Home Artikel 5 Kunci Kemenangan dan Kesuksesan dalam Islam, Pesan Khutbah Jumat Drs. Nasri...

5 Kunci Kemenangan dan Kesuksesan dalam Islam, Pesan Khutbah Jumat Drs. Nasri Bohari

0
2
Photo on unsplash

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Kemenangan dan kesuksesan dalam Islam tidak semata-mata diukur dari pencapaian duniawi. Ada fondasi iman, kesabaran, keteguhan, istiqamah, dan ketakwaan yang menentukan arah perjalanan seorang Muslim menuju keberuntungan hakiki.

Pesan tersebut menjadi pokok khutbah Jumat yang disampaikan Usatdz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, Jumat, 9 Oktober 2026.

Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah merenungi QS Ali ‘Imran ayat 200. Ayat ini memuat seruan kepada orang-orang beriman agar bersabar, menguatkan kesabaran, tetap bersiap siaga, dan bertakwa kepada Allah SWT supaya memperoleh keberuntungan.

Menurut pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut, keberuntungan tidak lahir dari satu sikap saja. Ia bertumbuh dari iman yang benar, kesabaran menghadapi ujian, keteguhan dalam perjuangan, konsistensi menjaga ketaatan, serta ketakwaan yang membimbing seluruh tindakan.

QS Ali ‘Imran Ayat 200: Landasan Meraih Keberuntungan

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanū, iṣbirū wa ṣābirū wa rābiṭū wattaqullāha la‘allakum tufliḥūn.

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS Ali ‘Imran: 200).

Ayat ini ditutup dengan ungkapan la‘allakum tufliḥūn, yang mengarahkan orang beriman kepada tujuan besar kehidupan, yakni keberuntungan dan keselamatan yang hakiki.

Menariknya, Allah membuka ayat tersebut dengan panggilan yā ayyuhalladzīna āmanū, “Wahai orang-orang yang beriman.” Seruan ini menegaskan bahwa iman merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari jalan menuju keberuntungan.

Dengan demikian, pesan ayat ini dapat dikembangkan menjadi lima prinsip utama: iman sebagai landasan, sabar dalam ketaatan, menguatkan kesabaran, menjaga kesiapsiagaan dan istiqamah, serta bertakwa kepada Allah.

1. Iman, Fondasi Utama Keberuntungan Seorang Muslim

Sebelum memerintahkan kesabaran dan keteguhan, Allah terlebih dahulu menyapa orang-orang beriman. Susunan ini memberikan pelajaran penting bahwa perjalanan menuju keberuntungan harus berangkat dari iman.

Al-Qur’an menegaskan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Qad aflaḥal-mu’minūn.

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS Al-Mu’minun: 1).

Ayat tersebut secara langsung menyebut orang-orang beriman sebagai golongan yang beruntung. Ayat-ayat berikutnya kemudian menjelaskan karakter mereka, antara lain khusyuk dalam salat, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, dan memelihara amanah.

Iman, karena itu, bukan sekadar pengakuan lisan atau identitas yang melekat pada seseorang. Iman harus membentuk cara berpikir, menentukan pilihan, dan mengarahkan perilaku.

Penegasan serupa terdapat dalam QS Al-‘Ashr ayat 1–3. Allah menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Ayat ini memperlihatkan bahwa iman berkaitan erat dengan amal dan tanggung jawab sosial. Orang beriman tidak cukup hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

2. Iṣbirū: Bersabar dalam Ketaatan dan Menghadapi Ujian

Perintah berikutnya adalah iṣbirū, yang berarti bersabarlah.

Kesabaran merupakan kebutuhan mendasar dalam perjalanan seorang Muslim. Menjalankan ibadah membutuhkan kesabaran. Menahan diri dari maksiat membutuhkan kesabaran. Demikian pula menghadapi kesulitan hidup, menjaga amanah, mendidik keluarga, dan memperjuangkan kebaikan.

Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Sabar justru mengandung kemampuan mengendalikan diri agar seseorang tidak meninggalkan kebenaran ketika berhadapan dengan kesulitan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 153).

Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran harus disertai hubungan yang kuat dengan Allah. Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim tidak hanya mengandalkan kemampuan dirinya, tetapi juga memohon pertolongan-Nya melalui doa, salat, dan ikhtiar yang benar.

Tanpa kesabaran, seseorang mudah menyerah ketika hasil belum terlihat. Sebaliknya, kesabaran membuatnya tetap berjalan, memperbaiki diri, dan mempertahankan ketaatan meskipun perjalanan terasa berat.

3. Ṣābirū: Menguatkan Kesabaran dalam Perjuangan

Setelah memerintahkan iṣbirū, Allah melanjutkan dengan ṣābirū. Perbedaan bentuk kata ini memberi penekanan tambahan pada keteguhan dan penguatan kesabaran.

Dalam kehidupan nyata, tantangan tidak selalu datang sekali. Ada ujian yang berulang, hambatan yang berkepanjangan, dan keadaan yang menuntut seseorang mempertahankan komitmennya dalam waktu lama.

Seorang pendidik, misalnya, membutuhkan kesabaran untuk membina generasi. Orang tua membutuhkan kesabaran dalam mendidik anak. Para dai membutuhkan kesabaran dalam menyampaikan kebenaran. Demikian pula setiap Muslim memerlukan keteguhan ketika berusaha menjalankan nilai-nilai Islam di tengah berbagai godaan.

Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal: 46).

Kesabaran yang kuat tidak tumbuh hanya dari semangat sesaat. Ia memerlukan pembinaan iman, kedisiplinan amal, lingkungan yang mendukung kebaikan, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.

Karena itu, keberhasilan dalam perjuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat seseorang memulai, tetapi juga oleh kemampuannya bertahan di jalan yang benar.

4. Rābiṭū: Menjaga Kesiapsiagaan dan Memelihara Istiqamah

Perintah ketiga adalah rābiṭū. Secara pokok, kata ini berkaitan dengan kesiapsiagaan, penjagaan, dan ribāṭ, termasuk dalam konteks menjaga wilayah perbatasan kaum Muslimin.

Dalam penjelasan tafsirnya atas QS Ali ‘Imran ayat 200, Ibnu Katsir juga mengemukakan sejumlah penjelasan ulama mengenai murābaṭah, antara lain kesiapsiagaan menjaga pertahanan serta ketekunan dalam ibadah dan menunggu salat setelah salat.

Dalam konteks pembinaan diri pada masa sekarang, pesan kesiapsiagaan tersebut dapat direnungkan melalui pentingnya istiqamah: menjaga iman, mempertahankan ketaatan, dan tidak mudah meninggalkan jalan kebaikan.

Istiqamah bukan sekadar mempertahankan semangat pada saat seseorang sedang berada dalam suasana religius. Istiqamah justru diuji ketika semangat menurun, kesibukan meningkat, lingkungan berubah, atau amal saleh tidak lagi memperoleh perhatian orang lain.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS Al-Ahqaf: 13).

Ayat ini menegaskan keutamaan istiqamah setelah pengakuan iman. Seorang Muslim tidak cukup hanya menyatakan bahwa Allah adalah Tuhannya; ia harus membuktikan pengakuan tersebut melalui ketaatan yang berkelanjutan.

Istiqamah dapat diwujudkan dengan menjaga salat lima waktu, membiasakan membaca Al-Qur’an, menunaikan amanah, menjauhi maksiat, menjaga lisan, serta terus terlibat dalam amal dakwah dan pelayanan masyarakat.

Bagi keluarga, istiqamah berarti menjaga suasana rumah yang mendukung ibadah dan akhlak mulia. Bagi lembaga pendidikan, istiqamah berarti mempertahankan mutu pembinaan dan nilai-nilai Islam. Bagi para pengemban dakwah, istiqamah berarti menjaga keikhlasan dan konsistensi dalam mengajak manusia kepada kebaikan.

Dengan demikian, rābiṭū tidak tepat dipersempit maknanya menjadi istiqamah semata. Makna pokok kesiapsiagaan tetap perlu dijaga, sementara istiqamah dapat dihadirkan sebagai pelajaran praktis yang relevan bagi kehidupan seorang Muslim.

5. Ittaqūllāh: Menjadikan Takwa sebagai Penentu Arah

Rangkaian perintah dalam QS Ali ‘Imran ayat 200 ditutup dengan wattaqullāh, yakni bertakwalah kepada Allah.

Takwa menjadi pedoman agar iman, kesabaran, dan keteguhan tidak kehilangan arah. Seseorang mungkin berhasil mencapai target duniawi, tetapi keberhasilan itu tidak bernilai sebagai kebaikan apabila ditempuh dengan cara yang melanggar perintah Allah.

Takwa menuntut seorang Muslim menjaga hubungan dengan Allah sekaligus menunaikan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Ia mendorong kejujuran ketika berdagang, keadilan ketika memimpin, amanah ketika bekerja, serta kasih sayang ketika membina keluarga dan masyarakat.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS At-Talaq: 2–3).

Ayat ini mengajarkan bahwa takwa memiliki konsekuensi besar dalam kehidupan. Namun, janji Allah tersebut tidak semestinya dipahami sebagai jaminan bahwa setiap masalah akan selesai seketika atau setiap keinginan duniawi pasti terpenuhi sesuai harapan.

Takwa menuntun manusia untuk tetap berada di jalan yang benar, bersungguh-sungguh mencari jalan keluar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Keberuntungan Hakiki Tidak Berhenti pada Dunia

Lima prinsip tersebut bermuara pada tujuan yang disebut dalam penutup QS Ali ‘Imran ayat 200: la‘allakum tufliḥūn, agar kamu beruntung.

Dalam perspektif Islam, keberuntungan tidak hanya berarti kekayaan, jabatan, popularitas, atau keberhasilan meraih cita-cita. Semua itu dapat menjadi nikmat apabila diperoleh secara halal dan digunakan untuk kebaikan. Namun, pencapaian duniawi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang Muslim.

Keberuntungan yang hakiki mencakup keteguhan iman, amal saleh, akhlak yang baik, manfaat bagi sesama, dan keselamatan di akhirat.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Artinya:

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.” (QS Ali ‘Imran: 185).

Ayat ini memberikan ukuran yang sangat mendasar tentang kemenangan. Puncak keberuntungan bukan sekadar berhasil menguasai urusan dunia, melainkan memperoleh keselamatan dan keridaan Allah di akhirat.

Karena itu, iman harus dipelihara, kesabaran harus dikuatkan, istiqamah harus dijaga, dan takwa harus menjadi pedoman dalam setiap keputusan.

Pesan khutbah Jumat Drs. Nasri Bohari, M.Pd., di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, mengajak setiap Muslim menjadikan QS Ali ‘Imran ayat 200 sebagai bahan introspeksi: apakah iman telah membentuk perilaku, apakah kesabaran masih terjaga ketika ujian datang, apakah ketaatan tetap dipertahankan ketika tidak ada yang melihat, dan apakah takwa telah menjadi dasar dalam menjalani kehidupan?

Sebab, jalan menuju keberuntungan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang apakah ia tetap berada di jalan yang diridai Allah hingga akhir hayatnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here