ENREKANG (HidayatullahSulsel.or.id) — Menjadi orang tua di tengah derasnya perubahan zaman menuntut lebih dari sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan anak. Orang tua dituntut hadir sebagai pendidik pertama yang mampu memberikan keteladanan, membangun kedekatan emosional, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kelas Orang Tua/Wali Murid TK, SD, MTs, dan MA Ulul Albab Hidayatullah Sudu yang dirangkaikan dengan seminar parenting bertema “Menjadi Orang Tua Teladan, Belajar Parenting dari Rasulullah” di Aula Gedung SD Integral Ulul Albab Hidayatullah Sudu, Enrekang, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Ulul Albab Pesantren Hidayatullah Sudu tersebut diikuti sekitar 150 orang tua/wali murid dari berbagai unit pendidikan, mulai jenjang TK hingga MA.
Seminar menghadirkan Ustadzah Miftah, S.Pd.I. sebagai pemateri. Kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi orang tua untuk merefleksikan kembali peran keluarga dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.
Belajar Pola Asuh dari Keteladanan Rasulullah
Dalam pemaparannya, Ustadzah Miftah menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui nasihat dan aturan. Orang tua perlu terlebih dahulu menghadirkan keteladanan dalam perilaku sehari-hari.
Menurutnya, pola pengasuhan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam memperlihatkan keseimbangan antara ketegasan, kasih sayang, komunikasi, dan perhatian terhadap kondisi anak.
Tiga hal penting yang ditekankan dalam materi tersebut adalah keteladanan (uswah), kasih sayang yang tulus, serta kekuatan doa orang tua.
Ketiganya perlu berjalan bersama agar pendidikan di rumah tidak berhenti pada pembentukan perilaku, tetapi juga menyentuh aspek hati, akhlak, dan kesadaran spiritual anak.
“Mendidik anak di era modern bukanlah tentang siapa yang paling lantang bersuara, melainkan bagaimana kita mampu menggenggam hati mereka sebelum dunia luar merampasnya,” ungkap Ustadzah Miftah dalam pemaparannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, kata dia, memberikan banyak teladan dalam berinteraksi dengan anak melalui dialog yang mendorong mereka untuk mendengar, bertanya, berpikir, dan mengambil kesimpulan.
“Rasulullah shallallahu alayhi wasallam telah mencontohkan komunikasi dua arah yang memantik nalar kritis sekaligus melembutkan hati anak,” lanjutnya.
Orang Tua dan Sekolah Harus Berjalan Bersama
Seminar juga membahas tahapan pengasuhan anak berdasarkan konsep 7×3 yang populer dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sang menantu Rasululullah shallallahu alayhi wasallam. Konsep tersebut menggambarkan pendekatan pendidikan yang berbeda sesuai dengan perkembangan usia anak.
Pada fase awal, anak membutuhkan kasih sayang dan ruang tumbuh yang kuat. Memasuki usia berikutnya, pendidikan diarahkan pada pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Sementara ketika anak beranjak remaja, orang tua didorong membangun hubungan yang lebih dekat sebagai sahabat dan pendamping.
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pola komunikasi dan pendidikan anak tidak dapat disamaratakan pada setiap jenjang usia.
Bagi lembaga pendidikan, penguatan peran orang tua menjadi bagian penting dari upaya membangun pendidikan yang menyeluruh. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam membentuk karakter peserta didik tanpa dukungan lingkungan keluarga.
Ketua Yayasan Ulul Albab Hidayatullah Sudu, Ustadz Irwan Mujahid, M.Pd., mengatakan antusiasme orang tua dalam mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan yang kuat terhadap penguatan kapasitas keluarga dalam mendidik anak.
“Penting bagi kita membangun kolaborasi antara rumah dan sekolah untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara mental, dan kokoh secara spiritual,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan Kelas Orang Tua/Wali Murid diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seminar, tetapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pembenahan pola pengasuhan di lingkungan keluarga.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif para orang tua di Enrekang untuk terus memperbaiki pola pengasuhan di tengah keluarga masing-masing,” katanya.
Kelas Orang Tua/Wali Murid tersebut sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan. Dengan pola asuh yang berlandaskan keteladanan dan nilai-nilai Islam, pendidikan anak diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, kemandirian, dan keteguhan spiritual.*/




