Beranda blog Halaman 99

Biarlah Keimanan Bekerja Sebagaimana Mestinya

0

Oleh : KH Abdurahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah

HidayatullahSulsel com — Alhamdulillah kita bertemu karena dorongan keimanan. Keimanan itulah kenikmatan tertinggi yang diberikan oleh Allah. Hanya dikaruniakan kepada hamba yang dicintainya.

Sekalipun kita tidak memiliki apa-apa tetapi ada iman, kita memiliki segala-galanya. Sebaliknya jika kita menggenggam dunia dan seisinya tanpa iman, sesungguhnya kita manusia termiskin.

Kebahagiaan yang luar biasa bisa membersamai 300 kader halaqah wustha Hidayatullah Jawa Timur. Setelah hadir disini, ternyata yang di lapangan ini sekitar 5000 orang. Yang paling memberikan harapan, tidak sampai 100 orang yang sudah usia tua. Ada secercah harapan lahir pelanjut-pelanjut perjuangan.

Yang tertua disini mungkin saya karena 2023 nanti saya sudah berumur 70 tahun. Saya berkiprah di dunia dakwah sejak umur 10 tahun. Saya pernah ke Malang ini di jalan Flores. Di Surabaya saya pernah di Ampel tahun 1970. Di Yogya dan Solo merupakan medan dakwah yang sudah aku lewati lorong-lorongnya. Sering berjalan kaki dari Solo-Yogya.

Melihat kampus yang megah ini terbayang adanya spirit kebangkitan peradaban ke depan. Ada yang indah dalam perjalanan ini. Sehingga semuanya terus memberikan yang terbaik untuk perjuangan. Keimanan yang melahirkan peran dan kontribusi maksimal.

Dua pekan akhir ini saya dapat kiriman salam dari Ust Abdurraham, dari Ust Samsuddin, Ustadz Idris, sehingga dua pekan ini – qadarullah – bisa berjalan. Itulah kiriman doa terbaik untuk saya tadi, padahal sebelumnya terbaring di ranjang.

Hidayatullah di Jatim dirintis tahun 1986. Merintis itu identik dengan merintih. Itulah romantika perjuangan yang sebenarnya romantis. Dimulai dari jiwa besar, sebuah mental militansi. Jangan menganggap saat itu serba ada. Justru, semuanya dimulai dari nol. Dan sekarang kita rasakan kedahsyatan efeknya. Hingga mentransfer aura positif ke Malang ini.

Anak-anakku, bahwa negeri ini 200 juta muslim. Namun, mayoritas belum bisa mengaji. Apalagi di kawasan Kalimantan. Inilah medan dakwah yang memberi tantangan sekaligus peluang. Apakah tantangan ekspansi dan terjun bebas ke pelosok negeri dibiarkan ? Tidak mungkin, dakwah harus terus berproses menuju arus dan rutenya sendiri.

Perintis Hidayatullah ini digerakkan oleh generasi muda. Ust Abdurrahman merintis perjuangan ini pada usia likuran tahun. Saya dan pendiri Hidayatullah belum genap 26 tahun. Yang menemani Rasulullah adalah mayoritas pemuda. Para sahabat usia belasan dan likuran sudah terorbitkan menjadi pemimpin. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Pemuda-pemuda itulah lulusan rumah-rumah quran. Mengapa Islam bisa menyebar ke seluruh dunia padahal tidak difasilitasi. Itulah getaran kekuatan di balik dada.

Islam datang di Indonesia ini menggunakan perahu menuju samudera Pasai kemudian lewat pantura menuju Gresik. Pondok pesantren pertama di Jawa adalah di Giri.

Indonesia ini awalnya basis Hindu dan Budha selama 800 tahun, kemudian para dai Arab datang dengan kekuatan Iman. Setelah dakwah, penduduk Indonesia berubah menjadi 100% muslim. Lahirlah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Iman itu fungsional untuk melakukan perubahan. Dan Iman itu datang lewat gerakan pencerahan dari Allah. Itulah gerakan membangun peradaban

Ada tiga unsur utama pada diri manusia yang harus terus dicerahkan. Dilakukan tilawah, tazkiyah dan ta’limul kitab wal hikmah. Pencerahan ruhiyah, qalbiyah, aqliyah jasadiyah.

Manusia bergerak karena ruhnya. Ruh tidak terjangkau oleh sekedar ilmu logika apalagi ilmu inderawi. Akal bisa berfungsi melakukan tugasnya jikalau ruhnya bekerja. Dan ruh itu fungsional kalau ada keimanan. Dan keimanan lahir karena sentuhan dan goresan wahyu.

Mukmin yakin tidak sekedar menangkap bukti-bukti inderawi, tetapi beriman terhadap yang ghaib. Wawasan orang beriman tidak sempit, hanya dikungkung oleh bukti-bukti inderawi yang lima saja. Tetapi, bisa menghubungkan dirinya kepada yang ghaib.

Wahyu membimbing hati sehingga lahir inspirasi, ilham, petunjuk. Dengan hati yang terbimbing lahir kekuatan gerak untuk berkorban, mewujudkan kebersamaan, melahirkan kasih sayang, militansi, kelapangan dada, ketenangan jiwa. Kekayaan batin yang tidak bisa dinilai dengan materi. Ada panggilan jiwa untuk tidak berhenti menanam kebaikan di taman kehidupan hingga ajal menjemput.

Iman memiliki 67 cabang. Paling tinggi adalah la ilaaha illallah. Yang paling rendah menyingkirkan gangguan (duri) di jalan. Jika kampus kita tidak bersih, indikator iman yang paling bawah tidak mewujud. Peradaban adalah manifestasi (perwujudan) keimanan dalam berbagai dimensi keimanan

Membangun peradaban adalah gerakan iman. Dan membangun itu harus utuh. Ya ruhaninya ya jasmaninya. Maka para sahabat menghabiskan materi dan menyimpan kekayaan immaterial.

Siapa yang pernah semalam tidak tidur memikirkan Islam, umat. Iman selalu mendorong pemiliknya untuk melakukan ekspansi, berkorban, itulah aksiomatik keimanan. Disanalah ada keindahan. Disanalah ada cinta Allah.

Afdhaludz dzikri laa ilaaha illah. Itulah pemberat timbangan amal kita. Kunci masuk surga. Akhirat tidak terbatas. Perjalanan menuju kesana, itu sulit dan menantang. Berbeda dengan jalan neraka, diliputi taburan bunga semerbak.

Kita akan menemukan kedahsyatan di Mahsyar. Orang tidak saling memperhatikan. Masing-masing disibukkan dengan urusannya sendiri. Matahari di atas kita. Kita bisa bermandikan keringat. Orientasi akhirat itulah menjadikan para sahabat all out (tajarrud) untuk berjuang

Setelah surat Al Muzzammil tidak ada masa untuk tidur. Berdiri malam hari untuk bertemu Allah. Ketika ada tabattul, sabar, tawakkal, rabbul masyriq wal maghrib, qaulan tsaqila, itulah azimat untuk tidak mundur sekalipun selangkah. Setelah itu perintah qum fa andzir, penguasa dunia harus diberi peringatan. Nyali tidak boleh ciut.

Kalau Romawi menang dengan Persia, rajanya akan berjalan dari Rome ke Palestina. Saat itu terjadi perjanjian Hudabiyah. Rasulullah kemudian kirim surat kepada para raja aslim, taslam. Jika kalian masuk islam, kalian dijamin bisa selamat..

Dunia ini kita habiskan untuk memfasilitasi kita untuk menuju akhirat. Dunia ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Janji akhirat yang menggiurkan. Islam dan iman itu suatu keindahan. Ucapan yan dominan di surga salamun alaikum, thibtum.

Adakah kegelisahan kita ini melihat orang belum bisa mengaji ? Orang terjerumus ke lembah dosa. Jika tidak ada rasa empat, iman kita belum ekspansif. Kita hanya shalih ritual. Bukan shalih sosial. Sholih hanya untuk dirinya sendiri, bukan mushlih. Shalih yang tidak berdaya.

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز

Apa yang membuat konflik dalam kehidupan ini ? Sekelas sahabat mempertanyakan harta rampasan ? Ternyata harta pemicunya. Padahal sudah memperoleh kemenangan

Ternyata kekalahan perang Uhud ada yang melahirkan syuhada dan hiburan bahwa kemenangan itu dipergilirkan. Teruslah berjuanglah dalam keadaan berat dan ringan. Jika menang syukur, jika kalah bersabar. Bukan persoalan kalah dan menang, tetapi apakah dengan dua kondisi yang kontradiktif tersebut menaikkan grafik taqarrub ilallah. Itulah parameter kemenangan sesungguhnya.

Jika iman sedang surut, semua berat. Jika kita untung duniawi hari ini, sebentar malam bisakah bangun malam. Jadi, terus mendeteksi apa yang menjadikan iman kuat dan melemah.

Dua hal tadi, qumillail dan qum fa andzir. Berefek kepada allhamdulillah. Al Fatihah kemenangan awal, karena para pejuang menyatu dalam beribadah dan memohon istianah. Menyederhanakan perbedaan yang bersifat variatif dan mengedepankan hal yang prinsip. Prinsip adalah landasan berpikir dan bergerak. Itulah kemenangan awal.

Awal dari kegoncangan dalam suatu komunitas adalah ketidakadilan distribusi wewenang dan harta. Sehingga Rasulullah dikatakan tidak adil. Ooh, ternyata harta sumber konflik.

Alangkah indahnya, para aktifis memberikan fasilitas untuk Islam dan generasi penerus. Pertanyaan berikutnya, mampukah generasi pelanjut melipatgandakan hasil yang sudah ada ini. Hanya beberapa gelintir orang (5 orang) yang merintis Jawa Timur 36 tahun yang lalu, sehingga melahirkan fenomena ini semua..

Generasi pelanjut Rasulullah sukses melipatgandakan modal awal perjuangan. Pada masa Umar terjadi ekspansi besar-besaran. Pada 10 tahun menjabat, dari titik kecil Makah dan Madinah menaklukkan 20 negara. Inilah kepemimpinan wahyu, mengelola dan melipatgandakan modal yang telah ada.

Semoga 36 tahun sudahkah menguasai Jawa Timur. Saya optimis masih ada para pendiri, perintis. Kalau Jatim belum ditaklukkan, kirim ke luar negeri. Mungkin idealisme terkungkung di sini. Berikan mereka peluang untuk berinovasi dan membuat strategi.

Dawud melawan Jalut dengan strategi ketapel. Perang asimetris. Bekali anak muda untuk bermanufer dan membuat strategi. Perang sekarang jurus untuk pandai membuat strategi.

Hikmahnya tidak diberi ruang di Makkah, akhirnya ekspansi keluar untuk menyusun strategi. Dan di medan dakwah yang baru, benar-benar dirasakan kiprahnya oleh penduduk setempat.

Jika terus diintrodusir SW (Sistimatika Wahyu) sebagai konsep dan praktek akan melahirkan transformasi secara berkesinambungan. Dewan Murabbi jangan berhenti berpikir dan bergerak.

Untuk terus menyempurnakan konsep transformasi manhaj baik dari sisi keilmuan dan cara menerapkannya di medan dakwah. Jangan berpikir kapan sampai tujuan, yang penting jangan berhenti berjalan. Para ulama melahirkan karya dengan duduk, sedikit sekali tidurnya. Mereka berkarya karena motivasi iman. Memburu ilmu karena spirit peradaban.(*)

*) Taujih Pemimpin Hidayatullah
Pada Halaqah Kubro Hidayatullah Jatim
Ahad, 25 September 2022 M.

Tidaklah Rugi Seorang yang Jujur

0

Oleh : Ustadz Ihsan Wahyuddin, Pengurus DPD Hidayatullah Pangkep

OPINI, HidayatullahSulsel com — Bersyukurlah kita yang mampu melaksanakan shalat subuh berjamaah. Karena begitu banyak orang yang masih tertidur tak mampu dan terasa berat bangun dari tidurnya.

Ada ungkapan orang-orang yang berat untuk bangun shalat subuh berjamaah itu karena telinganya dikencingi setan. Sejujurnya tak ada orang yang awalnya langsung ringan dalam menunaikan shalat subuh namun jika telah dibiasakan dan niatnya diluruskan karena Allah ta’alla insyallah kemudian akan ringan.

Bicara soal kejujuran. Ada sebuah kisah mulia dari seorang ulama besar salah satu pendiri majhab dalam Islam, Imam Syafii.

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Usman bin Syaafi’ bin Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Haasyim bin ‘Abdul Mutthalib bin ‘Abdul Manaf

Suatu waktu seorang pemuda berjalan di tengah hutan. Di pinggir sungai dalam keadaan lapar dia melihat pohon apel yang sedang berbuah lebat.

Oleh karena tak bisa lagi menahan lapar, pemuda tersebut memetik buah apel tersebut dan memakannya. Beberapa saat kemudian dia menyadari bahwa apel ini haram buatnya, maka segera dia menelusuri hutan tersebut mencari pemilik pohon kebun apel tersebut.

Dari jauh dia melihat rumah dan dia mengetuk pintu. Keluarlah seorang tua. Pemuda tersebut bertanya, apakah bapak pemilih dari kebun apel yang sementara berbuah.

Dijawab, “Ya sayalah pemiliknya.” Pemuda tersebut berkata, “Saya telah memakan buah apel bapak maka saya mohon agar menghalalkanya untuk saya.”

Orang tua tersebut mengatakan, “Saya hanya akan menghalalkan apel tersebut dengan syarat engkau bersedia menikahi puteri saya yang buta, bisu, tuli dan lumpuh.”

Pemuda tersebut terkejut, dalam pikirannya, syarat ini amat sangat berat. Tapi oleh karena dia lebih membutuhkan agar orang tua tersebut menghalalkan apel yang telah dimakannya maka dia menyetujui syarat itu.

Maka segera orang tua tersebuy memanggil anak perempuannya untuk segera keluar. Alangkah terkejutnya sang pemuda, ternyata anak perempuan yang keluar ternyata tidak buta, bisu, tuli dan lumpuh. Bahkan sangat cantik.

Maka dijelaskan bahwa yang dimaksud buta, anaknya tidak melihat yang tidak pantas baginya. Dimaksud bisu, dia tidak banyak bicara yang tidak bermanfaat. Dimaksud tuli, dia tidak mendengarjan hal-hal yang tidak layak untuk didengarkan. Yang dimaksud lumpuh, dia tidak sembarang melangkah (berjalan) pada tempat-tempat yang tidak pantas.

Maka dinikahkanlah pemuda tersebut dengan anak perempuan orang tua pemilih kebun apel dengan mahar harus bekerja beberapa tahun diladangnya.

Maka setahun kemudian lahirlah ulama besar Imam Syafi’i

Hikmah dari kisah tersebut di antaranya Ternyata kejujuran itu tidak membuat kerugian bahkan sangat menguntungkan.

Kedua dengan kejujuran kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Wallahu alam.(*)

*) Disarikan dari Kultum Subuh Mesjid Agung Pangkep

Orientasi Diri Menentukan Niat dan Tujuan Hidup

0

Oleh : Ust Drs Nasri Buhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

OPINI, HidayatullahSulsel com — Allah ta’alla berfirman dalam surah Al Qasaf : 77

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Sesungguhnya kalau kita ingin memahami diri kita, memahami akan hakikat kehidupan kita sebagai manusia dan sebagai orang beriman itu semata untuk menggapai ridha Allah ta’alla.

Jika Allah ridha maka tak ada yang menghalangi kebaikan di dunia atau balasan di akhirat kelak.

Allah berfirman di surah Al Fajr : 27-30

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku

Allah ta’alla hanya menyapa orang yang bathinnya tenang yakni orang beriman untuk masuk kepada suatu kelompok orang yang beribadah untuk mendapatkan jannah.

Jannah itu tak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Yakni kenikmatan dan ketenangan.

Maka untuk menggapai hakikat hidup ini maka yang pertama dengan melakukan reorientasi yakni membuat pandangan atau cara pandang, cara melihat, cara kita untuk memiliki sesuatu dalam suatu aktivitas, pekerjaan dan tingkah laku.

Santri masuk ke pondok maka ada orientasi. Kita harus memiliki orientasi bagaimana memandang dan cara memandang yang baik dengan melihat diri sendiri (introspeksi)

Sebagai seorang mujahid di jalan dakwah maka dituntut untuk selalu melakukan reorientasi memandang diri kita supaya kita merenungi diri kita.

Caranya dengan “iqra bismirabik” melihat diri berdasarkan cara Allah dan petunjukNya.

Bahwa kita adalah makhluk diciptakan dari segumpal darah yang menggantung. Artinya manusia selalu tergantung membutuhkan dan memiliki ketergantungan kepada orang lain.

Mereorientasi diri berarti merenung dan mengevaluasi diri. Orientasi inilah akan menyadarkan posisi dan keberadaan diri bahwa kita manusia yang lemah.

Sehingga orientasi perlu. karena akan melahirkan niat dari kesadaran diri bahwa ada yang menciptakan kita.

Tidak akan muncul niat yang baik tanpa memahami hakikat keberadaan diri kita. Niat menentukan apa yang akan kita lakukan.

Sebagimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Niat itu sesuatu tekad yang dikomitmeken dalam diri Baik yang diucapkan maupun yang tidak diucapkan. Niat ini menentukan langkah apa yang akan kita buat.

Setelah niat maka akan muncul amal shaleh sebagaimana ayat di pembuka tulisan ini “dan carilah negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu”.

Orang yang berniat tanpa ketahui tujuan seperti layang-layang putus atau seorang yang naik kapal di tengah laut patah layarnya maka akan terombang ambing.oleh gelombang.

Tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia ada dua saja yakni untuk menjadi khalifah dan hamba Allah untuk beribadah kepada Allah.

Amal ibadah adalah motor bagi semangat untuk capai tujuan, agar tak oleng dan terimbangambing. Dengan anegerah kesempatan, harta, kesehatan dan lainnya yang menyemangati untuk akhirtat.

Namun kita tak boleh lupa karena kita juga adalah khalifah.

Yakni sebagaimana firman Allah ta’alla

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Allah telah memberi kita banyak karunia salah satunya menjadi jamaah, meski dengan kesulitan dan tantangannya, maka berorientasilah untuk kebaikan.(*)

*) Disarikan dari tausyiah subuh di masjid Pesantren Tuwoti Hidayatullah Luwu Timur

Bupati Maros Resmikan Masjid Baitul Karim Hidayatullah Maros

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Bupati Maros HA Chaidir Syam meresmikan Masjid Baitul Karim di Perumahan D Queen Desa Damai, Tanralili, Maros, Selasa (20/9/2022).

Masjid Baitul Karim dibangun hasil kolaborasi DPD Hidayatullah Maros bersama manajemen perumahan D Queen.

Tokoh masyarakat dan pembina masjid, Syamsul, menyampaikan terima kasih kepada DPD Hidayatullah Maros dan pihak Perumahan D Queen yang menyiapkan tanah untuk masjid.

Di kesempatan yang sama Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar menyampaikan awalnya pihaknya membangun masjid di pondok, karena pihak donatur mau membangun sendiri juga sehingga menghubungi pihak developer sehingga masjid ini bisa terbangun.

“Alhamdulillah DPD Hidayatullah Maros terus mengajak masyarakat untuk berwakaf bahkan bisa setiap bulan satu masjid kalau hanya dengan 50.000 per bulan dikumpul bisa terbangun masjid,” ujar ust Kaisar.

Chaidir Syam menyambut baik pembangunan sarana ibadah berupa masjid yang disiapkan oleh perumahan dan DPD Hidayatullah Maros mencarikan dananya.

“Saya mengajak masyarakat Desa Damai untuk memakmurkan masjid ini dengan kegiatan pengajaran Al Quran, sebagai tempat ibadah dan tempat pertemuan. Alhamdulillah masjid ini sudah selesai sejak awal 2022,” ujarnya.

DPD Hidayatullah Maros terus mensosialisasikan program wakaf dan sekarang membuka program wakaf pembangunan masjid baik di pondok maupun di perumahan Mulia, Turikale, Maros.

“Bagi yang ingin berwakaf pembangunan masjid bisa menghubungi kami 081342563546 atau Ust Abd Hadi 085255992595 atau bisa mengirim ke rek BRI Tanralili 497001020065532 DPD Hidayatullah Maros,” tambah Ust Kaisar.(rls/*)

SD Integral Al Hijrah Hidayatullah Masamba Raih Akreditasi dari BAN

0

MASAMBA, HidayatullahSulsel.com — SD Integral Al Hijrah Hidayatullah Masambah mendapatkan pengakuan sebagai sekolah resmi dan berlaku selama lima tahun berupa akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN),
Senin(19/9/2022).

“Pencapaian ini sebagai upaya maksimal dari kepala sekolah dan jajarannya serta dari Yayasan Al Hijrah semoga sekolah ini bisa menjadi favorit dan diminati karena menjadi sekolah unggul dan lingkungan yang kondusif,” ujar Ketua Yayasan Al Hijrah Hidayatullah Masamba Ketua Yayasan Ust Abd Wahab di Masamba, pekan ini.

Yayasan Al Hijrah Pondok Pesantren Hidayatullah Masamba terus berbenah dan mulai tahun ini membuka kelas khusus tahfidz di kampus 2 Uraso.

“Untuk sejumlah rencana dan pengembangaa ini masih memerlukan dana yang cukup banyak karena masih tahap perintisan dan masih membutuhkan bantuan. Sementara berjalan pengerjaan rumah guru,” tambahnya.

Pembangunan rumah guru tahfidz sekaligus 3 unit rumah untuk memaksimalkan kinerja guru tahfidz dalam mengajar karena rumah yang dipakai masih menggunakan rumah darurat dari atap nipah.

Pengurus akan menghadirkan rumah yang layak huni di pondok tahfidz Al Hijrah Uraso Mappideceng.

Ia berharap pembangunan di pondok tahfidz bisa berjalan dengan lancar. Program pengurus Yayasan Al Hijrah di 2022 setelah selesai pembangunan rumah guru akan dibangun masjid permanen dengan pembangunan pondasi.

“Karena masjid masih menggunakan papan. Untuk itu kami mengajak kaum muslimin dan muslimat yang ingin membantu bisa menghubungi ust Muh Nuzul Usman no kontak 085201131132 atau mengirim langsung ke rek BRI Masamba no rek 064101026423503 An Yayasan Al Hijrah Hidayatullah Masamba dan Bank Sulselbar Masamba 5202610000044633,” rincinya.(nurul usman/*)

Santri Tahfizh Putra Ponpes Hidayatullah Salaonro Juara STQ/MTQ Soppeng

0

SOPPENG, HidayatullahSulsel.com — Tiga santri Tahfiz Putra Ponpes Hidayatullah Salaonro Soppeng mengikut audisi seleksi STQ/MTQ tingkat Kabupaten Soppeng.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Aula dan Masjid kantor Kemenag Soppeng itu berlangsung selama dua hari pada pekan lau, (6 – 7/9/2022).

Lomba tahfiz 1 juz dan 5 juz ini diikuti ratusan peserta dari beberapa pondok pesantren, MAN, MTS seluruh Soppeng.

“Kami di Hidayatullah Salaonro mengikutkan tiga santri putra atas nama Madi SMP Arfa dari SD, dan Abdi SMP. Alhamdulillah salah satu santri atas nama Madi mendapat juara dalam audisi ini semoga memberi dampak positif kepada pondok tahfiz ini,” harap Ketua DPD Hidayatullah Soppeng Ir H Muhammad Arif Ssos di Salaonro, pekan ini.

Santri yang meraih juara tersebut saat ini duduk sebagai siswa di SMP kelas 2 dengan hafalan Qurannya sudah lebih 20 juz.

Ia berharap ke depannya para santri dan pondok bisa lebih berprestasi lagi dengan persiapan yang matang dan memadai.

“Untuk audisi ini kami kurang persiapan karena didadak oleh pihak panitia. Beda kegiatan tahun-tahun sebelumnya kami dapat juara 3 orang atau 4 orang mulai untuk kategori 10 juz, 20 juz, 30 juz. Malah pernah memborng semua juara 1, 2, dan juara 3,” urainya.(*)

Laznas BMH Gerai Maros Berduka, Seorang Donatur Pewakaf Tanah Meninggal

0

MAROS, HidyatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZ BMH ) berduka atas meninggalnya pewakaf tanah , juga donatur dan pelanggan Majalah Hidayatullah H Syamsuddin telah berpulang di kediamannya di perumahan Recidence A Mulia 3, kec. Turikale, Maros , Rabu (14/9/2022).

Setelah shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Al Markas Maros, salah seorang pengurus Masjid Al Markas Maros menyampaikan , dihadapan ratusan jamaah almarhum Orang yang sangat baik, rajin membantu pembangunan masjid termasuk di Masjid Al MArkaz Maros.

Ketua BMH Gerai Maros Fatahillah mengaku sangat akrab dengan almarhum. “Ia sosok yang sangat baik dan murah senyum, beliau merupakan donatur rutin dan pelanggan majalah Hidayatullah, Tiap bulan saya antarkan dan bertemu beliau, dan terkahir beliau mewakafkan tanahnya di perumahan. Alhamdulillah sudah terbangun Masjid insya Allah pahala jariah almarhum akan terus mengalir,” tuturnya.

Ketiga anak almarhum juga donatur di BMH. Mereka senantiasa membantu program-program BMH sehingga BMH sampai hari ini memiliki empat lokasi binaan program Tahfidzul Qur’an, Majlis Qur’an , dan Rumah Qur’an

BMH juga meluncurkan banyak program seperti beras berkah untuk penghafal Al-Qur’an, wakaf Al Qur’an, sedekah pembangunan masjid dan program layanan ambulance gratis.(rls/*)

Yayasan Darul Qur’an Hidayatullah Sidrap Gelar Pengajian Rutin Bulanan

0

SIDRAP, HidyatullahSulsel.com — Yayasan Darul Qur’an Hidayatullah Sidrap menggelar pengajian rutin bulanan di kampus Hidayatullah Sidrap, Bulucenrana, Kecamatan Pituriawa, Sidrap, Rabu (14/9/2022).

Pengajian warga ini digelar rutin setiap bulannya. Biasanya pengajian ini digelar di setiap pekan pertama, di awal bulan. Hanya saja, karena berbagai agenda kegiatan yang ada, pengajian ini baru bisa diadakan di pekan kedua bulan September.

Pengajian warga ini menghadirkan seluruh pengurus, warga dan santri di Yayasan Darul Qur’an Hidayatullah Sidrap. Saat ini sudah ada 6 orang santri, 10 warga baik ibu-ibu dan bapak-bapak.

Pengajian kali ini, dibawakan oleh Kepala Departemen Organisasi dan SDI DPW Hidayatullah Sulsel, Ustad Anwar Baits.

Selain itu hadir pula Ustad Burhan, staf khusus Department Organisasi DPW Hidayatullah Sulsel. Turut hadir pula, Ustad Abdul Jabbar, Ketua Yayasan Ar-Risalah Hidayatullah Parepare. Adapula Ustad Majid, Staff Khusus Hidayatullah Parepare.

Dalam tausiyahnya, Ustad Anwar Baits kembali mengingatkan jama’ah untuk menguatkan spirit Muharram. Bagaimana agar momentum Muharram ini dapat membangun nilai-nilai jama’ah.
“Mari kita bangun kekuatan jama’ah yang solid dan kuat ditempat ini, kita perkuat ukhuw dan akidah kita.” ajaknya.

“Untuk menguatkan jama’ah itu, perlu menjaga kepemimpinan, mari kita menjadi orang-orang yang terpimpin dan menguatkan kepemimpinan. Dan seorang pemimpin itu harus peka dan peduli terhadap ummatnya,” jelas Ustad Anwar Baits.(rls/*)

DPD Hidayatullah Maros Terus Gencarkan Dakwah dan Pacu Pembangunan Masjid

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros terus menggencarkan berbagai program dakwah kepada masyarakat Maros dan terus memacu pembangunan masjid bantuan masyarakat.

Pada 3 September lalu bertempat di TPA Al Hijrah Dusun Bontolempangan Desa Purnakarya Kec Tanralili, Departemen Dakwah Hidayatullah Maros Ust Robianto berkunjung untuk mengecek perkembangan TPA tersebut.

TPA Al Hijrah sudah tiga bulan berlangsung kegiatan tarbiyah quran dengan melibatkan tim pengajar santri pengabdian Pondok Tahfidz Putri Hidayatullah Tanralili.

“Alhamdulillah gerakan dakwah melalui Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Quran sudah terus digalakkan oleh DPD Hidayatullah Maros dengan melibat semua personil organisasi induk organisasi Hidayatullah DPD dan DPC dan Muslimat dan Pemuda Hidayatullah Maros,” urai Ketua DPD Hidayatullah Maros, Ust Drs Muhammad Kaisar.

Menurutnya respon masyarakat untuk belajar mengaji sangat bagus dan inilah diperankan oleh Departemen dakwah DPD Hidayatullah Maros. DPD Hidayatullah Maros juga membuka program wakaf Qur an dan program santunan bagi guru mengaji.

Di kesempatan terpisah, pengurus DPD Hidayatullah Maros menggelar rapat untuk penggalangan dana masjid Andi St Halijah Pondok Putra Hidayatullah Tanralili di Kantor Yayasan Darul Hijrah, Senin (12/9/2022).

“Pengurus tetap prioritaskan pembangunan lantai dan perampungan jendela dan masih membutuhkan dana. Kami mengajak kaum muslimin dan muslimat yang ingin berwakaf untuk pembangunan masjid,” ujar Ust Kaisar.

Bagi yang ingin berwakaf pembangunan masjid bisa menghubungi :
ust Muhammad Kaisar 081342563546 Ust Abd Hadi 085255992595 atau bisa mengirim ke Rek Bank BRI Taznralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros.(rls/*)

Ketua Pembina Beri Tausyiah Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Pangkep Ust Alyas SPd mengisi Tausiyah di hadapan seluruh santri dan jajaran pengurus di Masjid Muhammad Al-Fatih, Ahad (11/9/2022).

Dalam tausiyahnya, Ust Alyas menyampaikan betapa pentingnya menuntut Ilmu. Ia mengutip perkataan Imam Syafi’i “Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”

“Kehadiran kalian sekolah di Hidayatullah ini, yang sudah jauh dari kampung, ada dari Flores dan berbagai daerah lain maka kalian harus menargetkan diri mau menjadi apa dengan ilmu yang kalian dapatkan selama belajar di pondok ini,” ujarnya.

Sementara Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Ust Karding Ssos menyampaikan sangat senang dengan kegiatan penguatan spirit oleh Ketua Pembina Yayasan. “Semoga santri semakin rajin belajar dan bagus Akhlaknya,” harapnya.■ Abu Wildan