Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MA, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Pentingnya waktu satu jam setelah subuh, demikian kutipan nasehat Ust Tommy Eka Purnama, pendamping kami saat ibadah Umroh Februari lalu. Dia mengulas singkat bahwa satu jam setelah subuh menentukan arah tujuan hidup kita. Ia menjelaskan dalam berbagai perpektif, mulai kesehatan hingga dzikir paling terbaik.
Alhamdulillah pada sebuah masjid di kawasan pemukiman BTP Makassar, lokasi jadwal saya ceramah subuh Ramadhan, rupanya oleh sebagian jamaahnya sudah mengamalkan keutamaan dzikir dan doa setelah shalat shubuh hingga terbit matahari atau isyraq itu.
Sekitar 25 orang jama’ah bapak-bapak dan jama’ah ibu-ibi dua kali lipat lebih banyak lagi yang tidak beranjak dari tempat duduk di masjid dalam berbagai aktivitas hingga tiba shalat isyraq. Seperti dzikir dan doa secara infiradi dan belajar Al-Quran secara berhalaqah.
Suasana seperti di masjid tersebut juga sudah di banyak masjid. Apalagi di bulan Ramadhan ini, semakin menambah semangat untuk mengamalkan sunnah Nabi ini.
Kalau saja kaum muslimin memahami dan menyadari akan kemuliaan amalan ini niscaya seusai shalat subuh dia tidak akan meninggalkan masjid hingga terbit matahari kecuali terlebih dahulu berdzikir dan seterusnya melaksanakan shalat isyraq.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menjelaskan tentang salah satu waktu terbaik yakni tetap berdiam diri di masjid seusai shalat subuh hingga terbit matahari dengan berdzikir kepada Allah, dalam wasiatnya kepada Ali Bin Abutholib
يَا عَلِيُّ، إِذَا صَلَّيْتَ فَاقْعُدْ مَكَانَكَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِنَّ اللهَ يَكْتُبُ لِمَنْ يَجْلِسُ مَكَانَهُ حُجَّةً وَعُمْرَةً أَوْ عِتْقَ رَقَبَةٍ أَوْ صَدَقَةَ أَلْفِ دِيْنَارٍ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
“Wahai Ali, jika engkau telah shalat maka duduklah di tempatmu (berdzikir) sampai terbitnya matahari. Maka sesungguhnya Allah mencatat pahala bagi orang-orang yang tetap duduk di tempatnya seperti pahala melaksanakan haji dan umroh, atau pahala memerdekakan budak, atau pahala sedekah seribu dinar di jalan Allah.”
Salah satu pesan Rasulullah pula bahwa orang yang memanfaatkan waktu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari untuk berdzikir, maka Allah pun malu (sungkan) untuk mengazabnya. Dalam arti lain orang tersebut akan terhindar dari azab api neraka.
يَا عَلِيُّ، مَنْ ذَكَرَ اللهَ قَبْلَ الْفَجْرِ وَقَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا اِسْتَحْيَ اللهُ أَنْ يُعَذِّبَهُ بِالنَّارِ
“Wahai Ali, barang siapa berdzikir kepada Allah sebelum waktu fajar (subuh) dan sebelum terbitnya matahari (setelah subuh) dan sebelum terbenamnya matahari (sebelum maghrib) maka malu (sungkan) Allah untuk menyiksanya dengan api neraka.”
Malunya Allah ta’ala karena begitu sangat menghargainya mujahadah hambaNya. Di saat waktu menjelang Maghrib dan setelah Subuh disaat kebanyakan hambaNya tidak menyergap momentum sangat mulia tersebut. Kecuali terdapat sebagian kecil hambaNya yang tidak mau melewatkan kesempatan mulia itu, larut dalam doa dan dzikir kepadaNya. (*)
Allah Malu pada Hamba Mengamalkan lni
Laznas BMH-Paragon Salurkan 200 Mushaf
HidayatullahSulsel.com — Mushaf Al-Qur’an menjadi kitab yang selalu ada di dekat santri hafidz Al-Qur’an. Rutinitas membaca, menyetor hafalan Al-Qur’an, mengulang bacaan, bahkan saat bermainpun Al-Qur’an selalu tampak menjadi keseharian mereka.
Di Pondok Pesantren Ummul Qura’ Hidayatullah Maros, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), selain berbagi takjil dan makan malam, juga membawakan hadiah berupa mushaf Al-Qur’an dari Paragon, sebuah perusahaan nasional di bidang kosmetik, Selasa (28/3/2023).
Mushaf-mushaf tersebut merupakan amanah dari para donatur untuk ummat Islam di berbagai tempat di nusantara. Di Sulawesi Selatan, Laznas BMH menyalurkan 200 mushaf di beberapa wilayah seperti Makassar, Maros, Bone, Parepare, Palopo, Masamba, dan Sorowako.
Abdullah Hafidz Irfan, seorang santri dari Enrekang, menyampaikan kegembiraannya. Belum genap setahun ia merantau meninggalkan kampung halaman untuk menjadi santri tafidz Ummul Qura Maros.
Di memontum Ramadhan, bersama 80 orang teman-temannya ia banyak menfokuskan waktu pada ibadah dan murajaah atau mengulang hafalan al-Qur’an.
Hafidz Irfan yang kini baru duduk di kelas satu SMP mengungkapkan bahwa hafalan Al-Qur’annya baru dua juz, sewaktu masuk pesantren ia perlu waktu untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an. Setelah lancar dan tepat huruf bacaan barulah ia memulai menghafal.
“Alhamdulillah, buka puasa kali ini santri dapat makan ayam, dan kami ucapkan terimakasih untuk BMH dan donatur yang telah memberikan hadiah Al-Qur’an untuk kami,” ujar Hafidz.
Program sedekah Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Laznas BMH menyasar para tahfidz Al Quran, masyarakat pedalaman dan para mualaf. Bagi masyarakat yang ingin berdonasi dapat langsung mendapatkan layanan di jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar.
Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BSI: 1000258225.(*/fir)
Gerak Hidayatullah Maros, Raih Dukungan Pemkab dan Terus Berbagi Kebaikan
Maros, HidayatullahSulsel.com — Geliat Hidayatullah melalui gerakan dakwah dan tarbiyah terus meraih kepercayaan di kabupaten Maros.
Hal itu ditunjukan dengan dukungan Pemkab Maros terhadap progran DPD Hidayatullah Maros dan semakin dinamis nya pergerakan BMH Gerai Maros berbagi kebaikan.
Selasa (28/3/2023) lalu, DPD Hidayatullah Maros menghadiri sosialisasi pengalokasian anggaran dari Pemkab Maros untuk organisasi masyarakat dan partai politik.
“Alhamdulillah DPD Hidayatullah Maros menjadi bakal calon penerima anggaran Pemkab Maros, kami sisa memasukkan usulan program melalui sistim dari Kemendagri dan mulai tahun ini usulan sudah melalui online,” jelas Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar.
Sementara pada Ramadhan ini, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Gerai Maros gencar melaksanakan kegiatan buka puasa bersama santri putra dan putri pengahfal Al-Qur’an, selain itu melaksanakan edukasi masyarakat melalui program-program kebaikan
“Alhamdulillah BMH senantiasa mengajak berkolaborasi kesetiap elemen, untuk mengisi Romadhon penuh dengan kebaikan, Kami mengajak segenap masyarakat untuk terlibat dalam program- program kebaikan,” ujar Ketua BMH Gerai Maros, Fatahillah.
Program khusus BMH di Ramadhan, seperti, buka puasa berkah, dai tangguh romadhon, berkah Fitrah, sedekah jariah pembangunan, sumur bor, pembebasan lahan, tebar sejuta Qur’an, dan bingkisan lebaran for guru ngaji dan yatim dhuafa.(*/fir)
Puasa Menumbuhkan Kepekaan Sosial
Oleh : Bachtiar Aras, Trainer Life Revolution
HidayatullahSulsel.com — Pak Bejo hanya mampu terpaku melihat sawahnya yang terendam air karena banjir bandang. Tak ada sebutir padi pun yang bisa dipanen. Padahal hasil panen tahun itu ia rencanakan untuk menyekolahkan anaknya yang telah tamat SD dan yang satunya tamat SMP.
Tapi apa boleh buat, ketika musibah banjir bandang melanda kampungnya, tidak sedikit orang yang senasib dengannya harus menelan pil pahit dengan gagalnya panen di tahun itu.
Kemudian, kisah Pak Mujiono, seorang sopir angkot yang pendapatannya pas-pasan, terpaksa harus ngirit sana sini. Karena selain saat ini biaya hidup sangat tinggi apalagi ia harus membayar uang pangkal masuk sekolah swasta favorit dekat rumahnya, yang sampai jutaan rupiah.
“Kepinginnya sih, anak-anak terus sekolah. Kalau bisa hingga ke PT. Tapi mungkinkah nyekolahin anak dalam kondisi seperti ini?”, ujarnya dengan nada pesimis.
Dua contoh kasus di atas merupakan gambaran betapa manusia, siapa pun dia, tidak bisa lepas dari kesulitan hidup. Dan kehidupan di dunia ini akan silih berganti antara kesulitan dan kemudahan.
Tapi sadarkah kita bahwa di saat ini, untuk sementara, Allah telah memberikan fasilitas yang berlebih kepada kita dibanding mereka yang dilanda kesulitan hidup nun jauh di sana ?
Di sinilah letak ‘kuncinya’, bagaimana sikap orang yang memiliki harta berlebih terhadap orang-orang yang berada dalam kesulitan berupa kefakiran dan kemiskinan. Di sini sangat dibutuhkan tumbuhnya kepekaan sosial.
Puasa sebenarnya secara implisit menumbuhkan sensitifitas terhadap sesama. Bayangkan, kaum muslimin, baik yang kaya maupun yang miskin, diwajibkan untuk sama-sama merasakan lapar dan dahaga.
Sehingga akan menumbuhkan kesadaran bagi mereka yang berpunya bahwa beginilah sebenarnya yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang fakir dan miskin. Kalau menahan lapar dan haus selama sebulan sih mending.
Tapi kaum fuqara dan masaakin ini yang telah merasakan lapar dan dahaga berkepanjangan. Bukan sehari dua hari, tidak sebulan atau dua bulan, akan tetapi berbulan-bulan. Kalau mereka tidak diperhatikan, seperti apa penderitaan yang akan dialami?
Di sisi lain, pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak sedekah kepada orang-orang yang tidak mampu. Sebagaimana diketahui bahwa setiap amalan di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Sedekah memang tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, tetapi bila dilakukan pada bulan ini pahalanya akan berlipat-lipat. Itulah sebabnya pada bulan ini dianjurkan untuk lebih banyak lagi bersedekah.
Konsep pendidikan menyatakan bahwa pendidikan akan berhasil jika bersifat audio visual. Misalnya, kalau mengajar seorang anak naik sepeda maka berikan ia sepeda.
Mengajar orang untuk “mencintai” atau “mengasihi” fakir miskin, maka rasakan dulu bagaimana kondisi fakir miskin yang makannya saja Senin-Kamis.
Adalah mustahil mendidik orang mengasihi fakir miskin hanya lewat seminar atau muktamar. Sudah sekian banyak simposium yang diadakan untuk membahas dan membicarakan penderitaan orang miskin dan melarat sementara yang berbicara rata-rata orang yang sudah “kenyang”. Semoga saja sehabis seminar dan webinar kepekaan itu bisa muncul.
Rasa lapar yang dirasakan oleh orang yang berpuasa berkisar kurang lebih 13 jam. Bila maghrib datang, rasa haus dan lapar itu lenyap dengan buka puasa. Sementara orang-orang fakir miskin, kaum dhuafa’ setiap saat merintih kelaparan. Yang ada dalam pikirannya, apa yang akan dimakan besok. Mereka tidak tahu kapan hidup dan nasibnya bisa berubah.
Dengan mengingat semua itu, akan muncul kesadaran dalam jiwa kita bahwa untuk hidup tidak hanya buat kepentingan pribadi saja akan tetapi mau melihat dan menolong mereka yang memang memerlukan.
Rasulullah memberikan gambaran :”Orang-orang yang punya sifat belas kasihan akan dikasihi oleh Allah. Sayangilah apa yang ada di bumi niscaya yang di langit akan sayang pula padamu”.
Sadar akan keberadaan harta kita yang titipan dari Sang Maha Pemberi Rezeki, paling tidak lebih menambah sensitifitas sosial untuk berbagi kepada orang-orang di sekitar kita. Dan inilah salah satu target dari madrasah Ramadhan yaitu menjadi dermawan.
Sebagaimana Rasulullah, beliau seorang yang dermawan dan lebih dermawan lagi di bulan suci Ramadhan. Kedermawanan Rasulullah diikuti oleh sebagian besar sahabat beliau. Jangan heran jika sahabat-sahabat Rasulullah SAW lebih banyak memberi ketimbang meminta.
Teladan Utsman
Ketika bencana kekeringan melanda Medinah, sumur Rum menjadi satu-satunya sumber mata air bagi penduduk. Sayangnya, sumur tersebut milik seorang Yahudi tua. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk menjual sumur dengan harga sekehendaknya.
Melihat keadaan penduduk Medinah, Utsman bin Affan ra segera menemui si pemilik sumur. “Wahai pak tua, maukah engkau menjual sumur Rum itu kepadaku?” Yahudi tua yang mendapatkan keuntungan berlipat ganda itu menolak. “Tidak, saya tidak akan menjualnya kepada siapa pun!” katanya.
Menyadari situasi seperti ini, Utsman dengan cepat menyusun siasat. “Aku tahu sumber pendapatan Anda berasal dari sumur ini. Tapi bagaimana kalau saya membelinya separuh saja. Dengan demikian, saya bisa mengambil air dari sumur ini sehari, lalu hari berikutnya anda bisa memanfaatkannya.
“Ah, sungguh sangat menguntungkan”, pikir si Yahudi tua. “Aku bisa menjualnya dengan harga tinggi. Baiklah, aku jual separuh sumur ini dengan harga dua belas ribu dirham.
Harga yang sangat tinggi untuk sebuah sumur. Namun Utsman sama sekali tidak ragu untuk membelinya. Utsman kemudian menyuruh pelayannya untuk mengumumkan tentang sumur itu bahwa mereka dibebaskan untuk mengambil air secara gratis pada hari yang menjadi haknya.
Sejak saat itu, penduduk bebas mengambil air sebanyak mungkin. Lain halnya si Yahudi tua. Tak seorang pun yang membeli airnya. Ia menjadi goncang. Ketika Utsman datang menemuinya untuk membeli separuh sisa air sumurnya, ia tidak bisa menolak.
Begitu gigihnya para sahabat berlomba menginfakkan hartanya karena mereka tahu keutamaannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia Kehendaki…” (QS. Al Baqarah 261)
Ibnu Abbas pernah meriwayatkan, “Adalah Nabi Saw orang yang paling murah tangannya dan beliau paling bermurah tangan di bulan ramadhan. Ketika Jibril mendatanginya untuk dirosah Al-Qur’an, maka sungguh Rasulullah Saw ketika didatangi Jibril lebih cepat memberikan sesuatu, melebihi kecepatan angin berhembus. Tidak ada permintaan kepadanya (pada bulan ramadhan) kecuali diberinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada bulan Ramadhan ini, saatnya menyatukan umat dengan menumbuhkan kedermawanan. Lewat puasa kita singkirkan kekikiran.(*)
Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar Tuan Rumah Yatim Fest Ramadhan YAI PPA
Takalar, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Abulyatama Indonesia Pola Pertolongan Allah (YAI PPA) menggandeng Yayasan Pemuda Takalar Peduli dalam acara Roadshow Yatim fest Ramadhan di Takalar, Senin (27/3/2023).
Acara bertemakan “Membumìkan Tauhid Melangitkan Do’a Menjemput Keajaiban Bersama 3000 Anak Langit” berlangsung hikmat, diliputi rasa senang dan gembira para dermawan juga 130 anak yatim se Takalar sebagai penerima manfaat.
Penerima manfaat mendapatkan bingkisan paket Ramadhan dan tunjangan hari raya.

Ketua YAI_PPA Sulsel, Haji Rais menyampaikan program ini adalah satu di antara program-program kemanusiaan yang dilaksanakan dan kali ini bersinergi Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar sebagai tuan rumah.
“Ini merupakan bentuk keterpanggilan untuk kemudian memberikan perhatian lebih kepada anak-anak, khususnya anak-anak yatim juga penghafal Qur’an, bantuan ini kami kumpulkan dari para donatur kemudian kami turun langsung untuk menyalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan,” jelas H Rais.
Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar Arham Baharuddin Jabbar dalam sambutannya menyampaikan sudah semestinya dalam mengurus anak-anak yatim dhuafa dan keluarga retak perlu dikerja secara bersama.
“Kita semua ini adalah relawan, relawan kemanusiaan yang memiliki rasa dan kepedulian yang sama untuk mengurus dan membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan, kehadiran tempat ini, satu di antara tujuannya adalah untuk mewadahi kegiatan kegiatan sosial keumatan selain sebagai tempat penghafal Qur’an,” jelasnya.
Sebagai tuan rumah Ust Arham menyampaikan terimakasih kepada YAI_PPA atas kerjasama ini, semoga ke depan bisa bersinergi lebih besar lagi dalam urusan sosial keumatan
Acara ini akan lanjut di selenggarakan di 18 titik kabupaten kota se-Sulsel.(Mansur)
*) Saat ini DPD Hidayatullah Takalar sedang membangun masjid untuk pondok tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar,
Bagi Anda yang ingin terlibat membantu pembangunan mesjid Santri Tahfidz Ahlul Jannah Takalar, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar
Jangan Bilang Susah Meraih Surga
Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — “Susah betul masuk surga….”, coletehan menggelitik yang dilontarkan seorang anggota WAG Hidayatullah Sulsel pagi ini. Sontak memancing obrolan dan diskusi. Celotehan yang terkesan bahwa hidup ber-Islam, apalagi mendakwakannya adalah perjuangan berat, seberat menggapai surga
Saya pun mencari jawaban dari pertanyaan, betulkah masuk surga itu susah?. Atau tidak adakah jalan mudah kita memasuki surga Allah ? Di sini saya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.
Saya cuma menulis kembali cerita inspiratif yang yang diceritakan oleh Hamdan Juhannis.Tentang perjalanan pencarian kebahagiaan dari Femi Otedola (miliarder dari Nigeria). Millialder ini suka gelisah karena berbagi cara yang dilakukan untuk membahagiakan diri dengan kekayaannya. Namun juga dia tidak menemukan hakekat kebahagian. Tidak setara antara jumlah kekayaannya dengan kebahagiaan yang diraih.
Dia beranggapan bahwa kebahagiaan diraih ketika dia bisa membangun vila di daerah paling eksotik dengan pemandangan samudera, tapi tidak menemukan hakikat kebahagiaan itu, karena ketika setiap melihat hamparan laut itu tidak ubahnya hanya seperti genangan air raksasa.
Lalu dia pun memakai ragam perhiasan mahal dari emas sampai berlian, tapi rasanya seperti menjerat organ tubuhnya saja. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak memakai perhiasan apa-apa, dan dari penampilannya tidak mengesankan sebagai orang kaya.
Sebagai orang kaya sudah dipastikan dia mampu memiliki koleksi mobil berbagai jenis mobil paling mahal.
Dengan sejumlah mobil mewah yang dimiliki, dia baru tersadar, kalau selama ini dia hanya memakai satu jenis mobil sederhama dan paling murah.
Dia pernah mendapatkan proyek besar, memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia.
Saat pada posisi puncak kekayaannya dia tidak mendapatkan kebahagiaan yang dibayangkan.
Saat ditanya oleh presenter, “Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?”
Dia mengatakan saat temannya meminta dia untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat, yang hanya sekitar 200 anak.
Atas permintaan temannya itu, Femi langsung membeli kursi roda sesuai permintaannya tersebut. Kemudian teman itu bersikeras agar Femi ikut pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda tersebut kepada anak-anak. Femi pun akhirnya mengikuti ajakan temannya dan pergi bersamanya.
Di sana Femi memberikan kursi roda ini kepada anak-anak dengan tangannya sendiri. Femi melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini, dia melihat mereka duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang.
“Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan” ujarnya.
“Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya,” imbuhnya.
Ketika dia memutuskan untuk pergi dia mendekati para anak cacat itu untuk menyapanya satu-satu sambil memberikan empati. Tibalah pada anak cacat yang terakhir, saat dia beranjak setelah mengusap kepalanya dan mulai membelakangi, anak cacat memegang tangannya erat-erat.
Orang kaya itu kembali menengok dan membungkuk sambil bertanya, “Apalagi yang kau butuhkan, saya akan penuhi sekarang.” Anak cacat itu langsung berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi,” jawab anak itu.
Orang kaya itu langsung memeluk anak itu keras-keras sambil beruarai air mata. Lalu dia habiskan waktunya memeluk semua dua ratus anak cacat yang sudah duduk di atas kursi rodanya.
Baru kali itu dalam hidupnya, dia merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Setelah momen itu dia fokuskan waktunya untuk selalu berdonasi terkhusus pada kaum lemah. Suasana bathin yang dirasakan Femi tidak hanya membuat dirinya bahagia, tetapi juga mengubah sikapnya terhadap kehidupan sepenuhnya.
Para pembaca, cerita inspiratif di atas saya tulis ulang untuk mendapatkan pelajaran berharga, bahwa bahagia itu milik semua orang. Seseorang mampu menemukan cara hidup bahagia dan menggapainya ketika menemukan caranya.
Banyak cara mudah dan sederhana bisa ditempuh. Banyak momentum yang dapat dimanfaatkan menggapai kebahagiaan. Seperti orang kaya tersebut menemukan kebahagiaan dari orang sederhana dan dengan cara sederhana. Sebagaimana orang cacat juga menemukan cara bahagia
Kebahagiaan hidup surga dapat dinikmati di dunia dan di akhirat, sesuatu yang mudah dicari dan digapainya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash ayat 77)
Selanjutnya Allah berfirman dalam QS. An-Nahal:97 “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,”
Ayat tersebut mengisyaratkan, bahwa Allah Ta’ala yang Maha Kasih dan Maha Pemurah memberi jalan kemudahan menggapai surga. Sesuatu yang mudah oleh semua orang, baik kaya atau pun yang miskin, yang sehat dan sempurna fisik atau pun yang cacat. Cukup dengan iman dan amal sholeh kebahagian hidup akan diraih.(*)
Peran Ziswaf bagi Perubahan dan Perbaikan Masyarakat Maros
Oleh : Fatahillah Al Ayubi, Ketua BMH Gerai Maros
HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Gerai Maros senantiasa berikhtiar menguatkan masyarakat melalui gerakan Zakat Infak sedekah dan wakaf (ZISWAF). Maka visi menuju Maros Keren dengan Zakat adalah konsentrasi Laznas BMH
Secara empirik peran zakat mampu memberikan kontribusi dalam memajukan kesejahteraan masyarakat, ini terbukti di era pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ketika itu lembaga zakat kesulitan mencari penerima zakat.
Bahkan sebuah referensi mengungkapkan, ketika Amil menyalurkan ke mustahiq ( penerima zakat ), tahun berikutnya mustahiq tersebut telah menjadi Muzakki.
Perubahan dan perbaikan dapat terwujud dengan dukungan penguasa, Umar bin Abdul Aziz dikenal penguasa yang adil mementingkan rakyatnya, jujur, zuhud dan takut kepada Allah, sehingga kondisi keuangan negara sangat stabil dan rakyatnya sejahtera.
Diperkuat dengan amil-amil yang tangguh dan jujur, pendistribusian sangat baik dan tepat sasaran,
Alhamdulillah di Maros, BMH bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat, hasilnya ada 4 tanah wakaf dijadikan pusat perubahan dan perbaikan melalui gerakan pendidikan dan dakwah, juga dari hasil infak dan zakat masyarakat, dibuatkan program pendidikan gratis berkualitas, beasiswa yatim dhuafa, dan pemberdayaan da’i.
Maka sejatinya masyarakat menyalurkan ziswafnya melalui (amil) lembaga resmi, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan para penerima manfaat dari ZISWAF tersebut, karena lembaga Amil Zakat telah menyusun pengelolaan dengan profesional dan proporsional.
Zakat memiliki manfaat dan hikmah yang luar biasa, secara harfia zakat bermakna suci bersih, berkembang, artinya seseorang yang suka berzakat, maka akan bersih dan tentram hati, fikiran dan jiwanya. Seorang yang gemar berzakat akan berkembang hartanya.
Allah SWT berfirman dalam Q.S At-Taubah ayat 103 sebagai berikut:
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Mengeluarkan zakat akan meraih kemenangan dan keberkahan, hikmah zakat akan membuat seseorang memiliki etos kerja yang tinggi. Artinya seseorang yang berzakat pasti ia bukan orang malas, memiliki kinerja yang baik. Ia akan berupaya mencari rezeki yang halal, bersih, dan diridhoi Allah Azza wajalla
Zakat juga akan membangun etika seseorang dalam mencari rezeki, orang yang suka berzakat tidak mencari rezeki sembarangan, tidak akan korupsi, curang, mempermainkan takaran timbangan, ia akan menjaga kwalitas barang dan selalu mengikuti aturan.
Tidak mungkin orang yang suka berzakat berusaha di bidang yang diharamkan, seperti miras, perjudian, dan semua dilarang. Zakat membangun etika kerja, berakhlak dalam bekerja, hanya rezeki yang halal yang dicari. Luar biasa pengaruh positif nya zakat terhadap kepribadian muslim.
Ketiga mengembangkan harta yang kita miliki. Misalnya ia memiliki penghasilan 10.000.000 maka dikurangi 2,5% = 250.000, kelihatan berkurang, tapi Allah menegaskan yang mengeluarkan hartanya maka Allah akan mengembangkan hartanya.
Maka harus tertanam di diri kita, kalau ingin kaya maka jadilah orang yang suka berzakat, kaya yang menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan dunia dan akhirat, dengan senantiasa berzakat, berinfak, dan wakaf
Zakat juga bagian kepedulian kepada sesama terutama mustahik. Olehnya kami mengajak seluruh masyarakat Maros agar kiranya kita berjamaah membangun jiwa raga Maros dengan senantiasa gemar berzakat dan berinfak.
Mari dukung Laznas BMH dalam rangka mensukseskan masyarakat Maros lebih sejahtera jiwa raganya.(*)
*) Kantor Laznas BMH Gerai Maros. Jl. Jenderal Sudirman No.27 Kec. Turikale (Depan kantor pajak Pratama) Hp/ WA 0813-5634-4450 / 0821-9530-3065
Karena Idealisme Pegangan yang Kokoh
Oleh : Ridwan, Pemuda Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda “Meski bulan diletakkan di tangan kiri saya dan Matahari diletakkan di tangan kanan saya, saya tidak akan berhenti dari jalan kebenaran ini.”
Tegas. Hadits ini diucapkan Nabi Muhammad shalahu alaihi wasallam saat pembesar Qurais merayu pamannya Abu Thalib untuk membujuk Rasullah agar berhenti menyebarkan ajaran Islam pada masa itu.
Imbalannya adalah Harta, Tahta dan Wanita. Tidak hanya sampai di situ, baginda Rasulullah shalahu alaihi wasallam diberi kebebasan untuk memilih hadiah mana yang paling disukainya.
Namun karena Rasulullah memiliki idealisme, Ia tidak terpengaruh dengan tawaran yang menggiurkan itu. tapi Baginda shalahu alaihi wasallam dengan tegas menolak semua bujukan sekalipun bulan dan matahari sebagai imbalannya.
Kemantapan idealisme itu kemudian diuji lagi oleh Allah Ta’ala. Maka pembesar kafir Qurais kembali berkumpul membicarakan cara agar dakwah Rasulullah shalahu alaihi wasallam berhenti.
Maka tercapailah kesepakatan, kalau kesejahteraan dan kebahagiaan dunia tidak membuatnya terpengaruh, mungkin dengan siksaan bisa membuatnya berhenti melakukan aktivitas dakwah.
Maka beragam siksaan mereka lakukan, mulai dari siksaan mental hingga siksaan fisik. Seperti kisah Abu Jahal cs meneror Rasulullah shallahu alaihi wasalam dengan kotoran unta saat sedang sujud dalam shalatnya. Kemudian kesaksian Uhud saat rantai besi menghujam pipi dan memecahkan rahang Beliau shallahu alaihi wasallam. Hingga kisah tentang penolakan penduduk Thaif kepada Baginda Sallahu Alaihi Wasalam, dan masih banyak lagi.
Tentu peristiwa yang dialami Baginda itu adalah seberat-beratnya ujian, sehingga tidak heran jika pemandangan itu membuat sang putri tercinta Fatimah radhiallahu anha tak kuasa membendung tangisnya. Sehingga Rasulullah shallahu alaihi wasalam harus memberinya semangat dengan senyum optimis kepada anaknya Fatimah seraya berucap, ” Wahai anakku, janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu”.
Sebagai pelaku dakwah, harus dipahami bahwa kisah tersebut bukan merupakan penggalan sejarah yang tak bermakna atau sekadar pelengkap wawasan saja, namun lebih dari itu, pengalaman hidup Rasulullah shallahu alaihi wasallam adalah contoh nyata bagaimana Baginda harus mempertahankan idealisme di tengah teror kematian selalu mengintai.
Maka belajar dari perjalanan Rasulullah shallahu alaihi wasallam tersebut, bisa disimpulkan bahwa konsekuensi hidup bagi para pejuang dakwah adalah pasti akan menghadapi tantangan yang sangat berat. Di sana juga ada penegasan lain, bahwa perjuangan dalam konteks apapun selalu berat, karena hidup di jalan Allah lebih berat daripada mati di jalan yang sama.
Ketegaran Rasulullah shallahu alaihi wasallam juga memberi arti, bahwa memiliki idealisme bukan sekadar berat pada bebannya saja, tapi juga tentang sebuah ekspektasi kebahagiaan jiwa.
Artinya, perjuangan yang dilakukan sesuai dengan manhaj yang benar akan memberi kebahagiaan tersendiri di tengah pahit getirnya ujian, ia akan memberi keberartian di tengah keterasingan dan pengusiran, memberi pengharapan yang penuh dan kepasrahan mendalam kepada Allah azza wa jalla di tengah penindasan dan kesewenang-wenangan orang yang tak mengerti pilihan kita.
Harus kita fahami, bahwa jalan yang kita pilih, ibarat sungai bahagia yang amat panjang. Hulunya adalah janji dan jaminan Allah dan hilirnya adalah kemenangan. Dan kita hanya perlu bersabar sejenak.
Di jalan ini tak ada yang lebih menderita melebihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kisah tentang prahara Makkah, Thaif dan Uhud yang dilaluinya semestinya menjadi cermin perjuangan kita. Supaya tak ada lagi keluh, tak ada lagi tanya mengapa engkau memilih jalan ini?
Mengapa mereka begini dan begitu.?
Sebab apapun pertanyaanmu tentang itu jawabannya adalah jaminan kemenangan dari Allah Ta’ala.(*)
Santri Kampus Hidayatullah Batangase Maros Buka Bersama BMH
Maros, HidayatullahSulsel.com — Santri binaan buka puasa bersama BMH di Masjid Pesantren Hidayatullah Batangase Maros, Selasa, (28/3/2023).
“Alhamdulillah, ini kegiatan buka perdana, karena sebelumnya para santri belajar setelah ashar hingga jam 17.30, di 6 Ramadhan kami melakukan rekonstruksi waktu, santri masuk jam 17.30. Sehingga setelah belajar talaqqi Qur’an, langsung buka puasa bersama, dan sholat berjamaah,” jelas Pembina, Ust Erwin.
Menurutnya santri-santri telah dikader dengan inovasi pengkaderan modern. Harapannya setelah tamat SD mereka dapat melanjutkan pembelajaran ke pesantren Hidayatullah.
Buka bersama ini akan terus berlanjut hingga Ramadhan usai. “Kita harapkan mereka selain antusias mengaji, juga terlatih berpuasa, dan tetap terjaga hafalan,” harapnya.
Ust Edwin salah satu ustadz pengajar yang merupakan jebolan Tahfidzul Qur’an Tanralili Maros, berharap kepada BMH memfasilitas santri untuk menjadi pribadi yang tidak saja asyik dengan kesalehan individual, tapi juga melahirkan kesalehan jama’i dengan menghadirkan program-program rutin yang memiliki nilai positif, dan bersifat edukatif, produtif dan inovatif.(abu sitta)
Hidayatullah Batangase Maros Hadirkan 3 Imam Muda Selama Ramadhan
Maros, HidayatullahSulsel.com — Ponpes Hidyatullah Bantangase Maros menghadirkan tiga imam muda untuk sukses ibadah pada Ramadhan kali ini.
Hal itu diutarakan Bendahara DPD Hidayatullah Maros Ust Fatahillah, Senin (27/3/2023). “Alhamdulillah kolaborasi dan sinergi Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Dewan pengurus daerah (DPD) Hidayatullah Maros dan masyarakat Batangse menjadi nafas gerakan kampus tiga Hidayatullah Maros,” ujarnya.
Ia mengatakan pihaknya menyiapkan 3 imam muda di Kampus tiga Kecamatan Mandai Jalan Elang. “Selain menjadi imam mereka juga diberikan amanah mengajar para santri kurang lebih 40an, tidak hanya itu mereka juga ditugaskan mengajak masyarakat untuk membangun ummat melalui gerakan Maros berzakat,” jelasnya.
Sahrul salah seorang imam muda mengaku bahagia. “Insya Allah kami akan memberikan pelayanan terbaik ke masyarakat dengan siap tanpa tapi tanpa nanti, dan tanpa letih didalam menjalankan tugas-tugas keumatan,” ujarnya.(rls/*)











