BerandaKolom KhususPojok KaderJendela Pecah dalam Pendidikan Karakter di Islamic School Kita

Jendela Pecah dalam Pendidikan Karakter di Islamic School Kita

ADA sebuah teori sosial klasik yang patut kita renungkan, khususnya dalam kapasitas kita sebagai pendidik di sekolah Islam. Lebih khusus lagi, sekolah yang membranding diri sebagai school of character, sekolah yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan adab peserta didik. Teori itu dikenal dengan nama Broken Windows Theory.

Teori yang diperkenalkan oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling melalui artikel berjudul Broken Windows: The Police and Neighborhood Safety di majalah The Atlantic pada Maret 1982 ini pada mulanya dikenal dalam kajian kriminologi. Gagasan tersebut menjelaskan bagaimana ketidakteraturan kecil yang dibiarkan dapat menjadi sinyal bahwa tidak ada pihak yang peduli atau bertanggung jawab. Akibatnya, pelanggaran serupa berpotensi meluas dan berkembang menjadi ketidakteraturan yang lebih besar.

Salah satu inspirasi penting teori ini berasal dari eksperimen sosial Philip Zimbardo pada 1969. Ia menempatkan dua mobil tanpa pelat nomor di lokasi berbeda, yakni di Bronx, New York, dan Palo Alto, California. Mobil di Bronx segera menjadi sasaran perusakan. Sementara itu, mobil di Palo Alto tidak tersentuh selama lebih dari sepekan. Setelah Zimbardo merusak sebagian mobil tersebut, orang-orang mulai ikut merusaknya. Dalam hitungan jam, mobil itu mengalami kerusakan parah. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam pembahasan tentang perilaku manusia dan pengaruh lingkungan sosial.

Dalam artikel tersebut, Wilson dan Kelling menjelaskan bahwa ketika sebuah jendela pecah dan tidak segera diperbaiki, orang yang melihatnya dapat menangkap pesan bahwa tidak ada yang peduli terhadap bangunan itu. Jika dibiarkan, jendela-jendela lain berpotensi ikut pecah. Persoalannya bukan semata-mata kaca yang rusak, melainkan pesan sosial yang muncul ketika kerusakan itu dibiarkan tanpa respons.

Dalam konteks pendidikan Islam berbasis karakter, Broken Windows Theory layak menjadi bahan refleksi bagi kita sebagai pendidik. Sebab, sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar, melainkan juga ruang sosial tempat peserta didik mengamati, meniru, dan membentuk kebiasaan melalui interaksi sehari-hari.

Di ruang inilah nilai-nilai yang diajarkan di kelas diuji dalam praktik nyata. Karena itu, membangun karakter tidak cukup dengan mengajarkan mana yang baik dan buruk. Kita juga perlu memastikan bahwa nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dalam keseharian anak-anak kita.

Ketika Pelanggaran Kecil Menjadi Pembiaran

Di sinilah kita dituntut untuk lebih peka, bahkan boleh dibilang harus cerewet dalam urusan pembangunan karakter ini. Tentu, cerewet yang dimaksud bukan berarti gemar memarahi atau mempermasalahkan setiap gerak-gerik anak. Lebih dari itu, kita perlu memiliki kepekaan dan ketegasan untuk mengingatkan ketika menemukan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sedang kita tanamkan.

Sebab, satu hal yang kerap luput dari perhatian kita adalah bahwa diamnya pendidik ketika melihat pelanggaran dapat ditangkap anak sebagai tanda bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan. Jika dibiarkan berulang, sesuatu yang semula merupakan penyimpangan kecil berpotensi tumbuh menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Ini bukan perkara mudah. Sebagian pendidik mungkin khawatir mendapat cap yang tidak mengenakkan dari anak-anak. Takut dianggap terlalu ketat, kurang menyenangkan, atau sedikit-sedikit menegur. Akibatnya, yang terjadi justru pembiaran.

Misalnya, kita melihat seorang anak makan sambil berdiri. Anak itu pun tahu bahwa kita melihatnya. Namun, kita tidak menegur atau menasihatinya. Dalam situasi seperti ini, anak dapat menangkap pesan bahwa perilaku tersebut tidak menjadi persoalan. Ia mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan, setidaknya dalam lingkungan itu.

Ketika seorang anak terlihat makan sambil berdiri dan tidak mendapat pengingat, anak-anak lain bisa melihatnya sebagai bentuk pembolehan. Jika situasi serupa terus berulang, perilaku tersebut berpotensi menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Tentu, satu kejadian tidak otomatis melahirkan pelanggaran yang lebih besar. Namun, ketika pelanggaran kecil berulang dan tidak mendapat respons yang mendidik, batas antara perilaku yang diharapkan dan perilaku yang ditoleransi dapat menjadi kabur.

Makan sambil berdiri hanyalah satu contoh. Kita bisa menemukan persoalan lain, seperti bermain-main ketika salat, mengucapkan kata-kata umpatan bahkan kata-kata kotor, serta bertindak niradab kepada guru dan orang yang lebih tua. Jika seorang pengajar menemukan perilaku tersebut, tetapi tidak melakukan teguran yang proporsional, anak dapat menangkapnya sebagai tanda bahwa perilaku itu tidak perlu diperbaiki.

Di sinilah titik temu antara Broken Windows Theory dan pendidikan karakter yang kita gaungkan. Pembiaran bukan selalu berarti persetujuan secara sadar. Namun, dalam pengalaman sosial anak, ketiadaan respons dapat ditafsirkan sebagai toleransi. Ketika hal itu berlangsung berulang kali, budaya yang terbentuk bisa berbeda dari nilai-nilai yang selama ini diajarkan.

Adab Bukan Sekadar Materi Pelajaran

Benar bahwa adab telah diajarkan di ruang-ruang kelas. Ada materi tentang akhlak, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kebersihan, dan berbagai tuntunan perilaku Islami lainnya. Namun, apakah cukup jika adab hanya diajarkan sebagai materi pelajaran, sementara penerapannya tidak kita kawal dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah?

Kita tentu memahami bahwa karakter tumbuh melalui pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan membutuhkan pengulangan, sedangkan keteladanan membutuhkan konsistensi perilaku orang dewasa yang menjadi rujukan anak.

Lantas, bagaimana pembiasaan dapat terbentuk jika pengajaran hanya berhenti sebagai materi di kelas, tanpa pengawalan pada tataran implementasi? Bagaimana anak belajar menghormati guru jika perilaku niradab di hadapan guru dibiarkan? Bagaimana budaya disiplin dapat tumbuh jika pelanggaran terhadap aturan yang disepakati tidak pernah mendapat pengingat?

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup mengandalkan kurikulum, mata pelajaran, atau slogan yang terpampang di dinding sekolah. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam praktik keseharian. Ketika anak melakukan kekeliruan, pendidik perlu mengingatkan. Ketika anak menunjukkan perilaku baik, pendidik perlu menguatkannya. Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga belajar membiasakan diri melakukannya.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Lingkungan Sekolah

Lebih jauh, Islam telah memberikan landasan normatif bagi tanggung jawab tersebut melalui prinsip amar ma’ruf nahi mungkar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 104 tentang perlunya sekelompok umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49).

Hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim tidak semestinya bersikap acuh terhadap kemungkaran yang diketahuinya. Namun, penerapannya harus memperhatikan kemampuan, kewenangan, ilmu, adab, dan dampak tindakan. Dalam lingkungan sekolah, teguran lisan yang santun, nasihat yang mendidik, serta tindakan korektif sesuai kewenangan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga nilai-nilai yang telah disepakati.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Ad-dinu an-nashihah”, yang berarti agama adalah nasihat. Ketika para sahabat bertanya, untuk siapa nasihat itu diberikan, beliau menjelaskan bahwa nasihat ditujukan kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum (HR. Muslim, no. 55).

Dengan demikian, menegur anak yang melakukan kekeliruan bukanlah tindakan yang bertentangan dengan kasih sayang. Justru, jika dilakukan dengan ilmu, kesabaran, dan cara yang tepat, teguran merupakan bentuk kepedulian terhadap pertumbuhan karakter mereka.

Pada akhirnya, sekolah Islam yang membranding diri sebagai school of character harus memastikan bahwa nilai-nilai yang diajarkan benar-benar hidup dalam keseharian. Jangan sampai kita sibuk mengajarkan adab di dalam kelas, tetapi membiarkan pelanggaran adab berlangsung di luar kelas.

Sebab, karakter tidak terbentuk hanya karena anak mengetahui apa yang baik. Karakter tumbuh ketika kebaikan dibiasakan, keteladanan dihadirkan, dan pelanggaran diperbaiki secara konsisten. Karena itu, jangan remehkan pelanggaran kecil. Bukan karena setiap kesalahan pasti berkembang menjadi kesalahan yang lebih besar, melainkan karena setiap pembiaran berisiko mengaburkan batas antara perilaku yang seharusnya diperbaiki dan perilaku yang dianggap biasa.

Di situlah tanggung jawab kita sebagai pendidik. Sebab tanggung jawab kita bukan sekadar mengajarkan kebaikan, tetapi juga mengawal tumbuhnya kebiasaan baik dalam kehidupan nyata anak-anak kita.

Abdul Aziz Basyir
Abdul Aziz Basyir
Pengajar di SMP-SMA Al-Bayan Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tulisan Terkait
- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Baca Juga

Recent Comments

Recent Comments