Beranda blog Halaman 6

Tasyakuran Penamatan, SD Integral Al Hijrah Masamba Tanamkan Nilai Tauhid kepada Lulusan

0

Luwu Timur (HidayatullahSulsel.or.id) — SD Integral Al-Hijrah Masamba menggelar tasyakuran penamatan siswa kelas VI Tahun Ajaran 2025/2026 di Pantai Suso, Lambarese, Kabupaten Luwu Timur, Ahad (16/11/2026). Kegiatan ini dihadiri orang tua, wali murid, serta seluruh siswa dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan.

Kepala SD Integral Al-Hijrah Masamba, Ustaz Qayyum, mengatakan bahwa kegiatan tasyakuran tersebut sengaja dikemas sederhana namun sarat makna. Menurutnya, acara ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk penyampaian penguatan kepada orang tua terkait konsep pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan di SD Integral Al Hijrah bersifat integral, di mana nilai-nilai tauhid diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran. Inilah implementasi kurikulum berbasis tauhid yang menjadi ciri khas pendidikan Hidayatullah,” ujarnya di sela kegiatan.

Ia juga mengajak para wali murid untuk turut berperan dalam mengenalkan sekolah kepada masyarakat. Menurutnya, lulusan yang dihasilkan menjadi bukti nyata keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan.

“Silakan para orang tua menyampaikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bagaimana proses pendidikan di sini. Sejak TK hingga SD, bahkan hingga sekolah menengah, kami berkomitmen mencetak generasi Qur’ani,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan tasyakuran meliputi tilawah Al-Qur’an dan doa bersama oleh siswa kelas VI, sambutan kepala sekolah dan perwakilan wali murid, penyerahan kenang-kenangan serta penyampaian pesan dan kesan siswa. Acara juga diisi dengan kegiatan outbound keluarga, makan bersama di tepi pantai, serta sesi foto dan silaturahim antara orang tua dan guru.

Pemilihan lokasi di Pantai Suso dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih santai dan akrab, sekaligus memberikan pengalaman berkesan bagi siswa sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang madrasah tsanawiyah (MTs).

SD Integral Al Hijrah Masamba merupakan salah satu unit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Hidayatullah Masamba. Sekolah ini mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum khas Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT).

Saat ini, SD Integral Al Hijrah Masamba masih membuka pendaftaran peserta didik baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui sekretariat sekolah di Jalan Lamarancina, Kelurahan Bone Tua, Masamba.

Ketika Alasan Menjadi Pelarian: Mengurai Budaya Apologi dalam Kehidupan Muslim

0
Oleh : Ahmad Firdaus*

Di era modern, kemampuan manusia tidak lagi berhenti pada kecakapan berbicara. Banyak orang kini juga terampil merangkai alasan. Bahkan dalam banyak kasus, semakin tinggi pendidikan dan semakin luas wawasan seseorang, semakin halus pula cara ia membela kelemahannya sendiri. Kalimat yang terdengar bijak, ilmiah, bahkan religius sering dipakai untuk menutupi kekurangan yang sebenarnya sederhana. Di titik inilah muncul sebuah fenomena yang layak dikritisi secara serius, yakni budaya apologi.

Budaya ini tidak selalu tampak kasar atau terang terangan. Ia hadir dalam ungkapan yang sekilas benar dan mengandung hikmah. Kita sering mendengar pernyataan seperti yang penting kualitas bukan kuantitas, dakwah tidak harus ramai, ilmu bukan hanya dari buku, yang penting ikhlas, atau agama jangan terlalu keras. Semua kalimat itu pada dasarnya tidak keliru. Namun persoalannya bukan pada benar atau salahnya kalimat, melainkan pada cara dan konteks penggunaannya. Ketika ungkapan tersebut dijadikan tameng untuk menghindari kesungguhan, maka ia berubah fungsi menjadi alat pembenaran diri.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi berhadapan dengan kekurangan dirinya secara jujur. Ia justru membangun narasi untuk membuat dirinya tampak tetap berada di jalur yang benar. Akibatnya, lahirlah rasa nyaman dalam kelemahan. Ini adalah jebakan halus yang berbahaya, karena seseorang tidak merasa perlu berubah.

Al Quran telah lama mengungkap realitas psikologis ini dengan sangat tajam. Allah berfirman bahwa manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri walaupun ia mengemukakan berbagai alasan. Ayat ini menggambarkan bahwa sedalam apapun seseorang menyusun pembelaan, ada ruang dalam dirinya yang tidak bisa ia tipu. Hati manusia mengetahui dengan jelas kapan ia benar benar memiliki uzur, dan kapan ia sekadar mencari alasan. Hati mampu membedakan antara kelelahan yang jujur dan kemalasan yang disamarkan.

Karena itu, persoalan mendasar manusia sering kali bukan kekurangan ilmu. Banyak orang tahu apa yang benar. Banyak orang paham apa yang seharusnya dilakukan. Namun yang sering hilang adalah kejujuran terhadap diri sendiri. Tanpa kejujuran ini, ilmu tidak akan melahirkan perubahan. Ia hanya akan menjadi alat untuk memperindah alasan.

Fenomena ini dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari hari. Seseorang tidak hadir dalam majelis ilmu karena malas, lalu ia berkata yang penting diamalkan bukan banyak hadir. Ada yang jarang membaca Al Quran lalu berkata yang penting memahami maknanya. Ada yang tidak aktif dalam dakwah lalu menyatakan bahwa dakwah bukan sekadar kegiatan. Bahkan ada yang jarang membaca buku lalu berargumen bahwa ilmu tidak hanya bersumber dari teori.

Semua pernyataan tersebut bisa benar dalam konteks yang tepat. Namun ketika ia digunakan untuk membela kemalasan, maka ia berubah menjadi apologi. Lebih jauh lagi, kebiasaan ini akan menghambat perkembangan diri. Seseorang yang terus menerus membenarkan dirinya akan kehilangan dorongan untuk memperbaiki diri. Ia tidak lagi merasa memiliki kekurangan, padahal di situlah pintu perbaikan seharusnya terbuka.

Para tokoh Islam telah lama mengingatkan bahaya sikap seperti ini. Hasan al Banna menegaskan bahwa kewajiban kita jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ungkapan ini mengandung dorongan kuat agar seorang muslim fokus pada peningkatan amal, bukan pada pencarian alasan untuk mengurangi tanggung jawab.

Buya Hamka dalam berbagai tulisannya juga mengkritik mentalitas lemah yang gemar berdalih. Menurut beliau, manusia besar adalah mereka yang mampu melawan hawa nafsunya sendiri. Bukan mereka yang pandai membungkus kesalahan dengan kata kata yang indah. Sementara itu, Quraish Shihab menjelaskan pentingnya muhasabah sebagai bagian dari ajaran Al Quran. Muhasabah bukan sekadar introspeksi biasa, tetapi keberanian untuk melihat kekurangan diri tanpa menutupinya dengan pembenaran.

Dalam konteks dakwah, masalah ini menjadi lebih serius. Budaya apologi tidak hanya merusak individu, tetapi juga melemahkan gerakan. Ada orang yang tidak mau belajar secara mendalam tetapi merasa cukup dengan semangat. Ada yang minim pengorbanan namun aktif berkomentar. Ada pula yang sedikit amal tetapi sibuk mengkritik mereka yang bekerja.

Fenomena ini semakin kompleks ketika muncul prasangka terhadap orang yang aktif. Tidak jarang mereka dicurigai mencari popularitas. Sementara itu, orang yang pasif merasa aman dengan alasan menjaga keikhlasan. Padahal dalam Islam, keikhlasan tidak pernah dipertentangkan dengan amal. Justru keikhlasan diuji melalui kesungguhan dalam berjuang.

Jika kita menengok generasi sahabat, kita akan menemukan gambaran yang sangat berbeda. Mereka memiliki hati yang bersih sekaligus amal yang besar. Mereka tidak menggunakan keikhlasan sebagai alasan untuk menghindari kerja, tetapi menjadikannya sebagai fondasi untuk memperkuat perjuangan.

Kisah para ulama salaf juga memberikan pelajaran yang mendalam. Mereka yang amalnya luar biasa justru paling khawatir amal tersebut tidak diterima. Mereka menangis karena merasa kurang. Mereka tidak sibuk mencari pembenaran diri, tetapi sibuk memperbaiki diri.

Imam Ahmad tetap menuntut ilmu hingga usia senja. Imam Nawawi menjalani kehidupan yang hampir tanpa jeda istirahat demi ilmu dan ibadah. Mereka tidak memberi ruang bagi apologi dalam hidup mereka. Yang ada adalah kesadaran bahwa waktu sangat terbatas dan tanggung jawab sangat besar.

Di sisi lain, Islam memang memberikan ruang bagi uzur. Seseorang yang sakit, dalam perjalanan, atau berada dalam kondisi darurat memiliki keringanan. Ini adalah bentuk rahmat dan keadilan dalam syariat. Namun uzur sangat berbeda dengan apologi. Uzur berangkat dari ketidakmampuan yang nyata, sedangkan apologi lahir dari keengganan yang disamarkan.

Perbedaan ini penting untuk dipahami. Tanpa pemahaman yang jernih, seseorang akan mudah mencampuradukkan keduanya. Ia merasa sedang mengambil keringanan, padahal sebenarnya sedang menuruti kemalasan. Dalam jangka panjang, sikap ini akan melemahkan semangat amal dan mengikis integritas diri.

Hari ini kita hidup di zaman yang kaya akan informasi. Ceramah mudah diakses. Buku tersedia dalam berbagai bentuk. Nasihat tersebar luas melalui media sosial. Namun kelimpahan ini tidak otomatis melahirkan perubahan. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.

Musuh terbesar manusia tidak selalu datang dari luar. Ia sering muncul dari dalam, dalam bentuk alasan alasan yang tampak masuk akal. Kemalasan tidak lagi hadir dengan wajah buruk. Ia datang dengan kata kata yang terdengar bijak dan menenangkan. Inilah yang membuatnya sulit dikenali.

Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran. Seseorang perlu belajar membedakan antara hikmah dan apologi. Ia harus berani bertanya kepada dirinya sendiri apakah kalimat yang ia ucapkan benar benar menjadi motivasi untuk memperbaiki diri atau justru menjadi pelarian dari tanggung jawab.

Langkah berikutnya adalah membiasakan muhasabah yang jujur. Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan, tetapi juga mengakui kelemahan tanpa mencari pembenaran. Dari sinilah perubahan akan dimulai. Ketika seseorang berani berkata bahwa dirinya masih kurang, maka ia sedang membuka pintu menuju perbaikan.

Akhirnya, budaya apologi harus digantikan dengan budaya amal. Fokus utama seorang muslim bukan pada bagaimana ia terlihat benar, tetapi pada bagaimana ia benar benar menjadi lebih baik. Perjalanan ini memang tidak mudah, tetapi ia adalah jalan yang harus ditempuh.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kebiasaan membela kelemahan diri dan menggantinya dengan kekuatan untuk terus memperbaiki amal. Semoga kita diberi kejujuran hati, keteguhan langkah, dan kesungguhan dalam berjuang. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan bukanlah alasan yang kita ucapkan, tetapi amal yang kita lakukan.

*Penulis adalah Komisioner Baznas Bulukumba 2017-2022

Menjaga Amanah Harta di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

0
Oleh : Abdul Jabbar*

HidayatullahSulsel.or.id – Dalam beberapa waktu terakhir, lanskap ekonomi terasa bergerak tanpa kepastian arah. Gejolak global, tekanan inflasi, hingga dinamika domestik membuat banyak pihak harus menata ulang cara pandang terhadap pengelolaan keuangan.

Situasi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas yang menyentuh kehidupan pribadi dan juga keberlangsungan organisasi. Dalam kondisi seperti ini, kunci bertahan bukan pada seberapa besar sumber daya yang dimiliki, melainkan pada seberapa bijak ia dikelola.

Prinsip kehati-hatian menjadi fondasi utama. Sikap ini tidak identik dengan ketakutan, melainkan bentuk kedewasaan dalam membaca keadaan. Kehati-hatian melahirkan disiplin, sementara disiplin menjaga kita dari sikap berlebihan.

Dari sinilah muncul satu nilai penting yang sering diabaikan, yaitu tidak boros. Dua prinsip sederhana ini, hati-hati dan tidak boros, jika dipegang secara konsisten, akan menjadi tameng kuat menghadapi ketidakpastian.

Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas dalam hal ini. Dalam Al Quran, Allah mengingatkan bahwa perilaku boros adalah sesuatu yang tercela. Bahkan digambarkan sebagai perbuatan yang dekat dengan sifat setan.

Peringatan ini tidak hanya bermakna moral, tetapi juga mengandung hikmah sosial dan ekonomi yang sangat dalam. Pemborosan pada akhirnya bukan hanya merugikan individu, tetapi juga merusak tatanan yang lebih luas.

Agar harta yang kita miliki, baik secara pribadi maupun dalam konteks lembaga, benar-benar digunakan sesuai amanah, terdapat tiga konsep penting yang perlu dipahami dan diinternalisasi secara serius.

Pertama adalah hajat. Hajat merujuk pada kebutuhan pokok yang jika tidak terpenuhi akan menimbulkan dampak serius. Dalam kehidupan pribadi, hajat mencakup kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Mengabaikan hajat berarti membuka pintu kesulitan yang lebih besar.

Dalam konteks organisasi, hajat memiliki makna strategis. Ia menuntut ketajaman dalam menentukan prioritas. Program yang langsung berdampak pada tujuan utama organisasi harus didahulukan.

Dalam lembaga dakwah misalnya, kegiatan pembinaan, pendidikan, dan penguatan kader harus menjadi prioritas utama. Sementara program lain yang bersifat pelengkap dapat ditunda atau disesuaikan dengan kondisi.

Sering kali kelemahan organisasi bukan terletak pada kekurangan dana, tetapi pada ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika semua dianggap penting, maka pada akhirnya tidak ada yang benar-benar menjadi prioritas.

Di sinilah pentingnya disiplin dalam menempatkan hajat sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan.

Kedua adalah menjauhi riba. Riba bukan sekadar persoalan hukum fiqih, tetapi juga menyangkut stabilitas keuangan jangka panjang.

Dalam praktiknya, riba sering muncul ketika seseorang atau lembaga memaksakan diri memenuhi keinginan tanpa perhitungan matang. Akibatnya, utang menjadi pilihan instan, dan bunga menjadi beban yang terus menggerus.

Dalam jangka pendek, utang mungkin terasa sebagai solusi. Namun dalam jangka panjang, ia bisa berubah menjadi jerat yang melemahkan. Banyak lembaga yang akhirnya kehilangan kemandirian karena terjebak dalam siklus utang. Energi yang seharusnya digunakan untuk berkembang justru habis untuk menutup kewajiban.

Oleh karena itu, sikap menahan diri menjadi sangat penting. Tidak semua yang diinginkan harus segera diwujudkan. Ada nilai kesabaran dan perhitungan yang harus dikedepankan. Menunda bukan berarti gagal, justru bisa menjadi strategi untuk menjaga keberlanjutan.

Dalam konteks ini, menjauhi riba bukan hanya bentuk ketaatan, tetapi juga langkah cerdas dalam menjaga kesehatan finansial.

Ketiga adalah menghindari mubazir. Mubazir terjadi ketika harta digunakan secara berlebihan atau untuk hal yang tidak memberikan manfaat yang jelas. Bentuknya bisa sangat beragam dan sering kali hadir dalam kebiasaan yang dianggap wajar.

Dalam kehidupan organisasi, mubazir bisa muncul dalam bentuk kegiatan seremonial yang tidak memiliki dampak signifikan. Acara yang megah namun minim substansi, perjalanan dinas yang sebenarnya bisa digantikan dengan teknologi komunikasi, hingga penggunaan fasilitas yang berlebihan. Semua ini jika tidak dikontrol akan menjadi kebocoran yang terus menggerus kekuatan organisasi.

Padahal, di era saat ini, efisiensi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Teknologi telah menyediakan banyak alternatif yang lebih hemat namun tetap efektif. Pertemuan daring, pengelolaan energi yang bijak, serta optimalisasi sumber daya yang ada merupakan bagian dari upaya menghindari mubazir.

Namun penting untuk dipahami bahwa menghindari mubazir bukan berarti menghilangkan kualitas. Silaturahmi tetap penting, pertemuan tetap diperlukan, dan penghargaan terhadap tamu tetap harus dijaga. Yang menjadi fokus adalah esensi, bukan kemewahan. Kesederhanaan yang terencana justru akan melahirkan kekuatan yang lebih tahan lama.

Pada titik ini, kita dapat melihat bahwa ketiga konsep ini saling berkaitan. Hajat mengarahkan prioritas, menjauhi riba menjaga kestabilan, dan menghindari mubazir memastikan efisiensi. Ketiganya membentuk satu sistem nilai yang utuh dalam pengelolaan harta.

Lebih jauh lagi, kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem yang dibangun, tetapi juga oleh karakter individu di dalamnya. Disiplin dalam mengatur keuangan pribadi akan berpengaruh langsung terhadap budaya organisasi. Jika setiap individu memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga amanah, maka organisasi akan memiliki fondasi yang kokoh.

Sebaliknya, jika individu cenderung abai, boros, dan tidak disiplin, maka sebaik apa pun sistem yang dibuat akan sulit berjalan dengan optimal. Oleh karena itu, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Kesadaran individu menjadi kunci utama dalam membangun kekuatan kolektif.

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, kita tidak selalu bisa mengendalikan faktor eksternal. Namun kita memiliki kendali penuh terhadap bagaimana kita bersikap. Memilih untuk berhati-hati, tidak boros, mendahulukan kebutuhan, menjauhi riba, dan menghindari mubazir adalah bentuk ikhtiar yang sangat nyata.

Jika prinsip-prinsip ini dijalankan secara konsisten, maka insyaAllah amanah akan tetap terjaga. Lebih dari itu, kita akan mampu menjalankan peran kita dengan lebih optimal, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari umat. Ketahanan tidak hanya dibangun dari kekuatan materi, tetapi dari nilai yang mengarahkannya.

Pada akhirnya, pengelolaan harta bukan sekadar urusan duniawi. Ia adalah bagian dari ibadah. Setiap keputusan yang diambil akan dimintai pertanggungjawaban. Maka menjaga amanah dalam hal ini bukan hanya kebutuhan strategis, tetapi juga kewajiban spiritual.

Wallahu a’lam bishawab.

*Penulis adalah Kepala Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel

DPW–DMW Hidayatullah Sulsel Gelar Rapat, Sinkronkan Program Dakwah dan Penguatan Kader

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar Rapat Sinkronisasi Program di Sekretariat DPW Hidayatullah Sulsel, Makassar, Senin (12/5/2026).

Makassar, 12 Mei 2026 — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar Rapat Sinkronisasi Program di Sekretariat DPW Hidayatullah Sulsel, Makassar, Senin (12/5/2026).

Rapat ini merupakan pertemuan kedua antara dua institusi utama di tingkat wilayah tersebut dalam rangka menyelaraskan gerak dakwah dan tarbiyah di seluruh Sulawesi Selatan.

Fokus utama pembahasan meliputi penggarapan program dakwah serta penguatan peran kader tingkat Ula dan Wustha agar lebih militan dalam menjalankan aktivitas dakwah di basis masing-masing.

Kegiatan dipandu Sekretaris Wilayah, Ust. Rezkiyaman, dan diawali dengan arahan dari Dr. Saleh Usman, S.S., M.I.Kom., serta Ust. KH. Abdul Majid, M.A.

Dalam arahannya, Dr. Saleh Usman menegaskan pentingnya integrasi manhaj sebagai kerangka berpikir dan kerangka kerja seluruh struktur organisasi. Ia menekankan bahwa peran DPW sebagai eksekutor dan DMW sebagai penjaga manhaj harus berjalan selaras.

“DPW itu eksekutor, DMW itu penjaga manhaj. Dua sayap ini harus sinkron. Kalau tidak, program dakwah bisa kehilangan ruh tarbiyahnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ust. KH. Abdul Majid menekankan pentingnya optimalisasi peran kader Ula dan Wustha sebagai ujung tombak dakwah di lapangan.

“Kader Ula dan Wustha adalah pasukan terdepan. Mereka yang setiap hari bersentuhan dengan jamaah di halaqah, majelis taklim, dan sekolah. DPW-DMW wajib memfasilitasi mereka dengan program yang jelas dan pendampingan rutin,” katanya.

Dalam rapat tersebut, sejumlah poin strategis disepakati, di antaranya penyusunan Kalender Dakwah Terpadu 2026/2027 oleh DPW dengan pengawalan konten oleh DMW agar sesuai manhaj. Selain itu, disepakati pula penguatan Gerakan Infaq Halaqah dengan target optimalisasi infaq halaqah dan infaq subuh.

DMW juga akan menyiapkan standarisasi materi melalui penyusunan silabus halaqah Ula dan Wustha yang selanjutnya didistribusikan oleh DPW ke tingkat daerah. Program lainnya adalah roadshow murabbi, di mana anggota DMW dijadwalkan turun langsung ke daerah untuk mendampingi murabbi lokal.

Untuk memastikan keberlanjutan program, rapat sinkronisasi DPW-DMW akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan sebagai bagian dari mekanisme evaluasi.

Menutup kegiatan, Sekretaris Wilayah Ust. Rezkiyaman menegaskan bahwa seluruh hasil rapat akan segera ditindaklanjuti oleh departemen terkait.

“Hasil rapat ini langsung diturunkan ke Departemen Dakwah dan Departemen Tarbiyah untuk dieksekusi. Tidak boleh hanya menjadi dokumen,” tegasnya.

Rapat sinkronisasi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat konsolidasi kelembagaan, sehingga dakwah Hidayatullah di Sulawesi Selatan semakin solid, terstruktur, dan terukur.

Dari Wartawan ke Penggerak Ekonomi Umat (Catatan Perjalanan Bersama H. Firman, Ketua LPH Sulsel)

0
Oleh : Abdul Jabbar*

Perjalanan menuju arena Rakornas Ekonomi itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun, seperti banyak perjalanan yang dipenuhi percakapan bermakna, jarak terasa meluas karena diskusi yang berlangsung begitu padat. Di dalam kendaraan, saya duduk bersama , sosok yang dikenal luas melalui Portal Amanah dan kiprahnya dalam dunia media serta penguatan ekonomi umat.

Sepanjang perjalanan, obrolan kami mengalir dari satu tema ke tema lain. Ada tiga kata yang terus muncul dan seakan menjadi simpul utama pembicaraan kami, yakni jabatan, profesionalisme, dan ekonomi mandiri. Tiga hal ini tampak sederhana jika disebutkan sepintas. Namun ketika dibedah lebih dalam, ketiganya saling berkaitan dan membentuk fondasi penting dalam membangun kekuatan umat di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

H. Firman bercerita tentang perjalanan amanah yang ia jalani. Dahulu, sebagian besar waktunya dihabiskan di ruang redaksi. Hari-harinya dipenuhi aktivitas memburu berita, memverifikasi informasi, menelusuri data, lalu menyusunnya menjadi tulisan yang layak dibaca publik. Dunia media menuntut ketelitian, kecepatan, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi.

Namun hidup sering kali menghadirkan jalan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Allah kemudian memindahkan beliau dari ruang redaksi menuju ruang ekonomi. Dari seorang wartawan, beliau dipercaya mengelola Departemen Ekonomi di sebuah yayasan, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Ketua LPH Sulsel. Perubahan bidang ini tampak kontras di permukaan, tetapi sesungguhnya memiliki ruh pengabdian yang sama.

Dari cerita itu saya menangkap satu pelajaran penting. Jabatan boleh berubah, medan kerja boleh berganti, tetapi nilai khidmat tidak boleh hilang. Ketika berada di dunia media, pengabdiannya diwujudkan dengan menjaga kebenaran informasi agar masyarakat tidak tersesat oleh kabar yang menyesatkan. Ketika berada di dunia ekonomi, pengabdiannya diwujudkan melalui upaya menjaga kehalalan transaksi, memastikan produk yang beredar sesuai syariat, dan menghadirkan sistem ekonomi yang lebih sehat serta berkeadilan.

Keduanya sama-sama merupakan ruang dakwah. Sama-sama membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab. Dalam istilah Al Quran, semuanya membutuhkan qaulan sadida, perkataan dan keputusan yang benar. Sebab pada akhirnya, dakwah tidak hanya berdiri di atas mimbar. Dakwah juga hadir di ruang rapat, pasar, kantor, lembaga usaha, bahkan di meja administrasi dan laporan keuangan.

Pembicaraan kami kemudian bersinggungan dengan arahan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust. Dr. Sholeh Utsman, tentang pentingnya memasuki ruang mutaghayyirat. Sebuah ruang yang menuntut adaptasi dan kemampuan membaca perubahan. Nilai dasar atau tsabit tetap harus dijaga. Amanah tidak boleh berubah. Kejujuran tidak boleh ditawar. Kehalalan harus tetap menjadi prinsip utama. Namun cara bekerja, pendekatan manajemen, teknologi yang digunakan, dan kompetensi yang dimiliki harus terus berkembang mengikuti tantangan zaman.

Di titik inilah profesionalisme menjadi sangat penting. Dalam diskusi kami, muncul satu konsep manajemen yang menarik, yakni First Who, Then What dari buku Good to Great karya . Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi dimulai dari siapa orang-orang yang berada di dalamnya sebelum membahas apa yang akan dikerjakan.

Prinsip ini sesungguhnya bukan hal baru dalam Islam. Rasulullah SAW telah mempraktikkannya jauh sebelum teori manajemen modern lahir. Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah tidak hanya membangun sistem, tetapi terlebih dahulu membangun manusia. Beliau menempatkan sahabat sesuai kapasitas dan karakter masing-masing. Abu Bakar dikenal matang dalam urusan finansial dan kepercayaan. Umar memiliki ketegasan dalam pengawasan dan regulasi. Utsman memiliki kekuatan dalam investasi dan pengembangan usaha. Abdurrahman bin Auf dikenal piawai dalam perdagangan dan pemasaran.

Mereka adalah tim inti yang dibangun berdasarkan kapasitas, integritas, dan visi perjuangan. Setelah orang-orang tepat berada di tempat yang tepat, arah perjuangan menjadi lebih mudah dijalankan.

H. Firman menegaskan bahwa profesionalisme bukan sekadar soal gelar akademik atau pengalaman teknis. Profesionalisme adalah kesungguhan menjaga amanah dengan standar kerja terbaik. Karena itu, seseorang tidak selalu harus bekerja secara linear sesuai latar belakang pendidikannya. Ada wartawan yang justru memiliki ketajaman membaca peluang ekonomi karena terbiasa menganalisis data dan tren. Ada lulusan teknik yang sangat rapi membangun sistem gudang dan distribusi. Ada pula aktivis dakwah yang ternyata mampu membangun jaringan bisnis dengan kuat karena memiliki kemampuan komunikasi dan kepercayaan publik.

Yang paling penting adalah karakter amanah, kemauan untuk terus belajar, serta komitmen terhadap visi besar lembaga dan perjuangan umat. Kapasitas teknis bisa diasah. Pengalaman bisa dibangun. Namun integritas adalah fondasi yang harus dijaga sejak awal.

Di LPH Sulsel, profesionalisme itu tampak nyata dalam kerja sehari-hari. Standar halal dijaga dengan ketat. Proses audit dilakukan secara sistematis. Sertifikasi dipastikan berjalan sesuai aturan. Semua dilakukan bukan sekadar untuk memenuhi administrasi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat muslim agar memperoleh produk yang halal dan baik.

Pembahasan kami lalu mengerucut pada tema yang paling banyak menyita perhatian, yakni ekonomi mandiri. Menurut H. Firman, kemandirian ekonomi umat tidak mungkin lahir hanya dari semangat sesaat. Ia membutuhkan gagasan yang matang, kerja kolektif, dan narasi yang terus dihidupkan.

Di tengah percakapan itu, beliau menyampaikan kalimat yang cukup membekas dalam ingatan saya. Ia mengatakan bahwa ide dan gagasan harus terus dituangkan dalam tulisan. Ekonomi umat membutuhkan narasi. Membutuhkan peta jalan. Membutuhkan dokumentasi pemikiran agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kalimat itu terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Banyak gerakan besar gagal bertahan bukan karena kekurangan semangat, melainkan karena gagasannya tidak terdokumentasi dengan baik. Ketika para pelakunya pergi, pengalaman dan pelajaran ikut hilang bersama waktu. Padahal peradaban dibangun bukan hanya dengan kerja fisik, tetapi juga dengan tradisi menulis dan mendokumentasikan ide.

Akhir-akhir ini interaksi kami memang cukup intens. LPH Sulsel tetap menjaga nilai tsabit dengan memastikan seluruh produk pesantren memenuhi standar halal dan thayyib. Sementara Departemen Ekonomi terus bergerak di ruang mutaghayyirat dengan membangun inovasi usaha, memperkuat jaringan ekonomi, serta mendorong lahirnya unit-unit produktif yang mampu menopang kemandirian lembaga.

Perjalanan bersama H. Firman itu akhirnya menyadarkan saya bahwa kemandirian tidak pernah lahir dari kerja seorang diri. Ia tumbuh dari kolaborasi, dari pertukaran gagasan, dan dari kesediaan setiap orang untuk mengambil peran terbaiknya. Dari ruang redaksi menuju ruang ekonomi, dari menulis berita hingga menyusun business plan, semuanya adalah bagian dari ikhtiar panjang membangun kekuatan umat.

Sebab pada akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari gagasan yang dituliskan, lalu diperjuangkan bersama hingga menjadi kenyataan.

Madrasah Kenabian – Fajar Wahyu (4); Iqraʼ wa Rabbukal Akram: Epistemologi Kasih Sayang dalam Pendidikan Islam

0
Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*
Ketika Allah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Dunia Pendidikan

Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berhenti pada perintah membaca di ayat pertama, dan tidak berakhir pada pengingat asal-usul di ayat kedua. Pada ayat ketiga, Al-Quran menghadirkan sesuatu yang sama sekali tidak terduga, dan justru di sinilah fondasi terdalam paradigma pendidikan Islam diletakkan.

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia pertama kali bukan sebagai Al-Jabbar yang memaksa, bukan sebagai Al-Qahhar yang menundukkan, bukan pula sebagai Al-Muntaqim yang membalas. Allah memperkenalkan diri-Nya, dalam konteks perintah membaca dan mencari ilmu, sebagai Al-Akram. Yang Maha Mulia, Maha Pemurah, dan Maha Memuliakan. Pilihan ini bukan sekadar ungkapan teologis. Ia adalah deklarasi pedagogis terdalam yang pernah diucapkan.

Al-Akram: Analisis Linguistik dan Makna Pedagogisnya

Ayat ketiga surah Al-‘Alaq hadir dalam formulasi yang sangat padat namun sangat kaya:

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”(QS. Al-‘Alaq: 3)

Dalam bahasa Arab, kata Al-Akram merupakan bentuk superlatif dari karim, yang memiliki spektrum makna yang sangat luas, mulia, dermawan, luhur dalam memberi, memuliakan pihak lain, dan tidak menghina ketika memberi. Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughah menjelaskan bahwa akar kata كرم dalam seluruh derivasinya selalu mengandung makna kemulian yang disertai dengan pemberian yang tidak merendahkan penerima. Inilah yang membedakannya dari sekedar ‘baik hati’ dalam pengertian umum.

Ketika Allah mengaitkan perintah iqra’ dengan sifat-Nya sebagai Al-Akram, Ia sedang membangun proposisi yang sangat kuat, bahwa ilmu adalah pemberian yang memuliakan, bahwa Allah sebagai sumber ilmu tertinggi memberikannya dengan kemurahan tanpa menghinakan penerimanya, dan bahwa seluruh proses pendidikan yang benar harus mencerminkan sifat Al-Akram ini. Guru yang mendidik dengan menghina, meremehkan, atau menekan, bertentangan secara fundamental dengan paradigma pendidikan Qur’ani.

Perlu juga dicatat bahwa ayat ini mengulang perintah iqra’ untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya muncul di ayat pertama. Para mufassir menjelaskan bahwa pengulangan ini bukan sekadar penekanan, melainkan pemberitahuan bahwa setiap sesi membaca dan belajar harus selalu dikembalikan kepada kesadaran tentang Tuhan Yang Maha Mulia sebagai sumbernya. Belajar yang baik adalah belajar yang terus diperbarui orientasi ilahiahnya.

Landasan Teologis Tarbiyah: Ilmu Sebagai Jalan Pemuliaan

Penghubungan aktivitas belajar dengan sifat Al-Akram secara langsung menegaskan bahwa dalam Islam, ilmu bukan sekadar instrumen untuk mencapai tujuan material. Ilmu adalah sarana pemuliaan manusia sebagai makhluk yang telah diberi kehormatan oleh Allah. Hal ini diperkuat oleh firman Allah di tempat lain yang menjadi salah satu ayat tarbawi paling fundamental dalam Al-Quran:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah/58: 11)

Kata darajat yang digunakan dalam ayat ini dalam bentuk jamak tanpa batas menunjukkan bahwa pengangkatan derajat melalui ilmu bersifat bertingkat, berlapis, dan tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan saja. Ia mencakup derajat sosial, moral, spiritual, dan ukhrawi sekaligus. Ilmu dalam Islam dengan demikian adalah investasi peradaban yang paling komprehensif.

Lebih jauh lagi, Allah menyebut diri-Nya sebagai Al-Akram justru saat memerintahkan aktivitas intelektual, bukan saat memerintahkan aktivitas ritual. Ini mengandung makna yang sangat dalam bahwa mencari ilmu adalah salah satu jalan paling langsung untuk mendekat kepada sifat-sifat Allah, dan bahwa Allah merespons aktivitas belajar dengan kemurahan yang tidak terbatas. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)

Hadits ini bukan hanya janji tentang akhirat. Ia adalah pernyataan tentang mekanisme ilahiah yang bekerja dalam kehidupan orang yang belajar dengan sungguh-sungguh: Allah, sebagai Al-Akram, memberikan kemudahan secara aktif bagi mereka yang aktif mencari ilmu.

Paradigma Pendidikan Qur’ani: Dari Tekanan menuju Pemuliaan

Salah satu krisis terdalam pendidikan modern adalah transformasi ruang belajar menjadi arena tekanan. Peserta didik belajar dalam ketakutan akan nilai buruk, penilaian negatif dari guru, dan kegagalan yang akan memalukan. Sistem pendidikan yang bertumpu pada kompetisi destruktif, peringkat yang mengeksklusi, dan penilaian yang menghukum telah secara sistematis menciptakan generasi yang pintar secara teknis namun terluka secara psikologis.

Wahyu ketiga Al-‘Alaq menghadirkan paradigma yang secara radikal berbeda. Allah tidak membuka pendidikan manusia dengan ancaman dan konsekuensi kegagalan. Ia membukanya dengan memperkenalkan diri-Nya sebagai sumber kemurahan. Ini adalah arsitektur motivasi yang sangat cerdas: manusia didorong untuk belajar bukan karena takut dihukum, melainkan karena menyadari bahwa ia sedang mendekat kepada Tuhan Yang Maha Mulia.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pelaksana tarbiyah Qurani menunjukkan prinsip ini dalam setiap aspek metode pengajarannya. Beliau tidak mempermalukan murid yang tidak tahu, tidak mencela secara destruktif, dan senantiasa membangun harapan bahkan kepada mereka yang paling sering melakukan kesalahan. Beliau bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Sampaikan kabar gembira dan jangan membuat orang lari. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini bukan sekadar panduan umum. Ia adalah prinsip metodologi tarbiyah yang sangat spesifik: proses belajar harus dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan yang disengaja; di atas kabar gembira, bukan ancaman yang menakutkan. Ini adalah implementasi konkret dari sifat Al-Akram dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Dalam konteks ini, peran guru dalam Islam melampaui fungsi sebagai mu’allim yang sekadar menyampaikan materi. Ia adalah murabbi yang memelihara pertumbuhan jiwa, muaddib yang membentuk karakter, dan mursyid yang mengarahkan orientasi belajar kepada Allah. Ketiganya mustahil dijalankan tanpa kehadiran kasih sayang sebagai fundamen relasi guru dan murid.

Al- Akram dan Mitivasi Intrinsik

Psikologi pendidikan modern membedakan dua jenis motivasi belajar yang memiliki dampak berbeda secara signifikan terhadap kualitas dan ketahanan proses belajar. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang didorong oleh faktor dari luar diri, seperti nilai, hadiah, hukuman, atau pengakuan sosial. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang lahir dari dalam diri, dari kesadaran makna, rasa ingin tahu, dan kepuasan dalam proses belajar itu sendiri.

Wahyu ketiga Al-‘Alaq “Iqraʼ wa Rabbukal Akram”  secara sangat cerdas membangun motivasi intrinsik yang paling dalam dan paling tahan lama yang bisa dimiliki seorang pelajar, yaitu kesadaran bahwa ia sedang mendekat kepada Allah Yang Maha Mulia melalui aktivitas mencari ilmu. Ini adalah motivasi yang tidak bergantung pada nilai ujian, tidak goyah ketika tidak ada pengakuan sosial, dan tidak padam ketika menghadapi kesulitan, karena akarnya tertanam di dalam jiwa, bukan di dalam kondisi eksternal.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini, yang menjadi fondasi seluruh etika amal dalam Islam, memiliki implikasi langsung bagi motivasi belajar. Ketika niat mencari ilmu diarahkan kepada Allah sebagai Al-Akram, seluruh proses belajar bertransformasi dari aktivitas kognitif biasa menjadi ibadah yang bermakna secara spiritual. Dan ibadah, oleh sifat dasarnya, memiliki sumber motivasi yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan daripada sekadar ambisi duniawi.

Salah satu perkembangan paling menarik dalam neurosains pendidikan pada dua dekade terakhir adalah pembuktian ilmiah terhadap apa yang wahyu pertama telah ajarkan selama empat belas abad bahwa kasih sayang, keamanan emosiownal, dan pemuliaan manusia bukan hanya baik secara moral, tetapi secara biologis merupakan kondisi yang paling optimal bagi otak untuk belajar.

Prinsip Al-Akram dalam pendidikan, yang menciptakan ruang belajar yang aman dan memuliakan, dengan demikian bukan hanya indah secara nilai, tetapi secara neurobiologis mengaktifkan kapasitas berpikir tertinggi yang dimiliki manusia. Wahyu pertama telah merancang kondisi neurobiologis paling optimal bagi pembelajaran bahkan sebelum ilmu neurosains mengetahui cara kerjanya.

Krisis Pendidikan Modern dan Panggilan Untuk Kembali Kepada Al-Akram

Dunia pendidikan hari ini menghadapi paradoks yang menyolok. Akses terhadap informasi semakin mudah dan murah, namun tingkat kecemasan pada pelajar justru meningkat tajam. Laporan WHO (2021) mencatat bahwa gangguan kecemasan dan depresi di kalangan pelajar usia sekolah telah mencapai proporsi yang memprihatinkan di hampir seluruh wilayah dunia. Di satu sisi ada ledakan informasi, di sisi lain ada krisis makna.

Akar masalahnya bukan pada kurangnya kurikulum atau minimnya teknologi. Akarnya adalah pada filosofi pendidikan yang keliru: pendidikan telah dibangun di atas logika produksi tenaga kerja, bukan pemuliaan manusia. Peserta didik diperlakukan sebagai objek yang diisi dengan kompetensi, bukan sebagai subjek yang tumbuh dalam kemuliaan. Guru dipaksa menjadi penyampai konten kurikulum, bukan murabbi yang membimbing jiwa.

Krisis ini memerlukan solusi yang lebih dari sekadar reformasi metode. Ia memerlukan revolusi filosofi. Dan jawaban itu telah ada jauh sebelum krisis ini muncul, tersimpan dalam tiga kata di ayat ketiga surah Al-‘Alaq:

اِقْرَا وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”(QS. Al-‘Alaq: 3)

Kembali kepada Al-Akram berarti membangun kembali pendidikan di atas kasih sayang, bukan ketakutan. Di atas pemuliaan manusia, bukan eksploitasi potensinya. Di atas makna spiritual yang dalam, bukan sekadar kecakapan teknis yang dangkal. Ini bukan romantisme masa lalu. Ini adalah kebutuhan mendesak yang dikonfirmasi oleh sains dan dipertegas oleh wahyu.

Reflektif: Membaca Dalam Naungan Tuhan Yang Maha Memuliakan

Wahyu pertama tidak hanya memerintahkan manusia untuk membaca teks. Ia mengundang manusia untuk membaca seluruh kehidupan, diri sendiri, sejarah, alam semesta, dan realitas sosial, dalam cahaya Tuhan Yang Maha Mulia. Setiap aktivitas belajar yang dilakukan bismi rabbika dan dalam kesadaran akan rabbukal akram adalah aktivitas yang terhubung dengan sumber kemuliaan yang tidak pernah habis.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu pertama dalam guncangan jiwa yang sangat besar. Namun Allah tidak membiarkan beliau bertumbuh dalam ketakutan. Allah memperkenalkan diri-Nya dengan kemurahan. Dan dari perkenalan itu lahirlah seorang pendidik terbesar dalam sejarah umat manusia, yang mendidik bukan dengan ancaman melainkan dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan melainkan dengan keteladanan, bukan dengan merendahkan melainkan dengan memuliakan setiap jiwa yang datang kepadanya.

Di tengah krisis pendidikan yang semakin dalam, panggilan itu masih terngiang dengan sangat jelas: Iqra’ wa rabbukal akram. Bacalah, belajarlah, bertumbuhlah. Namun lakukan semuanya dalam naungan Tuhan Yang Maha Memuliakan. Karena hanya dalam naungan itulah ilmu akan benar-benar membebaskan, bukan membelenggu. Hanya dalam naungan itulah pendidikan akan benar-benar memanusiakan, bukan sekadar menghasilkan.

*Penulis adalah ketua STAI Al-Bayan Makassar

Rakerwil BMH Sulsel Dibuka, Dr. Muh. Saleh: BMH Basis Kekuatan Program Hidayatullah

0

MAKASSAR — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Sulawesi Selatan resmi digelar di Ballroom Hotel Ibis Makassar, Ahad (10/5/2026). Agenda strategis yang berlangsung selama dua hari hingga 11 Mei 2026 itu dibuka secara resmi oleh Direktur Utama BMH Pusat, Supendi, M.Kom.

Rakerwil tahun ini mengusung tema transformasi sumber daya manusia dan jaringan untuk akselerasi BMH sebagai lembaga zakat terdepan. Forum ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus penguatan peran BMH dalam mendukung program-program keummatan, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Saleh, M.I.Kom, yang hadir sebagai pendamping BMH Sulsel, dalam sambutannya menegaskan posisi strategis BMH dalam struktur perjuangan organisasi. Ia menyebut BMH sebagai basis kekuatan utama yang menopang keberlangsungan program dakwah dan pendidikan Hidayatullah.

“BMH harus tetap berada di garda terdepan dan menjadi basis kekuatan utama bagi seluruh program perjuangan Hidayatullah. Keberhasilan BMH adalah mesin penggerak bagi dakwah dan pendidikan kita,” ujar Muh. Saleh di hadapan peserta Rakerwil.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara prinsip dasar perjuangan yang bersifat tetap (tsawabit) dengan kemampuan adaptasi (mutaghayyirat) terhadap dinamika zaman. Menurutnya, seluruh amil BMH harus berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi gerakan, sekaligus mampu berinovasi dalam merespons perubahan, terutama dalam aspek teknis dan pengembangan program.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, harus tetap berada dalam koridor manhaj Rasulullah, di mana strategi dan metode dapat berkembang secara dinamis tanpa meninggalkan nilai-nilai wahyu sebagai pijakan utama.

Rakerwil ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ir. H. Abdul Majid, M.A., Ketua Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar Moh. Arfa, M.M, Ketua STAI Al-Bayan Dr. Abdul Qadir Mahmud, M.A., serta Ketua Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulsel Rahmatia ZR., S.H.I., M.M.

Peserta kegiatan terdiri dari manajemen BMH Sulsel, fungsionaris amil BMH tingkat wilayah serta para Ketua Unit Layanan Zakat BMH dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Panitia pelaksana melaporkan, forum ini akan difokuskan pada evaluasi capaian kinerja semester pertama serta sinkronisasi target penghimpunan dan pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah guna meningkatkan kemaslahatan umat di Sulawesi Selatan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai harapan atas kelancaran dan keberkahan seluruh agenda hingga akhir pelaksanaan.*/Jabbar

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Daurah Muallim Grand MBA di Bulukumba

0

Bulukumba (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menggelar Daurah Muallim Grand MBA pada 9–11 Mei 2026 di Pondok Tahfidz Jannatul Firdaus, Tihulohe, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan ini diikuti para kepala Departemen Dakwah dan Layanan Ummat dari seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Sulawesi Selatan.

Program ini bertujuan memperkuat kapasitas para muallim sebagai garda terdepan dakwah dan pembinaan umat berbasis manhaj Hidayatullah. Panitia menyatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fokus utama untuk memastikan program dakwah berjalan lebih terukur dan berdampak.

Sejumlah pemateri nasional dan lokal dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Usatdz Dr. Saleh Usman, S.S., M.I.Kom., dijadwalkan membahas Grand MBA sebagai grand design gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah. Sementara itu, Ust. Nasrullah Alwi, Lc., M.M., menyampaikan materi strategi dakwah komunitas, dan Ust. Dr. Khairun Misjaya mengulas fikih layanan umat di era digital.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pos Dai Sulsel dan Laznas BMH Sulsel yang mendukung kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar-lembaga dalam memperkuat gerakan dakwah. “Sinergi ini menunjukkan bahwa dakwah memerlukan kerja bersama untuk melahirkan muallim yang militan dan profesional,” ujarnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan difokuskan pada penguatan manhaj, penyelarasan niat (tashihun niyah), serta penyusunan program dakwah berbasis data umat. Pada hari terakhir, peserta akan merumuskan rencana aksi (action plan) masing-masing daerah untuk satu tahun ke depan.

Selain sesi utama, peserta juga mengikuti rangkaian kegiatan spiritual, termasuk qiyamullail dan halaqah subuh berjamaah. Lokasi kegiatan dipilih karena dinilai mendukung suasana pembinaan ruhiyah.

Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menargetkan terbentuknya standarisasi gerakan muallim yang lebih solid, terukur, dan mampu memberikan dampak langsung di tingkat komunitas.*/Kaisar

Spirit Wahyu: Menyiapkan Kader, Menjaga Estafet Perjuangan

0

SPIRIT WAHYU | EDISI 22

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Ada pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Selesai satu urusan, hadir urusan berikutnya. Selesai satu perjalanan, sudah menunggu perjalanan lain. Bukan karena buruk dikelola, melainkan memang begitu watak amanah: ia tidak mengenal kata tuntas. Ia hanya mengenal kata lanjut.

Barangkali inilah yang membedakan mereka yang benar-benar berjuang dengan mereka yang sekadar bekerja. Yang berjuang tidak menghitung kapan istirahat. Yang berjuang tahu bahwa setiap lelah adalah bagian dari jalan, bukan alasan untuk berhenti.

Dua hari belakangan (7-8 Mei 2026), saya berkesempatan membersamai rombongan dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dalam kunjungan mereka ke Sulawesi Tengah. Rombongan ini terdiri dari Ustaz Masykur Suyuti, Lc., M.A. selaku Sekretaris Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan; M. Rizky Kurnia Sah, S.H.I., M.E. selaku Ketua STIS; Nasikin, S.H., M.E. sebagai Ketua Bidang Alumni dan Kerja Sama; serta Syarifuddin sebagai Wakil Ketua II.

Kunjungan ini bukan sekadar lawatan formal. Ada maksud yang lebih dalam dan lebih besar di baliknya. Yaitu, diantaranya mempererat silaturahmi dengan keluarga besar Hidayatullah di Sulawesi Tengah, sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama pengiriman mahasiswa ke STIS Hidayatullah Pusat di Balikpapan. Sebuah niat yang sederhana dalam ungkapan, namun berat dalam bobot misinya.

Perjalanan dimulai pada 5 Mei, ketika rombongan tiba di Donggala pada siang hari, lalu bergerak ke Palu untuk beristirahat sambil bersilaturahmi dengan pengurus Hidayatullah setempat. Keesokan harinya, 6 Mei, perjalanan dilanjutkan menuju Toli-Toli. Dalam perjalanan panjang itu, rombongan menyempatkan singgah di Hidayatullah Soni, Kecamatan Dampal Selatan. Malam harinya, tibalah di Hidayatullah Toli-Toli, disambut hangat, lalu bersilaturahmi dengan pengurus daerah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Hidayatullah Singga.

Hari ketiga tak kalah padat. Selepas zuhur, rombongan bergerak menuju Tinombala Jaya di Kabupaten Parigi Moutong. Menjelang sore, tibalah di Parigi. Kelelahan sejenak terlupakan saat tuan rumah menyambut dengan durian Moutong yang harum dan legit. Setelah Magrib, perjalanan berlanjut ke Hidayatullah Parigi untuk menemui Ustaz Bahari. Tengah malam baru tiba. Lelah itu nyata, tapi kebersamaan membuat segalanya terasa lebih ringan dari yang seharusnya.

Pagi tanggal 8 Mei, perjalanan kembali dimulai menuju Palu. Di tengah perjalanan pulang itu, rombongan masih sempat bersilaturahmi dengan Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah, Bapak Firmansyah. Perbincangan yang terjalin terasa menggairahkan, terutama ketika menyentuh Program Berani Cerdas yang tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Ada peluang di sana. Ada pintu yang terbuka, dan kami tidak ingin membiarkannya tertutup begitu saja.

Perjalanan ini padat. Tidak bisa disangkal. Namun di balik padatnya jadwal dan jauhnya jarak yang ditempuh, ada cita-cita besar yang sedang diperjuangkan bersama, agar semakin banyak kader Hidayatullah dari Sulawesi Tengah yang dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Hidayatullah, khususnya STIS Balikpapan. Bukan sekadar soal angka mahasiswa atau data statistik kelulusan. Ini soal kesinambungan. Ini soal siapa yang akan melanjutkan langkah setelah kita berhenti melangkah.

Dakwah, dalam pengertian yang paling jujur, bukan hanya soal membangun program. Program bisa selesai. Proyek bisa rampung. Gedung bisa berdiri dan diresmikan. Namun yang paling sulit, sekaligus paling penting, adalah membangun manusia. Kader yang tidak hanya mengerti apa yang harus dikerjakan, tetapi juga mengapa ia harus mengerjakannya. Kader yang memahami bahwa perjuangan ini lebih besar dari dirinya sendiri, dan justru karena itulah ia layak diperjuangkan.

Ayat yang menjadi pembuka tulisan ini bukan sekadar kutipan pemberi semangat. Ia adalah perintah. “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang…” Kata “hendaklah” dalam bahasa Al-Qur’an bukan sekadar anjuran. Ia bermakna kemestian. Ada tanggung jawab kolektif yang dibebankan kepada umat, bahwa kebaikan harus terus ada yang menyerukan, dan kemungkaran harus terus ada yang mencegah. Tugas ini tidak boleh terputus. Dan agar tidak terputus, harus ada generasi yang dipersiapkan untuk menerimanya.

Inilah yang membuat perjalanan seperti ini terasa bermakna melebihi sekadar kelelahan fisik yang ditanggungnya. Setiap silaturahmi yang dijalin, setiap pertemuan dengan pengurus daerah, setiap obrolan tentang kerja sama pengiriman mahasiswa, semua itu adalah bagian dari ikhtiar besar yang mungkin tidak akan tampak hasilnya hari ini. Tapi benih yang ditanam dengan kesungguhan tidak akan sia-sia. Ia hanya butuh waktu, tanah yang tepat, dan tangan-tangan yang sabar merawatnya.

Perjuangan Islam di negeri ini, bahkan di dunia, tidak kekurangan orang yang bersemangat memulai. Yang lebih langka adalah mereka yang bersedia menyiapkan orang lain untuk melanjutkan. Yang rela tidak menjadi pusat, asalkan misi tetap berjalan. Yang bersedia menjadi jembatan, meski jembatan tidak pernah ikut menikmati perjalanan yang dileawatinya.

Menyiapkan kader adalah pekerjaan yang sunyi. Ia tidak selalu mendapat tepuk tangan. Ia tidak selalu terlihat dalam foto-foto kegiatan besar. Namun tanpanya, tidak ada perjuangan yang bertahan melampaui satu generasi.

Semoga setiap langkah dalam perjalanan ini menjadi bagian dari ikhtiar yang diberkahi Allah. Dan dari benih-benih kecil yang hari ini ditanam dengan sabar, semoga kelak lahir kader-kader tangguh yang akan meneruskan estafet perjuangan Islam. Bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk peradaban yang lebih luas dan lebih mulia dari yang bisa kita bayangkan hari ini.

Perjalanan ini terus berlanjut. Dan itu kabar baik.

*Penulis, Sarmadani, S.E., adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, yang juga Ketua DPW Hidayatullah Sulteng

Madrasah Kenabian – Fajar Wahyu (3); Khalaqal Insaana min ‘Alaq: Kesadaran Asal-Usul sebagai Fondasi Kerendahan dan Kekuatan Ilmu

0
oleh: Dr. Abdul Qadir bin Muhmmad*

Setelah Perintah Membaca, Manusia Diingatkan Siapa Dirinya  

Perintah iqra’ pada ayat pertama surah Al-‘Alaq menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban Islam. Namun Al-Quran tidak berhenti di sana. Setelah memerintahkan manusia untuk membaca, wahyu langsung mengarahkan pandangan ke dalam: mengingatkan manusia tentang asal-usulnya yang paling awal. Urutan ini bukan kebetulan, melainkan kesengajaan yang sarat makna pedagogis.

Seorang yang baru saja diperintahkan untuk menjadi pelajar dan pembaca harus segera dikonfrontasikan dengan satu pertanyaan mendasar; siapa sebenarnya kamu ?, dari mana kamu berasal ?. Tanpa kejernihan terhadap pertanyaan ini, ilmu yang kelak diperoleh berisiko menjadi alat kesombongan, bukan sarana pengabdian. Wahyu kedua dalam sejarah Islam itulah yang menjawab pertanyaan itu dengan sangat tegas dan tidak dapat ditafsirkan secara lain.

Manusia dari ‘Alaq: Dekonstruksi “Thaga” (Kesombongan) Sejak Awal

Ayat kedua surah Al-‘Alaq datang sebagai pernyataan yang sederhana secara bunyi, namun sangat dalam secara makna:

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

 “Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq ” (QS. Al-‘Alaq/96: 2)

Kata ‘alaq dalam bahasa Arab memiliki spektrum makna yang kaya. Sesuatu yang melekat, bergantung, atau tersangkut. Dia segumpal darah yang melingkar, serta organisme yang hidupnya bergantung pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Para mufassir seperti Ibn Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata ini merujuk pada fase awal embrio manusia yang melekat pada dinding rahim, sebuah gumpalan merah kecil yang tidak memiliki daya apapun untuk mempertahankan dirinya sendiri.

Namun Al-Quran tidak hanya menyampaikan fakta embriologi. Ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih fundamental, yaitu mendekonstruksi kesombongan manusia dari akarnya. Manusia yang kelak merasa paling tahu, paling berkuasa, paling independen, dan paling menentukan nasib dirinya sendiri, ternyata berasal dari sesuatu yang lemah, melekat bergantung, dan tidak memiliki kuasa apa pun atas keberadaannya. Pengingat ini bukan untuk merendahkan, melainkan untuk meluruskan orientasi jiwa.

Al-Quran menggunakan strategi retoris yang sangat cerdas di sini. Setelah mengangkat derajat manusia dengan memerintahkan aktivitas intelektual tertinggi, yakni membaca dan berpikir, wahyu langsung menyeimbangkan dengan pengingat tentang kelemahan asal. Ini adalah cara Al-Quran membangun kepribadian yang sehat. Tinggi dalam aspirasi intelektual, namun rendah hati dalam kesadaran diri.

Penciptaan Bertahap: Embriologi Al-Qur’an Dan Sains Modern

Al-Quran menguraikan proses penciptaan manusia secara lebih rinci di tempat lain, dan keterincian ini menjadi salah satu bukti keajaiban ilmiah teks wahyu yang paling banyak dikaji oleh para ilmuwan modern:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ﴿١٣﴾ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴿١٤﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Al-Mu’minun/23: 12–14)

Ayat ini merinci enam fase penciptaan manusia yang membentuk sebuah lintasan waktu yang sangat terencana: nuthfah (setetes air), ‘alaqah (segumpal darah yang melekat), mudhghah (segumpal daging), pembentukan tulang, pembungkusan dengan daging, dan akhirnya peniupan ruh yang menjadikannya makhluk yang sama sekali berbeda dari organisme biologis biasa.

Korespondensi Sains Modern, Profesor Keith Moore, ahli embriologi dari University of Toronto, dalam karyanya The Developing Human (1983) menyatakan bahwa deskripsi Al-Qur’an tentang tahapan perkembangan embrio sangat akurat secara ilmiah dan melampaui pengetahuan yang tersedia pada abad ke-7 Masehi. Kata ‘alaqah yang bermakna “sesuatu yang melekat” secara tepat menggambarkan kondisi embrio pada hari ke-6 hingga ke-24 ketika ia menempel pada dinding rahim untuk mendapatkan nutrisi.

Namun lebih dari akurasi ilmiahnya, ayat ini menyampaikan pesan filosofis yang sangat dalam tentang pendidikan dan pertumbuhan manusia. Penciptaan manusia bukan peristiwa instan, melainkan proses bertahap yang penuh ketelitian ilahi. Ini memiliki implikasi langsung bagi cara kita memahami pendidikan bahwa manusia harus tumbuh melalui proses, ilmu membutuhkan waktu dan kesabaran, dan perubahan karakter tidak terjadi dalam semalam.

Dualitas Manusia: Antara Tanah Dan Langit

Al-Quran membangun pemahaman tentang manusia di atas dualitas yang tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Manusia adalah makhluk yang secara jasmani berasal dari tanah dan proses biologis yang sangat sederhana, namun secara ruhani menanggung kehormatan yang tidak diberikan kepada makhluk lain mana pun:

وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

“Dan Aku telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-Hijr/15: 29)

Peniupan ruh ilahiah ke dalam jasad yang berasal dari tanah adalah momen paling menentukan dalam sejarah manusia sebagai spesies. Inilah yang membedakan manusia dari seluruh makhluk lainnya. Ia adalah pertemuan antara yang paling rendah secara materi, yaitu tanah dan darah, dengan yang paling mulia secara spiritual, yakni ruh yang ditiupkan langsung oleh Allah.

Dualitas ini bukan kontradiksi yang harus dipilih salah satunya. Ia adalah ketegangan kreatif yang menjadi sumber dinamika manusia. Kesadaran akan asal-usulnya yang rendah mendorong kerendahan hati, sementara kesadaran akan ruh ilahiah yang ditiupkan ke dalamnya mendorong kemulian aspirasi. Seorang Muslim yang memahami dualitas ini tidak akan hina dalam ibadahnya, karena ia tahu siapa yang dihambai. Pada saat yang sama, ia tidak sombong dalam ilmunya, karena ia tahu dari apa ia berasal.

 Analisis Tarbiyah: Empat Prinsip Pendidikan Dari ayat ini

Ayat خَلَقَ الْإِنْسًانَ مِنْ عَلَقٍ (khalaqal insaana min ‘alaq) bukan sekadar pernyataan teologis. Ia mengandung prinsip-prinsip pendidikan yang sangat operasional dan relevan bagi setiap proses tarbiyah yang serius.

A. Kesadaran Asal-Usul Melahirkan Kerendahan Hati yang Produktif

Seseorang yang benar-benar memahami bahwa dirinya berasal dari sesuatu yang lemah dan bergantung tidak akan mudah sombong dalam ilmunya. Ini bukan sekadar ajaran moral. Ia adalah prinsip psikologis yang sangat dalam tentang bagaimana ego yang terkelola dengan baik justru membebaskan kapasitas belajar seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim).

Hadits ini bukan hanya janji ukhrawi. Dalam konteks pendidikan, ia menggambarkan mekanisme yang sangat nyata. Orang yang rendah hati dalam belajar akan terus menerima ilmu baru, sementara orang yang sombong telah menutup pintunya sendiri. Tawadhu’ adalah kondisi jiwa yang paling kondusif bagi pertumbuhan intelektual yang berkelanjutan.

B. Proses Bertahap sebagai Sunnatullah dalam Pendidikan

Sebagaimana penciptaan manusia berlangsung melalui fase yang terencana dan sistematis, pendidikan yang efektif juga harus bersifat bertahap, sabar, dan berjenjang. Tidak ada manusia yang lahir langsung dewasa. Tidak ada ilmuwan yang tiba-tiba menjadi ahli tanpa proses belajar yang panjang. Al-Quran mengajarkan kita untuk menghormati proses, bukan hanya mengagumi hasil.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan bahwa ilmu harus dituntut secara bertahap, dari yang paling mendasar menuju yang paling kompleks, sebagaimana embrio berkembang dari tahap paling awal menuju kesempurnaan. Memotong proses ini adalah pengkhianatan terhadap sunnatullah itu sendiri.

C. Identitas Sejati sebagai Fondasi Karakter

Bukan hanya transfer pengetahuan, pendidikan Islam bertujuan membentuk identitas yang sehat dan berakar. Peserta didik harus diajak untuk menjawab pertanyaan eksistensial yang paling mendasar: siapa aku, dari mana aku berasal, dan ke mana aku akan kembali. Tanpa jawaban yang jernih atas pertanyaan ini, seluruh ilmu yang diperoleh akan mengambang tanpa tujuan yang benar.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya. (Ungkapan masyhur ini bukan hadits, akan tetapi merupakan ucapanYahya bin Mu’adz ar-Razy sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn as-Sam’aniy).

Ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razy ini mengandung hikmah yang sangat dalam secara psikologis dan spiritual. Pengenalan diri yang jujur, termasuk pengakuan atas kelemahan dan keterbatasan asal-usul, adalah jalan langsung menuju pengenalan kepada Allah sebagai Sang Pencipta yang Maha Kuasa.

D. Guru sebagai Pembimbing Kesadaran, Bukan Sekadar Penyampai Materi

Jika tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang sadar diri, rendah hati, dan berorientasi kepada Allah, maka peran guru melampaui sekadar pengajar mata pelajaran. Ia adalah murabbi, seorang yang membentuk cara pandang, mengarahkan kesadaran, dan menanamkan makna ke dalam setiap proses belajar. Ini adalah peran yang menuntut guru untuk terlebih dahulu memiliki kesadaran tersebut dalam dirinya sendiri.

Relevansi Bagi Krisis Pendidikan Modern

Krisis terbesar dalam pendidikan kontemporer bukanlah kekurangan lembaga atau minimnya anggaran, melainkan krisis karakter dan orientasi. Generasi yang tumbuh dalam budaya media sosial menghadapi tekanan yang belum pernah ada sebelumnya untuk tampil sempurna, menonjolkan diri, dan memamerkan pencapaian. Ego yang mengembang menjadi standar normal, bukan anomali.

Al-Quran menawarkan antidot yang sangat spesifik terhadap krisis ini. Pendidikan berbasis kesadaran asal-usul mengajarkan peserta didik untuk memulai perjalanan ilmunya bukan dari titik kesombongan, melainkan dari pengakuan jujur atas keterbatasan diri. Dan dari titik rendah yang jujur itulah, pertumbuhan yang sejati bisa dimulai.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dari prinsip ini. Beliau adalah orang yang paling dalam ilmunya di antara seluruh umat manusia, namun tidak ada seorang pun dalam sejarah yang lebih rendah hati dari beliau. Beliau tidak dididik untuk merasa hebat sejak awal, tetapi untuk menyadari keterbatasannya di hadapan Allah yang Maha Mengetahui. Dan dari kesadaran itulah lahir kekuatan yang mengubah arah sejarah dunia.

Maka jika umat ini ingin membangun kembali peradaban ilmu yang pernah menggetarkan dunia, mereka harus memulai dari titik yang sama persis: bukan dari klaim kepandaian dan superioritas, tetapi dari keberanian untuk berkata dengan jujur, ‘Aku berasal dari sesuatu yang lemah, maka aku harus terus belajar.’

Penutup: Cermin Yang Membebaskan

Ayat khalaqal insaana min ‘alaq adalah cermin yang memaksa manusia melihat dirinya tanpa ilusi dan tanpa kepura-puraan. Ia bukan cermin yang merendahkan, karena yang rendah bukan manusianya, melainkan kesombongannya. Ia adalah cermin yang membebaskan,  membebaskan manusia dari beban ego yang melelahkan, dari penjara ilusi superioritas yang menghambat pertumbuhan, dan dari kesombongan intelektual yang pada akhirnya selalu memangsa dirinya sendiri.

Di tengah dunia modern yang mendorong manusia untuk terus tampil dominan dan unggul dalam segala hal, ayat ini adalah undangan untuk berdiri di depan cermin yang jujur. Kita berasal dari sesuatu yang lemah. Kita hidup dengan potensi yang sangat besar. Dan kita akan kembali kepada Allah yang dari-Nya seluruh ilmu berasal dan kepada-Nya seluruh ilmu akan dipertanggungjawabkan.

Dari kesadaran itulah, dan hanya dari kesadaran itulah, ilmu yang sejati akan terus tumbuh. Bukan ilmu yang membanggakan pemilikinya, tetapi ilmu yang mendekatkan pemilikinya kepada Allah dan memberikan manfaat yang nyata bagi sesama manusia.