Beranda blog Halaman 72

Engkau masih Hidup Walau Telah Wafat 

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Tidak semua yang telah mati itu telah mati. Boleh jadi seseorang telah lama mati tapi pesona kepribadiannya dan ruh kebaikannya masih hidup

Ada yang telah mati secara biologis tapi dia pada hakekatnya masih hidup secara spiritual dan contoh kebaikannya sampai sekarang.

Seperti halnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (SAW) habibullah, yang telah wafat 14 abad lalu, tapi saat ini dia masih hidup secara spirit di tengah-tengah kita sebagai umat Islam.

Tidak hanya ajarannya yang masih tetap hidup dan terus berkembang, pengikutnya pun terus berkembang sampai saat ini. Orang kafir pun terkagum dengan akhlaq dan kecerdasannya memimpin dan mendakwakan Islam sampai akhir hayatnya.

Dia berikan dengan sepenuh cinta seluruh waktu dan kehidupannya hanya untuk mentarbiyah umatnya dan mendakwakan Islam. Tak hanya di sekitar jazirah Arab, tapi untuk seluruh umat manusia dan kedamaian bagi semesta alam. 

Ummatnya pun dengan penuh cinta, setiap saat menyebut-nyebut namanya dan mendoakan berupa salawat dan salam kepadanya. 

Walau tak mungkin lagi bertemu dengannya

Kerinduannya yang mendalam tak pernah surut, mencucurkan air mata kepingin bertemu dengannya. 

Tak bisa bertemu dan melihat wajahnya Muhammad SAW yang mempesona nan penuh kharismatik. Saat melihat langsung masjidnya, Masjid Nabawi di Madina, sudah menggetarakn jiwa penuh syukur ‘bertemu’ dengannya.

Tak heran banyak ummat bersusah payah menyiapkannya dana dan tabungan bertahun-tahun. Dibuatkannya waktu khusus dalam rangkaian Ibadah Umroh, hanya untuk menemui kekasihnya, walau hanya dengan amalan ziarah kubur.

Demi untuk menziarahi kuburnya, rela antrian panjang dan walaupun berdesak-desakan. Bagi perindu dan pecinta Rasul, tak mengapa. Asal sudah dapat melihat langsung lebih dekat dengan kuburannya, sudah cukup menyinari cahaya kerinduannya

Kalau saja asykar (tentara penjaga Masjid Nabawi) tak mengusir kami, raasanya mau berlama-lama ‘meraih’ janjinya tentang kemuliaan di Raudah. Dengan terus dzikir dan ibadah antara mimbarnya dan rumahnya, yang kini tinggal kuburnya beliau bersama sahabatnya tercinta, Abu Bakar dan Umar bn Khattab.

Sambil berjalan melewati kuburanmu wahai Rasulullah habibunal mustafa. Dengan pemaknaan kerinduan dan tekad hati dan jiwa, bersama jamaah dari berbagai suku bangsa penjuru dunia. Kulambaikan tangan, kuucapkan terus salawat dan Salamun ya Rasulullah, salamun ya Abu Bakar wa salamun ya Umar.

Itulah makna kemuliaan manusia agung, dia (Rasulullah SAW) telah wafat, tapi nilai-nilai kemuliaan kehidupannya masih hidup dan terus dihidupkan. 

Sebagai pengikutnya, kita tidak hanya mencintai dan merindukan bertemu dengannya dengan menziarahi kuburnya. Bukti cintanya adalah dengan senantiasa menjalankan sunnah (ajarannya) dalam kehidupan keseharian kita.

Lebih dari pada itu adalah bagaimana kita berupaya secara maksimal menapaktilasi metode dakwah dan pengkaderan beliau diawal perlangkadan Islam di Makkah dan Madinah.

Pesona akhlaq dan bukti cintanya pada umatnya dalam kehidupannya. Menjadi teladan bagi kita umat sesudahnya. Menyuluh kerinduan bertemu dengannya, semoga bisa dipertemukan di surgaNya. InsyaAllah Aamiin.(*) 

Spirit Ibadah Umroh akhir Februari 2023

PD Muslimat Hidayatullah Maros Mengikuti Halaqah Gabungan di Takalar

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) Maros turut berpartisipasi pada Halaqah Gabungan yang dilaksanakan Mushida Sulsel di Topejawa Takalar, Sabtu-Ahad (25 -26/2/2023).

PD Mushida Maros merupakan organisasi pendukung dan bisa menjalankan program induk organisasi di tingkat daerah utamanya gerakan dakwah Qur an di masyarakat.

Keberadaan Muslimat Hidayatullah bisa terlibat langsung mengambil peran di antaranya sebagai pengajar Al Quran di masyarakat

Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar berharap semoga program Muslimat Hidayatullah di Maros bisa di rasakan, utamanya dakwah Quran di masyarakat.(eks/*)

Kehidupan Adalah Perjalanan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Bergerak adalah keberkahan. Selalu bergerak, berjalan, dan adakalanya berlari atau berlari-lari berarti seseorang itu masih hidup normal dan sehat.

Berpindah dan berjalan, bahkan berlari, adalah bagian dari proses kehidupan. Yang dalam saat tertentu kita diperintahkan serta harus berjalan dan berlari. Karena kehidupan itu pada hakekatnya adalah sebuah perjalanan singkat.

Perjalanan sebagai proses kehidupan. Dapat dilihat dari prosea penciptaan manusia itu sendiri. Dimulai dari air mani, menjadi segumpal darah hingga berbentuk anak manusia setelah ditiupkan ruh padanya. Inilah dinamakan alam rahim.

Selanjutnya perjalanan hidupannya dinikmatinya di permukaan bumi. Tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bebas berintereaksi, bermuamalah dan berkempetisi dengan manusia lainnya.

Di alam dunia inilah manusia asyik menikmati kehidupannya. Awalnya dirasakan normal-normal saja, berlalu dalam sebuah perjalanan waktu Hingga tak terasa waktu dan usia terus berlalu.

Sepertinya dia masih merasa kanak-kanak, padahal dia sudah tumbuh sebagai pemuda dewasa.

Seperti tak menerima kalau tubuhnya sudah besar sebesar orang dewasa. Tapi masih lugu dan masih seperti menikmati masa kanak-kanaknya.

Nampaklah fisiknya sudah besar dan dewasa tapi kelakukannya masih bertingkat kekanak-kanakan.

Demikian halnya saat usia sudah masuk dewasa bahkan tergolong tua, perangai dan pola pikirnya merasa masih masa remaja.

Terdapatlah seseorang bertingkah laku tak sesuai usianya. Sering kali terjadi, ada yang usianya masih pemuda bahkan masih remaja, tapi pola pikir dan karakternya telah matang dan dewasaa.

Yang ironis, ketika usianys sudah memasuki masa tua tapi tindak tanduknya masih seperti remaja ataupun kekanak-kanakan. Mulai dari cara berpikir dan bersikap, hingga dia tidak mampu mandiri menyelesaian permasalahan hidup sendiri

Terdapat sifat manusia yang lupa pada perjalanan dirinya. Jangankan mampu membuat perancanaan hidup, memahami bahwa dia sudah pada tahapan berapa usia saat ini saja, dia terlalaikannya.

Betapa kagetnya dirinya, ketika dia melakukan sesuatu namun, tapi tak sanggup lagi melakukannya. Tak sanggup menerima kenyataan.

Menolak tua. Disaat kenyataan usia dan waktu yang berbicara, bahwa dia bukan lagi seperti yang dulu

Yang lebih mengagetkan lagi, ketika tiba saatnya jatah usia sudah habis dan dia telah menghadap kepadaNya, barulah dia tersadar. Barulah dia mau kembali beribadah, beramal Sholeh dan bersedekah..Sudah terlambat. Tinggallah hanya penyesalan yang tak berguna lagi

Perjalanan Menuju Surga

Agar perjalanan kehidupan yang singkat ini bisa menjadi syurga yang penuh kebahagiaan. Dan semoga pada akhirnya juga dinikmati di akhirat, harus memahami tujuan hidup ini.

Bahwa tujuan perjalanan kehidupan kita hanya dua hal.pokok, yakni menjadi khalifah yang menciptakan kedamaian, kesejahteraan dan keadilan. Untuk semua manusia dan rahmat bagi seluruh alam.

Serta tujuan kedua adalah bahwa kesempurnaan perjalanan kehidupan kita di dunia, ketika semua aktivitas kehidupan dalam niat yang hanif (lurus) dan bermakna dalam penghambaan kepada-Nya.

Barangsiapa memahami hakekat penciptaannya dipermukaan bumi ini, maka dia akan berjalan dengan perjalanan hidup bermakna dan bermanfaat menuju kebahagiaan hakiki.(*)

*) Perjalanan Umroh 28 Rajab 1444 – 19/2/2023)

Agus, Hijrah ke Hidayatullah Pangkep Ingin Belajar Quran

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.id — Di kampungnya di Bone Sulawesi Selatan, Agus merupakan tukang bangunan di sebuah masjid, Masjid Nurul Yakin. Di masjid ini, Agus juga ditugaskan untuk menjadi muadzin.

Tepat di bulan suci Ramadhan, Agus mendengar suara imam melantunkan ayat suci Al Quran dengan begitu merdu. Bacaan Al Quran imam masjid tersebut sangat fasih, yang ternyata seorang santri yang sedang studi di pondok pesantren.

Agus begitu khusuk mendengar bacaan Quran santri tersebut. Suara imam yang merdu itu membuat Agus jatuh cinta dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Mendengarnya membuat Agus begitu tersentuh, seolah-olah menerobos hingga ke dinding hati, membuat jiwa menjadi sangat tenang.

Setelah selesai shalat tarawih, Agus merenung dan berkata, “Andaikan saya ada orangtua yang membiayai sekolah, saya ingin sekali belajar di pesantren, belajar Al-Qur’an”.

Keinginan ini, Agus utarakan kepada temannya, Usman. Lalu Usman menawarkan mempertemukan dengan ustadz Karding, seorang perintis pesantren Hidayatullah pangkep, yang kebetulan sedang pulang kampung.

Beberapa hari kemudian, ustadz Karding silaturahmi ke rumah Agus dan bertanya perihal keinginan Agus masuk di pesantren. “Kalau serius ingin masuk di pesantren, kebetulan saya butuh partner di pesantren. Pesantren ini baru dirintis, dan alhamdulillah di sana sudah ada beberapa santri yang sudah aktif belajar. Nanti mas Agus membantu saya membersamai santri, dan mas Agus bantu di masjid sambil belajar,” ujar ustadz Karding.

Lalu Agus meminta waktu sepekan untuk memikirkan dan mempertimbangkan. Agus minta pendapat Haji Konta, ia seorang imam tetap Masjid Nurul yakin tempat Agus kerja, di kampung Bone. Tidak lupa Agus juga minta pendapat keluarga besarnya.

Pak Imam dan keluarga besar semua mendukung Agus masuk pesantren. Karena semua keluarga mendukung, tekad Agus semakin kuat untuk hijrah.

Tahun 2021, bulan Juni, hari Rabu, dari Bone Agus pun hijrah ke Hidayatullah Pangkep diantar oleh keluarga besarnya.

Agus kemudian mengawali kehidupan baru di pondok pesantren.
Menjalani hari-hari di pondok bersama ustadz dan santri belajar agama dan Al-Qur’an.

“Saya bertahan sampai sekarang di pesantren ini karena kehidupan yang Islami, saling menguatkan antara sesama warga, puasa Senin-Kamis bersama santri, shalat wajib berjamaah, begitupun shalat lail dan dhuha selalu berjamaah,” tuturnya.

Tepat pada 26 Januari 2022 lalu, Agus diikutkan nikah Mubarak di Belopa oleh pimpinan pondok pesantren ustadz Karding.

Alhamdulillah, saat ini Allah memberikan Agus kado yang tidak bisa dinilai oleh tumpukan rupiah yaitu kehamilan istrinya. Ini merupakan kehamilan anak pertama keluarga kecil Agus, semoga kelak ia menjadi anak yang sholeh nan cerdas, menjadi mujahid pejuang Islam terpercaya.(*)

BTH Percontohan Koperasi di Bone Terapkan Sistem Layanan Digital

0

Bone, HidayatullahSulsel.id — Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) Cabang Bone menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2022 di ruangan Abdullah Said Pondok Pesantren Hidayatullah Bone, Sabtu, (25/2/2023).

RAT yang dilaksanakan secara offline dan virtual itu dihadiri Kadep. Ekonomi dan Aset DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust Imran Jufri SPdI, Dinas Koperasi Bone diwakili Sekretaris Dinas, Andi Wahyuddin SE, Ketua DPD Hidayatullah Bone, Ust Burhanuddin Jabbar MPd serta sejumlah anggota BTH Bone.

Dalam sambutannya, Ketua BTH Bone, Ust Muh Jamil MPd menyampaikan, BTH Bone pada awalnya bernama Koperasi Pesantren Hidayatullah Bone, oleh karena BTH adalah program nasional Hidayatullah maka tahun 2022 terjadi perubahan nama menjadi BTH Bone yang menganut satu sistem aplikasi yaitu IBSS. Per 31 Desember memiliki 2022 lalu menghimpun 98 anggota.

“Ketika berubah nama menjadi BTH dengan sistem aplikasi yang terpusat, maka terjadi peningkatan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang cukup drastis. Di 2020 ke 2021 hanya naik 63,21%. Sedangkan menjadi BTH meningkat drastis pada 2021 ke 2022 menjadi 864,97%. Tentunya ini hasil yang cukup menggembirakan,” urainya.

Di 2023 ini, BTH Bone akan mengembangkan usaha mikro yakni air mineral Sanhid Water dan budidaya ikan air tawar dengan sistem bioflok.

Ketua DPD Hidayatullah Bone, Ust Burhanuddin, mengaku, sangat bersyukur dengan hadirnya BTH karena dapat membantu kebutuhan mendasar dalam memudahkan pergerakan dakwah dalam bentuk armada motor para dai.

“Saya ketika bertugas tahun 2006 di Al Bayan Hidayatullah Makassar, sangat bercita-cita untuk memiliki motor dan mencari siapa yang bisa bantu membayar cash dimana nantinya dicicil per bulan,.Karena gaji di pesantren pada saat itu tentunya tidak memadai untuk membeli motor. Dan Alhamdulillah setelah menunggu sekian lama, terealisasi melalui BTH dan sangat membantu dalam berdakwah,” kisahnya.

Ust Imran Jufri dalam sambutannya mengapresiasi usaha dan kerja keras pengurus BTH Bone yang merangkak dari Kopontren hingga menghasilkan SHU di atas Rp 30-an juta di 2022 lalu.

Ia juga mengingatkan untuk ketat melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kewajiban anggota, pembiayaan, serta usaha-usaha yang telah direncanakan di 2023 ini.

Sementara itu, Kadis Koperasi Bone yang diwakili oleh Sekretaris Andi Wahyuddin, SE mengatakan bahwa satu-satunya koperasi yang melakukan program Digitalisasi di Bone hanya di koperasi BTH Bone. “Ini bisa menjadi contoh bagi koperasi-koperasi se Kabupaten Bone,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi anggota BTH Bone yang sudah sadar akan keberadaan koperasi ini dibanding dengan koperasi-koperasi lainnya, acuannya adalah dengan melihat peningkatan SHU setiap tahunnya.

Andi Wahyuddin berharap adanya penambahan anggota sehingga semakin banyak yang bergabung menjadi anggota maka akan semakin menguatkan keberadaan koperasi ini.

Dalam RAT kali ini, BTH Bone di tahun 2023 menargetkan peningkatan SHU sebesar 30 persen dari tahun sebelumnya.
(Reskyaman)

Siapa Kita?

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Manusia mahluk unik, memiliki naluri selalu ingin tahu. Dia memiliki keterbatasan, dan akalnya tidak mampu mengetahui segala sesuatunya.

Terdapat sebuah pertanyaan yang penting untuk selalu dimunculkaan, Siapa kita ?

Pertanyaan ini yang menggugah kesadaran berfikir kita tentang keberadaan kita sebagai manusia di permukaan bumi ini.

Hanya saja manusia itu makhluk yang pelupa, lupa bertanya pada diri sendiri, tentang siapa sesungguhnya dirinya.

Karena dari makna manusia itu sendiri dari kata al-insân adalah salah satu kata yang memiliki keterkaitan makna dengan kata nisyân yang secara harfiyah berarti lupa.

Hal tersebut berarti manusia tidaklah disebut dengan insân keculai bahwa dia adalah makhluk yang sangat pelupa;

Sifat manusia yang sangat pelupa juga sering terjadi terhadap hal mendasar dalam hidup dan kehidupan kita. Yakni tentang siapa dirinya sebagai manusia.

Untuk itu, Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang siapa sesungguhnya kita. Sebagaimana pertanyaan Allah kepada hambanya ketika proses awal penciptaan kita sebagai manusia.

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِن

وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

“Allah mengambil persaksian atas jiwa mereka seraya bertanya kepada mereka (dengan firmanNya), Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS.AlAraf:172)

Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar mengatakaan, yang dimaksud dengan pertanyaan (Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksinya) Yakni kami bersaksi atas diri kami bahwa Engkau adalah benar-benar tuhan kami

Persaksian terhadap siapa Allah dan siapa kita, yang mengantar melahirkan kesadaran bertauhid Rububiyah. Adalah tauhid yang meng-Esakan Allah dalam tiga perkara yaitu sebagai penciptaan, penguasa, dan pengaturan alam ini.

Ayat di atas pun mengingatkan kita bahwa pada hakekatnya saat proses awal penciptaan manusia terikat perjanjian mulia dengan Allah.

Perjanjian tentang siapa Allah pencipta dan siapa kita sebenarnya sebagai manusia yang dicipta

Merujuk kepada sifat asli manusia yaitu sangat pelupa. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah termasuk lupa terhadap eksistensi Allah Ta’ala dalam pemahaman ke- Rububiahan-Nya

Lupa yang dapat menjadikan seseorang juga lupa pada dirinya sebagaimahluk yang dicipta. Sebagaimana dalam firmanNya

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْن

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik”.

Kita adalah Mahluk Lemah

Selain tentang ikrar ketuhanan dalam proses awal penciptaan manusia.(QS.7:172). Juga Allah ingatkan pada ayat lain secara sistimatis tentang proses penciptaan manusia. Secara panjang lebar dan gamblang digambarkan dalam QS.Almukmimin:12

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.” “Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) “Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Ayat ini menerangkan tentang proses penciptaan manusia yang sangat unik. Proses awal penciptaan manusia berasal dari saripati yang berasal dari tanah berubah menjadi air mani yang hina.

Dalam proses selanjutnya menjadi segumpal darah, segumpal daging, lalu dibungkus tulang dan menjadi janin. Lalu tumbuh kembang menjadi anak manusia, selanjutnya ditiupkanlah ruh. Semua proses itu tercipta dalam rahim ibu yang kokoh, yang disebut dengan alam rahim.

Gambaran proses penciptaan manusia.di ayat tersebut menunjukkan tentang siapa sesungguhnya diri kita. Betapa lemahnya kita sebagai manusia. Sehingga tidaklah pantas untuk berlaku angkuh, pongah dan sombong.

Kebanggaan apakah yang pantas disombongkan,?. Bukankah kita ini semua dan tak terkecuali tercipta dari air yang hina. Lalu kembali menjadi hina. Di saat dimana sebelumnya gagah dan cantik, lalu telah menjadi mayat yang tak bisa berbuat apa-apa.

Siapa kita? Kita adalah mahluk Allah yang pada akhir semua kehidupan ini berakhir dengan sebuah kematian.

Allah Ta’ala mengingatkan manusia tentang kepastian akan datangnya kematian dengan firmanNya di QS Ali Imran ayat 185 yang Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”

Ketika sudah menjadi mayat, tak seorang pun yang berani mendekati kita, walau keluarga terdekat dan yang lainnya Yang mencintai kita. Kebesaran nama dan status sosial pun pudar dan hilang. Kecuali amal dan jasa kita saat masih hidup. Itulah kita !

Wallahu A’lam Bishshowaf. (*)

Mengkader atau Mati. Itu Kewajiban Bukan Pilihan

0

Oleh : Dr Ust Khairun Misjaya MPd, Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Menjadi seorang kader Hidayatullah, itu berat. Tidak ringan amanah yang diberikan kepada kita.

Amanah, bagi seorang kader adalah pemali memintanya dan pemali menolaknya. Kita tidak boleh dalam meminta amanah, tapi jika diberikan, kita tidak boleh menolak.

Sebagai seorang kader, kita harus bisa menguatkan gerakan perjuangan ini. Khususnya dalam mempersiapkan kepemimpinan bangsa Indonesia ini di masa akan datang. Kita harus jadi kader yang siap menjadi pemimpin bangsa. Kita perlu menjadi pemimpin bangsa ini.

Mengkader atau mati, itu bukan pilihan, tapi itu kewajiban. Mengader itu wajib. Kalau kita tidak mengader, mati saja.

Ada dua unsur yang harus dikuatkan dalam perkaderan, yakni tarbiyah dan dakwah. Dua pilar gerakan perkaderan ini tidak boleh dikendorkan.

Tarbiyah dan dakwah yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah harus mendapat penguatan untuk melahirkan kader-kader yang handal dan tangguh.

Selain proses kader, yang terbingkai dalam gerakan tarbiyah dan dakwah, dalam perjuangan ini juga butuh darah, yakni butuh dana. Butuh uang untuk berjuang. Penguatan ekonomi juga harus jalan.

Alhamdulillah, Hidayatullah sudah mulai melakukan gerakan ekonomi itu. Ada Sakinah Mart secara nasional, ada Sahid dan lain lain.

Di Sulsel sudah ada peternakan sapi, ada persawahan, ada rumah potong hewan. Kita sudah berusaha, kita sudah bergerak meskipun belum ada hasil tapi kita sudah berjuang.

Perkaderan, dengan tarbiyah dan dakwah juga dengan gerakan ekonomi yang jadi mainstream gerakan, senantiasa harus dikuatkan oleh para murobbi dan juga pengurus inti lembaga ini.(Abu Fathun Mubarak)

*) Disarikan dari tausiyah Rakor Pengkaderan Hidayatullah Sulsel

DPD Hidayatullah Maros Silaturrahmi dengan Bupati Maros

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Pasca Rakerda, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros langsung bergerak.

Ketua DPD Hidayatullah Maros ust Drs Muhammad Kaisar melakukan kunjungan silaturahmi kepada Bupati Maros Chaidir Syam, Kamis (23/2/2023).

Kunjungan tersebut didampingi Departemen Dakwah Ust Robianto yang juga mantan Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel danketua DPC Hidayatullah Turikale Faisal Kurniawan.

Chaidir Syam berkomitmen akan memberi dukungan pada gerakan dakwah Al Quran bagi masyarakat Maros oleh DPD Hidayatullah.

“Beliau juga mendukung gerakan wakaf yang dijalankan oleh DPD Hidayatullah Maros dengan membangun beberapa masjid di Maros,” jelas Ust Kaisar.

DPD Hidayatullah Maros konsisten menyelenggarakan program wakaf pembangunan masjid dan program wakaf Al Qur an paket wakaf dengan donasi Rp 150.000 per mushaf.(rls/*)

*) Bagi yang ingin berwakaf Al Quran bisa menghubungi ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros

Dihadiri Ust Aziz, Pembangunan Masjid Hidayatullah Mahalona Dimulai

0

LUTIM, HidayatullahSulsel.com — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr Ir KH Abd Azis Qahhar Muzakkar MSi menyampaikan tausiyah Tabligh Akbar dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Al Muhajiri Ponpes Hidayatullah Tole, Luwu Timur, Sabtu (18/2/2023).

Hadir pula pada kesempatan tersebut Wakil Ketua DPRD Luwu Timur H Usman Sadik dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel Ir KH Abd Majid MA.

KH Abd Aziz mengaku hadir khusus dari Jakarta sebagai apresiasi atas perjuangan dai tangguh Hidayatullah khususnya Ketua DPC Hidayatullah Mahalona Ust Rahman Caco menghadirkan Hidayatullah bagi masyarakat di Mahalona dan sekitarnya.

“Karena Hidayatullah ingin bersama masyarakat dalam segala jenis urusan. Kami siap susah dan senang bersama masyarakat. Ingin membersamai masyarakat bagaimana beragama atau jika ada ustad lain maka kami ingin bersama membimbing masyarakat dengan dalil-dalil agama shahih,” ujarnya.

Menurutnya, Hidayatullah hadir bukan saja dengan keberadaan pesantren tapi juga ingin bersama masyarakat membimbing menegakkan tauhid Islam dengan dakwah dan tarbiyah antara lain melalui masjid yang akan dibangun sebagai mercusuar Islam.

Ketua DPC Mahalona Ust Rahman Caco berharap masjid yang sedang dimulai pembangunan bisa di pakai santri untuk shalat berjamaah dan pergunakan untuk kegiatan keummatan di Kecamatan Mahalona.

“Untuk itu kami mengajak kaum muslimin dan muslimat yang ingin membantu program pembangunan masjid ini bisa menghubungi ust Rahman Caco 087786344099 atau mengirim langsung ke rek BRI no rek 500601040792531 An Yayasan Al Muhajirin Hidayatullah Desa Tole
Kec Mahalona Kab Luwu Timur,” rincinya.(rls/fir)

Percuma jadi Kader Jago Diskusi SW tapi Tidak Taat

0

Oleh : Dr Ir KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah bisa hadir disini, meskipun itu tidak direncanakan. Inilah wahyu sistem (takdir). Saya masih suka menyebut istilah Wahyu Sistem ini, setidaknya ada rasa-rasanya.

Saya sempatkan untuk bersilaturahmi di tempat ini, tak elok kalau saya lewat dan tidak singgah.

Kader menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang dididik dan disiapkan untuk menjalankan visi dan misi organisasi.

Saat ini, kita harus mendefinisikan organisasi Hidayatullah ini dulu. Kita bukan lagi pesantren. Kita juga sudah berubah, dari orsos ke ormas. Ormas pun tidak terlalu tepat.

Aslinya, Hidayatullah ini organisasi imamah jama’ah yang berharakah jihadiyah dengan manhaj nubuwah Sistematika Wahyu.

Dalam jati diri Hidayatullah, imamah jama’ah ini, murni, orisinil dari Hidayatullah. Imamah Jama’ah ini adalah sebutan saja atau istilah yang dibuat Ustad Abdullah Said.

Dalam Al Qur’an, ada kata imamah dan jama’ah tetapi kata itu terpisah. Tidak ada kata imamah dan jama’ah yang bersambung secara langsung.

Juga dengan istilah Sistematika Wahyu. Istilah ini tidak kita jumpai dalam Al Qur’an, ini murni istilah yang dibuat oleh allahuyarham Ustad Abdullah Said.

Keduanya ini, istilah imamah jama’ah dan SW adalah produk murni istilah dari Abdullah Said. Tapi kemudian, saat ini, istilah tersebut telah kita narasikan, dengan lebih sempurna.

Jati diri Hidayatullah selanjutnya adalah ahlusunah wal jama’ah dan jamaatun minal muslimin. Ini semua juga menjadi jati diri yang istilah ini memang sudah ada sejak dulu dan juga sudah dinarasikan untuk jati diri Hidayatullah.

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.

Juga terkait harta, Ustad Abdullah Said memberikan sebuah ijtihad, dengan tidak ada meninggalkan harta pribadi. Tidak ada warisan yang ditinggalkan untuk putra putrinya, tidak ada kepemilikan beliau secara pribadi. Tapi kemudian, ijtihad ini kita koreksi bahwa harta itu sudah bisa dimiliki oleh jamaah secara pribadi.

Washatiyah, ini adalah jati diri ke enam yang kita masukkan dalam jati diri Hidayatullah. Meskipun ini memang kita harus berhati-hati dalam menerapkannya.

Wasathiyah adalah konsep asli ajaran Islam yang sekarang banyak disalahpahami karena terpengaruh oleh konsep toleransi dan moderasi beragama ala Barat

Yang paling harus diperhatikan seorang kader adalah bagaimana dia bisa memahami manhaj Sistematika Wahyu dan imamah serta menjalankannya.

Kader Hidayatullah adalah seberapa besar ia tersibgah dengan Sistematika Wahyu dan imamah jama’ah, dalam menjalankan beban-beban amanahnya.

Kader Hidayatullah adalah mereka yang mampu memahami dan menerapkan imamah jama’ah dan Sistematika Wahyu ini.

Dua hal ini lah yang menjadi warisan terbesar lembaga Hidayatullah. Tidak perlu ada Hidayatullah jika hanya sekedar menjalankan washatiyah juga Al Harakah Al jihadiyah.

Sistematika Wahyu (SW)itu terbagi dua. Pertama ia sebagai konsepsi. Dan kedua SW sebagai aplikasi atau implementasi. Sebagai konsepsi, adalah narasi yang kita bangun, sebagai hujjah dalam menjadikan SW ini sebagai konsep gerak Hidayatullah.

Kedua, SW sebaga implementasi. Inilah peragaan SW yang sesungguhnya. Bahwa kader itu tidak saja memahami konsep itu, tapi juga bagaimana mengimplementasikannya di lapangan.

Kader Hidayatullah, lebih banyak diproses dalam bentuk implementasi. Bagaimana metode pengikisan togho (kesombongan) itu, melalui TC, melalui amanah-amanah yang diberikan. Sehingga kader-kader terdahulu, tercerahkan dirinya dalam aplikasi Sistematika Wahyu secara langsung.

Tidak ada Sistematika Wahyu tanpa imamah jama’ah. Sistematika Wahyu ini, baru bisa tegak dengan adanya imamah jama’ah yang solid.

Suatu ketika, ada tamu yang bertanya tentang SW kepada Ustad Abdullah Said. Dan singkat nya, tamu itu mau menerapkan konsep Ustad Abdullah Said itu di Bandung. Ustad Abdullah Said bilang begini, “Tidak bisa SW itu berjalan, jika tidak diterapkan di kampus Gunung Tembak ini”.

Artinya, SW itu hanya bjsa dijalankan dengan imamah Jama’ah.

Peran besar bagi seorang kader, adalah bagaimana ia bisa tercerahkan dengan SW dari segi konsep dan implementasinya. Percuma ada kader memahami narasi tentang SW, tapi saat dikirim dia tidak bisa diatur.

Atau kader yang paling jago diskusi tentang SW, tapi saat ditugaskan tidak diterima. Kalau ada yang susah diatur, galantang dulu dia.

Jika Sistematika Wahyu dan imamah jama’ah ini tidak terwariskan dengan baik, maka gedung-gedung, fasilitas sekolah yang ada, hanya akan menjadi barang rongsokan.

Alhamdulillah, ustad Abdullah Said telah mewariskan konsep imamah jama’ah dan SW ini kepada kader-kader terdahulu. Sehingga sepeninggal beliau Hidayatullah ini masih tetap eksis.

Sehingga mutlak bagi seorang kader untuk memahami dan menjalankan secara tuntas SW dan imamah jama’ah ini. Untuk kelangsungan lembaga ini, agar apa yang ada ini tidak menjadi barang rongsokan.(Sarmadani Karani)

*) Disarikan dari tausiyah pada Rakor Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel di Masamba, 19/02/2023.