MAKASSAR, HidayatullahSulsel.or.id – Pesantren Hidayatullah Makassar menggelar daurah Matan Muwadhdhahah untuk memperdalam pemahaman tentang kesalahan-kesalahan umum dalam membaca Surah Al-Fatihah. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 pengurus dan guru Al-Qur’an, baik ikhwan maupun akhwat, di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu (10/10/2026).
Daurah yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang waktu Zuhur ini menghadirkan Ustadz Rifai Al-Haq sebagai pemateri tunggal. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan keilmuan para pengajar Al-Qur’an, khususnya dalam menjaga ketepatan bacaan surah yang menjadi rukun dalam setiap rakaat shalat.
Mengkaji Kesalahan Umum dalam Membaca Al-Fatihah
Materi utama daurah adalah Matan Muwadhdhahah, sebuah nazham yang membahas sejumlah kesalahan umum dalam membaca Surah Al-Fatihah. Karya ini disusun oleh Dr. Arif Wardhani dalam 19 bait yang merangkum penjelasan mengenai kekeliruan bacaan yang perlu dikenali dan diperbaiki oleh para pembaca Al-Qur’an.
Bagi para guru Al-Qur’an, penguasaan materi tersebut memiliki nilai praktis. Selain memperbaiki bacaan pribadi, pemahaman terhadap kesalahan-kesalahan umum juga membantu mereka membimbing santri dan masyarakat agar membaca Al-Fatihah secara lebih tepat.
Al-Fatihah menempati kedudukan penting dalam ibadah seorang Muslim. Karena itu, pembelajaran tentang ketepatan bacaan, pelafalan huruf, dan kaidah membaca Al-Qur’an perlu mendapat perhatian dalam proses pembinaan guru.
Melalui kajian nazham ini, peserta diharapkan dapat memperdalam pemahaman terhadap materi koreksi bacaan Al-Fatihah sekaligus memperkuat bekal mereka dalam mengajarkan Al-Qur’an.
Menjaga Tradisi Keilmuan melalui Sanad
Selain membahas kandungan nazham, daurah Matan Muwadhdhahah juga memiliki dimensi penting dalam tradisi transmisi ilmu Al-Qur’an, yakni sanad keilmuan.
Dr. Arif Wardhani, penulis nazham tersebut, merupakan alumnus Universitas Al-Azhar yang memiliki 14 riwayat sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Adapun Ustadz Rifai Al-Haq selaku pemateri memperoleh sanad Matan Muwadhdhahah secara langsung dari penulisnya, Dr. Arif Wardhani. Keterhubungan ini menjadi bagian dari latar belakang keilmuan yang menyertai penyampaian materi dalam daurah tersebut.
Dalam tradisi pembelajaran Al-Qur’an, sanad berperan sebagai jalur transmisi ilmu yang menghubungkan proses belajar dengan para guru sebelumnya. Tradisi ini menempatkan ketelitian dalam menerima, mempelajari, dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Penguatan Kompetensi Guru Al-Qur’an
Kehadiran sekitar 50 pengurus dan guru Al-Qur’an dari kalangan ikhwan maupun akhwat menunjukkan keterlibatan unsur pembinaan Al-Qur’an dalam kegiatan tersebut.
Daurah ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi para peserta, terutama dalam mengenali kesalahan bacaan Al-Fatihah dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh saat membimbing santri maupun peserta didik.
Pembinaan guru Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca. Guru juga perlu memiliki pemahaman yang memadai tentang materi yang diajarkan, ketelitian dalam mengoreksi bacaan, serta tanggung jawab untuk meneruskan ilmu secara benar.
Melalui kegiatan seperti daurah Matan Muwadhdhahah, Pesantren Hidayatullah Makassar turut menyediakan ruang pembelajaran bagi para pengajar Al-Qur’an untuk memperdalam materi dan memperkuat tradisi keilmuan dalam pendidikan Islam.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya pembelajaran Al-Qur’an yang memperhatikan ketepatan bacaan, pembinaan berkelanjutan, dan keterhubungan ilmu melalui para guru yang memiliki kompetensi di bidangnya. (IB/IB)




