyah yang dirangkaikan dengan tausiyah Subuh, Ustadz Dr. Muhammad Shaleh mengajak jamaah memahami hakikat hijrah sebagai perubahan nyata dalam kehidupan, bukan sekadar perpindahan tempat atau momentum yang hanya dikaitkan dengan datangnya bulan Muharram.

Meski baru menyelesaikan rangkaian safari dakwah di wilayah Luwu Raya, Ustadz Muhammad Shaleh tetap tampil penuh semangat menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada jamaah.

Mengawali tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa banyak orang sesungguhnya memiliki kemampuan, tetapi terhalang oleh cara pandang terhadap dirinya sendiri.

“Banyak orang yang sebenarnya mampu, namun merasa dirinya tidak mampu. Padahal, ketika ditelusuri lebih dalam, potensi besar itu sesungguhnya sudah ada di dalam dirinya.”

Menurutnya, hijrah merupakan proses perubahan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Allah telah menganugerahkan berbagai modal kepada manusia untuk memulai perubahan, mulai dari akal, kemampuan berpikir, kekuatan fisik, hingga berbagai sarana yang dimiliki.

Beliau juga menyoroti fenomena banyaknya penyandang keterbatasan fisik yang justru mampu melahirkan karya-karya besar dan memberi manfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang dikaruniai kesehatan dan kelengkapan fisik justru terjebak dalam berbagai alasan untuk tidak bergerak.

“Hijrah adalah soal keberanian memulai dan memanfaatkan potensi yang telah Allah titipkan,” ungkapnya.

Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Muhammad Shaleh menekankan bahwa aset terbesar manusia bukan semata-mata kekuatan fisik, melainkan hati yang hidup.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan fisik memiliki batas, sedangkan hati mampu menjangkau hal-hal yang tidak dibatasi ruang dan waktu, seperti kasih sayang, doa, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Beliau mengajak jamaah untuk menghidupkan hati melalui zikir, tadabbur terhadap ayat-ayat qauliyah dalam Al-Qur’an, serta merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta. Menurutnya, manusia sering kali merasa sempit menghadapi kehidupan, padahal Allah telah menganugerahkan hati yang memiliki keluasan luar biasa.

Sebagai implementasi makna hijrah, Ustadz Muhammad Shaleh merumuskan tiga langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni berhijrah dari kemalasan menuju kedisiplinan, berhijrah menuju kehidupan yang produktif dan terus berkembang, serta berhijrah bersama Al-Qur’an dengan menjadikannya pedoman dalam setiap aktivitas.

Untuk menegaskan bahwa hijrah harus diwujudkan melalui tindakan, beliau menceritakan pengalamannya pada pagi itu.

“Kami masih berada di Parepare pada pukul 02.30 dini hari. Namun atas izin Allah, kami dapat tiba di Makassar sekitar pukul 04.50 untuk melaksanakan salat Subuh bersama. Hijrah adalah eksekusi, bukan sekadar teori,” tuturnya.

Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Muhammad Shaleh mengajak seluruh jamaah menjadikan semangat hijrah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Mari kita berhijrah setiap saat, tanpa perlu menunggu datangnya bulan Muharram.”

Tausiyah yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut mengajak jamaah untuk tidak lagi meragukan potensi yang telah Allah anugerahkan, melainkan mengoptimalkannya melalui amal saleh, produktivitas, serta kedekatan yang semakin erat dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel: Penegakan Shalat Tak Bisa Dipisahkan dari Sistematika Wahyu

0
Foto bersama sebagian peserta Lailatul Ijtimak bersama pemateri.

LUWU (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, menegaskan bahwa penegakan shalat (iqamatus shalah) tidak dapat dipisahkan dari pemahaman dan pengamalan Sistematika Wahyu (SW).

Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan tausiyah pada rangkaian Halaqah Lailatul Ijtimak zona Luwu Raya yang digelar di Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sabtu-Ahad (20–21/6/2026).

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Saleh mengutip pesan Rais Aam Hidayatullah, Ustadz KH Abdurrahman Muhammad, bahwa momen paling nikmat untuk mentadabburi Al-Qur’an adalah ketika seseorang sedang mendirikan shalat.

Menurutnya, konsep iqamatus shalah bukan sekadar melaksanakan shalat secara ritual, tetapi menghadirkan nilai-nilai shalat dalam seluruh aspek kehidupan.

“Shalat yang ditegakkan itu adalah shalat yang diperagakan. Tidak hanya di dalam masjid, di luar shalat pun nilai-nilainya diamalkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, shalat yang benar adalah shalat yang dijalankan secara berjamaah dan berada dalam kepemimpinan, sehingga melahirkan ketertiban serta kesatuan umat.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Saleh juga mengulas dimensi komunikasi spiritual dalam shalat. Menurutnya, penggunaan dhamir mukhatab atau kata ganti orang kedua dalam bacaan shalat menunjukkan bahwa seorang hamba sedang berkomunikasi secara langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah merupakan surat yang sangat komunikatif. Namun, komunikasi yang baik hanya dapat terbangun apabila seseorang terlebih dahulu mengenal Rabb-nya.

“Kenapa bisa lancar komunikasi? Karena kita saling kenal. Di mana kita mengenal Allah untuk membesarkan dan memuliakan-Nya? Melalui Surat Al-‘Alaq,” jelasnya.

Atas dasar itu, ia menegaskan bahwa penegakan shalat tidak dapat dipisahkan dari Sistematika Wahyu. Menurutnya, SW bukanlah konsep yang hanya dimiliki pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz KH Abdullah Said Rahimahullah, ataupun eksklusif milik organisasi Hidayatullah, melainkan merupakan pola pembinaan yang bersumber dari tahapan turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah, kata dia, memberikan karamah kepada Ustadz KH Abdullah Said untuk merumuskan kembali pola tersebut sehingga dapat dipahami dan diterapkan dalam pembinaan umat.

Pada kesempatan yang sama, Ustadz Saleh mengingatkan agar para kader tidak memandang remeh konsep Sistematika Wahyu.

“Jangan sampai fisik kita berada di Hidayatullah, tetapi pikiran kita justru berada di luar Hidayatullah,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh kader untuk terus berhijrah menjadi pribadi yang memiliki semangat belajar. Menurutnya, pesan pertama dalam Surat Al-‘Alaq merupakan dorongan agar setiap kader menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Orang yang malas belajar, pada hakikatnya masih berada dalam kondisi jahiliyah,” katanya.

Berbicara mengenai tahapan dakwah sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Muddatsir, Ustadz Sholeh kembali mengingatkan pesan almarhum Ustadz Abdullah Said.

“Kalau ada orang yang bicara dakwah tetapi tidak beres Al-Muzzammil-nya, dia hanya menipu umat saja,” kutipnya.

Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu menjalankan amanah dakwah secara kokoh apabila belum menuntaskan proses pengenalan kepada Allah melalui Al-‘Alaq, pembentukan karakter dan keilmuan melalui Al-Qalam, serta penguatan spiritual melalui Al-Muzzammil.

Menutup tausiyahnya, Ustadz Sholeh mengingatkan pentingnya membangun fikrah yang selaras dengan manhaj Hidayatullah. Menurutnya, salah satu indikator kader yang belum berhijrah secara manhaji adalah rendahnya rasa percaya diri yang lahir dari minimnya proses belajar dan wawasan.

“Orang yang tidak percaya diri dipastikan belum hijrah secara manhaji, malas belajar, dan malas berwawasan,” pungkasnya di hadapan peserta Halaqah Lailatul Ijtimak.

Pesan-pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Lailatul Ijtimak bukan sekadar agenda silaturahmi triwulanan, melainkan forum penguatan ruhiyah, fikrah, dan manhaj bagi kader Hidayatullah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, para peserta diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga aktivitas dakwah dan pengabdian di tengah umat.*/Rsk

Penguatan Komitmen Kader Jadi Fokus Halaqah Lailatul Ijtimak Hidayatullah Zona Luwu Raya

0

Luwu (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Abdul Majid, M.A., mengajak seluruh kader untuk memperkuat komitmen terhadap dakwah melalui penguatan spiritual, kemandirian ekonomi, serta optimalisasi potensi digital.

Pesan tersebut disampaikan saat memberikan tausiyah dalam rangkaian Halaqah Lailatul Ijtimak yang digelar di Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, pada 20–21 Juni 2026 atau bertepatan dengan 5–6 Muharram 1448 Hijriah.

Kegiatan yang diikuti kader Wustha Hidayatullah se-Luwu Raya itu menjadi ajang konsolidasi sekaligus penguatan nilai-nilai perjuangan bagi para peserta.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Abdul Majid menegaskan pentingnya menjaga komitmen terhadap majelis ilmu.

Menurutnya, setiap kader harus memberikan perhatian penuh terhadap agenda pembinaan seperti Lailatul Ijtimak dan tidak mudah meminta izin untuk tidak hadir.

“Komitmen terhadap akidah dan tauhid harus terus diperkuat sebagai fondasi utama dalam perjuangan dakwah,” tegasnya.

Selain penguatan ruhiyah, ia juga menyoroti pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, penguatan sektor ekonomi harus dilakukan secara terstruktur dan tersistem agar mampu menopang keberlangsungan dakwah secara mandiri.

Menghadapi perkembangan teknologi, Ustadz Abdul Majid turut mendorong kader yang memiliki kompetensi di bidang digital agar mengambil peran lebih besar dalam perjuangan dakwah.

“Harusnya kader yang punya kemampuan secara teknis dalam bidang digital mengerahkan potensinya untuk perjuangan,” ujarnya.

Di bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat, ia mengajak seluruh kader untuk lebih aktif mengenalkan manhaj Hidayatullah kepada masyarakat sekitar pondok melalui silaturahmi dan sosialisasi berbagai program keumatan.

Ia juga mengevaluasi aktivitas pondok selama masa liburan. Menurutnya, idealnya tetap ada santri boarding yang menetap di pondok sehingga kehidupan dan aktivitas dakwah di lingkungan pesantren tetap berjalan meskipun kegiatan belajar formal sedang libur.

Menutup tausiyahnya, Ustadz Abdul Majid memberikan motivasi kepada kader yang sedang menjalani proses hijrah dan memperbaiki diri. Ia mengingatkan agar tidak dihantui kekhawatiran terhadap persoalan rezeki maupun masa depan keluarga.

“Hilangkan keraguan ketika berhijrah. Jangan khawatir akan rezeki kita, bagaimana masa depan anak-anak, bagaimana maisyah, dan bagaimana biaya hidup kita,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa setiap rezeki telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga kader diharapkan tetap istiqamah dalam perjuangan dakwah.

Melalui Halaqah Lailatul Ijtimak tersebut, DMW Hidayatullah Sulawesi Selatan berharap semangat perjuangan kader semakin kokoh, khususnya di wilayah Luwu Raya, sehingga mampu memperkuat dakwah dan pelayanan umat di berbagai bidang.*/Rsk

Semua Orang Sedang Berjuang, Tetapi Tidak Semua Menuju Arah yang Sama

0

Oleh : Ahmad Firdaus*

Sering kali kita heran melihat semangat sebagian orang dalam perkara yang menurut kita tidak begitu bermanfaat. Ada yang rela begadang hingga larut malam untuk bermain domino. Ada yang menempuh perjalanan jauh demi sebuah hiburan. Ada pula yang menghabiskan berjam-jam waktunya untuk aktivitas yang tidak mendekatkan dirinya kepada Allah sedikit pun.

Namun jika dipikirkan lebih jauh, mereka pun mungkin merasakan keheranan yang sama terhadap kita. Mereka melihat orang-orang yang hampir tidak pernah lepas dari kegiatan agama. Mengajar Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, mengurus masjid, berdakwah, membina masyarakat, menghadiri kajian, dan berbagai aktivitas kebaikan lainnya. Di mata mereka, semua itu tampak melelahkan dan menyita banyak waktu.

Sesungguhnya, kedua kelompok itu memiliki satu kesamaan. Keduanya sedang berjuang.

Orang yang bangun sebelum Subuh untuk melangkahkan kaki ke masjid sedang berjuang melawan kantuknya. Orang yang menghabiskan malam untuk permainan dan hiburan juga sedang berjuang melawan rasa lelahnya.

Orang yang mengeluarkan hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam sedang berkorban. Orang yang menghabiskan hartanya untuk kesenangan dunia juga merasa sedang berkorban.

Karena itu, ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada ada atau tidaknya perjuangan. Sebab setiap manusia pasti berjuang. Yang membedakan adalah arah perjuangannya dan tujuan yang hendak dicapainya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)

Ayat yang agung ini mengandung pelajaran penting bahwa seluruh manusia sedang bekerja keras dalam hidupnya. Tidak ada yang benar-benar diam. Tidak ada yang hidup tanpa kesibukan. Tidak ada yang terbebas dari kelelahan. Semua sedang berjalan menuju akhir perjalanan yang sama, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.

Yang membedakan mereka hanyalah jalan yang dipilih selama perjalanan itu berlangsung.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati manusia tidak pernah lepas dari kecintaan, keinginan, dan kesibukan. Seseorang pasti mencintai sesuatu, mengejar sesuatu, dan mengorbankan sesuatu. Ada yang mengarahkan seluruh kecintaan dan kesibukannya kepada Allah dan kehidupan akhirat. Ada pula yang menjadikannya untuk dunia dan hawa nafsu.

Demikian pula Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa manusia selalu bergerak menuju suatu tujuan. Karena itu, orang yang berakal adalah orang yang menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan tertingginya, bukan sekadar kenikmatan sesaat yang akan lenyap bersama berlalunya waktu.

Sementara itu, Shalih al-Fauzan sering mengingatkan bahwa kebatilan tidak akan pernah tegak tanpa pengorbanan dari para pengikutnya. Mereka bekerja keras untuk menyebarkan, membela, dan mempertahankannya. Oleh sebab itu, para pembela kebenaran tidak boleh kalah semangat dalam memperjuangkan agama Allah.

Nasihat yang senada juga sering disampaikan oleh Abdurrazzaq al-Badr. Beliau menegaskan bahwa hati manusia tidak mungkin kosong. Jika tidak diisi dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, dan ketaatan, maka ia akan dipenuhi oleh berbagai perkara yang melalaikan, bahkan bisa menyeret kepada kerusakan.

Karena itu, ketika ada orang yang heran melihat kesibukan kita dalam agama, tidak perlu merasa aneh. Mereka sedang memandang dari sudut dunia yang mereka cintai. Sebagaimana kita pun terkadang merasa heran melihat semangat mereka dalam mengejar perkara yang menurut kita tidak memiliki nilai di sisi Allah.

Seorang mukmin yang bijak tidak akan menghabiskan hidupnya untuk menghitung kesalahan orang lain. Ia justru lebih sibuk melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri.

Ia bertanya,

“Untuk apa tenagaku habis?”

“Untuk apa waktuku berlalu?”

“Untuk apa hartaku digunakan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menilai kehidupan orang lain. Sebab pada hari kiamat nanti, yang akan ditanyakan bukan hanya seberapa besar tenaga, waktu, dan harta yang telah kita korbankan, tetapi juga ke mana semuanya diarahkan.

Setiap manusia memiliki kelelahan.

Setiap manusia memiliki pengorbanan.

Setiap manusia memiliki perjuangan.

Namun tidak semua perjuangan memiliki nilai yang sama di sisi Allah.

Maka berbahagialah orang yang lelah dalam ketaatan. Berbahagialah orang yang menghabiskan usianya untuk menuntut ilmu, berdakwah, beribadah, membantu sesama, dan menegakkan kebaikan. Sebab ketika usia telah berakhir dan seluruh kesibukan dunia ditutup, yang tersisa bukanlah cerita tentang betapa sibuknya kita, melainkan untuk apa kesibukan itu digunakan.

Pada akhirnya, semua orang memang sedang berjuang. Tetapi hanya orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya yang akan menemukan bahwa seluruh lelahnya berubah menjadi kemuliaan yang abadi.

*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Bulukumba 2017-2022

Road Show DPW Hidayatullah Sulsel Perkuat Tarbiyah, Dakwah, dan Tata Kelola Pondok di Lima Kabupaten

0

Makassar – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan melaksanakan Road Show pembinaan dan monitoring ke lima kabupaten selama empat hari, 9–12 Juni 2026.

Kegiatan yang dipimpin langsung Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Dr. Muhammad Saleh, S.S., M.I.Kom., ini bertujuan memperkuat pelaksanaan program tarbiyah dan dakwah, melakukan evaluasi kelembagaan, serta memastikan seluruh pondok pesantren binaan berjalan sesuai arah kebijakan organisasi periode 2025–2030.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPW didampingi sejumlah pengurus wilayah, di antaranya Kepala Departemen Pendidikan Ust. Jumaruddin, S.Pd., M.Pd., Kepala Departemen Ekonomi Ust. Abd. Jabbar, S.E., serta Kepala Departemen Organisasi dan Sumber Daya Insani (SDI) Ust. Drs. Muhammad Kaisar.

“Kami tidak cukup bekerja dari balik meja. Pengurus harus turun langsung melihat kondisi lapangan, mendengar kebutuhan para pengelola, dan bersama-sama mencari solusi terbaik untuk pengembangan pondok dan dakwah,” kata Muhammad Saleh di sela-sela rangkaian kegiatan.

Ia menegaskan bahwa penguatan organisasi dan kepemimpinan menjadi salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, setiap pengelola pondok perlu memiliki kapasitas manajerial yang baik agar mampu mengelola lembaga secara profesional, amanah, dan berkelanjutan.

Selain itu, Muhammad Saleh juga mengingatkan pentingnya budaya kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan di seluruh lingkungan pesantren.

“Islam sangat menekankan kebersihan, baik lahir maupun batin. Kebersihan tidak membutuhkan biaya besar sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikannya. Pondok-pondok Hidayatullah harus menjadi teladan dalam menjaga lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman,” ujarnya.

Road Show dimulai dari Pondok Tahfidz Hidayatullah Barru dengan fokus pada pembinaan tahfidz Al-Qur’an dan penguatan kaderisasi santri. Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Pondok Tahfidz Al Muhajirin Pangkep untuk meninjau implementasi kurikulum dan manajemen kepesantrenan.

Pada hari berikutnya, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Bone guna mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan sekaligus melihat peluang pengembangan ekonomi umat yang dapat menopang kemandirian lembaga.

Selanjutnya, tim bergerak ke Pondok Pesantren Hidayatullah Sinjai untuk memperkuat aspek organisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Rangkaian kegiatan ditutup di Pondok Tahfidz Hidayatullah Bantaeng melalui sesi evaluasi menyeluruh, silaturahmi bersama pengurus dan asatidz, serta dialog dengan para santri.

Selama kunjungan berlangsung, tim DPW juga menggelar berbagai agenda pembinaan, mulai dari dialog interaktif bersama santri, penyampaian tausiyah keagamaan, pembekalan kepemimpinan, penguatan manajemen organisasi, hingga arahan teknis sesuai bidang kerja masing-masing departemen.

Muhammad Saleh menjelaskan, Road Show tersebut memiliki tiga tujuan strategis. Pertama, melakukan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan program utama tarbiyah dan dakwah berjalan secara optimal.

Kedua, memastikan seluruh wilayah bergerak sesuai peta jalan dan program prioritas organisasi periode 2025–2030. Ketiga, mempererat silaturahmi dan sinergi antara DPW, DPD, pengelola pondok, asatidz, dan santri.

Hasil pemantauan dan berbagai masukan yang diperoleh selama Road Show akan menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan dan program kerja DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan ke depan.

Melalui kegiatan ini, organisasi berharap sinergi antarstruktur dan lembaga pendidikan Hidayatullah semakin kuat dalam mewujudkan pendidikan berbasis tauhid, penguatan kaderisasi, kemandirian ekonomi umat, serta dakwah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat./*Rilis

Halal Bukan Sekadar Label, Mengapa Pengawasan Penyembelihan Hewan Harus Diperketat?

0
Oleh : Ahmad Firdaus*

Bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia, membeli daging ayam, kambing, atau sapi sering kali dianggap sebagai perkara sederhana. Selama hewan tersebut berasal dari pasar, rumah potong, atau pedagang yang dikenal sebagai Muslim, banyak orang merasa tenang dan tidak lagi mempertanyakan proses yang terjadi sebelumnya. Padahal, di balik sepotong daging yang sampai di meja makan, terdapat rangkaian proses yang menentukan apakah produk tersebut benar-benar halal menurut syariat Islam atau tidak.

Persoalan halal tidak berhenti pada jenis hewan yang dikonsumsi. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap tata cara penyembelihan. Hewan yang pada dasarnya halal dapat berubah status menjadi tidak halal apabila proses penyembelihannya tidak memenuhi ketentuan syariat. Karena itu, pembahasan mengenai halal tidak cukup hanya berbicara tentang label atau sertifikat, tetapi juga menyangkut proses yang berlangsung sejak awal hingga produk sampai ke tangan konsumen.

Di lapangan, masih ditemukan praktik-praktik yang menimbulkan pertanyaan serius terkait standar penyembelihan halal. Salah satu contoh yang sering menjadi sorotan adalah penyembelihan ayam dalam jumlah besar. Tidak jarang ayam yang baru saja disembelih langsung dimasukkan ke dalam air panas untuk mempercepat proses pencabutan bulu. Praktik ini mungkin dianggap efisien dari sisi produksi, namun menimbulkan persoalan apabila tidak dipastikan terlebih dahulu bahwa ayam tersebut telah mati karena proses penyembelihan yang sah.

Dalam perspektif fikih, kematian hewan harus terjadi akibat penyembelihan yang sesuai syariat. Jika terdapat keraguan apakah hewan mati karena sembelihan atau justru karena faktor lain seperti proses perendaman air panas, benturan keras, atau perlakuan yang tidak tepat setelah penyembelihan, maka muncul persoalan hukum yang tidak dapat dianggap remeh. Apa yang terlihat sebagai urusan teknis ternyata memiliki konsekuensi langsung terhadap status kehalalan produk yang dikonsumsi masyarakat.

Persoalan serupa juga dapat terjadi pada penyembelihan sapi dan kambing. Tekanan produksi yang tinggi, keterbatasan tenaga terlatih, atau lemahnya pengawasan sering kali mendorong sebagian pelaku usaha mengabaikan prosedur yang seharusnya dijalankan secara ketat. Padahal, syariat Islam tidak hanya mengatur hasil akhir berupa daging yang siap dijual, tetapi juga mengatur proses penyembelihan secara rinci, mulai dari kondisi hewan, alat yang digunakan, kompetensi juru sembelih, hingga perlakuan terhadap hewan setelah disembelih.

Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem yang cukup baik dalam pengelolaan jaminan produk halal. Berbagai regulasi telah diterbitkan dan standar penyembelihan halal telah dirumuskan secara jelas. Lembaga keagamaan, pemerintah, serta berbagai organisasi profesi juga telah berperan dalam memberikan pelatihan dan sertifikasi bagi juru sembelih halal. Kehadiran standar ini merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat Muslim terhadap produk halal dapat terpenuhi secara benar.

Namun demikian, keberadaan standar dan sertifikasi tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa pengawasan yang berkelanjutan. Sertifikat hanyalah bukti bahwa seseorang atau suatu lembaga pernah memenuhi persyaratan tertentu pada waktu tertentu. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa standar tersebut tetap dijalankan secara konsisten dalam praktik sehari-hari. Dalam banyak kasus, penyimpangan justru terjadi bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kebiasaan yang salah, tuntutan kecepatan produksi, atau pertimbangan efisiensi biaya.

Karena itu, pemerintah tidak cukup berperan sebagai pembuat regulasi semata. Kehadiran negara harus terlihat dalam bentuk pengawasan aktif dan berkesinambungan. Dinas terkait perlu melakukan inspeksi rutin ke rumah potong hewan maupun tempat pemotongan unggas untuk memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Pengawasan tidak boleh hanya berfokus pada administrasi atau dokumen perizinan, melainkan juga menyentuh aspek teknis pelaksanaan penyembelihan di lapangan.

Selain itu, diperlukan mekanisme evaluasi dan pembinaan yang berkelanjutan bagi para juru sembelih. Kompetensi mereka harus terus diperbarui melalui pelatihan yang menyesuaikan perkembangan standar dan teknologi. Di sisi lain, pelanggaran yang dilakukan secara berulang juga perlu mendapatkan sanksi yang tegas agar aturan yang ada tidak kehilangan wibawa. Tanpa pengawasan yang nyata, standar halal berpotensi berubah menjadi sekadar formalitas administratif yang hanya indah di atas kertas.

Masyarakat sebagai konsumen juga memiliki peran penting dalam menjaga integritas sistem halal. Selama ini banyak konsumen yang merasa cukup dengan melihat label halal pada kemasan atau mendengar klaim dari penjual. Padahal, kesadaran kritis masyarakat merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong perbaikan kualitas pengawasan. Ketika konsumen peduli terhadap proses, pelaku usaha akan terdorong untuk menjaga standar dengan lebih baik karena menyadari bahwa publik memberikan perhatian terhadap aspek tersebut.

Pada akhirnya, persoalan penyembelihan halal bukan hanya menyangkut urusan perdagangan atau industri pangan. Di dalamnya terdapat amanah keagamaan, aspek kesehatan, perlindungan konsumen, serta kepercayaan publik yang harus dijaga bersama. Halal bukan sekadar tulisan pada kemasan atau sertifikat yang terpajang di dinding usaha. Halal adalah komitmen terhadap proses yang benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh sebab itu, sinergi antara ulama, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Ulama bertugas menjaga dan menjelaskan standar syariat, pemerintah memastikan pengawasan berjalan efektif, pelaku usaha melaksanakan proses sesuai ketentuan, dan masyarakat terus menumbuhkan kepedulian terhadap pentingnya jaminan halal. Dengan kerja bersama yang serius, kepercayaan masyarakat terhadap produk halal dapat terus terjaga. Sebaliknya, jika semua pihak berjalan setengah hati, maka yang tersisa hanyalah label halal yang kehilangan makna karena tidak lagi mencerminkan proses yang sesungguhnya.

*Penulis adalah pimpinan Baznas Bulukumba 2017-2022.

Wisuda Tahfidz dan Penamatan Santri, Hidayatullah Ujung Loe Tegaskan Komitmen Cetak Generasi Qurani

0

Bulukumba (HidayatullahSulsel.or.id) – Yayasan Pesantren Hidayatullah Ujung Loe Bulukumba menggelar Penamatan dan Wisuda Tahfidz bagi santri mereka di unit pendidikan SMP Integral Al Hikmah dan TK Yaa Bunayya Hidayatullah, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kompleks SMP Integral Al Hikmah, Dusun Batua, Desa Garanta, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, itu dihadiri sekitar 100 tamu undangan dari unsur masyarakat, orang tua santri, dan pemerintah setempat.

Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba serta Kepala Desa Garanta, Drs. Muhammad Subair.

Ketua Panitia, Ansar, S.Pd.Gr., menyampaikan bahwa wisuda tahfidz dan penamatan merupakan bagian dari upaya lembaga dalam memberikan apresiasi atas capaian para santri sekaligus memperkuat komitmen peningkatan mutu pendidikan yang berbasis karakter dan Al-Qur’an.

“Peserta wisuda hari ini merupakan peserta didik program boarding school atau berasrama yang juga mengikuti program tahfidz Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut Ansar, pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan kepribadian dan karakter Islami. Ia mengakui bahwa masa pendidikan selama tiga tahun masih menjadi proses yang terus membutuhkan penyempurnaan.

“Namun setidaknya ilmu yang diperoleh selama belajar di pondok dapat menjadi bekal dasar bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al A’raf Hidayatullah Ujung Loe, Muhammad Syahrir, SE, menegaskan bahwa lembaga pendidikan yang dikelolanya berupaya menghadirkan sistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, memahami kandungannya, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendidikan ini merupakan ikhtiar untuk melahirkan generasi yang bangga dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan,” ungkap Syahrir.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Garanta, Drs. Muhammad Subair. Ia menilai dedikasi para pengurus dan tenaga pendidik Hidayatullah dalam membina para santri merupakan kontribusi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di daerah.

“Saya mengapresiasi pengurus Hidayatullah yang telah banyak bersabar mendidik murid-muridnya. Semoga tetap berkomitmen dalam mendidik anak-anak sebagai upaya menyiapkan generasi Qurani,” tuturnya.

Kegiatan wisuda tahfidz dan penamatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur. Selain menjadi momentum penghargaan atas capaian para santri, acara ini juga menegaskan komitmen Yayasan Pesantren Hidayatullah Ujung Loe Bulukumba dalam membangun generasi berakhlak mulia, berilmu, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup./*Bash

SDH Sultanbatara Siapkan Rekrutmen Angkatan ke-8, Fokus Tingkatkan Mutu Kader Dakwah

0

Parepare (HidayatullahSulsel.or.id) – Pengelola Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara menggelar rapat koordinasi di Gedung Peradaban Hidayatullah, Kota Parepare, Selasa (2/6/2026). Pertemuan tersebut dihadiri jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan bersama seluruh pengelola Sekolah Dai guna mematangkan persiapan penerimaan calon mahasiswa SDH angkatan ke-8.

Rapat menitikberatkan pada pembenahan sistem pengelolaan dan peningkatan mutu lulusan agar semakin siap terjun ke medan dakwah setelah menempuh pendidikan selama satu tahun. Evaluasi terhadap perjalanan program sejak angkatan pertama hingga ketujuh juga menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Saleh Usman, menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan Sekolah Dai sebagai salah satu instrumen utama kaderisasi dakwah Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

“Sekolah Dai harus menjadi mesin kader. Kita tata pengelolaannya, kita perbaiki kualitas lulusannya. Tujuannya satu, yakni memperluas jaringan dakwah Hidayatullah hingga menjangkau pelosok Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan kualitas kader menjadi kebutuhan strategis seiring meningkatnya kebutuhan dai di berbagai daerah. Karena itu, pengelola didorong untuk terus menyempurnakan kurikulum agar menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keislaman, kepemimpinan, dan kemampuan komunikasi yang memadai.

Dalam rapat tersebut, sejumlah aspek kurikulum menjadi perhatian utama, meliputi penguatan Al-Qur’an, bahasa Arab, penguasaan kitab-kitab dasar, kemampuan public speaking, manajemen masjid, hingga pembinaan dan dakwah bagi masyarakat mualaf di wilayah pedalaman. Melalui penguatan materi tersebut, lulusan diharapkan siap ditempatkan di berbagai daerah sesuai kebutuhan dakwah.

Sementara itu, Pengelola SDH Sultanbatara, Habibi Nursalam, mengajak seluruh struktur Hidayatullah di Sulawesi Selatan untuk berperan aktif dalam menyukseskan proses rekrutmen calon mahasiswa angkatan ke-8.

“Mohon DPW, DPD, dan DPC se-Sulawesi Selatan membantu menyebarluaskan informasi ini. Mari mencari kader-kader terbaik di daerah masing-masing untuk bergabung di Sekolah Dai angkatan ke-8. Ini merupakan investasi kader jangka panjang bagi keberlanjutan dakwah,” katanya.

Gedung Peradaban Hidayatullah Parepare dipilih sebagai lokasi rapat karena selama ini menjadi salah satu pusat kaderisasi dan pembinaan dai di Sulawesi Selatan. Rapat berlangsung produktif dengan agenda evaluasi angkatan 1 hingga 7 sekaligus penyusunan strategi rekrutmen dan peningkatan kualitas pendidikan bagi calon mahasiswa angkatan ke-8.

Melalui berbagai pembenahan yang direncanakan, Sekolah Dai Hidayatullah Sulsel diharapkan semakin mampu melahirkan kader-kader dai yang kompeten, berintegritas, dan siap mengemban amanah dakwah di berbagai wilayah Sulawesi Selatan maupun daerah lainnya./*Rsk

Madrasah Kenabian – Fajar Wahyu (7); Kallaa Innal Insaana Layathghaa Ar-Raa ahustaghnaa: Kesombongan, Ilusi Kemandirian dan Penyakit Pertama yang Menghancurkan

0
Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*

Setelah Allah menurunkan lima ayat pertama surah Al-‘Alaq yang berbicara tentang membaca, ilmu, asal-usul manusia, kemurahan Allah, qalam, dan kesadaran keterbatasan pengetahuan, wahyu kemudian bergeser kepada sesuatu yang sama sekali tidak terduga, yakni sebuah diagnosis keras tentang penyakit paling mendasar dalam diri manusia.

K.H. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam kajian-kajiannya tentang tartib nuzul Al-Quran yang kemudian dikenal dengan Sistematika Wahyu menyampaikan pandangan yang sangat penting, bahwa setelah Allah menurunkan ayat-ayat tentang ilmu, membaca, dan pena, Allah langsung mengkonfirmasi bahwa masalah utama yang sesungguhnya dihadapi manusia bukan kebodohan semata, tapi yang sangat parah adalah “thagha” dan dalam konteks surah pertama ini adalah kesombongan. Justru ketika manusia memperoleh ilmu, pengetahuan, dan kemampuan, bahaya kesombongan menjadi semakin besar dan semakin berbahaya. Ilmu tanpa kerendahan hati adalah pintu menuju thughyan, melampaui batas.

Konfirmasi Allah terhadap bahaya kesombongan ini hadir dalam dua ayat yang sangat padat namun sangat dalam kandungannya:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq/96: 6-7)

Urutan turunnya ayat ini bukan kebetulan. Allah membangun manusia dengan ilmu dalam lima ayat pertama, kemudian langsung memperingatkan bahwa ilmu itu sendiri bisa menjadi bencana ketika ia melahirkan rasa cukup yang memutus ketergantungan manusia kepada Allah. Inilah struktur wahyu yang sangat cerdas: membangun sambil langsung membentengi dari bahaya terbesar yang mengintai di dalam bangunan itu sendiri.

Iblis: Prototype Kesombongan Kosmis dan Penyakit Pertama Yang Menghancurkan

Untuk memahami sepenuhnya bahaya thughyan yang diperingatkan oleh ayat ini, kita harus merujuk kepada peristiwa kosmis paling awal dalam sejarah makhluk yang memilih kesombongan sebagai jalan hidupnya, yaitu IBLIS .  Iblis adalah prototype pertama dan paling sempurna dari penyakit yang didiagnosis oleh ayat keenam dan ketujuh surah Al-‘Alaq.

Al-Quran merekam dengan sangat rinci bagaimana kesombongan Iblis lahir, berkembang, dan berujung pada kehancuran yang dia pilih sendiri.

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf/7: 12)

Jika diperhatikan dengan cermat struktur argumen Iblis. Ia tidak membantah perintah Allah secara langsung, tapi Ia menggunakan perbandingan, bahwa api lebih baik dari tanah. Ia menggunakan pengetahuan tentang asal-usul penciptaan sebagai dasar kesombongan intelektualnya. Inilah yang sangat berbahaya, dimana Iblis menggunakan ilmu untuk melawan wahyu. Ia merasa cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya tentang dirinya sendiri, sehingga ia menolak tunduk kepada perintah Allah.

Kesombongan Iblis adalah penyakit pertama yang muncul di alam semesta sebelum manusia pertama pun menginjakkan kaki di bumi. Ini bukan kebetulan bahwa Al-Quran menempatkan narasi ini sebagai peringatan yang berulang di berbagai surah. Iblis menunjukkan kepada seluruh sejarah manusia bahwa kecerdasan, pengalaman panjang sebagai makhluk Allah, dan pengetahuan tentang realitas, semuanya tidak berguna bahkan menjadi bencana ketika tidak disertai tawadu’ di hadapan Allah. Setiap manusia yang menyombongkan ilmunya sedang mengulang pola Iblis.

Penyakit pertama Iblis bukan kedurhakaan dalam bentuk kejahatan, melainkan kesombongan dalam bentuk perbandingan diri. Ia merasa dirinya lebih baik, lebih layak, dan lebih mengetahui apa yang seharusnya terjadi dibandingkan ketetapan Allah. Ini adalah bentuk paling halus namun paling mematikan dari istighnaa, merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah. Dan Al-Quran menegaskan bahwa pola ini terus berulang dalam diri manusia:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir/40: 60)

“Tughyan dan Istighnaa” Dua Sisi Satu Penyakit

Kata layathghaa berasal dari akar tha-gha-ya, yang dalam Al-Quran selalu digunakan dalam konteks pelampauan batas yang sangat serius. Al-Quran menggunakan kata ini untuk menggambarkan air bah yang melampaui batas dalam kisah Nuh (QS. Al-Haqqah: 11), gelombang laut yang menghancurkan dalam QS. Al-Qamar: 11, serta perilaku kaum Fir’aun yang melampaui batas dalam QS. Thaha: 24. Ini menunjukkan bahwa thughyan bukan sekadar kesalahan kecil. Ia adalah kondisi jiwa yang telah keluar dari seluruh batas yang Allah tetapkan.

Adapun kata istaghnaa, ‘merasa serba cukup’, diungkapkan Al-Quran dengan formulasi yang sangat telak. Allah tidak mengatakan manusia benar-benar cukup, tetapi manusia melihat dirinya cukup. Kata ra-aahu menunjukkan bahwa ini adalah persepsi, bukan realitas. Manusia membangun ilusi tentang dirinya sendiri, ilusi kemandirian, ilusi kecukupan, ilusi superioritas, lalu bertindak berdasarkan ilusi itu seolah ia adalah kenyataan.

Hubungan sebab-akibat antara dua ayat ini sangat penting. Thughyan lahir dari istighnaa. Manusia melampaui batas karena ia merasa tidak membutuhkan batas. Ini adalah mekanisme yang sangat konsisten dalam sejarah kejatuhan peradaban, yakni ketika sebuah bangsa, kelompok, atau individu merasa telah mencapai kecukupan yang membuatnya tidak lagi memerlukan Allah, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Psikologi Kesombongan dan Ilusi Pengetahuan

Menarik, sebab apa yang dijelaskan Al-Qur’an empat belas abad lalu kini dibuktikan oleh psikologi modern. Dalam kajian psikologi kognitif yang telah dibahas pada edisi lalu yang dikenal fenomena Dunning-Kruger Effect, yaitu kecenderungan orang yang memiliki pengetahuan terbatas justru merasa paling benar dan paling ahli.

Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih hati-hati dalam berbicara karena menyadari kompleksitas realitas. Fenomena ini sangat relevan dengan firman Allah: “Manusia melampaui batas karena merasa cukup.”

Ilusi pengetahuan membuat manusia kehilangan kerendahan epistemologis. Ia berhenti belajar karena merasa sudah tahu, ia menolak nasihat karena merasa paling benar, ia menutup diri dari kebenaran karena ego intelektualnya telah menguasai hati. Dalam psikologi modern, keadaan ini juga berkaitan dengan narcissistic cognition, yaitu pola pikir yang menjadikan diri sendiri sebagai pusat validasi kebenaran.

Dan bukankah ini yang kita lihat hari ini ?. Media sosial melahirkan generasi yang lebih sibuk tampil pintar daripada benar-benar mencari ilmu. Validasi lebih dicari daripada kebenaran. Popularitas lebih diprioritaskan daripada kedalaman berpikir.  Akibatnya, manusia modern mengalami banjir informasi tetapi kering dari hikmah.

Neurosains Ego dan Ketergantungan Palsu

Dalam perspektif neurosains, rasa superioritas ternyata berkaitan erat dengan sistem penghargaan otak atau reward system. Ketika manusia mendapatkan pujian, pengakuan, atau kekuasaan, otak melepaskan dopamin yang menciptakan rasa senang dan superior.

Jika tidak dikendalikan secara spiritual, manusia akan kecanduan terhadap validasi diri. Ia ingin terus dipuji, Ia ingin terus dianggap benar, Ia ingin terus terlihat unggul. Pada titik tertentu, ego menjadi candu psikologis. Di sinilah wahyu bekerja sebagai alat penyucian jiwa. Al-Qur’an terus mengingatkan manusia tentang asal-usulnya, kelemahannya, kefanaannya, serta ketergantungannya kepada Allah. Karena tanpa kesadaran spiritual, kecerdasan justru dapat berubah menjadi alat penghancur kemanusiaan.

Teknologi modern membuktikan hal itu. Manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi belum mampu mengendalikan kerakusan dirinya sendiri. Manusia mampu menghubungkan dunia dalam hitungan detik, tetapi gagal menyembuhkan kesepian jiwanya. Ilmu berkembang sangat cepat, tetapi hikmah berjalan tertatih-tatih.

Pendidikan Modern dan Produksi Ego Intelektual

Salah satu tragedi pendidikan modern adalah keberhasilannya mencetak manusia cerdas tetapi gagal membentuk manusia tunduk. Sekolah menghasilkan kompetensi, tetapi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Universitas melahirkan spesialis, tetapi tidak otomatis melahirkan manusia yang rendah hati. Akibatnya lahirlah generasi yang hebat secara akademik tetapi rapuh secara spiritual. Pintar berbicara tetapi miskin adab, kaya informasi tetapi kehilangan makna hidup.

Padahal dalam perspektif Islam, tujuan ilmu bukan sekadar penguasaan informasi. Ilmu harus melahirkan khashyah, ketundukan, adab, serta kesadaran kehambaan. Oleh  karena itu, pendidikan Islam berbasis wahyu tidak hanya bertanya “Apa yang diketahui manusia ?” Tetapi juga adalah “Menjadi manusia seperti apa setelah berilmu ?”.

Krisis Peradaban Modern: Ketika Manusia Merasa Menjadi Tuhan

Ayat ke 6 dan 7 dalam surah al-‘Alaq ini sesungguhnya sangat profetik terhadap dunia modern. Peradaban modern sering mempromosikan narasi manusia adalah pusat alam semesta, manusia dapat menentukan moralnya sendiri, manusia mampu menyelesaikan seluruh problem tanpa wahyu, agama dianggap tidak lagi relevan.  Inilah istighnaa modern, dimana manusia sudah merasa cukup dengan teknologi, sains, ekonomi, dan kekuatan politik.

Namun sejarah menunjukkan bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan wahyu, kemajuan material justru sering melahirkan kehampaan spiritual dan kerusakan moral. Maka Surah Al-‘Alaq sejak awal telah memberi peringatan bahwa masalah manusia bukan sekadar kebodohan, tetapi kesombongan setelah mengetahui sedikit hal.

Reflektif: Belajar untuk Tetap Menjadi Hamba

Ayat ke 6 dan ke 7 dalam surah al-;Alaq ini mengajarkan bahwa perjalanan ilmu memiliki dua kemungkinan, yaitu semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari-Nya. Ilmu dapat menjadi tangga menuju ketundukan, tetapi juga dapat berubah menjadi menara kesombongan. 

Karena itu, seorang pencari ilmu sejati tidak hanya memperbanyak bacaan, tetapi juga memperbanyak kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin lembut lisannya, dan semakin luas pengetahuannya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba kecil di hadapan ilmu Allah yang tidak terbatas.

Di sinilah letak keindahan pendidikan wahyu. Al-Qur’an tidak sekadar mengajarkan manusia untuk berpikir, tetapi juga mengajarkan bagaimana tetap tunduk ketika berpikir. Sebab pada akhirnya, ilmu yang tidak melahirkan kehambaan hanya akan melahirkan manusia yang merasa dirinya tuhan.

*Penulis, Dr. Abdul Qadir bin Muhammad, adalah Ketua STAI Al-Bayan Makassar