Oleh : Dr Ir KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah
HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah bisa hadir disini, meskipun itu tidak direncanakan. Inilah wahyu sistem (takdir). Saya masih suka menyebut istilah Wahyu Sistem ini, setidaknya ada rasa-rasanya.
Saya sempatkan untuk bersilaturahmi di tempat ini, tak elok kalau saya lewat dan tidak singgah.
Kader menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang dididik dan disiapkan untuk menjalankan visi dan misi organisasi.
Saat ini, kita harus mendefinisikan organisasi Hidayatullah ini dulu. Kita bukan lagi pesantren. Kita juga sudah berubah, dari orsos ke ormas. Ormas pun tidak terlalu tepat.
Aslinya, Hidayatullah ini organisasi imamah jama’ah yang berharakah jihadiyah dengan manhaj nubuwah Sistematika Wahyu.
Dalam jati diri Hidayatullah, imamah jama’ah ini, murni, orisinil dari Hidayatullah. Imamah Jama’ah ini adalah sebutan saja atau istilah yang dibuat Ustad Abdullah Said.
Dalam Al Qur’an, ada kata imamah dan jama’ah tetapi kata itu terpisah. Tidak ada kata imamah dan jama’ah yang bersambung secara langsung.
Juga dengan istilah Sistematika Wahyu. Istilah ini tidak kita jumpai dalam Al Qur’an, ini murni istilah yang dibuat oleh allahuyarham Ustad Abdullah Said.
Keduanya ini, istilah imamah jama’ah dan SW adalah produk murni istilah dari Abdullah Said. Tapi kemudian, saat ini, istilah tersebut telah kita narasikan, dengan lebih sempurna.
Jati diri Hidayatullah selanjutnya adalah ahlusunah wal jama’ah dan jamaatun minal muslimin. Ini semua juga menjadi jati diri yang istilah ini memang sudah ada sejak dulu dan juga sudah dinarasikan untuk jati diri Hidayatullah.
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.
Juga terkait harta, Ustad Abdullah Said memberikan sebuah ijtihad, dengan tidak ada meninggalkan harta pribadi. Tidak ada warisan yang ditinggalkan untuk putra putrinya, tidak ada kepemilikan beliau secara pribadi. Tapi kemudian, ijtihad ini kita koreksi bahwa harta itu sudah bisa dimiliki oleh jamaah secara pribadi.
Washatiyah, ini adalah jati diri ke enam yang kita masukkan dalam jati diri Hidayatullah. Meskipun ini memang kita harus berhati-hati dalam menerapkannya.
Wasathiyah adalah konsep asli ajaran Islam yang sekarang banyak disalahpahami karena terpengaruh oleh konsep toleransi dan moderasi beragama ala Barat
Yang paling harus diperhatikan seorang kader adalah bagaimana dia bisa memahami manhaj Sistematika Wahyu dan imamah serta menjalankannya.
Kader Hidayatullah adalah seberapa besar ia tersibgah dengan Sistematika Wahyu dan imamah jama’ah, dalam menjalankan beban-beban amanahnya.
Kader Hidayatullah adalah mereka yang mampu memahami dan menerapkan imamah jama’ah dan Sistematika Wahyu ini.
Dua hal ini lah yang menjadi warisan terbesar lembaga Hidayatullah. Tidak perlu ada Hidayatullah jika hanya sekedar menjalankan washatiyah juga Al Harakah Al jihadiyah.
Sistematika Wahyu (SW)itu terbagi dua. Pertama ia sebagai konsepsi. Dan kedua SW sebagai aplikasi atau implementasi. Sebagai konsepsi, adalah narasi yang kita bangun, sebagai hujjah dalam menjadikan SW ini sebagai konsep gerak Hidayatullah.
Kedua, SW sebaga implementasi. Inilah peragaan SW yang sesungguhnya. Bahwa kader itu tidak saja memahami konsep itu, tapi juga bagaimana mengimplementasikannya di lapangan.
Kader Hidayatullah, lebih banyak diproses dalam bentuk implementasi. Bagaimana metode pengikisan togho (kesombongan) itu, melalui TC, melalui amanah-amanah yang diberikan. Sehingga kader-kader terdahulu, tercerahkan dirinya dalam aplikasi Sistematika Wahyu secara langsung.
Tidak ada Sistematika Wahyu tanpa imamah jama’ah. Sistematika Wahyu ini, baru bisa tegak dengan adanya imamah jama’ah yang solid.
Suatu ketika, ada tamu yang bertanya tentang SW kepada Ustad Abdullah Said. Dan singkat nya, tamu itu mau menerapkan konsep Ustad Abdullah Said itu di Bandung. Ustad Abdullah Said bilang begini, “Tidak bisa SW itu berjalan, jika tidak diterapkan di kampus Gunung Tembak ini”.
Artinya, SW itu hanya bjsa dijalankan dengan imamah Jama’ah.
Peran besar bagi seorang kader, adalah bagaimana ia bisa tercerahkan dengan SW dari segi konsep dan implementasinya. Percuma ada kader memahami narasi tentang SW, tapi saat dikirim dia tidak bisa diatur.
Atau kader yang paling jago diskusi tentang SW, tapi saat ditugaskan tidak diterima. Kalau ada yang susah diatur, galantang dulu dia.
Jika Sistematika Wahyu dan imamah jama’ah ini tidak terwariskan dengan baik, maka gedung-gedung, fasilitas sekolah yang ada, hanya akan menjadi barang rongsokan.
Alhamdulillah, ustad Abdullah Said telah mewariskan konsep imamah jama’ah dan SW ini kepada kader-kader terdahulu. Sehingga sepeninggal beliau Hidayatullah ini masih tetap eksis.
Sehingga mutlak bagi seorang kader untuk memahami dan menjalankan secara tuntas SW dan imamah jama’ah ini. Untuk kelangsungan lembaga ini, agar apa yang ada ini tidak menjadi barang rongsokan.(Sarmadani Karani)
*) Disarikan dari tausiyah pada Rakor Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel di Masamba, 19/02/2023.
Percuma jadi Kader Jago Diskusi SW tapi Tidak Taat
Melahirkan Murobbi dan Kader Hidayatullah Sesuai Standard
Oleh : Ir KH Abdul Majid MA, Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Seorang kader tidak hanya sekedar jadi seorang kader, tapi kualitasnya perlu distandarkan.
Seorang kader, ia adalah mujahid peradaban yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Prinsip hidup seorang kader mujahid peradaban adalah sebagaimana firman-Nya:
هُوَ ٱلَّذِی بَعَثَ فِی ٱلۡأُمِّیِّـۧنَ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ
Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al Jumuuah:2)
Prinsip-prinsip hidup mujahid peradaban itu adalah pertama, ia yakin kepada Allah dengan segala eksistensinya, kedua yakin kepada Rasulullah dengan segala misi dakwahnya, ketiga, yakin kepada Al Quran.
Adapun visi seorang mujahid peradaban itu adalah terwujudnya peradaban Islam, yakni keyakinan dan ajaran diwujudkan dan dimenangkan di atas semua agama dan ideologi.
Karena beratnya tugas-tugas organisasi, maka diperlukan sebuah dewan yang bekerja secara khusus untuk mengawal kader-kader Hidayatullah itu. Yakni Dewan Murobbi yang secara khusus dan intens bekerja untuk melakukan kaderisasi.
Dewan Murobbi ini secara khusus bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Umum Hidayatullah. Tugas dewan Murobbi adalah menangani “Supra struktur organisasi” terkait kaderisasi dan ideologisasi kepada kader dan jama’ah.
Pertumbuhan organisasi tanpa diimbangi dengan tarbiyah yang sistemik hanya akan menjadi beban di kemudian hari. Untuk itu menghadirkan sistem pembinaan jama’ah menjadi mutlak.
Membiarkan jama’ah tanpa halaqah, sama halnya dengan membiarkan penyimpangan pada jiwa seorang kader. Halaqah menjadi kontrol spiritual, kualitas dan loyalitas kader.
Untuk menguatkan perkaderan, mutlak adanya murobbi yang kuat. Dibutuhkan profil murobbi yang standar pula. Seorang murobbi harus menjadi Uswah dalam tarbiyah dan dakwah.
Dan kita semua harus berposisi sebagai seorang murobbi, dengan kualitas yang standar, agar kelak, bisa mencetak kader-kader yang standar pula.(Abu Fathun Mubarak)
Pengurus Pemhida Sulsel dan Makassar Kunjungi Pesmadai Pusat
Jakarta, HidayatullahSulsel.com — Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulsel dan PD Pemhida Makassar melakukan kunjungan ke kantor Pesmadai Pusat di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan pada Senin (20/02/2023).
Kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan wawasan serta pengenalan program-program yang dijalankan oleh Pesmadai pusat.
Kedatangan rombongan disambut oleh Direktur Utama Pesmadai Pusat, Ustadz Ahmad Muzakki, Bendahara Umum, Ustadz Rasfiuddin yang juga Ketua PP Pemuda Hidayatullah terpilih, Sekretaris Ustadz Fatih dan beberapa pengurus lainnya.

“Setelah kami berkunjung di Pesmadai pusat, alhamdulillah perasaanya sangat bahagia bisa berinteraksi secara langsung, bertukar pikiran dan mendiskusikan soal pesmadai tentunya,” ujar Rahmat Ghafur Hamran, Ketua PD Pemuda Hidayatullah Makassar
Sementara itu Hanif Mu’tashim, Sekretaris PW Pemuda Hidayatullah Sulsel juga menyampaikan harapannya, semoga Pesmadai Makassar mampu menerapkan sistem yang sudah dijalankan di Pesmadai pusat.
Selain di Makassar, Pesmadai telah hadir di beberapa kota seperti Surabaya, Balikpapan, Kendari, Palu, dan beberapa lokasi di Indonesia.(abid)
Tujuh Adab Terhadap Pemimpin
Oleh : Ir KH Abdul Majid MA, Ketua Dewan Murabi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Adab secara bahasa artinya menerapakan akhlak mulia. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).
Baca Juga: PW Pemuda Hidayatullah Sulsel Raih penghargaan di Munas Pemhida
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا
Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Tirmidzi)
Berikut ini 7 adab kepada Pemimpin ;
1. Percaya (siqah). Kepercayaan merupakan modal utama dan pertama dalam gerakan dakwah. Tanpa kepercayaan anggota kepada pimpinan dan gerakannya, maka sesungguhnya gerakan tersebut tidak punya kekuatan yang berarti.
Baca Juga: Sholat itu Miraj Orang Beriman
2. Mencintai. Dalam sebuah hadits Rasulullah shollahu alaihi wasallam bersabda, artinya : “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka, dan mereka mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan kalianpun membenci mereka. Kalian melaknati mereka dan kalianpun melaknati kalian”.
Ditanyakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian” (HR. Muslim).
3. Menghormatinya (ta’dzim). Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi adab kesopanan dalam pergaulan bermasyarakat.
4. Selalu melapor dan berkonsultasi. Pimpinan dipilih karena ilmu, pemahaman serta kemampuannya yang lebih dibandingkan dengan rata-rata anggota jama’ah.
5. Meminta izin jika berhalangan. Allah Azza wajallah berfirman. Artinya : “ Sesungguhnya yang benar-benar orang mukmin adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (rasulullah) sebelu meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. An-Nur [24]: 62)
6. Memenuhi keperluannya. Telah kita maklumi, bahwa pemimpin mengemban tugas yang tidak ringan.
7. Membela dan melindunginya. Dahulu Para sahabat telah menunjukkan kepada kita tentang kesiapan mereka dalam membela Rasulullah sebagai pemimpin mereka sertam melindungi beliau dari musuh-musuh yang menghendaki kehancuran beliau.
Adab-adab kepada pemimpin seperti di atas, hendaknya dikuatkan oleh siapa saja yang sedang mengemban amanah, sesuai dengan tingkatannya. Dengan menjaga dan menguatkan adab- adab tersebut berarti telah menegakkan pilar-pilar jamaah.(edi Qays)
Halaqah Wustha Ali bin Abu Thalib Ulas Kekuatan Networking Skill
HidayatullahSulsel.com — Halaqah Ali Bin Abu Thalib Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali mengadakan halaqah rutini pekanan, Rabu (22/2/2023) Kemarin
Kegiatan bertempat di kediaman Edi Qays, NHP Biringkanaya. Tuan rumah dalam tausiahnya menyampaikan, kekuatan networking skill dari perspektif surat Al Mudatsir ayat 2
“Networking skill adalah kemampuan untuk menjalin dan mempertahankan hubungan dengan orang-orang yang bergerak di suatu bidang. Saat memiliki networking skill dan memiliki jaringan pertemanan yang luas, maka berkesempatan untuk bertemu para ahli di bidang yang sedang kita tekuni,” jelas Edi
Inilah menurutnya, di antara faedah siroh Nabi, tafsir wahyu kedua, surat Al-Mudattsir
“Awalnya surat ini menerangkan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk terang-terangan dalam berdakwah memberi peringatan (indzar) dalam arti memberi peringatan kepada orang kafir, ahli maksiat, dan orang mujrim (yang penuh dosa) agar takut dengan neraka dan siksa Allah,” rincinya.
Sementara Murobbi K.H Abdul Majid dalam pembahasan kajian jatidiri Hidayatullah mengurai 7 Adab terhadap pemimpin. Simak pembahasannya pada updating news selanjutnya.(edy qays)
SDIT Al Hikmah Bone Outdoor Learning, Pelajari Pembuatan Kapal di Bajoe
Bone, HidayatullahSulsel.com — SDIT Al Hikmah Hidayatullah Bone kembali melaksanakan kegiatan outdoor learning (outing class), Kamis (23/2/2023). Outdoor learning dilaksanakan di Bajoe, tempat pembuatan kapal.
Siswa yang diikutsertakan dalam kegiatan ini terdiri dari siswa kelas 1 dan kelas 4 SD.
Para siswa mengamati proses pembuatan kapal. Siswa kelas 1 diberi tugas menggambar sesuai apa yang diamati. Sedangkan siswa kelas 4 diberi tugas mewawancarai pembuat kapal.
“Untuk membuat satu kapal biasanya memakan waktu sampai 3 bulan. Kapal kami biasa berlayar sampai Papua, biasa juga sampai di Lombok. Kapal ini dipakai untuk mencari telur ikan Layang. Setiap kapal kami didaftarkan dulu namanya baru bisa digunakan,” ujar para pembuat kapal.
Selain melihat pembuatan kapal, para siswa juga melihat warga di sekitar mencari kerang. Bahkan ikut mencari kerang, kepiting, bersama warga.
Kegiatan belajar mengajar tidak hanya dilaksanakan di kelas, namun pengalaman seperti ini lebih merangsangnya pengetahuan siswa,” jelas seorang guru pendamping.
Kegiatan outdoor learning serupa sebelumnya dilaksanakan juga bagi kelas 5 dan 6 pada Senin lalu. Dan kelas 2 dan 3 pun melaksanakan Outdoor learning 2 pekan lalu. Outdoor learning kelas 2,3, 5 dan 6. Dilaksanakan di perpustakaan Daerah Bone.(dwi)
PW Pemuda Hidayatullah Sulsel Raih Penghargaan di Munas Pemhida, Terbaik Kelola Pesmadai
HidayatullahSulsel.com — Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulsel meraih penghargaan di acara pembukaan Musyawarah Nasional Pemuda Hidayatullah ke-8 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Jum’at (19/2/2023).
Penghargaan itu diberikan oleh Ketua PP Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi kepada PW Pemhida Sulsel sebagai apresiasi untuk kategori Pengelolaan Pesmadai Terbaik.
“Alhamdulillah, penghargaan ini adalah tantangan bagi kami Pemhida Sulsel agar lebih kerja keras lagi meningkatkan kualitas dan menjaganya, ” ujar Ketua PW Pemhida Sulsel, Abdurrahman Sibghatullah, Kamis (23/2/2023).
Pada momen Munas Pemuda Hidayatullah ke-8 kali ini, PW Pemhida Sulsel mengirim 5 utusannya diantaranya Abdurrahman Sibghatullah (Ketua Pemhida Sulsel), Hanif Mu’tashim (sekretaris Pemhida Sulsel) Ghafur Hamran (Ketua PD Pemhida Makassar), ketua PD Salman Alfarisi (Ketua PD Pemhida Luwu Timur), dan Ari Rahmat (fungsionaris PD Parepare).
Pesmadai Makassar telah berdiri satu tahun lebih yang diresmikan oleh Al-Ustadz Dr Abdul Aziz Qahhar Muzakkar pada 1 November 2021 di kota Makassar.(rls/fir)
Sholat, Kematian dan Pertemuan dengan Sang Maha Penyayang
Oleh : Fatahillah al Ayubi, Bendahara DPD Hidayatullah Maros
HidayatullahSulsel.com — Menjadi catatan sejarah dunia dan akhirat, tentang buku kehidupan dalam Titian perjalanan di jagad raya ini. Setiap halaman tercatat secara detail apa yang telah dilakukan seseorang, kelak dibuka untuk kita saksikan, sekecil apapun yang telah dilakukan menjadi isi buku yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan yang Maha Menetapkan (Al Hakam)
Memilih rute ini sangat terjal penuh ujian, denyut nadi dan darah perjuangan melalui GNhalaqohMabit merupakan strategi dan bekal terbaik menyongsong kehidupan Akhirat. Tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa letih
Allah berfirman, “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8 “
Peristiwa kematian merupakan nasehat yang sangat nyata bagi setiap insan, cepat atau lambat, suka atau tidak, ketika jadwal panggilan dari Maha Mematikan (Al mumiitu) telah tiba, tak satu apapun yang mampu menahan
Kematian adalah pintu utama untuk bertemu dengan Maha Menghitung segala sesuatu (Al Muhshii), siapa yang tidak senang bertemu dengan Sang Maha Penyayang? Siapa yang tidak bahagia dipanggil oleh sang Maha Kasih ? Hanya insan yang memiliki persoalanlah yang tidak senang!
Kasih sayang Allah kepada hambanya dengan mengarahkan dan melatih melalui sarana shalat, bahwa kita setiap hari lima kali di ingatkan tentang kematian melalui shalat, karena shalat adalah sarana terbaik bertemu yang Maha kokoh (Al Matiin)
Shalat juga adalah poinnya mengingat kematian, perbaiki lah shalat maka Allah akan memperbaiki hidup hambanya, shalat menjadi utama di episode keseharian. Alhamdulillah Allah senantiasa memenuhi kebutuhan utama titian kehidupan seseorang untuk dapat mencapai puncak kenikmatan bertemu dengan Sang Maha Pengasih (Ar Rahman) melalui latihan shalat.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]
Duhai kematian betapa engkau sangatlah mempesona, engkau menjadi bahan bakar semangat untuk terus meningkatkan kualitas keimanan sebagai wujud utama mendapatkan hasil yang maksimal kelak dihadapan sang Robbul Izzati
Suatu hari panggilan itu tiba, persiapan bekal menjadi konsentrasi, mawas diri, muhasabah dan totalitas menguatkan jiwa dengan ful power beribadah, dan mengikhtiarkan fisik dengan berlatih agar sehat raga dengannya dapat lebih full power melaksanakan setiap perintah dan menjauhi larangan dari sang Maha berkuasa (Al Muqtadir)
Cerita dunia sangatlah singkat, suka, bahagia, marah, cinta, benci adalah sebuah episode yang terus akan dijalan seorang hamba. Itulah kehidupan, hadapi hidup dengan penuh semangat untuk menjadikan lawan jadi kawan, menghadapi setiap situasi penuh dengan panduan lengkap bernama Al Qur’an
Ketahuilah wahai insan, sang Maha pemilik kehidupan ini tak akan pernah membebani hambanya sesuai kemampuannya.
Firman Allah
لا يكلف الله نفساً إلا وسعها
Bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (Al-Baqarah: 286)
Ingatlah segalanya harus sesuai desain Al Qur’an dan hadist, sehingga kita mampu memberikan spirit bangkit atas setiap musibah, persoalan yang dihadapi dalam lembaran demi lembaran kehidupan
Allah maha segalanya, Allah lebih paham dan mengerti apa yang terjadi, pasti ada pesan peting yang mesti diserap hikmahnya, berpedoman pada sifat-sifat nama-nama Allah tentu semakin meningkatkan kualitas akar syahadat seseorang
Dari Anas -raḍiyallāhu ‘anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Mayat itu akan diikuti oleh 3 perkara: keluarga, harta dan amalnya. Dua perkara akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya.”
Hanya amalan yang menemani kehidupan di alam kubur, GnhalaqohMabit menjadi denyut nadi perhatian utama bagi seorang hamba, keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhan untuk terus belajar menguatkan akar pemahaman Al Alaq,
Menerapkan Al qolam dalam buku kehidupan, menjadikan Al Muzammil sebagai nafas, tanggang ke gelangang membawa panduan Al Mudatsir, menjadikan Al Fatihah sebagai darah perjalanan bergerak bangkit membawa pesan Ilahiah sang Maha mengawasi ( Ar raqiib )
Ketahuilah kematian adalah nasehat nyata langsung Allah tunjukkan kepada semua ummat Manusia. Para sahabat itu senang memberikan nasehat, Alhamdulillah niat tulus hadirnya tulisan ini menjadi nasehat buat penulis dan pembaca, semoga Allah memberikan kepada kita semua kelak wafat dalam keadaan Khusnul khatimah. Aamiin.(*)
14 Cara Mengobati Penyakit Hati
Oleh : Ustad Nasrullah Alwi Lc, Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Perilaku kita, ditentukan oleh segumpal daging dalam diri kita. yakni hati. Dia menentukan pola perilaku sifat dan tingkah kita.
Saat ini banyak manusia dijangkiti penyakit hati. Penyakit hati yang tersebar adalah bodoh, merasa senang dengan kebodohan, bahkan bisa bermasabodoh. Ini harus dilawan dengan ilmu. Orang akan hilang kebodohannya jika dia serius berilmu.
Penyakit kikir, ini penyakit hati. Kikir harus dilawan dengan kedermawanan. Mereka yang rajin bersedekah akan menghilangkan penyakit kikir.
Orang sombong, atau istilah kita Togo. Harus dilawan dengan hati yang tawadhu.
Penyakit hati ini harus diobati. Harus dilawan. Cara melawannya adalah dengan cara mengobatinya. Dan ini harus dilawan. Kita harus berupaya secara maksimal melawan penyakit ini.
Modal terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah hati. Anggota badan kita yang lain hanya mengikuti dan melayani perintah hati.
Maka hanya orang yang baik hatinya akan mampu mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang sakit hatinya akan jauh dari Allah.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang menjadi tazkiyah kita, agar terhindar dari penyakit hati ini.
1. Memperlihatkan wajah ceria, gembira, senyum, kepada orang yang kita jumpai. Seorang shahabat Rasulullah berkata, “Saya sejak masuk Islam, Rasulullah, tidak pernah menjumpai ku, kecuali dia tersenyum di hadapanku”
2. Tidak boleh meremehkan atau merendahkan orang lain. Orang yang sombong akan mudah menjatuhkan dan meremehkan orang lain.
3. Suka memindahkan kabar yang tidak benar. Mereka yang suka berprasangka buruk dan tidak menyebar hoax.
4. Menjaga rahasia orang lain.
Dulu, di zaman sahabat, orang yang mampu menjaga rahasia, sangat sedikit.
Banyak yabg mudah dan mempu menjaga harta orang lain. Tapi menjaga rahasia itu sangat sulit.
5. Memberi perlindungan terhadap saudara kita yang dighibahi.
Tidak diperkenankan mendukung ghibah, yang disampaikan orang lain cukup dengan tersenyum, atau kita merasa setuju, itu sudah tidak baik.
“Siapa yang melindungi daging saudaranya dalam ghibah, Allah SWT berhak untuk membebaskannya dari api neraka”. Kita harus menghentikan ghibah.
6. Menjauhi orang-orang yang suka adu domba. Tutup telinga, jangan dengarkan mereka yg suka adu domba.
“Tidak masuk sorga orang yang suka adu domba” Al hadits.
7. Doakan orang lain. Jika ada orang yang rasanya kita benci, sakit hati dengannya, usahakan kita doakan dia, di saat kita qiyamullail.
8. Berpuasa 3 hari setiap bulan. Berpuasa, cukup tiga hari setiap bulan, puasa sunnah apa saja. Tidak mesti puasa Yaumil bith.
8. Memahami Qadha dan Qadhar dalam hal rezki. Jika kita bisa melatih diri ini, terkait persoalan harta maka akan menjadi Qana’ah.
9. Mencintai orang lain. Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
11. Suka menolong orang lain.
Rasulullah memerintahkan jika datang seseorang yang meminta maka bantulah ia atau nasehatilah ia.
12. Memahami orang lain
13. Berbaik sangka
14. Dan muhasabah hati atas penyakit hati yg ada. Kita perlu bersabar, untuk berupaya mengobati penyakit hati ini.(sarmadani)
*) Disarikan dari tausiyah di Masjid Umar Al Farouq Pesantren Hidayatullah Makassar, 10 Ramadhan 1441 H.
Ustadz Arjun, Senang Dipindahkan ke Pangkep, Tapi Ternyata…
PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Setelah kurang lebih empat tahun tugas merintis pondok pesantren Hidayatullah di Kabupaten Kepulauan Selayar, Ust Arjun SE mendapat penugasan melalui Surat Keputusan (SK) baru.
SK tersebut dibacakan via zoom dalam Pra Rakerwil Hidayatullah Sulsel 3 Januari 2023 lalu.
“Mendengar SK tersebut, muncul rasa yang campur aduk sedih karena akan meninggalkan tempat perjuangan yang selama ini telah banyak menyimpan kenangan,” ujar dai muda yang kini diamanahkan sebagai Sekretaris DPD Hidayatullah Pangkep tersebut.
Memori suka dan duka selama bertugas di tempat yang telah memberi pelajaran tentang sabar dalam perjuangan itu akan ditinggalkan.
Di sisi lain, katanya, rasa senang juga ada. “Itu karena dalam pikiran kami, Pangkep lebih dekat dengan Ibukota, Makassar. Jika dari Makassar ke Selayar harus ditempuh dengan jalur laut, ke Pangkep cukup dengan sepeda motor,” tuturnya.
Salah satu yang menguatkan Ust Arjun, dalam mengemban amanah baru tersebut tuturnya, karena nasehat Ust Massiara, pendamping perintisan Hidayatullah Selayar, dalam halaqah rutin.
“Sabar dan sabar kita di Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan ini. Apalagi masih tahap perintisan. Cukup kita melakukan dan mengerjakan apa yang kita bisa, dan selalu berdoa supaya apa yang kita rencanakan dimudahkan Allah SWT,” ujarnya suatu waktu.
Menurut Ustad yang kini menjadi Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat itu, kita di Hidayatullah ini betul-betul dilatih untuk ikhlas dan bersabar.
“Karena suatu saat apa yang kita usahakan di sini akan ditinggalkan. Karena memang kita sebagai kader selalu siap dan sigap untuk menerima SK ke tempat lain, kita berjuang dan berkarya di lembaga ini tidak ada interest (kepentingan) pribadi sama sekali, tapi betul-betul Ikhlas karena Allah,” kutip ust Arjun.
Ust Arjun mengaku selalu siap, siap untuk bertahan ataupun siap untuk pinda kalaupun itu SK nya. Biarlah karya menjadi Amal jariyah dan semoga menjadi penyebab ditempatkan di tempat yang mulia di akhirat, Karena itulah yang kita cari Syurganya Allah.
Perjalanan dari Selayar ke Pangkep membutuhkan waktu kira-kira 2 hari 1 malam. Pertama harus naik kapal menuju Makassar, lalu berlanjut ke Pangkep.
Ust Arjun bercerita, setelah perjalanan mendekati Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep, kami berpikir jalan beraspal mulus ini akan sampai di lokasi pondok Namun, setelah lama menunggu, mobil yang kami tumpangi tak jus berhenti. Justrusana-sini belok ke jalan bebatuan yang berlubang sana-sini.
Selain itu, jalan ini juga rawan longsor, menanjak dan hanya dikelilingi hutan tanpa rumah warga. Karena kondisi demikian, terbersit perasaan takjub atas perjuangan perintis Hidayatullah Pangkep yang luar biasa.
Tinggal di tempat seperti ini tentu harus sabar. Akses yang sulit tersebut tentu membuat pengurus pondok berpikir berkali-kali untuk keluar masuk pondok.
Tetapi MasyaAllah, sesampainya kami di pondok, kami terkesima dengan pemandangan yang indah. Pondok ini dikelilingi gunung. Ditambah lagi puluhan santri-santri yang ceria yang selalu semangat menghafal Al-Quran semakin melengkapi keindahannya.(*)











