Beranda blog Halaman 65

RQH Istiqomah Parepare Berbagi

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaan dan juga menggambarkan banyak uswah (keteladanan) kaum muslimin dalam beramal sholeh, salah satunya berbagi kepada mereka yang sedang berpuasa.

Hal ini pun yang menjadi spirit dari ibu-ibu Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Istiqomah binaan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Parepare. Bahwa salah satu keutamaan bulan suci Ramadhan adalah dilipatgandakannya amalan maka perlu disambut dengan baik.

Ketua RQH Istiqomah Parepare, Hj Eni Ariani Rahim, mengungkapkan, begitu semangat untuk meningkatkan kebaikan di Ramadhan kali ini khususnya bisa berbagi kepada sesama.

“Berbagi itu bisa setiap saat, tetapi karena ini bulan Ramadhan, bulan mulia yang mana setiap kebaikan apapun yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhana wa Ta’ala, dan ini sudah diniatkan jauh-jauh hari sebelumnya,” terang Hj Eni.

Kegiatan berbagi RQH Istiqomah dilaksanakan Ahad, 4 Ramadhan 1444 H (26/03/2023), berbagi 150 paket makanan untuk berbuka puasa kepada santri penghafal Qur’an di Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare.

Ternyata dibalik semangat berbagi mereka memiliki cerita tersendiri dalam mempersiapkannya sebab sudah diniatkan jauh-juah hari sebelum Ramadhan.

“Awalnya saat kami rapat bersama pengurus Masjid Al Latif, saat itu dinyatakan bahwa kas masjid minus. Akhirnya saya pun berembuk dengan teman. Bagaimana jika mengadakan bazar (pengalaman saat mahasiswa, apabila mencari dana kegiatan yaitu lewat bazar),” ungkap Hj. Eni.

Pada kesempatan lain Penanggung Jawab Program Sedekah Jum’at menyampaikan bahwa, “Ibu-ibu RQH Istiqomah ini selalu ikut andil dan bersinergi dalam program Sedekah Jum’at (Semat) Mushida yang terlaksana sekali dalam sebulan,” terang Ketua Departemen Sosial PD Mushida Parepare, Elly Kasim.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur setiap kali ada ajakan untuk berbagi (Semat), maka ibu-ibu RQH Istiqomah ini selalu menyambut baik dan menyedekahkan sebagian hartanya untuk dikelola dan dibagikan kepada orang lain, semoga terus berlanjut dan menjadi bagian amalan kebaikan yang tidak terputus,” jelasnya.(Sahlah al-Ghumaishaa’)

Cukup Wakaf Rp 50 Ribu Bisa Bangun Masjid Tiap Bulan

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar memproyeksi jika masyarakat Maros berkomitmen mewakafkah Rp 50 ribu per bulan maka bisa membangun masjid tiap bulan.

Hal ini disampaikannya pada sosialisasi zakat infak shadaqah dan wakaf di Masjid Nurul Muflihun Mincongloe, Ahad (26/3/2023).

“Kami termotivasi untuk sosialisasi tentang ini karena setelah bertemu mantan Kepala Desa Tanete di Kecamatan Simbang yang jadi penyuluh agama mengungkapkan kesadaran masyarakat tentang zakat utamanya di pertanian sangat rendah dan ini yang harus diedukasi,” ungkapnya.

Ia berharap agar gerakan wakaf di masyarakat bisa massif utamanya untuk membangun fasilitas ibadah khususnya masjid.

“Kalau seandainya masyarakat Maros bisa berwakaf dengan Rp 50 ribu saja per bulan maka bisa setiap bulan bisa membangun sarana keagamaan dan bapak bupati Maros sangat merespon agar gerakan wakaf ini bisa berjalan,” jelasnya.

Untuk memaksimalkan dana wakaf ke depan, urainya, perlu dikembangkan wakaf uang melalui lembaga keuangan syariah atau LKS. “Hasil dari wakaf bisa dimanfaatkan untuk mauquf alaih dan akan dioleh nazir wakafnya yang sudah mendapat sertifikasi dari Badan Wakaf Indonesia.

Baksos Mahasiswa
Pada hari yang sama mahasiswa STIM Lasharan melaksanakan bakti sosial di Pondok Tahfidz Darul Hijrah Putra Hidayatullah Maros.

Ketua Pembina Ponpes Drs Muhammad Kaisar pada kesempatan tersebut menawarkan kerjasama mendirikan Rumah Qur an di kampus STIM Lasharan.

“Karena penting Al Qur an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan dan hikmah Al Quran diturunkan secara berangsur untuk memberikan pemahaman,” urainya.(rls/*)

Dahsyatnya Efek Ramadhan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ramadhan sangat kondusif dan mendukung dalam mempengaruhi karakter dan pola hidup kaum muslimin. Berbagai aktifitas amaliyah umat Islam dalam Ramadhan menampakkan perubahan dahsyat dibanding dengan bulan sebelumnya

Keberkahan Ramadhan tahun ini terasa begitu semangat dan membahagiakan. Seperti semangat sholat jama’ah, mendengarkan dan membaca kajian Islam, kedermawan berbagi rezeki, sampai ramainya kegiatan muamalah atau perekonomian masyarakat.

Keberkahan itu membentuk suasana jiwa terasa damai dan khusu’ menikmati ibadah tarawih dan bacaan Qur’an baik di masjid atau pun di rumah-rumah warga.

Itu adalah karunia dari Allah berupa Ramadhan. Diberikan kepada yang menyikapinya atas dorongan iman guna menggapai kedudukan tertinggi yakni ketaqwaan kepada Allah.

Semangat Beribadah

Ramadhan sebagai bulan tarbiyah atau pengkaderan yang begitu dahsyat mempengaruhi karakter dan aktivitas kehidupan kaum muslimin.

Keagungan Ramadhan tidak hanya mampu memotivasi dan menstimulasi fikiran. Bahkan merubah kesadaran keber-Islamannya. Merubah sikap hidup kaum muslimin dari sebelumnya ibadahnya sekedar sebagai kewajiban semata, menjadi antusias menjalankan sunnah mendatangi masjid-masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah lima waktu dan tarawih.

Di tempat-tempat tertentu seperti di pesantren dan di masjid tertentu diramaikan dengan shalat tahajjud (shalat lail) secara infiradi ataupun berjamaah. Dimulai dari lepas tengah malam sampai menjelang sahur.

Semangat Berilmu dan ber-Quran

Kaum muslimin menampakkan juga semangat mengkaji tentang berbagai ilmu dan amaliyah Ramadhan dan berbagai pengetahuan Islam lainnya. Beberapa masjid memprogramkan ceramah tarawih dan tidak sedikit masjid yang menambah dengan kajian shubuh.

Di media mainstream dan media sosial lainnya pun dipenuhi dengan kajiian ke-Ismalam. Demikian halnya artikel dan flayer tentang Ramadhan ikut meramaikan semangat tafaqqu fiddin dan semangat dakwah.

Semangat membaca Qur’an juga meningkat signifikan. Tidak hanya dibaca One day One Juz, tapi ber juz-juz dibaca Kalamullah itu setiap hari.

Tentu terasa lebih berbeda suasana ber-Quran di pesantren. Tercipta semangat ‘berlomba’ membaca, mentalaqqi dan mentadabburi Al-quran. Tak heran kalau ada santri yang mampu khatam membaca Qur’an berkali-kali dalam sepekan.

Dilakukannya karena mencontoh sunnah Rasulullah.SAW, bahwa pada bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tadarrus Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril. Yang juga dicontohkan oleh para shahabat dan ulama terdahulu dimana Ramadhan dia memaksimalkan waktunya menghatamkan membaca Al-Quran dan khatam puluhan kali.

Perlombaan Kebaikan

Oleh dorongan kesadaran keimanan membuat hati jadi ringan berbagi harta dan juga keterlibatan diri dalam berbagai kegiatan layanan selama Ramadhan,

Dengan penuh ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan kaum muslimin mengambil bagian dalam kepanitiaan. Mengatur kegiatan masjid agar bisa beribadah dengan aman dan khusu’. Menjaminkan selama Ramadhan jamaah masjid merasakan layanan terbaik dari panitia atau dari Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM)

Secara umum kaum muslimin merasakan kebahagiaan atas keterlibatannya menginfakkan sebahagian dari hartanya untuk buka puasa bersama, keperluan kegiatan dan pembangunan masjid.

Kebahagian berbagi juga dirasakan oleh orang mampu secara materi sehingga berkemampuan berbagi. Demikian juga dirasakan oleh kaum dhuafa saat mereka mendapatkan kebaikan hari aghniya.

Perubahan Karakter

Efek Ramadhan begitu dahsyat mampu menyadarkan hati kaum muslimin. Mengakui kesalahan dan kekurangan diri. Dimanfaatkan waktu musjatab dan ketika dalam sholat, khusus sholat malam, untuk lebih banyak beristighfar dan memperbanyak do’a.

Hati pun berubah, sangat mudah memaafkan, bahkan mendoakan orang tercinta, terdekat serta seluruh kaum muslimin di seluruh dunia.

Hatinya sebelumnya keras dan egois, dipenuhi sifat dengki dan hasat. Dengan Ramadhan tiba-tiba saja menjadi hati yang lembut, berprasangka baik, pemaaf dan peduli serta penuh kasih sayang karena karunia Allah.

Tak terkecuali para ulama, habaib dan para muballigh merasakan kebahagiaan dalam ceramah dan kajian ke-Islaman, berbagi ilmu dan nasehat. Sehingga jamaah pun menikmati dengan hidmad nasehat dan hikmah Ramadhan yang didengarnya.

Berkah Ramadhan mampu membangun sifat sabar dalam arti mampu mengendalikan nafsu untuk maksimal dalam ketaatan menjalankan ibadah wajib dan sunnah, dan konsisten menjaga diri dari berbuat maksiat kepada Allah.

Ini sebagai karakter dari pemaknaan tentang nikmatnya sabar yang indah pada QS Al-Ma’arij; ‘bersabarlah engkau dengan sabar yang indah”.

Berkat kesempurnaan ketaqwaannya melaksanakan puasa Ramadhan ditambah dengan amalan sholeh lainnya, telah membawa pengaruh dahsyat pada perubahan fikiran dan karakter kaum muslimin.

Efek Ramadhan mengantar diri dapat memaknai dan menikmati arti sebuah ketaqwaan. Sebagaimana dalam kandungan QS.Al-A’raf;96, adalah efek yang mampu melahirkan karakter taqwa.
Karakter yang mampu membawa perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yakni masyarakat bertaqwa yang diberkahi oleh Rahmat dan kasih sayang Allah SWT.(*)

Buka Puasa di Dua Lokasi, Laznas BMH Open Donasi

0

HidayatullahSulsel.com — Buka puasa kembali dinikmati santri. Kali ini Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Sulawesi Selatan (Laznas BMH Sulsel) menggelar buka puasa untuk santri tahfidz Al Quran Al Fath Bone dan Pondok Pesantren Al Hijrah Masamba, Jumat (24/3/23).

Ketua Gerai Laznas BMH Bone Rusmin Sunaryono dalam kesempatan buka puasa juga menyampaikan sosialisasi terkait program lembaganya.

“Karena Laznas BMH di Bone masih baru, maka perlu kami mengenalkan BMH termasuk kerjasama dengan Yayasan Al-Fath, serta yang paling penting minta doa untuk para donatur yang selama ini telah berkontribusi untuk program tahfidz Al Quran,” ujarnya.

Sementara Ketua BMH Gerai Luwu, Muhammad Syukron, menyapaikan pihaknya telah menjadwalkan buka puasa bersama untuk santri tahfidz di dua waktu terpisah. “Hari ini kita buka puasa untuk adik-adik putri, besok gantian buka puasa bersama santri putra,” kata Syukron.

Rangkaian kegiatan buka puasa menjadi waktu yang sangat ditunggu oleh para santri. Terlebih kebersamaan tersebut juga tersedia menu buka  spesial.

“Saat ini masih ada 80 santri yang mengikuti kegiatan di pondok, bagi para donatur yang ingin terlibat pengadaan buka puasa dapat menghubungi kami di +62 813-3665-1815,” imbuh Syukron.(basori)

Zakat Goes To School BMH di SMA 7 Makassar Meriah

0

HidayatullahSulsel.com — Laznas BMH berkunjung ke SMA Negeri 7 Makassar menggelar kegiatan edukasi “Zakat Goes To School” bersama Konten Creator & Public Speaking Sulsel, Rijal Djamal, Selasa (24/3/2023).

Kegiatan berlangsung meriah dan dan disambut 400 siswa dengan antusias. Kepala Sekolah SMAN 7 Makassar Muhammad Imran SPd mengucapkan terima kasih pada Laznas BMH dan Rijal Djamal  telah mencerahkan para guru dan siswanya terkait zakat.

Zakat  Goes to School merupakan kegiatan sosialisasi edukasi zakat sejak dini agar generasi muda lebih paham salah satu rukun Islam tersebut.

Menurut Rijal Djamal ada tiga poin yang harus dimiliki anak muda agar bisa sukses kedepannya yaitu pertama mindset (pola pikir) yang benar, skill (keahlian) mumpuni dan attitude atau ahlak yang baik

“Jika engkau menjaga akhlakmu maka pintu kesuksesan akan datang,” terang selegram Makassar yang disapa kak Rijal tersebut.(rls)

Ternyata (Masih) Bodoh

0

Oleh : Ibnu Basyier, Guru Qur’an di Tana Toraja

HidayatullahSulsel.com — Dulunya, saya termasuk orang yang merasa puas dengan bacaan quran. Bahwa bacaan saya sudah baik, benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Setidaknya di awal-awal lulus kuliah di Kota Madinah pada 2012 lalu.

Dan menurut saya, itu “wajar”. Sebab guru ngaji saya hafizhahullahu ketika kuliah di sana, adalah imam besar di sebuah masjid teraktif dan termakmur di sana. Dan merupakan sebuah fakta yang tidak kebetulan, bahwa sang guru juga alumni Universitas Islam Madinah.

Mengingat bagaimana proses pembelajaran kami ketika bertalaqqi bersama beliau dengan kawan-kawan lainnya, saya memang bisa merasa demikian. Oleh sang guru, perbaikan saya tidak sebanyak dengan perbaikan kawan-kawan lainnya. Apalagi nilai mata kuliah Tahsin di Lembar KHS juga membuktikan itu.

Saya juga tentu sangat berterima kasih kepada Abah yang telah begitu telaten mengajar cara membaca al-Qur’an dari Iqro’ hingga masuk ke juz-juz awal, sebelum akhirnya ke BTP melanjutkan SMP. Ya, meskipun begitu banyak bekas-bekas rotan di paha kanan maupun kiri karena tegasnya didikan beliau soal mengaji.

Bagi saya, deraan rotan ketika salah membaca itu adalah motivasi tersendiri untuk lebih memperbaiki kualitas bacaan. Walaupun sebagian lembaran mushaf itu telah lecek dan lusuh, karena basah ditetesi cucuran air mata.

Mungkin karena itulah, ketika akhirnya melanjutkan sekolah di SMP Al Bayan Makassar, halaqah saya langsung standar. Oleh Ustadz Raka’atain hafizhahullahu yang mengetes ketika itu, saya dimasukkan list santri halaqah mustawa awwal. Tidak di mustawa tamhidi, sebagaimana banyak yang lainnya.

Pun ketika setoran hafalan dengan Ustadz Munir Sholahuddin hafizhahullahu, bacaan saya juga tidak banyak dikoreksi oleh beliau.

TETAPI, semua berubah ketika saya mengikuti Daurah Syarah Matan Al-Jazariyah pada bulan Syawal 2019. Kegiatan yang diikuti 20-an peserta se-Sulsel (dan Sulbar) itu digagas DPW Hidayatullah Sulsel di Taman Quran dan Pustaka Parengki, Suppa, Pinrang. Di sebuah lokasi di garis Pantai Lowita yang fenomenal.

Pemateri ketika itu anak-anak muda, dua orang. Yang pertama ustadz Rifai Mujahidin Al-Haq bin Abidin Abbas. Menantu Bapak Pemimpin Umum ini memiliki 7 sanad hafalan matan Al-Jazariyah.

Yang kedua, Ustadz Muhammad Yusri Romadhan Alzami bin Hasan Rofidi rahimahullahu. Menantu Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz KH. Dr. Nashirul Haq ini lebih dikenal dengan sapaan Ustadz Azzam. Beliau memiliki sanad hafalan al-Qur’an yang tersambung kepada Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam. Selain itu juga punya sanad matan al-Jazariyah.

Dari daurah itu, saya kemudian mendapati bahwa bacaan saya masih terlalu banyak salahnya. Bahkan dalam sebuah kesempatan talaqqi ke ustadz Azzam di kesempitan waktu yang ada, setoran bacaan surat Al-Fatihah saya dinilai belum benar. Subhanallah.

Padahal para ulama mempertanyakan status imam yang bacaan surat al-fatihahnya masih mengandung lahn (kesalahan bacaan), khususnya lahn jaliy. Cukuplah bahwa ketika statusnya dipertanyakan, membuat saya harus khawatir ketika didaulat menjadi imam.

Perjalanan panjang dari lulus tahun 2012 hingga bertemu guru muda yang berani menyalahkan bacaan saya pada 2019, membuat saya memacu diri untuk terus belajar. Sayangnya, semangat itu tidak berbanding lurus dengan kehadiran guru yang kapabel dan kompeten.

Akhirnya yang ada hanyalah belajar otodidak. Dirasah ‘an bu’d tetap jadi pilihan terbaik. Demi menyelamatkan semangat belajar mengaji agar tidak pudar. Walaupun rasanya tidak memuaskan jika hanya belajar daring dan online dari kejauhan. Sebagaimana hubungan long distance relationship juga tidak nyaman, bahkan rasanya penyiksaan, kan?

Hingga pada Ramadhan 2021, saya beranikan diri setoran kembali surat al-Fatihah. Belum ada guru offline. Apalagi di Enrekang ketika itu, saya terbilang baru. Belum banyak link dan kenalan. Lagi-lagi pilihannya menyetor lewat online. Alhamdulillah, ustadz Abdul Qohhar, putra ustadz Ihsan siap menerima talaqqi online saya pada bacaan Al-Fatihah.

Sudah benar? Wah, jadi malu harus jawab apa. Syawal 2019 ketika pertama kali ada dinyatakan Al-Fatihah saya masih salah, hingga Ramadhan 2021 harusnya menjadi waktu yang cukup untuk belajar. Ternyata, subhanallah. Belajar online mungkin memang tidak cocok untuk belajar mengaji.

Saya ingat komentarnya beliau, yang terkesan ada disembunyikan, “Alhamdulillah, secara umum semua huruf sudah keluar dari makhraj. Tinggal menyempurnakan saja.”

Setelah saya desak untuk memberikan rincian koreksi, akhirnya beliau jawab, “Bingung ka jawabki. Hehe.” Allah-ul-mus’taan.

Akhirnya dia sebutkan sebuah huruf, di antara banyak huruf lainnya untuk dikoreksi. “Huruf ‘ain ta’, kalau bisa dilatih lebih banyak lagi, agar tidak keluar dari hidung!”

Beliau kemudian memberi resep. Jika membaca baca huruf ‘ain sambil menutup hidung, dan masih ada sengau di hidung, berarti makhrajnya belum benar. Sebab huruf ‘ain adalah huruf tenggorokan, bukan huruf hidung.

ALHAMDULILLAH, menjadi sebuah kesyukuran tersendiri bagi saya pada Ramadhan tahun 2023 ini. Teman-teman di Hidayatullah Sudu menghadirkan seorang mahasiswa tahun terakhir dari PUZ-STIS Balikpapan berstandar Imam dan Muallim Al-Qur’an. Walaupun sama-sama pernah belajar di Madinah al-Iman, tetapi kualitas kami tentu jauh berbeda.

Kehadirannya benar-benar dimanfaatkan untuk perbaikan bacaan warga dan santri. Untuk warga, pengurus menetapkan halaqah tahsin setiap bada subuh. Mengurai huruf demi huruf, dan mengajarkan kepada warga secara mutasyaddid.

Bagi saya, ini merupakan kesempatan emas untuk belajar al-Qur’an dari orang yang telah belajar dari orang yang memiliki bacaan yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Tentu lebih bisa dipertanggungjawabkan ketika kita belajar dari orang yang memiliki sanad, atau setidaknya pernah belajar dari orang yang memiliki sanad.

Ternyata kita memang harus selalu mengosongkan gelas, sebab ilmu itu luas dan belajar itu tak kenal batas. Ternyata kita harus membuka ruang hati terdalam untuk masuknya ilmu, dan tidak mencukupkan diri dengan sedikit yang sudah ada. Dan ternyata, kita butuh orang lain untuk mengetahui kebodohan kita. Kita memohon kepada Allah taufik dan kemudahan.(*)

*) 3 Ramadhan 1444 H, ruang bawah Masjid Toriq bin Ziyad

Pengurus DPD Hidayatullah Maros Bersama Santri Shalat Tahajud

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Pengurus DPD Hidayatullah Maros bersama para santri Tahfidz Darul Hijrah Tanralili menikmati shalat Tahajjud di Masjid Andi St Halijah pondok Tahfidz Darul Hijrah, setiap malam selama Ramadhan.

Shalat tahajud dilaksanakan dengan Imam Mudir Tahfidz Ust Firdaus Abu Iftitah, alumnus Quranic College Pesantren Ar Rahman Bogor ust Bachtiar Nasir Lc.

“Ini merupakan bagian dari kegiatan merealisasikan Ramadhan Tri sukses yaitu sukses ibadah, sukses tarbiyah dan sukses layanan ummat,” jelas Ketua DPD HIdayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar.

Ust Basri alumni pondok Pesantren Hidayatullah Batam yang setia mendampingi para santri untuk dibangunkan mulai jam 01.30 dan shalat di mulai jam 02.00 dengan bacaan 1 juz.(rls/*)

Bagi yang ingin berwakaf Al Qur an dan Pembangunan Masjid bisa menghubungi :ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili
*497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros

Kader itu Gelombang Bukan Buih

0

Oleh : Mujahid M Salbu, Pengurus DPW Hidayatullah Kepri

HidayatullahSulsel.com — Kader Hidayatullah itu dilatih untuk mengatasi masalah, bukan masalah yang mengatasi dirinya, mengendalikan bukan dikendalikan oleh masalah. Bagaimana metodenya? secara paripurna sudah tertuang di dalam al Qur’an khususnya pada konsep Sistematika Wahyu (SW).

Kader bukan buih di lautan yang jumlahnya banyak tetapi mudah lenyap ditelan embusan angin, tetapi kader itu gelombang yang menggerakkan dan menginspirasi, gelombang yang mengantar sebuah kapal ke tujuan, misalnya dari Batam ke Tanjung Pinang, gelombang perubahan dari peradaban yang gelap menuju peradaban yang cemerlang (kehidupan yang qurani).

Energinya diserap dari elaborasi metodologi berislam berdasarkan biografi hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan urut-urutan turunnya wahyu. Puncak elaborasi itu pada momentum Ramadhan yang mulia ini, sebagai upaya memadukan energi langit dan bumi.

Jika ilmuwan pionir Aerodinamis, Theodore von Karman dari Hungaria mengatakan bahwa luar angkasa atau langit berjarak sekitar 100 kilometer dari bumi. Maka kader Hidayatullah secara substansial meyakini jarak langit dan bumi itu sangat dekat.

‎وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS Qaaf: 16)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat;

“Ayat ini terdapat dua pendapat:
Pertama: Allah dekat ilmunya, oleh karena itu Allah menggandengkan ilmu (mengetahui) dengan apa yang dibisiki hati manusia

Kedua: Yang dimaksud dekat adalah malaikat Allah yang bershalawat pada hatinya sehingga lebih dekat dari urat lehernya. Inilah pendapat yang dipilih oleh guru kami” (Madarijus Salikin 2/290).

Jika para malaikat saja sebegitu dekatnya, maka Allah Ta’ala tentu lebih dekat lagi, meski kata dekat tidak selalu menunjukkan letak atau posisi, karena As sami’ dan al Bashir merupakan sifat Allah Ta’ala dalam Asmaul Husna dan juga disebutkan di dalam al Qur’an di di antaranya pada QS. Thaha ayat 46 dan QS Al-Hujurat ayat 18.

Konsep di atas akan bergerak di atas ruas-ruas jalan dialektika (tesis, antitesis dan sintesis) yang panjang dan berliku seperti jalan berkelok antara Medan-Sibolga.

Dalam mengemban amanah, para kader akan mengalami proses dialektika yang akan mengantarkannya pada sintesis atau kesimpulan bahwa Allah Ta’ala ternyata sangat dekat.

Ustadz Abdullah Said rahimahullahu ta’ala (pendiri Hidayatullah) menggambarkan sintesis itu dengan istilah ‘pengalaman ruhani’ yaitu keajaiban-keajaiban pertolongan Allah Ta’ala yang kerap menghinggapi para kader ketika menjalankan tugas di daerah (ayaturrahman fii at tarbiyah wa-dakwah).

Jalinan-jalinan empirik yang menghadirkan kebahagiaan dan kenikmatan bagi kader maupun lingkungan di sekitarnya sekaligus keyakinan bahwa Al Islamu ya’lu wa laa yu’la alaih”. (Islam akan selalu unggul dan tidak ada yang lebih unggul dari Islam).

Ketika kaum muslimin di Syam menghadapi pasukan Tartar, Ibnu Taimiyah berpesan kepada penjaga benteng Damaskus, “Seandainya hanya tersisa satu batu, maka usahakan sekuat tenaga tidak menyerahkan kepada musuh!”. Para kader hari ini berperan sebagai penjaga benteng-benteng Islam melalui tarbiyah dan dakwah di berbagai medan; ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.

Dalam menjalankan amanah para kader kerap harus berhadapan dengan tantangan dan ujian, mulai yang mengancam kantong sampai yang mengancam jiwanya. Namun, langkah tidak surut, sebagaimana ketika 3000 pasukan kaum muslimin dikepung 10.000 pasukan sekutu di perang Khandaq, mereka berseru dengan kalimat-kalimat yang menggetarkan musuh seperti dikisahkan di dalam al Qur’an;

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 22). Wallahu a’lam bisshawab.(*)

Sedekah Air Mineral Rp 20 Ribu Pahalanya Melimpah

0

Donasi, HidayatullahSulsel.com — Sedekah air menjadi sedekah yang paling utama karena meskipun kelihatannya sederhana tapi manfaatnya sangat luar biasa bagi penerimanya. Apalagi di bulan suci Ramadhan tentu keutamaannya semakin melimpah.

Sedekah tidak harus dalam bentuk uang. Memberikan air minum bagi mereka yang membutuhkan justru bisa memberikan pahala yang besar untuk kita

Melalui sedekah air mineral Departemen Sosial DPD Hidayatullah Makassar membagikan paket air minum mineral kemasan botol ke masjid-masjid sekitar Tamalanrea dan Biringkanaya, Jumat (24/3/2023).

Kegiatan sedekah air tersalur ke berbagai masjid dimulai sejak awal masuk Ramadhan 1444 H

Ketua Departemen Sosial Hidayatullah Makassar Firdaus Umar SHi menyampaikan, “Sedekah air adalah sedekah jariah yang pahalanya terus mengalir ibarat aliran air. Lebih berkah lagi apabila air tersebut dimanfaatkan untuk orang-orang yang sedang berpuasa di bulan suci Ramadhan.”

Lebih lanjut, Firdaus menyampaikan, menyedekahkan air minum dan air bersih bagi mereka yang membutuhkan juga dapat menjadi ladang pahala di hari akhirat.

Semetara itu, pengurus DPD Hidayatullah Makassar, Abdul Haris, mengatakan “Saat ini sudah ada 20an donatur yang telah berpartisipasi pada program ini.”

Untuk menjadi bagian dari program sedekah air mineral cukup mendonasikan mulai Rp 20 ribu. menghubungi Yayasan Al Islam Yaa Bunayya Makassar ke rekening BSI 7193426764

Atau ke Sekretariat Yayasan Al Islam Yaa Bunayya Hidayatullah Makassar, Kompleks BTP Blok AE No.194 A, Kel Katimbang Kec Biringkanaya Kota Makassar. Konfirmasi Donasi : VIA WA/SMS 0852-4544-4043. (Edi Qays)

Diskusi Zakat Laznas BMH, Hadirkan Akademisi UIN Alaudin Makassar

0

HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) melaksanakan pembinaan relawan Ramadhan dan Amil.

Kegiatan yang dilaksanakan di Jalan Tamalanrea Blok M No 27 BTP tersebut diisi oleh akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar, Ustadz Dr Nasrullah Sapa Lc MA, Jumat (24/3/2023).

Dalam paparan tentang fiqih zakat, pengurus Komisi Fatwa MUI Sulsel itu menyampaikan pentingnya jawaban dari problematika pelaksanaan zakat di masyarakat. Karena zakat memiliki kekhususan seperti batasan minimal, maupun siapa yang berhak yang menarima.

“Amil memiliki kewajiban untuk memberikan literasi kepada muslim yang telah wajib zakat,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Makassar tersebut.

Ia mencontohkan, zakat fitrah yang disalurkan di awal Ramadhan menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang miskin untuk kemudian mereka mampu memenuhi makanannya dan membayarkan zakat fitrah dirinya.

Kegiatan jelang berbuka puasa  yang dilakukan secara hybrid, disemarakkan diskusi, para Amil banyak memberikan pertanyaan terkait dengan fiqh kontemporer zakat, seperti zakat perusahaan, zakat profesi, hadiah lainnya.

Ketua Divisi Operasional Laznas BMH Sulsel, Aditya menyampaikan kegiatan diskusi itu untuk menyegarkan ingatan terkait fikih zakat, sekaligus mencari jawaban atas pertanyaan dari para muzakki.(basori)