Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*
Setelah Allah menurunkan lima ayat pertama surah Al-‘Alaq yang berbicara tentang membaca, ilmu, asal-usul manusia, kemurahan Allah, qalam, dan kesadaran keterbatasan pengetahuan, wahyu kemudian bergeser kepada sesuatu yang sama sekali tidak terduga, yakni sebuah diagnosis keras tentang penyakit paling mendasar dalam diri manusia.
K.H. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam kajian-kajiannya tentang tartib nuzul Al-Quran yang kemudian dikenal dengan Sistematika Wahyu menyampaikan pandangan yang sangat penting, bahwa setelah Allah menurunkan ayat-ayat tentang ilmu, membaca, dan pena, Allah langsung mengkonfirmasi bahwa masalah utama yang sesungguhnya dihadapi manusia bukan kebodohan semata, tapi yang sangat parah adalah “thagha” dan dalam konteks surah pertama ini adalah kesombongan. Justru ketika manusia memperoleh ilmu, pengetahuan, dan kemampuan, bahaya kesombongan menjadi semakin besar dan semakin berbahaya. Ilmu tanpa kerendahan hati adalah pintu menuju thughyan, melampaui batas.
Konfirmasi Allah terhadap bahaya kesombongan ini hadir dalam dua ayat yang sangat padat namun sangat dalam kandungannya:
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq/96: 6-7)
Urutan turunnya ayat ini bukan kebetulan. Allah membangun manusia dengan ilmu dalam lima ayat pertama, kemudian langsung memperingatkan bahwa ilmu itu sendiri bisa menjadi bencana ketika ia melahirkan rasa cukup yang memutus ketergantungan manusia kepada Allah. Inilah struktur wahyu yang sangat cerdas: membangun sambil langsung membentengi dari bahaya terbesar yang mengintai di dalam bangunan itu sendiri.
Iblis: Prototype Kesombongan Kosmis dan Penyakit Pertama Yang Menghancurkan
Untuk memahami sepenuhnya bahaya thughyan yang diperingatkan oleh ayat ini, kita harus merujuk kepada peristiwa kosmis paling awal dalam sejarah makhluk yang memilih kesombongan sebagai jalan hidupnya, yaitu IBLIS . Iblis adalah prototype pertama dan paling sempurna dari penyakit yang didiagnosis oleh ayat keenam dan ketujuh surah Al-‘Alaq.
Al-Quran merekam dengan sangat rinci bagaimana kesombongan Iblis lahir, berkembang, dan berujung pada kehancuran yang dia pilih sendiri.
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf/7: 12)
Jika diperhatikan dengan cermat struktur argumen Iblis. Ia tidak membantah perintah Allah secara langsung, tapi Ia menggunakan perbandingan, bahwa api lebih baik dari tanah. Ia menggunakan pengetahuan tentang asal-usul penciptaan sebagai dasar kesombongan intelektualnya. Inilah yang sangat berbahaya, dimana Iblis menggunakan ilmu untuk melawan wahyu. Ia merasa cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya tentang dirinya sendiri, sehingga ia menolak tunduk kepada perintah Allah.
Kesombongan Iblis adalah penyakit pertama yang muncul di alam semesta sebelum manusia pertama pun menginjakkan kaki di bumi. Ini bukan kebetulan bahwa Al-Quran menempatkan narasi ini sebagai peringatan yang berulang di berbagai surah. Iblis menunjukkan kepada seluruh sejarah manusia bahwa kecerdasan, pengalaman panjang sebagai makhluk Allah, dan pengetahuan tentang realitas, semuanya tidak berguna bahkan menjadi bencana ketika tidak disertai tawadu’ di hadapan Allah. Setiap manusia yang menyombongkan ilmunya sedang mengulang pola Iblis.
Penyakit pertama Iblis bukan kedurhakaan dalam bentuk kejahatan, melainkan kesombongan dalam bentuk perbandingan diri. Ia merasa dirinya lebih baik, lebih layak, dan lebih mengetahui apa yang seharusnya terjadi dibandingkan ketetapan Allah. Ini adalah bentuk paling halus namun paling mematikan dari istighnaa, merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah. Dan Al-Quran menegaskan bahwa pola ini terus berulang dalam diri manusia:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir/40: 60)
“Tughyan dan Istighnaa” Dua Sisi Satu Penyakit
Kata layathghaa berasal dari akar tha-gha-ya, yang dalam Al-Quran selalu digunakan dalam konteks pelampauan batas yang sangat serius. Al-Quran menggunakan kata ini untuk menggambarkan air bah yang melampaui batas dalam kisah Nuh (QS. Al-Haqqah: 11), gelombang laut yang menghancurkan dalam QS. Al-Qamar: 11, serta perilaku kaum Fir’aun yang melampaui batas dalam QS. Thaha: 24. Ini menunjukkan bahwa thughyan bukan sekadar kesalahan kecil. Ia adalah kondisi jiwa yang telah keluar dari seluruh batas yang Allah tetapkan.
Adapun kata istaghnaa, ‘merasa serba cukup’, diungkapkan Al-Quran dengan formulasi yang sangat telak. Allah tidak mengatakan manusia benar-benar cukup, tetapi manusia melihat dirinya cukup. Kata ra-aahu menunjukkan bahwa ini adalah persepsi, bukan realitas. Manusia membangun ilusi tentang dirinya sendiri, ilusi kemandirian, ilusi kecukupan, ilusi superioritas, lalu bertindak berdasarkan ilusi itu seolah ia adalah kenyataan.
Hubungan sebab-akibat antara dua ayat ini sangat penting. Thughyan lahir dari istighnaa. Manusia melampaui batas karena ia merasa tidak membutuhkan batas. Ini adalah mekanisme yang sangat konsisten dalam sejarah kejatuhan peradaban, yakni ketika sebuah bangsa, kelompok, atau individu merasa telah mencapai kecukupan yang membuatnya tidak lagi memerlukan Allah, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Psikologi Kesombongan dan Ilusi Pengetahuan
Menarik, sebab apa yang dijelaskan Al-Qur’an empat belas abad lalu kini dibuktikan oleh psikologi modern. Dalam kajian psikologi kognitif yang telah dibahas pada edisi lalu yang dikenal fenomena Dunning-Kruger Effect, yaitu kecenderungan orang yang memiliki pengetahuan terbatas justru merasa paling benar dan paling ahli.
Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih hati-hati dalam berbicara karena menyadari kompleksitas realitas. Fenomena ini sangat relevan dengan firman Allah: “Manusia melampaui batas karena merasa cukup.”
Ilusi pengetahuan membuat manusia kehilangan kerendahan epistemologis. Ia berhenti belajar karena merasa sudah tahu, ia menolak nasihat karena merasa paling benar, ia menutup diri dari kebenaran karena ego intelektualnya telah menguasai hati. Dalam psikologi modern, keadaan ini juga berkaitan dengan narcissistic cognition, yaitu pola pikir yang menjadikan diri sendiri sebagai pusat validasi kebenaran.
Dan bukankah ini yang kita lihat hari ini ?. Media sosial melahirkan generasi yang lebih sibuk tampil pintar daripada benar-benar mencari ilmu. Validasi lebih dicari daripada kebenaran. Popularitas lebih diprioritaskan daripada kedalaman berpikir. Akibatnya, manusia modern mengalami banjir informasi tetapi kering dari hikmah.
Neurosains Ego dan Ketergantungan Palsu
Dalam perspektif neurosains, rasa superioritas ternyata berkaitan erat dengan sistem penghargaan otak atau reward system. Ketika manusia mendapatkan pujian, pengakuan, atau kekuasaan, otak melepaskan dopamin yang menciptakan rasa senang dan superior.
Jika tidak dikendalikan secara spiritual, manusia akan kecanduan terhadap validasi diri. Ia ingin terus dipuji, Ia ingin terus dianggap benar, Ia ingin terus terlihat unggul. Pada titik tertentu, ego menjadi candu psikologis. Di sinilah wahyu bekerja sebagai alat penyucian jiwa. Al-Qur’an terus mengingatkan manusia tentang asal-usulnya, kelemahannya, kefanaannya, serta ketergantungannya kepada Allah. Karena tanpa kesadaran spiritual, kecerdasan justru dapat berubah menjadi alat penghancur kemanusiaan.
Teknologi modern membuktikan hal itu. Manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi belum mampu mengendalikan kerakusan dirinya sendiri. Manusia mampu menghubungkan dunia dalam hitungan detik, tetapi gagal menyembuhkan kesepian jiwanya. Ilmu berkembang sangat cepat, tetapi hikmah berjalan tertatih-tatih.
Pendidikan Modern dan Produksi Ego Intelektual
Salah satu tragedi pendidikan modern adalah keberhasilannya mencetak manusia cerdas tetapi gagal membentuk manusia tunduk. Sekolah menghasilkan kompetensi, tetapi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Universitas melahirkan spesialis, tetapi tidak otomatis melahirkan manusia yang rendah hati. Akibatnya lahirlah generasi yang hebat secara akademik tetapi rapuh secara spiritual. Pintar berbicara tetapi miskin adab, kaya informasi tetapi kehilangan makna hidup.
Padahal dalam perspektif Islam, tujuan ilmu bukan sekadar penguasaan informasi. Ilmu harus melahirkan khashyah, ketundukan, adab, serta kesadaran kehambaan. Oleh karena itu, pendidikan Islam berbasis wahyu tidak hanya bertanya “Apa yang diketahui manusia ?” Tetapi juga adalah “Menjadi manusia seperti apa setelah berilmu ?”.
Krisis Peradaban Modern: Ketika Manusia Merasa Menjadi Tuhan
Ayat ke 6 dan 7 dalam surah al-‘Alaq ini sesungguhnya sangat profetik terhadap dunia modern. Peradaban modern sering mempromosikan narasi manusia adalah pusat alam semesta, manusia dapat menentukan moralnya sendiri, manusia mampu menyelesaikan seluruh problem tanpa wahyu, agama dianggap tidak lagi relevan. Inilah istighnaa modern, dimana manusia sudah merasa cukup dengan teknologi, sains, ekonomi, dan kekuatan politik.
Namun sejarah menunjukkan bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan wahyu, kemajuan material justru sering melahirkan kehampaan spiritual dan kerusakan moral. Maka Surah Al-‘Alaq sejak awal telah memberi peringatan bahwa masalah manusia bukan sekadar kebodohan, tetapi kesombongan setelah mengetahui sedikit hal.
Reflektif: Belajar untuk Tetap Menjadi Hamba
Ayat ke 6 dan ke 7 dalam surah al-;Alaq ini mengajarkan bahwa perjalanan ilmu memiliki dua kemungkinan, yaitu semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari-Nya. Ilmu dapat menjadi tangga menuju ketundukan, tetapi juga dapat berubah menjadi menara kesombongan.
Karena itu, seorang pencari ilmu sejati tidak hanya memperbanyak bacaan, tetapi juga memperbanyak kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin lembut lisannya, dan semakin luas pengetahuannya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba kecil di hadapan ilmu Allah yang tidak terbatas.
Di sinilah letak keindahan pendidikan wahyu. Al-Qur’an tidak sekadar mengajarkan manusia untuk berpikir, tetapi juga mengajarkan bagaimana tetap tunduk ketika berpikir. Sebab pada akhirnya, ilmu yang tidak melahirkan kehambaan hanya akan melahirkan manusia yang merasa dirinya tuhan.
*Penulis, Dr. Abdul Qadir bin Muhammad, adalah Ketua STAI Al-Bayan Makassar



