Beranda blog

Kelas Orang Tua Ulul Albab Hidayatullah Sudu Bahas Parenting dari Rasulullah

0
Foto bersama pemateri dan sebagian peserta Kelas Orang Tua Ulul Albab Hidayatullah Sudu, Sabtu (3/10/2026)

ENREKANG (HidayatullahSulsel.or.id) — Menjadi orang tua di tengah derasnya perubahan zaman menuntut lebih dari sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan anak. Orang tua dituntut hadir sebagai pendidik pertama yang mampu memberikan keteladanan, membangun kedekatan emosional, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut mengemuka dalam Kelas Orang Tua/Wali Murid TK, SD, MTs, dan MA Ulul Albab Hidayatullah Sudu yang dirangkaikan dengan seminar parenting bertema “Menjadi Orang Tua Teladan, Belajar Parenting dari Rasulullah” di Aula Gedung SD Integral Ulul Albab Hidayatullah Sudu, Enrekang, Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Ulul Albab Pesantren Hidayatullah Sudu tersebut diikuti sekitar 150 orang tua/wali murid dari berbagai unit pendidikan, mulai jenjang TK hingga MA.

Seminar menghadirkan Ustadzah Miftah, S.Pd.I. sebagai pemateri. Kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi orang tua untuk merefleksikan kembali peran keluarga dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

Belajar Pola Asuh dari Keteladanan Rasulullah

Dalam pemaparannya, Ustadzah Miftah menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui nasihat dan aturan. Orang tua perlu terlebih dahulu menghadirkan keteladanan dalam perilaku sehari-hari.

Menurutnya, pola pengasuhan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam memperlihatkan keseimbangan antara ketegasan, kasih sayang, komunikasi, dan perhatian terhadap kondisi anak.

Tiga hal penting yang ditekankan dalam materi tersebut adalah keteladanan (uswah), kasih sayang yang tulus, serta kekuatan doa orang tua.

Ketiganya perlu berjalan bersama agar pendidikan di rumah tidak berhenti pada pembentukan perilaku, tetapi juga menyentuh aspek hati, akhlak, dan kesadaran spiritual anak.

“Mendidik anak di era modern bukanlah tentang siapa yang paling lantang bersuara, melainkan bagaimana kita mampu menggenggam hati mereka sebelum dunia luar merampasnya,” ungkap Ustadzah Miftah dalam pemaparannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, kata dia, memberikan banyak teladan dalam berinteraksi dengan anak melalui dialog yang mendorong mereka untuk mendengar, bertanya, berpikir, dan mengambil kesimpulan.

“Rasulullah shallallahu alayhi wasallam telah mencontohkan komunikasi dua arah yang memantik nalar kritis sekaligus melembutkan hati anak,” lanjutnya.

Orang Tua dan Sekolah Harus Berjalan Bersama

Seminar juga membahas tahapan pengasuhan anak berdasarkan konsep 7×3 yang populer dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sang menantu Rasululullah shallallahu alayhi wasallam. Konsep tersebut menggambarkan pendekatan pendidikan yang berbeda sesuai dengan perkembangan usia anak.

Pada fase awal, anak membutuhkan kasih sayang dan ruang tumbuh yang kuat. Memasuki usia berikutnya, pendidikan diarahkan pada pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Sementara ketika anak beranjak remaja, orang tua didorong membangun hubungan yang lebih dekat sebagai sahabat dan pendamping.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pola komunikasi dan pendidikan anak tidak dapat disamaratakan pada setiap jenjang usia.

Bagi lembaga pendidikan, penguatan peran orang tua menjadi bagian penting dari upaya membangun pendidikan yang menyeluruh. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam membentuk karakter peserta didik tanpa dukungan lingkungan keluarga.

Ketua Yayasan Ulul Albab Hidayatullah Sudu, Ustadz Irwan Mujahid, M.Pd., mengatakan antusiasme orang tua dalam mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan yang kuat terhadap penguatan kapasitas keluarga dalam mendidik anak.

“Penting bagi kita membangun kolaborasi antara rumah dan sekolah untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara mental, dan kokoh secara spiritual,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan Kelas Orang Tua/Wali Murid diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seminar, tetapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pembenahan pola pengasuhan di lingkungan keluarga.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif para orang tua di Enrekang untuk terus memperbaiki pola pengasuhan di tengah keluarga masing-masing,” katanya.

Kelas Orang Tua/Wali Murid tersebut sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan. Dengan pola asuh yang berlandaskan keteladanan dan nilai-nilai Islam, pendidikan anak diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, kemandirian, dan keteguhan spiritual.*/

Ketua Bidang Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Resmikan Rumah Qur’an di Gowa Bersama BMH Sulsel

0
Peresmian Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis di Gowa
Peresmian Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis di Gowa, Sabtu (3/10/2026).

GOWA (HidayatullahSuslel.or.id) — Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, resmi dibuka pada Sabtu (3/10/2026). Kehadirannya menjadi bagian dari ikhtiar memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu majelis taklim dan anak-anak.

Peresmian Rumah Qur’an Hidayatullah Gowa yang berlokasi di Jalan Tun Abdul Razak III, Kecamatan Somba Opu, tersebut dilakukan oleh Ketua Bidang Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah, Ustadz Shohibul Anwar, M.H.I., bersama unsur Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan.

Kegiatan berlangsung sekitar pukul 15.30 WITA dan dihadiri sejumlah unsur Hidayatullah serta masyarakat. Di antaranya pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, pengurus BMH Sulsel, pengurus DPD Hidayatullah Gowa, Pengurus Pondok Tahfidz Ashabul Jannah, pengurus Mushida Gowa, Mujahidah Sulawesi Selatan, ibu-ibu Forum Komunikasi Islam BTP, ibu-ibu Furidi Istanbul, serta sejumlah majelis taklim.

Perluas Pembelajaran Al-Qur’an di Gowa

Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis merupakan bagian dari program DPD Hidayatullah Gowa untuk memperluas kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Kehadiran rumah Qur’an ini diharapkan memberikan ruang belajar yang lebih dekat bagi masyarakat sekitar. Selain kemampuan membaca Al-Qur’an, kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap awal, Rumah Qur’an ini ditargetkan melayani sekitar 20- peserta, yang terdiri atas anak-anak dan ibu-ibu dari lingkungan sekitar.

Pengelola juga diharapkan dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat dan ketersediaan tenaga pengajar.

DPP Hidayatullah dan BMH Sulsel Bersinergi

Penyelenggaraan Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis melibatkan sejumlah unsur dalam jaringan Hidayatullah.

DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan berperan memberikan pendampingan, sedangkan BMH Sulawesi Selatan memberikan dukungan finansial untuk menunjang penyelenggaraan program.

Sementara itu, tenaga pengajar berasal dari PD Mushida Gowa yang akan mendampingi proses pembelajaran para peserta.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuat kegiatan Rumah Qur’an tidak berhenti pada penyediaan tempat belajar, tetapi berkembang menjadi ruang pembinaan Al-Qur’an yang berjalan secara rutin dan berkelanjutan.

Dilengkapi Sarana Pembelajaran

Untuk menunjang kegiatan belajar, Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis telah dilengkapi sejumlah fasilitas pembelajaran.

Di antaranya Al-Qur’an, meja mengaji, serta buku-buku materi. Fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu para pengajar dan peserta mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik.

Menurut pengelola, keberadaan sarana tersebut akan terus dikembangkan seiring dengan pertumbuhan jumlah peserta dan kebutuhan pembelajaran.

Rumah Qur’an Menjadi Ladang Amal

Dalam nasihatnya pada peresmian tersebut, Ustadz Shohibul Anwar menyampaikan bahwa keberadaan rumah Qur’an dapat menjadi bekal dunia dan akhirat bagi siapa saja yang mengambil bagian di dalamnya.

Menurutnya, kesempatan berbuat baik terbuka bagi banyak pihak. Ada yang berkontribusi melalui wakaf dan pembiayaan, ada yang mengajarkan Al-Qur’an, dan ada pula yang hadir sebagai peserta untuk belajar.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa manfaat Rumah Qur’an tidak berhenti pada tersedianya sebuah tempat untuk mengaji. Lebih dari itu, keberadaannya diharapkan melahirkan generasi dan keluarga yang semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Kehadiran Rumah Qur’an dengan demikian diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperluas amal kebaikan sekaligus memperkuat pembinaan keislaman di tengah masyarakat.

Diharapkan Berjalan Berkelanjutan

Rumah Qur’an Hidayatullah Hj. Deli Lubis diharapkan dapat menjadi salah satu simpul pembelajaran Al-Qur’an di Kabupaten Gowa.

Dukungan berbagai pihak, mulai dari organisasi, lembaga filantropi, tenaga pengajar, hingga masyarakat sekitar menjadi modal penting agar kegiatan tersebut dapat berlangsung secara konsisten.

Bagi Hidayatullah, kehadiran Rumah Qur’an bukan sekadar menghadirkan tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia diharapkan menjadi ruang pembinaan yang menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an, memperkuat kehidupan keislaman keluarga, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Gowa.

3 Sumber Maksiat Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Sombong, Tamak, dan Hasad

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dosa tidak selalu bermula dari tindakan negatif yang tampak besar. Dalam banyak keadaan, maksiat justru tumbuh dari penyakit yang terlebih dahulu bersemayam di dalam hati. Ketika penyakit itu dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi sikap, ucapan, dan perbuatan yang menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ust. Jumaruddin, M.Pd., Kadep Pendidikan DPW Hidayatullah Sulsel, dalam khutbah Jumat di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, Jumat, 2 Oktober 2026.

Mengutip penjelasan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ust. Jumaruddin menerangkan bahwa terdapat tiga akar utama yang menjadi sumber berbagai bentuk maksiat, yakni kesombongan, ketamakan, dan hasad.

Ibnu Qayyim merumuskannya dalam ungkapan:

أصول المعاصي ثلاثة : الكبر و الحرص و الحسد

“Sumber segala macam dosa ada tiga: kesombongan, ketamakan, dan hasad.”

Ketiga penyakit hati tersebut memiliki akar persoalan yang berbeda. Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran, ketamakan membuat manusia tidak pernah merasa cukup, sedangkan hasad mendorong seseorang tidak senang melihat nikmat yang diperoleh orang lain.

Dosa dan Pintu Taubat Selalu Terbuka

Sebelum menjelaskan tiga sumber maksiat tersebut, Ust. Jumaruddin mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar, Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian senantiasa berbuat kesalahan pada malam dan siang hari. Aku mengampuni seluruh dosa. Karena itu, mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian.”

Hadis tersebut memberikan dua pesan penting. Pertama, manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Kedua, dosa tidak semestinya membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah.

Al-Qur’an bahkan memberikan seruan yang sangat kuat kepada orang-orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Karena itu, mengenali sumber dosa menjadi bagian penting dari upaya menjaga diri. Seseorang bukan hanya dituntut menjauhi perbuatan maksiat, tetapi juga perlu mengenali penyakit batin yang dapat menyeretnya kepada kemaksiatan.

1. Kesombongan: Penyakit yang Menjerumuskan Iblis

Sumber maksiat pertama yang disebut Ibnu Qayyim adalah al-kibr, yakni kesombongan.

Ibnu Qayyim menjelaskan:

فالكبر جعل إبليس يفسق عن أمر ربه

“Kesombongan menyebabkan Iblis menyimpang dari perintah Tuhannya.”

Kisah Iblis menjadi contoh paling jelas mengenai bahaya kesombongan. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak perintah tersebut.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”

Ketika ditanya mengenai penolakannya, Iblis merasa memiliki kelebihan dibandingkan Adam. Ia berkata:

أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Persoalannya bukan sekadar bahwa Iblis tidak menaati sebuah perintah. Di balik pembangkangan itu terdapat penyakit hati: ia merasa lebih tinggi daripada yang lain dan menjadikan perasaan tersebut sebagai alasan untuk menolak perintah Allah.

Karena itu, kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk membanggakan harta atau kedudukan. Ia dapat muncul melalui ilmu, jabatan, kemampuan, keturunan, pengalaman, bahkan amal ibadah.

Seseorang yang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain hingga meremehkan mereka perlu mewaspadai penyakit tersebut.

Allah mengingatkan dalam Surah Al-‘Alaq ayat 6–8:

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali.”

Menurut penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ketika manusia merasa dirinya berkecukupan, kebodohan dan kezaliman dapat mendorongnya melampaui batas, bersikap sombong terhadap petunjuk, serta melupakan bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.

Kesombongan Membuat Kebenaran Sulit Diterima

Bahaya kesombongan semakin jelas ketika ia membuat seseorang tidak lagi mampu menerima kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, ukuran kesombongan bukan sekadar penampilan seseorang atau banyaknya harta yang dimiliki. Kesombongan dapat dikenali dari sikap batin ketika seseorang berhadapan dengan kebenaran dan sesama manusia.

Jika kebenaran ditolak hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah, atau manusia lain direndahkan karena status sosial, ilmu, ekonomi, maupun latar belakangnya, maka seseorang perlu melakukan muhasabah terhadap hatinya.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim)

Kesombongan, dengan demikian, bukan sekadar persoalan akhlak sosial. Ia berkaitan langsung dengan hubungan seorang hamba dengan Allah dan dengan sikapnya terhadap kebenaran.

2. Ketamakan: Keinginan yang Tidak Pernah Merasa Cukup

Sumber maksiat kedua adalah al-hirsh, yakni ketamakan atau kerakusan terhadap apa yang diinginkan.

Ibnu Qayyim menyebut:

وَالْحِرْصُ أَخْرَجَ آدَمَ مِنَ الْجَنَّةِ

“Ketamakan menyebabkan Adam keluar dari surga.”

Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan pelajaran penting tentang bagaimana keinginan yang tidak terkendali dapat membawa manusia kepada pelanggaran.

Allah memberikan kenikmatan yang sangat luas kepada Adam dan istrinya ketika keduanya berada di surga. Mereka dipersilakan menikmati berbagai makanan yang ada, tetapi Allah memberikan satu batasan:

وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35)

Iblis kemudian membisikkan tipu daya dengan menggambarkan bahwa apa yang telah diberikan Allah kepada Adam dan istrinya belumlah cukup. Ia membujuk keduanya dengan janji memperoleh kedudukan yang lebih tinggi atau kehidupan yang kekal.

Allah mengabadikan bisikan tersebut dalam Surah Al-A’raf ayat 20:

وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ ٱلْخَٰلِدِينَ

“Syaitan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarangmu berdua dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’”

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana keinginan terhadap sesuatu yang belum dimiliki dapat membutakan manusia terhadap nikmat yang sebenarnya telah berada di tangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketamakan dapat muncul dalam banyak bentuk: keinginan menguasai harta tanpa batas, mengejar kedudukan dengan menghalalkan berbagai cara, tidak puas terhadap pencapaian yang telah diperoleh, atau terus membandingkan diri dengan apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah ﷺ menggambarkan sifat manusia yang tidak mudah puas dalam sebuah hadis:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut bukan berarti Islam melarang manusia memiliki harta atau berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan berubah menjadi kerakusan dan membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya.

Harta yang berada di tangan seorang mukmin dapat menjadi sarana kebaikan. Namun, ketika harta menguasai hati, ia dapat berubah menjadi pintu menuju berbagai pelanggaran.

Karena itu, salah satu benteng menghadapi ketamakan adalah qana’ah, yakni menerima karunia Allah dengan penuh kesyukuran, sembari tetap berikhtiar secara halal.

3. Hasad: Ketika Nikmat Orang Lain Menjadi Beban Hati

Sumber maksiat ketiga adalah al-hasad, yaitu kedengkian.

Ibnu Qayyim mengaitkannya dengan kisah salah seorang anak Adam yang membunuh saudaranya:

وَالْحَسَدُ جَعَلَ أَحَدَ ابْنَيْ آدَمَ يَقْتُلُ أَخَاهُ

“Hasad menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.”

Hasad bukan sekadar keinginan untuk memperoleh sesuatu yang sama dengan milik orang lain. Hasad mengandung persoalan yang lebih dalam: adanya ketidaksenangan terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, bahkan keinginan agar nikmat tersebut hilang atau berpindah kepadanya.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa pembagian karunia Allah kepada manusia tidak selalu sama. Ada yang diberi kelapangan rezeki, ada yang dianugerahi ilmu, ada yang diberi kemampuan tertentu, dan ada pula yang memperoleh kelebihan dalam aspek lainnya.

Perbedaan karunia tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk memelihara kedengkian.

Sebaliknya, seorang Muslim diarahkan untuk memohon kepada Allah atas karunia-Nya dan menggunakan nikmat yang dimilikinya dalam ketaatan.

Dari Hasad Menuju Kezaliman

Hasad yang dibiarkan dapat berkembang menjadi perilaku yang lebih berbahaya. Ketika seseorang tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang lain memperoleh nikmat, ia dapat terdorong untuk menjatuhkan, mencela, menyebarkan keburukan, bahkan melakukan tindakan zalim.

Karena itu, penyakit hasad harus ditangani sejak masih berada di dalam hati.

Dalam materi khutbah tersebut juga disebutkan sebuah hadis yang masyhur:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Redaksi hadis ini perlu diperiksa kembali dari sisi takhrij dan penilaian sanad sebelum dipublikasikan sebagai hadis dengan atribusi tertentu. Namun, secara prinsip, larangan terhadap hasad memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.

Tiga Penyakit, Tiga Arah Kerusakan

Jika direnungkan, tiga penyakit yang dijelaskan Ibnu Qayyim tersebut menggambarkan tiga arah kerusakan dalam diri manusia.

Kesombongan membuat manusia merasa dirinya lebih tinggi. Ia melihat kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain dan bahkan menolak kebenaran.

Ketamakan membuat manusia selalu melihat apa yang belum dimilikinya. Nikmat yang sudah ada menjadi tidak berarti karena perhatian seluruhnya tertuju pada sesuatu yang masih ingin dikuasai.

Sementara hasad membuat seseorang terganggu oleh nikmat yang berada pada orang lain. Ia bukan hanya menginginkan tambahan untuk dirinya, tetapi dapat merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain memperoleh karunia.

Ketiganya sama-sama berakar pada persoalan hati.

Karena itu, melawan maksiat tidak cukup hanya dengan menghindari perbuatan dosa yang terlihat. Seorang Muslim juga perlu melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit batin yang dapat menjadi pintu masuk dosa.

Kesombongan perlu dilawan dengan tawaduk. Ketamakan perlu dijinakkan dengan qana’ah dan syukur. Hasad perlu disembuhkan dengan menerima ketetapan Allah, mendoakan kebaikan bagi sesama, dan menyadari bahwa rezeki setiap manusia berada dalam ilmu dan hikmah-Nya.

Menjaga Hati Sebelum Dosa Menjadi Perbuatan

Pesan penting dari kajian tentang tiga sumber maksiat ini adalah perlunya perhatian terhadap kondisi hati.

Tidak semua dosa muncul secara tiba-tiba. Ada dosa yang diawali oleh cara pandang, kemudian menjadi keinginan, lalu berkembang menjadi sikap dan akhirnya diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri melakukan muhasabah: apakah ilmu yang dimiliki membuatnya semakin rendah hati atau justru meremehkan orang lain? Apakah harta membuatnya bersyukur atau semakin rakus? Apakah keberhasilan orang lain membuatnya ikut bahagia atau justru menimbulkan kegelisahan dalam hati?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena penyakit hati sering kali tidak terlihat oleh manusia lain. Seseorang mungkin tampak baik di hadapan manusia, tetapi hatinya sedang berhadapan dengan penyakit yang jika dibiarkan dapat merusak amal dan akhlaknya.

Pada akhirnya, manusia tidak pernah terlepas dari kebutuhan kepada ampunan Allah. Karena itu, selain berusaha menjauhi maksiat, seorang Muslim hendaknya memperbanyak istighfar, memperbaiki hati, dan segera kembali kepada Allah setiap kali menyadari kesalahan.

Pintu taubat tidak tertutup selama seorang hamba masih hidup dan sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Semoga Allah melindungi kita dari kesombongan yang menghalangi kebenaran, ketamakan yang menghilangkan rasa syukur, dan hasad yang merusak persaudaraan. Semoga Allah membersihkan hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan membimbing kita untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada-Nya.

Ketua DPP Hidayatullah Tantang Pengurus Sulsel Ciptakan Legacy untuk Indonesia

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Ustaz Sohibul Anwar, S.Pd., M.H.I., menantang jajaran pengurus Hidayatullah Sulawesi Selatan untuk melahirkan legacy atau warisan perjuangan yang berdampak bagi umat dan Indonesia pada periode kepengurusan saat ini.

Pesan tersebut disampaikan Usatdz Sohibul Anwar saat menghadiri Rapat Koordinasi, Evaluasi, Monitoring, dan Problem Solving bersama Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Ruang Rapat Kantor DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (30/9/2026).

Dalam arahannya, Ustadz Sohibul menekankan pentingnya jajaran pengurus di Sulawesi Selatan menjaga fokus dalam mengawal dan merealisasikan program kerja yang telah ditetapkan DPP Hidayatullah. Program tersebut, kata dia, disusun dengan mengacu pada Arah Kebijakan Strategis (AKS) organisasi untuk periode berjalan.

“Pengurus perlu fokus mengawal program kerja yang telah disusun dan memastikan pelaksanaannya memberikan dampak yang nyata,” ujarnya.

Menurut Ustadz Sohibul, Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perjalanan sejarah perjuangan Hidayatullah di Indonesia. Selain Kalimantan Timur dan Jawa Timur, Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah perkembangan Hidayatullah.

Karena itu, ia mendorong Hidayatullah Sulawesi Selatan tidak sekadar menjalankan rutinitas organisasi, tetapi mampu menghadirkan terobosan dan capaian yang dapat menjadi kontribusi penting bagi perkembangan Hidayatullah secara nasional.

“Buat lompatan besar untuk melahirkan legacy pada periode ini untuk Indonesia,” katanya.

Ustadz Sohibul juga mengingatkan jajaran pengurus agar mempersiapkan regenerasi dan menghadapi dinamika perubahan organisasi. Menurutnya, jabatan struktural merupakan amanah yang memiliki masa dan batas waktu, sehingga setiap pengurus perlu membangun kontribusi yang tetap bermanfaat bagi organisasi meskipun kelak tidak lagi berada dalam struktur kepengurusan.

“Cepat atau lambat, kita tidak akan terus-menerus menduduki posisi struktural. Karena itu, perlu persiapan agar kita tetap berguna untuk Hidayatullah, baik ketika masih menjabat dengan melahirkan legacy, maupun ketika tidak lagi berada dalam struktur,” tuturnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, S.S., M.I.Kom., mengapresiasi kehadiran Ketua DPP Bidang Pelayanan Umat dalam forum tersebut.

Menurut Usatdz Muhammad Saleh, arahan dan pengalaman yang disampaikan jajaran DPP menjadi tambahan wawasan bagi pengurus wilayah dalam menjalankan program sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

“Kehadiran Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat menambah wawasan dan pengalaman dalam menjalankan program sesuai tupoksi masing-masing departemen, khususnya departemen yang berada di bawah koordinasi Bidang Pelayanan Umat,” kata Ustadz Muhammad Saleh.

Rapat koordinasi tersebut diikuti seluruh jajaran Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi ruang untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program, monitoring capaian, sekaligus mengidentifikasi dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi dalam pelaksanaan program organisasi.

Melalui forum tersebut, DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menargetkan seluruh program kerja dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi umat, sekaligus memperkuat kontribusi Sulawesi Selatan terhadap gerakan Hidayatullah di tingkat nasional.*/Resky

Yayasan Al Hijrah Masamba Evaluasi Program 2026 dan Perkuat Ekspansi Dakwah-Pendidikan ke Seko

0

MASAMBA (HidayatullahSulsel.or.id) — Yayasan Al Hijrah Masamba memperkuat arah pengembangan pendidikan dan dakwah dengan mengevaluasi program kerja 2026 sekaligus menindaklanjuti rencana pengembangan Kampus Madya Hidayatullah Masamba dan ekspansi dakwah ke wilayah Seko, Kabupaten Luwu Utara.

Agenda tersebut dibahas dalam Rapat Gabungan Pembina, Pengawas, dan Pengurus Harian Yayasan Al Hijrah Masamba yang berlangsung di Aula SMK Sahid Yayasan Al Hijrah Masamba, Ahad (27/9/2026). Rapat mengangkat tema “Peningkatan Mutu Pendidikan dan Integrasi Program Menuju Yayasan Maju dan Berdaya Saing”, yang menjadi tema besar program kerja Yayasan Al Hijrah Masamba pada 2026.

Rapat yang dimulai sekitar pukul 09.30 WITA itu menjadi agenda organisasi triwulanan untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja hingga Triwulan III 2026, termasuk mengidentifikasi program yang belum terealisasi serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya.

Selain evaluasi program, forum membahas realisasi Rencana Induk Pengembangan Kampus Madya Hidayatullah Masamba serta arah strategis Rencana Strategis (Renstra) 2025–2030.

Sebelum rapat gabungan, jajaran Yayasan Al Hijrah Masamba melakukan audiensi dengan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, di Rumah Jabatan Bupati pada Ahad pagi selepas salat Subuh.

Dalam audiensi tersebut, Bupati Luwu Utara menyampaikan dukungan terhadap pengembangan program yayasan dan meminta pihak pondok memberikan perhatian serius terhadap pengembangan dakwah dan pendidikan di wilayah Seko.

Arahan tersebut menjadi salah satu agenda penting yang kemudian dibahas dalam rapat, mengingat Hidayatullah telah memiliki lahan wakaf seluas sekitar 5 hektare di Seko yang dapat dikembangkan sebagai basis dakwah dan pendidikan.

Ketua Pembina KM Hidayatullah Masamba, Drs. Muhammad Kaisar, menegaskan pentingnya menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama pengembangan yayasan.

“Pendidikan harus menjadi hal utama yang diseriusi oleh pengurus. Mulai dari sekarang kita harus bergerak masif mencari siswa mulai dari jenjang TK, SD, MTs, dan SMK (untuk tahun ajaran mendatnag). Selain itu, Usaha Ekonomi Produktif Pondok harus kita bangun agar bisa berdaya saing dan mandiri.”

Dalam pembahasan pengembangan Kampus Madya Hidayatullah Masamba, rapat juga menyoroti penyusunan dan penguatan masterplan pembangunan kampus terpadu yang diarahkan menjadi pusat kegiatan pendidikan dan dakwah.

Sementara itu, ekspansi dakwah ke Seko menjadi bagian dari agenda pengembangan jangka menengah dan panjang yayasan, terutama untuk mengoptimalkan potensi lahan wakaf yang telah tersedia serta memperluas manfaat pendidikan dan dakwah di wilayah pedalaman Luwu Utara.

Secara umum, rapat membahas empat agenda utama, yakni evaluasi capaian dan kendala program Triwulan I hingga III 2026, pengembangan Kampus Madya Hidayatullah Masamba, tindak lanjut ekspansi dakwah dan pendidikan di Seko, serta penguatan kemandirian ekonomi pondok.

Rapat berlangsung dalam suasana musyawarah dan kekeluargaan. Forum tersebut diharapkan menjadi momentum konsolidasi seluruh amal usaha Yayasan Al Hijrah Masamba agar lebih solid, terarah, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Luwu Utara, khususnya masyarakat di wilayah pedalaman Seko dan Rongkong.

Rapat dihadiri unsur Badan Pembina, Badan Pengawas dan Pengurus Harian Yayasan Al Hijrah Masamba. Unsur Pembina terdiri atas Usatdz Drs. Muhammad Kaisar, Usatdz Reskyaman, M.M., dan Drs. Imran Dujfri. Sementara jajaran pengurus harian hadir lengkap, di antaranya Ketua Alauddin Subandi, Sekretaris Nuzul Usman, Bendahara Sukron Amin, serta para kepala departemen. Unsur Pengawas mengikuti rapat secara daring.*/rls

Mabit Pondok Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto Tekankan Iman sebagai Fondasi Ketakwaan

0

JENEPONTO (HidayatullahSulsel.or.id) — Pondok Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto kembali menggelar Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) dengan mengangkat tema “Iman adalah Kunci Menumbuhkan Ketakwaan”, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan tahunan yang diikuti santri dari berbagai unit pendidikan tersebut menjadi momentum penguatan keimanan sekaligus pembinaan karakter santri. Dalam tausiyahnya, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Al-Ustaz Dr. Muhammad Saleh, S.S., M.I.Kom., mengingatkan pentingnya menjaga iman dalam lingkungan keluarga.

Dr. Muhammad Saleh menegaskan, orang tua memiliki tanggung jawab bukan hanya mendidik anak agar menjadi pribadi saleh dan salehah, tetapi juga terus memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan dirinya.

“Keimanan merupakan modal utama untuk meraih keselamatan,” pesan Ustadz Saleh dalam tausiyah Mabit yang dihadiri para santri, orang tua, dan tamu undangan tersebut.

Ia kemudian mengangkat kisah Nabi Nuh AS sebagai pelajaran tentang pentingnya keimanan dalam keluarga. Menurutnya, hubungan nasab tidak dengan sendirinya menjadi jaminan keselamatan apabila tidak disertai keimanan.

Dari kisah tersebut, para orang tua diajak memahami bahwa iman dan amal saleh merupakan fondasi utama keselamatan manusia.

Karena itu, memiliki anak yang saleh dan salehah, terlebih menjadi penghafal Al-Qur’an, merupakan karunia sekaligus modal besar bagi orang tua. Namun, hal tersebut harus diiringi kesungguhan orang tua dalam menjaga iman dan ketakwaan.

Diikuti Santri dari Tiga Unit Pendidikan

Mabit Pondok Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto diikuti santri dari tiga unit pendidikan, yakni Unit Siswa Madrasah, Santri Tahfizh Cilik, dan Santri Pendidikan Takhassus Murabbiyah (PTM).

Selain sebagai sarana pembinaan iman dan ketakwaan, kegiatan tersebut juga menjadi wadah bagi santri untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di pondok.

Rangkaian Mabit dimulai pada siang hari dan dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Auladi Hidayatullah Jeneponto, Ustaz Armin, S.H.I.

Usai salat Asar, kegiatan dilanjutkan dengan Cerdas Cermat Qur’an. Para santri berkompetisi dengan materi seputar ilmu tajwid, khususnya yang berkaitan dengan Matan Al-Jazariyah.

Cerdas Cermat Qur’an tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman santri terhadap ilmu Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an.

Santri Tampilkan Nasyid hingga Parade Al-Qur’an

Memasuki malam hari, kegiatan Mabit dilanjutkan dengan berbagai persembahan santri putra dan putri di hadapan para orang tua dan tamu undangan.

Sejumlah penampilan disuguhkan, antara lain nasyid, parade Al-Qur’an, pembacaan hadis, tilawah Al-Qur’an, puisi, dan antraksi Pandu Hidayatullah.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian Mabit, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi bagi santri untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas yang mereka kembangkan selama mengikuti proses pendidikan di Pondok Auladi Hidayatullah Jeneponto.

Melalui Mabit, Pondok Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto terus memperkuat pembinaan santri agar memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an, akhlak mulia, keimanan yang kokoh, serta kemampuan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar bersama antara pondok dan orang tua dalam membentuk generasi saleh dan salehah dengan iman sebagai fondasi dan ketakwaan sebagai tujuan.*/Bsr

Start Small, Jangan Menunggu Besar untuk Memulai Perubahan

0
Big Journeys Begin With Small Steps sign

Oleh : Abdul Aziz*

Tulisan ini melanjutkan renungan dari seri sebelumnya tentang The Art of Starting, salah satu materi yang disampaikan Ustadz Syuhud dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Islamic Boarding School di Malang beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya kita berbicara tentang start early dan start now, kali ini saya ingin belajar dari satu prinsip lain yang tidak kalah sederhana, start small. Mulailah dari yang kecil.

Prinsip ini mungkin terdengar mudah. Tetapi ketika berhadapan dengan kenyataan lembaga pendidikan, memulainya ternyata tidak sesederhana mengucapkannya. Kita kerap membayangkan perubahan dalam ukuran yang besar. Ketika ingin membenahi pesantren, yang terlintas adalah gedung baru, sistem digital, tenaga ahli, pelatihan besar, atau anggaran yang memadai. Akhirnya, pekerjaan yang sebenarnya bisa dimulai hari ini ikut menunggu karena semua prasyarat yang kita bayangkan belum tersedia.

Padahal, hampir tidak ada lembaga yang memulai perjalanannya dalam keadaan lengkap. Silahkan cek. Mereka memulainya juga dari kecil.

Ketika Perubahan Terlalu Lama Menunggu

Saya teringat kebiasaan sederhana ketika hendak membereskan sebuah ruangan. Kita sering ingin menata semuanya sekaligus. Lemari harus rapi, dokumen harus disortir, meja harus dipindahkan, barang lama harus dibuang. Karena pekerjaan terlihat begitu banyak, kita justru memilih menundanya.

Padahal, kita bisa memulainya dari satu laci. Setelah satu laci selesai, kita memperoleh sedikit ruang dan sedikit tenaga untuk mengerjakan bagian berikutnya. Ruangan itu tidak berubah dalam sehari. Ia berubah karena pekerjaan besar dipecah menjadi bagian-bagian yang sanggup dikerjakan.

Pesantren pun demikian. Ketika belum mampu membangun sistem administrasi yang canggih, mungkin kita dapat memulai dengan menata arsip dan pencatatan. Jika belum sanggup mengadakan pelatihan guru dalam skala besar, mungkin satu kelompok kecil dapat lebih dahulu belajar. Ketika program pembinaan santri belum lengkap, satu kebiasaan baik dapat ditanamkan dan dijaga sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kecil tidak berarti remeh. Yang justru keliru adalah sering kali kita terlalu sibuk membayangkan bentuk akhir sehingga lupa mencari langkah pertama yang masuk akal. Di titik inilah start small menjadi cara yang sehat dalam memandang keterbatasan. Anggaran terbatas, sumber daya manusia terbatas, waktu juga terbatas. Semua itu nyata. Namun keterbatasan tidak otomatis berarti tidak ada yang dapat dikerjakan.

Memulai dengan Apa yang Kita Punya

Dunia pendidikan Islam memberi kita banyak pelajaran tentang pertumbuhan yang berlangsung perlahan. Lembaga yang hari ini besar tidak lahir sekaligus dengan bangunan megah, jumlah santri yang banyak, dan sistem manajemen yang mapan. Di belakangnya ada masa ketika ruang belajar masih sederhana, jumlah murid masih sedikit, dan para pengelolanya bekerja dengan sumber daya yang tersedia.

Karena itu, ketika sebuah pesantren belum memiliki modal besar, barangkali pertanyaan yang lebih produktif bukan, “Apa yang belum kita punya?” Melainkan, “Apa yang sudah kita punya dan bisa mulai kita gunakan?”

Pertanyaan itu mengubah cara pandang. Kita mungkin belum memiliki banyak tenaga, tetapi ada beberapa orang yang bersedia belajar. Kita belum memiliki anggaran besar, tetapi masih bisa memperbaiki disiplin kerja. Kita belum memiliki perangkat teknologi lengkap, tetapi dapat membuat pencatatan yang lebih tertib. Kita belum sanggup membenahi seluruh sistem, tetapi dapat memilih satu bagian yang paling membutuhkan perhatian.

Perubahan yang sehat tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang ia tumbuh dari kesediaan menggunakan sedikit sumber daya dengan sungguh-sungguh.

Al-Qur’an mengajarkan agar kita tidak meremehkan amal sekecil apa pun. Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

Ukuran yang kecil tidak membuat sebuah kebaikan kehilangan nilai. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim agar seseorang menjaga dirinya dari api neraka meskipun hanya dengan bersedekah separuh kurma. Pesannya sederhana. Jangan menunggu mampu melakukan sesuatu yang besar untuk mulai melakukan kebaikan.

Prinsip itu menarik ketika dibawa ke dalam pengelolaan pendidikan. Kita tidak sedang menyamakan kerja kelembagaan dengan amal ibadah, tetapi belajar dari satu sikap yang sama, yakni tidak meremehkan langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dari Kebiasaan Kecil Menjadi Budaya

Ada satu hal yang mungkin perlu kita waspadai ketika mulai membenahi lembaga. Kita sering terlalu cepat menilai perubahan dari ukuran permulaannya. Program kecil dianggap kurang penting. Pelatihan sederhana terasa tidak bergengsi. Pembenahan satu bagian dinilai belum memberi dampak berarti.

Padahal, budaya tidak lahir dalam semalam. Satu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk pola kerja. Pola kerja yang dipelihara bersama perlahan menjadi budaya. Dari budaya itulah sistem yang lebih kuat dapat tumbuh. Karena itu, memulai dari kecil bukan berarti berpikir kecil. Kita boleh memiliki cita-cita besar, tetapi tidak harus membuat langkah pertama sebesar cita-cita tersebut.

Anak tangga tidak perlu setinggi lantai terakhir yang ingin kita capai. Ia hanya perlu cukup kuat untuk menjadi pijakan berikutnya.

Tiga hari mengikuti inkubasi manajemen di Malang membuat saya kembali melihat bahwa membenahi pendidikan pesantren mungkin tidak selalu membutuhkan keputusan spektakuler pada permulaannya. Sebagai orang yang masih belajar mengurus pesantren, saya justru merasa perlu memulai dari sesuatu yang dapat dikerjakan, melihat hasilnya, mengevaluasinya, lalu mencoba memperbaikinya lagi.

Mungkin hari ini hanya satu hal yang mampu kita benahi. Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Jika berhasil, rawat. Jika belum berhasil, pelajari penyebabnya.

Sebab lembaga yang suatu hari tumbuh besar bisa saja bermula dari sesuatu yang nyaris tidak menarik perhatian. Satu arsip yang mulai tertata. Satu guru yang mulai dibina. Satu kebiasaan yang mulai dijaga. Satu keputusan yang akhirnya benar-benar ditindaklanjuti.

Yang kecil tidak selalu kecil selamanya. Jika dikerjakan dengan tekun, ia dapat menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan itu dirawat bersama, ia dapat berubah menjadi budaya. Dan mungkin, dari sanalah perubahan yang lebih besar mulai menemukan jalannya.

Seni Memulai Perubahan di Lembaga Pendidikan Islam

0

Oleh : Abdul Aziz*

Ada satu slide dalam materi Governance Excellence: Manajemen Yayasan Pesantren Unggul yang disampaikan Ustadz Syuhud, S.Hum., dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Islamic Boarding School di Malang, 15–17 September lalu, yang masih teringat hingga kini. Judulnya sederhana, The Art of Starting. Di bawah judul itu tercantum beberapa poin-poin ringkas tentang bagaimana sebuah pekerjaan seharusnya dimulai. Dua di antaranya terasa sangat sederhana sekaligus menohok, start early dan start now. Mulailah lebih awal dan mulailah sekarang.

Poin-poin tersebut tidak menawarkan teori manajemen yang rumit. Kita bahkan mungkin sudah berkali-kali mendengarnya. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa dekat dengan persoalan banyak lembaga pendidikan Islam. Sering kali masalah kita bukan karena tidak tahu apa yang harus diperbaiki, melainkan karena terlalu lama menunggu sebelum benar-benar memulainya.

Ketika Menunggu Menjadi Budaya

Di banyak sekolah dan pesantren, gagasan tentang pembenahan sebenarnya sudah lama dibicarakan. Administrasi perlu ditata, kompetensi guru perlu dikembangkan, pelayanan peserta didik harus diperbaiki, komunikasi antarbagian perlu diperkuat, dan berbagai kebiasaan lama mesti dievaluasi. Rapat dapat menghasilkan daftar persoalan sekaligus rencana perbaikan yang panjang. Namun tidak sedikit rencana akhirnya berhenti sebagai catatan.

Alasannya hampir selalu masuk akal. Menunggu anggaran tersedia. Menunggu sumber daya manusia lebih siap. Menunggu pimpinan punya waktu. Menunggu semua pihak memahami gagasan yang sama. Menunggu momentum yang dianggap lebih tepat.

Masalahnya, menunggu dapat berubah menjadi kebiasaan organisasi. Waktu tidak ikut menunggu. Peserta didik terus berubah, harapan orang tua berkembang, teknologi bergerak, dan tantangan pendidikan datang silih berganti. Lembaga yang terlalu lama menunda perbaikan akhirnya dapat tertinggal bukan karena kekurangan orang baik, melainkan karena terlalu lambat mengubah niat menjadi tindakan.

Di sinilah start early dan start now menemukan relevansinya. Memulai lebih awal bukan berarti tergesa-gesa. Memulai sekarang bukan pula berarti mengabaikan perencanaan. Perencanaan yang sehat justru seharusnya membawa kita semakin dekat kepada tindakan, bukan membuat kita betah terlalu lama tinggal di meja perencanaan.

Ada perbedaan antara berhati-hati dan menunda. Berhati-hati berarti menghitung risiko sebelum melangkah. Menunda berarti terus mencari alasan agar langkah pertama tidak perlu diambil.

Perubahan Tidak Harus Dimulai dengan Gebrakan

Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar dan segera terlihat. Gedung baru, teknologi baru, program unggulan, atau sistem manajemen yang tampak modern. Padahal perubahan kelembagaan kerap tumbuh dari tindakan yang jauh lebih sederhana.

Sekolah yang belum mampu membangun sistem administrasi digital secara menyeluruh dapat memulainya dengan menata arsip. Pesantren yang belum memiliki sistem pengembangan sumber daya manusia yang lengkap dapat memulai dari pelatihan kecil dan evaluasi rutin. Budaya kerja yang belum tertata dapat dibenahi dengan kebiasaan sederhana, memastikan setiap keputusan memiliki tindak lanjut yang jelas.

Perubahan memang membutuhkan sumber daya. Tetapi ia juga membutuhkan keberanian untuk bekerja dengan apa yang tersedia.

Al-Qur’an mengingatkan kita tentang pentingnya memperhatikan masa depan. Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini berbicara tentang tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Namun di dalamnya juga terdapat kesadaran tentang pentingnya persiapan. Dalam konteks pendidikan, “hari esok” itu antara lain adalah generasi yang sedang kita didik.

Apa yang kita kerjakan terhadap lembaga hari ini akan ikut menentukan lingkungan pendidikan yang mereka rasakan beberapa tahun mendatang. Karena itu, berbicara tentang masa depan pendidikan Islam tidak cukup dengan menyusun cita-cita besar. Kita juga perlu bertanya, pekerjaan kecil apa yang sudah benar-benar kita mulai hari ini?

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip yang sejalan dengan itu. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Pesan ini memang berbicara tentang amal, tetapi prinsip konsistensinya relevan pula dalam membangun lembaga.

Sebuah sekolah mungkin belum mampu melakukan transformasi besar. Namun ia dapat memperbaiki satu hal hari ini, memperbaiki hal lain bulan depan, kemudian mengevaluasinya secara berkala. Sedikit demi sedikit, kebiasaan baru terbentuk. Dari kebiasaan lahir budaya, dan dari budaya yang baik dapat tumbuh sistem yang lebih kokoh.

Berani Memulai, Siap Mengevaluasi

Memulai tentu mengandung risiko. Program bisa tidak berjalan sesuai harapan. Sistem yang dibuat mungkin perlu diubah. Keputusan yang tampak tepat pada awalnya bisa memperlihatkan kelemahan setelah diterapkan.

Namun di situlah nilai sebuah tindakan. Tanpa memulai, kita tidak memiliki pengalaman. Tanpa pengalaman, kita tidak memiliki bahan evaluasi. Kita hanya terus menebak-nebak apa yang mungkin berhasil dan apa yang mungkin gagal.

Saya teringat pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ada pekerjaan yang selama berhari-hari terasa sangat berat hanya karena terus berada di dalam pikiran. Ketika akhirnya dikerjakan, ternyata persoalannya tidak sebesar bayangan sebelumnya. Bukan berarti pekerjaannya menjadi mudah. Hanya saja, setelah dimulai, masalah yang semula tampak sebagai satu bongkahan besar mulai terurai menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dikerjakan satu per satu.

Barangkali lembaga pendidikan juga demikian. Kita tidak selalu membutuhkan jawaban untuk seluruh persoalan sebelum mengambil langkah pertama. Kadang kita hanya perlu mengenali persoalan yang paling mendesak, menghitung kemampuan yang tersedia, lalu menentukan tindakan yang paling mungkin dilakukan.

Tiga hari mengikuti kegiatan inkubasi di Malang membuat saya semakin melihat bahwa membangun lembaga pendidikan unggul bukan semata-mata soal memiliki gagasan yang baik. Gagasan harus menemukan bentuk dalam tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dirawat dapat tumbuh menjadi budaya. Dan budaya yang kuat pada akhirnya dapat melahirkan sistem yang bertahan lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali merintisnya.

Mungkin itulah seni memulai. Bukan seni menunggu datangnya keadaan yang sempurna, karena keadaan semacam itu hampir tidak pernah hadir. Ia adalah kemampuan membaca keadaan, menghitung apa yang tersedia, lalu berani mengatakan bahwa sesuatu yang baik harus mulai dikerjakan.

Mungkin langkahnya kecil. Mungkin belum sempurna. Bahkan mungkin harus beberapa kali diperbaiki. Tetapi ia nyata.

Sebab beberapa tahun mendatang, ketika kita menengok kembali perjalanan sebuah lembaga, boleh jadi yang paling menentukan bukan seberapa panjang rencana yang pernah kita susun, melainkan kapan kita berhenti berkata “nanti” dan mulai berkata, “kita kerjakan hari ini.”

Tiga Siswa MIS Darul Ilmi Lolos OMI Tingkat Provinsi Sulsel, Wakili Luwu Timur

0

LUWU TIMUR (HidayatullahSulsel.or.id) — Tiga siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darul Ilmi, unit pendidikan tingkat dasar milik Yayasan Pesantren Hidayatullah Towuti Luwu Timur, berhasil meraih prestasi pada ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten Luwu Timur.

Ketiganya dinyatakan lolos ke OMI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan akan mewakili Kabupaten Luwu Timur bersama enam siswa madrasah ibtidaiyah (MI) lainnya yang juga berhasil meraih tiket ke babak provinsi.

Tiga siswa MIS Darul Ilmi tersebut masing-masing adalah Sumayya, yang lolos pada bidang IPAS; Sufi Safaraz Hasdianto, pada bidang Matematika; serta Fajra Nayla Rahma Abdillah, yang juga lolos pada bidang Matematika.

Keberhasilan tersebut menjadi capaian penting bagi MIS Darul Ilmi sekaligus menunjukkan konsistensi madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Hidayatullah Touwti Luwu Timur dalam mengembangkan potensi akademik peserta didik.

Kepala MIS Darul Ilmi, Ega Linzawati, S.H., Gr., mengapresiasi capaian ketiga siswa tersebut. Menurutnya, keberhasilan mereka merupakan hasil dari proses pembelajaran, pendampingan guru, serta kesungguhan siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.

“Kami tentu bersyukur dan bangga atas capaian anak-anak. Prestasi ini bukan hanya tentang hasil perlombaan, tetapi juga menjadi bukti bahwa siswa madrasah memiliki potensi akademik yang dapat bersaing dan berprestasi di tingkat yang lebih tinggi,” kata Ega Linzawati, S.H., Gr., Ahad, 13 September 2026.

Ia mengatakan, pihak madrasah akan memberikan pendampingan lebih intensif kepada ketiga siswa sebelum mengikuti OMI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Persiapan tersebut, lanjut dia, akan diarahkan tidak hanya pada penguatan penguasaan materi, tetapi juga pembiasaan mengerjakan soal, latihan menghadapi kompetisi, serta penguatan mental dan kepercayaan diri siswa.

“Kami akan memaksimalkan persiapan menuju tingkat provinsi. Target kami bukan sekadar berpartisipasi, tetapi memberikan penampilan terbaik dan membawa nama baik Luwu Timur serta MIS Darul Ilmi,” ujarnya.

Tiga Siswa, Tiga Prestasi

Sumayya menjadi salah satu siswa MIS Darul Ilmi yang berhasil melaju ke tingkat provinsi melalui bidang IPAS SD/MI. Capaian tersebut menunjukkan kemampuannya dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang menjadi salah satu kompetensi penting pada jenjang pendidikan dasar.

Sementara itu, Sufi Safaraz Hasdianto dan Fajra Nayla Rahma Abdillah sama-sama berhasil lolos melalui bidang Matematika SD/MI.

Keberhasilan dua siswa pada bidang Matematika sekaligus memperlihatkan potensi akademik peserta didik MIS Darul Ilmi dalam bidang numerasi dan penalaran.

Guru pembimbing Purwatiningsih, S.Si., Gr. mengatakan, ketiga siswa memiliki karakter dan kekuatan akademik yang berbeda. Karena itu, pola pembinaan dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing peserta.

“Yang kami tekankan bukan hanya kemampuan menjawab soal, tetapi bagaimana anak-anak memahami konsep, mampu berpikir logis, dan tetap tenang ketika menghadapi soal kompetisi. Kami melihat ketiganya memiliki potensi untuk terus berkembang,” ujar Purwatiningsih, S.Si., Gr.

Menurutnya, capaian pada tingkat Kabupaten Luwu Timur menjadi modal awal bagi ketiga siswa untuk menghadapi persaingan yang lebih ketat pada tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Bawa Nama Luwu Timur ke Tingkat Provinsi

Pada OMI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan mendatang, ketiga siswa MIS Darul Ilmi akan bergabung dengan enam siswa MI lainnya yang juga dinyatakan lolos dari Kabupaten Luwu Timur.

Dengan demikian, terdapat sembilan siswa MI dari Luwu Timur yang akan melanjutkan perjuangan pada kompetisi tingkat provinsi.

Pihak madrasah berharap keikutsertaan tersebut dapat menjadi pengalaman berharga bagi para siswa sekaligus membuka peluang untuk meraih prestasi lebih tinggi.

Selain prestasi kompetitif, pembinaan tersebut dinilai penting untuk membangun budaya akademik di lingkungan madrasah.

Pimpinan Yayasan Pesantren Hidayatullah Towuti Luwu Timur, Abd. Rahman Caco, S.H., mengatakan prestasi siswa merupakan bagian dari ikhtiar lembaga pendidikan dalam memadukan pembinaan keilmuan, karakter, dan nilai-nilai keislaman.

“Kami ingin anak-anak tumbuh sebagai generasi yang memiliki fondasi keislaman sekaligus unggul dalam bidang akademik. Prestasi di OMI ini menjadi salah satu indikator bahwa pembinaan tersebut terus berjalan,” katanya.

Ia berharap keberhasilan tiga siswa MIS Darul Ilmi dapat memotivasi peserta didik lainnya untuk berani mengikuti berbagai kompetisi dan mengembangkan potensi masing-masing.

Siapkan Diri Hadapi Babak Provinsi

Setelah memastikan tiket ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, fokus MIS Darul Ilmi kini diarahkan pada persiapan menghadapi kompetisi berikutnya.

Sekolah akan melakukan evaluasi hasil kompetisi tingkat kabupaten, memetakan materi yang masih perlu diperkuat, serta meningkatkan intensitas latihan bagi ketiga siswa.

Bagi Sumayya, Sufi Safaraz Hasdianto, dan Fajra Nayla Rahma Abdillah, lolos ke tingkat provinsi bukanlah akhir. Mereka kini membawa tantangan baru, yaitu bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

“Saya senang bisa lolos ke tingkat provinsi. Saya ingin belajar lebih giat dan berusaha memberikan hasil terbaik untuk madrasah dan Kabupaten Luwu Timur,” kata Sufi Safaraz Hasdianto.

Dengan capaian tersebut, MIS Darul Ilmi menambah daftar prestasi akademiknya sekaligus mempertegas komitmen madrasah dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang dan berkompetisi pada tingkat yang lebih luas.

OMI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan selanjutnya akan menjadi panggung bagi sembilan siswa MI asal Luwu Timur untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka di tingkat regional.

Dua Hari Menembus Pedalaman, Safari Dakwah Hidayatullah Sulsel Sasar Rongkong dan Seko

0

LUWU UTARA (HidayatullahSulsel.or.id) — DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar Safari Dakwah selama dua hari di wilayah pedalaman Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis-Jumat, 10-11 September 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menyasar dua kawasan, yakni Komba, Kecamatan Rongkong, dan Lambiri, Kecamatan Seko.

Safari Dakwah ini tidak hanya diisi dengan silaturahmi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat, tetapi juga dirangkaikan dengan tausiyah, penyebaran khatib ke sejumlah masjid, tabligh akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW se-Kecamatan Seko, hingga penjajakan kembali aktivasi sekolah dan pesantren Hidayatullah di Seko.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, memimpin langsung rombongan yang terdiri atas jajaran pengurus DPW, unsur pendidikan, sosial, ekonomi, serta jaringan dakwah Hidayatullah di Luwu Utara.

Rombongan tersebut terdiri atas Ustadz Baso Zulfikar, S.H.I., selaku Bendahara DPW; Ustadz Drs. Muhammad Kasira, Kepala Departemen Organisasi DPW; Ustadz Sudirman, S.E., Kepala Departemen Sosial DPW; Ustadz Abdul Jabbar, S.E., Kepala Departemen Ekonomi DPW; Ustadz Jumaruddin, M.Pd., Kepala Departemen Pendidikan DPW; Ustadz Alauddin Subandi, S.Sos.I., Pimpinan Pesantren Al-Hijrah Masamba Luwu Utara; serta Ustadz Abdullah, S.Sos.I., Ketua ULZ BMH Luwu Utara.

Hari Pertama di Komba, Rongkong

Rangkaian Safari Dakwah dimulai pada Kamis, 10 September 2026, di Komba, Kecamatan Rongkong.

Di wilayah tersebut, rombongan melakukan silaturahmi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pertemuan menjadi ruang untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus mendengarkan aspirasi terkait kebutuhan dakwah dan pembinaan keislaman di kawasan pedalaman.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan tausiyah umum di masjid yang diikuti masyarakat setempat.

Kehadiran rombongan DPW Hidayatullah Sulsel di Rongkong menjadi bagian dari upaya memperkuat perhatian terhadap wilayah 3T, khususnya dalam aspek dakwah dan pembinaan keagamaan.

“Safari dakwah ini kami niatkan bukan sekadar kunjungan, tetapi untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat dan melihat bentuk kontribusi yang paling tepat. Dakwah harus hadir bersama masyarakat dan tumbuh dari kebutuhan mereka,” ujar salah seorang pengurus DPW Hidayatullah Sulsel.

Hari Kedua Menjangkau Seko

Perjalanan Safari Dakwah berlanjut pada Jumat, 11 September 2026, dengan pusat kegiatan di Lambiri, Kecamatan Seko.

Seko menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian safari karena selain memperkuat silaturahmi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, rombongan juga melakukan penyebaran khatib ke sejumlah titik masjid.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan pelayanan keagamaan di tengah masyarakat, terutama di kawasan yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses terhadap tenaga dakwah.

Pada hari yang sama, digelar pula tabligh akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW se-Kecamatan Seko. Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, tampil sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan Maulid sekaligus menjadi momentum mempertemukan jaringan dakwah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan jamaah dari sejumlah wilayah di Seko.

“Safari dakwah di Seko harus dipandang sebagai bagian dari ikhtiar jangka panjang. Kehadiran dai bukan hanya untuk mengisi mimbar, tetapi juga membangun pembinaan umat, pendidikan, dan kaderisasi yang dapat berlangsung secara berkelanjutan,” kata Muhammad Saleh.

Menjajaki Kembali Sekolah dan Pesantren Hidayatullah

Salah satu agenda strategis dalam kunjungan ke Seko adalah penjajakan kembali aktivasi sekolah dan pesantren Hidayatullah di wilayah tersebut.

Untuk mendukung rencana tersebut, tiga dai khusus ditunjuk untuk mendapat penugasan di Seko. Penugasan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kembali basis pembinaan dakwah dan pendidikan Hidayatullah di kawasan tersebut.

Penguatan pendidikan menjadi bagian penting karena dakwah di daerah pedalaman tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan insidental. Kehadiran dai yang menetap dan memiliki program pembinaan berkelanjutan dinilai diperlukan untuk menopang pendidikan keislaman masyarakat sekaligus menyiapkan kader lokal.

“Rencana aktivasi kembali sekolah dan pesantren merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan yang berkelanjutan. Kami berharap keberadaan tiga dai yang ditugaskan nantinya dapat menjadi embrio pengembangan pendidikan dan pembinaan generasi muda di Seko,” ujar Ustadz Jumaruddin.

Digawangi Dai Asli Seko

Pelaksanaan Safari Dakwah di Seko tidak terlepas dari peran Ustadz Bahtiar, S.H., dai asli Seko yang merupakan alumni STIS Hidayatullah Balikpapan.

Bahtiar menjadi salah satu penghubung utama rombongan dengan masyarakat setempat. Ia mengonsolidasikan jamaah dan jaringan dakwah di Seko sehingga berbagai agenda Safari Dakwah dapat dipersiapkan dan terlaksana dengan baik.

Konsolidasi tersebut juga melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Seko, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat setempat.

Kehadiran dai yang berasal dari Seko sendiri dinilai menjadi modal penting dalam membangun kesinambungan dakwah. Selain memahami karakter masyarakat dan kondisi geografis setempat, jaringan lokal juga memudahkan komunikasi antara lembaga dakwah dengan masyarakat.

“Kami tentu bersyukur rombongan DPW dapat hadir langsung di Seko. Kehadiran ini memberikan semangat kepada masyarakat dan jaringan dakwah di sini. Ke depan, yang paling penting adalah bagaimana komunikasi dan program yang sudah dibangun selama safari dapat dilanjutkan secara konsisten,” kata Bahtiar.

Dari Safari Menuju Program Berkelanjutan

Dua hari Safari Dakwah di Rongkong dan Seko menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pedalaman tidak hanya berkaitan dengan kegiatan dakwah di masjid, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan, pembinaan mualaf, sosial kemanusiaan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Karena itu, keterlibatan sejumlah departemen di lingkungan DPW Hidayatullah Sulsel dalam rombongan menjadi bagian dari upaya melihat kebutuhan masyarakat secara lebih komprehensif.

Selain unsur dakwah dan pendidikan, BMH Luwu Utara turut mendukung rangkaian kegiatan melalui jaringan sosial dan kemanusiaannya. Sinergi antara Hidayatullah dan BMH diarahkan untuk memperluas manfaat program bagi masyarakat di wilayah pedalaman.

“Potensi sinergi di Seko cukup besar. Tantangannya adalah memastikan program sosial dan kemanusiaan tidak berhenti pada momentum kunjungan, tetapi dapat ditindaklanjuti berdasarkan kebutuhan masyarakat yang benar-benar ada di lapangan,” ujar Ustadz Abdullah.

Safari Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel di Luwu Utara ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat keberadaan dakwah di wilayah 3T. Dengan menggabungkan silaturahmi, pelayanan keagamaan, penguatan jaringan dai, serta penjajakan kembali pendidikan Hidayatullah, safari tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi program pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan di Rongkong dan Seko.