Beranda blog Halaman 74

Ustadz Arjun, Senang Dipindahkan ke Pangkep, Tapi Ternyata…

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Setelah kurang lebih empat tahun tugas merintis pondok pesantren Hidayatullah di Kabupaten Kepulauan Selayar, Ust Arjun SE mendapat penugasan melalui Surat Keputusan (SK) baru.

SK tersebut dibacakan via zoom dalam Pra Rakerwil Hidayatullah Sulsel 3 Januari 2023 lalu.

“Mendengar SK tersebut, muncul rasa yang campur aduk sedih karena akan meninggalkan tempat perjuangan yang selama ini telah banyak menyimpan kenangan,” ujar dai muda yang kini diamanahkan sebagai Sekretaris DPD Hidayatullah Pangkep tersebut.

Memori suka dan duka selama bertugas di tempat yang telah memberi pelajaran tentang sabar dalam perjuangan itu akan ditinggalkan.

Di sisi lain, katanya, rasa senang juga ada. “Itu karena dalam pikiran kami, Pangkep lebih dekat dengan Ibukota, Makassar. Jika dari Makassar ke Selayar harus ditempuh dengan jalur laut, ke Pangkep cukup dengan sepeda motor,” tuturnya.

Salah satu yang menguatkan Ust Arjun, dalam mengemban amanah baru tersebut tuturnya, karena nasehat Ust Massiara, pendamping perintisan Hidayatullah Selayar, dalam halaqah rutin.

“Sabar dan sabar kita di Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan ini. Apalagi masih tahap perintisan. Cukup kita melakukan dan mengerjakan apa yang kita bisa, dan selalu berdoa supaya apa yang kita rencanakan dimudahkan Allah SWT,” ujarnya suatu waktu.

Menurut Ustad yang kini menjadi Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat itu, kita di Hidayatullah ini betul-betul dilatih untuk ikhlas dan bersabar.

“Karena suatu saat apa yang kita usahakan di sini akan ditinggalkan. Karena memang kita sebagai kader selalu siap dan sigap untuk menerima SK ke tempat lain, kita berjuang dan berkarya di lembaga ini tidak ada interest (kepentingan) pribadi sama sekali, tapi betul-betul Ikhlas karena Allah,” kutip ust Arjun.

Ust Arjun mengaku selalu siap, siap untuk bertahan ataupun siap untuk pinda kalaupun itu SK nya. Biarlah karya menjadi Amal jariyah dan semoga menjadi penyebab ditempatkan di tempat yang mulia di akhirat, Karena itulah yang kita cari Syurganya Allah.

Perjalanan dari Selayar ke Pangkep membutuhkan waktu kira-kira 2 hari 1 malam. Pertama harus naik kapal menuju Makassar, lalu berlanjut ke Pangkep.

Ust Arjun bercerita, setelah perjalanan mendekati Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep, kami berpikir jalan beraspal mulus ini akan sampai di lokasi pondok Namun, setelah lama menunggu, mobil yang kami tumpangi tak jus berhenti. Justrusana-sini belok ke jalan bebatuan yang berlubang sana-sini.

Selain itu, jalan ini juga rawan longsor, menanjak dan hanya dikelilingi hutan tanpa rumah warga. Karena kondisi demikian, terbersit perasaan takjub atas perjuangan perintis Hidayatullah Pangkep yang luar biasa.

Tinggal di tempat seperti ini tentu harus sabar. Akses yang sulit tersebut tentu membuat pengurus pondok berpikir berkali-kali untuk keluar masuk pondok.

Tetapi MasyaAllah, sesampainya kami di pondok, kami terkesima dengan pemandangan yang indah. Pondok ini dikelilingi gunung. Ditambah lagi puluhan santri-santri yang ceria yang selalu semangat menghafal Al-Quran semakin melengkapi keindahannya.(*)

Tarbiyah Quran, Hidayatullah Maros Libatkan Keluarga Santri

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Maros melibatkan keluarga dan orangtua santri untuk mendinamisasi tarbiyah quran di masyarakat.

Diantaranya, jelas Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar, dengan mendistribusikan quran maupun melibatkan ibu-ibu kompleks perumahan mendidik anak-anak dari buta aksara Alquran.

“Sebagai wujud gerakan dakwah dan tarbiyah Al Qur an ke masyarakat kami terus berbagi Majalah Suara Hidayatullah dan Al Quran,” jelasnya usai menyerahkan Quran kepada seorang orangtua santri dari Takalar di Maros, Rabu (15/2/2023).

Ust Kaisar menjelaskan, DPD Hidayatullah Maros menjalin kemitraan dengan dengan Yayasan Wakaf Al Qur an Suara Hidayatullah dengan program satu juta Al Quran yang akan dibagikan gratis terutama ke daerah yang banyak muallaf seperti Toraja dan Luwu Utara.

“Alhamdulillah Pengurus DPD Hidayatullah Maros kembali mengangkat program wakaf Al Quran paket wakaf dengan donasi Rp 150.000 per mushaf,” ujarnya.

Juga pelibatan ibu-ibu kompleks perumahan seperti dilakukan oleh Rumah Qur’an (RQ) Hidayatullah Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.

Pembina RQ Hidayatullah Marusu, Ust Arsyad menjelaskan pihaknya melibatkan ibu-ibu kompleks guna memperkenalkan Hidayatullah di tengah-tengah masyarakat. Gerakan ini direspon dengan baik oleh sejumlah ibu-ibu di kompleks Griya Sinar Cendana.

“Bahkan mereka menawarkan diri untuk menjadi tenaga pengajar, tanpa ada imbalan sedikitpun,” tuturnya. Ini menunjukkan kehadiran Hidayatullah di Kecamatan Marusu mendapatkan respon yang baik oleh masyarakat, juga pemerintah setempat.

“Kami sangat senang bisa menjadi bagian dari gerakan dakwah yang dicanangkan Hidayatullah melalui RQnya,” tutur ibu Rahmawati salah satu tenaga pengajar.

Hal yang sama juga disampaikan oleh ketua RT 06 Desa Temappaduae Agus Mudjah ia mengatakan sangat suport atas hadirnya RQH di wilayah yang beliau pimpin.(rls/*)

*) Bagi yang ingin berwakaf Al Qur an bisa menghubungi : Ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros

Memposisikan Kebutuhan Mendasar Manusia

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Manusia adalah makhluk sosial dan makhluk berakal yang memiliki kebutuhan. Berdasarkan kebutuhannyalah menentukan prilaku dalam kehidupannya

Kebutuhan manusia secara umum bersifat obyektif dalam arti setiap manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama dalam kehidupannya.

Pemahaman akan kebutuhannya tergantung cara pandang dalam memaknai terhadap hakekat kehidupan ini. Lahirlah berbagai macam teori tentang kebutuhan dasar manusia.

Teori Kebutuhan

Berbagai teori yang muncul tentang kebutuhan, yang masyhur adalah teori hirarki atau yang lebih dikenal dengan teori Maslow, yang dibuat oleh Abraham Maslow.

Konsep teori ini berawal dari pengamatan terhadap perilaku monyet yang dilakukan. Abraham Maslow. Dia berkesimpulan bahwa beberapa kebutuhan lebih diutamakan dicapai terlebih dahulu oleh seorang individu daripada kebutuhan lainnya

Menurut Maslow, kebutuhan tingkat dasar yang pertama adalah fisiolagi. Kebutuhan ini haruslah terlebih dahulu ada agar manusia dapat bertahan hidup dan melangkah ke tingkat kebutuhan selanjutnya.

Kebutuhan fisiologi ini berupa oksigen, air, makanan, suhu tubuh yang normal, tidur, homeostasis, kebutuhan seksual, dan lain semacamnya.

Karena kebutuhannya yang saling berhubungan dan bertingkat dari bawah ke atas maka teori ini dinamakan juga dengan teori hirarki.

Selain fisiologi sebagai kebutuhan paling dasar, kebutuhan tingkat di atasnya adalah, rasa aman, sosial, penghargaan dan paling teratas adalah aktualisi diri.

Berdasarkan teori ini dapat disimpulkan banyak proses penelitian yang melahirkan teori ini menggunakan obyek percobaan pada monyet (selain manusia).

Merupakan pemahaman akan persamaan kebutuhan manusia dengan selainnya, seperti binatang, diantaranya monyet. Yang mendudukkan kebutuhan paling esensial mahluk hidup adalah fisiologi, baik monyet sebagai hewan ataupun manusia.

Dengan teori ini melahirkan pemahaman umum, bahwa pemenuhan manusia yang paling mendasar dan pertama fisiologi. Inilah Yang mempengaruhi pola pikir manusia akhir-akhir ini.

Nampaklah manusia saat ini, kalau yang dicari, dikejar dan digenggam erat-erat kalau sudah dimiliki. Cara memperoleh dan cara memilikinya terkadang tanpa perlu mempertimbangkan persoalan moral, etika dan keadilan.

Lihatlah bagaimana monyet atau binatang lain yang instingnya hanya memikirkan bagaimana cara tumbuh berkembag, bisa hidup dan mempertahankan hidup. Siapa yang kuat dan hebat dialah ‘raja’ diantara yang lain di lingkungan kehidupannya.

Ketika standar kebutuhan mahluk hidup umumnya sebagai juga sebagai ukuran standar pemenuhan kebutuhan mendasar manusia. Maka manusia boleh jadi akan sifat memiliki sifat hewani.

Hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan hewani, itulah nafsu. Dan Nafsu atau keinginanlah yang menjadi motivasi memenuhi kebutuhan.

Nafsu yang dikendalikan oleh sifat hewani pun cendrung berbuat sesukanya dan memperturutkan keinginannya. Hngga keinginannya dipertuhankannya.

Hewan kadang lebih mulia dari manusia. Hewan sebatas pemenuhan kebutuhan hidup serta bertahan hidup saat itu. Manusia tidak, dia bisa mengambil dan memiliki lebih dari sekedar hidupnya.

Hewan kalau merusak, sebatas di mana dia bisa hidup dan mempertahankan hidup dalan jangkaun terbatas.

Lain manusia, dia bisa memakan dan memiliki dengan penuh nafsu diluar yang sewajarnya dia makan dan dia miliki. Bahkan manusia pun bisa merusak yang tidak hanya di lingkungannya tapi semua lingkungan dimana semua habitat mahluk dapat hidup normal. Dan dengan tega dan tanpa kepedulian, dia merusaknya.

Orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Inilah yang Allah sindir dalam firmanNya di Surah Al-Furqan[25] : 44

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَۗ اِنْ هُمْ اِلَّا كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا

Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.

Mengendalikan Nafsu

Islam tidak menafihkan akan kebutuhan biologis dan jasmani, yang oleh Maslow diistilahkan kebutuhan fisiologi. Namun ketika kebutuhan itu diperturutkan itulah menjadi nafsu atau keinginan yang tak terkendali.

Nafsu yang tak terkendali disebut nafsu ammara, nafsu yang mengarah kepada kejahatan. Sebagaimana firmanNya

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٥٣﴾

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS.Yusuf:53)

Namun, berdasarkan ayat tersebut, menunjukkan bahwa terdapat dua nafsu diri manusia, yaitu nafsu ammarah dan nafsu di rahmati Allah.

Nafsu ammarah mengarah kepada kejahatan karena diekndali oleh sifat hewani. Sedang nafsu yang dirahmatiNya adalah nafsu mutmamainna.

Nafsu yang karena dikendalikan oleh iman dan dipenuhi oleh cahaya Ilahi, dia mendapatkan ketenangan dan kedamaian pada diri dan lingkungannya.

Ketika nafsu mutmainna sebagai pengendali jalan hidup untuk memenuhi kebutuhan manusia, maka akan mendapatkan Rahmat dan Ridho Ilahi

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

Artinya: Hai jiwa yang tenang.

ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Artinya: Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya

فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى

Artinya: Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

Artinya: Masuklah ke dalam surga-Ku.

Apapun kebutuhan manusia yang dipenuhi dengan dasar nafsu mutmainna akan menjadi tenang, bahkan mendapatkan Ridho dan diridhohNyai Alllah Ta’ala.

Dialah tergolong hamba Allah yang baik dalan hidup dan kehidupannya. Serta baginyanya ganjaran kebahagian jua di akhirat.

Wallahu A’lam bishshawaf. (*)

Ust Yani, 5 Tahun Dihadang Sengketa Lahan

0

Jejak Perintisan Tarbiyah dan Dakwah Hidayatullah di Pangkep (5)

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Tahun 2008 , DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menerbitkan surat penugasan kepada Ust Muhammad Yani, S.PD.I untuk menguatkan barisan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di Kabupaten Pangkep.

“Penugasan oleh Ketua DPW saat itu Drs KH Ahkam Sumadiana MA. Setelah menerima tugas tersebut, kami langsung berkomunikasi dengan Dr Amanudin MA yang telah lebih dulu berada di Pangkep, terkait rumah yang akan kami tinggali nantinya,” tutur Ust Yani.

Kepindahan Ust Yani sekeluarga ke Pangkep tersebut tepatnya pada 9 September 2008. Tepat setahun bertugas di Pangkep, Ust Yani mendapat informasi membahagiakan dari seorang Ustadz, Ustadz Muhammad Sawir Yasin.

Beliau mengabarkan bahwa seorang mantan kepala desa Tabotabo, salah satu desa di Pangkep, bernama Haji Borahima berniat mewakafkan tanahnya untuk mendukung perjuangan Hidayatullah di Pangkep.

Maka kemudian bersama Pimpinan Umum, pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Amaluddin dan pengurus Hidayatullah Pangkep bertemu Haji Borahima (Alm), sang pewakif mewakafkan tanahnya seluas 70 x 100 meter.

Pada lahan yang baru diwakafkan tersebut, Ust Yani memboyong keluarga untuk tinggal di lokasi tersebut, kebetulan terdapat rumah bekas penggilingan padi yang sudah tidak beroperasi kurang lebih 15 tahun lamanya.

Pintu dan bagian rumah dari kayu telah lapuk dimakan usia. “Namun ada saja pertolongan Allah yang kami rasakan. Salah satunya saat terjadi angin topan, rumah yang kami tinggali aman-aman saja. Padahal rumah warga lain dindingnya copot diterbangkan angin,” urainya

Selain beraktivitas di lokasi wakaf tersebut, Ust Yani juga menjualkan majalah Suara Hidayatullah untuk menyambung hidup. Sesekali juga menjajakan herbal di teras masjid besar Bungoro. “Maklum, kami hanya mendapat insentif dari DPW selama 3 bulan awal saja,” ujarnya.

Mendirikan Yayasan

Tidak lama tinggal di Aceh Dange, lalu bermusyawarah dengan Ustadz Massiarah berinisiatif mendirikan yayasan yang berbadan hukum. Yayasan tersebut diberi nama Yayasan Dinul Kamil al Muhajirin, terinspirasi dari nama anak pertama Ust Yani, Muhammad Kamil. Al Muhajirin karena berhijrah dari Luwu Timur ke Pangkep.

Dengan adanya Yayasan ini, kemudian terpikir untuk mendirikan Taman Kanak-kanak atau pendidikan usia dini (PAUD). Namun ternyata, Saudara-saudara (alm) Haji Borahimah tidak sepakat Mereka melarang untuk membangun, karena menurut mereka, tanah tersebut masih terkait urusan warisan. Inilah salah satu alasan mengapa akhirnya perkembangan Hidayatullah Pangkep mandek.

Shingga selama 4,5 tahun tinggal di lokasi tanah wakaf tersebut tidak ada satupun bangunan yang bisa dibangun karena tanah masih wansan.

“Aktivitas kami selama kurang lebih 4,5 tahun, hanya silaturahim atau bersosialisasi mengenalkan Hidayatullah sambil membawa majalah yang saat itu peninggalan dari Ustadz Massiarah dengan kurang lebih 100 orang pelanggan,” kenangnya.

Juga sesekali mengisi khutbah Jum’at ataupun Ramadhan, juga mencetak dan mengedarkan amplop ZISWAF selama bulan Ramadhan sebanyak seribu hingga seribu lima ratus buah.

Selain itu, untuk memperkenalkan Hidayatullah, Ust Yani juga melalui buletin dakwah al Igra. Bulletin tersebut disebar di masjid-masjid daerah kecamatan Pangkajene dan Bungoro.

Setelah kurang lebih 5 tahun di Pangkep, tahun 2013 ust Yani kembali mendapat SK baru. Kali ini dipindahkan ke Hidayatullah Towuti. Luwu Timur dan mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah sekaligus ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Towuti. Adapun kepengurusan Hidayatullah Pangkep dilanjutkan oleh Ustadz Ihsan Wahyudin.(*)

Halaqah Wustha Ali Bin Abi Thalib Bahas 12 Sifat Pemimpin

0

MAKASSAR, HidayatullahSulsel.com — Rumah kediaman Al-Arqam bin Abi Al-Arqam tercatat dalam sejarah merupakan tempat halaqah pertama di masa awal Islam

Halaqah merupakan metode yang dinilai efektif untuk mempererat hubungan sesama muslim karena dalam kegiatan tersebut terjadi proses transformasi keilmuan yang intensif.

Inilah metode pengajaran yang digunakan Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wasallam yang diwarisi thalabul ‘ilm hingga kini.

Halaqah wustha Ali Abi Thalib adalah salah satunya, menyelenggarakan rutinitas halaqah setiap Rabu pagi. Kali ini dilaksanakan di kediaman Akhi Kahar Mudzakkar SSos, Rabu (15/2/2023)

Dalam tausiyah sebagai tuan rumah, akhi Kahar menyampaikan
“Alquran Kariim merupakan panduan utama yang harus dijadikan sahabat sejati dalam mengarungi kehidupan,” ucapnya.

“Kita harus bisa bersahabat dengan Alquran Kariim karena Alquran Kariim adalah mukjizat abadi sepanjang zaman,” kata Kahar.

Sementara Murobbi Halaqah Al Ustadz Ir KH Abdul Majid MA mengurai materi manhaj dari kitab ‘ Kajian Jatidiri Hidayaullah’

Dalam penyampaiannya Ia membahas sifat-sifat utama seorang pemimpin sebagai modal awal untuk mengemban tugas risalah, di antara sifat yang harus dimiliki sang pemimpin

Mulai dari ikhlas, Uswah (Keteladanan), Yakin, Taat pada syariat, Adil dan bijaksana (al adallatu), Lemah lembut dan kasih sayang, Rendah hati (tawaddu’), Jujur (siddiq) dan menempati janji amanah, Sabar dan lapang dada, Sederhana dan Konsisten (Istiqomah).

Melalui sifat-sifat tersebut seluruh perintah dan larangan Qur’an dapat dilaksanakan dengan baik dan benar

KH Abdul Majid juga menegaskan dampak dari kekuatan spiritual yang baik. “Sumbu dari segala urusan adalah kekuatan spiritual kita, kalau spiritual baik maka hubungan dengan keluarga, karyawan, rekan kerja, kerabat, kolega, dan ummat baik ke teman kerja baik.”(Edi Qays)

DPC Belawa Dirikan Rumah Qur an Hidayatullah. Bantuan Politisi PAN Yuliani Paris

0

WAJO, HidayatullahSulsel.com — DPC Hidayatullah Belawa, Wajo, mendirikan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) Belawa dari bantuan program CSR dari PLN.

“Alhamdulillah bantuan ini difasilitasi oleh politisi PAN Anggota DPR RI Andi Yuliani Paris,” jelas Ketua DPC Hidayatullah Belawa Ust Umar Jamudi, Selasa (14/2/2023).

Ketua DPD Hidayatullah Wajo ust Sudirman mengaku bersyukur atas bantuan diperoleh DPD Belawa. “Semoga bisa menjadi amal jariyah. Dan tempat ini akan dimanfaatkan untuk mengajar Quran dengan dibentuk TPA bagi anak dan pembelajaran Quran metode MBA bagi orang dewasa di sekitar masjid,” jelasnya.

Selanjutnya DPD Wajo dan DPC Belawa akan mengikhtiarkan untuk membebaskan tanah di sekitar RQH melalui program wakaf.

“Alhamdulillah banyak yang siap membantu dan akan dimassifkan sosialiasi wakaf pembebasan lahan ini,” ujarnya.(umar jamudi)

Bersemi di Usia Tua,
H Arif Ketua DPD Hidayatullah Soppeng

0

HidayatullahSulsel.com — Rambut boleh putih, jenggot pun putih, tetapi semangatnya tetap “hitam”. Adalah H Arif, Ketua DPD Hidayatullah Soppeng. Lelaki kelahiran Segeri, Pangkep, 14 Februari 57 tahun lalu ini, tetap gigih dalam mengemban tugas-tugas dakwahnya.

Ibaratnya tua-tua keladi. Dalam dunia dakwah, di usia yang semakin tua, H Arif semakin menjadi-jadi. Di usia yang sudah memasuki kepala lima, Haji Arif baru tancap gas dalam urusan dakwah.

Sebelum aktif di dunia dakwah. Haji Arif banyak menggeluti berbagi jenis pekerjaan. Saat ini saja, beliau masih tercatat sebagai anggota IWO, ikatan wartawan online.

Sebelum aktif di dunia dakwah, beliau juga melakukan usaha dagang jual beli mobil bekas. “Alhamdulillah, usaha tersebut lancar” ungkap Pak Haji yang masih beristri satu ini. Selain itu, beliau juga membuka bengkel di depan rumahnya.

Di masa mudanya, alumni Fakultas Pertanian Universitas Al Ghazali Makassar ini juga aktif berdagang ke Pulau Papua. “Saya mengirim pakaian dan juga hasil pertanian ke Papua,” ungkap Haji Arif.

Selain itu, Haji Arif juga pernah terlibat di dunia pendidikan. “Tahun 1992 saya juga pernah mengajar di SMK Pertanian Barru selama lima tahun, ” ungkap Pak Haji.

Meskipun belum bergabung dengan Hidayatullah, saat mengajar di SMK Pertanian tersebut, Haji Arif sudah gencar dengan urudsan dakwah.

“Saat saya mengajar, saya sudah menetapkan syariat yang ketat untuk siswa-siswa saua, khususnya anjuran untuk berhijab, dan larang berboncengan bagi yang bukan muhrim” jelasnya.

Kegiatan dakwahnya di Bumi Latemmamala ini dimulai dengan menghibahkan sebidang tanahnya di Desa Salaonro, Kelurahan Sama Ujung Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, seluas 65 are.

Hibah sebidang tanah, yang lokasi itu berdampingan dengan rumah tinggalnya tersebut, juga menjadi awal perlangkahan sejarah Pondok Tahfidz Ashabul Hikmah. Sejak itu pula (2014), Haji Arif bergabung menjadi da’i Hidayatullah di Kabupaten Soppeng.

Mengawali langkah Hidayatullah di Soppeng (2014), bersama Ustad Irfan Yahya, Haji Arif memulainya dengan membuka TK TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) untuk anak-anak usia SD di sekitar rumahnya.

Irfan Yahya adalah petugas Hidayatullah pertama yang diberi amanah oleh DPW Hidayatullah Sulsel, untuk mendampingi dakwah H.Arif di Soppeng.

Di hari ke hari TK TPA yang dirintis Hidayatullah Soppeng tersebut terus berkembang. Hingga santrinya mencapai seratusan orang. Bahkan tempat untuk TK TPA tidak muat lagi.

Empat tahun kemudian, H. Arif memulai ekspansi gerakannya. Putra kelahiran Segeri, Pagngkep ini, kemudian membuka pondok pesantren Tahfidz Qur’an, yang kemudian diberi nama Pondok Tahfidz Ashabul Himmah.

Dalam waktu 4 tahun, Hidayatullah Soppeng berkembang menjadi dua kampus. Yakni kampus putra dan putri. Kampus awal perintisan Hidayatullah Soppeng, kini menjadi kampus putri. Adapun kampus pondok baru, yang hanya berjarak 300 dari kampus putri, kini menjadi kampus tahifdz putra.

Alhamdulillah, untuk saat ini, sudah ada 265 santri yang belajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Soppeng, baik santri TPA maupun Tahfidz Boarding putri dan putri.

Selamat berjuang Pak Haji, semoga pondok tahfidz nya terus berkembang. (Abu Fathun Mubarak).

Apa Setelah Rakerwil dan Rakerda. Jihad Aktualisasi

0

Oleh : Fatahillah Al Ayubi, Bendahara DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com — Perjalanan jihad dari Maros menuju Ujung Sulawesi Selatan, Luwu Timur, cukup melelahkan. Perjalanan memerlukan pengorbanan tenaga dan harta. Laju “Fortuner langit” melintasi 8 kabupaten kota, membawa ke dermaga cinta yang penuh hikmah di kampus peradaban Islam Hidayatullah Towuti.

Lelah, sakit dan segudang masalah sirna diterpa derasnya ombak semangat. Alhamdulillah kebahagiaan tanpa batas dipertemukan orang hebat dan penuh inspirasi lagi sholeh,

Mereka yang selalu mengedepankan cinta bukan benci, mereka yang memberikan solusi bukan celaan, disatukan dalam gerakan membangun peradaban Islam

Hari demi hari berlalu, segala kegiatan telah terlewati, darah kebaikan terus mengalir membasahi setiap ruang kegiatan, berjibaku dengan amanah keumatan, api jihad amanah yang menjadi kekuatan untuk menuntaskan setiap tanggung jawab dengan penuh totalitas menjadi konsentrasi

Alhamdulillah ini tahun kedua mengikuti kegiatan rakerwil dan rakerda, tentu menjadi bahan pembelajaran, di setiap kegiatan, menjadi bahan bakar untuk melakukan gerakan kebangkitan Islam.

Beberapa hal yang menjadi catatan penting untuk dilakukan perubahan ke depannya, dalam menjalankan ajang tahunan sehingga restorasi ekosistem, dan SDM penyelenggaraan memiliki kekuatan jiwa raga, juga peningkatan ilmu dan iman

Poin utama memastikan peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, memahami apa yang menjadi tujuan rakerwil dan rakerda, melakukan evaluasi dan tes pemahaman peserta, merancang kegiatan lebih inovatif, kreatif dan mengesankan

Ruh spirit rakerwil merupakan pengumpulan energi program dan evaluasi yang tentu akan banyak argumentasi yang memiliki nilai kebaikan yang beragam, misalnya apakah dapat dilaksanakan di benua yang berbeda dari 24 kabupaten kota, dan seperti apa evaluasi terhadap program-program sebelumnya,

sehingga peran dan fungsi rakerwil dan rakerda berdampak positif terhadap lingkungan, masyarakat dan kader,

Tahun kedua adalah tahun tahsin, (berupaya memahami dan mempelajari untuk perbaikan saya), dalam belajar berorganisasi, tentu ini menjadi alasan untuk meningkatkan pemahaman sehingga lahirlah catatan singkat rakerwil ini.

Alhamdulillah, akhirnya konsentrasi hari ini dan seterusnya adalah Jihad melaksanakan seluruh hasil rakerwil dan rakerda, inilah jihad sesungguhnya, capaian gemilang dibutuhkan sang nahkoda cekatan, totalitas gerakan pada hasil musyawarah, dan menjadi bagian penting dalam menjaga, merawat kekuatan pasukan

Tumpuan utama diharapkan enam jatidiri menjadi nafas panjang di setiap gerakan dan individu kader, kader harus mampu memahami dan menerapkan secara disiplin, sehingga akan ada resonansi cahaya kebaikan yang terbit di masyarakat.

27 jam jenderal dan panglima setan, dan kaum iblis akan menjadi lawan utama, agar apa yang menjadi kesepakatan tidak jalan, beragam taktik, strategi distribusikan sehingga hasil rakerwil dan rakerda tidak maksimal bahkan stop.

Maka inilah Jihad yang paling besar hari ini, menuntaskan pekerjaan, menguatkan pasukan, dan mengevaluasi gerakan sebagai wujud perlawanan terhadap kaum setan yang terus menerus melakukan inovasi program yang kreatif bertujuan kita terpesona dan kalah

Ungkapan Imam Ali menjadi sebuah bahan bakar agar darah denyut nadi perjuangan benar-benar diperhatikan
“Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Rute perjalanan Jihad pasti tidak pernah sepi dengan berbagai tantangan, baik dari internal dan eksternal, spirit Al Alaq menjadi nutrisi termantap dan mujarab untuk terus-menerus mampu menghadapi badai ujian

Derasnya godaan setan dapat dibendung dengan implementasi 7 azzimat surah Al Muzammil, kekuatan Al Muzammil menjadi alat berjihad melawan segala bentuk halangan dalam menjalankan program

GNHalaqohMabit menjadi harapan dan cita-cita besar bangsa ini, bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, keindahan non fisik menjadi peran besar terwujud semua yang menjadi harapan kita membangun peradaban islam dengan dua saya gerakan tarbiyah dan dakwah.(*)

Ust Amal, Tanpa SK Tugas Tetap Semangat Rintis Hidayatullah Pangkep

0

• Jejak Perintisan Dakwah dan Tarbiyah di Hidayatullah Pangkep (3)

HidayatullahSulsel.com — Jiwa Hidayatullah senantiasa membara di dada menunaikan amanah meski tanpa Surat Keputusan (SK) dari Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulsel untuk merintis Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Pangkep.

Ketika itu tahun 2003, Ust Amal memulai peran baru di bidang dakwah pendidikan Hidayatullah di Pangkep sembari menjadi guru kontrak.

Menjadi guru kontrak tak menghalangi niat besarnya untuk mendirikan cabang Hidayatullah di Kabupaten Pangkep. “Saya memilih mengajar di SLTP Luar Biasa di Pangkep. Pertimbangannya adalah pihak sekolah SLTP Luar Biasa memberikan izin untuk saya hanya mengajar tiga hari dalam sepekan. Selebihnya tiga hari saya gunakan waktu mengajar di Pesantren Hidayatullah Makassar, tepatnya SMP dan SMA Albayan,” tuturnya.

Begitulah rutinitas yang dilakukan sosok humoris itu. setiap pekannya. Tak kenal hujan dan terik bolak-balik Pangkep-Makassar.

Untuk memperlacar tugas di dua tempat berjauhan tersebut, Ia memberanikan diri membeli motor Honda Lagenda keluaran terbaru waktu itu dengan cara kredit.

Keputusan untuk menyicil motor sesungguhnya sangat berisiko, betapa tidak, gaji sebagai Guru Kontrak hanya Rp 420.000 per bulan, sedangkan angsuran motor tiap bulannya mencapai Rp 440.000 per bulannya.

Itu berarti cicilan motor harus dicarikan tambahan setiap bulannya sebesar Rp 20.000.

Mengharapkan honorarium dari Pesantren Makassar tentu tak cukup karena habis dipakai untuk transportasi dan konsumsi selama tiga hari tiap pekan bolak balik ke Makassar.

Untunglah Sang Istri tercinta memberi dukungan sepenuhnya, baik moril apalagi materi, dengan menyisihkan sedikit gaji bulanannya untuk menutupi kekurangan yang ada.

Antara pendapatan yang terbatas dan pengeluaran wajib yang harus dialokasikan membuat Ust Amal sekeluarga harus menghemat.

“Tentu saja hal itu menjadi biasa bagi kami, karena kehidupan kami sebelumnya di Pesantren Hidayatullah Makassar jauh dari kata cukup. Seingat saya pernah gaji bulanan kami terima hanya Rp75.000 per bulan,” ungkapnya.

Hal yang demikian itu, tentu tak mengherankan bagi pendamping hidup yang telah memberi lima buah hati bagi Ust Amal tersebut.

Betapa tidak, Sang Istri merupakan santri awal di Pesantren Albayan Hidayatullah Makassar yang berstatus sebagai mahasiswa IKIP Ujung Pandang waktu itu.

Amanah beliau adalah Ketua Pondok Mujahidah Tabah Ria. Pondok ini adalah rumah kontrakan yang dibiayai oleh Yayasan Albayan dan sekaligus sebagai tempat menempa mahasiswa menjadi kader Hidayatullah.

Waktu berjalan, untuk memperkenalkan Pesantren Hidayatullah di Pangkep, maka secara rutin dai senior dari Pesantren Hidayatullah Makassar dijadwalkan secara tetap mengisi pengajian ataupun khutbah Jumat di Pangkep. Di antaranya Ust Ir KH Abdul Majid MA maupun Ust Drs KH Ahkam Sumadiana MA.

Juga Ust H Burhanuddin SAg MPd, yang sekarang menjadi Ketua DPD Hidayatullah Bone tak luput diundang mengisi khutbah Jumat di Pangkep, tepatnya di Masjid Nurul Adani.

Masjid ini letaknya di Komplek Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pangkep, yang juga bersebelahan dengan SLTP Luar Biasa tempat Ust Amal mengajar dan sekaligus tempat tinggal keluarganya.

Kehadiran dai senior dari Pesantren Hidayatullah Makassar tentu saja menjadi penambah spirit untuk lebih maksimal memperjuangkan hadirnya cabang Hidayatullah di Kabupaten Pangkep.

Untuk lebih menggencarkan silaturrahim, tak luput lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Pangkajene Kabupaten Pangkep, SMA favorit di Pangkep menjadi mitra silaturrahim dengan mendatangkan dai dari Pesantren Hidayatullah Makassar untuk mengisi khutbah Jumat di masjid yang dibina oleh SMAN 1 Pangkep.

Ust Amal memiliki cerita menarik mengundang tawa terkait hal itu, ketika mengundang dai muda waktu itu, yang sekarang telah menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat Hidayatulah bidang Dakwah dan Pengkaderan, Dr. [Cand] Muhammad Shaleh Utsaimin S.S, M.Kom. Cerita apa kiranya? (*)

Laznas BMH Salurkan Beras bagi Santri Tahfidz di Bone

0

HidayatullahSulsel.com — Menguatkan program tahfidz Al-qur’an yang dilaksanakan oleh mitra implementator program, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan bahan makanan pokok berupa beras.

Beras tersebut disalurkan di tiga titik implementator di Yayasan Ahlussufa Towuti, Yayasan Al-Fath Bone, dan guru Al-Qur’an Masjid Jamaluddin Maros dengan jumlah yang disesuaikan. Beras sebanyak 440 kg itu diperuntukkan bagi 235 santri yang menerimanya.

Syamsuddin, Pengurus Yayasan Al-Fath Watampone menyampaikan rasa terimakasihnya kepada donatur yang telah bersama-sama menguatkan program tahfidz yang dilaksanakan oleh lembaganya, beras yang telah diamanah untuk program tahfidz tersebut insyaallah bernilai kebaikan dan keberkahan.

“Semoga apa yang dimakan oleh adik-adik santri ini menjadi berkah, dan bernilai amal jariah dengan menghadirkan para hufadz Al-Qur’an,” ujar Syamsuddin.

Ketua Gerai Laznas BMH Bone, Ustadz Rusmin menyampaikan rasa gembiranya karena mulai awal tahun 2023 BMH sudah hadir memberi manfaat kepada ummat di Kabupaten Bone, sebagai lembaga zakat yang memiliki pelayanan kemudahan donasi zakat dan infak kepada Muzakki (orang yang berzakat), juga melaksanakan berbagai program keumatan melalaui mitra implementator.

Rusmin menambahkan, kebutuhan beras bagi 150 santri tahfidz mencapai 500 kg per bulan. Bagi masyarakat yang akan memberikan amal jariahnya dapat berkunjung ke kantor Laznas BMH Bone yang beralamat di jalan Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 9, Kel, Matirowalie, Kec, Tanete Riattang Barat Kab. Bone, atau dapat di salurkan melalui Bank BSI: 7019255101, konfirmasi donasi ke Ustadz Rusmin, WA +62 821-9472-6409.(bas)