Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Tak terasa beberapa hari lagi Ramadhan akan datang. Beberapa persiapan dari masyarakat dilakukan untuk menyambut kedatangan bulan yang didalamnya menjanjikan berbagai kemuliaan dan kemenangan
Sikap mental kedatangan Ramadhan masyarakat itu sesuai pemahaman yang dimilikinya. Pemahaman itu menimbulkan persepsi dan orentasi pada kaum muslimin
Persepsi itulah yang membentuk penyikapan Ramadhan, dan bagaimana cara menyambutnya. Berikut ini beberapa sikap masyarakat menyambut Ramadhan :
Pertama, ada masyarakat yang menyambut kedatangan Ramadhan sebagai beban. Baginya Ramadhan adalah bulan yang akan melarang kebiasaannya selama ini, seperti tidak boleh makan siang hari.
Sementara dia merasa tidak mungkin melakukan aktifitas kehidupan keseharian tanpa makan. Bahkan ada yang berprinsip hidup ini kan untuk makan.
Termasuk dilarang pula berhubungan suami-isteri, menambah beban atas kebutuhan kebiasaan dalam kesehariannya
Kalaupun dia berpuasa, dia bersusah payah melakukannya. Waktu siang begitu panjang, setiap saat dia lihat jam, kapan yah Maghrib segera tiba, dan sering ke dapur menanyakan menu apa buka puasanya.
Tiba saatnya berbuka, disantapnya dengan semangat semua hidangan di depannya. Seperti balas ‘dendam’ dengan berlapar-lapar oleh perintah berpuasa
Biasanya pelaksanaan puasa seperti ini adalah puasanya anak-anak di bawah umur yang baru belajar berpuasa.
Atau pada muslimin dewasa yang memahami puasa sebagai beban hidup dan pada aspek dilarang saja, seperti makan dan berhubungan suami-isteri. Bukan pada esensi dan kemuliaan Ramadhan.
Kedua adalah mempersepsikan Ramadhan hanya sebagai perintah atau ibadah wajib untuk berpuasa, sebagaimana ibadah wajib lainnya. Orang yang seperti ini masih lebih baik dari yang pertama di atas.
Sebagai ibadah wajib, semua hal yang diperintahkan baik wajib maupun sunnah dilakukannya dengan baik serta semua terlarang juga berupaya ditinggalkannya
Namun hanya itu sebatas kepatuhan melaksanakan suatu kewajiban, seperti tidak makan dan minim serta kepatuhkan tidak melakukan yang dilarangNya.
Diisinya waktu kesehariannya dengan hal yang mampu menghabiskan waktu kewajiban berpuasa, ditambah lagi dengan tidur yang panjang di siang hari. Atau melakukan permainan tertentu yang mengisisi waktu kosongnya yang terasa panjang.
Sikap mental ini tergolong berpuasa rugi bahkan sia-sia, sebagaimana dalam Hadis Rasulullah SAW “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa banyak orang yang berpuasa, tapi puasanya sia-sia karena hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Dia menganggap sama saja puasa dan tidak puasa, hanya menahan diri dari pembatal-pembatal puasa saja (makan dan minum).
Ketiga menyambut Ramadhan sebagai bulan ‘berkah’ dalam pemahanan lain yakni melimpahnya rezeki.
Dipersiapkan segala sesuatu yang bisa mendatangkan nilai ‘rupiah’. Bersamaan dengan itu sebagian masyarakat juga selama Ramadhan semakin meningkat pola hidup konsumtifnya.
Banyaknya aneka macam makananan buka puasa yang tersaji laris manis, Demikian halnya keinginan memiliki pakaian terbaik di Idul Fitri yang meramaikan berbagai tempat penjualan.
Hal ini semakin menstimulasi semangat bisnis bagi kalangan pedagang.
Ada dalil yang memotivasi, bahwa menyergap peluang usaha adalah hal baik, sebagaimana profesinya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai bisnisman.
Tapi kalau Ramadhan hanya semarak dengan meningkatnya perputaran ekonomi, ini lah yang memaknai Ramadhan dengan semarak pada hal-hal material saja
Pemahaman ini dibenarkan manakala lebih mengutamakan dan fokus beribadah dan dzikir terlebih dahulu setelah itu mengatur waktu untuk mencari nafkah atau berbelanja untuk keperluan keperluan sehari-hari, termasuk buka dan sahur.
Kelompok ini adalah menjadikan Ramadhan sebagai bulan melimpahnya rezeki, baik penjual maupun pembeli.
Karena itu saja orientasinya, selepas Ramadhan yang didapat adalah sesuai orientasi utamanya yakni bertambahnya omset bisnis yang tidak menjamin bertambah dan membekasnya iman
Sedangkan keempat adalah yang bergembira atas kedatangan Ramdhan dengan berbagai amalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Sebagaimana motivasi Rasulullah dalam hadisnya “Barang siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”.
Mereka memaknai Ramadan dengan suka cita, membentuk kepanitiaan khusus layanan bagi kesuksesan berbagai amaliyah Ramadhan.
Menyambut kedatangan Ramadhan dengan selalu melakukan banyak kebaikan, Sebagaimana Rasulullah dan sahabatnya melakukannya terlebih lagi di bulan Sya’ban
Memperbanyak ilmu tentang Ramadhan adalah langkah awal dan penting agar kita menempatkan kegembiraan sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ.
Untuk lebih maksimalkannya ada dengan melakukan tarhib yaitu penyambutan kedatangan Ramadhan dengan penjelasan lengkap tentang Ramadhan. Targhib biasanya dilakukan berupa mengadakan pengajian umum di maksud atau secara hybrid (offline dan online)
Selanjutnya melakukan amalan sunnah sebagaiman yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan sahabatnya seperti memperbanyak puasa Sya’ban dan mengodho’ atau membayar hutang puasa sebelumnya.
Membiasakan diri melaksanakan qilamullali atau sholat tahajud berjamaah di masjid atau di rumah. Serta memperbanyak membaca Alquran.
Dan tak lupa berdoa semoga dipertemukan dengan Ramadhan
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً
Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264).
Wallahu A’lam Bishshowaf. (*)
Ramadhan Segera Datang, Begini Sikap Menyambutnya
Sambut Ramadhan, Yayasan Al Fath Hidayatullah Panyula Bone Tarhib Ramadhan dan Silaturahmi Wali Santri
Bone, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Al Fath Hidayatullah Panyula, Bone melaksanakan kegiatan Tarhib Ramadhan dan Silaturahmi Wali Santri, Sabtu 11 Syaban 144H (4/3/2023).
Kegiatan dikemas berupa pengajian dan silaturahmi wali santri Hidayatullah Panyula Bone berlangsung meriah. Diawali parade smaphore santri MA dengan iringan mars pandu Hidayatullah dan penampilan santri TK Yaa Bunayya Hidayatullah Panyula Bone mempraktekan gerakan shlolat yang tertib dan bacaan sholat yang fasih.
Hadir lebih dari seratus orangtua dan wali santri serta guru sekolah di bawah naungan Yayasan Al Fath Hidayatullah Watampone, mulai dari jenjang TK hingga MA.
Pengajian Tarhib Ramadhan dibawakan Trainer Life Revolution Ust Bahtiar Aras SSos bertajuk “Mengokohkan Cinta Kunci Sukses Ibadah Ramadhan.”
Ia menekankan bahwa cinta dan kasih sayang dalam keluarga hanya bisa diraih dengan landasan cinta kepada Allah yang terpatri kuat dalam setiap anggota keluarga, khususnya sosok ayah dan ibu yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.
Hal senada diutarakan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Drs Nasri Bohari MPd dalam sambutannya.
Ia menegaskan “Mendidik itu harus sepenuh jiwa dan totalitas dalam mencintai, mendoakan dan memberi contoh keteladanan, sehingga bisa mencetak generasi unggul yang berkarakter Qur’an.” (Dwi Fii Amanillah)
Hidayatullah Torut Silaturahmi dengan Danramil 1414/04. Sinergi Bina Ummat
Torut, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara(Torut) terus bergerak memperkenalkan Hidayatullah kepada masyarakat.
Ketua DPD Hidayatullah Torut, Ust Ikhsan Saleh bersilaturahmi dengan jajaran pimpinan Koramil 1414/04 Sesean, Torut di Masjid Husain Mu’min, usai shalat Jumat, (3/3/2023).
Ust Ikhsan diterima langsung Danramil Kapten Inf Jamaluddin. Turut hadir dalam silaturahim tersebut Imam Masjid Husain Mu’min, H Said Ibrahim dan beberapa anggota TNI dari Koramil 1414/04 sesean .
Kapten Inf Jamaluddin mengapresiasi kehadiran dai-dai dari Hidayatullah. “Kalau ada permasalahan di tempat ta, segera infokan pak ustadz. Kita bersama-sama bina masyarakat,” katanya dengan senyum yang ramah.
Dai Hidayatullah Torut saat ini melaksanakan sejumlah program dakwah dan tarbiyah bagi mualaf. “Untuk itu kami mengajak ummat yang ingin membantu program dakwah Hidayatullah Torut melalui BRI rek 4941 01 033538 53 7 DPD Hidayatullah Toraja Utara,” tambah Ust Ikhsan.(rls/*)
Oleholeh Terbaik dari Tanah Suci
Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Telah menjadi kebiasaan saat kita melihat orang pulang Umroh atau Haji, membawa oleholeh. Karena dianggapnya oleholeh dari Tanah Suci ada keberkahaannya, seperti air Zamzam, kurma, parfum dan lainnya.
Bahkan terkadang juga sebelum berangkat telah banyak pesanan oleholeh. Membuat kepikiran bagi jamaah untuk memberi kebahagiaan tersendiri sepulang dari umroh kepada keluarga dan kerabat terdekat.
Kebiasaan memberi oleh-oleh dari Tanah Suci ternyata dianjurkan oleh ulama. Kecuali yang terlarang dibawa seperti batu, tanah, potongan kain kiswah (kain penutup Ka’bah) dan benda lainnya yang bertujuan untuk kepentingan magis atau unsur spiritual lain. Maka hal tersebut oleh jumhur ulama dilarang.
Disamping itu oleholeh tidak boleh berlebihan, sehingga dapat mengganggu pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, serta tidak boleh memaksakan khususnya bagi jama’ah yang terbatas keuangannya. Juga agar tidak menjadi masalah saat proses pemberangkatan di bandara.
Adapun fadhilah oleholeh menurut Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani adalah “Dianjurkan untuk memberikan hadiah (oleholeh haji), karena dapat menyatukan hati dan menghilangkan dendam dan permusuhan.”
Demikian halnya setiap saat dalam kehidupan kita dianjurkan untuk saling memberikan hadiah, sebagaimana anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Al-Adabul Mufrad no.594)
Lebih lanjut Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani mengungkapkan tentang hadiah, “Saling memberikan hadiah di antara manusia satu sama lainnya akan menimbulkan hubungan (hangat) dalam hati mereka.”
Etika Memberi dan Menerima Oleholeh
Orang terbaik dalam memberi hadiah adalah ketika yang diberikannya adalah yang terbaik. Walau ini kadang sungguh berat, dan hadiah yang diberikan kepada orang lain hanya sekadarnya.
Begitulah umumnya manusia yang sukanya hanya menerima hadiah, kalau perlu meminta hadiah. Dan bahkan terdapat sebagian orang tidak gemar memberi hadiah yang terbaik kepada orang lain.
Sedangkan akhlaqnya menerima hadiah, termasuk menerima oleholeh adalah menerimanya dengan senang hati apapun hadiah yang diterimanya.
Kalaupun hadiahnya tidak terlalu menarik dan kita tidak membutuhkannya berupayalah untuk tidak menampakkan rasa tidak berkenan di depan pemberi hadiah. Ini demi untuk turut membahagiakan dan menjaga perasaan dari pemberi hadiah itu.
Ketika mendapatkan hadiah atau oleholeh, sebaiknya ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih kepada pemberi hadiah. Serta lebih afdal lagi dengan mendoakan kebaikan, kesehatan dan keberkahan rezeki kepada pemberi hadiah atau oleholeh.
Oleholeh Terbaik adalah Doa
Tapi tahukah kita apakah oleholeh terbaik itu?. Sesungguhnya oleh-oleh terbaik adalah DOA. Oleh karenanya, kerap kali ada yang lebih cerdas meminta oleholeh kepada jama’ah Haji atau Umroh untuk mendoakankanya baik di Baitullah khususnya saat tawaf ataupun di Masjid Nabawi di Raudah bagi yang mampu memasukinya.
Doanya orang-orang yang sedang Umroh dan Haji, termasuk yang telah pulang Haji dan Umroh itu mustajabah selagi mereka tidak bermaksiat kepada Allah.
Boleh saja meminta kepadanya untuk didoakan agar hidup kita penuh berkah, usaha kita yang tidak pernah merugi serta kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang beribadah haji, dan orang yang sedang umrah adalah tamu kehormatan Allah. Allah memanggil mereka, kemudian mereka memenuhi panggilan itu. Sehingga jika mereka memohon kepada Allah, maka Allah akan memberinya” (HR. Ibnu Majah).
Oleholeh doa adalah yang terbaik di antara semua oleholeh. Karena doa akan membuka hijab hamba dengan Tuhannya. Ketika terbuka hijabNya permintaannya dikabulkan, sebagaimana janjiNya “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Gafir: 60).
Saling memberi, berupa doa antara sesama orang beriman, apalagi yang didoakan tidak mengetahui bahwa dia telah didoakan, akan mendapatkan kebaikan. Kebaikan bagi yang mendoakan serta kebaikan kepada yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912). Wallahu A’lam Bishshowaf.(*)
Menegakkan Pilar Jamaah dengan Baiah
▪️Oleh : KH Abdul Majid MA, Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Istilah bai’ah telah dikenal sejak masa silam, bahkan sebelum Islam. Masyarakat memberikan baiatnya kepada masing-masing kepala kabilah mereka. Mentaati setiap perintah dan larangan pimpinan kabilah
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) diutus, setiap orang yang masuk islam, membaiat beliau. Mereka berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada semua aturan beliau dan juga berbaiat untuk melindungi beliau
Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqadimah menyatakan,
البيعة هي العهد على الطاعة، كأن المبايع يعاهد أميره على أنه يسلم له النظر في أمر نفسه وأمور المسلمين، لا ينازغه في شيء من ذلك، ويطيعه فيما يكلفه به من الأمر على المنشط والمكره
”Bai’ah adalah janji untuk taat. Seolah orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijakan terkait urusan dirinya dan urusan kaum muslimin. Tanpa sedikitpun berkeinginan menentangnya. Serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.” (Mukadimah Ibnu Khaldun, 1/108).
Bai’ah merupakan suatu amal Islami yang telah diterapkan oleh Rasulullah SAW sejak awal perjalanan daKwah di Kota Makkah sampai beliau di Madinah.
Dan bai’ah ini selalu dilakukan oleh Rasulullah terhadap kaum muslimin dalam kasus yang berbeda-beda. Jenis- jenis baiah itu dapat dikelompokkan dalam beberapa macam, antara lain:
1. Bai’ah iman, Yaitu bai’ah yang dilakukan oleh seorang ketika ia pertama kali masuk ke dalam agama Islam.
“Isi bai’ah tersebut adalah kalimah syahadat, yaitu pengakuan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan pengakuan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah “
Bai’ah syahadat merupakan sebuah pernyataan bahwa sejak kalimat tersebut diucapkan, ia telah menjadi muslim.
2. Bai’ah amal, Yaitu ba’iah yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan atau meninggalkan amal-amal tertentu yang disyari’atkan oleh Allah.
“Seperti bai’ah untuk untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depan maupun di belakang, tidak menolak untuk berbuat kebaikan”.
Juga bai’ah untuk saling menolong, berhijrah, untuk memberi nasehat sesama muslim, bai’ah untuk tidak meratapi orang mati.
“Termasuk dalam kelompok bai’ah amal ini juga: bai’ah untuk beramar ma’ruf nahi munkar, bai’ah untuk mengutamakan urusan jama’ah dan sejenisnya “
3. Bai’ah jihad, yaitu bai’ah yang dilakukan oleh kaum muslimin untuk berjihad/berjuang di jalan Allah, siap membela Allah dan Rasulnya, menegakkan Islam, mempertahankan kemulyaan kaum muslimin sampai titik darah penghabisan.
Bai’ah seperti ini sebagaimana yang kita dapati pada peristiwa Bai’atu Ridlwan
4. Bai’ah Kepemimpinan, yaitu bai’ah yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam pengangkatan seorang pemimpin.
Bai’ah ini dilakukan dalam pengangkatan pemimpin sesudah Rasulullah: Khulafaur Rasyidin, Umayah, Abbasyiyah dan Ustmaniyah.
Jenis Bai’ah antara pemimpin dan anggota seperti dalam sejarah di atas, hendaknya dikuatkan oleh siapa saja yang sedang mengemban amanah, sesuai dengan tingkatannya
Dengan menjaga dan menguatkan bai’ah tersebut berarti telah menegakkan pilar- pilar jamaah Dalam kehidupan berjama’ah kita ummat islam akan menemukan berapa jenis bai’at baik pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maupun para sahabatnya. (Edi Qays)
*) Disarikan dari tausiyah pada halaqah wustha Ali bin Abu Thalib
Pengabdian Mahasantri STAI Al Bayan di MI Yaa Bunayya Laksanakan Program Sudut Literasi
Makassar, HidayatullahSulsel.com — Mahasantri Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidayyah (PGMI) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di MI Terpadu Yaa Bunayya Hidayatullah Makassar.
Salah satu kegiatan pengamalan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan berupa ‘Sudut Literasi Baca’ oleh dua mahasantri Prodi PGMI Karmila Sari dan Salsabielah Al Qaromah.
Tahap awal pengembangan Sudut Literasi melalui melalui sosialisasi dan pemaparan mengenai pengertian Ilmu, waktu tepat untuk membaca, macam macam buku menarik, fungsi ilmu pengetahuan bagi keberlangsungan hidup, dan tujuan dari sudut literasi baca.

“Alhamdulillah ini adalah salah satu program kami, kami berharap peserta didik bisa cinta membaca bermula dari one day one paragraph. Kami perhatikan kelihatannya para siswa sangat antusias dengan sudut literasi ini,“ ujar Karmila Sari.
Juga dilaksanakan praktek simulasi di ruang Sudut Literasi Baca MI Yaa Bunayya. “Kami lebih alokasikan waktu para siswa pada action literasi baca, mengingat jumlah siswa banyak dengan usia berbeda beda, dengan itu harus dibimbing,“ tambah Salsabielah.
Kepala MI Terpadu Yaa Bunayya, Edi Qays SE MM memberikan apresiasi atas kreatifitas yang sedang digalakkan mahasantri STAI Al Bayan.
“Semoga berawal dari sudut literasi baca Yaa Bunayya ini, anak didik bisa cinta terhadap ilmu,“ katanya.
Program Pengabdian Masyarakat mahasantri STAI Al Bayan di MI Terpadu Yaa Bunayya akan berlansung dari 6 Februari hingga 29 April 2023.(rls/*)
Pondok Tahfidz Hidayatullah Tanralili Terima Wakaf Lahan dari Aktivis Muhamadiyah
Maros, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Pondok Tahfidz Darul Hijrah Hidayatullah Tanralili melakukan pertemuan dengan KUA Tanralili untuk pengurusan tanah wakaf yang berlokasi di Dusun Baku Desa Lekopancing, Tanralili, Maros, Kamis (2/3/2023).
Lahan yang diwakafkan ke Pondok Darul Hijrah seluas 2.500 meter persegi dari seorang tokoh aktivis Muhammadiyah Makassar. Saat bertugas di Papua sangat tertarik mendengar ceramah Ust Ismail Kalosi yang merupakan Dai Tangguh Hidayatullah yang pernah bertugas di Papua dan sekarang bertugas di Enrekang.
Pihak KUA Tanralili berharap kepada pengurus pondok Darul Hijrah mempercepat proses pengurusan karena banyak tanah wakaf yang bermasalah dengan kenaikan harga tanah.
Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar berharap agar gerakan wakaf di masyarakat bisa massif utamanya Wakaf melalui uang.
DPD Hidayatullah Maros terus mengedukasi masyarakat dalam memberi pemahaman tentang wakaf langsung dan produktif.(rls)
*) Bagi yang ingin berwakaf bisa menghubungi : ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros
Optimalkan Dakwah, Hidayatullah Torut Rintis Penerbitan Izin di Kesbangpol
Torut, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara (Torut) melakukan kunjungan ke kantor Kesbangpol dalam rangka pengurusan pendaftaran izin ormas DPD, Rabu (1/3/2023).
Ketua DPD Hidayatullah Torut Ust Iksan Saleh menjelaskan pada kesempatan itu pihaknya dijelaskan mekanisme dan syarat perizinan untuk ormas di Torut.
“Kunjungan ini, dilakukan untuk silaturahmi kepada Kesbangpol bahwa Organisasi Hidayatullah hadir di Torut, dan sekaligus untuk menanyakan syarat-syarat apa yang perlu dilengkapi dalam pengurus tersebut, ” jelasnya.
Kunjungan diterima Kasubid Ormas Kesbangpol Torut, Alexander Bara SSos. Ia menyambut baik kehadiran dai-dai Hidayatullah di wilayahnya.
Dia menyampaikan untuk mendapatkan SKT ormas yang berbadan hukum maka harus melengkapi semua syarat seperti akta pendirian yang dikeluarkan oleh notaris yang memuat AD/ART, program kerja, sumber pendanaan.
Juga diminta melengkapi surat keterangan domisili, nomor pokok wajib pajak atas nama perkumpulan, surat pernyataan tidak sedang dalam sengketa kepengurusan atau dalam perkara di pengadilan.
“Jika persyaratan itu semua dilengkapi, kami akan turunkan tim survai dalam proses verifikasi untuk mendapatkan SKT Ormas,” jelasnya. (kar)
DPD Hidayatullah Palopo Gencarkan Silaturahmi Tokoh Masyarakat
Palopo, HidayatullahSulsel.com — Pengurus DPD Hidayatullah Palopo konsisten melakukan kunjungan silaturahmi kepada tokoh masyarakat setempat.
Ketua DPD Hidayatullah Palopo Ust Burhanuddin melakukan silaturrahmi kepada tokoh masyarakat Kota Palopo Andi Baso Ilyas, Selasa (28/2/2023) lalu.
“Kami menghargai keberadaan dan program dakwah Hidayatullah di Palopo, semoga menjadi kebaikan bersama,” harap Andi Baso.
Menandai kunjungan tersebut Ust Burhanuddin menyerahkan Majalah Suara Hidayatullah edisi terbaru untuk mendekatkan manhaj dakwah dan tarbiyah Hidayatullah kepada para tokoh,
“Majalah Suara Hidayatullah diadikan sarana silaturrahmi pengurus kepada para donatur dan masyarakat dan yang siap membantu biaya percetakan setiap bulannya,” jelas Ust Burhanuddin.(karding)
Umrahlah, Tak Perlu Menunggu Kaya
Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Sebagian besar masyarakat mungkin menganggap bahwa hanya orang kayalah yang bisa beribadah Umroh. Sangat beralasan, mengingat biaya Umroh sekarang sangat tinggi, sepertinya hanya orang kayalah yang bisa melaksanakannya.
Bahkan terdapat sekelompok orang kaya yang berumroh tidak hanya dia sendiri, ada yang bersama Isterinya dan kelurga besarnya. Ada juga yang berkemampuan lebih dan dermawan bisa mengumrohkan orang lain.
Termasuk bisa mengumrohkan orang berperan dalam bidang keagamaan, seperti Imam masjid, guru ngaji, aktivis dakwah serta siapa saja yang berperan banyak di masyarakat,
Sebagai orang yang diumrohkan oleh organisasi (DPP Hidayatullah), saya mungkin termasuk dalam kategori diumrohkan karena sebagai aktivis dakwah. Tentu sangat bersyukur mendapatkan kehormatan pergiliran hadiah Umroh tahun ini
Saat di tanah suci selain saya memfokuskan diri memaksimalkan beribadah, ketika bertemu dengan jama’ah dari tanah air selalu saya sempatkan mengobrol.
Di antara obrolan yang selalu saya tanyakan ke mereka adalah sesuatu yang sebenarnya agak sensitif. Seperti berapa biaya yang dia keluarkan ataukah siapa saja yang biayai perjalanan umrohnya, biaya sendiri atau dari orang lain.
Jawabannya cukup variatif, ada yang dengan biaya sandiri, bahkan ada beberapa yang mampu membiaya beberapa orang keluarga dan kerabat serta yang lainnya .
Tidak Mampu, Umrohlah
Yang menarik kita diskusikan di sini adalah bagaimana seseorang bisa umroh padahal dia bukan tergolong orang berkecukupan dari segi materi.
Rahasianya adalah berkat kesungguhannya dengan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan mimpinya untuk bisa tawaf di Baitullah dan berziarah ke Masjid Nabawi.
Hal lain selain senantiasa berdoa kepada Allah kiranya segera dikabulkan untuk segera bisa Umroh.
Juga dengan upaya menyisihkan serta menabung setiap bulan atau tiap hari sedikit demi sedikit dari penghasilannya yang pas-pasan. Hingga saatnya dianggap cukup, lalu dia pun berangkat Umroh.
Ada pula karenai kapasitas keilmuan mampu membimbing dan mendampingi, jamaah umroh, sehingga dia mendapatkan amanah menjadi pembimbing atau petugas khusus jama’ah Umroh.
Ataukah karena mendapat hadiah Umroh dari muhsinin, dan dari tempat dia bekerja. Serta sebagai hadiah diberikan kepada aktivis dakwah, Imam masjid, guru ngaji, karyawan terbaik atau yang dianggap layak dan berhak mendapatkannya
Terdapat realitas paradiksal, dimana kadang terjadi bahwa Idealnya untuk berangkat Umroh itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dan itu tentunya hanya mampu dilakukan oleh yang berpenghasilan menengah ke atas.
Kenyataannya bukanlah persoalan kemampuan materilah sebagai faktor penentu. Umroh itu adalah persoalan takdir dan panggilan dari Allah. Diperuntukkannya kepada yang berkesadaran keimanan tentang urgensi dan keutamaan umroh itu.
Kesadaran bahwa umroh akan memposisikan menjadi manusia suci atas terhapusnya dosa-dosanya serta janji balasan surga baginya.
Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)
Disinilah peran ilmu yang akan mampu membangun kesadaran itu, baik kepada yang kaya ataupun yang miskin. Termasuk mampu memotivasi bagi yang berkemampuan materi menjadi orang terdepan menyambut panggilan Allah ke Baitullah.
Sebagaimana halnya bagi yang secara materi tidak sanggup, namun karena kesadaran ketauhidannya disertai dengan mujahadah dan munajah, mangundang takdirNya. Sehingga mendapatkan panggilan dari Allah Ta’ala untuk umrah ke Baitullah.
Umrohlah, nNscaya akan Kaya
Siapa berniat dan telah melaksanakan umroh niscaya dia akan dikayakan oleh Allah. Sebagaiman yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387)
Kaya dalam pengertian hadis di atas bukanlah orang yang memiliki harta dan uang yang banyak di bank, punya mobil mewah dan rumah mewah dan semacamnya.
Kaya yang dimaksud adalah bermentalitas dan sehat fikirannya. Berkemampuan mengelola hati dan jiwanya untuk tunduk dan patuh pada perintahNya dari mampu mengistighfarkan segala dosa-dosanya. Dialah berkeyakinan yang kuat bahwa Allah itu Maha Kaya.
Mentalitas dan kesehatan batin menjadikan Allah mengkayakannya, baik yang memang memiliki kekayaan atau pun yang miskin secara materi. Disebabkan hatinya pandai bersyukur dan merasa cukup apa yang dimilikinya.
Hal ini sesuai dengan yang didefinisikan oleh Rasulullah SAW tentang makna sebuah kekayaan. Sebagaimana terungkap dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan itu bukan soal keberlimpahan harta benda dunia, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa”
Jiwanya kaya karena terus berdoa dan berprasangka baik pada Allah bahwa ketika saatnya Allah berkehendak memanggilnya ke Baitullah, maka tidak ada mampu menghalangiNya
Jiwanya kaya karena harta yang diamanahkan kepadanya baik banyak ataupun sedikit dia kelola dan dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Termasuk dslam hal ini adalah memprogramkanya untuk berangkat Umroh
Dan jiwanya kaya, karena ketika dia telah berazzam dirinya untuk meleburkan seluruh hidupnya didedikasikan hanya untuk kemaslahatan ummat dan untuk dinul Islam, Integritas perjuangannya niscaya akan diberi ganjaran tak terrhingga, termasuk dipanggil oleh Allah ke Baitullah.
Allah akan kayakan pula dengan kekayaan tak terhingga karena konsistensi dan kesabaranya dalam mengurus agamaNya (QS 72:10). Serta dihibahkannya segala waktunya hanya untuk kebermanfaatan umat tanpa mengharapkan sesuatu selain kepada Allah semata (QS.73;6)
Waallahu A’lam Bishshowaf. (*)











