BerandaArtikelResume Kajian3 Sumber Maksiat Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Sombong, Tamak, dan Hasad

3 Sumber Maksiat Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Sombong, Tamak, dan Hasad

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dosa tidak selalu bermula dari tindakan negatif yang tampak besar. Dalam banyak keadaan, maksiat justru tumbuh dari penyakit yang terlebih dahulu bersemayam di dalam hati. Ketika penyakit itu dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi sikap, ucapan, dan perbuatan yang menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ust. Jumaruddin, M.Pd., Kadep Pendidikan DPW Hidayatullah Sulsel, dalam khutbah Jumat di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, Jumat, 2 Oktober 2026.

Mengutip penjelasan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ust. Jumaruddin menerangkan bahwa terdapat tiga akar utama yang menjadi sumber berbagai bentuk maksiat, yakni kesombongan, ketamakan, dan hasad.

Ibnu Qayyim merumuskannya dalam ungkapan:

أصول المعاصي ثلاثة : الكبر و الحرص و الحسد

“Sumber segala macam dosa ada tiga: kesombongan, ketamakan, dan hasad.”

Ketiga penyakit hati tersebut memiliki akar persoalan yang berbeda. Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran, ketamakan membuat manusia tidak pernah merasa cukup, sedangkan hasad mendorong seseorang tidak senang melihat nikmat yang diperoleh orang lain.

Dosa dan Pintu Taubat Selalu Terbuka

Sebelum menjelaskan tiga sumber maksiat tersebut, Ust. Jumaruddin mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar, Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian senantiasa berbuat kesalahan pada malam dan siang hari. Aku mengampuni seluruh dosa. Karena itu, mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian.”

Hadis tersebut memberikan dua pesan penting. Pertama, manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Kedua, dosa tidak semestinya membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah.

Al-Qur’an bahkan memberikan seruan yang sangat kuat kepada orang-orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Karena itu, mengenali sumber dosa menjadi bagian penting dari upaya menjaga diri. Seseorang bukan hanya dituntut menjauhi perbuatan maksiat, tetapi juga perlu mengenali penyakit batin yang dapat menyeretnya kepada kemaksiatan.

1. Kesombongan: Penyakit yang Menjerumuskan Iblis

Sumber maksiat pertama yang disebut Ibnu Qayyim adalah al-kibr, yakni kesombongan.

Ibnu Qayyim menjelaskan:

فالكبر جعل إبليس يفسق عن أمر ربه

“Kesombongan menyebabkan Iblis menyimpang dari perintah Tuhannya.”

Kisah Iblis menjadi contoh paling jelas mengenai bahaya kesombongan. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak perintah tersebut.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”

Ketika ditanya mengenai penolakannya, Iblis merasa memiliki kelebihan dibandingkan Adam. Ia berkata:

أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Persoalannya bukan sekadar bahwa Iblis tidak menaati sebuah perintah. Di balik pembangkangan itu terdapat penyakit hati: ia merasa lebih tinggi daripada yang lain dan menjadikan perasaan tersebut sebagai alasan untuk menolak perintah Allah.

Karena itu, kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk membanggakan harta atau kedudukan. Ia dapat muncul melalui ilmu, jabatan, kemampuan, keturunan, pengalaman, bahkan amal ibadah.

Seseorang yang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain hingga meremehkan mereka perlu mewaspadai penyakit tersebut.

Allah mengingatkan dalam Surah Al-‘Alaq ayat 6–8:

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali.”

Menurut penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ketika manusia merasa dirinya berkecukupan, kebodohan dan kezaliman dapat mendorongnya melampaui batas, bersikap sombong terhadap petunjuk, serta melupakan bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.

Kesombongan Membuat Kebenaran Sulit Diterima

Bahaya kesombongan semakin jelas ketika ia membuat seseorang tidak lagi mampu menerima kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, ukuran kesombongan bukan sekadar penampilan seseorang atau banyaknya harta yang dimiliki. Kesombongan dapat dikenali dari sikap batin ketika seseorang berhadapan dengan kebenaran dan sesama manusia.

Jika kebenaran ditolak hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah, atau manusia lain direndahkan karena status sosial, ilmu, ekonomi, maupun latar belakangnya, maka seseorang perlu melakukan muhasabah terhadap hatinya.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim)

Kesombongan, dengan demikian, bukan sekadar persoalan akhlak sosial. Ia berkaitan langsung dengan hubungan seorang hamba dengan Allah dan dengan sikapnya terhadap kebenaran.

2. Ketamakan: Keinginan yang Tidak Pernah Merasa Cukup

Sumber maksiat kedua adalah al-hirsh, yakni ketamakan atau kerakusan terhadap apa yang diinginkan.

Ibnu Qayyim menyebut:

وَالْحِرْصُ أَخْرَجَ آدَمَ مِنَ الْجَنَّةِ

“Ketamakan menyebabkan Adam keluar dari surga.”

Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan pelajaran penting tentang bagaimana keinginan yang tidak terkendali dapat membawa manusia kepada pelanggaran.

Allah memberikan kenikmatan yang sangat luas kepada Adam dan istrinya ketika keduanya berada di surga. Mereka dipersilakan menikmati berbagai makanan yang ada, tetapi Allah memberikan satu batasan:

وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35)

Iblis kemudian membisikkan tipu daya dengan menggambarkan bahwa apa yang telah diberikan Allah kepada Adam dan istrinya belumlah cukup. Ia membujuk keduanya dengan janji memperoleh kedudukan yang lebih tinggi atau kehidupan yang kekal.

Allah mengabadikan bisikan tersebut dalam Surah Al-A’raf ayat 20:

وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ ٱلْخَٰلِدِينَ

“Syaitan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarangmu berdua dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’”

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana keinginan terhadap sesuatu yang belum dimiliki dapat membutakan manusia terhadap nikmat yang sebenarnya telah berada di tangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketamakan dapat muncul dalam banyak bentuk: keinginan menguasai harta tanpa batas, mengejar kedudukan dengan menghalalkan berbagai cara, tidak puas terhadap pencapaian yang telah diperoleh, atau terus membandingkan diri dengan apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah ﷺ menggambarkan sifat manusia yang tidak mudah puas dalam sebuah hadis:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut bukan berarti Islam melarang manusia memiliki harta atau berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan berubah menjadi kerakusan dan membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya.

Harta yang berada di tangan seorang mukmin dapat menjadi sarana kebaikan. Namun, ketika harta menguasai hati, ia dapat berubah menjadi pintu menuju berbagai pelanggaran.

Karena itu, salah satu benteng menghadapi ketamakan adalah qana’ah, yakni menerima karunia Allah dengan penuh kesyukuran, sembari tetap berikhtiar secara halal.

3. Hasad: Ketika Nikmat Orang Lain Menjadi Beban Hati

Sumber maksiat ketiga adalah al-hasad, yaitu kedengkian.

Ibnu Qayyim mengaitkannya dengan kisah salah seorang anak Adam yang membunuh saudaranya:

وَالْحَسَدُ جَعَلَ أَحَدَ ابْنَيْ آدَمَ يَقْتُلُ أَخَاهُ

“Hasad menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.”

Hasad bukan sekadar keinginan untuk memperoleh sesuatu yang sama dengan milik orang lain. Hasad mengandung persoalan yang lebih dalam: adanya ketidaksenangan terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, bahkan keinginan agar nikmat tersebut hilang atau berpindah kepadanya.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa pembagian karunia Allah kepada manusia tidak selalu sama. Ada yang diberi kelapangan rezeki, ada yang dianugerahi ilmu, ada yang diberi kemampuan tertentu, dan ada pula yang memperoleh kelebihan dalam aspek lainnya.

Perbedaan karunia tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk memelihara kedengkian.

Sebaliknya, seorang Muslim diarahkan untuk memohon kepada Allah atas karunia-Nya dan menggunakan nikmat yang dimilikinya dalam ketaatan.

Dari Hasad Menuju Kezaliman

Hasad yang dibiarkan dapat berkembang menjadi perilaku yang lebih berbahaya. Ketika seseorang tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang lain memperoleh nikmat, ia dapat terdorong untuk menjatuhkan, mencela, menyebarkan keburukan, bahkan melakukan tindakan zalim.

Karena itu, penyakit hasad harus ditangani sejak masih berada di dalam hati.

Dalam materi khutbah tersebut juga disebutkan sebuah hadis yang masyhur:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Redaksi hadis ini perlu diperiksa kembali dari sisi takhrij dan penilaian sanad sebelum dipublikasikan sebagai hadis dengan atribusi tertentu. Namun, secara prinsip, larangan terhadap hasad memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.

Tiga Penyakit, Tiga Arah Kerusakan

Jika direnungkan, tiga penyakit yang dijelaskan Ibnu Qayyim tersebut menggambarkan tiga arah kerusakan dalam diri manusia.

Kesombongan membuat manusia merasa dirinya lebih tinggi. Ia melihat kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain dan bahkan menolak kebenaran.

Ketamakan membuat manusia selalu melihat apa yang belum dimilikinya. Nikmat yang sudah ada menjadi tidak berarti karena perhatian seluruhnya tertuju pada sesuatu yang masih ingin dikuasai.

Sementara hasad membuat seseorang terganggu oleh nikmat yang berada pada orang lain. Ia bukan hanya menginginkan tambahan untuk dirinya, tetapi dapat merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain memperoleh karunia.

Ketiganya sama-sama berakar pada persoalan hati.

Karena itu, melawan maksiat tidak cukup hanya dengan menghindari perbuatan dosa yang terlihat. Seorang Muslim juga perlu melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit batin yang dapat menjadi pintu masuk dosa.

Kesombongan perlu dilawan dengan tawaduk. Ketamakan perlu dijinakkan dengan qana’ah dan syukur. Hasad perlu disembuhkan dengan menerima ketetapan Allah, mendoakan kebaikan bagi sesama, dan menyadari bahwa rezeki setiap manusia berada dalam ilmu dan hikmah-Nya.

Menjaga Hati Sebelum Dosa Menjadi Perbuatan

Pesan penting dari kajian tentang tiga sumber maksiat ini adalah perlunya perhatian terhadap kondisi hati.

Tidak semua dosa muncul secara tiba-tiba. Ada dosa yang diawali oleh cara pandang, kemudian menjadi keinginan, lalu berkembang menjadi sikap dan akhirnya diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri melakukan muhasabah: apakah ilmu yang dimiliki membuatnya semakin rendah hati atau justru meremehkan orang lain? Apakah harta membuatnya bersyukur atau semakin rakus? Apakah keberhasilan orang lain membuatnya ikut bahagia atau justru menimbulkan kegelisahan dalam hati?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena penyakit hati sering kali tidak terlihat oleh manusia lain. Seseorang mungkin tampak baik di hadapan manusia, tetapi hatinya sedang berhadapan dengan penyakit yang jika dibiarkan dapat merusak amal dan akhlaknya.

Pada akhirnya, manusia tidak pernah terlepas dari kebutuhan kepada ampunan Allah. Karena itu, selain berusaha menjauhi maksiat, seorang Muslim hendaknya memperbanyak istighfar, memperbaiki hati, dan segera kembali kepada Allah setiap kali menyadari kesalahan.

Pintu taubat tidak tertutup selama seorang hamba masih hidup dan sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Semoga Allah melindungi kita dari kesombongan yang menghalangi kebenaran, ketamakan yang menghilangkan rasa syukur, dan hasad yang merusak persaudaraan. Semoga Allah membersihkan hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan membimbing kita untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada-Nya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tulisan Terkait
- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Baca Juga

Recent Comments

Recent Comments