Beranda blog Halaman 75

Washatiyah Solusi Problematika Umat

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Tidak ekstrim, tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan sesuatu yang penting. Penuh kelemah-lembutan, penuh kesabaran, dan yakin pada Allah akan berhasil. Itulah pesona karakteristik dari akhlaq dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Hal tersebut tergambar dari kisah yang sangat bermakna antara perangai tak senonoh dari seorang Arab Badui dengan sikap washatiyahnya Rasulullah SAW

“Pada zaman Rasulullah, ada seorang A’raby (Arab Badui) yang datang ke masjid lalu buang air kecil di hadapan para sahabat. Saat itu, para sahabat marah, tapi dicegah Rasulullah,”

“Rasulullah membiarkan orang itu buang air hingga selesai. Setelah itu, A’raby itu dipanggil dan diberi nasihat bahwa tempat ini adalah rumah Allah, tempat yang suci sehingga tidak boleh buang najis,” lanjutnya.

Bukannya dimarahi, kata Syekh Shaleh, Arab Badui itu justru diberi nasihat dengan baik oleh Rasulullah. Semantara para sahabat yang melihat diminta untuk membersihkan tempat yang terkena najis dengan air hingga suci kembali.

Mendengar nasihat Rasulullah, Arab Baui itu lalu berdoa. Dia memohon agar Allah memberikan rahmat kepada dirinya dan Nabi Muhammad SAW.

Kisah tersebut diceramahkan oleh Imam Masjidil Haram Syekh Shaleh Abdullah bin Humaid di Masjid Istiqlal, 4 Mei 2018 (laman Kemenag RI)

Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah, bahwa Idealnya hukum Islam dibuat untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban, yang diwujudkan ketika dilaksanakan dengan konsekwen. Namun dengan prinsip washatitayah, memberikan keringanan kepada umat Muhammad dalam pelaksanaannya.

Dalam kondisi normal, seseorang dituntut melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Namun dalam keadaan tertentu seperti disaat jatuh sakit dan bepergian, Islam memberikan rukhsah (رخُص). yaitu keringanan dan kemudahan dalam menunaikan ibadah karena sebab tertentu

Washatiyah Proporsional

Prinsip hidup ber-washatitayah sangat mulia dan solusi dalam menyelesaikan problematika umat saat ini. Dapat menjadi penengah antara sikap ekstrim yang berlebih-lebihan dalam memaknai dan menjalankan ajaran Islam dengan sikap meremehkan dan bermalas-malasan.

Semangat gerakan washatiyah seperti yang berkembang saat ini, tidak hanya sebagai ‘alat peredam’ terhadap pemahaman ekstrim. Dari semangat ber-Islam berlebihan disegelintir umat, menjadi gerakan tarbiyah dan dakwah. Sebagai upaya untuk mengembaliki pemahaman Islam yang benar dan tepat.

Alangkah indahnya cara berpikir kita tentang makna washatiyah, ketika kita memahami dengan benar apa arti washatiyah itu. Seperti pada surah al-Baqarah [2] ayat 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

Arti washatiyah pada ayat di atas antara lain berarti “adil, ahyar (pillihan)” [Tafsir al-Qurtubi)2/144) dan “pillihan dan yang terbaik” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/455).

Oleh karenanya, hendaknya kita tidak memahaman arti washatiyah secara serampangan, yang membuat jauh dari makna yang sebenarnya.

Berdasarkan pengertian washatiyahdi atas pula, menunjukkan bahwa ber-Islam secara washatiyah bermakna dia berlaku ‘adil’ dalam memposisikan dirinya sebagai muslim.

Yang secara optimal memiliki sifat tunduk dan taat pada Allah, serta menjalankan sunnah Nabi dengan penuh semangat. Tentulah dalam batas kewajaran dan kemampuan seseorang.

Bersikap washatiyah yang proporsional, mengantarkan seseorang menjadi hamba ‘pilihan dan pilihan terbaik’ (ishthafai na min ‘ibaadina). Memilih jalan pertengahan, yakni hamba yang senantiasa penuh semangat beribadah namun tidak berlebih-lebihan melakukannya.

Washatiyah sebagai Jatidiri

Sebagaimana uraian sebelumnya yang memaknai washatiyah sebagai sikap pertengahan, adil dan pilihan terbaik atau mulia. Maka kita bisa mendapat makna.mendalam bahwa inilah pola hidup yang ‘berkeseimbangan’ baik secara fikro maupun mentalitas.

Orang yang memiliki hidup yang berkeseimbangan (aquanimous).adalah tidak mudah puas diri, sombong ketika mendapatkan kesuksesan dan kesenangan. Dan juga tidak mudah tertekan dan prustasi ketika mendapatkan kesusahan ataupun kegagalan.

Prinsip hidup berkeseimbangan dapat juga difahami sebagai gambaran hidup berpasang-pasangan. Prinsip ini sangat pentng dan mendasar dalam karakter pribadi muslim. Karena Allah sendiri telah menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Allah berfirman:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).(Adz+Dzariyat:49)

Atas prinsip washatiyah inilah yang oleh Hidayatullah sebagai Badan Perkumpulan, dijadikannya washatiyah sebagai ‘Jati Diri’ umat Islam. Jati diri !dengan program mainstream tarbiyah dan dakwah yang dijalankan selama in

Sebuah pemahaman bahwa ber-Islam dengan prinsip washatiyah adalah pola hidup ber-Islam yang paling tepat. Baik dalam pembinaan fikro, sikap mental dan keseimbangan hidup pribadi muslim ataupun sebagai prinsip hidup sosial ditengah kemajemukan masyarakat. dalam berbangsa dan beragama.

Hidup berkeseimbangan dari pemaknaan washatiyah, juga adalah solusi tepat yang dapat diterapkan dalam memecahkan problematika umat dan bangsa. Problem solving yang tepat, mempersamakan kesenjangan pola pandang, persepsi menjadi hidup yang berkeadilan.

Lebih dari itu ber-Islam dengan prinsip washatiyah adalah bentuk penapaktilasan pada perjalanan Rasulullah dan sahabatnya sebagai kurin (zaman) terbaik dalam gerakan tarbiyah dan dakwah.

Washatiyah dijadikan sebagai Jati Diri adalah sebuah upaya maksimal menjalankan sunnah Rasulullah dalam berdakwah. Menuju terbangunnya Peradaban Islam dalam kehidupan kita, mulai dari rumah tangga, lingkungan masyarakat hingga dilehidupan berbangsa dan beragama.

Wallahu A’lam Bishshowaf. (*)

Pengurus Masjid Ar Rasyif Kodim Tator Kunjungi RQH Murad Husain dan Apresiasi Perjuangan Dai Hidayatullah

0

TORUT, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Masjid  Ar Rahman Ar Rasyif Kodim 1414 Tanah Toraja mengunjungi Rumah Quran Hidayatullah (RQH) Murad Husain, Toraja Utara (Torut), Sabtu (11/11/2023)

Kunjungan tersebut dipimpin Ustadz Muhammad Agus  bersama istri dan beberapa orangtua/walisantri TPA Tahfiz Al Furqon Kodim 1414 Tator. TPA Al Furqon merupakaan binaan Pengurus RQ Hidayatullah Torut.

Silaturahim tersebut juga untuk melihat kondisi Ketua DPD Hidayatullah Torut Ustad Ikhsan pasca mengalami musibah kecelakaan beberapa waktu lalu.

Ustdz Agus yang juga imam masjid Kodim ini menasehatkan pentingnya kesabaran dalam perjuangan dakwah. Ia juga mengapresiasi perjuangan dakwah para dai Hidayatullah khususnya di Toraja.

“Ust Ikhsan setiap hari pulang pergi mengajar anak-anak dari Sa’dan ke masjid Kodim di Rantepao. Itu jarak yang jauh bagi kami, luar biasa kesabaran para dai Hidayatullah,” ujarnya.

Ustad Ikhsan menjelaskan berjuang dalam dakwah memang butuh pengorbanan baik itu fisik atau pun materi, hal ini telah dibuktikan oleh para kader perintis awal dakwah Hidayatullah.

“Kader perintis awal Hidayatullah dikirim berdakwah ke berbagai penjuru Nusantara tanpa dibekali apa-apa tapi hasilnya bisa sukses merintis pendirian pesantren di tempat tugas mereka hanya dgn modal niat Lillahi taala,” tuturnya.(rls/*)

*) Kami mengajak ummat yang ingin membantu program dakwah Hidayatullah Torut melalui BRI rek 4941 01 033538 53 7 DPD Hidayatullah Toraja Utara

Yayasan Pesantren Hidayatullah Belopa Gelar Raker. Pembina Ingatkan Sikap Bijaksana

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Dengan mengusung tema, “Penguatan SDM, Peningkatan Mutu dan Integrasi Program Menuju Terwujudnya Yayasan Al-Jihad yang Kompetitif”, Yayasan Al-Jihad Pesantren Hidayatullah Belopa menggelar Rapat Kerja 2023 (Raker) di Pesantren Hidayatullah Belopa, Senin (13/2/2023).

Ketua Yayasan Al-Jihad Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan SPd, dalam sambutannya penekanan kepada seluruh pengurus yayasan, serta kepada seluruh santri yang hadir agar tidak melupakan Allah di setiap urusan yang dihadapi.

“Kita jangan lupa melibatkan Allah dalam amanah-amanah yang kita emban. Amanah itu tentu di dalamnya ada tekanan. Ibarat sebuah per, jika semakin ditekan, maka lompatannya juga menjadi lebih tinggi. Begitulah seharusnya kita. Tidak mudah melempem hanya karena tekanan. Tetapi, justru bisa melejit dengan tekanan itu,” katanya.

Seluruh Badan Pembina pesantren hadir saat pembukaan Raker tersebut. Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Armin Karim SHI, memberikan nasihat mengenai perlunya berlaku bijaksana.

“Kecerdasan kita ini masih kalah jauh dengan kecerdasan Google. Google itu, hampir semua pertanyaan bisa dia jawab. Akan tetapi, tidak bisa kita mengharapkan Google bisa bijaksana. Itu adalah kemampuan kita sebagai manusia. Kebijaksanaan ini sangat penting saat kita mengemban amanah,” jelas Armin.

Ia juga memberikan motivasi kepada para santri terkait masa depan. Armin berucap bahwa, masa depan yang cerah dan baik merupakan hal yang sangat urgen. Jika saat ini kita tidak disibukkan dengan kebaikan demi kebaikan. Bukan tidak mungkin masa depan kita bisa suram.

“Anak-anakku para santri, masa depan itu perlu dipikirkan. Mau jadi apa di lima tahun mendatang? Nah, cerminan masa depan itu ada pada hari ini. Bagaimana kita hari ini, maka di masa mendatang keadaan kita tidak jauh-jauh dengan kondisi kita hari ini,” tutur ustadz yang selalu tampil enerjik tersebut.(Ian Kassa)

Senyummu itu Menular

0

◼️ Oleh : Rusnia, A.Ma, Guru MI Terpadu YAA Bunayya Hidayatullah Makassar

HidayatullahSulsel.com — Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia.

Dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan.(Tuhfatul Ahwadzi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan, baik itu ucapan maupun perbuatan.

Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik)

Senyuman sebagai seorang pendidik atau guru yang mereka berikan tak hanya baik untuk kesehatan baginya bahkan sebenarnya juga dapat membuat orang di sekitarnya merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah, serta mencerahkan suasana.

Bagian otak yang bertugas dalam mengontrol ekspresi wajah merupakan bagian dari area respons otomatis tak sadar. Itulah sebabnya, kita seringkali tak sadar saat ikut tersenyum saat melihat seseorang tersenyum.

Tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim telah diajarkan oleh Nabi kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria “ HR Muslim

Berkut ini beberapa kiat sederhana bagi pendidik dan orangtua untuk bisa membiasakan melakukan ‘senyum’.

Pertama, Mulailah melakukan senyuman yang tulus kepada anak dan anak didik tanpa harus mengingat kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu

Kedua, Ketahuilah bahwasannya senyum itu cerminan kebersihan hati. Hati yang bersih bebas dari penyakit jiwa, seperti syirik, sombong dan ujub.

Ketiga, Niatkan sebagai ibadah lillahi Ta’ala

Keempat, Membahagiakan orang lain terhitung pahala.

Inilah empat kiat sederhana buat para pendidik. Mudah diamalkan manfaatnya luarbaisa.(*)

Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Laksanakan Dauroh Tahsin Al Qur’an

0

TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — Untuk meningkatkan kualitas bacaan dan hafalan santri, Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar mengadakan dauroh Tahsin Al- Qur’an, Ahad (5/2/2023)

Ketua Yayasan Pondok tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar menyampaikan dauroh ini diadakan dalam rangka untuk memperkenalkan kepada santri cara membaca al Qur’an yang baik dan benar.

“Dauroh ini diadakan sebagai langkah awal untuk memperkenalkan bagaiman cara membaca al-qur’an yang baik dan benar, bahwa ternyata membaca al Qur’an itu memiliki hukum-hukum yang harus di ketahui dan diikuti,” katanya.

Sementara itu ketua PPTQ Pondok tahfidz Ahlul Jannah Takalar menyampaikan bahwa kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk ikhtiar sebagai wujud kepedulian dan keseriusan untuk mengurus al-qur’an

“Semoga segala ikhtiar dan mujahadah ini menjadi Hujjah dihadapan Allah bahwa Menghafal Alquran tdk sekedar menghafal tanpa ilmu, namun harus terus diikuti dengan kemauan untuk menuntut ilmu. Al Quran adalah pintu segala kebaikan dan perubahan hidup dan kehidupan yang diliputi kemuliaan Insya Allah, ” ungkapnya.

Daurah tersebut menghadirkan Ustadz Syahril Spd sebagai pemateri, yang juga merupakan salah seorang pemengang sanad qiro’ah matan al jazariyyah, juga sebagai lulusan terbaik sekolah Da’i ma’had Aly Hidayatullah Bogor.

Rapat Muhafidz

Pondok tahfidz Ahlul Jannah juga melaksanakan rapat muhafidz, akhir pekan lalu, untuk membahas target-target kegiatan yang akan dijalankan dan dicapai pada 2023 di aula pondok tahfidz Ahlul Jannah Takalar.

Ketua Yayasan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah, Ustadz Arham, menyampaikan untuk bisa mendapatkan pencapaian yang baik maka harus dimulai dari perencanaan yang baik pula.

Ketua dDevisi Tahfidz Pondok Tahfidz Ahlul Jannah, Ummi Yanti, memaparkan rapat membahas rencana, Program kerja PPTQ tahun ajaran 2023, Pembuatan silabus pencapaian hafalan, pelaksanaan perangkat tahfidz dan yang terakhir adalah monitoring Muhafidz. (mansyur)
______________________
Saat ini DPD Hidayatullah Takalar sedang membangun masjid untuk pondok tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar,
Bagi Anda yang ingin terlibat membantu pembangunan mesjid Santri Tahfidz Ahlul Jannah Takalar, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar

Ustadz Ihsan Wahyuddin dan Berseminya Tarbiyah Dakwah Hidayatullah di Pangkep

0

• Jejak Perintisan Tarbiyah dan dan Dakwah Hidayatullah Pangkep (3)

HidayatullahSulsel.com — Berikut penuturan Ust Ihsan Wahyuddin kala memulai perjuangan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di Pangkep :

Semenjak menerima SK (Surat Keputusan) penugasan sebagai pengurus DPD Hidayatullah Pangkep, pada beberapa tahun lalu, kami langsung tancap gas. Tak ada kata tunggu dan nanti. Target kami satu, mendapat tanah wakaf untuk mendirikan pesantren sebagai pusat gerakan.

Sebelumnya, telah ada tiga dai yang dikirim ditugaskan ke Pangkep untuk merintis mendirikan Pesantren Hidayatullah di Pangkep namun qadarullah belum mendapatkan tanah wakaf yang layak untuk membangun kampus.

Oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel saat Ust Ir Abdul Majid MA, kami juga diminta membuat pengajian di Sekretriat DPD Hidayatullah Pangkep yang ditinggali di daerah Minasatene.

Alhamdulillah, berkat kolaborasi Ustadz Ir H Abdul Majid MA dan tentu usaha dan do’a dari para asatidz, akhirnya pintu langit terbuka di masa amanah kami.

Allah SWT menghadirkan hambanya yang bernama H. Yusuf untuk menyerahkan beberapa hektak tanahnya. Beliau memang telah berniat mewakafkan tanah tersebut kepada lembaga Islam agar bisa termanfaatkan untuk kemaslahatan ummat

Setelah tanah wakaf tersebut diserahkan, kamipun selalu berkoordinasi dengan Ustadz Sumariadi selaku Sekertaris DPW Hidayatullah Sulsel saat itu.

Hingga akhirnya dimulailah proses awal menjadikan lahan tersebut sebagai kampus Hidayatullah Pangkep.(*)

Renovasi Masjid,  Puluhan Santri Hidayatullah Parepare Libatkan Diri Kerja Bakti

0

HidayatullahSulsel.com — Puluhan santri Ponpes Arrisalah Hidayatullah Parepare terlibat kerja bakti melakukan pengecoran plat kanopi Masjid Al Mubarak. Bidang kerja seluas 6 M x 3 M tersebut merupakan bagian dari program renovasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH).(12/2/2023).


Pengecoran ini juga diikuti oleh beberapa dosen Universitas Parepare, Ketua Yayasan Arrisalah, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel dan warga setempat. Antusiasme santri sudah terlihat sejak usai sholat subuh. Mereka berbagi peran mengikuti intruksi tukang senior yang mengatur pekerjaan tersebut. 

Proses pengadukan material  semen, air, pasir, dan batu coral dilakukan secara bertahap. Setelah bahan tercampur giliran santri yang lain membawa secara estafet campuran tersebut beralih dari satu tangan ke tangan yang lain hingga ke atas bidang pengecoran.

Masjid yang beralamat di Jl Sakinah, Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat,  Kota Parepare, tersebut menjadi lokasi beribadah bagi warga sekitar dan santri yang mengikuti pendidikan di tempat tersebut.

Saat ini jumlah santri ada 118 orang dari tingkat Taman Kanak kanak sehingga Sekolah Menengah Atas.

Ketua Gerai Laznas BMH Parepare, Ahmad Rizky yang terlibat kerja bakti menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak atas bantuan pada proses renovasi Masjid. “Beberapa bagian pekerjaan lanjukan yang akan di eksekusi adalah pagar pengaman, jendela/pintu hingga nama masjid dari bahan stainles,” ujar Rizky.

Adapun estimasi anggaran yang di perlukan senilai Rp 50 juta. Donasi bantuan dapat salurkan melalui Kantor Laznas BMH  Jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BSI: 1000258225.(bas)

Menulis Itu Jihad

0

Oleh: Ust Sarmadani Karani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap

HidayatullahSulsel.com — “Menulis itu Jihad,” begitu kata Dr Adian Husaini MA. Hari ini, aku termotivasi menulis lagi, tersebut oleh nasehat yang provokatif dari H Firmansyah Lafiri, seorang jurnalis sana sini, yang dengan semangatnya selalu berapi-api. Membuat hati dan jiwa jurnalis ini bangkit kembali.

Malam itu, (30/1/2023) dinginnya AC menusukku dari belakang, di ruang meeting Yayasan Al Bayan, Hidayatullah Makassar. Membuat merasa tersesat di jalan yang benar. Tidak mendaftar, tidak diundang, tapi ikut hadir membersamai diskusi pendidikan dengan judul, Dialog dan Pengembangan Pendidikan Islam, yang digelar STAI Al Bayan, Hidayatullah Makassar.

Diskusi terbatas malam itu, menghadirkan pemateri tunggal, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr Adian Husaini MA. Beliau juga seorang pakar pendidikan dan pemikiran Islam.

Ada satu kalimat, yang membuat saya tercengang. Ungkapan beliau kurang lebih begini; “Keberhasilan pendidikan kita, jika berhasil mencetak manusia-manusia mujahid”.

Dr Adian menegaskan bahwa pendidikan Islam itu tujuan utamanya melahirkan para mujahid, kader-kader perjuangan Islam. Bukan mencetak mesin, orang yang hanya mencari pekerjaan dan dengan gaji yang besar.

Menurut beliau, ada skill yang harus dimiliki oleh seorang alumni pesantren; menulis dan komunikasi. Inilah bekal seorang mujahid. Agar mereka mampu “berjihad” di tengah ummat di era komunikasi digital yang sedemikian berkembang saat ini. Membutuhkan para mujahid untuk tampil ke gelanggang (media dan media sosial) dengan senjata pena (tulisan dan konten lainnya).

Nah, disini dia masuknya. Saya jadi bersemangat karena menulis itu bagian dari jihad. Menulis itu Jihad.

Saya mau garis bawahi kata JIHAD. Kata yang bagi orang pergerakan, aktivis sekarang ini, mereka tidak percaya diri menggunakannya dan tidak berani mengeluarkan kata JIHAD itu secara langsung. Pasca perluasan makna teroris, yang melebar ke ummat Islam, juga kesalahan pahaman istilah radikal, yang kemudian mereduksi dan mengurangi kata JIHAD untuk diulang-ulangi.

Banyak kita, alergi lagi menyebut kata JIHAD. Meski demikian, kebanyakan aktivis Islam yang memang tiarap, menggantinya dengan kata perjuangan, dakwah, dan lainnya. Yang lebih halus, karena khawatir, karena kondisi rezim, sehingga kita dianggap juga teroris.

Dulu dan sekarang, apalagi malam itu, saya termasuk orang yang bersemangat lagi, karena beliau, Dr Adian Husaini, menggabungkan dua kata kerja malam itu, yakni menulis dan jihad, dalam satu kalimat, yang kemudian melahirkan sebuah konklusi, bahwa “Menulis itu Jihad.”

Masuknya kata JIHAD dalam menulis ternyata memang adalah sebuah peperangan yang telah berlangsung lama. Perang akhir zaman, perang pemikiran (ghowzl fikr), perang idiologi perang antara Islam dan Kafir. Dan perang ini harus dilawan dengan pemikiran pula, dengan menulis.

Kata jihad berasal dari bahasa Arab yaitu aljihad, yang berarti ‘perjuangan’.

Jihad, secara definisi punya dua makna, jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan.

Makna jihad yang kedua ialah berperang membela agama Allah dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga.

Perang, atau JIHAD secara langsung, mungkin tidak seperti jaman dahulu lagi. Perang yang terjadi sekarang adalah perang yang menyerang seluruh dimensi kehidupan ummat Islam.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat:15)

Kewajiban jihad ini, tidak bisa lepas dari tanggung jawab kita sebagai seorang muslim. Sebagai orang yang beriman yang sesungguhnya, jihad menjadi bagian dari kehidupan kita.

Karena di tengah kondisi kekinian, yang tidak ada perang secara fisik. Tapi perang pemikiran, perang ideologi, yang harus dilawan dengan menulis. Maka menulis itu Jihad. Masihkah lalai kah kita untuk menulis? (*)

Berlebih-lebihan yang Menyusahkan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Allah ta’ala dalam firmanNya
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [Al Baqarah:185].

Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya mudah difahami, mudah dilaksanakan, hingga mudah pula digapai tujuannya, yakni mendapatkan ridho dan diridhohi oleh Allah SWT.

Islam diturunkan untuk menuntun manusia kepada jalan keselamatan. Menyelamatkan dari kegelapan kepada cahaya Ilahi (minadhzulumati ilannuur).

Dalam aplikasinya, Islam adalah agama yang sangat manusiawi, kandungan ajarannya tetap up to date disepanjang zaman. Karena bisa sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman. Sehingga Islam bisa dengan mudah dianut oleh semua manusia dan semua bangsa.

Sesuai dengan pemahaman konprehensif dari ajaran Islam yaitu ‘kaafatan linnas wa Rahmatan lil’alamiin’

Prinsip mempermudah dan tidak mempersulit juga tergambar pada penghargaan terhadap potensi akal yang dimiliki manusia. Dimana tidak boleh ada unsur keterpakasaan pada seseorang dalam menjalankan agama Islam ini “Tidak ada paksaa. dalam agama” (QS.2;256)

Tidak hanya terlarang memaksakan dalam ber-Islam, Rasulullah SAW juga melarang penganutnya berlebih-lebihan dalam menjalankan syariatnya. Hatta dalam masalah pengabdian maupun peribadatan kepada Allah Ta’ala dan menjalankan sunnah oleh kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Berikut ini adalah hadist yang mengkisahkan larangan Rasulullah SAW terhadap sikap berlebih-lebihan dalam mengikuti sunnahnya

Dalam satu hadits riwayat Imam al-Bukhari dikisahkan, “Suatu hari datang tiga orang sahabat ke istri-istri Nabi. Mereka semua penasaran dengan laku ibadah Nabi. Sebagai orang yang tinggal serumah, istri Nabi tentu lebih tahu detail aktivitas Nabi, termasuk dalam hal ibadah._

Kunjungan tiga sahabat itu tidak diketahui oleh Rasulullah. Begitu mereka mendengar penjelasan apa dan bagaimana ibadah Nabi, mereka heran, ternyata ibadah Nabi tidak sesuai dengan ekspektasi yang mereka bayangkan. Dalam pandangan mereka, sebagai Nabi yang tentu memiliki tingkat spiritualitas tinggi, ibadahnya pasti luar biasa. Tapi realitasnya tidak demikian.

Mereka pun berkesimpulan, “Wajar Nabi ibadahnya sedikit begitu, ia kan sudah dijamin mendapat ampunan dari Allah. Kalau kita? Ya tetap harus berlomba dalam beribadah. Siapa yang ibadahnya paling hebat, dia lah yang pahalanya terbanyak,” hemat mereka.

Sejurus kemudian, mereka bertekad untuk beribadah dengan lebih melangit lagi. Ada yang berjanji akan melaksanakan shalat malam selamanya. Ada pula yang bersikukuh untuk berpuasa setiap hari. Bahkan, ada juga yang mantap menyatakan untuk membujang seumur hidup demi fokus beribadah.

Tekad ‘konyol’ mereka ini sampai ke telinga Rasulullah. Segeralah Rasulullah menemui mereka. “Apa betul kalian yang berkata demikian?” Nabi mengawali. “Demi Allah, aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Tapi tidak selamanya juga aku shalat malam, tidak setiap hari pula aku berpuasa, dan aku juga tetap menikahi wanita!” Lanjut Nabi,

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukanlah dari bagianku!” tegas Nabi.

Berkaitan hadits di atas, Ibnu Hajar menjelaskan, ibadah yang dilakukan dengan terlalu berambisi, justru bisa menyebabkan rasa bosan. Kalau sudah bosan, semangat ibadah turun. Lain lagi jika ibadah dilakukan dengan sewajarnya (tidak malas-malasan, juga tidak berlebihan), hasilnya adalah ibadah dikerjakan dengan konsisten. Ibnu Hajar, Fatḫul Bârî, juz IX, h. 7). Disadur dari NU.Online.

Hadist tersebut juga secara gamblang Rasulullah SAW menegaskan bahwa bersikap washatiyah meeupakan prinsip amalan dari sunnah Rasul, baik dalam hal ibadah maupun dalam hal menteladani peri kehidupan Rasul.

Tidak berlebihan dalam Sunnah

Ajaran Islam itu diturunkan tidak untuk memaksakan diri hingga berlebih-lebihan dalam melaksanakannya yang di luar batas kewajaran. Bisa jadi berlebih-lebihan itu berakibat mencelakakan dan mendzholimi diri sendiri.

Sekalipun hal itu untuk beribadah sebagai wujud cinta kepada sunnah Rasulullah SAW, tetaplah tidak diperintahkan berlebihan-lebihan.

Termasuk dalam hal ini ketika menyebut-nyebut nama beliau. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukhari, yang disebutkan hadits riwayat Ibnu Umar, Nabi bersabda:
لا تُطْروني كما أَطْرت النصارى ابنَ مريم؛ إنما أنا عبده، فقولوا: عبد الله ورسوله
“Janganlah kamu memujiku sebagaimana orang Nasrani memuji putra Maryam. Aku tidak lain kecuali hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Larangan Bersikap Berlebih-lebihan

Berlebih-lebihan tidak hanya memberatkan dan menyusahkan tapi juga bisa berakibat membosankan Yang biasanya awalnya semangat menggelora dalam beribaidah.lalu bisa menimbulkan kelelahan serta kebosanan.

Yang sebelumnya ahli ibadah menjadi sebaliknya, secara perlahan menurun dan menjauh dlm menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasul.

Oleh karenanya Rasulullah melarang perbuatan ini dalam sabdanya:
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “هلك المُتَنَطِّعون -قالها ثلاثا-“.
[صحيح] – [رواه مسلم]
Abdullah bin Mas’ūd -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)

Istiqomah dan Pertengahan

Kehidupan ini sempurna dan bahagia bila selalu berjalan di atas dasar keseimbangan. Demikian halnya ketika menjadi pribadi muslim, dia adalah pribadi yang bahagia ketika hidupnya berkeseimbangan dan tidak berlebih-lebihan dalam semua hal, termasuk dalam urusan ber-Islam

“Demikian Kami jadikan kamu ummatan wasathan (umat petengahan) supaya kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas perbuatan kamu…” (QS.2:143)

Abu Sa’id mengatakan bahwa yang demikian itu adalah firman-Nya, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil”, al-wasat artinya adil.

Ayat ini sangat sejalan dengan prinsip keseimbangan. Allah SWT memberikan sebuah predikat yang mulia bagi umat muslim, dengan istilah yang sangat indah yaitu ummatan wasathan. Predikat ini dimaknai dengan umat pertengahan, yakni umat terbaik, pilihan, adil dan seimbang dalam kehidupannya

Wahai saudaraku, diantara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu). Walaupun sedikit akan mengungguli amalan lain yang tidak dilaksanakan dengan rutin, meskipun jumlahnya banyak-.

Rutin atau istiqomah lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Dasarnya hadist dari Aisyah radhiyallahu ’anha, Rasulullah mengatakan
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Istiqomah dalam menjalankan perintah Allah dan RasulNya, juga sebagai bentuk keseimbangan kemampuan kita. Menjaga rasa bosan bisa jadi akan muncul.

Amalan sedikit yang rutin, lebih baik dari pada penuh semangat berlebih-lebihan yang dapat menyusahkan. Rasulullah memerintahkan melakukan amalan yang dirintai Allah, sesuai kemampuan dan rutin.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit. (HR.Muslim, no.782)

Waallahu A’lam Bishshowaf.(*)

Bersiap Dakwahkan Quran di Masyarakat, Hidayatullah Takalar Latih Guru Qur’an dan Muhafidz

0

TAKALAR, HidayatullahSulsel.id — DPD Hidayatullah Takalar bersinergi dengan pondok tahfidz Ahlul Jannah, Muslimat Hidayatullah Takalar dan Pemuda Hidayatullah Takalar menggelar pelatihan guru Qur’an dan muhafidz, Ahad (5/2/2023).

Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Ust Arham Baharuddin Jabbar SE menyampaikan kegiatan ini dilaksanakan untuk memfasilitasi para guru dan muhafidz qur’an untuk terus senantiasa mengupgrade diri dan meningkatkan kualitas keilmuannya.

“Pelatihan ini dibutuhkan sebab nanti fokus kita bukan hanya di internal pondok, tetapi kita akan memperluas jangkauan pembelajaran qur’an ini lebih jauh lagi ke tengah-tengah masyarakat, bersinergi dengan amal usaha (pondok tahfidz ahlul jannah) dan orpen (mushida dan pemhida). Insya Allah kita memiliki kekuatan untuk ekspansi dakwah qur’an di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskyaman SPd MPd, sangat mengapresiasi diadakannya pelatihan ini. Menurut beliau kegiatan ini merupakan wujud nyata keseriusan DPD Hidayatullah Takalar untuk memberikan perhatian besar terhadap dakwah qur’an di Takalar.

“Memang kita harus memberikan perhatian yang serius untuk dakwah, dakwah yang efektif itu adalah dengan bil qur’an,” ujarnya yang pada kesempatan tersebut juga sebagai mentor pelatihan.

Pelatihan guru-guru dan muhafidz kali ini adalah dengan metode Grand MBA (gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-qur’an) sistem 8 jam

Metode ini menurut Ust Reskyaman, cukup efektif bagi orang dewasa yang baru belajar qur’an bahkan baru mengenal huruf, insyaallah delapan jam sudah bisa baca qur’an sebagaiman pengalaman pengalaman dalam mengajar metode MBA ini kebeberapa daerah di sulsel.(mansur)

_______________________
Saat ini DPD Hidayatullah Takalar sedang membangun masjid untuk pondok tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar.
Bagi Anda yang ingin terlibat membantu pembangunan mesjid Santri Tahfidz Ahlul Jannah Takalar, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar