BerandaArtikelIlmu Tanpa Adab: Ketika Kecerdasan Kehilangan Kompas Moral

Ilmu Tanpa Adab: Ketika Kecerdasan Kehilangan Kompas Moral

HidayatullahSulsel.or.id | GELAR akademik mentereng, angka Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, serta ketajaman logika kerap dijadikan ukuran keberhasilan seseorang. Tidak sedikit orang tua yang mengerahkan berbagai upaya agar anaknya tumbuh menjadi pribadi cerdas, berprestasi, dan unggul secara akademik. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari perhatian: apakah kecerdasan itu juga membuat seseorang semakin baik akhlaknya?

Kenyataan sosial menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu berjalan beriringan dengan integritas moral. Berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, manipulasi hukum, hingga kejahatan yang direncanakan secara sistematis memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir tinggi tidak otomatis melahirkan pribadi yang bertanggung jawab. Bahkan, dalam sejumlah kasus, kecerdasan justru digunakan untuk merancang tindakan yang merugikan orang lain.

Ketika seseorang kehilangan kompas moral, kecerdasannya tidak serta-merta hilang. Sebaliknya, kemampuan berpikir yang dimilikinya dapat berubah menjadi instrumen untuk menyusun tipu daya, membangun alibi, memanipulasi keadaan, dan menghindari pertanggungjawaban.

Di sinilah letak persoalan mendasar pendidikan kita. Kita sering begitu bersemangat mengasah kemampuan intelektual, tetapi kurang memberikan perhatian yang seimbang terhadap pembentukan adab dan akhlak.

Ilmu Harus Melahirkan Ketakwaan

Dalam khazanah pendidikan Islam, hubungan antara ilmu dan akhlak bukanlah persoalan tambahan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak semestinya dipisahkan.

Para ulama salaf memandang ilmu bukan sekadar kumpulan informasi atau kemampuan menguasai berbagai disiplin pengetahuan. Ilmu seharusnya membimbing seseorang semakin mengenal Allah, memahami tanggung jawab kehidupannya, serta memperbaiki perilakunya terhadap sesama manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya memadukan ilmu dengan kesantunan jiwa melalui sebuah ungkapan:

مَا جُمِعَ شَيْءٌ إِلَى شَيْءٍ أَحْسَنَ مِنْ حِلْمٍ إِلَى عِلْمٍ

“Tidaklah dua perkara digabungkan satu sama lain yang lebih indah daripada perpaduan antara sifat santun dengan ilmu.”

Pesan ini menegaskan bahwa ilmu membutuhkan kendali moral. Ilmu memberikan seseorang kemampuan untuk memahami dan melakukan sesuatu, sedangkan hilm membimbingnya agar menggunakan kemampuan tersebut secara bijaksana.

Orang berilmu semestinya semakin mampu mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakannya. Ia tidak menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk merasa lebih tinggi, apalagi merendahkan orang lain.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai ujian, gelar akademik, prestasi kompetisi, atau tingginya capaian intelektual. Kita juga perlu melihat perubahan karakter yang lahir dari proses pendidikan tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan akhlak dalam keluarga:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.”

Pesan tersebut semestinya menjadi perhatian setiap orang tua. Membiayai pendidikan formal, menyediakan fasilitas belajar, dan mengembangkan kecerdasan anak memang penting. Namun, semua itu tidak boleh menggeser tanggung jawab utama keluarga dalam menanamkan iman, adab, dan akhlak.

Pesan Ibunda Sufyan ats-Tsauri tentang Ukuran Ilmu

Salah satu teladan menarik tentang orientasi menuntut ilmu dapat ditemukan dalam kisah ibunda Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar dari generasi tabi’ut tabi’in.

Demi mendukung pendidikan anaknya, sang ibu rela bekerja keras memintal benang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya belajar Sufyan. Namun, pengorbanan tersebut tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan material. Ia juga menanamkan prinsip penting tentang bagaimana ilmu seharusnya memengaruhi kepribadian.

Waki’ meriwayatkan nasihat ibunda Sufyan ats-Tsauri:

قَالَتْ أُمُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ لِسُفْيَانَ: يَا بُنَيَّ اطْلُبِ الْعِلْمَ وَأَنَا أَكْفِيكَ بِمِغْزَلِي، وَقَالَتْ لَهُ: يَا بُنَيَّ إِذَا كَتَبْتَ عَشَرَةَ أَحْرُفٍ فَانْظُرْ هَلْ تَرَى نَفْسَكَ زِيَادَةً فِي مَشْيِكَ وَحِلْمِكَ وَوَقَارِكَ، فَإِنْ لَمْ يَزِدْكَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ.

Ibunda Sufyan berkata, “Wahai anakku, carilah ilmu. Aku akan mencukupi kebutuhanmu dengan hasil pintalanku.”

Ia juga berpesan, “Wahai anakku, apabila engkau telah mempelajari sepuluh kalimat ilmu, perhatikanlah apakah hal itu menambah kebaikan dalam cara berjalanmu, kesantunanmu, dan kewibawaanmu. Jika tidak menambah semua itu, ketahuilah bahwa ilmu tersebut tidak memberikan manfaat kepadamu.”

Nasihat ini memperlihatkan kedalaman visi seorang ibu dalam mendidik anak. Ia tidak hanya menginginkan anaknya menjadi orang berpengetahuan, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan tersebut membentuk kepribadian yang lebih baik.

Ada tiga indikator yang ditekankan dalam nasihat tersebut: cara berjalan, hilm, dan waqar.

Cara berjalan mencerminkan sikap dan pembawaan seseorang. Hilm menunjukkan kemampuan mengendalikan emosi serta bersikap santun. Sementara waqar menggambarkan ketenangan, kehormatan, dan kewibawaan yang lahir dari kematangan pribadi.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan belajar tidak berhenti pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan. Lebih jauh, ilmu harus terlihat dalam perubahan sikap dan perilaku.

Inilah pelajaran penting bagi orang tua dan lembaga pendidikan Islam. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan harus membentuk manusia yang mengalami perubahan ke arah kebaikan.

Para Salaf Menilai Adab Sebelum Mengambil Ilmu

Perhatian terhadap adab juga terlihat dalam tradisi keilmuan generasi salaf. Mereka tidak hanya memperhatikan keluasan pengetahuan seseorang, tetapi juga kesalehan, perilaku, dan konsistensi pengamalan agamanya.

Ibrahim an-Nakha’i menggambarkan kebiasaan tersebut:

كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ نَظَرُوا إِلَى صَلَاتِهِ، وَإِلَى هَدْيِهِ، وَإِلَى سَمْتِهِ.

“Dahulu, apabila mereka mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya, mereka terlebih dahulu memperhatikan shalatnya, petunjuk hidupnya, dan perilakunya.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki standar moral dalam menentukan siapa yang layak dijadikan rujukan. Seseorang tidak cukup dinilai dari kepiawaiannya berbicara, ketajaman argumentasinya, atau banyaknya pengetahuan yang dikuasai.

Kualitas pribadi dan kesesuaian antara ilmu dengan perilaku juga menjadi pertimbangan penting.

Tentu, hal ini bukan berarti seseorang harus sempurna tanpa kesalahan sebelum dapat mengajarkan ilmu. Namun, seorang pendidik dan penuntut ilmu harus menyadari bahwa pengetahuan membawa tanggung jawab moral. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga perilakunya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perkataan Masruq, seorang tabi’in terkemuka:

بِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْجَهْلِ أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ، وَبِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْعِلْمِ أَنْ يَخْشَى اللهَ.

“Cukuplah seorang mukmin dianggap memiliki kebodohan apabila ia merasa bangga terhadap amalnya. Dan cukuplah seorang mukmin dianggap memiliki ilmu apabila ia memiliki rasa takut kepada Allah.”

Perkataan ini mengingatkan bahwa salah satu penyakit orang berilmu adalah ujub, yakni kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri. Ketika pengetahuan membuat seseorang merasa paling benar, paling pintar, dan paling layak dihormati, ilmu berisiko kehilangan fungsi pembinaannya.

Sebaliknya, ilmu yang benar semestinya melahirkan rasa takut kepada Allah. Bukan ketakutan yang membuat seseorang menjauh dari kehidupan, melainkan kesadaran bahwa setiap pengetahuan, keputusan, dan tindakan akan dimintai pertanggungjawaban.

Pendidikan Tidak Boleh Berhenti pada Kecerdasan

Fenomena penyalahgunaan kecerdasan untuk kepentingan pribadi semestinya menjadi bahan evaluasi bagi keluarga, sekolah, pesantren, dan seluruh institusi pendidikan.

Kita perlu mengubah orientasi pendidikan yang terlalu menitikberatkan pencapaian akademik. Anak yang memperoleh nilai tinggi memang patut diapresiasi. Namun, anak yang jujur, bertanggung jawab, mampu menghormati orang lain, dan berani mengakui kesalahan juga harus memperoleh perhatian yang sama.

Bahkan, pembentukan karakter harus menjadi bagian integral dari seluruh proses pembelajaran.

Di lingkungan keluarga, orang tua perlu menghadirkan keteladanan. Anak tidak cukup hanya diperintahkan untuk berkata jujur, sementara ia menyaksikan orang tuanya terbiasa berbohong. Anak tidak cukup diajarkan menghormati orang lain jika kehidupan sehari-hari di rumah justru dipenuhi perilaku merendahkan sesama.

Di lingkungan sekolah dan pesantren, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga menjadi teladan dalam kedisiplinan, kesantunan, kejujuran, dan tanggung jawab. Budaya lembaga pendidikan harus mendukung tumbuhnya karakter tersebut melalui pembiasaan, pengawasan, dan keteladanan.

Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual dan moral. Kecerdasan diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan, tetapi akhlak menentukan bagaimana kecerdasan itu digunakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28).

Ayat ini memberikan orientasi yang jelas tentang kemuliaan ilmu. Pengetahuan yang benar semestinya mengantarkan pemiliknya kepada pengenalan yang lebih mendalam terhadap kebesaran Allah dan melahirkan rasa takut untuk melanggar ketentuan-Nya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup ditentukan oleh seberapa tinggi kecerdasan seseorang atau seberapa banyak gelar yang berhasil diraih. Kita perlu bertanya lebih jauh: apakah ilmu membuatnya semakin jujur, rendah hati, santun, dan bertanggung jawab?

Sebab, pintar saja tidak cukup. Kecerdasan tanpa integritas dapat melahirkan manipulasi. Pengetahuan tanpa kerendahan hati dapat menumbuhkan kesombongan. Sementara kemampuan berpikir tanpa kendali iman dapat menyeret seseorang menggunakan kelebihannya untuk merugikan orang lain.

Ilmu seharusnya membuat manusia semakin mengenal batas dirinya, semakin berhati-hati dalam bertindak, dan semakin bertanggung jawab di hadapan Allah maupun sesama manusia.

Karena itu, tugas pendidikan bukan sekadar mencetak generasi yang pandai menjawab soal, tetapi membentuk manusia yang mampu menjaga amanah. Bukan hanya melahirkan pribadi yang unggul dalam kompetisi, tetapi juga pribadi yang memiliki keluhuran akhlak.

Kecerdasan membuat seseorang mampu melakukan banyak hal. Adab dan ketakwaan membimbingnya memilih hal yang benar. Di situlah ilmu menemukan kemuliaan dan pendidikan menemukan tujuan hakikinya. (MBS)

Artikel ini merupakan penerbitan ulang dari Hidayatullah.com. Redaksi Hidayatullah Sulsel melakukan penyuntingan redaksional dan penyesuaian format tanpa mengubah substansi utama tulisan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tulisan Terkait
- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Baca Juga

Recent Comments

Recent Comments