Beranda blog Halaman 5

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Rapat Pleno di Pinrang, Bahas Evaluasi dan Sinkronisasi Program 2026

0

Pinrang, (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar Rapat Pleno di Rumah Quran Sudirman, Malimpung, Kabupaten Pinrang, Senin (1/6/2026). Rapat ini dihadiri jajaran pengurus wilayah, daerah (DPD), serta perwakilan cabang (DPC) se-Sulawesi Selatan.

Agenda utama rapat mencakup monitoring dan evaluasi lima bulan kepengurusan periode Januari–Mei 2026, serta penyusunan dan sinkronisasi program kerja untuk sisa tahun 2026.

Dalam sesi evaluasi, DPW menelaah capaian program secara berjenjang mulai dari tingkat wilayah, daerah, hingga cabang. Fokus evaluasi meliputi pembinaan dai, pengembangan pesantren, rumah tahfiz, serta program sosial bagi mualaf di wilayah terpencil.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel dalam arahannya menegaskan pentingnya evaluasi sebagai instrumen penguatan organisasi. “Evaluasi bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menguatkan. Program di cabang harus selaras dengan arah besar Hidayatullah Sulsel. Kita bekerja secara kolektif, bukan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Selain evaluasi, rapat juga membahas penyusunan roadmap program kerja hingga akhir 2026. Pembahasan difokuskan pada penguatan dakwah di wilayah pedalaman, kaderisasi, pemberdayaan ekonomi umat, serta peningkatan kolaborasi dengan lembaga amil zakat seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Pemilihan Kabupaten Pinrang sebagai lokasi rapat pleno didasarkan pada peran strategis wilayah tersebut sebagai salah satu basis pengembangan pesantren dan dakwah mualaf di Sulawesi Selatan.

Rapat berlangsung dinamis dengan sesi diskusi, penyampaian laporan dari DPD, serta pemaparan target program kerja ke depan. Hasil rapat pleno ini akan menjadi pedoman bagi seluruh jajaran DPW, DPD, dan DPC Hidayatullah Sulsel dalam menjalankan program hingga akhir tahun 2026.*/Rsk

Menjadi Teladan Sebelum Menuntut Ketaatan, Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak

0
Oleh : Ahmad Firdaus*

Hari ini banyak orang tua merasa cemas melihat pergaulan anak yang kian lepas arah. Nongkrong di kafe hingga larut, permainan tanpa batas, kebiasaan merokok, bahkan sebagian mulai akrab dengan minuman yang diharamkan. Keluhan itu terdengar di banyak rumah. Namun ada satu pertanyaan yang sering luput diajukan dengan jujur. Sudahkah orang tua benar-benar menjadi pintu kebaikan bagi anaknya, atau justru tanpa sadar menjadi jalan pertama menuju kerusakan itu sendiri.

Tidak sedikit ayah yang merasa bangga ketika anaknya mulai dianggap dewasa dengan cara yang keliru. Diajak duduk bersama dalam suasana santai yang melampaui batas, berbagi kebiasaan yang semestinya dijauhi, bahkan menjadikan keburukan sebagai simbol kedekatan. Di titik itulah seorang ayah perlahan kehilangan posisi terpentingnya. Ia tidak lagi berdiri sebagai teladan, melainkan turun menjadi sekadar teman dalam kelalaian.

Islam tidak pernah meletakkan pendidikan anak pada sekadar nasihat. Ia dimulai dari keteladanan yang hidup. Sosok Nabi Ibrahim memberi pelajaran yang sangat mendasar dalam hal ini. Ketika beliau berdoa, yang pertama kali dimohon bukanlah kebaikan anaknya, melainkan kebaikan dirinya sendiri. Allah mengabadikan doa itu dalam Al Quran

“Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat, dan juga keturunanku.”

Doa ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ibrahim memulai dari dirinya. Ia tidak menuntut anaknya menjadi baik sebelum memastikan dirinya berada di jalan yang benar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan paling kuat bukanlah instruksi, melainkan contoh yang konsisten.

Anak tidak tumbuh dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka merekam kebiasaan, bukan sekadar kata-kata. Jika seorang ayah menjaga shalatnya, anak akan melihat bahwa shalat adalah kebutuhan. Jika ayah menjaga lisannya, anak belajar tentang kehormatan. Jika ayah menjauhi yang haram, anak memahami batas tanpa harus banyak dijelaskan.

Sebaliknya, ketika rumah dipenuhi kontradiksi, nasihat kehilangan makna. Larangan menjadi lemah karena tidak memiliki pijakan. Anak belajar bahwa ucapan bisa berbeda dengan perbuatan. Dan pada akhirnya, yang ditiru bukanlah nasihat, melainkan kehidupan nyata yang mereka saksikan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi gambaran paling jelas tentang pendidikan berbasis keteladanan. Ketika perintah berat datang untuk menyembelih anaknya, Ibrahim tidak memaksakan kehendak dengan tekanan. Ia membuka ruang dialog yang penuh iman

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Jawaban Ismail bukanlah jawaban anak biasa

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ketaatan seperti ini tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari proses panjang. Sejak kecil Ismail menyaksikan ayahnya hidup dalam kepatuhan total kepada Allah. Ia melihat kejujuran, kesabaran, dan keteguhan. Maka ketika ujian datang, nilai itu sudah tertanam kuat dalam dirinya.

Di sinilah letak kunci pendidikan. Anak yang terbiasa melihat kebaikan akan lebih mudah menerima kebenaran. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam suasana permisif terhadap dosa akan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Apa yang awalnya tampak ringan, lama-lama menjadi bagian dari identitas.

Ibnul Qayyim pernah mengingatkan bahwa kerusakan anak sering kali berakar dari orang tuanya. Rumah adalah tempat pertama anak memahami dunia. Jika di dalamnya nilai kabur, batas menjadi samar. Jika keburukan dianggap wajar, maka anak akan tumbuh tanpa kompas yang jelas.

Banyak orang tua ingin anaknya menjauhi kebiasaan buruk, tetapi tidak berani menertibkan dirinya sendiri. Mereka ingin anak disiplin, tetapi hidupnya longgar. Mereka ingin anak menjaga waktu, tetapi dirinya akrab dengan kelalaian. Ketidaksinkronan ini membuat pendidikan kehilangan daya pengaruh.

Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan bahwa manusia lebih mudah belajar dari perbuatan dibandingkan dari ucapan. Ini bukan sekadar ungkapan hikmah, melainkan realitas yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Anak mungkin melupakan nasihat yang panjang, tetapi tidak akan lupa bagaimana ayahnya menjalani hidup.

Jika seorang ayah melarang merokok tetapi melakukannya di hadapan anak, maka yang tertanam bukan larangan, melainkan kebiasaan itu sendiri. Jika ayah melarang keluar malam tetapi dirinya menikmati waktu hingga larut di luar rumah, maka larangan itu kehilangan wibawa. Pendidikan tidak runtuh karena kurangnya kata-kata, tetapi karena tidak adanya kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Rumah dalam Islam bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah madrasah pertama. Tempat nilai ditanamkan tanpa banyak teori. Dalam rumah Nabi Ibrahim, yang hidup adalah tauhid, doa, ibadah, dan pengorbanan. Dari lingkungan seperti itulah lahir generasi yang kokoh dalam iman.

Bandingkan dengan sebagian rumah hari ini yang dipenuhi distraksi tanpa kendali. Hiburan hadir tanpa batas. Waktu berlalu tanpa arah. Nilai menjadi kabur karena tidak ada penjagaan. Dalam situasi seperti itu, wajar jika anak tumbuh tanpa pegangan yang kuat.

Kedekatan antara orang tua dan anak memang penting. Namun kedekatan tidak harus dibangun dengan cara yang salah. Menjadi dekat bukan berarti menghapus batas. Orang tua tetap harus berdiri sebagai pembimbing, bukan larut sebagai teman dalam kelalaian.

Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kedekatan yang sehat dibangun melalui iman, dialog, dan keteladanan. Ia berbicara dengan anaknya, melibatkan perasaannya, tetapi tetap menjaga posisi sebagai pemimpin dalam kebenaran. Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam pola asuh masa kini.

Pada akhirnya, setiap orang tua perlu kembali melihat dirinya sendiri sebelum menuntut anaknya. Jika ingin anak mencintai shalat, mulailah dengan menjaga shalat secara serius. Jika ingin anak dekat dengan masjid, biasakan diri untuk hadir di dalamnya. Jika ingin anak menjauhi keburukan, pastikan rumah bersih dari kebiasaan yang mendekatkan pada dosa.

Anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka mengamati siapa diri kita. Mereka belajar dari cara kita bersikap, dari pilihan yang kita ambil, dan dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari.

Sejarah telah membuktikan bahwa Nabi Ibrahim tidak sekadar melahirkan anak. Ia membentuk generasi. Generasi yang berdiri di atas tauhid, lahir dari keteladanan yang nyata. Dari situlah kita memahami bahwa pendidikan terbaik bukan dimulai dari kata-kata, melainkan dari diri yang lebih dahulu ditata dengan sungguh-sungguh.

*Penulis adalah Pimpinan BAZNAS Bulukumba 2017-2022.

Madrasah Kenabian – Fajar Wahyu (6); ‘Allamal Insaana Maa Lam Ya‘lam: Hakikat Ilmu, Kesadaran Ketidaktahuan, dan Kerendahan Epistemologis Manusia

0
Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*
Ayat yang Menghancurkan Kesombongan Manusia

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan sebuah bangunan yang sangat utuh dan terencana. Ayat pertama memerintahkan membaca sebagai gerbang ilmu. Ayat kedua mengingatkan asal-usul manusia sebagai fondasi kerendahan. Ayat ketiga memperkenalkan Allah sebagai Al-Akram yang memuliakan aktivitas belajar. Ayat keempat menetapkan qalam sebagai instrumen peradaban. Kemudian,  bangunan itu ditutup dengan ayat kelima yang sangat mengejutkan:

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al-‘Alaq/96: 5)

Mengapa ayat kelima wahyu pertama ini disebut sangat mengejutkan? Karena ia melakukan sesuatu yang sangat tidak lazim dalam tradisi pembukaan sebuah ajaran besar. Ayat ini menegaskan tentang ketidaktahuan manusia, bukan dengan memuji kemampuannya. Di saat peradaban-peradaban besar lain sering memulai narasi kebudayaan mereka dengan membanggakan kecerdasan atau kemuliaan asal-usul manusia, surah kelima dari wahyu pertama turun justru memulainya dengan pengakuan jujur bahwa manusia tidak tahu, dan Allah-lah yang mengajarnya.

Inilah fondasi epistemologi Islam yang paling mendasar, sebuah paradigma yang mengubah seluruh orientasi belajar dari kesombongan menuju kerendahan, dari klaim menuju pengakuan, dan dari kepuasan menuju rasa haus yang tidak pernah padam terhadap ilmu.

Epistemologis Ayat Kelima: Manusia lahir dalam keadaan tidak tahu.

Frasa maa lam ya’lam, ‘apa yang tidak diketahuinya’, mengandung dimensi yang sangat luas dalam bahasa Arab. Kata maa di sini bersifat umum dan tak terbatas, mencakup semua hal tanpa pengecualian. Artinya, manusia pada dasarnya tidak mengetahui apa pun, dan seluruh yang diketahuinya adalah semata karena Allah telah mengajarkannya. Ini bukan pernyataan tentang satu bidang ilmu tertentu, melainkan tentang hakikat kondisi epistemologis manusia secara universal dan mendasar.

Para mufassir seperti Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb dan Imam Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil menyepakati bahwa ayat ini adalah penegasan tentang posisi manusia sebagai makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam hal pengetahuan. Manusia bukan sumber ilmu, ia adalah penerima ilmu. Dan penerima yang baik adalah yang selalu membuka tangannya, bukan yang merasa tangannya sudah penuh.

Al-Quran memperkuat prinsip ini di tempat lain dengan cara yang sangat tegas, bahkan tentang hal yang paling akrab dengan manusia, yaitu ruh dirinya sendiri:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.” (QS. Al-Isra/17: 85)

Ayat ini sangat telak. Manusia bahkan tidak memahami sepenuhnya hakikat dirinya sendiri. Jika tentang ruh yang ada dalam dirinya saja manusia hanya diberi pengetahuan yang sangat sedikit, bagaimana manusia bisa merasa telah mengetahui realitas alam semesta yang jauh lebih luas dan kompleks ?. Kesadaran ini bukan pesimisme, melainkan landasan paling sehat bagi pertumbuhan intelektual yang berkelanjutan.

Kesombongan Intelektual Sebagai Akar Kerusakan Peradaban

Al-Quran tidak hanya menyatakan prinsip kerendahan epistemologis secara positif, tetapi juga menunjukkan konsekuensi menghancurkan dari lawannya: kesombongan intelektual. Contoh paling dramatis dalam Al-Quran adalah Fir’aun, seorang penguasa yang bukan hanya sombong dalam kekuasaan, tetapi terutama sombong dalam pengetahuan:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْۚ

“Dan berkata Fir’aun, “Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. al-Qashash/28: 38)

Pernyataan Fir’aun ini adalah puncak dari apa yang terjadi ketika kekuasaan bertemu dengan kesombongan epistemologis. Ia tidak berkata ‘aku tidak peduli dengan tuhan lain,’ tetapi ‘aku tidak mengetahui tuhan lain.’ Ia menggunakan bahasa pengetahuan untuk melegitimasi penolakan terhadap kebenaran. Ini adalah strategi yang sangat berbahaya dan terus berulang dalam sejarah, yaitu menggunakan klaim pengetahuan untuk menutup diri dari kebenaran yang tidak nyaman.

Sejarah memperlihatkan pola yang konsisten bahwa peradaban-peradaban besar jatuh bukan ketika mereka miskin ilmu, melainkan ketika mereka terlalu puas dengan ilmu yang sudah dimiliki dan berhenti mencari. Romawi jatuh sebagian karena kelembaman intelektualnya. Khalifah Abbasiyah mulai melemah ketika budaya ilmu digantikan oleh budaya kemewahan dan kepuasan diri.

Ketidak Tahuan Sebagai Jalan Menuju Allah

Dalam perspektif sufistik, kesadaran akan ketidaktahuan bukan hanya prasyarat intelektual, tetapi juga merupakan pintu masuk menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Inilah yang para sufi sebut sebagai maqam al-hayrah, station of bewilderment atau kedudukan keterpukauan di hadapan kebesaran Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyatakan bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu yang membuat pemiliknya semakin sadar akan keagungan Allah dan semakin menyadari keterbatasan dirinya.

Ibn Atha’illah as-Sakandari, menulis dalam Al-Hikam, bahwa salah satu tanda ilmu yang sejati adalah semakin lebur dan hilangnya diri dalam keagungan Allah. Orang yang semakin berilmu dalam perspektif tasawuf bukan orang yang semakin besar kepribadiannya, melainkan orang yang semakin melihat betapa kecilnya diri di hadapan Yang Maha Mengetahui. Beliau juga menyatakan bahwa Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang membuat manusia semakin merasakan ketidakberdayaannya di hadapan Allah, bukan ilmu yang membuatnya merasa paling menguasai realitas.

Imam Asy-Syafi’i, salah satu imam mazhab terbesar dalam sejarah Islam, menyampaikan pernyataan yang sangat terkenal tentang hal ini: ‘Semakin bertambah ilmuku, semakin bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.’ Pernyataan ini bukan retorika kerendahan diri yang dibuat-buat. Ia adalah laporan jujur dari seorang yang sungguh-sungguh telah menyelam jauh ke dalam samudera ilmu dan menyaksikan sendiri betapa luasnya yang belum terjangkau.

Kebodohan Yang Tidak Menyadari Dirinya

Psikologi kognitif modern, menemukan secara empiris apa yang telah diajarkan wahyu secara normatif. Dari berbagai penelitian terkonfirmasi bahwa kesadaran akan ketidaktahuan adalah kondisi kognitif yang paling produktif bagi proses belajar.

Psikologi kognitif mengenal fenomena yang kini sangat terkenal dengan nama Dunning-Kruger Effect. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan yang hampir universal pada manusia bahwa mereka yang paling sedikit mengetahui suatu bidang justru paling yakin dan percaya diri dalam penilaian mereka, sementara mereka yang benar-benar ahli cenderung jauh lebih berhati-hati dan meragukan kesimpulan mereka sendiri.

Krisis epistemis modern semakin diperparah oleh fenomena confirmation bias, yaitu kecenderungan otak manusia untuk secara selektif mencari, menginterpretasikan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dipegang sebelumnya. Manusia secara alami membangun ‘gelembung informasi’ di sekitar dirinya yang memperkuat keyakinan yang sudah ada dan menolak informasi yang bertentangan.

Di era media sosial, algoritma justru memperkuat gelembung ini, menciptakan apa yang disebut sebagai ‘filter bubble’ yang membuat seseorang semakin merasa benar padahal semakin miskin perspektif. Al-Quran menyebut kondisi ini dengan istilah yang sangat tepat, yaitu mengikuti hawa nafsu dalam berpikir. Allah berfirman dalam QS. Al-Jatsiyah/45: 23

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran ?.

Ayat ini sangat menarik, sebab ternyata seseorang bisa tersesat bukan karena tidak berilmu, tetapi justru karena ilmunya digunakan untuk melayani hawa nafsu dan ilmu mengantarkannya pada kesombongan. Ini adalah peringatan yang sangat keras tentang ilmu yang tidak disertai kerendahan hati.

Otak Yang Paling Aktif Adalah Otak Yang Merasa Belum Tahu

Salah satu penemuan paling menarik dalam neurosains pendidikan terakhir adalah pembuktian bahwa rasa ingin tahu bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan sebuah mekanisme neurologis yang sangat spesifik dan sangat kuat dalam mendorong proses belajar. Yang lebih mengejutkan, rasa ingin tahu yang dipicu oleh satu pertanyaan juga meningkatkan kemampuan otak untuk mengingat informasi lain yang sama sekali tidak terkait dengan pertanyaan tersebut. Otak yang sedang dalam kondisi ‘belum tahu’ secara literal berada dalam kondisi paling siap dan paling responsif untuk belajar.

Temuan ini memberikan dasar neurobiologis yang sangat kuat bagi prinsip wahyu yang menempatkan kesadaran ketidaktahuan sebagai titik awal belajar. Ketika Allah mengajarkan manusia ‘apa yang tidak diketahuinya’, Ia secara biologis memulai proses dari kondisi yang paling optimal secara neurologis: kondisi ketidaktahuan yang disadari, yang mengaktifkan sistem motivasi terdalam dalam otak manusia.

Inilah mengapa doa yang Allah perintahkan langsung kepada Rasulullah ﷺ adalah doa yang paling mengejutkan bagi seorang yang menerima wahyu ilahi:

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Dan katakanlah, Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Thaha/20 : 114)

Nabi yang menerima wahyu langsung dari Allah, yang kepada beliau Al-Quran diturunkan secara utuh, masih diperintahkan untuk meminta tambahan ilmu. Ini bukan retorika. Ini adalah deklarasi bahwa tidak ada satu titik pun dalam perjalanan hidup manusia di mana ia boleh merasa pengetahuannya sudah cukup. Ketidaktahuan yang terus disadari adalah bahan bakar pertumbuhan intelektual yang tidak pernah habis.

Krisis di Era Modern: Terlalu Cepat Merasa Tahu

Paradoks terbesar peradaban digital adalah bahwa manusia hari ini memiliki akses terhadap lebih banyak informasi daripada seluruh perpustakaan yang pernah ada dalam sejarah, namun justru semakin sulit menemukan manusia yang sungguh-sungguh rendah hati dalam pengetahuannya. Media sosial telah menciptakan budaya dimana setiap orang merasa memiliki otoritas untuk berpendapat tentang segala hal. Bidang kedokteran, politik, teologi, ekonomi, dan filsafat, semuanya dengan keyakinan penuh berdasarkan beberapa menit membaca di layar ponsel.

Ini bukan kemajuan intelektual. Ini adalah regresi epistemologis yang sangat berbahaya. Manusia yang tidak bisa membedakan antara mengetahui, memahami, dan memiliki hikmah adalah manusia yang paling rentan terhadap manipulasi informasi, paling mudah terjebak dalam radikalisme, dan paling sulit untuk berubah dan bertumbuh. Umar Abdul Aziz rahimahullah berkata,

ما عدمت من الأحمق فلن تعدم خَلتين، سرعة الجواب وكثرة الالتفات

“Aku selalu menjumpai orang yang bodoh tidak lepas dari dua tabiat: cepat menjawab dan banyak menoleh.”

Imam Malik bin Anas, yang hafal puluhan ribu hadits dan menjadi rujukan seluruh dunia Islam, terkenal karena sangat sering menjawab pertanyaan dengan laa adri. Beliau pernah berkata bahwa jawaban ‘aku tidak tahu’ adalah separuh dari ilmu. Karena mengetahui batas pengetahuan sendiri adalah bagian paling jujur dan paling penting dari ilmu itu sendiri.

Pendidikan Yang Melahirkan Pencari Ilmu Sejati

Prinsip ‘allamal insaana maa lam ya’lam” memiliki implikasi yang sangat konkret bagi reformasi pendidikan Islam. Jika ilmu sejatinya adalah pemberian Allah kepada makhluk yang pada dasarnya tidak tahu, maka seluruh orientasi pendidikan harus berubah: dari menghasilkan manusia yang merasa paling tahu menjadi manusia yang paling tahu cara terus belajar.

Pendidikan Islam yang benar harus melahirkan tiga tipe manusia sekaligus. Pertama, pencari ilmu yang tidak pernah puas, yang selalu merasakan bahwa setiap jawaban membuka pintu menuju pertanyaan baru yang lebih dalam. Kedua, pecinta kebenaran yang lebih mencintai fakta daripada ego, yang lebih memilih dikoreksi daripada terus dalam kesalahan. Ketiga, jiwa yang rendah di hadapan pengetahuan, yang semakin banyak belajar semakin merasa betapa kecilnya dirinya di hadapan luasnya ilmu Allah.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim (HR. Ibn Majah , dishahihkan Al-Albani)

Kata thalab dalam hadits ini berarti pencarian yang aktif dan terus-menerus, bukan penerimaan yang pasif. Seorang Muslim yang berhenti mencari ilmu bukan hanya meninggalkan keutamaan, ia meninggalkan kewajiban. Dan motivasi paling dalam untuk terus mencari adalah kesadaran bahwa apa yang sudah diketahui hanyalah sebagian sangat kecil dari apa yang belum diketahui.

Kembali Menjadi Murid Kehidupan

Ayat kelima surah Al-‘Alaq merupakan sebuah pernyataan yang sesungguhnya adalah undangan terbuka kepada seluruh manusia di sepanjang zaman bahwa engkau tidak tahu, dan Allah siap mengajarmu. Ini adalah undangan yang paling mulia, dari Tuhan Yang Maha Mengetahui kepada makhluk yang terbatas pengetahuannya, untuk terus berjalan dalam cahaya ilmu tanpa pernah berhenti.

Para ulama besar dalam sejarah Islam adalah orang-orang yang paling serius menerima undangan ini. Imam Al-Bukhari meriwayatkan lebih dari enam ratus ribu hadits dan hanya memilih sekitar tujuh ribu yang memenuhi standar keshahihannya yang sangat ketat, bukan karena yang lain tidak ia ketahui, tetapi karena ia sangat sadar tentang tanggung jawab ilmiah yang harus dipikulnya. Ibn Rushd, Al-Biruni, Ibn Sina, dan seluruh ilmuwan besar peradaban Islam memiliki satu kesamaan yang paling mendasar yakni rasa haus yang tidak pernah padam terhadap ilmu, lahir dari kesadaran yang sangat dalam bahwa yang belum diketahui selalu jauh lebih besar dari yang sudah diketahui.

Di era modern yang penuh kesombongan intelektual ini, dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang merasa paling benar. Dunia membutuhkan lebih banyak jiwa yang berani berkata dengan jujur “aku belum tahu, maka aku harus terus belajar”. Karena dari kejujuran sederhana itulah seluruh kebangkitan peradaban pernah dimulai, dan dari sanalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan baru harus dirintis kembali.

Maqam tertinggi seorang yang berilmu dalam perspektif wahyu bukan ketika ia merasa telah menguasai segalanya, melainkan ketika ia berdiri di tepi samudera pengetahuan yang tak terbatas dan dengan penuh kekaguman berkata, seperti yang setiap ulama Muslim merasakan tentang ilmu Allah ‘Aku hanyalah seorang anak kecil yang bermain di tepi pantai, sementara samudera kebenaran yang agung terbentang tak terjangkau di hadapanku.’

Pos Dai Sulsel Turunkan Tokoh Nasional dan Daerah Jadi Khatib Idul Adha, Perkuat Dakwah Hingga Wilayah Minoritas

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) – Pos Dai Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mengoptimalkan perannya dalam penguatan dakwah dengan menurunkan puluhan dai dan muballigh sebagai khatib Salat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi di berbagai wilayah, termasuk menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah Hidayatullah.

Ketua Pos Dai Sulsel, Ustadz Dr. Khairun Misjaya, M.Pd.I, menegaskan bahwa penugasan tahun ini tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga strategis dengan melibatkan figur-figur kunci untuk memperkuat kualitas pesan keumatan.

“Momentum Idul Adha harus diisi oleh para dai yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang kuat. Karena itu, kami menurunkan tokoh-tokoh nasional dan daerah agar pesan yang disampaikan benar-benar berdampak,” ujarnya.

Sejumlah tokoh penting Hidayatullah dijadwalkan mengisi khutbah di berbagai daerah. Di Kota Parepare, khutbah Idul Adha akan disampaikan oleh Ustadz Dr. Tasyrif Amin, yang merupakan Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, sebuah posisi strategis dalam pembinaan kader secara nasional.

Sementara itu di Makassar, Ustadz Dr. Muhammad Shaleh yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sulsel dijadwalkan menjadi khatib di Lapangan Tala 50 BTP. Tokoh lainnya, Ustadz Drs. H. Ahkam Sumadiana, M.A., yang dikenal sebagai Murabbi Nasional Hidayatullah, turut mengambil bagian sebagai khatib.

Peran strategis juga terlihat dari keterlibatan Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A., Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, yang ikut mengisi khutbah di Makassar. Selain itu, Ustadz Dr. Nasrullah bin Sapa, Lc., M.M., anggota DMW Hidayatullah Sulsel sekaligus pengurus MUI Sulsel, dijadwalkan menjadi khatib di Lapangan Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep.

Di wilayah yang sama, Ustadz Dr. Abdul Qadir Mahmud, Ketua STAI Al-Bayan Sulsel, juga akan menyampaikan khutbah di Masjid Besar Kecamatan Balocci. Sementara itu, Ustadz KH. M. Nashrullah Alwi, Lc., M.M., pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, ditugaskan di Lapangan Desa Singki, Enrekang.

Nama lain yang turut mendapat sorotan adalah Ustadz Drs. Muhammad Kaisar, pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, yang dijadwalkan menjadi khatib di lingkungan Pesantren Hidayatullah Makassar.

Distribusi dai tahun ini juga menjangkau wilayah-wilayah yang memiliki tantangan dakwah lebih kompleks, seperti Toraja Utara. Di daerah yang dikenal sebagai wilayah minoritas Muslim tersebut, Pos Dai Sulsel menugaskan dai untuk tetap menghadirkan syiar Idul Adha, di antaranya melalui khutbah di Masjid Al-Huda Balusu.

Selain Torut, penugasan juga menjangkau wilayah Luwu Raya, Soppeng, Bone, Sinjai, Bulukumba, hingga Takalar, menunjukkan komitmen Pos Dai dalam memastikan pemerataan layanan dakwah.

Khairun Misjaya menekankan bahwa kehadiran para dai di berbagai titik ini merupakan bagian dari strategi dakwah terstruktur yang tidak hanya berorientasi pada momentum hari raya.

“Penugasan ini adalah bagian dari pembinaan umat secara berkelanjutan. Khutbah Idul Adha menjadi pintu masuk untuk memperkuat akidah, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” jelasnya.

Dengan melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh dan menjangkau wilayah hingga pedalaman serta daerah minoritas Muslim, Pos Dai Sulsel diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam memperkuat syiar Islam dan membangun kesadaran keagamaan masyarakat secara lebih luas.

Sebaran Khatib Idul Adha 1447 H di Berbagai Daerah

Untuk memastikan pemerataan layanan dakwah, Pos Dai Sulsel menurunkan para khatib di berbagai kabupaten/kota dengan rincian sebagai berikut:

Makassar
Di ibu kota provinsi, penugasan mencakup sejumlah titik strategis seperti lapangan terbuka dan masjid besar. Di antaranya Ustadz Dr. Muhammad Shaleh di Lapangan Tala 50 BTP, Ustadz Ahmad Zaki Ibrahim di Masjid An-Nahl Bumi Permata Sudiang, Ustadz Abdul Aziz Basyir di Masjid Baitul Kariim, Ustadz Ahmad Sabil di Masjid Ummu Abdurrahman Nusa Harapan Permai, serta Ustadz Drs. Muhammad Kaisar di Lapangan Masjid Umar Al-Faruq Pesantren Hidayatullah Makassar. Selain itu, turut bertugas Ustadz Drs. H. Ahkam Sumadiana, M.A., Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A., Ustadz Abdurrahman Sibghatullah, dan Ustadz Ahmad Harun.

Pangkep
Di Kabupaten Pangkep, khutbah Idul Adha diisi oleh Ustadz Dr. Abdul Qadir Mahmud di Masjid Besar Balocci, Ustadz Dr. Nasrullah bin Sapa di Lapangan Bungoro, Ustadz Dr. Amalluddin di Masjid Muhammad Al-Fatih Balocci, serta Ustadz Karding di Boriappaka. Selain itu, Ustadz Ihsan Wahyuddin dan Ustadz Andi Amri turut mengisi khutbah di masjid setempat.

Parepare
Di Parepare, khutbah akan disampaikan oleh Ustadz Ilham Syawal di Masjid Al-Irsyad Takkalao, Ustadz Usman Sida di Masjid Adhyaksa, serta Ustadz Dr. Tasyrif Amin di Masjid Tarbiyah Muhammadiyah.

Pinrang
Di Kabupaten Pinrang, khutbah diisi oleh Ustadz KH. Muh. Amin Fattah di Masjid Al Hijrah dan Ustadz Sudirman di Masjid Jabal As-Salama Malimpung.

Enrekang
Penugasan di Enrekang meliputi Ustadz Irwan Mujahid di Masjid Polsek Alla, Ustadz KH. M. Nashrullah Alwi di Lapangan Desa Singki, serta Ustadz M. Karim Ibrahim di Masjid Shiratal Mustaqim Anggeraja.

Luwu
Di Kabupaten Luwu, delapan dai ditugaskan di berbagai titik, antara lain Ustadz Jumawir di Masjid Desa Siteba, Ustadz Muh. Akbar Assyathir di Masjid Nurul Amin Balatana, Ustadz Fauzan Ahmad di Masjid PNS Senga Selatan, hingga Ustadz Syahril Usman di Masjid Jabal Nur Bupon.

Luwu Timur
Di Luwu Timur, khutbah akan diisi oleh Ustadz Abd Rahman Caco di Lapangan Mahalona Towuti, Ustadz Kasman di Masjid Nurul Yakin Benteng, serta Ustadz Abu Haidar di Masjid Ta’mirul Mu’minin Lewonu.

Luwu Utara
Sementara di Luwu Utara, di antaranya Ustadz Dr. (C) Lukman Al Fath bertugas di Lapangan Subiatoro Sukamaju, Ustadz Ikhsan Saleh di Masjid Al-Ikhwan Beringin, Ustadz Syukran Amin di Lapangan Hidayatullah Bungadidi, serta Ustadz Alauddin Subandi di Masjid Rutan Masamba.

Palopo
Di Kota Palopo, khutbah diisi oleh Ustadz Imran Djufrie di Masjid Nurul Ikhlas, Ustadz Burhan di Masjid Al-Mu’minun Salutete, serta Juharuddin di Masjid Umar Al-Faruq.

Soppeng
Di Soppeng, penugasan mencakup Ustadz Fadhil Padlullah Arif di Masjid At-Taqwa Cabbeng-E, Ustadz Hanifah Abdullah Arif di Masjid Kecce Lilirilau, Ustadz Tasbi di Masjid Nasgul Mu’minin Salaonro, Ustadz A. Ranreng di Masjid Cabbeng-E, serta Ustadz Ir. H. Muhammad Arif di Masjid Nurul Hidayah.

Bone
Di Kabupaten Bone, khutbah akan disampaikan oleh Ustadz Hamzah Sulthan di Masjid Babussalam Bengo, Ustadz Bachtiar Aras di Masjid Nurul Falah Patimpeng, Ustadz Burhanuddin Jabbar di Masjid Izzatul Islam Sibulue, Ustadz Rusmin Sunaryono di Masjid Al-Fath Panyula, serta Ustadz Azwar Wahyu di Masjid Raudhatul Iman.

Takalar
Di Takalar, khutbah diisi oleh Ustadz Mansur di Masjid Nikmatullah Galesong Selatan dan Ustadz Muhammad Yusuf di Masjid Nurul Yakin Maradekaya.

Toraja Utara
Di wilayah minoritas Muslim ini, khutbah akan disampaikan oleh Ustadz Muchlis di Masjid Al-Huda Balusu, sebagai bagian dari penguatan syiar Islam di daerah pedalaman.

Sinjai
Di Sinjai, penugasan meliputi Ustadz Suparman di Masjid Nurul Bayan dan Ustadz Hasbullah di Masjid Miftahul Jannah Sinjai Tengah.

Bulukumba
Sementara di Bulukumba, khutbah diisi oleh Ustadz Muhammad Syahir di Masjid Nurul Amin Ujung Loe, Ustadz Misdari Khairullah di Masjid Nurul Iman Kindang, Ustadz Ahmad Firdaus di Masjid Nurul Huda Bonto Tiro, serta Ustadz Ajruddin di Ponpes Hidayatullah Padang Monro.

Sebaran ini menunjukkan luasnya jangkauan dakwah Pos Dai Sulsel dalam momentum Idul Adha, sekaligus menegaskan komitmen menghadirkan khutbah yang berkualitas hingga ke pelosok daerah dan wilayah minoritas Muslim.*/Rsk

Ditempa di Kawah Kepemimpinan Hidayatullah Institut

0
Oleh : Abdul Jabbar*

Pojok Kader (HidayatullahSulsel.or.id) — Pukul tiga dini hari bukan waktu yang lazim untuk memulai aktivitas. Namun di situlah semuanya dimulai. Takbir sholat lail berjamaah menggema, memecah sunyi, sekaligus menjadi penanda bahwa hari itu tidak akan berjalan biasa. Selama lima hari, dari 18 sampai 22 Mei 2026, saya bersama lima belas pengurus DPW Hidayatullah dari berbagai wilayah duduk dalam satu majelis. Kami datang bukan untuk beristirahat. Kami datang untuk ditempa.

Tempat itu bernama Hidayatullah Institut. Bagi saya, ia lebih dari sekadar ruang pelatihan. Ia seperti kawah candradimuka, tempat di mana seseorang tidak hanya belajar, tetapi juga diuji dan dibentuk ulang. Sejak hari pertama, ritme kehidupan langsung berubah. Tidak ada ruang untuk bermalas-malasan, apalagi sekadar menjadi peserta pasif.

Setelah sholat subuh, halaqah dimulai. Suasana masih hening, tetapi diskusi sudah hidup. Ayat dan hadis tidak hanya dibaca, tetapi dikaitkan dengan realitas kepemimpinan hari ini. Dari sana, pagi berlanjut dengan aktivitas fisik yang disebut Integrity Sport. Di sini, tubuh digerakkan, tetapi yang lebih penting adalah nilai kejujuran dan kerja tim yang diuji dalam praktik sederhana.

Pukul tujuh pagi terdengar Class Call. Semua bergerak cepat menuju ruang kelas. Tidak ada yang datang terlambat. Bukan karena takut pada aturan, tetapi karena kesadaran bahwa setiap detik di tempat ini adalah proses pembentukan diri. Sepuluh menit kemudian, sesi materi dimulai dengan disiplin yang nyaris tanpa cela.

Ritme ini bukan kebetulan. Ia dirancang dengan kesadaran penuh. Ruhani dikuatkan lebih dahulu, fisik digerakkan setelahnya, lalu akal diasah secara serius. Hasilnya terasa. Ketika masuk kelas, kami tidak datang dengan pikiran yang kosong. Hati sudah siap, tubuh sudah hidup, dan pikiran lebih mudah menerima serta mengolah gagasan.

Materi yang disampaikan selama lima hari itu jauh dari kesan mengawang. Semua berpijak pada kebutuhan nyata organisasi. Dimulai dari kepemimpinan Islam sebagai fondasi. Di sini ditegaskan kembali bahwa pemimpin bukan sekadar pengarah, tetapi pelayan umat. Ia hadir untuk memberi manfaat, bukan sekadar memegang posisi.

Dari situ, pembahasan masuk ke kepemimpinan Hidayatullah. Kami diajak membedah manhaj, menelusuri sejarah, dan memahami karakter kepemimpinan yang menjadi ruh organisasi. Diskusi tidak berhenti pada teori. Setiap konsep selalu ditarik ke konteks kekinian. Apa relevansinya hari ini, dan bagaimana ia diterapkan di wilayah masing-masing.

Memasuki sesi berikutnya, fokus bergeser ke hal yang lebih teknis. Desain dan transformasi organisasi menjadi pembahasan utama. Kami melihat bagaimana struktur DPW harus adaptif terhadap perubahan. Tidak cukup hanya menjalankan program rutin. Organisasi harus mampu membaca zaman dan meresponsnya dengan tepat.

Salah satu sesi yang paling menguras pikiran adalah analisa pemetaan wilayah. Setiap kelompok diminta memetakan kondisi daerah masing-masing. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dibedah secara terbuka. Data dipresentasikan, lalu dikritisi oleh kelompok lain. Tidak ada yang merasa diserang. Justru di situlah kualitas berpikir diuji.

Suasana kelas sering memanas pada lima belas menit pertama. Adu argumen tidak terhindarkan. Pengalaman lapangan dari berbagai daerah saling berhadapan. Bahasa yang digunakan menarik. Istilah manajemen modern berpadu dengan rujukan Al Quran, hadis, dan manhaj organisasi. Semua menyatu dalam satu ruang diskusi yang hidup.

Peran pemateri bukan sebagai hakim yang menentukan siapa benar dan siapa salah. Mereka hadir sebagai penajam. Fokusnya bukan pada kemenangan debat, tetapi pada ketajaman kerangka berpikir. Siapa yang paling utuh melihat persoalan, dan siapa yang mampu menawarkan solusi yang bisa diterapkan.

Sesi design thinking menjadi titik penting lainnya. Di sini kami tidak hanya belajar konsep, tetapi langsung mempraktikkannya. Masalah nyata dari wilayah masing-masing dijadikan bahan latihan. Prosesnya sistematis. Mulai dari memahami masalah, merumuskan ide, hingga menyusun solusi yang realistis.

Begitu pula dengan project manajemen. Banyak program organisasi gagal bukan karena idenya buruk, tetapi karena pengelolaannya lemah. Di sesi ini, kami diajak menyusun perencanaan yang terukur. Setiap langkah memiliki waktu, target, dan indikator keberhasilan yang jelas. Tidak ada lagi ruang untuk program yang hanya berhenti di atas kertas.

Pembahasan tentang human capital juga memberi kesan mendalam. Organisasi tidak akan kuat jika kadernya tidak tumbuh. Ini bukan sekadar slogan. Kami diajak melihat bagaimana membina, mengembangkan, dan menjaga kader agar tetap bergerak dalam satu arah. Kader bukan alat, tetapi aset yang harus dirawat.

Kedisiplinan selama pelatihan didukung oleh sistem absensi digital. Namun yang menarik, kepatuhan tidak lahir dari tekanan. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif. Semua memahami bahwa mereka datang untuk dibentuk. Setiap keterlambatan berarti kehilangan satu bagian penting dari proses itu.

Lima hari terasa singkat, tetapi padat. Tidak ada waktu yang benar-benar kosong. Bahkan di luar sesi resmi, diskusi kecil tetap berlangsung. Di ruang makan, di lorong, bahkan sebelum tidur. Semua seperti haus akan pemahaman yang lebih dalam.

Dari pengalaman ini, saya melihat wajah baru kaderisasi Hidayatullah. Ia tidak lagi identik dengan pelatihan yang penuh ceramah dan motivasi sesaat. Di sini, peserta dilatih menjadi pemimpin yang utuh. Kuat secara ruhani, jernih dalam berpikir, dan cakap dalam mengelola organisasi.

Ada perubahan suasana yang terasa. Di atas meja bukan hanya buku catatan, tetapi juga matriks pemetaan wilayah, kanvas design thinking, dan rencana kerja yang detail. Semua diarahkan pada satu tujuan. Ketika kembali ke daerah masing-masing, kami tidak hanya menjadi pengurus administratif.

Kami dituntut menjadi nahkoda. Nahkoda yang memahami peta, membaca arah angin, dan menentukan tujuan dengan jelas. Tanggung jawab itu terasa berat, tetapi juga memberi semangat baru. Ada keyakinan bahwa proses lima hari ini bukan sekadar pelatihan singkat, tetapi awal dari perubahan cara berpikir dan bekerja.

Pada akhirnya, Hidayatullah Institut bukan hanya tempat belajar. Ia adalah ruang pembentukan. Sebuah kawah yang tidak membakar, tetapi menempa. Dan dari sanalah, lahir harapan bahwa kepemimpinan yang lebih matang dan berdampak akan tumbuh di berbagai wilayah.

*Penulis adalah Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel 2026-2030, yang pada 18-22 Mei 2026 lalu mengikuti pelatihan Kepemimpinan Hidayatullah yang diadakan oleh HI di Kantor DPP Hidayatullah di Jakarta. Dalam pelatihan tersebut, penulis mendapatkan penghargaan berupa Pemimpin Muda Progresif atas dedikasi dan konsistensinya dalam mengikuti pelatihan.

Wisuda Akbar Perdana Al Azhar Bungadidi Satukan Seluruh Jenjang, Ratusan Santri Dilepas

0

Luwu Utara, HidayatullahSulsel.or.id — Suasana haru dan khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Kabupaten Luwu Utara, Ahad (23/5/2026), saat untuk pertama kalinya digelar Wisuda Akhirusanah Akbar yang menyatukan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK, MI, MTs hingga MA Al Azhar Bungadidi.

Sebanyak ratusan santri yang telah menyelesaikan pendidikan tahun ajaran 2025/2026 mengikuti prosesi wisuda tersebut. Rinciannya, TK Al Azhar sebanyak 45 santri, MI Al Azhar 62 santri, MTs Al Azhar 58 santri, dan MA Al Azhar 41 santri.

Ketua Yayasan Al Azhar Bungadidi, Ikhsan, S.Pd., menyebut wisuda tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya seluruh jenjang pendidikan digelar dalam satu rangkaian kegiatan.

“Ini adalah wisuda akbar perdana yang menyatukan semua jenjang, dari TK hingga Aliyah. Tujuannya sebagai syiar, pemantik semangat, sekaligus bukti bahwa pendidikan Islam terpadu di Bungadidi terus berkembang,” ujar Ikhsan.

Prosesi wisuda diawali dengan khataman Al-Qur’an, dilanjutkan penampilan nasyid, pidato tiga bahasa, serta pengalungan medali oleh wali kelas dan pimpinan pondok kepada para wisudawan. Dalam kesempatan itu, para alumni juga membacakan ikrar untuk menjaga akhlak, ilmu, dan kontribusi mereka di tengah masyarakat.

Mudir Pondok Pesantren Hidayatullah Bungadidi dalam sambutannya menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari pengabdian.

“Wisuda bukan akhir, tetapi awal perjalanan. Jadilah alumni yang menjaga hafalan Al-Qur’an, menjaga shalat, serta berbakti kepada orang tua dan umat. Bawalah nama baik Al Azhar dan Hidayatullah di mana pun berada,” pesannya.

Momen wisuda turut diwarnai haru dari para orang tua yang menyaksikan putra-putri mereka tampil di atas panggung. Sejumlah lulusan MA bahkan telah diterima di berbagai perguruan tinggi dan pesantren lanjutan di luar Kabupaten Luwu Utara.

Ikhsan menambahkan, ke depan pihak yayasan akan terus meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pada bidang tahfiz Al-Qur’an, penguasaan bahasa, dan penguatan sains.

“Target kami bukan sekadar meluluskan santri, tetapi melahirkan generasi yang hafal Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta siap menjadi pemimpin umat,” tegasnya.

Kegiatan wisuda ditutup dengan doa bersama, ramah tamah, serta sesi foto antara wisudawan, guru, dan orang tua dalam suasana penuh kebersamaan.

Mardi Maing Tekankan Tiga Arah Strategis, Tegaskan Komitmen DPD Dukung Rakerda Muslimat Hidayatullah Gowa

0

Gowa, (HidayatullahSulsel.od.id) — Sekretaris DPD Hidayatullah Kabupaten Gowa, Mardi Maing, S.Pd., menegaskan tiga arah strategis gerakan Muslimat sekaligus menyampaikan komitmen penuh DPD Hidayatullah Gowa dalam mendukung kerja-kerja Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kabupaten Gowa pada pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), Rabu (20/5/2026).

Mewakili Ketua DPD Hidayatullah Gowa, Mardi menegaskan bahwa Muslimat Hidayatullah sebagai orpen di bawah naungan DPD memiliki posisi strategis dalam menggerakkan dakwah dan pemberdayaan umat, khususnya di kalangan perempuan dan keluarga.

“DPD Hidayatullah Gowa berkomitmen untuk terus mendukung dan menyukseskan program-program Muslimat sebagai bagian integral dari gerakan dakwah Hidayatullah. Sinergi ini penting agar seluruh potensi yang ada bisa bergerak secara terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam arahannya, Mardi menitipkan tiga fokus utama yang harus menjadi perhatian dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja. Pertama, penguatan pembinaan dan pengkaderan. Ia menilai Kabupaten Gowa memiliki potensi besar dengan 18 kecamatan serta 167 desa dan kelurahan yang membutuhkan sentuhan dakwah yang sistematis.

“Banyak majelis taklim dan ibu-ibu yang rindu ilmu. Tugas kita adalah hadir, menyapa, dan membina mereka dengan metode yang lembut, istiqamah, dan terstruktur, mulai dari pengajian, halaqah hingga program parenting Islam,” katanya.

Kedua, menjaga kualitas pendidikan anak usia dini. Menurutnya, Muslimat memiliki peran penting dalam memastikan lembaga TK/PAUD menjadi fondasi awal pembentukan karakter dan akidah anak.

“Pastikan kualitas guru, kurikulum, dan lingkungan pendidikan benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam, agar anak-anak sejak dini mengenal Allah dan Rasul-Nya,” lanjutnya.

Ketiga, memperkuat ukhuwah dan sinergi. Mardi menekankan pentingnya kolaborasi lintas struktur dan organisasi agar dakwah berjalan lebih efektif dan luas jangkauannya.

“Kekuatan kita ada pada kebersamaan. Rapatkan barisan antara PD, PC, hingga ranting, serta bangun kolaborasi dengan ormas perempuan lainnya. Jangan biarkan perbedaan kecil melemahkan langkah besar kita,” tegasnya.

Rakerda yang digelar di Aula Gunung Harapan Yayasan Ashabul Jannah ini menjadi forum konsolidasi program kerja sekaligus penguatan peran perempuan dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah perwakilan organisasi perempuan di Kabupaten Gowa, di antaranya Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Gowa, Muslimat Wahdah Islamiyah, Muslimat Salimah, serta Muslimat Darul Istiqamah. Kehadiran mereka mencerminkan dukungan terhadap penguatan kolaborasi lintas organisasi dalam program dakwah dan sosial kemasyarakatan.

Sementara itu, Ketua PD Muslimat Hidayatullah Kabupaten Gowa, Muthmainnah, S.Ag., Gr., menyampaikan bahwa Rakerda tahun ini difokuskan pada evaluasi program sebelumnya serta penyusunan program kerja yang lebih responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.

Rakerda berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan menjadi acuan gerakan Muslimat Hidayatullah Gowa ke depan.*/Mrd

Muslimat Hidayatullah Gowa Gelar Rakerda 2026–2027, Fokus Penguatan Ekonomi Keluarga dan Kaderisasi

0

Gowa (HidayatullahSulsel.or.id) – Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah Kabupaten Gowa menggelar pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) untuk menyusun program kerja periode 2026–2027, Rabu (20/5/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Gunung Harapan, Pondok Tahfidz Ashabul Jannah Hidayatullah Gowa.

Rakerda ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah gerak organisasi, khususnya dalam bidang dakwah, pemberdayaan keluarga, serta penguatan kapasitas kader di tingkat daerah.

Ketua PD Muslimat Hidayatullah Kabupaten Gowa, Muthmainnah, dalam sambutannya menegaskan bahwa Rakerda merupakan momentum penting untuk menyelaraskan program kerja dengan arah kebijakan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan.

“Kita bersyukur berada di wilayah Gowa yang kaya potensi. Seperti di Dusun Bollangi, Kecamatan Pattallassang, pohon aren tumbuh subur dan diolah menjadi tuak manis dan gula merah. Potensi ini jika dikelola dengan baik dapat menguatkan ekonomi keluarga muslimah,” ujarnya.

Ia berharap program yang dihasilkan dalam Rakerda tidak hanya selaras dengan kebijakan wilayah, tetapi juga mampu ditindaklanjuti hingga ke tingkat cabang dan ranting.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur internal Hidayatullah, di antaranya perwakilan DPD Hidayatullah Gowa, Mardi Maing, serta perwakilan PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan, Masnaeni Muslimin dan Maryam AsySyifa yang juga bertindak sebagai pendamping Rakerda.

Selain itu, sejumlah perwakilan organisasi perempuan Islam di Kabupaten Gowa juga hadir, di antaranya dari Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Gowa, Muslimat Wahdah Islamiyah, Muslimat Salimah, serta Muslimat Darul Istiqomah. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan semangat kolaborasi dalam penguatan peran perempuan Muslim di daerah.

Adapun agenda utama Rakerda meliputi evaluasi program kerja periode sebelumnya, penyusunan program kerja baru, penguatan sinergi antarstruktur organisasi, serta penetapan rekomendasi strategis sebagai arah kebijakan ke depan.

Sepanjang pelaksanaan, forum berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif para kader Muslimat Hidayatullah se-Kabupaten Gowa. Diskusi terbuka menjadi ruang untuk menyerap aspirasi sekaligus merumuskan program yang aplikatif dan menyentuh kebutuhan umat.

Rakerda dijadwalkan berlangsung selama satu hari penuh di lokasi yang sama. Hasil dari forum ini diharapkan mampu melahirkan program kerja yang berdampak luas, khususnya dalam penguatan ekonomi keluarga, pembinaan generasi muda muslimah, serta peningkatan kualitas kader.

Acara pembukaan ditutup dengan doa bersama, menandai dimulainya rangkaian sidang Rakerda yang akan dilanjutkan hingga seluruh agenda terselesaikan.*/Mrd

Mutu Pendidikan Jadi Prioritas, Yayasan Al-Hijrah Hidayatullah Masamba Gelar Rapat Gabungan

0

Masamba (HidayatullahSulsel.or.id) – Peningkatan mutu pendidikan ditegaskan sebagai kunci utama dalam mendorong pertumbuhan jumlah santri di lingkungan Yayasan Al-Hijrah Hidayatullah Masamba.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Badan Pembina Yayasan, Drs. Muhammad Kaisar, saat membuka Rapat Gabungan Yayasan Al-Hijrah Hidayatullah Masamba, Ahad pagi (17/5/2026). Kegiatan tiga bulanan dihadiri unsur pembina, pengawas, pengurus, serta kepala-kepala unit pendidikan.

Dalam sambutannya, Drs. Kaisar menekankan bahwa kualitas layanan pendidikan harus menjadi fokus utama seluruh elemen yayasan. Menurutnya, kepercayaan masyarakat tidak dibangun secara instan, melainkan melalui mutu pendidikan yang benar-benar dirasakan.

“Kalau mutu bagus, layanan bagus, pembinaan bagus, orang tua akan percaya. Santri akan bertambah dengan sendirinya. Jadi jangan kejar kuantitas dulu, perkuat kualitasnya,” ujarnya dalam rapat gabungan yang juga menjadi agenda evaluasi triwulanan tersebut.

Rapat gabungan yang akan berlangsung selama dua hari, Ahad-Senin, 17-18 Mei 2026 tersebut, kali ini mengusung tema “Peningkatan Mutu Pendidikan dan Integrasi Program Menuju Yayasan Maju dan Berdaya Saing”. Tema tersebut menjadi arah strategis agar seluruh unit pendidikan di Kampus Madya Masamba berjalan selaras dan terintegrasi.

Selain itu, yayasan mendorong penguatan sinergi dengan berbagai unsur pendukung, di antaranya DPD Hidayatullah Luwu Utara dalam penguatan dakwah dan jaringan jamaah, ULZ BMH Luwu Utara dalam dukungan program pemberdayaan dan beasiswa, Mushida Luwu Utara dalam sinergi pendidikan putri, serta media Hidayatullah Sulsel sebagai kanal publikasi.

Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan program pendidikan di lingkungan kampus semakin terintegrasi, pemanfaatan sumber daya lebih efisien, serta dampak dakwah pendidikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Selama dua hari pelaksanaan, rapat difokuskan pada penyusunan sejumlah agenda strategis, meliputi standar mutu layanan untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD Integral Al Hijrah, MTs, SMK hingga program Tahfidz, mekanisme evaluasi dan monitoring program setiap semester, rencana penguatan sumber daya manusia tenaga pendidik, serta strategi integrasi program antara kampus, yayasan, dan lembaga pendukung.

Rapat gabungan ini menjadi langkah konkret Yayasan Al Hijrah Pesantren Hidayatullah Masamba dalam mewujudkan visi sebagai pusat pendidikan Qur’ani yang maju dan berdaya saing di wilayah Luwu Raya.

Di sisi lain, seiring dengan penguatan mutu dan sistem pendidikan yang terus dilakukan, Yayasan Al-Hijrah Hidayatullah Masamba juga masih membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan putra-putrinya sebagai santri. Kampus putri berlokasi di Incor, Kecamatan Masamba, sementara kampus putra berada di Uraso, Kecamatan Mappedeceng, Kabupaten Luwu Utara.

Dengan sistem pembinaan terpadu yang mengintegrasikan pendidikan formal dan pembinaan keislaman berbasis Al-Qur’an, kehadiran pesantren ini diharapkan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan pendidikan berkualitas sekaligus berkarakter bagi generasi muda./*Rsk

Madrasah Kenabian – Fajar Wahyu (5); Alladzii ‘Allama bil Qalam: Literasi Wahyu dan Fondasi Peradaban Ilmu

0
Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*
Ketika Langit Memperkenalkan Pena

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ  memiliki arsitektur yang sangat cermat. Ayat pertama memerintahkan membaca sebagai gerbang ilmu. Ayat kedua mengingatkan asal-usul manusia sebagai fondasi kerendahan. Ayat ketiga memperkenalkan Allah sebagai Al-Akram yang memuliakan proses belajar. Kemudian ayat keempat melengkapi bangunan itu dengan sesuatu yang secara peradaban tidak ternilai harganya:

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajarkan manusia dengan pena.” (QS. al-‘Alaq/96: 4)

Ayat ini tampak singkat, namun menyimpan muatan yang sangat dalam. Jika iqra’ membuka pintu ilmu, maka qalam adalah kuncinya yang menjaga ilmu itu agar tidak hilang bersama berlalunya waktu. Pena adalah instrumen yang mengubah pengetahuan yang bersifat sementara dalam pikiran menjadi warisan yang abadi di atas lembaran. Ia adalah jembatan yang menghubungkan satu generasi dengan generasi berikutnya, satu peradaban dengan peradaban yang lahir sesudahnya.

Mengapa Allah tidak cukup mengatakan ‘allama al-insana, mengajarkan manusia, tanpa menyebut bil qalam? Jawabannya terletak pada perbedaan mendasar antara ilmu yang hanya dimiliki dan ilmu yang didokumentasikan. Ilmu yang hanya ada dalam ingatan seseorang terbatas oleh usia dan kapasitas memori. Ilmu yang dituliskan melampaui batas-batas itu. Penyebutan qalam secara khusus adalah pernyataan bahwa Allah menghendaki ilmu menjadi warisan lintas generasi, bukan sekadar kepemilikan individual.

Qalam: Simbol Ilmu dan Keabadian Peradaban

Dalam tradisi Islam, qalam memiliki kedudukan yang jauh melampaui fungsinya sebagai alat tulis biasa. Al-Quran mengabadikan kemuliaannya tidak hanya dalam surah Al-‘Alaq, tetapi juga dalam sebuah pernyataan yang sangat tegas dan mengagumkan di awal surah lainnya:

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. al-Qalam/68: 1)

Allah bersumpah dengan pena. Dalam kaidah bahasa Arab dan ilmu Al-Quran, sumpah ilahi selalu menunjukkan keagungan dan signifikansi sesuatu yang dijadikan objek sumpah tersebut. Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kedudukan yang sangat penting. Sumpah dengan qalam dengan demikian adalah pengakuan tertinggi dari Sang Pencipta bahwa pena adalah instrumen yang sangat mulia dan menentukan dalam sejarah peradaban manusia.

Sebahagian ulama juga mencatat bahwa qalam pertama yang disebutkan dalam konteks penciptaan kosmis memiliki dimensi yang melampaui qalam material. Dalam hadits yang diriwayatkan dari jalur Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالٰى الْقَلَمُ وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْتُبَ كُلُّ شَيْءٍ يَكُوْنُ.

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad).

Hadits ini membuka dimensi kosmologis dari qalam yang sangat luar biasa. Sebelum langit dan bumi diciptakan, sebelum manusia ada, Allah telah menciptakan pena dan memerintahkannya untuk menulis. Artinya, seluruh takdir alam semesta sejak awal hingga akhir tersimpan dalam tulisan ilahiah. Menulis bukan sekadar kegiatan manusiawi, ia adalah bagian dari tata kelola kosmis yang Allah tetapkan sejak awal penciptaan.

Dalam konteks pedagogis, ini berarti ketika manusia menulis, ia sesungguhnya sedang menjalankan salah satu aktivitas yang paling sejalan dengan sunnatullah. Tradisi menulis adalah partisipasi manusia dalam tatanan ilahiah yang telah Allah rancang jauh sebelum manusia pertama menggenggam pena.

Revolusi Literasi Nabawi: Tradisi Lisan Menuju Peradaban Tulisan

Salah satu keajaiban sejarah yang paling menarik dalam peradaban Islam adalah bagaimana Rasulullah ﷺ, seorang yang ummi dan tidak bisa membaca atau menulis, justru menjadi pelopor revolusi literasi terbesar dalam sejarah Arabia. Ini bukan kontradiksi, melainkan bukti bahwa visi peradaban tidak memerlukan seorang pelaksana yang mengerjakan sendiri segala sesuatunya, tetapi seorang pemimpin yang memahami dengan sangat dalam apa yang dibutuhkan oleh peradaban yang ingin ia bangun.

Rasulullah ﷺ menunjuk para penulis wahyu dari kalangan sahabat terbaik, di antaranya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Setiap ayat yang turun segera didiktekan untuk dicatat, bukan hanya dihafal. Ini adalah sistem dokumentasi wahyu yang sangat sistematis dan terencana.

Peristiwa Perang Badar menjadi tonggak paling simbolis dari revolusi literasi ini. Sebagian tawanan perang yang tidak mampu membayar tebusan material dibebaskan dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada kaum Muslimin. Dalam kondisi perang sekalipun, Rasulullah ﷺ menjadikan literasi sebagai nilai yang lebih berharga dari tebusan emas dan perak. Keputusan ini bukan sekadar pragmatisme situasional, melainkan cerminan dari paradigma wahyu yang sangat dalam tentang posisi ilmu dan tradisi tulis dalam membangun peradaban.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran”.(QS. Az-Zumar/39: 9)

Neurosains Menulis dan Konstruksi Memori Manusia

Temuan neurosains modern memberikan konfirmasi ilmiah yang sangat menarik terhadap signifikansi qalam yang telah diajarkan wahyu empat belas abad yang lalu. Aktivitas menulis ternyata bukan sekadar proses mekanis tangan di atas kertas. Ia adalah proses kognitif kompleks yang melibatkan jaringan saraf yang sangat luas dan bekerja secara simultan.

A. Menulis dan Aktivasi Multi-Region Otak

Penelitian Berninger et al. (2009) dari University of Washington menunjukkan bahwa aktivitas menulis tangan mengaktifkan tiga jaringan saraf otak secara simultan: hippocampus sebagai pusat pembentukan memori jangka panjang, korteks prefrontal sebagai pusat berpikir kritis dan perencanaan, serta sistem motor halus yang memperkuat koordinasi pikiran dan tindakan.

Temuan ini memberikan basis neurobiologis yang sangat kuat bagi prinsip wahyu bahwa qalam adalah instrumen pembelajaran yang paling efektif. Ketika Allah mengajarkan manusia bil qalam, DIA sebenarnya memilih metode yang secara neurobiologis mengoptimalkan penyimpanan dan pengolahan ilmu dalam otak manusia.

B. Writing to Learn: Menulis Sebagai Proses Pemahaman Mendalam

Dalam pendidikan modern, terdapat konsep yang dikenal sebagai writing to learn atau menulis untuk memahami. Prinsipnya adalah bahwa seseorang belum benar-benar memahami suatu konsep secara mendalam sampai ia mampu menuliskannya dengan kata-katanya sendiri secara koheren dan sistematis. Menulis tangan memaksa otak untuk memproses, memilih, dan merekonstruksi informasi secara aktif, bukan sekadar menyalinnya secara mekanis.

Prinsip ini menjelaskan mengapa tradisi penulisan kitab dalam peradaban Islam tidak sekadar mendokumentasikan ilmu, tetapi juga memperdalam pemahaman para penulisnya. Imam Al-Bukhari tidak hanya mencatat hadits, ia mengkategorisasi, memverifikasi, dan menyusun ulang dalam struktur yang mencerminkan pemahaman yang sangat dalam tentang kandungan setiap riwayat. Proses penulisan itu sendiri adalah proses pembelajaran yang paling intensif.

C. Regulasi Emosi dan Kesehatan Mental Melalui Menulis

Neurosains dan psikologi klinis modern juga menemukan bahwa menulis memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan regulasi emosi. Ini menambah dimensi baru pada pemahaman kita tentang mengapa qalam diposisikan demikian penting dalam wahyu pertama. Menulis tentang pengalaman dan pikiran secara reflektif menurunkan kadar kortisol (hormon stres), memperkuat sistem imun, mengurangi gejala depresi, dan meningkatkan kejelasan berpikir. Menulis bukan hanya membangun peradaban luar, ia juga menata dan menyehatkan dunia batin manusia.

 Dalam tradisi tasawuf dan pendidikan spiritual Islam, dikenal praktik penulisan mujadalat al-nafs, yaitu mendialogkan diri sendiri secara tertulis sebagai bagian dari proses muhasabah. Ini adalah aplikasi spiritual dari apa yang neurosains kemudian konfirmasi secara ilmiah: bahwa menulis adalah jalan menuju kejernihan jiwa.

Krisis Literasi Modern dan Pendidikan Islam

Paradoks terbesar dunia pendidikan hari ini adalah melimpahnya informasi namun menipisnya kedalaman berpikir. Generasi yang tumbuh dengan internet membaca lebih banyak kata per hari dibandingkan generasi mana pun sebelumnya dalam sejarah, namun justru semakin sedikit yang mampu menghasilkan tulisan yang utuh, koheren, dan bermakna. Membaca dalam budaya digital telah berubah menjadi menggulir cepat, menyimpan tanpa membaca, dan membagikan tanpa merenungkan.

Ini adalah krisis yang sangat dalam karena ia bukan sekadar krisis keterampilan teknis. Ini adalah krisis cara berpikir. Manusia yang tidak terbiasa menulis secara sistematis adalah manusia yang pikiran-pikirannya belum sepenuhnya tersusun, yang argumen-argumennya belum sepenuhnya diuji, dan yang pemahaman-pemahamannya belum sepenuhnya terkonsolidasi. Menulis adalah cara otak menata dirinya sendiri, dan ketika tradisi menulis hilang, kemampuan berpikir sistematis pun ikut melemah.

Bagi umat Islam, krisis ini memiliki dimensi yang lebih berat lagi. Peradaban yang pernah menerangi dunia dengan tinta para ulamanya kini semakin jarang melahirkan karya intelektual yang mengguncang. Banyak Muslim yang berbicara tentang kebangkitan Islam, namun sedikit yang meninggalkan warisan tulisan yang akan dibaca oleh generasi mendatang.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Ilmu yang dituliskan dan terus memberikan manfaat setelah kematian penulisnya adalah salah satu bentuk paling abadi dari sedekah jariyah intelektual. Setiap karya yang ditulis dengan niat lurus dan bermanfaat bagi pembacanya adalah investasi pahala yang tidak terputus selama karya itu masih dibaca dan diamalkan. Tradisi menulis dalam Islam dengan demikian bukan hanya urusan peradaban, ia adalah urusan akhirat.

Membangun Kembali Peradaban dengan Qalam: Dari Raefleksi Menuju Aksi

Revitalisasi tradisi menulis dalam pendidikan Islam bukan proyek besar yang harus menunggu kebijakan pemerintah atau anggaran institusi. Ia dimulai dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari oleh setiap individu yang memahami amanah qalam.

Seorang guru yang menulis pelajarannya, merumuskan pemikirannya, dan mendokumentasikan pengalamannya di kelas sedang membangun warisan yang jauh lebih berharga dari sekadar materi yang disampaikan lisan. Seorang mahasiswa yang bukan hanya mengutip pemikiran orang lain tetapi berani merumuskan perspektifnya sendiri dalam tulisan sedang mengambil langkah pertama menuju kematangan intelektual. Sebuah keluarga yang membiasakan anak-anaknya menulis buku harian, meringkas bacaan, atau mengekspresikan gagasan secara tertulis sedang menanamkan benih peradaban di tanah yang paling subur.

Dalam konteks Madrasah Kenabian ini, pesan ayat keempat surah Al-‘Alaq sangat jelas, yakni perubahan besar dimulai dengan membaca, tetapi keberlanjutannya ditentukan oleh menulis. Iqra’ membuka pintu, qalam menjaga agar pintu itu tidak tertutup kembali oleh waktu.

Penutup: Apakah Kita Masih Memegang Qalam ?

Di era digital ini, pena mungkin telah berubah bentuk menjadi papan ketik dan layar sentuh. Namun ruh qalam tidak boleh ikut berubah menjadi sekadar perangkat konsumsi informasi. Qalam adalah simbol tanggung jawab intelektual, ia adalah amanah ilmu yang harus dipertanggungjawabkan, dan ia adalah jejak keberadaan manusia yang paling bermakna di hadapan sejarah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu pertama dalam keheningan Gua Hira. Dari sana lahir sebuah peradaban yang memenuhi dunia dengan tinta para ulama, perpustakaan yang menerangi kegelapan, dan kitab-kitab yang masih berbicara hingga hari ini. Tinta itu lebih panjang umurnya daripada umur penulisnya. Ia melampaui zaman. Ia berbicara kepada generasi yang belum lahir ketika penulisnya masih hidup. Dan semuanya bermula dari satu deklarasi wahyu yang singkat namun mengubah arah sejarah

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajarkan manusia dengan pena.” (QS. Al-‘Alaq/96: 4)

Maka pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap Muslim pada zaman ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang ia baca, tetapi juga tentang apa yang ia tuliskan. Karena boleh jadi salah satu bentuk ibadah yang paling mendesak pada zaman ini adalah menghidupkan kembali qalam: membaca dengan nama Allah, berpikir dengan kejernihan iman, lalu menulis untuk mewariskan cahaya kepada generasi yang akan datang.