Oleh : Abdul Aziz*
Tulisan ini melanjutkan renungan dari seri sebelumnya tentang The Art of Starting, salah satu materi yang disampaikan Ustadz Syuhud dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Islamic Boarding School di Malang beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya kita berbicara tentang start early dan start now, kali ini saya ingin belajar dari satu prinsip lain yang tidak kalah sederhana, start small. Mulailah dari yang kecil.
Prinsip ini mungkin terdengar mudah. Tetapi ketika berhadapan dengan kenyataan lembaga pendidikan, memulainya ternyata tidak sesederhana mengucapkannya. Kita kerap membayangkan perubahan dalam ukuran yang besar. Ketika ingin membenahi pesantren, yang terlintas adalah gedung baru, sistem digital, tenaga ahli, pelatihan besar, atau anggaran yang memadai. Akhirnya, pekerjaan yang sebenarnya bisa dimulai hari ini ikut menunggu karena semua prasyarat yang kita bayangkan belum tersedia.
Padahal, hampir tidak ada lembaga yang memulai perjalanannya dalam keadaan lengkap. Silahkan cek. Mereka memulainya juga dari kecil.
Ketika Perubahan Terlalu Lama Menunggu
Saya teringat kebiasaan sederhana ketika hendak membereskan sebuah ruangan. Kita sering ingin menata semuanya sekaligus. Lemari harus rapi, dokumen harus disortir, meja harus dipindahkan, barang lama harus dibuang. Karena pekerjaan terlihat begitu banyak, kita justru memilih menundanya.
Padahal, kita bisa memulainya dari satu laci. Setelah satu laci selesai, kita memperoleh sedikit ruang dan sedikit tenaga untuk mengerjakan bagian berikutnya. Ruangan itu tidak berubah dalam sehari. Ia berubah karena pekerjaan besar dipecah menjadi bagian-bagian yang sanggup dikerjakan.
Pesantren pun demikian. Ketika belum mampu membangun sistem administrasi yang canggih, mungkin kita dapat memulai dengan menata arsip dan pencatatan. Jika belum sanggup mengadakan pelatihan guru dalam skala besar, mungkin satu kelompok kecil dapat lebih dahulu belajar. Ketika program pembinaan santri belum lengkap, satu kebiasaan baik dapat ditanamkan dan dijaga sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kecil tidak berarti remeh. Yang justru keliru adalah sering kali kita terlalu sibuk membayangkan bentuk akhir sehingga lupa mencari langkah pertama yang masuk akal. Di titik inilah start small menjadi cara yang sehat dalam memandang keterbatasan. Anggaran terbatas, sumber daya manusia terbatas, waktu juga terbatas. Semua itu nyata. Namun keterbatasan tidak otomatis berarti tidak ada yang dapat dikerjakan.
Memulai dengan Apa yang Kita Punya
Dunia pendidikan Islam memberi kita banyak pelajaran tentang pertumbuhan yang berlangsung perlahan. Lembaga yang hari ini besar tidak lahir sekaligus dengan bangunan megah, jumlah santri yang banyak, dan sistem manajemen yang mapan. Di belakangnya ada masa ketika ruang belajar masih sederhana, jumlah murid masih sedikit, dan para pengelolanya bekerja dengan sumber daya yang tersedia.
Karena itu, ketika sebuah pesantren belum memiliki modal besar, barangkali pertanyaan yang lebih produktif bukan, “Apa yang belum kita punya?” Melainkan, “Apa yang sudah kita punya dan bisa mulai kita gunakan?”
Pertanyaan itu mengubah cara pandang. Kita mungkin belum memiliki banyak tenaga, tetapi ada beberapa orang yang bersedia belajar. Kita belum memiliki anggaran besar, tetapi masih bisa memperbaiki disiplin kerja. Kita belum memiliki perangkat teknologi lengkap, tetapi dapat membuat pencatatan yang lebih tertib. Kita belum sanggup membenahi seluruh sistem, tetapi dapat memilih satu bagian yang paling membutuhkan perhatian.
Perubahan yang sehat tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang ia tumbuh dari kesediaan menggunakan sedikit sumber daya dengan sungguh-sungguh.
Al-Qur’an mengajarkan agar kita tidak meremehkan amal sekecil apa pun. Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7,
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
Ukuran yang kecil tidak membuat sebuah kebaikan kehilangan nilai. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim agar seseorang menjaga dirinya dari api neraka meskipun hanya dengan bersedekah separuh kurma. Pesannya sederhana. Jangan menunggu mampu melakukan sesuatu yang besar untuk mulai melakukan kebaikan.
Prinsip itu menarik ketika dibawa ke dalam pengelolaan pendidikan. Kita tidak sedang menyamakan kerja kelembagaan dengan amal ibadah, tetapi belajar dari satu sikap yang sama, yakni tidak meremehkan langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Dari Kebiasaan Kecil Menjadi Budaya
Ada satu hal yang mungkin perlu kita waspadai ketika mulai membenahi lembaga. Kita sering terlalu cepat menilai perubahan dari ukuran permulaannya. Program kecil dianggap kurang penting. Pelatihan sederhana terasa tidak bergengsi. Pembenahan satu bagian dinilai belum memberi dampak berarti.
Padahal, budaya tidak lahir dalam semalam. Satu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk pola kerja. Pola kerja yang dipelihara bersama perlahan menjadi budaya. Dari budaya itulah sistem yang lebih kuat dapat tumbuh. Karena itu, memulai dari kecil bukan berarti berpikir kecil. Kita boleh memiliki cita-cita besar, tetapi tidak harus membuat langkah pertama sebesar cita-cita tersebut.
Anak tangga tidak perlu setinggi lantai terakhir yang ingin kita capai. Ia hanya perlu cukup kuat untuk menjadi pijakan berikutnya.
Tiga hari mengikuti inkubasi manajemen di Malang membuat saya kembali melihat bahwa membenahi pendidikan pesantren mungkin tidak selalu membutuhkan keputusan spektakuler pada permulaannya. Sebagai orang yang masih belajar mengurus pesantren, saya justru merasa perlu memulai dari sesuatu yang dapat dikerjakan, melihat hasilnya, mengevaluasinya, lalu mencoba memperbaikinya lagi.
Mungkin hari ini hanya satu hal yang mampu kita benahi. Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Jika berhasil, rawat. Jika belum berhasil, pelajari penyebabnya.
Sebab lembaga yang suatu hari tumbuh besar bisa saja bermula dari sesuatu yang nyaris tidak menarik perhatian. Satu arsip yang mulai tertata. Satu guru yang mulai dibina. Satu kebiasaan yang mulai dijaga. Satu keputusan yang akhirnya benar-benar ditindaklanjuti.
Yang kecil tidak selalu kecil selamanya. Jika dikerjakan dengan tekun, ia dapat menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan itu dirawat bersama, ia dapat berubah menjadi budaya. Dan mungkin, dari sanalah perubahan yang lebih besar mulai menemukan jalannya.




