Beranda blog Halaman 9

Panglima yang Murobbi, Ketika Strategi Perang Dibangun dari Halaqah

0
Oleh : Muhammad Nashrullah Alwi*

Dalam banyak narasi sejarah modern, peran militer sering diposisikan sebagai wilayah yang terpisah dari dunia pendidikan. Komandan dipandang sebagai teknokrat perang yang bertugas menyusun strategi dan mengatur pasukan, sementara pembinaan intelektual dianggap sebagai urusan para ulama di ruang-ruang pengajaran.

Namun, lembaran awal sejarah Islam memperlihatkan gambaran yang berbeda. Dalam Sirah Nabawiyah dan perjalanan para Khulafaur Rasyidin, kita menemukan sosok panglima yang tidak hanya piawai di medan perang, tetapi juga berperan sebagai murabbi dan faqih. Mereka bukan sekadar pemimpin taktis, melainkan pendidik yang membentuk kesadaran iman dan ilmu di tengah pasukan.

Keberhasilan ekspansi Islam pada masa awal tidak hanya disokong oleh kecerdikan strategi militer. Ia berdiri di atas fondasi ideologis dan spiritual yang dibangun melalui tradisi halaqah ilmu yang terus hidup bahkan di tengah situasi peperangan.

Keseimbangan antara jihad dan tafaqquh

Landasan pembinaan ini bersumber langsung dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara perjuangan fisik dan pendalaman ilmu agama. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya agar mereka dapat menjaga diri. (QS At-Taubah 122)

Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting dalam peradaban Islam. Perjuangan tidak boleh berjalan tanpa panduan ilmu. Tafaqquh fiddin berfungsi menjaga arah moral dan etika dari setiap bentuk perjuangan. Tanpa ilmu, kekuatan fisik berpotensi kehilangan orientasi.

Karena itulah generasi sahabat membangun tradisi ilmu yang berjalan seiring dengan aktivitas jihad. Mereka memahami bahwa kemenangan sejati tidak hanya ditentukan oleh strategi militer, tetapi juga oleh kualitas iman dan pemahaman agama para pejuangnya.

Halaqah ilmu di tengah medan perang

Sejarah mencatat bahwa para panglima besar Islam juga berperan sebagai pembina spiritual pasukan. Nama-nama seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal dikenal bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai pengajar ilmu.

Imam Adz-Dzahabi dalam karya monumentalnya Siyar A’lam an-Nubala menggambarkan karakter pasukan Muslim yang memiliki kualitas ruhani yang sangat kuat. Mereka dikenal sebagai ruhbanun fillail wa usudun finnahar. Sosok yang ahli ibadah di malam hari dan menjelma singa garang di siang hari.

Salah satu metode pembinaan yang menonjol adalah tradisi halaqah yang bersifat mobilitas tinggi. Pembinaan tidak selalu berlangsung di masjid atau ruang belajar formal. Dalam perjalanan panjang pasukan atau saat pengepungan benteng, para sahabat senior tetap mengadakan majelis ilmu.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat bahwa di sela-sela perjalanan dan kamp militer, para sahabat duduk melingkar untuk melakukan talqin dan mudzakarah. Talqin dilakukan dengan mendiktekan ayat, hadits, atau prinsip-prinsip fiqh, sementara mudzakarah menjadi ruang diskusi dan penguatan pemahaman.

Mu’adz bin Jabal pernah memberikan pesan yang menggambarkan nilai spiritual dari proses belajar tersebut. Beliau mengatakan:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ

Pelajarilah ilmu. Mempelajarinya karena Allah menumbuhkan rasa takut kepada-Nya. Mencarinya adalah ibadah dan mendiskusikannya adalah tasbih. (Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim)

Dengan pola pembinaan seperti ini, pasukan Islam tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga matang secara spiritual dan intelektual.

Kepemimpinan yang membina manusia

Rasulullah ﷺ dan para penerusnya juga menerapkan sistem kaderisasi yang rapi di dalam struktur pasukan. Pasukan dibagi dalam unit-unit kecil yang dipimpin oleh seorang naqib atau pemimpin kelompok.

Tugas seorang pemimpin unit tidak berhenti pada urusan taktis. Ia juga bertanggung jawab menjaga kualitas iman dan ilmu anggota pasukannya. Hafalan Al-Qur’an, pemahaman fiqh, serta etika jihad menjadi bagian dari pembinaan rutin di dalam kelompok.

Model ini melahirkan tipe kepemimpinan yang utuh. Seorang komandan bukan hanya pengatur strategi, tetapi juga pembina manusia. Dari tradisi ini lahir generasi pemimpin yang memiliki tiga kekuatan sekaligus.

Yaitu, pertama, kekuatan spiritual melalui tazkiyah yang menjaga keteguhan hati dalam tekanan. Kedua kedalaman intelektual melalui tafaqquh yang melahirkan kemampuan analisis dan ijtihad. Dan ketiga, kemampuan manajerial melalui disiplin dan koordinasi dalam mengelola pasukan.

Kombinasi tiga unsur inilah yang membuat kepemimpinan generasi sahabat memiliki ketangguhan luar biasa.

Pelajaran bagi kepemimpinan masa kini

Warisan sejarah ini memberikan pelajaran penting bagi organisasi modern. Kepemimpinan yang kuat tidak cukup hanya bertumpu pada target kinerja atau ekspansi organisasi. Ia harus dibangun di atas proses pembinaan manusia yang berkelanjutan.

Seorang pemimpin sejatinya adalah mentor yang menumbuhkan kapasitas intelektual, spiritual, dan moral orang-orang yang dipimpinnya. Organisasi yang mengabaikan proses pembinaan biasanya akan mengalami kemunduran moral sebelum mengalami kegagalan struktural.

Sejarah menunjukkan bahwa runtuhnya kekuatan sering kali dimulai ketika tradisi halaqah ilmu berhenti. Ketika proses pembinaan melemah, disiplin dan integritas perlahan ikut memudar.

Sebaliknya, organisasi yang menghidupkan kembali tradisi pembinaan yang dinamis akan melahirkan kader yang bukan hanya cakap dalam eksekusi, tetapi juga kokoh dalam prinsip.

Pada akhirnya, model kepemimpinan yang diwariskan generasi awal Islam mengajarkan satu hal yang sangat penting. Kekuatan sejati sebuah gerakan tidak hanya lahir dari strategi dan struktur, tetapi dari manusia-manusia yang dibentuk oleh ilmu, iman, dan pembinaan yang terus hidup.

Referensi

Safiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri – Ar-Rahiqul Makhtum
Adz-Dzahabi – Siyar A’lam an-Nubala
Ibnu Katsir – Al-Bidayah wan Nihayah
Abu Nu’aim al-Ashbahani – Hilyatul Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya

*H. Muhammad Nashrullah Alwi, Lc., M.M., adalah alumnus Hadits Universitas Islam Madinah yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel.

Pesantren Hidayatullah Mario Salurkan 15 Paket Sembako untuk Warga Sekitar

0

WAJO (HidayatullahSulsel.or.id) – Pengurus Pesantren Hidayatullah Mario, Wajo menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada masyarakat sekitar pesantren pada Ahad pagi (15/3/2026). Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 07.00 WITA ini menjadi bagian dari kepedulian sosial pesantren terhadap warga di lingkungan sekitar, khususnya di bulan suci Ramadhan.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada Imam Desa Mario, yang selanjutnya akan mendistribusikan paket sembako tersebut kepada warga yang dinilai berhak menerimanya. Secara keseluruhan, sebanyak 15 paket sembako disiapkan oleh pihak pesantren untuk membantu meringankan kebutuhan masyarakat.

Pimpinan Pesantren Hidayatullah Mario, Ustaz Muhammad Idris, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penguatan nilai kepedulian sosial yang selama ini ditanamkan dalam lingkungan pesantren.

“Kami ingin menanamkan kepada para santri bahwa keberadaan pesantren harus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Bantuan ini mungkin tidak besar, tetapi kami berharap dapat menjadi bentuk kepedulian dan kebersamaan di bulan Ramadhan,” ujarnya.

Setiap paket sembako yang disalurkan berisi sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur, dan lain-lain. Bantuan tersebut dihimpun dari partisipasi pengurus pesantren serta donasi beberapa dermawan yang selama ini mendukung kegiatan sosial pesantren.

Imam Desa Mario, Pung Imang Ambo Ita, yang menerima bantuan tersebut menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh pihak pesantren kepada masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada pengurus Pesantren Hidayatullah Mario. Bantuan ini tentu sangat berarti bagi warga kami, terutama bagi keluarga yang membutuhkan di bulan Ramadhan ini,” katanya.

Menurutnya, paket sembako tersebut akan segera disalurkan kepada warga yang telah didata sebelumnya oleh perangkat desa bersama tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan sosial seperti ini, lanjutnya, diharapkan dapat terus terjalin sebagai bentuk sinergi antara lembaga pendidikan keagamaan dan masyarakat.

Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi para santri agar memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Para santri turut dilibatkan dalam proses persiapan hingga penyerahan bantuan.

Dengan adanya kegiatan ini, Pesantren Hidayatullah Mario berharap dapat terus memperkuat hubungan harmonis antara pesantren dan masyarakat sekitar, sekaligus menumbuhkan semangat berbagi dan solidaritas sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

YBM PLN Sulselrabar Berbagi Bersama Santri, Salurkan Bantuan Pangan untuk Pondok Tahfidz Hidayatullah Maros

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (UID Sulselrabar) menggelar kegiatan buka puasa bersama santri Pondok Tahfidz Hidayatullah Maros serta anak-anak dari sejumlah panti asuhan di Kantor PLN UID Sulselrabar, Jalan Hertasning, Makassar, dalam suasana penuh kebersamaan dan keberkahan di bulan suci Ramadhan.

Kegiatan yang mengusung tema “Kepedulian yang Menghadirkan Harapan” ini juga dirangkaikan dengan penyaluran bantuan pangan untuk Pondok Tahfidz Hidayatullah Maros, sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan para santri yang tengah menempuh program tahfidz Al-Qur’an.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh General Manager sekaligus Ketua YBM PLN beserta jajaran manajemen PLN UID Sulselrabar. Kehadiran mereka menjadi wujud kepedulian lembaga terhadap pembinaan generasi Qur’ani di tengah masyarakat.

Ketua YBM PLN, Rachmat Nur, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program sosial Ramadhan yang rutin dilaksanakan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya bagi lembaga pendidikan Islam dan para santri penghafal Al-Qur’an.

“Melalui kegiatan ini kami ingin berbagi kebahagiaan Ramadhan bersama para santri dan anak-anak panti asuhan. Semoga bantuan yang diberikan dapat menjadi penyemangat bagi para santri dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an,” ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Tahfidz Hidayatullah Maros menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas perhatian yang diberikan oleh YBM PLN kepada para santri. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bukti nyata sinergi antara lembaga sosial dan lembaga pendidikan Islam dalam membina generasi Qur’ani.

“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian YBM PLN kepada para santri. Semoga bantuan ini menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi semua pihak yang terlibat,” ungkapnya.

Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga diisi dengan khataman Al-Qur’an, tausiyah Ramadhan, doa bersama, serta ditutup dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi kebahagiaan di bulan suci Ramadhan, tetapi juga memperkuat semangat kepedulian dan kebersamaan dalam mendukung pendidikan para santri Pondok Tahfidz Hidayatullah Maros sebagai generasi penerus umat yang dekat dengan Al-Qur’an.

Puluhan Siswa SD Ikuti Pesantren Kilat Ramadhan di Ponpes Hidayatullah Panyula

0

Bone (HidayatullahSulsel.or.id) — Dalam rangka mengisi kegiatan positif selama bulan suci Ramadhan, Pondok Pesantren Hidayatullah Panyula, Kabupaten Bone, menggelar kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan dengan mengusung tema “Dengan Al-Qur’an Kita Songsong Generasi Emas Indonesia.”

Kegiatan tersebut diikuti puluhan siswa Sekolah Dasar kelas VI dari sejumlah sekolah di Kecamatan Tanete Riattang Timur. Pesantren kilat ini menjadi salah satu program pembinaan keagamaan bagi pelajar menjelang akhir jenjang pendidikan dasar.

Penyelenggara kegiatan menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan para peserta sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Melalui kegiatan tersebut diharapkan lahir generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia sebagai bagian dari upaya mempersiapkan Generasi Emas Indonesia di masa mendatang.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai rangkaian pembinaan keislaman dan pembentukan karakter. Di antaranya tadarus dan tahsin Al-Qur’an, kajian dan tausiyah keislaman, pembinaan akhlak dan adab, hafalan surah-surah pendek, serta praktik ibadah sehari-hari.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Panyula, Ustadz Hamzah Sulthan, S.Pd.I., menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk mendekatkan generasi muda dengan Al-Qur’an.

Ia menegaskan bahwa Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, sehingga kegiatan pesantren kilat diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap kitab suci umat Islam tersebut.

“Melalui pesantren kilat ini kita berharap para generasi muda semakin mencintai Al-Qur’an, mempelajarinya, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Al-Qur’an kita dapat membentuk generasi yang berakhlak mulia dan siap menyongsong Generasi Emas Indonesia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya diharapkan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memahami makna serta mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semangat Ramadhan dan nilai-nilai Al-Qur’an yang ditanamkan sejak dini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

Wisuda Tahfidz dan Peresmian Gedung Pendidikan, Hidayatullah Bosso Kukuhkan 46 Santri Penghafal Al-Quran

0

Luwu (HidayatullahSulsel.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, menggelar Wisuda Tahfidz Al-Quran yang dirangkaikan dengan peresmian gedung pendidikan pada Sabtu, 7 Maret 2026, bertepatan dengan 17 Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan ini dihadiri sekitar dua ratus peserta dari unsur pemerintah daerah, pengurus Hidayatullah wilayah Sulawesi Selatan, pengurus daerah dan cabang, pengurus yayasan, para guru, orang tua santri, serta para wisudawan dan wisudawati.

Pada kesempatan tersebut sebanyak 46 santri putra dan putri resmi diwisuda sebagai penghafal Al-Quran. Prosesi wisuda menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi Qurani sekaligus momentum penguatan komitmen pendidikan Islam di kawasan tersebut.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom., dalam sambutannya menekankan pentingnya memahami pesan yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah. Menurutnya, ayat tentang permohonan agar ditunjukkan jalan yang lurus merupakan doa agar umat Islam meniti jalan para nabi, orang orang yang jujur dalam keimanan, para syuhada, dan orang orang saleh.

Ia menyampaikan bahwa pengakuan iman kepada Allah harus diwujudkan dalam tanggung jawab nyata untuk mendukung tegaknya nilai nilai Islam dalam kehidupan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui dakwah, penguatan pendidikan, maupun bantuan terhadap berbagai proyek kebaikan yang memperkuat peradaban umat.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas salat sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim. Rangkaian bacaan dan gerakan salat, mulai dari takbir hingga salam, menurutnya mengandung nilai pembinaan karakter yang harus tercermin dalam kehidupan sehari hari.

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, S.H., yang mewakili Bupati Luwu. Dalam sambutannya ia menyampaikan apresiasi atas peran Pondok Pesantren Hidayatullah Bosso dalam membina generasi muda melalui pendidikan Al-Quran.

Pemerintah Kabupaten Luwu, kata dia, menyambut baik keberadaan lembaga pendidikan Islam yang berkomitmen menanamkan nilai nilai keislaman sekaligus membentuk karakter generasi bangsa.

Ia juga mengajak para orang tua untuk terus mengawal pendidikan anak anak mereka agar tetap istiqamah mempelajari Al Quran serta menjaga hafalan yang telah diperoleh.

“Harapan kami para orang tua dapat terus mendampingi anak anaknya agar tetap belajar dan mempertahankan hafalan Al Quran,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Luwu juga menyampaikan harapan agar ke depan kawasan pendidikan Hidayatullah Bosso dapat terus berkembang dengan pembangunan fasilitas pendidikan tambahan.

Ia berharap pembangunan ruang ruang kelas baru dapat terus dilakukan sehingga proses pendidikan bagi para santri dapat berlangsung lebih baik dan menjangkau lebih banyak generasi muda di Kabupaten Luwu.

Cahaya Al-Quran dan Jalan Takwa di Tengah Gelombang Zaman

0
Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)

Di bawah langit Ramadan tahun 2026 ini, umat Islam kembali mengenang peristiwa turunnya Al-Quran. Peristiwa yang sering hadir sebagai seremoni tahunan yang penuh khidmat. Namun sesungguhnya Nuzulul Quran bukan sekadar kenangan sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia adalah momen refleksi yang mengajak manusia menengok kembali arah hidupnya.

Ada pertanyaan penting patut diajukan kepada diri kita. Mengapa wahyu itu turun justru pada masa yang dikenal sebagai zaman kegelapan, ketika masyarakat Arab tenggelam dalam praktik jahiliyah, ketimpangan sosial, dan kekerasan antar kabilah.

Jawabannya terletak pada hakikat kehadiran Al-Quran itu sendiri. Kitab suci ini tidak datang hanya untuk dibaca dengan suara merdu atau diperlombakan keindahan tilawahnya. Al-Quran turun sebagai kekuatan perubahan. Ia meruntuhkan kesombongan manusia dan membangun kembali peradaban di atas dasar wahyu yang kokoh.

Sejak pertama kali diturunkan, Al-Quran membawa pesan yang melampaui ruang dan waktu. Ia berbicara kepada manusia di setiap zaman tentang arah hidup, tentang keadilan, serta tentang tanggung jawab moral di hadapan Tuhan.

Wahyu sebagai peta jalan peradaban

Bayangkan suasana sunyi di Gua Hira ketika malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Peristiwa itu tidak hanya mengguncang batin sang Nabi, tetapi juga mengubah arah sejarah manusia. Dari gua kecil di pinggir Makkah, lahir sebuah risalah yang kemudian membentuk peradaban baru.

Bagi generasi sahabat, Al-Quran bukan sekadar sumber pahala dari setiap huruf yang dibaca. Ia menjadi panduan hidup yang nyata. Sebuah Blue Print Kehidupan. Ayat-ayatnya memandu cara berpikir, membentuk karakter, dan menata hubungan sosial.

Di dalam Al-Quran terdapat satu kunci yang sering terlupakan. Kitab ini disebut sebagai “hudan lil muttaqin”, petunjuk bagi orang yang bertakwa. Petunjuk itu tidak akan bekerja bagi siapa pun yang menutup dirinya dari kesadaran moral dan ketundukan kepada Allah. Dengan kata lain, Al-Quran adalah kompas, sedangkan takwa adalah kekuatan yang menggerakkan langkah manusia untuk mengikuti arah kompas tersebut.

Hubungan keduanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa takwa, Al-Quran hanya menjadi bacaan. Namun ketika takwa hidup dalam diri seseorang, ayat-ayatnya berubah menjadi energi yang menggerakkan perubahan.

Dalam konteks dunia hari ini, pesan itu terasa semakin relevan. Konflik geopolitik yang melibatkan kekuatan besar menunjukkan betapa manusia sering kehilangan arah ketika kekuasaan dan kepentingan menjadi pusat segalanya. Teknologi militer berkembang pesat, tetapi nilai kemanusiaan justru kerap tertinggal. Tanpa panduan moral yang kokoh, kecanggihan teknologi hanya berpotensi memperbesar kehancuran.

Perubahan yang lahir dari iman

Sejarah Islam menunjukkan bahwa pertemuan antara Al-Quran dan takwa melahirkan transformasi besar dalam kehidupan manusia. Perubahan itu tidak terjadi dalam satu bidang saja, tetapi menyentuh berbagai dimensi kehidupan.

Pertama adalah perubahan dalam mentalitas manusia.

Al-Quran datang untuk memerdekakan jiwa dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Kisah Bilal bin Rabah menjadi contoh yang selalu dikenang. Dalam tekanan dan siksaan yang berat, ia tetap mengucapkan kalimat tauhid dengan keyakinan yang teguh. Takwa menjadikan seorang budak yang tertindas berdiri sebagai manusia merdeka yang tidak tunduk kepada kekuasaan zalim.

Pelajaran ini tetap relevan hingga hari ini. Sebuah masyarakat yang memiliki takwa tidak mudah gentar oleh intimidasi kekuatan ekonomi maupun militer. Kesadaran bahwa kedaulatan sejati berada di tangan Allah melahirkan keberanian moral yang tidak dapat dibeli oleh kekuasaan apa pun.

Perubahan kedua tampak dalam tatanan sosial.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab terjebak dalam fanatisme kesukuan yang melahirkan peperangan berkepanjangan. Al-Quran mengubah cara pandang itu dengan menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh garis keturunan atau kekuatan suku, melainkan oleh ketakwaannya.

Prinsip ini membawa pesan keadilan yang melampaui batas ras, bangsa, dan wilayah. Dalam dunia yang masih sering diwarnai standar ganda kemanusiaan, nilai tersebut menjadi pengingat bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan.

Perubahan ketiga terjadi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Wahyu pertama dimulai dengan perintah untuk membaca. Seruan ini bukan hanya ajakan untuk mengenal huruf, tetapi juga dorongan untuk mengembangkan akal, ilmu, dan pemikiran.

Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai bagian penting dari pembangunan peradaban. Perintah membaca membuka jalan bagi lahirnya tradisi intelektual yang luas, mulai dari ilmu agama hingga sains dan teknologi. Dalam dunia modern yang sarat persaingan pengetahuan, semangat ini seharusnya menjadi energi bagi umat Islam untuk membangun kemandirian dan kreativitas.

Menghidupkan kembali makna wahyu

Ketika melihat kondisi umat hari ini, tidak sedikit orang merasakan kegelisahan. Di banyak tempat, umat Islam masih bergulat dengan berbagai persoalan ekonomi, pendidikan, dan politik. Dalam percaturan global, sering kali mereka hanya menjadi penonton dari konflik kekuatan besar.

Keadaan ini mengundang pertanyaan yang lebih mendalam. Mungkin persoalannya bukan karena Al-Quran kehilangan relevansi. Justru sebaliknya, bisa jadi kita yang perlahan menjauh dari pesan yang dikandungnya.

Al-Quran masih dibaca dan dihafal, tetapi semangat takwa yang menjadi ruhnya belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan sehari hari. Padahal Al-Quran tidak pernah dimaksudkan berhenti di bibir atau di kerongkongan. Ia seharusnya menjelma menjadi kejujuran dalam bekerja, keberanian membela kebenaran, serta kepedulian terhadap mereka yang tertindas.

Ramadan selalu datang sebagai kesempatan untuk menata ulang hubungan manusia dengan kitab sucinya. Bulan ini mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kesadaran batin yang sederhana, dari hati yang kembali tunduk kepada petunjuk Allah.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Al-Quran tetap menjadi cahaya yang tidak pernah padam. Ia mengajarkan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, tetapi nilai nilai kebenaran tidak pernah berubah.

Karena itu, memperingati Nuzulul Quran seharusnya tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Ia seharusnya menjadi panggilan untuk menghidupkan kembali pesan wahyu dalam kehidupan nyata.

Ketika Al-Quran benar benar dijadikan pedoman, dan takwa tumbuh sebagai kekuatan batin, umat tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah. Mereka menjadi bagian dari perubahan yang menghadirkan keadilan, ilmu, dan kemuliaan bagi kehidupan manusia.

Malam ke Lima Belas dan Peta Jalan yang Lurus

0

Memasuki malam ke-15 ini, imam kami Ustadz Darmoyo membawa kami menelusuri bacaan juz ke-15. Malam itu dimulai dari awal Surat Al-Isra, lalu berlanjut hingga sebagian besar Surat Al-Kahfi. Di malam pertengahan Ramadhan ini, ayat-ayat yang dibaca terasa seperti menghadirkan satu garis besar yang sangat jelas tentang arah perjalanan spiritual seorang muslim.

Bacaan dimulai dari ayat pertama Surat Al-Isra, kisah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha. Peristiwa ini kita kenal sebagai Isra dan Mi’raj. Ia bukan sekadar perjalanan lintas ruang, tetapi loncatan spiritual yang dalam tradisi Islam menjadi titik penetapan kewajiban shalat lima waktu.

Allah berfirman:

سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1)

Dari titik itu, bacaan mengalir hingga memasuki Surat Al-Kahfi, melewati ayat-ayat yang berbicara tentang petunjuk, tentang kebenaran Al-Qur’an, dan tentang siapa yang sesungguhnya memperoleh hidayah.

Jika dirangkum dalam satu benang merah, pesan malam itu terasa sangat kuat. Tentang Isra yang adalah perjalanan vertikal Nabi. Tentang shalat yang merupakan mi’raj harian bagi setiap muslim. Dan Al-Qur’an yang menjadi peta yang memastikan perjalanan itu tidak melenceng.

Di bulan Ramadhan yang sejak awal dipahami sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, ayat-ayat ini seperti mengunci satu pemahaman penting, bahwa puasa, shalat, dan interaksi dengan Al-Qur’an bukanlah tiga ibadah yang berdiri sendiri. Ketiganya adalah satu sistem bimbingan menuju jalan yang paling lurus.

Pada awal Surat Al-Isra, setelah kisah Isra, Allah menegaskan fungsi Al-Qur’an dengan kalimat yang sangat tegas:

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus. (QS. Al-Isra: 9)

Kata aqwam dalam ayat ini memiliki makna yang sangat kuat. Ia bukan sekadar menunjukkan jalan yang baik, tetapi jalan yang paling lurus, paling kokoh, dan paling stabil.

Dalam konteks Ramadhan, pesan ini terasa sangat relevan. Puasa dijalankan dengan tujuan yang sangat jelas, yaitu membentuk ketakwaan.

Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Namun semangat menuju takwa tanpa arah yang jelas bisa berubah menjadi energi spiritual yang tidak terstruktur. Di sinilah Al-Qur’an mengambil peran sebagai kompas.

Sejak malam pertama Ramadhan, kita sering diingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses pembentukan kesadaran. Malam-malam berikutnya berbicara tentang ujian, kesabaran, istiqamah, hingga kebersamaan Allah dengan orang-orang yang bertakwa.

Memasuki malam ke-15, pertanyaannya menjadi lebih konkret: bagaimana memastikan seluruh proses itu berjalan di jalur yang benar?

Jawabannya kembali kepada Al-Qur’an sebagai petunjuk yang aqwam.

Menariknya, pada bagian akhir Surat Al-Isra, Allah kembali menegaskan posisi wahyu. Bukan hanya sebagai sumber kebenaran, tetapi juga sebagai proses pendidikan yang berlangsung secara bertahap.

Allah berfirman:

وَبِٱلْحَقِّ أَنزَلْنَٰهُ وَبِٱلْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَٰهُ لِتَقْرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَٰهُ تَنزِيلًا

Dan dengan kebenaran Kami turunkan Al-Qur’an itu, dan dengan kebenaran pula ia turun. Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap. (QS. Al-Isra: 105–106)

Ayat ini bukan hanya informasi historis tentang proses turunnya wahyu. Ia juga mengandung isyarat metodologis, bahwa hidayah tidak selalu datang sekaligus. Ia turun perlahan, menyesuaikan kesiapan jiwa manusia.

Ramadhan pun demikian. Perubahan tidak selalu terjadi secara dramatis dalam satu malam. Al-Qur’an diturunkan bertahap, dan kita pun membacanya bertahap. Malam ini satu juz, esok satu juz lagi. Ada ritme yang dijaga, ada kesabaran yang dilatih.

Jika Al-Qur’an turun secara tanzīlan, perlahan dan terukur, maka pembentukan ketakwaan dalam diri manusia pun menuntut kesabaran yang sama.

Surat Al-Kahfi yang dibaca setelahnya memperdalam makna hidayah. Dalam salah satu ayatnya Allah menegaskan:

مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan baginya penolong yang dapat memberi bimbingan. (QS. Al-Kahfi: 17)

Ayat ini terasa sebagai peringatan sekaligus penghiburan.

Peringatan, bahwa hidayah bukan semata-mata hasil kecerdasan atau kemampuan intelektual manusia. Penghiburan, karena ketika seseorang merasa lemah dan bingung, selalu ada dimensi ilahi yang menentukan arah akhir perjalanan.

Dalam ayat puasa di Surat Al-Baqarah, hubungan antara Ramadhan, Al-Qur’an, dan hidayah juga ditegaskan dengan sangat jelas:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil. (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam rangkaian ayat yang sama, Allah juga berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)

Kedekatan dengan Allah, hidayah Al-Qur’an, dan pengabulan doa hadir dalam satu paket spiritual yang kita jalani selama Ramadhan.

Isra dan Mi’raj menghadirkan shalat sebagai kewajiban inti. Ramadhan menghadirkan puasa sebagai latihan kesadaran. Al-Qur’an hadir sebagai peta. Jika salah satu dilepaskan, sistem ini menjadi timpang.

Shalat tanpa Al-Qur’an kehilangan ruh bimbingan. Puasa tanpa Al-Qur’an kehilangan arah transformasi. Sementara Al-Qur’an tanpa shalat dan puasa kehilangan konteks praksisnya dalam kehidupan.

Di pertengahan Ramadhan ini, ayat-ayat yang dibaca malam itu seperti mengajak kita mengevaluasi arah perjalanan. Apakah puasa hanya menjadi rutinitas tahunan, atau benar-benar bagian dari perjalanan menuju jalan yang aqwam.

Apakah Al-Qur’an kita baca sekadar untuk menuntaskan target juz, atau untuk memastikan bahwa keputusan-keputusan hidup kita berjalan sesuai dengan peta yang diturunkan dengan kebenaran itu.

Hidayah sering kita bayangkan sebagai momen besar yang dramatis. Padahal ia sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: dorongan untuk memperbaiki niat, keberanian meminta maaf, atau keteguhan menolak yang tidak halal meski tidak ada yang melihat.

Di situlah makna ayat man yahdillāhu fahuwa al-muhtadī terasa sangat dekat. Ketika Allah membimbing, perubahan kecil pun menjadi sangat berarti.

Malam ke-15 Ramadhan ini mengingatkan satu hal sederhana tetapi mendasar. Bahwa perjalanan spiritual tidak cukup dengan semangat. Ia memerlukan peta. Ia memerlukan navigasi.

Dan peta itu telah diturunkan dengan kebenaran, dan untuk menuntun manusia menuju jalan yang paling lurus. Dan peta itu bernama Al-Qur’an.

Belajar Sabar dari Yusuf di Malam Ketiga Belas

0
Oleh: Abdul Aziz*

Saya terusik oleh satu ayat yang dibacakan imam pada qiyamullail dua malam lalu. Malam ke-13 Ramadhan, ketika kami menuntaskan juz ke-13 dalam satu malam. Saat sampai pada ayat ke-90 dari Surah Yusuf, bacaan imam terasa melambat, seolah memberi ruang agar kalimat itu benar-benar meresap.

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 90).

Ayat itu bukan sekadar penutup dramatik dari kisah panjang Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Setelah sumur yang gelap. Setelah dijual sebagai budak. Setelah godaan yang berat. Setelah penjara yang sunyi. Lalu pertemuan kembali dengan saudara-saudara yang pernah membuangnya. Di puncak cerita itu, Al-Qur’an tidak menonjolkan balas dendam, tidak pula menegaskan kemenangan politik. Yang ditegaskan justru dua hal yang sunyi namun kokoh, takwa dan sabar.

Di situlah saya merasa tertampar. Ramadhan yang sedang kita jalani ini, sebenarnya sedang membentuk apa dalam diri kita. Apakah sekadar melatih tubuh menahan lapar dan haus, atau sedang menata sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan arah hidup kita.

Kita sering tidak sabar pada proses. Kita ingin perubahan yang cepat. Ingin hati yang segera tenang. Ingin doa yang langsung terjawab. Kita mudah gelisah ketika hasil tidak sesuai harapan. Padahal Yusuf menunggu tanpa tahu kapan fase sulit itu berakhir. Ia tidak tahu kapan akan keluar dari penjara. Ia tidak tahu kapan kebenaran akan terungkap. Ia hanya menjaga satu hal yang bisa ia kendalikan, tetap bertakwa dan tetap bersabar.

Kisah Yusuf menyuguhkan sisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Ia tidak menghapus masa lalunya. Ia tidak berpura-pura lupa bahwa ia pernah disakiti. Namun ia menafsirkan ulang seluruh peristiwa hidupnya dalam kerangka keimanan. Ia tidak menyederhanakan takdir sebagai permainan manusia. Ia tidak pula mengkultuskan penderitaan sebagai identitas diri. Ia mengembalikan semuanya kepada hukum ilahi, bahwa siapa yang bertakwa dan bersabar, Allah tidak akan menyia-nyiakan.

Di sinilah puasa menemukan relevansinya. Puasa memberi ruang hening yang jarang kita miliki di luar bulan ini. Dalam rasa lapar dan sunyi, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri. Luka lama yang belum selesai. Kekecewaan yang diam-diam masih kita simpan. Rasa tersinggung yang mudah muncul ketika nama kita tidak disebut atau usaha kita tidak dihargai.

Puasa ternyata bukan hanya menahan makan. Ia melatih kita menahan reaksi. Menahan emosi yang ingin meledak. Menahan kalimat yang bisa melukai. Bahkan menahan keinginan untuk membalas. Jika lapar saja bisa kita tahan dari fajar hingga maghrib, mengapa dendam tidak bisa kita tahan lebih lama.

Yusuf mengajarkan bahwa kedewasaan iman terletak pada kemampuan mengelola luka tanpa membiarkannya berubah menjadi kebencian. Ia mampu berkata kepada saudara-saudaranya, “Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian.” Kalimat itu bukan tanda lupa, tetapi tanda matang. Ia memilih memutus rantai dendam ketika ia punya kuasa untuk membalas.

Takwa sering kita pahami sebagai sikap hati-hati terhadap yang haram. Itu tentu benar. Namun dalam kisah Yusuf, takwa terasa lebih luas. Ia adalah kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap fase, bahkan fase yang terasa tidak adil. Sebab dalam Al-Qur’an, sabar adalah daya tahan aktif berupa kemampuan bertahan dalam ketaatan, menahan diri dari maksiat, dan tetap lurus ketika ujian datang bertubi-tubi.

Ramadhan mempertemukan takwa dan sabar dalam latihan harian. Kita belajar disiplin pada waktu khusus yang telah Allah tetapkan. Kita menunda berbuka walau makanan sudah terhidang. Kita menahan amarah walau situasi memancing emosi. Semua itu bukan tujuan akhir. Itu proses membangun karakter yang tidak mudah goyah oleh keadaan.

Menariknya, ujian dalam kisah Yusuf tidak berhenti ketika ia berada di bawah. Justru ketika ia berada di atas, di puncak kekuasaan, takwa dan sabarnya kembali diuji. Dalam kondisi kuat, godaan terbesar adalah membalas. Dalam posisi unggul, godaan paling halus adalah merendahkan. Di sinilah kualitas iman terverifikasi. Apakah kita tetap lembut ketika mampu keras? Apakah kita tetap adil ketika punya kuasa?

Dari sini, kita melihat bahwa Ramadhan sesungguhnya sedang menyiapkan kita untuk dua keadaan sekaligus. Yaitu ketika kita lemah dan ketika kita kuat. Ketika kita di bawah, sabar menjaga kita dari putus asa. Ketika kita di atas, takwa menjaga kita dari kesombongan. Keduanya adalah penyangga agar kita tidak terlempar oleh perubahan situasi.

Di penghujung bacaan malam itu, imam melantunkan ayat-ayat tentang syukur dan ancaman bagi yang kufur nikmat. Ada kesinambungan pesan yang terasa kuat. Bahwa siapa yang bertakwa dan bersabar tidak akan disia-siakan; siapa yang kufur nikmat akan kehilangan arah. Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari yang haram, tetapi membangun karakter yang stabil dalam segala keadaan, lapang maupun sempit, dipuji maupun disakiti.

Jika Allah benar-benar tidak menyia-nyiakan pahala orang yang bertakwa dan bersabar, maka pertanyaannya bergeser. Bukan lagi apakah kita akan dibalas, melainkan apakah kita cukup sabar menunggu waktu. Bukan apakah keadilan akan datang, melainkan apakah kita siap tetap lurus sebelum keadilan itu tiba.

Malam-malam Ramadhan terus berjalan. Juz demi juz akan dilantunkan. Namun ayat ke-90 dari Surah Yusuf itu terasa seperti penanda arah, di mana takwa menjaga orientasi, dan sabar menjaga ritme. Puasa menjadi madrasah yang menghubungkan keduanya, agar kita tidak hanya lulus secara ritual, tetapi juga matang secara spiritual.

Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih lembut pada orang yang pernah menyakiti, lebih tenang saat diuji, dan lebih rendah hati saat diberi, mungkin di situlah tanda bahwa puasa kita tidak berhenti di lapar dan haus. Ia telah turun lebih dalam, membentuk jiwa yang matang seperti Yusuf, yang tidak membiarkan luka mengalahkan imannya.

BMH dan Pemuda Hidayatullah Sulsel Gelar Bukber, Perkuat Solidaritas Pangan Mahasiswa Rantau

0

MAKASSAR — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan bersama Pemuda Hidayatullah (PEMHIDA) Sulsel menggelar buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan peluncuran Gerakan Solidaritas Pangan bagi mahasiswa rantau, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Makassar.

Sekitar 30 mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya dari UIN Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Universitas Terbuka (UT), dan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang buka puasa bersama, tetapi juga forum silaturahmi dan penguatan kolaborasi antar mahasiswa lintas kampus. Melalui momentum Ramadhan, para peserta diajak membangun kepedulian sosial, khususnya terhadap kebutuhan pangan mahasiswa rantau yang tengah menempuh pendidikan di kota Makassar.

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Rachmat Ghafur Hamran, menegaskan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum lahirnya gerakan kolaboratif yang berdampak nyata bagi umat.

“Kami ingin membangun koneksi yang kuat antar mahasiswa lintas kampus dan organisasi. Dari pertemuan seperti ini diharapkan lahir berbagai kolaborasi program yang memberi manfaat luas,” ujarnya.

Dalam agenda tersebut, BMH Sulsel juga memberikan edukasi tentang zakat sebagai instrumen strategis pemberdayaan umat. Tidak hanya sebagai ibadah ritual, zakat dinilai memiliki dimensi sosial yang kuat dalam membantu kelompok yang membutuhkan, termasuk mahasiswa perantau yang menghadapi tantangan ekonomi selama masa studi.

Sebagai lembaga amil zakat nasional yang telah memperoleh pengesahan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, BMH berkomitmen mengelola zakat, infak, dan sedekah secara amanah dan profesional. Melalui jaringan nasionalnya, lembaga ini terus mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Reskiaman SW, menyampaikan tausiyah tentang pentingnya fondasi spiritual dalam gerakan kepemudaan. Menurutnya, kekuatan gerakan sosial tidak dapat dilepaskan dari kedalaman spiritualitas para pelakunya.

“Pemuda yang menjaga shalat lima waktu secara konsisten akan memiliki karakter yang kuat, disiplin, dan mental yang stabil. Spiritualitas inilah yang menjadi benteng dari dekadensi moral sekaligus sumber energi perubahan sosial,” ungkapnya.

Ia menambahkan, gerakan kepemudaan yang berangkat dari nilai-nilai spiritual akan melahirkan generasi yang tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana kebersamaan yang hangat diharapkan menjadi awal dari terbangunnya jaringan kolaborasi mahasiswa Muslim yang lebih solid, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gerakan kebaikan yang bermanfaat bagi umat.

Melalui Gerakan Solidaritas Pangan ini, BMH dan Pemuda Hidayatullah Sulsel berharap tercipta sistem kepedulian yang lebih terorganisasi, sehingga mahasiswa rantau dapat merasakan dukungan kolektif dari komunitas umat dalam menyelesaikan perjalanan akademiknya.

Abu Rifqoh

Rakerda Gabungan Soppeng–Bone–Wajo Ditutup, Tekankan Konsistensi Amal Sholeh dan Penguatan Ukhuwah

0

SOPPENG (HidayautullahSulsel.or.id) – Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan Kabupaten Soppeng, Bone, dan Wajo resmi ditutup pada Senin sore, 14 Sya’ban 1447 H (2/2/2026) dengan penegasan komitmen pelaksanaan program berbasis amal sholeh, penguatan moralitas kader, serta penjagaan ukhuwah dalam seluruh lini organisasi.

Penutupan Rakerda diikuti oleh unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Murabbi Wilayah (DMW), pengurus DPD dari tiga kabupaten, unsur pengurus DPC, serta peserta rakerda lintas struktur yang sejak awal mengikuti rangkaian pembahasan dan perumusan program kerja.

Dalam sambutan penutupnya, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Ismail Mukhtar, menegaskan bahwa seluruh program yang telah disepakati harus dijalankan sebagai amal sholeh dan wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar kewajiban administratif organisasi.

“Jangan sampai kita menyesal di akhirat karena program ini tidak dijalankan dengan maksimal,” tegasnya di hadapan peserta.

Ia juga menekankan pentingnya budaya kerja kolektif dengan membiasakan aktivitas berkantor bersama, minimal sekali dalam sepekan, sebagai sarana konsolidasi, koordinasi, dan penguatan kebersamaan antarstruktur. Menurutnya, kesibukan menjalankan program di siang hari harus diimbangi dengan kesungguhan beribadah pada malam hari.

“Allah bersama orang-orang yang baik. Maka siang kita bekerja sungguh-sungguh, malam kita maksimalkan ibadah,” ujarnya.

Ustaddz Ismail Mukhtar menegaskan bahwa keberadaan DMW memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas kekaderan, yang dijalankan secara sinergis dengan para murabbi halaqah. Ia juga mengingatkan bahwa aspek kemurobbian melekat pada kepemimpinan, mulai dari tingkat pusat hingga cabang.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Dr. Muhammad Saleh dalam arahan umumnya menekankan bahwa seluruh program kerja harus dibangun di atas kesepakatan dan kemauan bersama. Ia mengibaratkan sebuah program tidak akan terwujud tanpa kesepahaman, sebagaimana sebuah gazebo tidak akan berdiri jika tidak ada kerja sama antar pihak.

Ia juga mengurai sejumlah faktor yang kerap melahirkan sikap “tidak mau” dalam menjalankan program, di antaranya karena tidak memahami program, terjadi salah paham, atau faktor kondisi personal seperti sakit. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pendamping atau konselor dalam struktur untuk membantu memahamkan program kepada kader.

“Jika kita mengaku sebagai kader, maka hindari segala sesuatu yang bisa merusak ukhuwah,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPW juga menekankan bahwa Marhalah Ula merupakan standar dasar keimanan, keislaman, dan ketakwaan seseorang secara hakiki, yang harus menjadi pijakan bersama dalam menjalankan seluruh agenda dakwah dan organisasi.

Rakerda Gabungan Soppeng–Bone–Wajo ini ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk mengimplementasikan seluruh hasil rakerda secara konsisten di masing-masing wilayah, serta memperkuat sinergi lintas kabupaten demi efektivitas dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di Sulawesi Selatan bagian selatan.