Beranda blog Halaman 78

SDH Putri Bone Awali Kuliah Semester Baru dengan Daurah Mustolahul Hadits

0

BONE, HidayatullahSulsel.com — Sekolah Daiyah Hidayatullah (SDH) Sultanbatara Bone kembali menggelar kegiatan Daurah Sehari pada Ahad (5/2/2023) di ruang Aula Abdullah Said Kampus Putri Pesantren Hidayatullah Panyula Watampone.

Setelah dua pekan sebelumnya mahasantri SDH berjibaku mengikuti ujian semester 1 dan rehat selama kurang lebih 3 hari mereka kembali memompa semangat untuk mengikuti Daurah Hadits.

Daurah dibawakan oleh Ketua Departemen Perkaderan dan Kepesantrenan Ustadz H Nasrullah Alwi Lc. “Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan bagi para mahasantri calon Daiyah, Murobbiyah dan Muhafizah,” jelas Pembina dan pengarah SDH Putri Sultanbatara Bone Ust H Dwi Subagyo SSi.

Ia menuturkan bahwa kegiatan mahasantri pada semester 2 akan dipadatkan dengan kegiatan murojaah hafalan Qur’an, muhadharah berbahasa Arab, daurah-daurah berbasis kitab, praktek mengajar dan mengasuh di sekolah-sekolah serta pondok pesantren yang dinaungi Yayasan Al Fath Pesantren Hidayatullah Panyula Watampone.

Yayasan Al Fath Pesantren Hidayatullah Panyula Watampone membina unit pendidikan dari jenjang TK dan SD non boarding serta MTS dan MA Putri yang berasrama (boarding).

“Langkah ini ditempuh untuk melatih dan membiasakan mahasantri mentransfer ilmu yang telah diperoleh sekaligus mempraktekan langsung ilmu tersebut, baik dalam lingkungan pesantren maupun di lingkungan masyarakat umum melalui program Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an Hidayatullah (RQH dan MQH) maupun Majelis Taklim yang ada di Kota Watampone dan sekitarnya,” tuturnya.

Para mahasantri SDH Putri Sultanbatara Bone setelah mengikuti pendidikan selama setahun selanjutnya akan ditugaskan ke daerah-daerah yang membutuhkan tenaga daiyah, hafizhah dan pengasuh pondok pesantren khususnya di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara (Sultanbatara) .

Sebagian alumni SDH putri juga akan diseleksi dan diproyeksikan untuk melanjutkan studi di beberapa perguruan tinggi di Sulsel maupun di luar Sulsel dengan tetap menjalankan amanah penugasan.

Diharapkan mahasantri SDH Putri angkatan pertama bisa menjadi pionir dan kader-kader pilihan yang siap tandang ke gelanggang melakukan perubahan untuk wujudnya visi mulia ‘”Membangun Peradaban Islam”.(Dwi Fii Amanillah)

Jadilah Manusia Terkuat

0

Oleh: Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ketika menyebut  manusia atau orang terkuat di bumi, pikiran kita mungkin tertuju pada atlet yang juara dalam pertarungan seperti Mike Tyson, petarung UFC seperti Khabib Nurmagomedov. Atau sosok penguasa negara adikuasa, presiden terlama dan pengusaha tersukses, mungkin pula dia sosok panglima perang, atau para bodyguard.

Sebenarnya dalam pandangan Islam kedudukan kekuatan fisik adalah hal sangat urgen, khususnya dalam setiap peperangan dan ketangguhan diri ke medan dakwah.

Padahal hakekatnya orang kuat bukan hanya yang tampak dari sisi lahiriah saja. Terdapat sisi lain yang lebih penting dari lahiririah sebagai hakekat kekuatan seseorang yang sesungguhnya.

Berikut beberapa unsur kekuatan uang menjadikan sebagai manusia terkuat di bumi:

Pertama, mampu mengendalikan amarah

Sebagaimana sabda Nabi Saw.,
عَنْ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالُوا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. رواه ابو داود

“Dari Abdullah bin Mas’ud, berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, menurut kalian, siapa yang kalian anggap paling kuat?’ Para sahabat menjawab, ‘orang yang tidak terkalahkan dalam adu gulat.’ Beliau bersabda, ‘bukan itu, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya saat marah.’”

Hadis tersebut tidak menafihkan seseorang untuk tidak boleh marah. Karena pada saat tertentu menuntut kita untuk harus marah, seperti ketika harga diri aqidah tercabik-cabik.

Dalam hal ini adalah bagaimana pentingnya kita menahan atau mengontrol emosi di saat marah. Karena saat marah yang tak terkendali akan tak terkontrol akal sehatnya.

Emosi tak terkendali menjerumuskan kita berbuat sesuatu yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari kita tentang kiat mengendalikan amarah, dalam sabdanya, “Jika salah seorang di antara kalian marah dan dia berdiri, maka duduklah, karena kemarahan akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah.”

Kedua, kuat karena lemah lembut.

Kelemahlembutan bukanlah termasuk manusia yang lemah. Allah sendiri sebagai Dzat yang Maka Kuasa juga memiliki sifat Maha Lembut (Al-Latif).

Rahasia orang kuat sebagaimana yang Allah perintahkan adalah dengan bersifat lembut dalan firmanNya
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”

Kelemahlembutan membuat orang beriman menjadikan bisa tidak berlaku kasar dan juga menjadi pemaaf, lebih dari itu memohon ampunkan orang lain kepada Allah

Rasulullah bersabda: Hai Abu Umamah, sesungguhnya termasuk orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya”.

Nampak bahwa kekuatan manusia terletak pada kemampuan melunakkan hatinya dari sifat pemarah lagi kasar. Pada ayat tersebut tergambar betapa Allahlah menjadikan manusia lemah lembut karena karena kasih sayangNya berupa RahmatNya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar bersikap lemah lembut terhadap manusia sebagaimana Dia memerintahkan kepadaku untuk mengerjakan hal-hal yang fardu.

Ketiga, takut pada Allah membuat orang kuat

Takut adalah fitrah kemanusiaan yang melekat pada dirinys sebagai makhluk Allah. Namun Allah menetapkan takut semata-mata kepada-Nya. Dan itu adalah kunci dari semua keberanian, yang akan ditakuti manusia dan segala sesuatunya.

Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “Barang siapa yang takut kepada Allah, maka ia pun akan ditakuti oleh segala sesuatu. Dan barang siapa yang takut kepada selain Allah, maka ia pun akan takut kepada segala sesuatu.”

Bentuk ketakutan manusia yang hakiki adalah takutnya hanya pada Allah dengan cirinya adalah mengendalikan nafsu yang mendapatkan tempat terbaik.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى () فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى 

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya),” [QS. An Naazi’aat : 40-41].

Menahan amarah adalah suatu perbuatan terpuji yang menunjukkan pribadi kuat seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tergambarlah siapa sesungguhnya manusia atau orang terkuat di muka bumi, dialah yang mampu mengendalikan dirinya, amarahnya, nafsunya dan ketakutannya hanya pada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam bishshawaf.(*)

Menjebak dan Hanyutkan Diri Dalam Arus Ahsanu Amala

0

Oleh: Ustadz Arham Baharuddin Jabbar, Ketua DPD Hidayatullah Takalar

HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Takalar bersinergi dengan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah, Mushida dan Pemhida kembali menggelar pengajian warga di Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar, Jum’at (03/02/203)

Pengajian ini merupakan agenda rutin yang dilakukan untuk memberikan penguatan dan pencerahan bagi warga, santri dan kader Hidayatullah di Takalar.

Berikut kutipan tausiya Ustadz Arham Baharuddin Jabbar, Ketua DPD Hidayatullah Takalar yang mengajak kepada warga dan santri untuk menjebak dan menghanyutkan diri dalam arus kebaikan :

***

Menjebak diri dan menghanyutkan diri dalam arus kebaikan itu merupakan suatu karunia besar yang patut disyukuri

Karena jika kita bertanya pada diri kita apakah sebenarnya tujuan kehidupan ini, apakah menjalani kehidupan ini hanya sebagai rutinitas saja, menjalani sebuah siklus tanpa sesuatu yang berarti atau nilai lebih?

Tidur, bangun, makan sampai tidur lagi sebagaimana rutinitas alamiah yang juga dialami oleh hewan.

Dari sini kita harus banyak beriqro’ melihat, menghayati dan merenungi untuk apa kita diciptakan agar hidup kita tidak sama dengan siklus kehidupan hewan tetapi harus punya nilai lebih dari itu.

Bahwa tujuan sebenarnya manusia diciptakan diantaranya adalah untuk ber’ahsanu amala, berbuat atau beramal dengan amalan yang terbaik

Kalau tujuan hidup kita adalah bertekad untuk berahsanu amala maka harus diprogram, harus direncanakan, harus membuat diri ini terjebak dan hanyut dalam arus kebaikan, tersibukkan dengan hal-hal yang baik.

Sebab Allah akan menguji dan menilai kita, sebagaimana FirmanNya, “Dialah (Tuhan) yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun. (Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Itulah mengapa kemudian DPD Hidayatullah Takalar membuat program kerja, di antaranya kita mendirikan rumah-rumah Al-Qur’an itu semua tujuannya adalah untuk merekayasa diri kita memiliki visi dan misi dalam kehidupan ini.

Untuk bisa berahsanu amala paling tidak ada dua perangkat yang bisa dijadikan landasan dan inspirasi

Yang pertama, melibatkan atau ikut terlibat untuk belajar dan mengajarkan Al-qur’an

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Santri belajar membaca Al-qur’an bahkan menghafalnya, guru-guru mengajar, sudah pasti membaca juga menghafal, semua ini dalam bingkai kebaikan sebagai ahsanu amala

Mari kita bertekad untuk bersama-sama untuk berahsanu amala dengan menjadi manusia-manusia yang mencitai Al-Qur’an, hidup bersama Al-Qur’an

Perangkat yang kedua adalah, menjadi manusia yang memberi manfaat kepada manusia yang lain

خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Manusia yang bertitle baik itu adalah manusia yang mendedikasikan dirinya untuk membantu orang lain.

Niatkan kemudian berdo’a kepada Allah “Ya Allah berikan saya inspirasi untuk selalu bisa memberi kebaikan kepada orang lain”.

Jika itu yang kita niatkan dan lakukan maka ketahuilah kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Manfaat yang dipancarkan dari diri kita untuk orang lain akan terasa kembali manfaatnya kepada diri sendiri.

Ketahuilah dimana ada benih benih kebaikan ditabur maka di situ Allah akan menurunkan berkahnya.

Demikianlah mengapa Hidayatullah sebagai ormas Islam memiliki visi besar yaitu membangun peradaban Islam

Visi ini bukan untuk gaya-gayaan, bukan sekedar untuk disebut-sebut tetapi semua dilakukan untuk bagaimana hidup ini memiliki visi kehidupan yang jelas.

Ada kampus sebagai tempat atau markas, ada pemimpin, ada yang dipimpin dan ada aturan sebagai panduan.

Bahwa implementasi dari ahsanu amala sebagai bukti bahwa kita adalah manusia-manusia yang memiliki visi hidup yang jelas adalah kita terus beristiqomah di lembaga ini melakukan proses demi proses untuk menuju ke arah yang lebih baik

Membuat perubahan, peningkatan terhadap pendidikan Al Qur’an serta terus berusaha melengkapi infastruktur pondok, salah satunya adalah pembangunan masjid yang masih dalam tahap pembangunan, mudah-mudahan cepat selesai dan dapat di manfaatkan dibulan romadhan yang akan datang.(mansyur)

*) Bagi Anda yang ingin terlibat membantu pembangunan mesjid Santri Tahfidz Ahlul Jannah Takalar, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar

Pewaris Allah tapi Dzolim

0

Oleh: Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Menjadi hamba yang mendapat warisan dari Allah adalah keterpilihan dan ketermuliaan, namun tidaklah otomatis menjadi hamba terbaik. Dia bisa tergolong orang rugi bahkan dzolim.

Mengapa setelah keterpilihannya tidak mengantar menjadi terbaik diantara hamba lainnya. Justru kedzoliman yang ada padanya. Allah menjelaskan hamba terpilih tapi zholim sebagaimana Firman-Nya di QS.Fayhir::32

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

Keterpilihan sebagai hamba yang mendapat warisan dari Allah adalah kemuliaan yang diberikan hanya kepada umat Nabi Muhammad. Dan itu adalah karunia yang amat besar dari Allah sebagai ketetapan yang tidak seorang pun dapat menghalanginya.

Namun keterpilihan dan kemuliaan itu adalah sebuah jalan yang akan dipilih oleh orang orang beriman untuk mengambil kemuliaan itu ataupun sebaliknya memilih jalan lain. Sehingga keterpilihan tidak akan memuliakannya dan bahkan beakibat merugikannys

Menyia-nyiakannya kemuliaan sebagai hamba terpilih itulah orang zhalim, Bukan hanya zholim pada orang lain tapi zholim pada diri sendiri

Tentang kalimat فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ (lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri) tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “Dia adalah orang yang melalaikan sebagian dari pekerjaan yang diwajibkan atasnya dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan’

Selanjutnya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafasir Al-Wajiz, mengatakan tentang zholimu Linafsi adalah. “Di antara mereka ada yang zhalim terhadap diri sendiri dengan berbuat maksiat dan menghamburkan (diri) di dalamnya sehingga keburukannya mengungguli kebaikannya”

Dengan demikian yang dimaksud orang yang menzalimi diri sendiri adalah hamba Allah terpilih mendapat Alquran namun dia termasuk orang yang lalai dalam menjalankan kewajibannya, meninggalkan hal-hal yang disunnahkan, dan kadang melakukan perbuatan haram.

Pada hakekatnya Allah mencintai hambanya dengan memilihnya mewariskan Alquran hanya kepadanya. Dan seyogyanya hamba itu mensyukurinya dengan beriman yang benar, menjalankan secara baik kewajibannya dan menjauhi dengan penuh mujahadah terhadap segala yang dilarangNya.

Karena mereka adalah kelompok hamba yang lebih banyak berbuat salah dari pada berbuat baik. Maka Zholimu Linafsi adalah kelompok hamba paling pertama dan paling rendah sebagai akibat dari kurangnya memperhatikan ajaran dalam Alquran.

Selain kelompok tersebut, dalam penjelasan QS 35;32 selanjutnya masih ada sikap lain dari hambaNya itu yakni وَمِنْهُمْ مُقْتَصِ (dan di antara mereka ada yang pertengahan).

Kelompok kedua, yaitu mereka-mereka yang bersikap pertengahan, disamping melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan. Namun, terkadang mereka meninggalkan perkara-perkara yang disunahkan dan melakukan perkara-perkara yang dimakruhkan.

Terhadap kelompok ini menurut Ibnu Katsir “Dia adalah orang yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan atas dirinya dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, tetapi adakalanya dia meninggalkan sebagian dari hal-hal yang disunatkan dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang dimakruhkan”

Hamba Terpilih dan Terbaik

Termuliakan karena terpilih dan terbaik adalah puncak terbaik bagi seorang hamba, mereka melebihi karakter kelompok pertama dan kedua. Karakteristik pada kelompok ketiga ini diraihnya seperti dijelaskan pada kalimat وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ (dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah)

Ibnu Katsir mengatakan “Dia adalah orang yang mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunatkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian hal yang diperbolehkan”

Inikah hamba Allah terpilih karena mendapatkan Alquran Dia senantiasa mengerjakan amalan faedhu dan sunah, dan juga dia meninggalkan segala perbuatan yang haram dan makruh.

Mereka merah kemulianannya sebagai pemenang, yang oleh Abdurrahnan Assa’di dijelaskannya karena “segera melakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkab orang lain. “

Adapun terhadap ketiga golongan tersebut, oleh Ibnu Abbas dikatakan bahwa orang yang lebih cepat berbuat kebaikan akan masuk surga, tanpa hisab, dan orang yang pertengahan masuk surga berkat rahmat Allah, sedangkan orang yang aniaya terhadap dirinya sendiri serta orang-orang yang berada di perbatasan antara surga dan neraka dimasukkan ke dalam surga berkat syafaat Nabi Muhammad SAW.

Karunia iman dan takwa adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh terlalaikan sehingga kita berpaling ke selainnya. Allah pun mengingatkan untuk tetap istiqomah dan tidak terperdaya hatinya, “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari ingat kepada Allah serta menuruti hawa nafsunya. Mengikuti hawa nafsu akan menghalangi seseorang untuk berbuat adil bahkan menjadi awal kerusakan,” (Qs Al Kahf ayat 28)

Waallahu A’lam bishshawaf. (*)

Bersama Ponpes se-Luwu, Hidayatullah Belopa Dorong Realisasi Perpres Pendanaan Ponpes

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Sejumlah pimpinan Pondok Pesantren se-Kabupaten Luwu hadir mengikuti pertemuan menindaklanjuti pelaksanaan Perpres No. 82 tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren di ruang kerja Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kemenag Luwu, Jum’at (3/2/2023).

Pertemuan yang diinisiasi oleh FKPP Kabupaten Luwu tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa seluruh pimpinan pondok pesantren akan menyampaikan aspirasinya kepada Bupati Kab. Luwu DR H Basmin Mattayang MPd terkait dengan pengadaan asrama bagi semua pondok.

“Audience dengan bapak bupati diagendakan pada Senin, 6 Februari 2023 di ruang kerja beliau,” ungkap pimpinan Ponpes Hidayatullah Belopa Ust Hamzah Sulthan sebagaimana beliau tuturkan kepada reporter hidayatullahsulsel.com.

Ust Hamzah yang juga turut hadir pada pertemuan tersebut berharap agar ada hasil yang menggembirakan yang akan disampaikan Bupati Luwu nanti.

“Kami semua tentu berharap agar bapak bupati berkenan membantu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Luwu ini, utamanya dalam pengadaan fasilitas berupa asrama” imbuhnya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh pimpinan ponpes Nur El Haq Ust Anang Ismail bahwa kebutuhan mendasar yang paling urgen untuk saat sekarang ini dari setiap pondok adalah pengadaan asrama.

Menutup pertemuan para pimpinan pondok itu, Kasi Pendis H. Fakhruddin Umar, mengingatkan agar setiap pondok aktif melaporkan keadaan pondok lewat aplikasi Emis.

“Kita bersyukur dengan adanya Perpres ini. Itu artinya banyak peluang untuk mendapatkan bantuan, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tapi ingat, pesantren bisa dapat bantuan kalau data Emis sudah beres.” pungkasnya.(HBS)

*) Bantu penyelesaian Asrama Tahfidz Hidayatullah Belopa dengan berdonasi ke :
Rekening Bank BRI No. Rek : 499101013562535 a.n: Yayasan Al Jihad Hidayatullah Belopa

Bank BSI No. Rek : 454-555-555-2 a.n: Pesantren Hidayatullah Belopa

Bank Sulselbar No. Rek 092-202-000004492-7 a.n: Pesantren Hidayatullah Belopa

INFO & DONASI WA / Telpon 0852-3127-5664 / Ust. Hamzah Sulthan

Penataan Kampus Darul Qur’an Hidayatullah Sidrap Dimulai

0

SIDRAP, HidayatullahSulsel.com — Salah satu program prioritas DPD Hidayatullah Sidrap tahun 2023, pada rapat kerja daerah di akhir Januari lalu, adalah penataan Kampus Pondok Tahfidz Darul Qur’an.

Pondok Tahfidz Darul Qur’an terletak di Dusun Bottolita, Desa Bulucenrana, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidrap. Sekitar 40 km dari Pangkajene, ibu kota Kabupaten Sidrap.

Di awal Februari 2023 ini, Hidayatullah Sidrap langsung tancap gas. Sebagai agenda yang prioritas, penataan landscape kampus langsung dilakukan.

Kamis, (2/1/2023) sebuah alat berat Komatsu PC 200 beroperasi di kampus di Hidayatullah Sidrap untuk penataan halaman di area halaman masjid dan asrama (sementara) santri.

Rencananya halaman tersebut akan dimanfaatkan untuk fasilitas olahraga futsal dan sepak takraw, juga untuk upacara bendera dan tempat parkir mobil.

“Kami harus bergerak cepat, banyak yang mau dikerja, dan kami awali dengan penataan landscape kampus, khususnya pembenahan halaman masjid,” ujar Ketua Yayasan Darul Qur’an, Sarmadani.

Selain program penataan kampus, Hidayatullah Sidrap juga fokus pada penyelesaian masjid pondok. “Kami berharap, agar masjid ini juga bisa segera diatapi dan dipakai, ” lanjut Ketua Yayasan Darul Qur’an ini.

Mohon doa dari seluruh jama’ah, harapnya, agar program-program di Hidayatullah Sidrap bisa berjalan lancar. (Abu Fathun Mubarak)

Ngaji dan Doa Bersama, Cara Santri Ponpes Hidayatullah Balocci Peringati Hari Jadi Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep mengaji dan doa bersama di masjid Muhammad Al-Fatih, Jumat (03/02/23).

Mengaji dan doa bersama digelar dalam rangka memperingati hari jadi kabupaten Pangkep ke-63 tahun.

Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Ust Karding menyatakan, mengaji dan doa bersama ini adalah menindak lanjuti penyampaian bupati melalui Kepala PD. Pondok Pesantren Pangkep Anwar TSAg.

Seluruh 14 pondok pesantren di Pangkep diimbau untuk mengaji dan doa bersama untuk hari jadi Kabupaten Pangkep.

Pondok pesantren di Pangkep diantaranya, Pontren Ashshithal Mustaqim DDI Baru-Baru tanga, ponpes Al-Busya Pangkep, ponpes Syaikh Zainuddin NW Malaka, Ponpes Putri IMMIM dan ponpes Daarul Muttaqiin Lokkasaile dan yang lainnya

Melalui mengaji dan doa untuk Pangkep semakin maju dan lebih baik kedepannya.

“Kegiatan yang kita lakukan ini, sebagai ikhtiar semoga Pangkep semakin maju dan Pangkep semakin hebat. Dan semakin menambah berkah pemerintahan Kabupaten pangkep,” katanya.

Mengaji dan doa dipimpin oleh Ustadz Andi Amri. Dihadiri oleh Ketua yayasan dan seluruh staf dan santri Hidayatullah Pangkep.

Andi Amri menyampaikan semoga Pemkab Pangkep bisa semakin mendukung lahirnyan santri hafidz Al-Qur’an sebagaimana juga bagian dari programnya yaitu Pangkep religius.

“Kami berharap pemerintah tetap memberikan dukungan sektor pendidikan. Dengan program bantuan pendidikan bagi anak-anak santri Pangkep yang melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi,” harapnya. (Abu Wildan)

Menjadi Ahli Waris yang Hakiki

0

Oleh: Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Siapa sih yang tak senang mendapatkan warisan, apalagi warisannya dari orangtua yang kaya raya. Hartanya tak terbilang begitu banyaknya yang diwariskannya. Warisan adalah peninggalan harta dari orangtua.

Begitulah persepsi orang umumnya. Karena warisan dalam pemahaman umum adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan harta kekayaan yang diberikan kepada ahli waris.

Sebenarna tak salah dan sejalan dengan pemahaman dalam hukum Islam. Bahwa kewarisan adalah hukum yang mengatur segala yang berhubungan dengan peralihan hak dan kewajiban atas harta kekayaan seseorang setelah meninggal dunia kepada ahli waris.

Bahkan kewarisan itu harus memiliki rukun, yakni pewaris telah meninggal dunia, harta uang diwariskan, serta ahli waris yang berhak. Dan yang berhak hanya boleh pihak yang memiliki hubungan perkawinan atau hubungan darah. Selain itu tidak berhak. Sekalipun mendapatkan pembagian harta dari pewaris, bukan kategori warisan.

Betapa ketat Islam mengatur perihal warisan, khususnya dalam peraturan pembagian, baik cara maupun yang berhak menerima.

Betapa mulianya ajaran Islam, yang menuntun manusia pada hal-hal yang sering menjadi masalah besar, yakni urusan harta peninggalan orangtua atau pewaris,

Waratsatul Anbiyaa

Pada hakekatnya terdapat urusan yang lebih penting dari urusan kewarisan dari harta kekayaan. Dinul Islam serta implementasinya adalah warisan yang bernilai harganya

Sehingga seseorang yang memiliki aqidah yang kuat buah dari keluasan dan kedalaman ilmunya, disertai dengan akhlaq keseharian sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, itulah disebut Ulama.

Karena kedalaman ilmunya, akhlaqnya dan komitmen menjalankan sunnah Rasul sehingga ulama sebagai pewaris nabi, Rasulullah  SAW bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi)

Dalam laman malang.muhammadiyyah.or.cid
dijelaskan seorang  alim bukan orang pada umumnya sebab jika kualitas dirinya sama dengan yang lainnya maka orang banyak pun akan memandangnya sebagai pribadi yang lumrah saja.

Aspek kemanusiaan yang utuh dan paripurna, fisik yang sehat dan kuat, akal intelektual yang komprehensif serta dihiasi dengan jiwa yang mulia. Menjaga perilakunya sehingga apa yang dilakukannya menjadi panutan dan teladan bagi orang di sekeliling nya.

Warisan keulamaan adalah warisan haqiqi, dia pewaris sesungguhnya dari para nabi, lebih mulia dari sekadar warisan harta benda. Rasulullah pun menjaminkan sebagai warisan terbaiknya melebihi dinar. Sebagaimana sabdanya;

من سلك طريقًا يطلبُ فيه علمًا، سلك اللهُ به طريقًا من طُرُقِ الجنَّةِ، وإنَّ المَلائكةَ لَتضعُ أجنحتَها لطالبِ العلمِ رضًا بما يصنع، وإنَّ العالمَ لَيستغفرُ له مَن في السمواتِ، ومن في الأرضِ، والحيتانُ في جوفِ الماءِ، وإنّ فضلَ العالمِ على العابدِ كفضلِ القمرِ ليلةَ البدرِ على سائرِ الكواكبِ، وإنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ، وإنَّ الأنبياءَ، لم يُوَرِّثوا دينارًا، ولا درهمًا، إنما وَرّثوا العلمَ، فمن أخذه أخذ بحظٍّ وافرٍ  

“Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Orang yang mengajarka

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Orang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi sampai ikan di air. (HR.Abu Dawud, Tirmizi dan Ibnu Majah)

Hadist tersebut memotivasi ummat Islam, bahwa siapa saja bisa menempuh jalan menjadi ulama adalah jalan terbaik sebagai pewaris Nabi, dan kedudukannya termulia.

Sebab ulama menduduki posisi terbaik setelah Nabi. Walau tak mungkin menggantikan posisi Nabi tapi dia berperan dan berkewajiban menggantikan tugas kenabian, mendakwakan Islam dan memperagakan Islam itu sendiri pada diri, keluarga dan lingkungannya.

Ahli Waris Terbaik

Apakah hanya menyandang status ulama sebagai pewaris? Ulama dan siapa saja yang menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu menjadi termuliakan dirinya. Karena dia terpilih mendapatkan warisan dari Allah berupa Alquran. Sebagaimana firmanNya menjadi termulia setelah Nabi.

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (al-Qur’an) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi al-‘ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah, “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu al-Kitab (al-Qur’an).

Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu. Tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para sahabat dan orang-orang setelah mereka”.

Abdurrahman Assa’di, mengatakaan “Dialah orang yang selalu menunaikan amalan-amalan fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh, mereka dipilih oleh Allah SWT untuk mewariskan Alquran ini, sekalipun tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama. (Tafsir Alquran “Assa’di” jild.6 h.30)

Nampak jelas bahwa yang harus selalu dikejar dan dimiliki banyak adalah warisan Alllah yakni Alquran dalam segala perpektif yang menjadikan sebagai ahlul Quran. Dan tentu peng-amalan Alquran itu sendiri dalam kehidupan sehingga terwujud peradaban Islam dalam keluarga, masyarakat, serta kehidupan berbangsa dn bernegara.

Wallahu A’lam bishshowaf.(*)

Menikmati Iman dan Sabar

0

Oleh: KH Abdurahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah

HidayatullahMakassar.id — Dalam satu perspektif, iman mengenal hanya penambahan. Karena iman mendorong pemiliknya untuk memberi, sementara memberi melahirkan penambahan-penambahan.

Memberi juga melahirkan nikmat. Iman perlu diposisikan sebagai kekuatan, kekayaan. Salah satunya karena iman melahirkan persaudaraan. Tugas penting murabbi: menguatkan iman.

Selain iman, doa juga kekayaan.

Silatnas Menyongsong Indonesia Memimpin Peradaban Dunia, ini tema yang diharapkan Pemimpin Umum.

Dalam satu perspektif, Indonesia memiliki Pancasila terutama sila pertama yang menyatukan dalam naungan Tauhid. Kesatuan Tauhid ini diharapkan menginspirasi dunia untuk juga bertauhid.

Hidayatullah juga punya rumusan yang diharapkan mencerahkan dunia: Piagam Gunung Tembak. Piagam Gunung Tembak perlu dihadirkan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Ke depan pertarungan yang ada bisa bersifat asimetris. Hidayatullah bersiap, salah satunya dengan menguatkan kepemimpinan.

Hal lain yang perlu dikuatkan adalah menjadikan sistematika wahyu (SW) sebagai kajian, strategi, dan juga manhaj

Kader juga perlu terus bersabar, sabar yang indah. Salah satu buah sabar yang indah adalah menjauhi anggapan bahwa ada kader tidak berguna. Setiap kader perlu diangkat nilainya, salah satunya dengan menyatukan dirinya bersama jamaah.

Organisasi perlu berpengaruh secara politis, begitu pula Hidayatullah. Masyarakat diharapkan bisa menemukan moral, militansi, dan pencerahan di Hidayatullah. Sehingga masyarakat terpengaruh, Hidayatullah menjadi besar.

Kebesaran yang dicita-citakan Hidayatullah adalah kebesaran Islam. Pencerahan itu penaklukan. Hidayatullah mencerahkan lewat RQH dan kampus-kampus.

Dewan Murabbi diharapkan melahirkan militansi dan mobilitas kader. Militansi kader melahirkan mobilitas kader, mobilitas kader melahirkan lompatan-lompatan.

Dalam setiap aktivitas, akhlak baik kader perlu ditonjolkan.

Kampus-kampus harus melahirkan RQH. Insya Allah ke depan RQH mencerahkan dunia. Dengan Al-Qur’an, peradaban Badawi Arab bertransformasi menjadi satu kekuatan alternatif.

Dengan mindset iman, mindset Alquran, tidak ada yang mustahil insya Allah. Teruslah berdoa, luruskan niat, kuatkan ikhtiar, kuatkan doa lagi, cari alternatif ikhtiar lagi, lalu tawakkal.

Hindari mengumpat situasi dan kondisi, rugi bisa dua kali: mengumpat dan tidak menemukan solusi. Isi saja dengan tawakkal dan amal shaleh.

Wallahu a’lam.(*)

*) Disarikan dari Taushiyah
dalam Halaqah Kubro Hidayatullah DIY Jateng Bagsel di Menara Qur’an Hidayatullah Karanganyar, 2 Februari 2023

Rakerda DPD Hidayatullah Takalar Tetapkan Fokus Program 2023 Pengembangan Pendidikan Qur’an dan Bangun Mesjid

0

TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Takalar menggelar rapat kerja daerah Selasa (31/01/2023).

Rakerda kali ini untuk pertama kalinya digelar secara mandiri di Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Takalar. Sebelumnya dilakukan secara gabungan bersama DPD Hidayatullah Jeneponto dan Gowa.

Ketua DPD Hidayatullah Takalar, ust Arham Baharuddin Jabbar menyampaikan sebagaimana tagline DPW Hidayatullah Sulsel dari rakerwil “Unggul pendidikannya, mandiri kadernya, maju organisasinya”, maka DPD Hidayatullah Takalar bertekad untuk fokus pada pengembangan pendidikan Qur’an.

“Program-program DPD Takalar pada 2023 ini memberikan porsi besar kepada pendidikan Quran, ” tuturnya.

DPD Takalat kembali akan membuka Rumah Tahfizul Qur’an sekaligus DPC baru sebagi wujud dari mainstream gerakan yaitu tarbiyyah dan dakwah.

Ia juga menyampaikan bahwa ada satu program besar sedang berjalan yaitu pembangunan masjid yang ditargetkan bisa selesai dan dimanfaatkan di bulan Ramadhan tahun ini.

“Ayo kita sama-sama mengambil kebaikan dalam program pembangunan mesjid ini,” anaknya. (Mansur)

*) Bagi anda yang ingin terlibat membantu pembangunan mesjid Santri Tahfidz Ahlul Jannah Takalar, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar