Gowa (HidayatullahSulsel.or.id) – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan di Aula Abdullah Said, Pondok Pesantren Tahfidz Quran (PPTQ) Ashabul Jannah, Bollangi, Kabupaten Gowa, Sabtu (4/7/2026).
Rakerwil yang mengusung tema “Pemuda Menggerakkan Bangsa” tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 Juli 2026, dan diikuti jajaran Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan bersama pengurus daerah (PD) Pemuda Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi agenda strategis untuk menyusun program kerja tahunan sekaligus merumuskan arah gerakan kepemudaan Hidayatullah di tingkat wilayah.
Pembukaan Rakerwil turut dihadiri unsur Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, PW Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan, DPD Hidayatullah Kabupaten Gowa, Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar, Yayasan Ashabul Jannah Gowa, BEM STAI Al-Bayan Makassar, serta mahasiswa Pesmadai Makassar.
Sebelum pembukaan resmi, peserta menerima sambutan dari Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Rahmat Ghafur Rachman, S.E., dilanjutkan Kepala Departemen Organisasi PP Pemuda Hidayatullah, Zulfahmi, Lc., kemudian ditutup dengan arahan sekaligus pembukaan resmi oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman.
Dalam arahannya, Ustadz Dr. Muhammad Saleh menegaskan bahwa Pemuda Hidayatullah harus tampil sebagai generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus keberanian dalam memikul amanah dakwah dan kepemimpinan.
Menurutnya, karakter tersebut selaras dengan sejarah Sulawesi Selatan yang telah melahirkan banyak tokoh besar yang dikenal cerdas dan pemberani, seperti Arung Palakka dari Bone dan Sultan Hasanuddin dari Gowa. Semangat kepahlawanan itu, kata dia, harus diwarisi oleh kader-kader Pemuda Hidayatullah dalam bentuk kerja nyata membangun umat dan bangsa.
Selain menekankan kualitas kepemimpinan, ia juga menyoroti perlunya peningkatan etos kerja para kader muda.
“Saat ini saya lihat kekuatan pemuda baru sekitar 30 persen yang dikerahkan. Belum maksimal. Kita butuh tancap gas. Injak gas sampai 100 kilometer per jam,” tegasnya.
Namun demikian, menurutnya, energi perjuangan seorang kader tidak hanya bertumpu pada kemampuan organisasi, melainkan harus bersumber dari kekuatan spiritual.
Ia mengingatkan bahwa qiyamul lail merupakan fondasi utama yang akan melahirkan ketangguhan seorang dai dan aktivis dakwah.
“Shalat lail itu modal pemuda dalam melakukan peran dakwah. Lihat Surah Al-Muddatstsir. Perintah dakwah diawali dengan perintah qiyamul lail. Bangun malam, baru siap menebar risalah,” ujarnya.
Ustadz Muhammad Saleh Usman juga mengingatkan bahwa gerakan Hidayatullah dibangun di atas visi Al-Qur’an yang berawal dari wahyu pertama, Iqra’ bismi rabbik, sehingga setiap kader dituntut menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan berpikir, bergerak, dan memimpin.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengulas pentingnya Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah Hidayatullah, yakni metodologi yang dirumuskan oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz KH Abdullah Said rahimahullahu, melalui ijtihad menjadikan urutan turunnya wahyu (tartib nuzuli) sebagai kerangka pembinaan kader dan pengembangan organisasi.
“SW ini adalah kekuatan kita di Hidayatullah. Dengan adanya Sistematika Wahyu, kita memiliki panduan yang jelas dalam membina kader dan mengelola organisasi. Dari situlah Hidayatullah dapat terus eksis hingga hari ini dan, insya Allah, akan terus berlanjut pada masa mendatang,” ujar Ustadz Muhammad Saleh Usman.
Melalui Rakerwil tersebut, Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan diharapkan menghasilkan program-program strategis yang mampu memperkuat peran organisasi dalam pembinaan kader, pelayanan umat, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui gerakan dakwah, pendidikan, dan kepemudaan.



