Laznas BMH Sulsel-CIMB NIAGA Syariah Latih Dai Muda Penggerak Pedesaan
HidayatullahSulsel.com — Sebanyak 30 pendakwah muda mengikuti kegiatan workshop intensif dengan tema “Dai Tangguh untuk Negeriku”. Program ini bertujuan untuk menguatkan kiprah dai muda di bidang sosial dan ekonomi di tengah masyarakat pedesaan.
Dilaksanakan selama sepekan (5-11/9/2022), kegiatan dipusatkan di Gedung Dakwah Hidayatullah Sulsel Jl. Mattirotasi, Bacukiki Barat, Cappa Galung, Kota Parepare, dengan menghadirkan instruktur dari berbagai disiplin ilmu, yakni Prof Sigit Iko Sugondo praktisi pemberdayaan masyarakat, Ekonom regional dan pedesan Bambang Dwi Cahyono, Praktisi Socio Branding dan Komunikasi pedesaan serta konten kreator Arif Mualim dan Wijaya Rahmat.
Dai muda yang dilatih merupakan alumni Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara yang selama ini telah melaksanakan pengabdian di tengah masyarakat, “Peningkatan kapasitas dai secara berkelanjutan ini dimaksudkan untuk menjawab perubahan masyarakat dengan menguatkan keilmuan,” ujar Ketua Yayasan Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara, Sumariadi.
Ustadz Ikhsan Saleh seorang dai yang bertugas di Toraja Utara mengungkapkan bahwa gerak bersama dalam dakwah baginya sangat penting, terlebih medan dakwahnya berada di tengah minoritas muslim. “Kalau dakwah sendiri tentu sangat berat, banyak tantangan di masyarakat, dan kita memerlukan pengetahuan yang lebih luas agar diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Terlaksananya workshop Dai Tangguh untuk Negeri ini disponsori oleh bank CIMB NIAGA Syariah dan dilaksanakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Yayasan Sekolah Dai Hidayatulluh Sultan Batara.(bas/*)
Pemimpin yang Bertahta di Hati. Bag 2
Oleh : Ust Drs Nashri Bukhari MPd, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan
OPINI, HidayatullahSulsel.com — Memimpin dengan hati tidak dimaknai sebagai gaya kepemimpinnan yang mengesampingkan teori dan pendekatan gaya kepemimpinan dari teori kepemimpinan yang berkembang saat ini.
Memimpin dengan hati adalah lebih mengedepankan pada aspek spritualitas yang dimiliki oleh pemimpin dan umat yang dipimpinnya.
Model kepemimpinan ini tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal semata, melainkan lebih banyak dibimbing oleh faktor internal hati nuraninya oleh kekuatan spritualitas yang membuat seorang pemimpin memiliki kekuatan hati dalam kepemimpinannya.
Memimpin dengan hati dengan kekuatan spritual yang berdasarkan pada etika religius, mampu membentuk karakter, integritas dan keteladanan. Dan bahkan bukan berarti kepemimpinan yang anti intelektual.
Kepemimpinan spiritual bukan hanya sangat rasional, melainkan menjernihkan rasionalitas dengan bimbingan hati nurani dan kecerdasan spiritual (Tobroni, 2015). 282 Iqtishadia, Vol. 9, No. 2, 2016.
Secara historisitas Islam, pemimpin yang secara utuh telah sukses bertahta di hati umat adalah model yang merujuk kepada pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Rasulullah mampu mengembangkan kepemimpinan yang paling ideal dan sukses dengan sifat-sifatnya yang utama, yaitu siddiq (integrity), amanah (trust), dan tabligh (openly, human relation) dan fathanah (working smart).
Tidak hanya dipanuti dan diteladani oleh para sahabat yang bersamanya, menyaksikan dan hidup semasanya. Tapi juga oleh umat sesudahnya, yang tidak melihat dan merasakan langsung kepemimpinannya.
Kesuksesan Nabi Muhammad dalam kemimpinannya tidak hanya diakui oleh umatnya, tapi juga orang umat agama lain seperti Michael H.Hart yang menempatkan Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia diantara 100 tokoh yang diteliti.
Memimpin dengan Cinta
Karakter pemimpin yang mampu bertahta di hati umatnya adalah pemimpin yang dilandasi dengan cinta dan kasih sayang dari Allah SWT, sebagai mana kesuksesan Rasulullah memimpin berdasarkan bimbingan wahyu yang diterimanya.
Sehingga karakter kepemimpinan Rasuliullah adalah karakter qur’an yang didasari dan dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang, sebagaimana dalam firmanNya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ
لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴿١٥٩﴾
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Peminpin yang bertahta di hati adalah pemimpin yang melandasi cinta dan kasih sayang karena Allah berdasarkan Alquran. Disebabkan kekuatan spritualitasnnya membuat hati diselimuti kelembutan dan penuh kasih sayang dan hati yang sabar.
Pemimpin yang bertahta di hati juga sosok adil dan pemaaf, kooporatif dan adaktif, serta yakin dan komitmen pada keputusan dan kesepakatan bersama, serta tawakkal tinggi hanya kepadaNya. Sebagaimana karakteristil kepemimpinan Rasulullah dan para sahabatnya. Wallah A’lam.(*)
DPD Hidayatullah Pangkep Isi Pengajian di Ma’rang Ajak Mempersiapkan Amalan Terbaik
Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Pangkep Ust Karding SSos mengisi pengajian dan syukuran di rumah Hj Hajerah di Jalan Pannyili, Bontobonto, Ma’rang, Pangkep, Ahad (4/9/2022).
Ust Karding menyampaikan tausyiah bertajuk “Mempersiapkan Amalan Terbaik”. “Betapa pentingnya kita mempersiapkan amalan terbaik kita, karena dalam Al-quran surah Al Mulk dijelaskan bahwasanya yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,” ujarnya.
Hadir juga Ketua Majelis Taklim setempat Ustadzah Hj Maswati memberikan penguatan kepada peserta pengajian sekaligus menyampaikan program yang diangkat Hidayatullah Pangkep saat ini.
Dalam kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyerahan uang tunai untuk Rumah Al-Quran Hidayatullah Pangkep. Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin itu menyampaikan terima kasih banyak kepada seluruh peserta pengajian sudah menyisihkan sebagian hartanya untuk Rumah Al-Quran yang dikelola pihaknya.
Rumah Al-Quran tersebut rencananya akan menjadi markaz pembelajaran Al Qur’an dari semua kalangan. Ia berharapan dari Rumah Al-quran hadir dan tumbuh generasi Qur’ani untuk tegaknya Peradaban Islam di masa yang akan datang.■ Abu Wildan
Di Daurah Wushta Hidayatullah Sulsel, AQM Pastikan Tak Ingin Lagi Terlibat Kontestasi Politik
PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tiga periode Ust Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (AQM) memastikan tak akan menerima lagi ajakan untuk terlibat konstetasi politik.
“Saya sudah cukup 15 tahun menerima tugas menjadi “kelinci percobaan” berpolitik khas Hidayatullah. Menjadi anggota DPD maupun 3 kali terlibat di Pilgub Sulsel pengalaman luar biasa,” jelas Dewan Pertimbangan Hidayatullah itu di sela menyampaikan materi tentang dua jati diri Hidayatullah Al Harakah Al Jihadiyah dan Imamah wal Jamaah pada Daurah Marhala Wustha DPW Hidayatullah Sulsel, Parepare, Sabtu (2/9/2022).
Kepastian tersebut diutarakannya pada sela penjelasan posisi Hidayatullah dalam politik sebagai salah satu bagian dari gerakan dakwah dan tarbiyah, untuk musim konstetasi politik dalam waktu dekat.

Juga sebagai keputusan merespon beberapa tawaran beberapa partai politik maupun bakal calon Pilgub Sulsel yang masih datang meminta kesediaan AQM untuk kembali berpolitik.
Hal itu juga dibenarkan Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin MPd. “Pada musyawarah majelis Syura pekan lalu beliau sudah meminta izin secara kelembagaan agar tak lagi ditugaskan menjadi pemain namun cukup menjadi mentor politik bagi kader Hidayatullah yang memiliki potensi untuk terjun di politik praktis,” jelasnya.
Karena menurut AQM kepada peserta daurah, politik tidak boleh dihindari sepenuhnya apalagi ditinggalkan, sebab menjadi salah satu elemen pergerakan yang sangat efektif untuk menciptakan tatanan peradaban Islam sebagaimana visi Hidayatullah.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar itu mencontohkan bagaimana sebuah tempat hiburan malam Alexis yang sekejap bisa ditutup hanya dengan selembar surat keputusan dan tandatangan Gubernur Anies Baswedan, padahal sebelumnya tak berhasil walau sudah dipermasalahkan berkali-kali.
Apalagi, rincinya, jika gerakan melalui jalur apa saja termasuk politik dilandasi filosofi berjuang dan berjamaah bahwa Allah senang kepada orang berperang (jihad) di jalan Allah dan selalu dalam shaff (jamaah).
Diuraikan bahwa tingkatan jihad dalam Islam terdiri dari jihad melawan hawa nafsu, jihad memerangi syetan, jihad melawan orang kafir dan orang munafik yang dholim dan yang memerangi orang Islam.
“Ada dua inti tuntutan yang dibutuhkan dalam jihad yakni Kesabaran dan Keyakinan,” tandasnya di hadapan 50 peserta daurah dari seluruh kampus/pesantren, yayasan dan BMH se-Sulsel di Gedung Dakwah Hidayatullah .(fir)
Ketua DM Hidayatullah di Daurah Marhala Wustha DPW Sulsel. Ungkapkan Cerita Ini
HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Dr H Tasyrif Amin MPd dan anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust Naspi Arsyad hadir menyampaikan materi pada hari pertama Daurah Marhala Wustha DPW Hidayatullah Sulsel, Jumat (2/9/2022).
Dua instruktur nasional Hidayatullah itu menyampaikan materi pembuka. Ust Tasyrif menguraikan sejarah, peraturan dasar organisasi dan gambaran umum jati diri Hidayatullah. Sedangkan Ust Naspi menjelaskan manhaj gerakan tarbiyah dan dakwah Sistimatika Wahyu Hidayatullah.
Ust Tasyrif menguraikan Hidayatullah didirikan oleh KH Abdullah Said pada 1973 didorong oleh kondisi saat itu semua dimensi ummat Islam terpinggirkan serta tercerai berainya kekuatan ummat dan surutnya peran gerakan dakwah Islam.

Secara internal Islam hal itu, ujarnya, karena kesalahan cara berIslam, krisis jamaah dan imammah dan dakwah tanpa manhaj. “Seorang Muhsin Kahar (nama asli Abdullah Said) gelisah dengan fakta tersebut. Belum lagi dengan kondisi eksternal ummat Islam ketika pemerintah orde baru saat itu yang represif terhadap ummat Islam,” ujarnya.
Maka Hidayatullah hadir menawarkan solusi kembali ke manhaj Nabawi. Untuk visi tegaknya kalimat Allah, dengan misi membangun peradaban Islam.
Tentang Abdullah Said, salah seorang pendiri Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar itu bertutur, sosok tersebut lahir di Sinjai 17 Agustus 1945. Karena kecerdasan dan keberaniannya pada umur 12 tahun sudah dipercaya berkhutbah di Masjid Raya Parepare.
Menurut Ust Tasyrif, Ketua Muhammadiyah Sulsel Djamaluddin Amin pernah mengatakan tentang sosok Abdullah Said sebagai seorang yang akalnya melampaui umurnya.
KH Abdurahman Muhammad Pemimpin Umum Hidayatullah menjadi saksi betapa Abdullah Said pada umur 15 tahun sudah rutin bangun mandi dan shalat malam dari pukul 12 malam hingga jelang subuh. Yang unik pernah memimpin Pemuda Muhammadiyah dan PII di Sulsel sekaligus.(fir)
Dari Silaturahmi Palu. Berbagi untuk Saling Menyemangati (2)
HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nashri Bukhari MPd memastikan para peserta Silaturahmi Dai se-Sulawesi, pekan lalu, masing-masing memiliki cerita dan kesan mendalam dari perhelatan yang mengumpulkan para pengurus dan dai Hidayatullah tersebut.
Terasa di pertemuan itu kerinduan yang ditumpahkan kala bertemu saudara sesama dai dan mujahid. “Memang dibutuhkan silaturahmi dan keakraban saling berbagi untuk saling menyemangati dalam menunaikan amanah dakwah,” ujarnya.
Juga tambahnya para dai membutuhkan motivasi dan pencerahan para ustad senior, perintis dan pendiri lembaga. “Siraturahmi dai ini bertepatan dengan Muharram. Agar lebih bermakna kesemarakan dan spirit Muharram,” harapnya.
Dalam silaturahmi tersebut juga disosialisasikan program Dewan Pengurus Pusat, oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Ust Nursyamsa, Kadep Dakwah dan Penyiaran Ust Syaiful Anwar serta Ketua Biro Humas DPP Hidayatullah Ust Mahladi.
Alhamdulillah para pendiri Hidayatullah Ust Hasim dan Ust Abd Qadir Jaelani juga berkesempatan hadir menyampaikan gambaran dan spirit awal pendirian Hidayatullah dengan semangat keikhlasan dan pengorbanan kerja dan ibadahnya yang keras.
“Kerja dan ibadah yang keras merupakan kunci keberhasilan dari peran para kader awal dengan pengorbanan sepenuh hati dan jiwa. Mereka mewariskan semangat jihad,” tambah Ust Nashri.
Sementara Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Dr H Abd Aziz Qahhar MUdzakkar para ajang silaturahmi itu hadir menjelaskan dan memperkuat kembali pemahaman dan komitem tiga konsolidasi Hidayatullah, yakni konsolidasi organisasi sebagai kekuatan kelembagaan Hidayatullah, konsilidasi idil untuk dipahami dan dilaksanakan.
Pada tausyiah penutup, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurahman Muhammad berharap agar para kader Hidayatullah sebagai seorang mujahid harus yakin dengan segala ketentun dan janji kemuliaan dari Allah kepadanya. “Para mujahid juga harus terus menguatkan kesabaran sebagai strategi dan kunci keberhasilan perjuangan penegakan peradaban Islam,” tegasnya.(bersambung/*)
Perubahan itu dengan Akal dan Spiritual Kuat Serta Siap Berkompetisi
Oleh : Ust Drs Ahkam Sumadiyana MA, Instruktur Nasional Hidayatullah
HidayatullahSulsel.com — Yang dibutuhkan dalam kehidupan ini adalah perubahan. Perubahan sering dijadikan jargon, tema, baik dalam urusan politik maupun sosial. Bahkan juga yang paling dominan dalam kehidupan Islam ini perubahan untuk terwujudnya peradaban Islam.
Dan memang perubahan menjadi obsesi semua orang. Ada dua pendorong utama manusia untuk senantiasa ingin perubahan yang signifikan.
Pertama, manusia memiliki sifat bosan. Orang tidak suka selalu disajikan makan menu ayam (ingin juga ikan kering). Kalau itu-itu terus maka otomatis mebuntut perubahan.
Kedua, sifat manusia ini dinamis, menginginkan dinamika. Karena manusia punya keinginan, cita-cita bahkan superioritas. Maka dinamika inilah yang harus ditempuh. Lawan dinamika itu stagnan.
Dinamika itu sunatullah, sedangkan stagnan melawan sunah. Jadi kalau ada yang mau awet atau tetap muda itu melawan sunah.
Mengapa dinamika sebuah keharusan dan bagaimana dinamika yang benar itu. Karena semua ingin berubah. Darimana mau berubah. Semua ormas dan harakah lembaga perjuangan senantiasa ingin melakukan perubahan. Maka darimana perubahan harus dimulai.
Alhamdulillah di Hidayatullah sudah menjawab semua itu. Salah satu cara untuk mendinamisasi dengan menyelenggarakan daurah. Ini baru satu hal.
Kalau kita mengambil landasan syariah tentang perubahan terdapat pada
QS. Ar-Ra’d Ayat 11
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, ormas dan lembaga perjuangan hingga pribadi-pribadi dan kader berubah dirinya bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin.
Ada juga orang tidak mau berubah dengan selalu berkata “dulu kami itu..” ya itu dulu. Jadi perubahan harus dimulai dari pribadi. Merubah pribadi seorang kader itu juga tidak sederhana. Karena yang mau dirubah wawasannya dengan tarbiyah tul akliyah.
Dulu kader Hidayatullah susah sekali mau belajar karena banyak orang Hidayatullah memahami sosok pendiri alahuyarham Abdullah Said dianggapnya tidak mau belajar.
Padahal beliau orang yang selalu mau belajar dengan membeli dan membaca buku. Belum ada duanya dai yang beli buku tiap hari. Tidak ada buku yang terbit yang tak dibelinya saat itu. Dan beliau kalau membaca cepat sekali.
Bahkan bukan sekadar membaca tapi merenungi dan menghayati. Ketika membaca beliau seperti berkelahi dengan buku dengan cara mengkritisinya. Maka beda bobot pembicaraan beliau dengan orang lain.
Membaca buku itu yang pertama dibaca penulisnya. Benarkah pemikirannya. Kedua judulnya, ketiga daftar isinya.
Perubahan kedua spiritualnya. Hanya orang yang kuat spiritual yang mampu melakukan perubahan. Istilah Abdullah Said kader tidak boleh memiliki “syahadat impoten”
Itulah sebabnya Abdullah Said mengajarkan taqarub illahlah di atas rata-rata dengan qiyamullail lebih kuat agar tidak rapuh jiwa. Jiwa yang rapuh itu ciri-cirinya sedikit-sedikit tersinggung, marah dan gampang goncang. Maka tidak ada yang bisa dibikin, dilakukan dan diubah oleh orang yang rapuh jiwanya.
Abdullah Said biasa membanting-baanting mental kader di forum agar terbiasa dengan tantangan dalam melakukan perubahan.
Tapi itupun tak cukup. Faktanya banyak umat Islam dan ulama yang memiliki ilmu dan spirit kuat tapi tak mampu berkompetisi tak mampu berbuat apa-apa. Mengapa bisa dimana masalahnya ?
Maka harus kuat dan memiliki kemampuan agar memiliki jiwa kompetisi. Itulah mengapa kader disiapkan agar fisiknya kuat dan memiliki keahlian, itu untuk modal dan disiapkan berkompetisi.
Tidak semua ulama mampu buat pondok karena tidak disiapkan/memiliki skill keterampilan dan kekuatan. Sedangkan kader Hidayatullah mudah dan ringan saja dari tingkat apa saja bisa ditugaskan merintis pendirian pondok.
Maka dengan memiliki tiga hal di atas akan mudah melakukan perubahan. Tapi ilmu, spiritual dan skil juga harus disesuaikan dengan tahap perjuangan.
Abdullah Said memulai merubah dengan membuat jaringan. Maka di majalah TIME menulis pada 1990 jaringan ormas Islam terkuat di Indonesia itu Hidayatullah. Dan untuk ekspansi dan jaringan eksis dengan menciptakan kader. Itulah kenapa Abdullah Said itu menganggap kader itu mahal sekali.
Ketika suatu hari memberi tausiyah di pinggir danau beliau berkata “semua kader itu mahal dan semua kader ada manfaatnya.” Lalu Ust Abdul Qadir Jaelani bertanya apa manfaat kader yang nakal ? Manfaatnya melatih kesabaran. Kalau santri taat semua maka tak teruji kesabaran pengurus dan pengasuh.
Ust Rahaman Surabaya menimpali berarti bagus kalau kita terima santri kaya dan pintar. Namun Abdullah Said berkata yang banyak santri miskin dan kurang pintar lalu siapa yang mengurusnya ?
Maka Abdullah Saidpenugasan kader sesua potensinya. Kader dari Jawa di dalam kantor dari Bugis di lapangan. Karena kader mahal maka Abdullah Said tiadakan kegiatan penamatan agar kader tidak kemana-mana tapi langsung disebar untuk perkuat jaringan khususnya di wilayah minoritas seperti di Papua, Maluku dan Sulawesi Utara.
Mengapa minoritas karena kader langsung paling ulama. Itu cara bangun kepercayaan pula.
Setelah jaringan terbentuk, lalu ketaatan ditajamkan. Abdullah Said menerjemahkan perkataan Umat bin Khatab “Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa jama’ah, dan tiada jama’ah tanpa kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak terwujud tanpa ketaatan.’ Beliau meringkasnya dengan “.. tidak ada Islam tanpa ketaatan”
Pernah seorang Kyai dari Rodja ustad Faturahman bertanya “Kenapa kader Hidayatullah taat semua.” Karena ketaatan itu diproses. Dengan ketaatan apapun jadi. Dan sekarang terasa dengan adanya garis komando.
Dicontohkan orang Yahudi dengan intelektualitas tapi susah mentaati Tolud. Saat ini ummat Islam menunggu Imam Mahdi maka diperkirakan akan susah mentaati dan insyallah kader Hidayatullah akan mudah dan siap taat karena telah terbiasa untuk taat pemimpin.
Ketiga setelah taat/garis komando yakni jati diri. Pembentukan jatidiri Hidayatullah itu melalui proses luar biasa. Agar kadernya menjadi agen perubahan, fungsionaris, ujung tombak bukan ujung tumpul bagi perubahan. Selamat menikmati daurah dengan materi jatidiri yang akan disampaikan.(fir)
*) Disarikan dari tausiyah subuh kepada peserta Daurah Marhala Wustha di Gedung Dakwah Hidayatullah, Parepare, Jumat (2/9/2022).
Jadi Lumbung Kader, DPW Sulsel Ditarget Gelar Daurah Marhala Wustha 2 Kali Setahun
PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Daurah Marhala Wustha DPW Hidayatullah Sulsel kembali dilaksanakan. Kali ini digelar di Gedung Dakwah Hidayatullah, Parepare, Kamis (1/9/2022).
Hadir pada pembukaan daurah Ketua Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah Ust Drs Saleh Utsman MKom dan jajaran pengurus DPW dan Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel.
Dalam sambutannya Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nashri Bukhari MPd mengatakan melalui daurah hendak memahamkan jati diri sebagai kader yang diharapkan memiliki karakter sebagaimana karakter Rasulullah dan sahabatnya.
“Daurah Marhala Wustha kali ini cukup spesial karena pertama kali dilaksanakan di Gedung Dakwah Hidayatullah yang menghadirkan instruktur nasional dengan jumlah peserta 50 orang kader,” ujarnya.
Daurah tersebut akan dilaksanakan hingga Ahad 4 September 2022. Ust Saleh dalam sambutan pembukaannya menuturkan daurah erat kaitannya dengan mainstream gerakan Hidayatullah untuk dakwah dengan merekrut kader dan tarbiyah untuk mengupgrade kualitas kader.
Hidayatullah menurutnya, sangat dinamis dakwahnya menyikapi realitas ummat. Targetnya eksistensi Hidayatullah bukan sekadar pelengkap tapi bagaimana Hidayatullah menjadi terdepan di semua lini dakwah dan tarbiyah.
“Target ini hendak diwujudkan dengan menggencarkan daurah di semua wilayah kepengurusan. Sulsel ditargetkan menyelenggarakan dua kali daurah Marhala Wustha dalam setahun karena dikenal sebagai lumbung kader Hidayatullah yang militan,” ungkapnya.
Menurutnya, menjadi orang beriman plus Allah pilih menjadi pejuang dakwah merupakan hal istimewa karena Allah jamin keselamatannya di akhirat. Dan melalui Marhala untuk menjaring orang yang beriman dan mau berjihad di jalan Allah.
“Kader yang telah mengikuti Daurah Marhala Wustha untuk menjadi benteng perjuangan dan mujahid dakwah karena memiliki spirit tinggi dan wawasan luas. Ini juga untuk menjawab perkembangan eksistensi Hidayatullah saat ini yang semakin besar dan dipercaya,” rincinya.(fir)










