Oleh : Abdul Jabbar*
Pojok Kader (HidayatullahSulsel.or.id) — Pukul tiga dini hari bukan waktu yang lazim untuk memulai aktivitas. Namun di situlah semuanya dimulai. Takbir sholat lail berjamaah menggema, memecah sunyi, sekaligus menjadi penanda bahwa hari itu tidak akan berjalan biasa. Selama lima hari, dari 18 sampai 22 Mei 2026, saya bersama lima belas pengurus DPW Hidayatullah dari berbagai wilayah duduk dalam satu majelis. Kami datang bukan untuk beristirahat. Kami datang untuk ditempa.
Tempat itu bernama Hidayatullah Institut. Bagi saya, ia lebih dari sekadar ruang pelatihan. Ia seperti kawah candradimuka, tempat di mana seseorang tidak hanya belajar, tetapi juga diuji dan dibentuk ulang. Sejak hari pertama, ritme kehidupan langsung berubah. Tidak ada ruang untuk bermalas-malasan, apalagi sekadar menjadi peserta pasif.
Setelah sholat subuh, halaqah dimulai. Suasana masih hening, tetapi diskusi sudah hidup. Ayat dan hadis tidak hanya dibaca, tetapi dikaitkan dengan realitas kepemimpinan hari ini. Dari sana, pagi berlanjut dengan aktivitas fisik yang disebut Integrity Sport. Di sini, tubuh digerakkan, tetapi yang lebih penting adalah nilai kejujuran dan kerja tim yang diuji dalam praktik sederhana.
Pukul tujuh pagi terdengar Class Call. Semua bergerak cepat menuju ruang kelas. Tidak ada yang datang terlambat. Bukan karena takut pada aturan, tetapi karena kesadaran bahwa setiap detik di tempat ini adalah proses pembentukan diri. Sepuluh menit kemudian, sesi materi dimulai dengan disiplin yang nyaris tanpa cela.
Ritme ini bukan kebetulan. Ia dirancang dengan kesadaran penuh. Ruhani dikuatkan lebih dahulu, fisik digerakkan setelahnya, lalu akal diasah secara serius. Hasilnya terasa. Ketika masuk kelas, kami tidak datang dengan pikiran yang kosong. Hati sudah siap, tubuh sudah hidup, dan pikiran lebih mudah menerima serta mengolah gagasan.
Materi yang disampaikan selama lima hari itu jauh dari kesan mengawang. Semua berpijak pada kebutuhan nyata organisasi. Dimulai dari kepemimpinan Islam sebagai fondasi. Di sini ditegaskan kembali bahwa pemimpin bukan sekadar pengarah, tetapi pelayan umat. Ia hadir untuk memberi manfaat, bukan sekadar memegang posisi.
Dari situ, pembahasan masuk ke kepemimpinan Hidayatullah. Kami diajak membedah manhaj, menelusuri sejarah, dan memahami karakter kepemimpinan yang menjadi ruh organisasi. Diskusi tidak berhenti pada teori. Setiap konsep selalu ditarik ke konteks kekinian. Apa relevansinya hari ini, dan bagaimana ia diterapkan di wilayah masing-masing.
Memasuki sesi berikutnya, fokus bergeser ke hal yang lebih teknis. Desain dan transformasi organisasi menjadi pembahasan utama. Kami melihat bagaimana struktur DPW harus adaptif terhadap perubahan. Tidak cukup hanya menjalankan program rutin. Organisasi harus mampu membaca zaman dan meresponsnya dengan tepat.
Salah satu sesi yang paling menguras pikiran adalah analisa pemetaan wilayah. Setiap kelompok diminta memetakan kondisi daerah masing-masing. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dibedah secara terbuka. Data dipresentasikan, lalu dikritisi oleh kelompok lain. Tidak ada yang merasa diserang. Justru di situlah kualitas berpikir diuji.
Suasana kelas sering memanas pada lima belas menit pertama. Adu argumen tidak terhindarkan. Pengalaman lapangan dari berbagai daerah saling berhadapan. Bahasa yang digunakan menarik. Istilah manajemen modern berpadu dengan rujukan Al Quran, hadis, dan manhaj organisasi. Semua menyatu dalam satu ruang diskusi yang hidup.
Peran pemateri bukan sebagai hakim yang menentukan siapa benar dan siapa salah. Mereka hadir sebagai penajam. Fokusnya bukan pada kemenangan debat, tetapi pada ketajaman kerangka berpikir. Siapa yang paling utuh melihat persoalan, dan siapa yang mampu menawarkan solusi yang bisa diterapkan.
Sesi design thinking menjadi titik penting lainnya. Di sini kami tidak hanya belajar konsep, tetapi langsung mempraktikkannya. Masalah nyata dari wilayah masing-masing dijadikan bahan latihan. Prosesnya sistematis. Mulai dari memahami masalah, merumuskan ide, hingga menyusun solusi yang realistis.
Begitu pula dengan project manajemen. Banyak program organisasi gagal bukan karena idenya buruk, tetapi karena pengelolaannya lemah. Di sesi ini, kami diajak menyusun perencanaan yang terukur. Setiap langkah memiliki waktu, target, dan indikator keberhasilan yang jelas. Tidak ada lagi ruang untuk program yang hanya berhenti di atas kertas.
Pembahasan tentang human capital juga memberi kesan mendalam. Organisasi tidak akan kuat jika kadernya tidak tumbuh. Ini bukan sekadar slogan. Kami diajak melihat bagaimana membina, mengembangkan, dan menjaga kader agar tetap bergerak dalam satu arah. Kader bukan alat, tetapi aset yang harus dirawat.
Kedisiplinan selama pelatihan didukung oleh sistem absensi digital. Namun yang menarik, kepatuhan tidak lahir dari tekanan. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif. Semua memahami bahwa mereka datang untuk dibentuk. Setiap keterlambatan berarti kehilangan satu bagian penting dari proses itu.
Lima hari terasa singkat, tetapi padat. Tidak ada waktu yang benar-benar kosong. Bahkan di luar sesi resmi, diskusi kecil tetap berlangsung. Di ruang makan, di lorong, bahkan sebelum tidur. Semua seperti haus akan pemahaman yang lebih dalam.
Dari pengalaman ini, saya melihat wajah baru kaderisasi Hidayatullah. Ia tidak lagi identik dengan pelatihan yang penuh ceramah dan motivasi sesaat. Di sini, peserta dilatih menjadi pemimpin yang utuh. Kuat secara ruhani, jernih dalam berpikir, dan cakap dalam mengelola organisasi.
Ada perubahan suasana yang terasa. Di atas meja bukan hanya buku catatan, tetapi juga matriks pemetaan wilayah, kanvas design thinking, dan rencana kerja yang detail. Semua diarahkan pada satu tujuan. Ketika kembali ke daerah masing-masing, kami tidak hanya menjadi pengurus administratif.
Kami dituntut menjadi nahkoda. Nahkoda yang memahami peta, membaca arah angin, dan menentukan tujuan dengan jelas. Tanggung jawab itu terasa berat, tetapi juga memberi semangat baru. Ada keyakinan bahwa proses lima hari ini bukan sekadar pelatihan singkat, tetapi awal dari perubahan cara berpikir dan bekerja.
Pada akhirnya, Hidayatullah Institut bukan hanya tempat belajar. Ia adalah ruang pembentukan. Sebuah kawah yang tidak membakar, tetapi menempa. Dan dari sanalah, lahir harapan bahwa kepemimpinan yang lebih matang dan berdampak akan tumbuh di berbagai wilayah.
*Penulis adalah Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel 2026-2030, yang pada 18-22 Mei 2026 lalu mengikuti pelatihan Kepemimpinan Hidayatullah yang diadakan oleh HI di Kantor DPP Hidayatullah di Jakarta. Dalam pelatihan tersebut, penulis mendapatkan penghargaan berupa Pemimpin Muda Progresif atas dedikasi dan konsistensinya dalam mengikuti pelatihan.



