Oleh : Ahmad Firdaus*
Hari ini banyak orang tua merasa cemas melihat pergaulan anak yang kian lepas arah. Nongkrong di kafe hingga larut, permainan tanpa batas, kebiasaan merokok, bahkan sebagian mulai akrab dengan minuman yang diharamkan. Keluhan itu terdengar di banyak rumah. Namun ada satu pertanyaan yang sering luput diajukan dengan jujur. Sudahkah orang tua benar-benar menjadi pintu kebaikan bagi anaknya, atau justru tanpa sadar menjadi jalan pertama menuju kerusakan itu sendiri.
Tidak sedikit ayah yang merasa bangga ketika anaknya mulai dianggap dewasa dengan cara yang keliru. Diajak duduk bersama dalam suasana santai yang melampaui batas, berbagi kebiasaan yang semestinya dijauhi, bahkan menjadikan keburukan sebagai simbol kedekatan. Di titik itulah seorang ayah perlahan kehilangan posisi terpentingnya. Ia tidak lagi berdiri sebagai teladan, melainkan turun menjadi sekadar teman dalam kelalaian.
Islam tidak pernah meletakkan pendidikan anak pada sekadar nasihat. Ia dimulai dari keteladanan yang hidup. Sosok Nabi Ibrahim memberi pelajaran yang sangat mendasar dalam hal ini. Ketika beliau berdoa, yang pertama kali dimohon bukanlah kebaikan anaknya, melainkan kebaikan dirinya sendiri. Allah mengabadikan doa itu dalam Al Quran
“Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat, dan juga keturunanku.”
Doa ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ibrahim memulai dari dirinya. Ia tidak menuntut anaknya menjadi baik sebelum memastikan dirinya berada di jalan yang benar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan paling kuat bukanlah instruksi, melainkan contoh yang konsisten.
Anak tidak tumbuh dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka merekam kebiasaan, bukan sekadar kata-kata. Jika seorang ayah menjaga shalatnya, anak akan melihat bahwa shalat adalah kebutuhan. Jika ayah menjaga lisannya, anak belajar tentang kehormatan. Jika ayah menjauhi yang haram, anak memahami batas tanpa harus banyak dijelaskan.
Sebaliknya, ketika rumah dipenuhi kontradiksi, nasihat kehilangan makna. Larangan menjadi lemah karena tidak memiliki pijakan. Anak belajar bahwa ucapan bisa berbeda dengan perbuatan. Dan pada akhirnya, yang ditiru bukanlah nasihat, melainkan kehidupan nyata yang mereka saksikan.
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi gambaran paling jelas tentang pendidikan berbasis keteladanan. Ketika perintah berat datang untuk menyembelih anaknya, Ibrahim tidak memaksakan kehendak dengan tekanan. Ia membuka ruang dialog yang penuh iman
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Jawaban Ismail bukanlah jawaban anak biasa
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Ketaatan seperti ini tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari proses panjang. Sejak kecil Ismail menyaksikan ayahnya hidup dalam kepatuhan total kepada Allah. Ia melihat kejujuran, kesabaran, dan keteguhan. Maka ketika ujian datang, nilai itu sudah tertanam kuat dalam dirinya.
Di sinilah letak kunci pendidikan. Anak yang terbiasa melihat kebaikan akan lebih mudah menerima kebenaran. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam suasana permisif terhadap dosa akan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Apa yang awalnya tampak ringan, lama-lama menjadi bagian dari identitas.
Ibnul Qayyim pernah mengingatkan bahwa kerusakan anak sering kali berakar dari orang tuanya. Rumah adalah tempat pertama anak memahami dunia. Jika di dalamnya nilai kabur, batas menjadi samar. Jika keburukan dianggap wajar, maka anak akan tumbuh tanpa kompas yang jelas.
Banyak orang tua ingin anaknya menjauhi kebiasaan buruk, tetapi tidak berani menertibkan dirinya sendiri. Mereka ingin anak disiplin, tetapi hidupnya longgar. Mereka ingin anak menjaga waktu, tetapi dirinya akrab dengan kelalaian. Ketidaksinkronan ini membuat pendidikan kehilangan daya pengaruh.
Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan bahwa manusia lebih mudah belajar dari perbuatan dibandingkan dari ucapan. Ini bukan sekadar ungkapan hikmah, melainkan realitas yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Anak mungkin melupakan nasihat yang panjang, tetapi tidak akan lupa bagaimana ayahnya menjalani hidup.
Jika seorang ayah melarang merokok tetapi melakukannya di hadapan anak, maka yang tertanam bukan larangan, melainkan kebiasaan itu sendiri. Jika ayah melarang keluar malam tetapi dirinya menikmati waktu hingga larut di luar rumah, maka larangan itu kehilangan wibawa. Pendidikan tidak runtuh karena kurangnya kata-kata, tetapi karena tidak adanya kesesuaian antara ucapan dan tindakan.
Rumah dalam Islam bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah madrasah pertama. Tempat nilai ditanamkan tanpa banyak teori. Dalam rumah Nabi Ibrahim, yang hidup adalah tauhid, doa, ibadah, dan pengorbanan. Dari lingkungan seperti itulah lahir generasi yang kokoh dalam iman.
Bandingkan dengan sebagian rumah hari ini yang dipenuhi distraksi tanpa kendali. Hiburan hadir tanpa batas. Waktu berlalu tanpa arah. Nilai menjadi kabur karena tidak ada penjagaan. Dalam situasi seperti itu, wajar jika anak tumbuh tanpa pegangan yang kuat.
Kedekatan antara orang tua dan anak memang penting. Namun kedekatan tidak harus dibangun dengan cara yang salah. Menjadi dekat bukan berarti menghapus batas. Orang tua tetap harus berdiri sebagai pembimbing, bukan larut sebagai teman dalam kelalaian.
Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kedekatan yang sehat dibangun melalui iman, dialog, dan keteladanan. Ia berbicara dengan anaknya, melibatkan perasaannya, tetapi tetap menjaga posisi sebagai pemimpin dalam kebenaran. Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam pola asuh masa kini.
Pada akhirnya, setiap orang tua perlu kembali melihat dirinya sendiri sebelum menuntut anaknya. Jika ingin anak mencintai shalat, mulailah dengan menjaga shalat secara serius. Jika ingin anak dekat dengan masjid, biasakan diri untuk hadir di dalamnya. Jika ingin anak menjauhi keburukan, pastikan rumah bersih dari kebiasaan yang mendekatkan pada dosa.
Anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka mengamati siapa diri kita. Mereka belajar dari cara kita bersikap, dari pilihan yang kita ambil, dan dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari.
Sejarah telah membuktikan bahwa Nabi Ibrahim tidak sekadar melahirkan anak. Ia membentuk generasi. Generasi yang berdiri di atas tauhid, lahir dari keteladanan yang nyata. Dari situlah kita memahami bahwa pendidikan terbaik bukan dimulai dari kata-kata, melainkan dari diri yang lebih dahulu ditata dengan sungguh-sungguh.
*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Bulukumba 2017-2022.



