BerandaKolom KhususPojok KaderSeni Memulai Perubahan di Lembaga Pendidikan Islam

Seni Memulai Perubahan di Lembaga Pendidikan Islam

Oleh : Abdul Aziz*

Ada satu slide dalam materi Governance Excellence: Manajemen Yayasan Pesantren Unggul yang disampaikan Ustadz Syuhud, S.Hum., dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Islamic Boarding School di Malang, 15–17 September lalu, yang masih teringat hingga kini. Judulnya sederhana, The Art of Starting. Di bawah judul itu tercantum beberapa poin-poin ringkas tentang bagaimana sebuah pekerjaan seharusnya dimulai. Dua di antaranya terasa sangat sederhana sekaligus menohok, start early dan start now. Mulailah lebih awal dan mulailah sekarang.

Poin-poin tersebut tidak menawarkan teori manajemen yang rumit. Kita bahkan mungkin sudah berkali-kali mendengarnya. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa dekat dengan persoalan banyak lembaga pendidikan Islam. Sering kali masalah kita bukan karena tidak tahu apa yang harus diperbaiki, melainkan karena terlalu lama menunggu sebelum benar-benar memulainya.

Ketika Menunggu Menjadi Budaya

Di banyak sekolah dan pesantren, gagasan tentang pembenahan sebenarnya sudah lama dibicarakan. Administrasi perlu ditata, kompetensi guru perlu dikembangkan, pelayanan peserta didik harus diperbaiki, komunikasi antarbagian perlu diperkuat, dan berbagai kebiasaan lama mesti dievaluasi. Rapat dapat menghasilkan daftar persoalan sekaligus rencana perbaikan yang panjang. Namun tidak sedikit rencana akhirnya berhenti sebagai catatan.

Alasannya hampir selalu masuk akal. Menunggu anggaran tersedia. Menunggu sumber daya manusia lebih siap. Menunggu pimpinan punya waktu. Menunggu semua pihak memahami gagasan yang sama. Menunggu momentum yang dianggap lebih tepat.

Masalahnya, menunggu dapat berubah menjadi kebiasaan organisasi. Waktu tidak ikut menunggu. Peserta didik terus berubah, harapan orang tua berkembang, teknologi bergerak, dan tantangan pendidikan datang silih berganti. Lembaga yang terlalu lama menunda perbaikan akhirnya dapat tertinggal bukan karena kekurangan orang baik, melainkan karena terlalu lambat mengubah niat menjadi tindakan.

Di sinilah start early dan start now menemukan relevansinya. Memulai lebih awal bukan berarti tergesa-gesa. Memulai sekarang bukan pula berarti mengabaikan perencanaan. Perencanaan yang sehat justru seharusnya membawa kita semakin dekat kepada tindakan, bukan membuat kita betah terlalu lama tinggal di meja perencanaan.

Ada perbedaan antara berhati-hati dan menunda. Berhati-hati berarti menghitung risiko sebelum melangkah. Menunda berarti terus mencari alasan agar langkah pertama tidak perlu diambil.

Perubahan Tidak Harus Dimulai dengan Gebrakan

Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar dan segera terlihat. Gedung baru, teknologi baru, program unggulan, atau sistem manajemen yang tampak modern. Padahal perubahan kelembagaan kerap tumbuh dari tindakan yang jauh lebih sederhana.

Sekolah yang belum mampu membangun sistem administrasi digital secara menyeluruh dapat memulainya dengan menata arsip. Pesantren yang belum memiliki sistem pengembangan sumber daya manusia yang lengkap dapat memulai dari pelatihan kecil dan evaluasi rutin. Budaya kerja yang belum tertata dapat dibenahi dengan kebiasaan sederhana, memastikan setiap keputusan memiliki tindak lanjut yang jelas.

Perubahan memang membutuhkan sumber daya. Tetapi ia juga membutuhkan keberanian untuk bekerja dengan apa yang tersedia.

Al-Qur’an mengingatkan kita tentang pentingnya memperhatikan masa depan. Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini berbicara tentang tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Namun di dalamnya juga terdapat kesadaran tentang pentingnya persiapan. Dalam konteks pendidikan, “hari esok” itu antara lain adalah generasi yang sedang kita didik.

Apa yang kita kerjakan terhadap lembaga hari ini akan ikut menentukan lingkungan pendidikan yang mereka rasakan beberapa tahun mendatang. Karena itu, berbicara tentang masa depan pendidikan Islam tidak cukup dengan menyusun cita-cita besar. Kita juga perlu bertanya, pekerjaan kecil apa yang sudah benar-benar kita mulai hari ini?

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip yang sejalan dengan itu. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Pesan ini memang berbicara tentang amal, tetapi prinsip konsistensinya relevan pula dalam membangun lembaga.

Sebuah sekolah mungkin belum mampu melakukan transformasi besar. Namun ia dapat memperbaiki satu hal hari ini, memperbaiki hal lain bulan depan, kemudian mengevaluasinya secara berkala. Sedikit demi sedikit, kebiasaan baru terbentuk. Dari kebiasaan lahir budaya, dan dari budaya yang baik dapat tumbuh sistem yang lebih kokoh.

Berani Memulai, Siap Mengevaluasi

Memulai tentu mengandung risiko. Program bisa tidak berjalan sesuai harapan. Sistem yang dibuat mungkin perlu diubah. Keputusan yang tampak tepat pada awalnya bisa memperlihatkan kelemahan setelah diterapkan.

Namun di situlah nilai sebuah tindakan. Tanpa memulai, kita tidak memiliki pengalaman. Tanpa pengalaman, kita tidak memiliki bahan evaluasi. Kita hanya terus menebak-nebak apa yang mungkin berhasil dan apa yang mungkin gagal.

Saya teringat pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ada pekerjaan yang selama berhari-hari terasa sangat berat hanya karena terus berada di dalam pikiran. Ketika akhirnya dikerjakan, ternyata persoalannya tidak sebesar bayangan sebelumnya. Bukan berarti pekerjaannya menjadi mudah. Hanya saja, setelah dimulai, masalah yang semula tampak sebagai satu bongkahan besar mulai terurai menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dikerjakan satu per satu.

Barangkali lembaga pendidikan juga demikian. Kita tidak selalu membutuhkan jawaban untuk seluruh persoalan sebelum mengambil langkah pertama. Kadang kita hanya perlu mengenali persoalan yang paling mendesak, menghitung kemampuan yang tersedia, lalu menentukan tindakan yang paling mungkin dilakukan.

Tiga hari mengikuti kegiatan inkubasi di Malang membuat saya semakin melihat bahwa membangun lembaga pendidikan unggul bukan semata-mata soal memiliki gagasan yang baik. Gagasan harus menemukan bentuk dalam tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dirawat dapat tumbuh menjadi budaya. Dan budaya yang kuat pada akhirnya dapat melahirkan sistem yang bertahan lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali merintisnya.

Mungkin itulah seni memulai. Bukan seni menunggu datangnya keadaan yang sempurna, karena keadaan semacam itu hampir tidak pernah hadir. Ia adalah kemampuan membaca keadaan, menghitung apa yang tersedia, lalu berani mengatakan bahwa sesuatu yang baik harus mulai dikerjakan.

Mungkin langkahnya kecil. Mungkin belum sempurna. Bahkan mungkin harus beberapa kali diperbaiki. Tetapi ia nyata.

Sebab beberapa tahun mendatang, ketika kita menengok kembali perjalanan sebuah lembaga, boleh jadi yang paling menentukan bukan seberapa panjang rencana yang pernah kita susun, melainkan kapan kita berhenti berkata “nanti” dan mulai berkata, “kita kerjakan hari ini.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tulisan Terkait
- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Baca Juga

Recent Comments

Recent Comments