Jumat, Juli 3, 2026
BerandaArtikelSulit Mengakui Kesalahan: Ujian Terberat Seorang Pemimpin

Sulit Mengakui Kesalahan: Ujian Terberat Seorang Pemimpin

Oleh : Ahmad Firdaus*

Ada orang yang begitu mudah berbicara tentang taubat, tetapi sangat sulit mengakui kesalahannya sendiri.Ada yang mengajak orang lain rendah hati, tetapi gengsi meminta maaf kepada sesama. Semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan untuk mempertahankan citra daripada mempertahankan kebenaran.

Padahal, seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya keputusan yang selalu benar, melainkan dari keberaniannya mengakui kekeliruan ketika nyata-nyata salah.

Ironisnya, ada yang memilih “berapologi” dengan cara lain. Ia memperbanyak kegiatan sosial, dakwah, sedekah, membangun masjid, membuat program kemasyarakatan, bahkan semakin sering tampil di depan publik. Semua itu memang amal yang baik. Namun, amal-amal tersebut tidak dapat menggantikan kewajiban meminta maaf kepada orang yang telah disakiti atau dizalimi.

Dalam Islam, hak Allah dapat diampuni dengan taubat, tetapi hak sesama manusia menuntut penyelesaian. Selama permintaan maaf belum disampaikan dan kezaliman belum diperbaiki, persoalan itu tetap menjadi beban.

Rasulullah ï·º bersabda:
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun yang lainnya, hendaklah ia meminta halal darinya hari ini, sebelum datang hari ketika dinar dan dirham tidak lagi berguna.” (HR. al-Bukhari).

Para sahabat memberikan teladan yang agung. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah merasa dirinya selalu benar. Umar bin Al-Khattab bahkan pernah berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kesalahanku.” Kalimat ini lahir dari jiwa besar, bukan dari orang yang haus pujian.

Para ulama salaf juga demikian. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Kerendahan hati ilmiah seperti inilah yang membuat ilmunya terus hidup hingga hari ini.

Sebaliknya, ketika seseorang lebih sibuk mempertahankan nama baik daripada mencari ridha Allah, ia akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan diri.

Kesalahan dibungkus dengan jasa. Kritik dijawab dengan pencitraan. Permintaan maaf diganti dengan aktivitas. Seolah-olah banyaknya manfaat dapat menghapus kewajiban menyelesaikan hak manusia.

Padahal, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang tidak pernah salah. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang jujur ketika salah, berani meminta maaf, dan segera memperbaikinya.

Mengakui kesalahan tidak mengurangi kehormatan. Justru itulah yang meninggikan kehormatan. Orang mungkin mengagumi kecerdasan, kekayaan, atau kepemimpinan seseorang. Namun, mereka akan mencintai pemimpin yang rendah hati, yang mampu berkata, “Saya keliru. Maafkan saya.”

Sesungguhnya, meminta maaf bukanlah kekalahan. Yang kalah adalah orang yang dikalahkan oleh gengsi dan egonya sendiri. Sedangkan yang menang adalah orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya demi kebenaran dan ridha Allah.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi menjadi cermin bagi kita semua. Sebab, setiap manusia bisa salah. Yang membedakan kemuliaan seseorang bukanlah sedikitnya kesalahan, melainkan seberapa cepat ia kembali kepada kebenaran dan berani meminta maaf.

*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2917-2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments