Beranda blog Halaman 2

Hidayatullah Gowa Gelar Dakwah Pedalaman di Tombolo Pao, Bahas Kewajiban Anak dan 2 Doa Orang Tua

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) — DPD Hidayatullah Gowa kembali menggelar pengajian rutin program Dakwah Pedalaman di Dusun Balang Buki, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (11/9/2026). Kegiatan bertajuk “Menembus Jarak, Menyebar Cahaya Islam” itu diikuti ibu-ibu majelis taklim se-Dusun Balang Buki.

Pengajian yang menggandeng pengurus Mujahidah Sulsel tersebut menghadirkan Ustadz Reskyaman SW, M.Pd., anggota Persaudaraan Dai (POS Dai) Sulsel, sebagai pemateri.

Sekretaris DPD Hidayatullah Gowa Ustadz Mardi Maing, S.Pd.I., turut mendampingi kegiatan bersama sejumlah pengurus lainnya serta pengurus Mushida Gowa.

Dalam kajiannya, Ustadz Reskyaman mengawali pembahasan dengan menekankan dua prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim, yakni kewajiban mentauhidkan Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

Ia mengingatkan bahwa Islam melarang umatnya menyembah selain Allah sekaligus memberikan perhatian besar terhadap kewajiban berbakti kepada orang tua.

Pesan tersebut, menurut dia, antara lain ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 23, yang memerintahkan manusia agar tidak menyembah selain Allah dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

Selain membahas kewajiban anak kepada orang tua, Ustadz Reskyaman juga mengajak para peserta melihat pendidikan keluarga dari sisi sebaliknya: orang tua memiliki tanggung jawab spiritual untuk terus mendoakan anak-anak mereka.

Ia mencontohkan doa Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang saleh.

Salah satu doa tersebut terdapat dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100:

“Rabbi hab li minas-shalihin.”

Artinya, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.”

Menurut Ustadz Reskyaman, doa orang tua tidak berhenti pada permohonan agar anak menjadi saleh. Orang tua juga perlu memohon agar dirinya dan keturunannya senantiasa menjaga ibadah, khususnya shalat.

Ia mengutip doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah Ibrahim ayat 40:

“Rabbi-j‘alni muqimash-shalati wa min dzurriyyati, rabbana wa taqabbal du‘a.”

Artinya, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pengajian Dakwah Pedalaman karena pembinaan keagamaan tidak hanya menyasar aspek pengetahuan, tetapi juga penguatan peran keluarga dalam menjaga tauhid, ibadah, dan akhlak generasi.

Program Dakwah Pedalaman DPD Hidayatullah Gowa sendiri menjadi salah satu ikhtiar untuk mendekatkan pembinaan Islam kepada masyarakat di wilayah yang relatif jauh dari pusat kegiatan dakwah.

Melalui pengajian rutin, masyarakat diharapkan memperoleh akses pembelajaran agama secara berkelanjutan sekaligus memiliki ruang untuk memperkuat silaturahmi dan kehidupan keislaman di lingkungan masing-masing.

Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya SitujuPlus, Hisana Fried Chicken, PD Mushida Gowa, Rapid, dan BMH.

Ironi Ketika Kita Mengadili Seorang Ulama dari Buku

0
Oleh : Abu Ayman Ad-Duriy*

Beberapa hari terakhir, jagat media sosial kembali ramai oleh perdebatan tentang status keilmuan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu. Sebagian menyebutnya sebagai ahli hadis atau muhaddits, sementara sebagian lainnya lebih nyaman menyebutnya sebagai peneliti hadis. Perdebatan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia keilmuan Islam. Yang terasa baru adalah betapa mudahnya perdebatan yang semestinya membutuhkan perangkat ilmu yang panjang berubah menjadi konsumsi media sosial, lalu melibatkan orang-orang yang bahkan tidak memiliki kompetensi khusus dalam ilmu hadis.

Saya tidak bermaksud menentukan apakah al-Albani lebih tepat disebut muhaddits, ahli hadis, atau peneliti hadis. Untuk memberikan penilaian seperti itu, seseorang setidaknya harus memahami tradisi keilmuan hadis, metodologi kritik sanad dan matan, karya-karya al-Albani, cara para ulama sebelumnya menggunakan istilah muhaddits, serta kritik dan apresiasi para ahli terhadap pemikirannya. Persoalannya menjadi menarik justru ketika orang yang tidak memiliki perangkat tersebut dengan penuh keyakinan ikut memberikan vonis tentang posisi seorang tokoh dalam disiplin ilmu yang bukan bidang keahliannya.

Al-Albani sendiri merupakan figur yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam aktivitas membaca, menelaah, meneliti, dan memeriksa hadis. Dalam sejumlah biografi tentang dirinya disebutkan betapa besar porsi waktunya dicurahkan untuk membaca dan melakukan penelitian di perpustakaan. Terlepas dari bagaimana seseorang menilai metodologi, pendapat, ataupun hasil penelitian al-Albani, sulit mengabaikan kenyataan bahwa hadis merupakan medan keilmuan yang digelutinya selama 60-an tahun.

Di sinilah sebuah ironi muncul dan menurut saya layak direnungkan. Salah satu hal yang sering dijadikan alasan untuk meragukan posisi al-Albani adalah cara belajarnya yang sangat banyak bertumpu pada buku dan penelitian mandiri, sementara hubungan berguru secara langsung sebagaimana tradisi keilmuan klasik dianggap memiliki kedudukan yang sangat penting. Kritik mengenai hal itu tentu boleh dikaji secara akademis. Akan tetapi, bukankah ada pertanyaan yang juga layak kita ajukan kepada diri sendiri?

Jika seseorang menganggap al-Albani kurang layak disebut muhaddits karena terlalu banyak belajar melalui buku, bagaimana sebenarnya kita mengenal al-Albani? Bukankah banyak di antara kita yang tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah duduk di majelisnya, tidak pernah belajar langsung kepadanya, dan tidak memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepadanya? Kita mengenalnya melalui buku-bukunya, tulisan-tulisan tentang dirinya, rekaman ceramah, penelitian akademik, serta berbagai informasi yang diwariskan melalui media.

Bahkan ironi itu menjadi lebih tajam ketika kita menggunakan buku-buku karya al-Albani untuk menyimpulkan bahwa ia “lebih tepat disebut peneliti hadis daripada ahli hadis”. Kita mempelajari hasil bacaan dan penelitiannya melalui buku, lalu dari sana memberikan label terhadap dirinya. Kita tidak menerima label tersebut melalui sanad dari guru yang pernah belajar langsung kepada al-Albani. Dengan kata lain, kita sendiri menggunakan produk literatur untuk menilai seseorang, sembari mempermasalahkan orang tersebut karena cara belajarnya banyak bertumpu pada literatur.

Tentu saja, ini bukan pembelaan terhadap semua pandangan al-Albani. Kritik terhadap seorang tokoh adalah bagian dari tradisi ilmiah. Bahkan para ulama besar sepanjang sejarah saling mengoreksi, mengkritik, dan berbeda pendapat. Yang menjadi persoalan adalah ketika kritik terhadap metodologi seseorang berubah menjadi keberanian memberikan penilaian keilmuan tanpa terlebih dahulu memiliki kapasitas untuk melakukan penilaian tersebut.

Sebab, kalau benar cara belajar al-Albani yang banyak bertumpu pada buku menjadi alasan utama untuk meragukan kapasitasnya, kita juga perlu berhati-hati. Buku bukan benda yang tidak bernilai dalam tradisi keilmuan Islam. Justru sebagian besar warisan ilmu yang sampai kepada kita hari ini hadir melalui kitab. Para ulama meninggalkan karya agar generasi setelah mereka dapat membaca, mempelajari, menguji, mengkritik, dan mengembangkannya.

Yang perlu dibedakan adalah antara belajar dari buku dan belajar hanya dari buku tanpa perangkat keilmuan. Membaca kitab tidak otomatis menjadikan seseorang alim, sebagaimana berguru secara langsung juga tidak otomatis menjadikan seseorang ahli. Keilmuan lahir dari proses yang jauh lebih kompleks, meliputi keluasan bacaan, kedalaman pemahaman, metodologi, ketekunan, kemampuan verifikasi, tradisi akademik, dan pengakuan komunitas ilmiah yang relevan.

Al-Qur’an sendiri memberikan batas yang sangat jelas mengenai bagaimana seseorang seharusnya bersikap terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan intelektual. Tidak semua informasi yang sampai kepada kita otomatis menjadi pengetahuan kita, dan tidak semua pengetahuan yang kita miliki menjadikan kita memiliki otoritas untuk memberikan penilaian pada setiap persoalan. Ada wilayah yang kita pahami, ada yang baru kita pelajari, dan ada pula yang seharusnya kita serahkan kepada orang yang memang memiliki kompetensi di dalamnya.

Karena itu, Al-Qur’an memberikan arahan yang sangat sederhana ketika kita tidak mengetahui sesuatu. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 43:

فَاسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Ayat tersebut menarik untuk dibawa ke dalam budaya diskusi kita hari ini. Ketika tidak memiliki pengetahuan yang cukup, pilihan yang diajarkan Al-Qur’an bukan memaksakan pendapat, melainkan bertanya kepada ahlinya. Sikap seperti ini bukan tanda rendah diri secara intelektual. Sebaliknya, ia merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Tradisi ulama bahkan mengenal ungkapan لَا أَدْرِي, “Saya tidak tahu”, sebagai salah satu bentuk keberanian ilmiah. Imam Malik dikenal sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan yang tidak beliau kuasai. Sikap itu menunjukkan bahwa keluasan ilmu tidak selalu membuat seseorang semakin banyak berbicara. Dalam banyak keadaan, semakin seseorang memahami luasnya sebuah disiplin, semakin ia menyadari betapa terbatasnya pengetahuan yang dimilikinya.

Maka persoalannya mungkin bukan lagi tentang apakah al-Albani seorang muhaddits atau hanya peneliti hadis. Persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan kita adalah mengapa kita merasa perlu memberikan jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya bukan bidang kita. Mengapa kita begitu sibuk menentukan gelar keilmuan seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun menekuni bidangnya, sementara diri kita sendiri mungkin belum pernah membaca secara serius metodologi ilmu hadis?

Kita boleh tidak sepakat dengan al-Albani. Kita boleh mengkritik hasil penelitian beliau. Kita bahkan boleh mengikuti ulama yang berbeda pandangan dengannya. Semua itu merupakan bagian dari dinamika ilmu. Tetapi sebelum memberikan label, ada baiknya kita memastikan bahwa perangkat untuk memberikan label itu memang kita miliki.

Sebab ada ironi yang cukup dalam di sini. Kita mempermasalahkan seorang tokoh karena belajar melalui buku, tetapi kita sendiri membaca buku-bukunya untuk mengenal, menilai, lalu menghakiminya. Kita mempertanyakan sanad keilmuannya, sementara label yang kita berikan kepadanya pun sering kali tidak kita peroleh melalui sanad dari guru yang kompeten, melainkan dari potongan informasi yang beredar di ruang digital.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu repot-repot menjadi hakim dalam perkara yang tidak kita kuasai. Dunia ilmu sudah memiliki para ahli, metodologi, tradisi kritik, dan ruang akademiknya sendiri. Tugas kita sebagai pembelajar bukan selalu memenangkan perdebatan, melainkan memastikan bahwa ketika berbicara tentang ilmu, kita tidak sedang menggantikan pengetahuan dengan keberanian.

Barangkali salah satu tanda kedewasaan intelektual bukan terletak pada seberapa banyak tokoh yang mampu kita nilai, melainkan seberapa jujur kita mengenali batas kemampuan sendiri. Sebab sebelum mempertanyakan apakah seseorang layak disebut ahli dalam bidangnya, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita jawab, “Dalam bidang apa sebenarnya kita telah cukup belajar sehingga pantas memberikan penilaian?”

*Abu Ayman Ad-Duriy, alumnus prodi Hukum Keluarga Islam, dan pengajar di Yayasan Al-Bayan Makassar

62 Sarjana STAI Al Bayan Makassar Diwisuda, Dibekali Misi Pengabdian dan Peradaban

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Makassar mewisuda 62 sarjana dari tiga program studi pada Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Angkatan II di Swiss Belinn Makassar, Rabu (26/8/2026).

Para lulusan tersebut berasal dari Program Studi Tadris Matematika, Ekonomi Syariah, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Mereka dilepas untuk melanjutkan kiprah profesional sekaligus mengemban amanah pengabdian di tengah masyarakat.

Prosesi wisuda dipimpin Ketua STAI Al Bayan Makassar, Dr. Abdul Kadir Mahmud, M.A., bersama Ketua Senat Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., dan jajaran Dewan Senat. Hadir pula Ketua Yayasan Al Bayan Muh. Arfah, M.M., serta jajaran civitas akademika.

Momentum tersebut menjadi bagian puncak dari rangkaian kegiatan wisuda yang diawali malam ramah tamah sehari sebelumnya.

Ketua STAI Al Bayan Makassar, Abdul Kadir Mahmud, menekankan bahwa gelar akademik yang disandang para lulusan bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui ilmu dan pengabdian.

“Toga bukan mahkota yang perlu dibanggakan, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan,” ujar Abdul Kadir dalam pesan yang disampaikannya pada malam ramah tamah.

Menurutnya, setelah menyelesaikan pendidikan, para alumni tidak lagi berada pada fase pengabdian sebagaimana sebelumnya. Mereka telah mendapatkan lokasi penugasan untuk bekerja dan berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat.

Karena itu, ia mendorong para lulusan untuk terus membekali diri dengan ilmu, akhlak, dan karya sebagai modal dalam menjalankan peran masing-masing.

Pesan pengabdian tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., yang hadir dalam rangkaian wisuda. Ia menyoroti fenomena kegelisahan yang banyak dialami generasi muda, termasuk kecenderungan sebagian generasi Z merasa tidak menikmati pekerjaan yang dijalani.

Kiai Naspi Arsyad mengingatkan bahwa lulusan STAI Al Bayan yang merupakan kader Hidayatullah memiliki bekal jati diri dan fondasi spiritual untuk menghadapi tantangan tersebut.

Ia menekankan pentingnya ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan, pekerjaan, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Dengan ketaqwaan dan kedekatan yang erat kepada Allah SWT, para alumni akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menjalani peran dan pengabdian di tengah masyarakat,” tegas Naspi Arsyad.

Selain prosesi akademik, rangkaian wisuda juga diisi orasi ilmiah bertajuk “Sarjana dan Misi Peradaban” yang disampaikan Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang DPP Hidayatullah, Muh. Saddam, M.Ak.

Dalam orasinya, Saddam menekankan posisi strategis sarjana dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan peradaban Islam. Lulusan perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi akademik, tetapi perlu memiliki orientasi kontribusi yang lebih luas.

Sidang senat terbuka tersebut turut dihadiri Sekretaris Kopertais Wilayah VIII, Dr. K.H. Nur Taufiq Sanusi Baco, M.Ag., Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Dr. Muhammad Saleh, M.I.Kom., beserta jajaran, serta sejumlah tokoh masyarakat, pejabat, dan tamu undangan.

Wisuda Angkatan II ini sekaligus menandai keberlanjutan peran STAI Al Bayan Makassar dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi Islam, khususnya lulusan pada bidang pendidikan, ekonomi syariah, dan pendidikan dasar madrasah.

Bagi 62 sarjana yang dilepas tahun ini, toga yang dikenakan menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus awal dari tanggung jawab baru: membawa ilmu, akhlak, dan karya ke ruang pengabdian yang lebih luas.

Ketua Umum Hidayatullah: Jangan Jadi Sarjana yang Cemas Menghadapi Masa Depan

0

MAKASSAR — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc mengingatkan para sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar agar tidak larut dalam kegelisahan generasi muda menghadapi dunia kerja.

Pesan tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat memberikan sambutan pada Wisuda Sarjana STAI Al Bayan Hidayatullah di Swiss-Belinn Makassar, Rabu (26/8/2026).

Menurut Kiai Naspi, tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan kompetensi dan peluang pekerjaan, tetapi juga krisis orientasi yang membuat sebagian generasi muda mengalami kegelisahan dalam menentukan arah hidup.

Ia menyoroti fenomena job hugging dan job hopping yang berkembang di kalangan pekerja muda. Sebagian bertahan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan orientasi dirinya karena khawatir kehilangan kepastian karier, sementara sebagian lainnya berpindah-pindah pekerjaan untuk mencari kepuasan yang belum tentu ditemukan.

Kondisi tersebut, kata Kiai Naspi, dapat berujung pada krisis makna ketika pekerjaan hanya ditempatkan sebagai sarana mengejar kepastian material dan jenjang karier.

“Ketika standar keberhasilan hanya diukur dari pencapaian material dan jenjang karir pragmatis, manusia akan mudah merasa hampa,” ujarnya dalam sambutan yang disampaikan di hadapan para wisudawan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya fondasi spiritual bagi para sarjana Muslim dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Kiai Naspi mengatakan, sarjana kader Hidayatullah semestinya memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyikapi masa depan. Ketaqwaan kepada Allah SWT, menurutnya, menjadi pijakan utama agar seseorang tidak dikuasai kecemasan berlebihan terhadap rezeki, pekerjaan, maupun masa depan.

“Sebagai insan yang menjaga rukuk, sujud, dan kedekatannya dengan Allah SWT, seorang sarjana Perguruan Tinggi Hidayatullah tidak sewajarnya mengidap jenis kegelisahan yang sama dengan mereka yang jauh dari nilai-nilai spiritual,” katanya.

Pendidikan untuk Melahirkan Pembawa Solusi

Kiai Naspi juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi yang berakar pada nilai-nilai Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Menurut dia, Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) memiliki tanggung jawab lebih luas, yakni membentuk pribadi yang memiliki akidah kokoh, nilai-nilai Islam, serta semangat perjuangan dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi berakar keislaman bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan wahana penanaman nilai (value), akidah yang kokoh, dan semangat perjuangan (al-harakah al-jihadiyah),” tuturnya.

Dengan fondasi tersebut, ia berharap para wisudawan tidak memosisikan diri semata-mata sebagai pencari kerja setelah menyandang gelar sarjana.

Sebaliknya, alumni PTH diharapkan mampu mengambil peran sebagai bagian dari masyarakat yang menawarkan solusi atas berbagai persoalan sekaligus ikut membangun peradaban.

“Sarjana yang lahir dari rahim pendidikan seperti ini tidak dilatih untuk sekadar menjadi pencari kerja yang cemas, melainkan siap hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa solusi dan pencerah peradaban,” kata Kiai Naspi.

Ia juga mengingatkan para kader agar memandang pengabdian dan penugasan sebagai bagian dari proses perjuangan, bukan sebagai beban atau bentuk ketidakpastian.

Kesiapan untuk berkarya di berbagai tempat, lanjutnya, harus dibangun di atas keyakinan bahwa nilai sebuah karya tidak semata-mata ditentukan oleh ukuran material.

Bagi seorang kader, setiap ruang pengabdian dapat menjadi medan perjuangan ketika pekerjaan ditempatkan sebagai bagian dari ibadah.

Diminta Menjadi Wajah Islam yang Menenangkan

Kiai Naspi selanjutnya mengajak para alumni untuk hadir di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai bentuk kegelisahan, mulai dari persoalan ekonomi dan sosial hingga krisis orientasi hidup.

Dalam situasi tersebut, alumni perguruan tinggi Hidayatullah dituntut tidak ikut larut dalam kecemasan yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi representasi Islam yang menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan solusi melalui perpaduan ilmu, akhlak, serta karya nyata.

“Di tengah masyarakat yang sedang dilanda berbagai kegelisahan, baik ekonomi, sosial, maupun krisis arah hidup, alumni PTH harus tampil sebagai wajah Islam yang menenangkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, kekuatan akidah dan semangat perjuangan harus menjadi modal utama para sarjana dalam memasuki fase kehidupan setelah kampus.

“Jangan ikut larut dalam arus kecemasan zamannya. Bangunlah kepercayaan di tengah masyarakat dengan modal ilmu, akhlak mulia, dan karya nyata,” pesan Kiai Naspi.

Menurutnya, ketika akidah menjadi pijakan dan perjuangan menjadi spirit dalam bekerja, kegelisahan menghadapi masa depan dapat berubah menjadi ketenangan dan keyakinan dalam melangkah.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah kepada para wisudawan STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar yang memasuki fase baru kehidupan, dengan membawa bekal akademik sekaligus nilai-nilai keislaman dan pengabdian.

Pengajian Bulanan Auladi Hidayatullah Jeneponto Perkuat Sinergi Pondok dan Wali Santri

0

JENEPONTO (HidayatullahSulsel.or.id) — Pesantren Tahfizh Cilik Auladi Hidayatullah Jeneponto kembali menggelar pengajian bulanan yang dirangkaikan dengan pembinaan wali santri dan kunjungan orang tua kepada santri, Ahad (23/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara pondok pesantren dan orang tua dalam mendukung proses pendidikan serta pembinaan keagamaan santri.

Pengajian yang berlangsung di lingkungan Pesantren Tahfizh Cilik Auladi Hidayatullah Jeneponto tersebut sekaligus menjadi pengajian perdana bagi wali santri baru tahun pelajaran 2026/2027. Kegiatan diisi Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustaz Dr. Muhammad Soleh Usman, S.S., M.I.Kom.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Soleh menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Menurutnya, interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca, tetapi harus dilanjutkan dengan upaya memahami dan mengamalkan petunjuk yang terkandung di dalamnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kehidupan agar seorang Muslim tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

“Orang yang tidak peduli dengan Al-Qur’an pada akhirnya akan menyesal dan berharap dapat dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki kehidupannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an,” ujar Ustaz Soleh dalam tausiyahnya.

Selain penguatan wawasan keislaman, pembinaan wali santri menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para orang tua diberikan pemahaman mengenai kehidupan, pendidikan, dan pembinaan anak selama berada di lingkungan pesantren.

Pihak pondok mengajak wali santri membangun komunikasi yang terbuka serta memahami proses pendidikan yang dijalani anak. Dengan demikian, berbagai kekhawatiran maupun prasangka terhadap kehidupan santri di pesantren dapat diminimalkan melalui komunikasi dan pemahaman yang baik.

Pembinaan wali santri tersebut juga diarahkan untuk membangun kesamaan visi antara keluarga dan pesantren. Pendidikan anak, terutama dalam pembentukan karakter dan pembinaan keagamaan, dinilai membutuhkan keterlibatan bersama antara lembaga pendidikan dan orang tua.

Program Rutin dengan Kurikulum Tahunan

Pengajian dan pembinaan wali santri di Auladi Hidayatullah Jeneponto merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan secara periodik. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan bagi wali santri.

Dalam pelaksanaannya, pihak pesantren menghadirkan pemateri profesional secara bergantian sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Materi pengajian disusun dalam kurikulum selama satu tahun agar pembinaan wali santri berlangsung secara sistematis, berkesinambungan, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan keluarga serta pesantren.

Dengan pola tersebut, setiap pertemuan diharapkan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian pembinaan yang saling berkaitan. Tema-tema yang diberikan diarahkan untuk memperkaya pemahaman keislaman sekaligus meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang dan pendidikan anak.

Kegiatan pengajian bulanan ini diharapkan semakin mempererat hubungan antara Auladi Hidayatullah Jeneponto dan para wali santri, membuka ruang komunikasi yang lebih intensif, serta menumbuhkan kepercayaan antara keluarga dan pesantren.

Sinergi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan proses pendidikan dan pembinaan santri berjalan secara konsisten, baik selama berada di pesantren maupun ketika kembali ke lingkungan keluarga.*/Ibaz

Hidayatullah Sulsel Hadiri Musda IX MUI, Teguhkan Sinergi Ulama dan Ormas

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan turut menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan yang digelar di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, 22–23 Agustus 2026.

Hidayatullah Sulsel diwakili Drs. Muhammad Kaisar, Departemen Organisasi dan Sumber Daya Insani (SDI) DPW Hidayatullah Sulsel. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari keterlibatan organisasi Islam tingkat provinsi dalam forum lima tahunan MUI Sulsel.

Musda IX MUI Sulsel mengangkat tema “Meneguhkan Peran Ulama dalam Merekatkan Ukhuwah dan Mengawal Transformasi Umat Menuju Sulawesi Selatan yang Berkeadaban.”

Forum tersebut mempertemukan pimpinan MUI, ulama, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, pesantren, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat peran ulama dalam pembinaan dan pemberdayaan umat di Sulawesi Selatan.

Pembukaan Musda IX MUI Sulsel dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, antara lain Gubernur Sulawesi Selatan, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Kapolda Sulawesi Selatan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, pimpinan BUMN dan BUMD, para rektor perguruan tinggi, pimpinan pondok pesantren, serta pimpinan ormas Islam.

Dari MUI Pusat, hadir Sekretaris Jenderal MUI Pusat Dr. KH. Amirsyah Tambunan, M.A. bersama jajaran, serta Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat KH. Miftahul Huda.

Ketua Umum MUI Sulsel Prof. Dr. KH. Najamuddin Abduh Safa, Lc., M.A. dalam kesempatan tersebut menegaskan posisi MUI Sulsel sebagai mitra strategis pemerintah atau shadiqul hukumah sekaligus pelayan umat atau khadimul ummah.

Menurutnya, peran tersebut terus diwujudkan melalui berbagai program dan kontribusi MUI Sulsel. Dalam penyelenggaraan Musda IX, MUI Sulsel juga membawa capaian organisasi yang disebut telah menempatkannya dalam jajaran lima besar MUI provinsi terbaik di Indonesia.

Ketua Panitia Musda IX MUI Sulsel, H. Baidillah Sahabuddin, M.Si., mengatakan Musda tidak hanya menjadi forum pergantian dan penyegaran kepengurusan, tetapi juga dirangkaikan dengan sejumlah agenda strategis. Salah satunya seminar antinarkoba sebagai bentuk kepedulian ulama terhadap perlindungan generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkotika.

Sementara itu, kehadiran DPW Hidayatullah Sulsel dalam forum tersebut mencerminkan komitmen organisasi untuk terus membangun komunikasi dan sinergi dengan MUI serta organisasi Islam lainnya.

Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kualitas pembinaan umat, serta mendorong kontribusi organisasi keumatan dalam mengawal dinamika sosial dan transformasi masyarakat di Sulawesi Selatan.

Musda IX MUI Sulsel diharapkan menghasilkan kepengurusan yang solid sekaligus melahirkan rekomendasi strategis bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan pembangunan daerah.

Bagi Hidayatullah Sulsel, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antarlembaga dan ormas Islam dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi kehidupan keumatan di Sulawesi Selatan.

Pemkot Parepare dan DPW Hidayatullah Sulsel Teken MoU Pembinaan Keagamaan ASN

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Pemerintah Kota Parepare bersama Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang penyelenggaraan kegiatan keagamaan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Parepare.

Penandatanganan MoU berlangsung di Kantor Wali Kota Parepare, Rabu (19/8/2026) pagi. MoU ditandatangani langsung oleh Wali Kota Parepare H. Tasming Hamid, S.E., M.H. dan Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Dr. Muhammad Saleh Usman, M.I.Kom., disaksikan jajaran pemerintah daerah serta pengurus Hidayatullah.

Kerja sama ini secara khusus diarahkan pada pembinaan keagamaan melalui pembelajaran Al-Qur’an bagi ASN. Program yang ditawarkan Hidayatullah dikenal sebagai Grand MBA, singkatan dari Gerakan Dakwah Nasional Mengajar dan Belajar Al-Qur’an.

Grand MBA merupakan program pembelajaran Al-Qur’an yang dirancang untuk berbagai jenjang kemampuan, mulai dari peserta yang belum memiliki kemampuan dasar membaca Al-Qur’an hingga tingkat mahir. Program tersebut juga dapat diikuti berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menegaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam membangun kualitas keagamaan masyarakat, termasuk aparatur pemerintahan.

Ia menyebut metode pembelajaran Al-Qur’an yang digunakan dalam program tersebut telah menunjukkan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen. Menurutnya, peserta yang belum berhasil umumnya karena kurang fokus dalam mengikuti proses pembelajaran.

“Keberkahan bagi suatu teritorial jika orang-orangnya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Itu bisa terwujud dengan cahaya Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia juga berharap sinergi antara Pemkot Parepare dan Hidayatullah dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan karakter masyarakat sekaligus mendorong lahirnya generasi pemimpin dari Kota Parepare.

Menurutnya, Parepare memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh intelektual dan pemimpin. Karena itu, penguatan pendidikan dan pembinaan Al-Qur’an dinilai penting untuk terus dikembangkan.

Sementara itu, Wali Kota Parepare mengatakan pembinaan keagamaan bagi ASN telah menjadi salah satu perhatian pemerintahannya sejak awal menjabat.

Ia mengungkapkan, setelah dilantik sebagai Wali Kota Parepare, dirinya langsung menerbitkan dua surat edaran. Surat edaran pertama mendorong ASN untuk meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an. Adapun surat edaran kedua berkaitan dengan pelaksanaan safari dakwah yang salah satu tujuannya mendorong ASN dan masyarakat untuk melaksanakan salat berjamaah di masjid.

Menurut Wali Kota, kerja sama dengan Hidayatullah menjadi penting karena organisasi tersebut menawarkan program pembelajaran Al-Qur’an yang praktis dan dapat diterapkan dalam pembinaan ASN.

“Semoga dengan pembelajaran Al-Qur’an ini dapat membawa keberkahan di Kota Parepare,” katanya.

Kegiatan penandatanganan MoU tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Parepare H. Hermanto Pasennangi, S.E., Sekretaris Daerah Kota Parepare Amarun Agung Hamka, S.STP., M.Si., para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan lurah, serta sejumlah pimpinan badan usaha milik daerah, termasuk PDAM.

Dari jajaran Hidayatullah hadir Sekertaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Reskyaman, M.Pd. bersama sejumlah pengurus wilayah lainnya. Hadir pula Ketua DPD Hidayatullah Parepare Ustaz Habibi Nursalam beserta jajaran, Pengurus PD Muslimat Hidayatullah Parepare, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare Ustaz Ilham Syawal, serta pengurus lainnya.

Melalui kesepakatan tersebut, Pemkot Parepare dan Hidayatullah Sulawesi Selatan memperkuat sinergi dalam pembinaan keagamaan, khususnya melalui pembelajaran Al-Qur’an. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an di kalangan ASN, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan birokrasi dan masyarakat Kota Parepare.

Reporter : Resky

STAI Al Bayan Makassar Bekali dan Asesmen 62 Calon Wisudawan Sebelum Penugasan

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Sebanyak 62 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar mengikuti pembekalan dan asesmen calon sarjana sebagai persiapan menghadapi Wisuda Angkatan II Tahun 2026 sekaligus sebelum menjalani penugasan di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut dibuka di Aula Kampus Utama Al Bayan Hidayatullah Makassar, BTP Tamalanrea, Selasa (18/8/2026), dengan menghadirkan Kepala Departemen Pendidikan Tinggi (Kadep Dikti) DPP Hidayatullah Usatdz Muh. Saddam, M.Ak. sebagai pemateri tunggal.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ustadz Muh. Arfah, M.M. dan Ketua STAI Al Bayan Usatdz Dr. Abdul Qadir Mahmud, M.Pd.

Ketua STAI Al Bayan menjelaskan, pembekalan dan asesmen tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju wisuda. Kegiatan dirancang untuk memastikan calon sarjana memiliki kesiapan yang memadai, baik dari sisi kompetensi maupun mental, sebelum memasuki medan pengabdian.

“Ini merupakan salah satu dari rangkaian wisuda angkatan II STAI Al Bayan tahun 2026. Harapannya, para calon sarjana di seluruh Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH), termasuk STAI Al Bayan, memiliki kesiapan matang sebelum menjalankan tugasnya kelak,” ujar Usatdz Abdul Qadir.

Ia menyebutkan, 62 mahasiswa pada periode ini dijadwalkan mengikuti prosesi Wisuda Angkatan II STAI Al Bayan yang akan dilaksanakan pada akhir Agustus 2026.

Dalam arahannya, Usatdz Muh. Saddam menekankan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi Hidayatullah bukan sekadar pencapaian akademik. Para alumni diharapkan mampu membawa kompetensi yang dimiliki untuk memberikan kontribusi nyata dalam dakwah dan pendidikan.

Menurutnya, asesmen menjadi instrumen penting untuk melihat potensi dan kesiapan setiap calon sarjana sekaligus memetakan penempatannya sesuai kebutuhan di lapangan.

“Asesmen ini penting untuk memetakan potensi para sarjana sesuai dengan kebutuhan pondok pesantren serta mengakomodasi berbagai saran dan masukan pengembangan. Kami berharap lulusan yang ditugaskan nanti benar-benar menjadi solusi bagi dakwah dan tarbiyah,” tegas Usatdz Saddam.

Ia berharap para calon sarjana tidak hanya siap menjalankan tugas secara teknis, tetapi juga mampu membaca kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi dalam bidang dakwah maupun pendidikan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ustadz Muh. Arfah mengingatkan para calon wisudawan untuk menjaga integritas dan nama baik almamater setelah kembali mengabdi di tengah masyarakat.

“Seluruh mahasiswa yang telah dididik di kampus ini diharapkan dapat menjaga muru’ah STAI Al Bayan dan membuktikan dedikasi terbaik mereka saat bertugas di tengah masyarakat,” katanya.

Pembekalan dan asesmen tersebut berlangsung sehari penuh dengan pola pelaksanaan secara hybrid, memadukan kehadiran langsung dan partisipasi secara daring. Kegiatan ini menjadi bagian dari tahapan akhir pembinaan calon alumni sebelum mereka resmi menyandang gelar sarjana dan memasuki fase pengabdian.*/Lafiri

Hidayatullah Gowa Gelar Pengajian Perdana di Pedalaman Balangbuki, Akan Rutin Setiap Bulan

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Gowa melalui Departemen Dakwah memulai Program Dakwah Pedalaman dengan menggelar pengajian perdana di Dusun Balangbuki, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini dirancang menjadi pengajian rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan.

Pengajian perdana yang berlangsung di rumah Imam Masjid Babussalam Balangbuki tersebut menghadirkan Ketua DPD Hidayatullah Gowa, Ustadz H. Ahmad Syauqi, Lc., sebagai pemateri. Ia menyampaikan kajian bertema “Keutamaan Menuntut Ilmu” di hadapan masyarakat dan jamaah setempat.

Program ini menjadi bagian dari ikhtiar DPD Hidayatullah Gowa untuk memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat di wilayah pedalaman. Balangbuki merupakan salah satu dusun di Kecamatan Tombolo Pao yang menjadi sasaran program dakwah karena memiliki tantangan tersendiri dalam pembinaan keagamaan masyarakat. Di dusun tersebut terdapat dua gereja yang berdiri di tengah lingkungan permukiman warga.

Karena itu, Departemen Dakwah DPD Hidayatullah Gowa merancang kegiatan pengajian secara berkelanjutan, tidak berhenti pada kegiatan perdana. Pengajian akan diupayakan berlangsung setiap bulan dengan melibatkan pemerintah desa dan dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta majelis taklim setempat.

Selain Ketua DPD Hidayatullah Gowa, kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris DPD Hidayatullah Gowa, Ustadz Mardi Maing, S.Pd., Gr. Hadir pula Imam Dusun Balangbuki, Imam Masjid Babussalam, ibu-ibu Majelis Taklim Balangbuki, sejumlah warga, serta jajaran pengurus DPD Hidayatullah Gowa.

Dukungan terhadap pelaksanaan program dakwah tersebut juga datang dari sejumlah lembaga dan mitra. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Yayasan Ashabul Jannah Gowa, serta Hisana Fried Chicken Gowa.

Dalam kajiannya, Usatdz Ahmad Syauqi menekankan pentingnya ilmu sebagai landasan dalam menjalani kehidupan seorang Muslim. Menuntut ilmu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan iman, amal, dan kehidupan masyarakat yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Kehadiran masyarakat dalam pengajian perdana tersebut menjadi modal awal bagi keberlanjutan program. Departemen Dakwah DPD Hidayatullah Gowa berharap agenda bulanan ini dapat menjadi ruang pembinaan yang konsisten sekaligus mempererat hubungan antara dai dan masyarakat Balangbuki.

Program Dakwah Pedalaman tersebut selanjutnya akan diarahkan pada pembinaan yang lebih berkelanjutan melalui pengajian, silaturahmi, dan kegiatan dakwah lainnya sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Dengan dukungan berbagai pihak, Hidayatullah Gowa menargetkan pengajian di Balangbuki tidak sekadar menjadi kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi agenda pembinaan keagamaan masyarakat yang berlangsung secara rutin setiap bulan..

Empat Murabbi Sulsel Ikuti Diklat Nasional, Ketua DPW Turut Hadir di Balikpapan

0

BALIKPAPAN (HidayatullahSulsel.or.id) — Empat unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Murabbi Wustha Nasional yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur, 5–12 Agustus 2026.

Keempat peserta dari Sulsel tersebut yakni Ketua DMW Hidayatullah Sulsel KH Abdul Majid, M.A., bersama anggota DMW Ustaz Imran Jufri, M.Pd., Ustadz Drs. Anwar Baits, dan UsatdzDrs. Ismail Mukhtar.

Keikutsertaan jajaran DMW Sulsel dalam agenda nasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas murabbi, khususnya dalam menjalankan fungsi pembinaan kader dan pengembangan dakwah di daerah.

Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian langsung dari jajaran pimpinan Hidayatullah Sulsel. Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel Dr. Muhammad Saleh turut hadir, bersama Kepala Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel H. Nasrullah, Lc.

Diklat Murabbi Wustha Nasional diikuti ratusan dai dan murabbi dari berbagai daerah di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas sekaligus penyamaan visi dalam menjalankan proses pembinaan kader secara berkesinambungan.

Salah satu penekanan penting dalam diklat tersebut adalah perlunya menjaga kesinambungan halaqah dan dakwah. Rais Am Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan bahwa kekuatan pembinaan tidak dapat dilepaskan dari konsistensi dalam belajar, mengamalkan ilmu, dan membina umat.

Menurutnya, seorang murabbi harus memiliki ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalankan proses pembinaan. Istiqamah dalam halaqah dan dakwah menjadi salah satu fondasi agar pembinaan kader berlangsung secara terarah dan berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi para murabbi di daerah yang berhadapan langsung dengan dinamika dan kebutuhan dakwah masyarakat. Karena itu, penguatan kompetensi murabbi dipandang penting agar proses pembinaan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berlanjut pada pendampingan dan pembentukan karakter kader.

Salah seorang peserta berdarah Sulsel, Ustaz Sultan Daeng Raja, M.Pd., yang turut mengikuti kegiatan tersebut, menilai diklat nasional itu memberikan manfaat besar bagi para murabbi di wilayah.

“Ini acara yang sangat penting, ini memang yang jadi kebutuhan kami para murabbi di wilayah,” ujarnya saat penutupan diklat.

Ia menyebutkan, kegiatan tersebut tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga kembali menguatkan semangat untuk menjalankan dakwah secara lebih terarah. Bekal yang diperoleh selama diklat diharapkan dapat diterapkan dalam pembinaan dan pengembangan dakwah di daerah masing-masing.

Bagi Hidayatullah Sulsel, keterlibatan jajaran DMW dalam forum nasional tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan sistem perkaderan. Kolaborasi antara struktur murabbi dan pengurus wilayah diharapkan dapat memperkuat kesinambungan pembinaan kader serta meningkatkan kualitas dai yang mengabdi di tengah masyarakat.

Diklat Murabbi Wustha Nasional ini juga menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam semarak Milad Emas ke-50 Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.*/Rilis