Beranda blog Halaman 71

Utus Santri Hidayatullah Ikuti DMU, Begini Kata Ketua DPD Hidayatullah Luwu

0

Belopa, HidayatullahSulsel.com — Hidayatullah kembali menggelar pembukaan Daurah Marhala Ula (DMU) dengan skala nasional secara serentak, Rabu (1/3/2023).

Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa juga turut mengikutsertakan santrinya dalam penyelenggaraan DMU di Kampus Madya Hidayatullah Masamba.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Luwu, Ustadz Hamzah Sultan SPd menyambut baik dan positif kegiatan DMU bertemakan “Menjadi Kader Hidayatullah yang Cerdas, Disiplin dan Militan” tersebut.

Menurutnya, keikutsertaan santri Hidayatullah Belopa merupakan wujud dari komitmen Hidayatullah Luwu dalam mencetak kader tangguh.

“Komitmen kami di DPD Hidayatullah Luwu untuk terus mencetak kader-kader tangguh yang memiliki wawasan keislaman yang mumpuni. Lewat kegiatan DMU yang diikuti oleh santri-santri Hidayatullah Luwu, baik yang di Masamba maupun di Sampeang, kelak akan mewujudkan harapan itu,” jelas Hamzah dengan penuh semangat.

Senada dengan Ustadz Hamzah, lada kesempatan yang berbeda, melalui sambungan Whatsapp, pendamping santri putri Hidayatullah Belopa, Ustadzah Nuzul Amaliya, menyampaikan harapan besarnya bahwa semoga DMU ini bisa melahirkan generasi pejuang dakwah.

“Bagaimanapun juga, generasi pelanjut itu sangatlah penting. Melalui DMU ini kita berharap dan berkomitmen agar pengkaderan ini bisa memunculkan generasi pejuang dakwah yang militan. Siap mengemban amanah perjuangan di masa mendatang,” kata Ustadzah Nuzul.

DMU merupakan agenda pengkaderan Hidayatullah. Sebelumnya, dalam pembukaan DMU yang digelar secara serentak ini, Ketua Umum Hidayatullah, DR KH Nashirul Haq Lc MA menuturkan, DMU merupakan wadah penguatan keimanan santri dan kader. Sebab, kecanggihan teknologi yang sebenarnya hanyalah alat sangat bergantung kepada siapa yang memegangnya.

“Kita ini telah berada di era digital. Kecerdasan buatan atau AI semakin canggih dan tak terbendung. Namun, jika pengendalinya tidak beriman kepada Allah, bukan tidak mungkin produk teknologi dan digital tersebut bisa menjadi bencana bagi ummat manusia.” Demikian tutur Nasirul Haq dalam sambutannya. (Ian Kassa)

Pewakaf Kunjungi Pembangunan Masjid di Ponpes Hidayatullah Tanralili

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Pengurus DPD Hidayatullah Maros menerima kunjungan Pewakaf Masjid Andi H Halijah Pondok Tahfidz Hidayatullah Tanralili.
Hj Muliati bersama suami melihat langsung pembangunan masjid, Ahad (26/2/2023).

“Beliau berkomitmen akan terus membantu pembangunan masjid untuk pondok Tahfidz ini sampai tuntas. Dan semoga di bulan Ramadhan santri sudah bisa menikmati ibadah dengan baik karena kalau hujan terjadi kebocoran,” jelas Ketua DPD Hidayatullah Maros, Ust Muhammad Kaisar.

DPD Hidayatullah Maros menjalin kemitraan dengan Baitul Wakaf Jakarta untuk dana tambahan pembangunan masjid yang bermitra. Baitul Wakaf merupakan lembaga Nazir Wakaf Nasional yang menjadi Mitra DPD Hidayatullah Maros.

Hidayatullah Maros berkolaborasi menyelenggarakana program Wakaf telah membangun 5 masjid di Maros.

Masjid lantai dua Pondok Tahfifz Hidayatullah Tanralili Maros menawarkan 4 paket wakaf dengan donasi yang dibutuhkan Rp 250 juta.(rls/*)

*) Program wakaf untuk masjid pondok Tahfidz mulai
1.Rp.50.000
2.Rp.500.000
3.Rp.1.000.000
4.Rp.5.000.000

Bagi yang ingin berwakaf dalam pembangun masjid bisa menghubungi ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros atau bisa datang langsung ke alamat Dusun Baku Desa Lekoancing Kecamatan Tanralili Kab Maros

MI Yaa Bunayya Hidayatullah Makassar Berpartisipasi pada Pelatihan KKMI

0

Makassar, HidayatullahMakassar.com — MI Yaa Bunayya Hidayatullah Makassar kembali berpartisipasi pada kegiatan pelatihan yang diselenggarakan
Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyyah (KKMI) Makasar di Aula Kementrian Agama, Senin (27/2/2023).

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Kelompok Kerja Pengawas (POKJAWAS) Dra Istiqomah, SPd MPdI dan Pengawas MI Kementrian Agama Kota Makassar, Ina Kusumawati, SPd MPd.

“Dalam rangka percepatan pemahaman tentang kurikulum merdeka perlu banyak pelatihan atau bimbingan, baik ditingkat KKM atau tinggkat K3M sehingga implementasinya di tahun 2024 bisa dilaksanakan secara serempak,” ujar Istiqomah.

Untuk standar operasional prosedur (SOP) Asesmen Madrasah Tahun Pelajaran 2022/2023 pelaksanaannya diserahkan pada hasil kesepakatan KKMI Kota Makassar

“Pemerintah memberi wewenang penuh kepada satuan pendidikan (madrasah) untuk menyelenggarakan ujian pada akhir jenjang pendidikan untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan bagi peserta didiknya,” ucapnya.

Selain itu, Pokjawas juga mendorong percepatan transformasi digital sekaligus peningkatan kualitas layanan. Aplikasi Madrasah smart ini terobosan baru yang aktual, semua yang bergabung di situ harus orang smart dan pintar,” harapnya.

Sementara itu, Ketua KKMI Kota Makassar Andi Harmiah Tannang SPdI MPdI mengapresiasi kepala-kepala Madrasah atas solidaritasnya sehingga komunitas KKMI masih terjaga dan terus maju.

“Alhamdulillah sudah kita sepakati di tingkat KKMI Kota Makasaar bahwa jadwal ujian Madrasah/ Assessment Madrasah untuk MI serentak pada tgl 8 – 13 Mei 2023 ujian tulis, tanggal 15 – 17 Mei 2023 ujian praktek, dan tanggal 18-20 mei 2023 ujian susulan,” Kata Andi Harmiah.(Edi Qays)

Hidayatullah Pangkep Utus Santri Ikuti DMU di KU Al Bayan, Hari Ini

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Pangkep mengutus 2 kader SMA untuk mengikuti Marhalah Ula (DMU) di Kampus Utama Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar, 1-4 Maret 2023.

Menurut Ketua DPD Hidayatullah Pangkep, Ust Karding SSos, Hidayatullah yang menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama (mainstream) gerakannya meniscayakan adanya kaderisasi yang terprogram.

“Lahimya kader yang mampu mewujudkan visi di atas sangat ditentukan oleh santri calon kader yang berkualitas yang akan menjadi penerus dakwah dan perjuangan Islam melalui Hidayatullah. Hal inilah menjadi alasan untuk kami utus santri,” jelasnya.

Dauroh Marhalah Ula (DMU) yang bertema “Melahirkan kader Hidayatullah yang Cerdas, Disiplin dan Militan”. Acara ini berlangsung selama 4 hari Rabu-Sabtu, 1-4 Maret 2023 di Kampus Utama (KU) Hidayatullah Makassar.

Ustadz Karding menyampaikan pentingnya mengikutkan kader di acara ini.

“Harapannya bagi kader yang diutus bisa mengikuti sampai selesai materi yang disampaikan. Jika satu sesi terlewatkan sungguh rugi. Karena materi yang disampaikan terkait dengan kelembagaan” tegasnya

Disamping itu, Karding menambah bahwa kegiatan Daurah Marhalah Ula ini dapat melahirkan kader-kader pelanjut estafeta perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Dauroh ini sangat penting khususnya bagi kita para kader penerus estafet perjuangan di lembaga Hidayatullah karena mau tidak mau kita akan menjadi seorang penerus perjuangan” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan marhalah ini menjadi motode perekrutan kader tangguh untuk melahirkan generasi Islam kaffah.

‘Dauroh hMarhalah Ula ini adalah tahapan pengajaran Hidayatullah dan ini akan mengantarkan untuk semakin kenal kepada Allah (ma’rifatullah). Juga akan mengantarkan kita menjadi seseorang yang ber-Islam secara kaffah (menyeluruh),” ujarnya.

Acara ini diikuti oleh peserta seluruh Indonesia kelas 3 SMA se-Hidayatullah. Sedangkan DMU untuk santri Hidayatullah Pangkep, Pucak, Tanralili dan Takalar dipusatkan di Hidayatullah Makassar.(rls/*)

Isma Bergabung, Izin Pondok Pun Terbit

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Pertama dan satu-satunya, Yayasan pondok pesantren Hidayatullah di Sulsel yang mengamanahkan seorang perempuan sebagai pengurus. Adalah Ismayanti Said SPd Humas Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep.

Ibu Isma sapaan kesehariannya diajak bergabung sejak 2020 sebagai pengurus di pondok pesantren Hidayatullah Pangkep sampai sekarang.

Ia sosok yang diamanahkan untuk mengurus perizinan pondok. Mulai dengan bersilaturahmi ke kantor kementrian agama kabupaten pangkep, untuk mengetahui persyaratan untuk memperoleh izin operasional pondok. Izin operasional ini sangat dibutuhkan.

Letak pondok pesantren Hidayatullah Pangkep yang berada di perkampungan pelosok yang sangat tertinggal infrastrukturnya tidak mematahkan semangat Bu Isma untuk mengurus izin operasional pondok.

Salah satu pegangannya untuk berjuang mendapatkan izin operasional pondok sebuah firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Quran 13:11)

Pada 21 Oktober 2022 bu Isma telah menyelesaikan 2 surat izin dalam waktu satu bulan pengurusan, izin DPD Hidayatullah Pangkep dan Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin yang terdaftar di Kesbangpol Pangkep.

Izin operasional pendaftaran pondok terbit 7 Januari 2023 yang diserahkan di kantor Kemenag Kabupaten Pangkep.

Tidak berhenti sampai di sini, ibu dari seorang santri Ponpes Hidayatullah Pangkep ini melakukan penyerahan tanah hibah di Balocci baru Senin 20 Juni 2022. Penyerahan dan penandatangan yang disaksikan oleh lurah setempat untuk dibangunkan Rumah Al-Qur’an dari tanah ibu Sariana.

“Alhamdulillah, sekarang sudah berdiri rumah Al-Qur’an pada tahap pengatapan selanjutnya tinggal menunggu pemasangan plafon, plesteran, pemasangan keramik dan pengecetan. Alhamdulillah dengan Kerjasama yang baik dan kekompakan dari pengurus akhirnya semua berjalan dengan lancar,” ujar Pimpinan Ponpes Hidayatullah Pangkep.(*)

Ketika Arus Putaran Menjadi Energi Inti

0

Oleh : Drs Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Kesempurnaan penciptaan alam ini mengajarkan kita sebagai manusia untuk senantiasa bergerak. Sehingga sebisa mungkin kita harus tetap bergerak. Tidak boleh menganggur, tidak boleh diam, tidak boleh menyerah.

Hakekat kehidupan adalah terus bergerak dan bergerak. Gerak dan perubahan adalah syarat tetap bisa diterimanya kita sebagai manusia yang senantiasa bermanfaat.

Gerak dan terus bergerak menjadi pemandangan menakjubkan saat menyaksikan dan lebih lagi merasakannya di Baitullah. Merasa diundang oleh Allah dan berkumpulah ribuan hingga jutaan manusia dari berbagai perjuru dunia.

Dalam perbedaan dari segi bahasa, bangsa, warna kulit, fisik dan karakter menyatu bergerak bersama mengelilingi Ka’bah dengan satu tujuan, beribadah kepada Allah dalam putaran ibadah tawaf.

Magnit spritual yang Menggelorakan

Pemaknaan putaran tawaf tidak sebagaimana pergerakan manusia umumnya. Karena tawaf adalah bagian dari pergerakan ibadah dalam rukun Haji dan Umroh.

Maka tawaf memiliki pemaknaan perputaran dalam pusaran Ka’bah, dalam fungsi sebagai arah garis lurus rukuk sujutnya (kiblat) umat Islam dari berbagai arah penjuru dunia

Kiblat dalam pusaran gerakan tawaf itu dimaknai sebagai titik fokus kekuatan spritual, kesatuan tauhid serta penghambaan manusia kepadaNya. Titik pusaran itulah yang memiliki magnet power besar yang mampu menarik emosi pecinta dan perindu surga.

Magnit itu tambah semakin kuat menyedot gelora jiwa dan batin tatkala telah melihat langsung dengan pandangan wujud nyata di hadapannya. Labbaillahumma laka labbaik, yas Allah ya Rabbi Tihan kami, kami telah memenuhi panggilanMu.

Terucap secara spontan kesadaran kehambaan. ‘segala kesyukurun dan segala puji padaMu Tuhan pengatur semesta Alam”.

Semakin bergetar jiwa, semakin berderai air mata. Sesak napas bahagia bergemuruh dalam diri. Betapa bangunan monumenal yang hanya terlihat dalam gambar, kini nampak di depan mata.

Bergerak dalam Pusaran Inti

Saat mulai bergerak berputar mengelilingi Ka’bah, terasa rindu dan cinta padaNya semakin memuncak. Dari lubuk kesadaran hakiki, semakin membangkitkan keyakinan yang kuat dan nyata, bahwa Allah itu kongkrit kebesaran dan kasih sayangNya. Labbaika laa syarika laka.labbaik, telah kupenuhi panggilanMu tiada syarikat bagimu.

Dalam putaran (tawaf), berdzikir dan memandang langsung Ka’bah (Baitullah). Saat tiba pada titik.yang menggetarkan gelora keimanan di sudut Ka’bah, dimana Hajar Aswad (batu hitam) terletakkan.

Semua mata jamaah tawaf memandang kearah batu itu, sambil membaca takbir, tasbih, tahmid dan pengakuan ke-Esaan Allah. Kepingin rasanya menggapainya tapi apa daya diri tak mampu.

Betapa titik fokus pada batu itu tidak hanya sebagai titik awal dan akhir ibadah tawaf. Tapi telah menjadi arus gerakan besar menjadi arus pusaran energi penghambaan manusia.kepda Rabnya yang sangat kuat dan terdahsyad.

Nampaklah suasana yang sangat mengharukan dan menakjubkan oleh mujahadah para ahlu ibadah Umroh dan Haji. Khususnya jamaah yang datang jauh-jauh dari tanah suci, datang dengan memburu target penomenal yang tidak semua sanggup melakukannya, mencium Hajar Aswad

Dahsyadnya energi batu itu membuat terjadi pergumulan di depan batu itu. Saling berebut, saling sikut, saling dorong. Badan kejepit, terdorong, terlempar kesana lemari, bahkan beresiko terinjak-injak, tak menyiutkan nyali untuk menggapainya.

Justru kengerian tantangan ternyata memicu andrenalin bagi yang bernyali tinggi, melakukan segala cara dan metode untuk menggapai target itu. Target yang mungkin ingin dicapai oleh seluruh jamaah yang beribadah ke Baitullah, ataupun umat Islam umumnya.

Keinginan yang tak Surut

Sepertinya belum lengkap rasanya ke baitullah kalau belum sempat mencium Hajar Aswad. Batu yang oleh Rasulullah sebagai batu yang turun dari surga.

Untunglah Rasulullah sangat bijak memahami konsisi yang akan terjadi pada umatnya sesudahnya. Dimana saat tawaf melewati garis Hajar Aswad tak mesti mencium bagi yang tak sanggup, cukup lambaian tangan dan dzikir tertentu sudah sama kemuliaannya dengan menciumnya.

Tanpa rasa penyesalan terucap doa ketika tawaf wada’ (tawaf perpisahan), semoga Allah Ta’ala mengabulkan agar beberapa saat ke depan dapat kembali ke Baitullah. Beribadah khusu’ d idepan Ka’bah, tak terkecuali berkesempatan dapat mencium Hajar Aswas. Amiin.

Wallahu A’lam Bishshowaf. (*)

Pesantren Pendidikan Terbaik Bentuk Akhlak Anak

0

Oleh : Ismayanti Said SPd, Humas Ponpes Hidayatullah Pangkep

HidayatullahSulsel.com — Saat pandemi Covid yang lalu menyerang, berbagai sektor termasuk pendidikan. Sekolah mengharuskan siswa belajar dari rumah secara online, semua guru dan siswa bingung. Sebab belajar online itu harus memiliki fasilitas yang komplit, HP android, jaringan internet, kuota internet yang semuanya wajib dimiliki siswa.

Disisi lain, HP android itu harganya mahal bagi masyarakat menengah ke bawah, ditambah lagi kuota internet dan juga signal yang belum merata di tiap daerah, lebih lagi di daerah pedalaman. Inilah masalah yang tidak diselesaikan dengan belajar secara online.

Selain tidak efektif, HP android rawan disalahkangunakan. Banyak siswa setelah punya HP android yang diusahakan oleh orang tuanya mati-matian, akhirnya jadi candu games, menjadikan android media untuk menonton film, YouTube, belum lagi iklan dan tontonan yang tidak mendidik dan akhirnya anak penerus bangsa, anak generasi kita rusak.

Ketika siswa belajar online, terkadang mengharuskan didampingi orang tua, padahal kan sebagian besar orangtua itu bekerja di luar rumah, untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga

Dengan adanya belajar online ini, pemasukan orangtua lebih terkuras lagi, sebab harus beli kuota internet anaknya, memikirkan jaringan internet yang tidak ada, belum lagi pemasukan semakin berkurang karena interaksi ekonomi dan bekerja yang terbatas.

Pada awal serangan pandemi, sektor sekolah menjadi percobaan penerapan berbagai metode agar sekolah tetap berjalan. Namun pada akhirnya orangtua pasrah, siswa tidak boleh masuk sekolah secara tatap muka. Belajar online atau dengan pembagian kelompok menjadi alternatif agar anak tetap bisa belajar, walaupun tidak efektif.

Pesantren Solusi Terbaik

Namun berbeda dengan pondok pesantren, belajar tatap muka selama pandemi berlangsung seperti biasa. Seperti tak ada pandemi, belajar full tanpa menjaga jarak, karena pada awal masuk di pondok pesantren semua siswa wajib test antigen atau test bebas Covid.

Sebab ini sebagai persyaratan wajib yang diberikan pemerintah kepada lembaga pondok pesantren, sebagai jaminan agar siswa tidak menyebarkan virus kepada yang lain.

Mungkin, salah satu alasan mengapa pondok pesantren bisa melaksanakan belajar tatap muka, sebab semua siswa tidak keluar pondok, juga guru-gurunya berada di dalam, sehingga interaksi dengan orang luar pondok terjaga. Meskipun tidak dipungkiri bahwa beberapa kejadian di pondok pesantren ada siswa dan guru yang terpapar Covid-19.

Paling tidak, yang pada saat itu masih berjalan secara normal di bidang pendidikan adalah di pondok pesantren. Di berbagai daerah pondok pesantren melaksanakan proses pembelajaran seperti biasa. Dan itu menjadi sebuah keunggulan di saat pandemi.
Ada nilai lebih yang ditawarkan oleh pondok pesantren kepada orangtua.

Ketika penerimaan siswa baru tahun 2021, banyak orang tua memilih anaknya masuk pondok. Alasannya sederhana “mereka ingin agar anaknya tetap belajar.” Sebab jika  belajar di rumah kebanyakan anak mereka main hp sampai lupa waktu.

Jika hari ini pandemi masih terus ada dan penyebarannya masih terus berlangsung, maka sektor pendidikan jika ingin berjalan normal yaitu dengan memindahkan strateginya, buat Boarding School.

Tapi terlalu mustahil, sebab banyak aturan yang mesti dilakukan jika sekolah biasa ingin menjadi Boarding School apalagi sekolah negeri.

Menuntut ilmu di sekolah biasa, madrasah, atau pesantren, mungkin terlihat sama saja. Namun, dalam mendidik akhlak anak, sebagian besar orang tua tidak ragu menitipkan anaknya ke pesantren untuk menuntut ilmu agama.

Dengan pertimbangan serta keuntungan mengirim anak ke pesantren untuk memperoleh Pendidikan adalah

1. Tekun Belajar Agama. Pola pendidikan khas pesantren memungkinkan anak mengetahui dan mempratikkan pelajaran agama dengan lebih baik. Mulai dari bangun hingga tidur lagi, seorang anak akan memperoleh tausiah, sholat berjamaah, dan selalu dekat dengan Al Quran, dan menghafal Al Qur’an.

2. Membentuk Akhlak Berkualitas. Menurut Hibana, pola pendidikan di pesantren sangat menjaga kualitas akhlak. Tak heran jika seorang santri sangat menghormati para guru dan pihak lain yang membantu proses pendidikannya.

Akhlak anak akan lebih terjaga karena itu yang dikuatkan dan ditekankan di pesantren. Contohnya seperti menghormati orang tua.

3. Mandiri Sejak Dini. Seorang santri akan tinggal dan belajar di asrama selama menempuh pendidikan. Dengan pola ini, santri akan belajar mandiri dan bekerja sama dengan teman-temannya. Kondisi ini berbeda dengan kehidupan anak di rumah, yang mungkin selalu dibantu orang tua dan pengasuhnya.

4. Tak Asing Dengan Tanggung Jawab. Keuntungan lainnya adalah membantu anak belajar tanggung jawab. Hidup mandiri memungkinkan anak menanggung sendiri dampak dari keputusan dan perbuatannya. Anak tentunya tak bisa minta bantuan orang tua atau pengasuhnya, selama proses pendidikan.

5. Dibawah Kepengasuhan 24 Jam. Anak-anak semua kegiatannya terkontrol oleh pengasuh dan itu 24 jam, Sholat wajib berjamaah nya terjaga, sholat sunah seperti sholat lail dan dhuha nya terjaga dan dilakukan secara jamaah, puasa Senin-kamis berjalan, jauh dari gadget, belajar teratur, makan teratur, tidur teratur dan disiplin.

6. lingkungan Ponpes Mendukung. ponpes Hidayatullah Pangkep misalnya, pondok ini terletak di bawah kaki gunung, nuansanya rapi, sejuk, jauh dari bisingan, sehingga banyak anak-anak yang sekolah di sini punya hafalan Al Qur’an yang banyak, karena lingkungannya mendukung, di bawah lingkungan Islamiah, ilmiah dan tentunya alamiah.

Pondok pesantren atau sekolah umum sejatinya memiliki risiko dan keuntungan dalam membantu pendidikan anak. Orangtua bisa mengambil keputusan apa pun selama tidak bertentangan dengan kebaikan anak di masa depan.(*)

Ust Amri, Dari Penjaga Toko kini Jaga dan Bina Santri Hidayatullah Pangkep

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Ustad Amri sosok dai kelahiran Bulukumba. Ia alumnus Pendidikan Agama Islam STAI Al Ghazali Bulukumba, 2018.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja di toko sembako milik keluarganya, selama dua tahun, hingga tahun 2020, sebelum mengenal seorang pemimpin pondok pesantren Hidayatullah setempat ustadz Suparman.

Ia bergabung mengabdi di Ponpes Hidayatullah Bulukumba yang terletak di Dusun Ujung Loe, Desa Padang Monro, Bulukumba. Di sinilah ia memulai mengabdikan diri untuk umat.

Di tahun yang sama ia menawarkan dirinya ke Pimpinan Ponpes Hidayatullah Bulukumba ustadz Suparman untuk ikut sebagai peserta nikah Mubarak di Pesantren Al Bayan kampus utama Hidayatullah Makassar.

Seusai pernikahan Mubarak tersebut, Amri mendapatkan penuhasan melalui SK lembaga Hidayatullah untuk
ditugaskan di cabang Hidayatullah Pangkep.

Sebelumnya ia tidak tahu dimana ia akan ditugaskan. Lalu pada 28 September 2020, Amri bersama istrinya Hajaratul Inayah menuju Ponpes Hidayatullah Pangkep.

Kurang lebih 1 Km masuk lokasi ponpes Hidayatullah Pangkep, jalannya masih rusak, “Butuh perbaikan dan perhatian dari pemerintah setempat,” tutur Amri ketika masuk di lokasi pesantren.

Namun keindahan alam pondok pesantren Hidayatullah Pangkep kemudian membuatnya jatuh hati hingga saat ini sebagai pengurus ponpes Hidayatullah Pangkep.(karding)

Pengurus BKPRMI Maros Berkunjung ke Pondok Tahfidz Darul Hijrah

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah Maros Ust Robianto menerima rombongan BKPRMI Maros di kantor Pondok Tahfidz Darul Hijrah Tanralili, Sabtu (25/2/2023).

Kunjungan pengurus BKPRMI Maros itu juga didampingi Staf Ahli Bupati Maros, Prayitno, dan menyerahkan donasi sembako kepada santri penghafal Al Quran, Hidayatullah Tanralili.

Prayitno dan pengurus BKPRMI Maros mengapresiasi dan mendukung gerakan wakaf yang dilaksanakan oleh DPD Hidayatullah Maros untuk membangun beberapa masjid di Maros.

Ketua DPD Hidaytullah Maros Ust Muhammad Kaisar berharap agar gerakan wakaf di masyarakat bisa massif utamanya Wakaf Al Quran.

*) Bagi yang ingin berwakaf Al Quran bisa menghubungi : ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros

Akbar Idris, Sosok Muda Setia Dampingi Perintisan Hidayatullah Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Setelah Akbar Idris lulus dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Ummul Qura’ Maros, tepatnya di Dusun Arra, Ia memutuskan untuk mencari kerja sambil menunggu surat keputusan pengabdian dari DPW Hidayatullah Sulsel.

Belum pekan setelah lulus, ia bekerja di sebuah warung makan yang berada di Pangkep. Namun baru satu bulan bekerja, surat keputusan pengabdian pun keluar, Akbar mendapatkan SK pengabdian di almamaternya.

Namun suatu kesempatan bertemu dengan teman daurah Sistiematika Wahyu, Abdullah, yang sedang mengedarkan proposal pembangunan Ponpes Hidayatullah Pangkep di Desa Mallangnge, Kecamatan Balocci Baru.

Lalu Abdullah mengajak Akbar untuk mengabdi bersama di Hidayatullah Pangkep, karena pondok ini membutuhan tenaga baru, Akbar merasa terpanggil untuk mengapdi disini, lalu memantapkan hatinya.

Pada pertengahan Agustus 2019, Ia beranjak ke Hidayatullah Pangkep untuk tugas pengabdian, dijemput oleh Abdullah di monumen Bambu Runcing Pangkajene.

Tiba di Desa mMallangnge menuju lokasi pesantren, Akbar melihat jalan yang ekstrim terjal, belum teraspal, hanya menggunakan batu-batu kecil untuk landasan ban motor juga. Sesampainya di lokasi pondok, Ia langsung bertemu dengan pemimpin pondok, Ust Karding SSos, dan pengurus lainnya.

Selain bertemu dengan pengurus pondok, Ia juga bertemu dengan santri yang masih berjumlah dua orang, yaitu Fajar dengan Alif yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD).

Pertema kali Ia tugas di pondok Hidayatullah Pangkep, baru ada beberapa bangunan, yaitu satu rumah yang masih proses pengerjaan, satu bangunan yang mempunyai dua kamar, masjid dalam tahap pembangunan dan tempat shalat bekas kandang sapi, dan satu rumah panggung.

Akbar tinggal di rumah panggung pemilik sepasang suami istri yaitu Daeng Toa dengan ibu Ani. Daeng Toa dengan ibu Anilah yang merawat dan menjaga tanah ini sebelum diwakafkan ke pondok Hidayatullah.

Akbar diamanahkan mencari donatur untuk pembangunan pondok dan mengajar anak TK TPA yang biasanya datang ke pondok ini. Akbar pempunyai dua tempat mengajar yaitu anak TK TPA di masjid yang ada di Balocci dan mesjid di kampung Bodong mengajar setelah magrib.

Pengabdian Akbar di Hidayatullah Pangkep sebenarnya tak sesuai SK, namun kemudian diizinkan setelah dikomunikasikan dengan pihak DPW.

Kurang lebih satu tahun Akbar mengapdi di Hidayatullah Pangkep, pondok mengalami perkembangan. Mulai dari pembangun asrama, menyelesaikan pembangunan masjid, dan pembangunan dapur, dan banyak santri yang dikirim ke Hidayatullah pangkep untuk membantu membangun pesantren.

Tepat pada Juli 2020, Akbar telah menyelesaikan tugas pengabdiannya dan lanjut studi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.(kar)