BerandaBeritaNasionalKetua Umum Hidayatullah: Jangan Jadi Sarjana yang Cemas Menghadapi Masa Depan

Ketua Umum Hidayatullah: Jangan Jadi Sarjana yang Cemas Menghadapi Masa Depan

MAKASSAR — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc mengingatkan para sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar agar tidak larut dalam kegelisahan generasi muda menghadapi dunia kerja.

Pesan tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat memberikan sambutan pada Wisuda Sarjana STAI Al Bayan Hidayatullah di Swiss-Belinn Makassar, Rabu (26/8/2026).

Menurut Kiai Naspi, tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan kompetensi dan peluang pekerjaan, tetapi juga krisis orientasi yang membuat sebagian generasi muda mengalami kegelisahan dalam menentukan arah hidup.

Ia menyoroti fenomena job hugging dan job hopping yang berkembang di kalangan pekerja muda. Sebagian bertahan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan orientasi dirinya karena khawatir kehilangan kepastian karier, sementara sebagian lainnya berpindah-pindah pekerjaan untuk mencari kepuasan yang belum tentu ditemukan.

Kondisi tersebut, kata Kiai Naspi, dapat berujung pada krisis makna ketika pekerjaan hanya ditempatkan sebagai sarana mengejar kepastian material dan jenjang karier.

“Ketika standar keberhasilan hanya diukur dari pencapaian material dan jenjang karir pragmatis, manusia akan mudah merasa hampa,” ujarnya dalam sambutan yang disampaikan di hadapan para wisudawan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya fondasi spiritual bagi para sarjana Muslim dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Kiai Naspi mengatakan, sarjana kader Hidayatullah semestinya memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyikapi masa depan. Ketaqwaan kepada Allah SWT, menurutnya, menjadi pijakan utama agar seseorang tidak dikuasai kecemasan berlebihan terhadap rezeki, pekerjaan, maupun masa depan.

“Sebagai insan yang menjaga rukuk, sujud, dan kedekatannya dengan Allah SWT, seorang sarjana Perguruan Tinggi Hidayatullah tidak sewajarnya mengidap jenis kegelisahan yang sama dengan mereka yang jauh dari nilai-nilai spiritual,” katanya.

Pendidikan untuk Melahirkan Pembawa Solusi

Kiai Naspi juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi yang berakar pada nilai-nilai Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Menurut dia, Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) memiliki tanggung jawab lebih luas, yakni membentuk pribadi yang memiliki akidah kokoh, nilai-nilai Islam, serta semangat perjuangan dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi berakar keislaman bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan wahana penanaman nilai (value), akidah yang kokoh, dan semangat perjuangan (al-harakah al-jihadiyah),” tuturnya.

Dengan fondasi tersebut, ia berharap para wisudawan tidak memosisikan diri semata-mata sebagai pencari kerja setelah menyandang gelar sarjana.

Sebaliknya, alumni PTH diharapkan mampu mengambil peran sebagai bagian dari masyarakat yang menawarkan solusi atas berbagai persoalan sekaligus ikut membangun peradaban.

“Sarjana yang lahir dari rahim pendidikan seperti ini tidak dilatih untuk sekadar menjadi pencari kerja yang cemas, melainkan siap hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa solusi dan pencerah peradaban,” kata Kiai Naspi.

Ia juga mengingatkan para kader agar memandang pengabdian dan penugasan sebagai bagian dari proses perjuangan, bukan sebagai beban atau bentuk ketidakpastian.

Kesiapan untuk berkarya di berbagai tempat, lanjutnya, harus dibangun di atas keyakinan bahwa nilai sebuah karya tidak semata-mata ditentukan oleh ukuran material.

Bagi seorang kader, setiap ruang pengabdian dapat menjadi medan perjuangan ketika pekerjaan ditempatkan sebagai bagian dari ibadah.

Diminta Menjadi Wajah Islam yang Menenangkan

Kiai Naspi selanjutnya mengajak para alumni untuk hadir di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai bentuk kegelisahan, mulai dari persoalan ekonomi dan sosial hingga krisis orientasi hidup.

Dalam situasi tersebut, alumni perguruan tinggi Hidayatullah dituntut tidak ikut larut dalam kecemasan yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi representasi Islam yang menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan solusi melalui perpaduan ilmu, akhlak, serta karya nyata.

“Di tengah masyarakat yang sedang dilanda berbagai kegelisahan, baik ekonomi, sosial, maupun krisis arah hidup, alumni PTH harus tampil sebagai wajah Islam yang menenangkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, kekuatan akidah dan semangat perjuangan harus menjadi modal utama para sarjana dalam memasuki fase kehidupan setelah kampus.

“Jangan ikut larut dalam arus kecemasan zamannya. Bangunlah kepercayaan di tengah masyarakat dengan modal ilmu, akhlak mulia, dan karya nyata,” pesan Kiai Naspi.

Menurutnya, ketika akidah menjadi pijakan dan perjuangan menjadi spirit dalam bekerja, kegelisahan menghadapi masa depan dapat berubah menjadi ketenangan dan keyakinan dalam melangkah.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah kepada para wisudawan STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar yang memasuki fase baru kehidupan, dengan membawa bekal akademik sekaligus nilai-nilai keislaman dan pengabdian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tulisan Terkait
- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Baca Juga

Recent Comments

Recent Comments