Kamis, Juni 18, 2026
BerandaArtikelSemua Orang Sedang Berjuang, Tetapi Tidak Semua Menuju Arah yang Sama

Semua Orang Sedang Berjuang, Tetapi Tidak Semua Menuju Arah yang Sama

Oleh : Ahmad Firdaus*

Sering kali kita heran melihat semangat sebagian orang dalam perkara yang menurut kita tidak begitu bermanfaat. Ada yang rela begadang hingga larut malam untuk bermain domino. Ada yang menempuh perjalanan jauh demi sebuah hiburan. Ada pula yang menghabiskan berjam-jam waktunya untuk aktivitas yang tidak mendekatkan dirinya kepada Allah sedikit pun.

Namun jika dipikirkan lebih jauh, mereka pun mungkin merasakan keheranan yang sama terhadap kita. Mereka melihat orang-orang yang hampir tidak pernah lepas dari kegiatan agama. Mengajar Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, mengurus masjid, berdakwah, membina masyarakat, menghadiri kajian, dan berbagai aktivitas kebaikan lainnya. Di mata mereka, semua itu tampak melelahkan dan menyita banyak waktu.

Sesungguhnya, kedua kelompok itu memiliki satu kesamaan. Keduanya sedang berjuang.

Orang yang bangun sebelum Subuh untuk melangkahkan kaki ke masjid sedang berjuang melawan kantuknya. Orang yang menghabiskan malam untuk permainan dan hiburan juga sedang berjuang melawan rasa lelahnya.

Orang yang mengeluarkan hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam sedang berkorban. Orang yang menghabiskan hartanya untuk kesenangan dunia juga merasa sedang berkorban.

Karena itu, ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada ada atau tidaknya perjuangan. Sebab setiap manusia pasti berjuang. Yang membedakan adalah arah perjuangannya dan tujuan yang hendak dicapainya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)

Ayat yang agung ini mengandung pelajaran penting bahwa seluruh manusia sedang bekerja keras dalam hidupnya. Tidak ada yang benar-benar diam. Tidak ada yang hidup tanpa kesibukan. Tidak ada yang terbebas dari kelelahan. Semua sedang berjalan menuju akhir perjalanan yang sama, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.

Yang membedakan mereka hanyalah jalan yang dipilih selama perjalanan itu berlangsung.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati manusia tidak pernah lepas dari kecintaan, keinginan, dan kesibukan. Seseorang pasti mencintai sesuatu, mengejar sesuatu, dan mengorbankan sesuatu. Ada yang mengarahkan seluruh kecintaan dan kesibukannya kepada Allah dan kehidupan akhirat. Ada pula yang menjadikannya untuk dunia dan hawa nafsu.

Demikian pula Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa manusia selalu bergerak menuju suatu tujuan. Karena itu, orang yang berakal adalah orang yang menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan tertingginya, bukan sekadar kenikmatan sesaat yang akan lenyap bersama berlalunya waktu.

Sementara itu, Shalih al-Fauzan sering mengingatkan bahwa kebatilan tidak akan pernah tegak tanpa pengorbanan dari para pengikutnya. Mereka bekerja keras untuk menyebarkan, membela, dan mempertahankannya. Oleh sebab itu, para pembela kebenaran tidak boleh kalah semangat dalam memperjuangkan agama Allah.

Nasihat yang senada juga sering disampaikan oleh Abdurrazzaq al-Badr. Beliau menegaskan bahwa hati manusia tidak mungkin kosong. Jika tidak diisi dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, dan ketaatan, maka ia akan dipenuhi oleh berbagai perkara yang melalaikan, bahkan bisa menyeret kepada kerusakan.

Karena itu, ketika ada orang yang heran melihat kesibukan kita dalam agama, tidak perlu merasa aneh. Mereka sedang memandang dari sudut dunia yang mereka cintai. Sebagaimana kita pun terkadang merasa heran melihat semangat mereka dalam mengejar perkara yang menurut kita tidak memiliki nilai di sisi Allah.

Seorang mukmin yang bijak tidak akan menghabiskan hidupnya untuk menghitung kesalahan orang lain. Ia justru lebih sibuk melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri.

Ia bertanya,

“Untuk apa tenagaku habis?”

“Untuk apa waktuku berlalu?”

“Untuk apa hartaku digunakan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menilai kehidupan orang lain. Sebab pada hari kiamat nanti, yang akan ditanyakan bukan hanya seberapa besar tenaga, waktu, dan harta yang telah kita korbankan, tetapi juga ke mana semuanya diarahkan.

Setiap manusia memiliki kelelahan.

Setiap manusia memiliki pengorbanan.

Setiap manusia memiliki perjuangan.

Namun tidak semua perjuangan memiliki nilai yang sama di sisi Allah.

Maka berbahagialah orang yang lelah dalam ketaatan. Berbahagialah orang yang menghabiskan usianya untuk menuntut ilmu, berdakwah, beribadah, membantu sesama, dan menegakkan kebaikan. Sebab ketika usia telah berakhir dan seluruh kesibukan dunia ditutup, yang tersisa bukanlah cerita tentang betapa sibuknya kita, melainkan untuk apa kesibukan itu digunakan.

Pada akhirnya, semua orang memang sedang berjuang. Tetapi hanya orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya yang akan menemukan bahwa seluruh lelahnya berubah menjadi kemuliaan yang abadi.

*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Bulukumba 2017-2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments