LUWU (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, menegaskan bahwa penegakan shalat (iqamatus shalah) tidak dapat dipisahkan dari pemahaman dan pengamalan Sistematika Wahyu (SW).
Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan tausiyah pada rangkaian Halaqah Lailatul Ijtimak zona Luwu Raya yang digelar di Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sabtu-Ahad (20–21/6/2026).
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Saleh mengutip pesan Rais Aam Hidayatullah, Ustadz KH Abdurrahman Muhammad, bahwa momen paling nikmat untuk mentadabburi Al-Qur’an adalah ketika seseorang sedang mendirikan shalat.
Menurutnya, konsep iqamatus shalah bukan sekadar melaksanakan shalat secara ritual, tetapi menghadirkan nilai-nilai shalat dalam seluruh aspek kehidupan.
“Shalat yang ditegakkan itu adalah shalat yang diperagakan. Tidak hanya di dalam masjid, di luar shalat pun nilai-nilainya diamalkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, shalat yang benar adalah shalat yang dijalankan secara berjamaah dan berada dalam kepemimpinan, sehingga melahirkan ketertiban serta kesatuan umat.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Saleh juga mengulas dimensi komunikasi spiritual dalam shalat. Menurutnya, penggunaan dhamir mukhatab atau kata ganti orang kedua dalam bacaan shalat menunjukkan bahwa seorang hamba sedang berkomunikasi secara langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah merupakan surat yang sangat komunikatif. Namun, komunikasi yang baik hanya dapat terbangun apabila seseorang terlebih dahulu mengenal Rabb-nya.
“Kenapa bisa lancar komunikasi? Karena kita saling kenal. Di mana kita mengenal Allah untuk membesarkan dan memuliakan-Nya? Melalui Surat Al-‘Alaq,” jelasnya.
Atas dasar itu, ia menegaskan bahwa penegakan shalat tidak dapat dipisahkan dari Sistematika Wahyu. Menurutnya, SW bukanlah konsep yang hanya dimiliki pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz KH Abdullah Said Rahimahullah, ataupun eksklusif milik organisasi Hidayatullah, melainkan merupakan pola pembinaan yang bersumber dari tahapan turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah, kata dia, memberikan karamah kepada Ustadz KH Abdullah Said untuk merumuskan kembali pola tersebut sehingga dapat dipahami dan diterapkan dalam pembinaan umat.
Pada kesempatan yang sama, Ustadz Saleh mengingatkan agar para kader tidak memandang remeh konsep Sistematika Wahyu.
“Jangan sampai fisik kita berada di Hidayatullah, tetapi pikiran kita justru berada di luar Hidayatullah,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh kader untuk terus berhijrah menjadi pribadi yang memiliki semangat belajar. Menurutnya, pesan pertama dalam Surat Al-‘Alaq merupakan dorongan agar setiap kader menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Orang yang malas belajar, pada hakikatnya masih berada dalam kondisi jahiliyah,” katanya.
Berbicara mengenai tahapan dakwah sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Muddatsir, Ustadz Sholeh kembali mengingatkan pesan almarhum Ustadz Abdullah Said.
“Kalau ada orang yang bicara dakwah tetapi tidak beres Al-Muzzammil-nya, dia hanya menipu umat saja,” kutipnya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu menjalankan amanah dakwah secara kokoh apabila belum menuntaskan proses pengenalan kepada Allah melalui Al-‘Alaq, pembentukan karakter dan keilmuan melalui Al-Qalam, serta penguatan spiritual melalui Al-Muzzammil.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Sholeh mengingatkan pentingnya membangun fikrah yang selaras dengan manhaj Hidayatullah. Menurutnya, salah satu indikator kader yang belum berhijrah secara manhaji adalah rendahnya rasa percaya diri yang lahir dari minimnya proses belajar dan wawasan.
“Orang yang tidak percaya diri dipastikan belum hijrah secara manhaji, malas belajar, dan malas berwawasan,” pungkasnya di hadapan peserta Halaqah Lailatul Ijtimak.
Pesan-pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Lailatul Ijtimak bukan sekadar agenda silaturahmi triwulanan, melainkan forum penguatan ruhiyah, fikrah, dan manhaj bagi kader Hidayatullah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, para peserta diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga aktivitas dakwah dan pengabdian di tengah umat.*/Rsk



