Beranda blog Halaman 62

Pesantren Putri Hidayatullah Bone Gelar Daurah Qur’an

0

Bone, HidayatullahSulsel.com — Pengurus dan asatidzah Pesantren Putri Hidayatullah Bone mengadakan Daurah Qur’an, Rabu, 22 Ramadhan 1444 H (12/4/2023). Daurah Qur’an ini akan dilaksanakan selama lima hari.

Kegiatan Daurah Qur’an rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadhan, terutama pada momentum 10 Ramadhan terakhir.

Daurah Qur’an ini diampuh oleh Ustadzah Ummu Syifa Muthaharah, Mahasiswi S.1 Tahfizh bersanad Markaz bil Lughoh STAIL Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh santri dan mahasantri Sekolah Daiyah Hidayatullah (SDH)

Melalui daurah tersebut, santri belajar dan praktek langsung membaca Al Qur’an dengan kaidah-kaidah yang benar.

“Belajar Qur’an tidak cukup sekedar membaca, namun juga praktik. Harapannya, para santri yang mengikuti daurah ini bisa mengajarkan ilmunya kepada santri lainnya maupun masyarakat, ” ucap Pembina Ustadzah Fitriani Laente.

Hal ini, rincinya, sesuai dengan hadist Rasullullah “Sebaik-baik di antara kalian ialah yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya.”(Evianingsih)

BMH Maksimalkan Berbagi di Bulan Istimewa

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Gerai Maros menggelar buka puasa bersama dirangkai Memperingati Nuzulul Qur’an, berbagi bingkisan guru ngaji, hadiah santri juara, berbagi zakat fitrah dan zakat maal, di kampus III Pesantren Hidayatullah Maros, Mandai, Bontoa, Senin 19 Romadhon 1444 H. (4/10/2023).

“BMH melalui program peduli dan melayani memaksimalkan kegiatan berbagi kebaikan sebanyak-banyaknya di Romadhan 1444 H. Dengan optimalisasi pendistribusian tepat sasaran dan pembinaan penerima manfaat kebaikan, senantiasa dilakukan agar perubahan dan perbaikan terhadap penerimah manfaat benar-benar terwujud,” jelas Ketua BMH Maros, Ust Fatahillah al Ayubi.

BMH Maros telah mendistribusikan donasi kepada guru ngaji, santri Tahfidzul Qur’an dhuafa, janda dan pemulung, berupa beras, sembako, uang tunai, sarung, dan Al-Qur’an. “BMH juga mengapresiasi santri yang telah menjuarai lomba bahasa Arab, adzan dan hafalan,” tutur Koordinator kegiatan, Refli.

Santri Sahrul mengaku sangat bahagia dengan kegiatan berbagi BMH. Pada kegiatan tersebut, Ketua BMH Maros memberikan motivasi di hadapan santri putra dan putri serta masyarakat sekitar.

“Agar momentum Ramadhan dijadikan untuk membangun kebersamaan dan cinta terhadap Al-Qur’an. Karena Al Qur’an memiliki energi positif yang mampu menjadikan kita semua istimewa dalam pandangan Allah, jadi jangan biasa- biasa saja perlakuan terhadap Al-Qur’an,” ujarnya.

Apalagi tambahnya, apapun yang dilekatkan ke Al-Qur’an pasti istimewa, Makkah dan Madinah istimewa karena diturunkan Al Qur’an, malaikat Jibril menjadi pemimpin para malaikat juga karena Al Qur’an, Rasulullah menjadi sayyidul ambiya’ wal mursalin (pemimpin para nabi dan rasul) dan menjadi manusia yang paling mulia. Juga karena Al Qur’an

Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan. Maka Ramadhan menjadi sayyidussuhur (penghulu bulan) dan bulan yang paling mulia. Ummat Nabi Muhammad menjadi ummat terbaik disebabkan Al-Qur’an

“Insya Allah para donatur yang telah memberikan zakat infak sedekah terbaiknya Melalui BMH untuk pesantren penghafal Al-Qur’an insya Allah juga akan meraih kemuliaan disisi Allah,” ucapnya.(rls/*)

*) Bagi yang ingin menunaikan zakat infak sedekah bisa kami jemput atau langsung datang ke kantor Alamat : Jl. Jenderal Sudirman No 27. Pettuade Kec.Turikale ( Depan Kantor Pajak Pratama Maros ). More information 0821-9530-3065 dan 0813-5634-4450

Mushida Pangkep Berbagi kepada Santri Binaan TPA

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Pangkep berbagi kebahagiaan kepada anak santri binaan di TPA Al-Wildan yang kurang mampu di aula serbaguna Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep, Senin, (10/4/2023).

Kegiatan penyaluran berupa uang saku Ramadhan dikoordinasi langsung oleh Ketua PD. Muslimat Hidayatullah Pangkep, Muliani, didampingi Bendahara PD Muslimat Hidayatullah Pangkep, Ustadzah Nur Asria Ashari, S, H.I.

Ustazah Muliani menyampaikan kegiatan ini sebagai wujud kepedulian para pengurus Muslimat Hidayatullah Pangkep terhadap orang-orang di sekitar yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, pengurus PD Muslimat Hidayatullah Pangkep bisa melaksanakan kegiatan berbagi dengan santri binaa TPA kami yang kurang mampu dan anak-anak yatim. Semoga ini bermanfaat bagi mereka yang menerima dan menjadi amal ibadah yang baik untuk seluruh pengurus PD Muslimat Hidayatullah Pangkep dan para Dermawan yang sudah terlibat dalam Program ini ,” harapnya.

Ia juga berharap kegiatan-kegiatan berbagi lainnya dapat dipertahankan. “Kami memohon doa semoga kami bisa tetap istiqomah dalam menjalankan kegiatan-kegiatan seperti ini”.

Pengurus PD Muslimat Hidayatullah Pangkep, juga mengajak untuk seluruh wanita-wanita Muslimah yang ada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan untuk berbagi, terlebih di momen bulan Ramadhan 1444 Hijriyah yang sebentar lagi akan berakhir ini.

“Mari sisihkan sebagian harta kita, dan mari berbagi untuk orang-orang di sekitar kita yang memerlukan bantuan,” katanya.

Khaidir, salah satu penerima manfaat menyampaikan rasa terima kasih banyak kepada PD Muslimat Hidayatullah Pangkep yang sudah memberikan uang saku untuk merayakan Hari Idul Fitri ini.

Bagi para dermawan yang ingin terlibat dalam program berbagi ini bisa menghubungi HP/WA : 082301999854. Rekening Donasi an.Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep BRI 0223-01-012918-53-2.■ rls

Berbedalah Walau Tampak ‘Gila’

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Dalam safar tugas dakwah ketika masuk waktu shalat dhuhur saya pun mampir di salah satu masjid di Kota Jeneponto. Begitu masuk di ruang masjid itu pandangan tertuju pada pengumuman yang tertempel di dinding masjid itu. Isinya sangat inspiratif dan unik, karena jarang ada pernyataan seperti itu ditemui di mushollah ataupun masjid lain.

“Tidak ada pelarangan istirahat maupun tidur di dalam mesjid Raoda Annabacu. Silahkan istirahat selepas shalat. Jika lelah atau ngantuk gunakan fasilitas kipas angin agar nyaman”. Demikian bunyi pengumuman di masjid kecil Raoda Annabacu di pinggir jalan poros Makassar – Bulukumba tersebut.

Pengumuman yang saya anggap cukup unik dan berani karena melawan persepsi masyarakat yang selalu was-was dengan orang tak dikenal atau para musyafir yang hendak mampir shalat ataupun sekadar istirahat. Karena pernah viral tentang kelakuan jahat oknum di beberapa masjid yang sempat terekam lewat CCTV dan viral di medsos

Masjid yang seharusnya sebagai tempat sakral untuk beribadah dan berdzikir dinodai oleh ulah orang tidak beradab di rumah Allah. Dia masuk ke masjid hanya dengan niat tertentu, mengambil barang milik jamaah hingga mengguras isi kotak amal masjid.

Maka tak jarang kita temui masjid yang terkunci ketika selesai acara masjid. Untuk menambah keamanan dan kenyamanan di beberapa sudut dipasangkan CCTV. Ditambah pula dengan pengumuman “dilarang berbaring di karpet”, “dilarang tidur di masjid” dan pengumuman lain yang tidak ramah.

Demikian juga sebahagian masyarakat umumnya masih memahami bahwa masjid adalah tempat yang diperuntukkan khusus untuk ibadah, bukan diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan bagi musyafir dan siapa saja yang mau beristirahat dan menikmati suasana kesejukan udara masjid.

Lain halnya dengan beberapa masjid atau mushollah yang memposisikan masjid sebagai wadah peristirahatan terbaik dan menyenangkan bagi siapa saja. Maka akan diperlakukan khusus dan istimewa kepada musyafir, yang mampir untuk sholat dan beristirahat dengan layanan mirip penginapan

Sosok Berbeda

Berbuat baik dan senang membantu bagi yang membutuhkan yang diprogramkan di beberapa masjid tertentu adalah keberanian berbeda melahirkan kreasi kebaikan yang menarik di tengah jaman serba individualistik dan penuh rasa curiga saat ini.

Sesungguhnya dorongan iman dan taqwalah membuat seseorang menjadi pembeda dengan yang lainnya. Apatalagi bila dikaitkan dengan Ramadhan yang di dalamnya turun Al Quran sebagai petunjuk yang melahirkan sosok pembeda, seperti yang dimaksudkan dalam kandungan QS 2 : 185.

Berbeda berarti membuat sesuatu yang tidak lumrah dan tidak umum. Nampak perjuangannya melawan arus budaya dan sikap umumnya berlaku di masyarakat yang kurang peduli dengan layanan jamaah. Tidak menyiapkan program layanan bagi jama’ah yang memerlukan bantuan pelayanan

Orang beriman dan ber-Quran tidak cukup sekadar berbeda. Bahkan boleh jadi nampak agak ‘gila’, karena melakukan sesuatu yang tidak lumrah dan umum dilakukan masyarakat seperti menjadikan masjid sebagai pusat layanan umat.

Ketika orang beriman itu senantiasa mentautkan hati dan pikirannya kepada Sang Khalik, Allah SWT, iscaya akan muncul rasa tanggung jawab yang tinggi dan kepedulian pada orang lain. Dampak imannya akan melahirkan ide-ide dan karya kreatif yang bermanfaat, sekalipun pada hal kecil.

Jangakauan pemikiran orang berQur’an bisa melewati dimensi ruang dan waktu, sehingga sering kali membuat sesuatu yang ‘gila’. Namun setelah ‘ke”gilaannya” itu terlihat sangat baik, bisa jadi menjadi solusi bagi permasalahan yang ada. Kreatifitasnya pada akhirnya menjadi sangat menarik, sampai semua orang pun ingin mencontohnya.

Begitulah dakwah dan tarbiyah yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam mewujudkan tatanan ber-Islam. Pada tahun awal kenabian mendapatkan tantangan sangat berat dari masyarakat Arab, sampai dia dicap orang gila. Namun Allah meyakinkan Muhammad bahwa sesungguhnya dia bulan gila. (QS Al-Qalam: 3-4)

Hanya saja kawan, gila dimaksud bukanlah seperti kelakuan yang sering terjadi. Dengan sengaja dan terencana berbuat jahat terhadap tokoh agama termasuk Imam masjid, menciderai dan juga berupaya membunuhnya, Ketika pelakunya ditangkap dan diintrogasi, berlagaklah dia seperti kurang waras, atau pura-pura gila.(*)

RQH Husnul Khatimah dan Ar-Razzaq Parepare Buka Bersama

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Husnul Khatimah dan RQH Ar-Razzaq Kota Parepare menggelar buka bersama di hari ke-17 Ramadhan 1444 H, Sabtu (8/4/2023).

Kegiatan bertempat di kediaman Halimah (RQH Husnul Khatimah) di Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Barat Kota Parepare itu diawali kajian Ramadhan bersama ustadz Nashrullah Alwi Lc.

Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan tersebut menekankan agar menjalani hari-hari Ramadhan yang tersisa ini dengan mengeluarkan semua potensi untuk meraup pundi-pundi kebaikan.

“Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk bermujahadah, berjuang bukan bersantai. Maka perlu mengeluarkan semua potensi-potensi yang ada untuk meraup pundi-pundi kebaikan,” pesannya.

“Ada perintah untuk berjuang dengan harta dan jiwa. Namun, salah satu kita syukuri hidup di negara Indonesia yang aman damai ini maka jihadnya dengan harta yang berpotensi untuk dilakukan bagi mereka yang diberi kelapangan harta,” lanjutnya.

Selain itu, ia mengingatkan untuk memaksimalkan ibadah menghabiskan waktu untuk senantiasa bersama Allah, bersama Al-Qur’an, serta bersama dalam membumikan al-Qur’an.

“Kita jadikan setiap kegiatan menjadi moment untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Waktu Ramadhan yang sebentar lagi, saatnya memanfaatkan agar dilalui dengan bersama Allah subhana wa ta’ala, menghabiskan waktu bersama al-Qur’an, bersama untuk terus menggelorakan dan membumikan al-Qur’an. Sebagai ikhtiar akan diturunkannya keberkahan di tempat kita,” terang ustadz lulusan Madinah ini.

Pada kesempatan yang lain ustadz Ahmad Syahril SPd memberikan apresiasi kepada RQH Husnul Khatimah dan Ar-Razzaq yang senantiasa mengambil bagian dalam jihad hartanya, “Alhamdulillah, kita sangat bersyukur bahwa RQH yang ada di kota Parepare senantiasa memberikan dukungan dan kontribusinya disetiap kegiatan yang diadakan di Hidayatullah Parepare,” ujarnya

Kegiatan buka bersama dihadiri oleh seluruh anggota RQH Husnul Khatimah dan Ar-Razzaq, Pengajar RQH, Pengurus Pos Dai Sulawesi Selatan, Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ketua Departemen Dakwah Pemuda Hidayatullah Wilayah Sulawesi Selatan, Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah Parepare, serta santri Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare. Dan yang paling berkesan bahwa anggota RQH ini tidak hanya yang masih berusia muda tetapi turut hadir anggota RQH yang diantaranya sudah berusia 73 tahun. (Sahlah al-Ghumaishaa’)

Menyegerakan Zakat Fitrah, Solusi Zakat si Miskin

0

Oleh : Basori Shobirin, Pegiat Zakat Laznas BMH

HidayatullahSulsel.com — Penetapan garis kemiskinan dihitung dari pengeluaran kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.

Bank Dunia (World Bank) menetapkan basis perhitungan garis kemiskinan ekstrem dengan minimal penghasilan US$ 2,15 per orang per hari atau Rp 32.745 per hari (kurs Rp 15.230 per US$).

Garis kemiskinan di Indonesia di hitung berpengasilan Rp 535.547/bulan atau belanja harian senilai Rp 17.851. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mengeluarkan rilis jumlah penduduk miskin pada September 2022 sebesar 782,32 ribu orang yang hanya berpenghasilan rata-rata Rp. 422.952.

Data di atas menunjukkan ada sebanyak 8,66 persen penduduk miskin di Sulsel. Kemiskinan ekstrem yang mendera membuat mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kemampuan mereka membayar zakat.

Kewajiban Berzakat

Setiap muslim dari semua lapisan sosial memiliki kewajiban yang sama untuk menunaikan zakat fitrah. Laki-laki maupun perempuan. Anak kecil atau orang dewasa. Baik kaya maupun miskin. Bedanya, orang kaya tidak berhak menerima zakat, sedangkan orang miskin dapat memperoleh pembagian zakat.

Menyegerakan menunaikan zakat fitrah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada semua pihak untuk mendapatkan kesolehan sosial bersama. Bagi keluarga miskin, menerima zakat lebih awal dapat memenuhi kebutuhan dasar dan membayar zakat dari yang mereka terima.

Zakat kita sudah barang tentu di tunggu oleh individu miskin yang bisa saja berasal dari lingkup keluarga atau lingkungan terdekat kita. Adanya syariat zakat memberi bukti bahwa urusan umat Islam bukan hanya berpaku pada langit. Namun juga membumi, memberi solusi pada urusan-urusan sosial.

Waktu Menunaikan Zakat

Durasi waktu membayar zakat sangat panjang. Selama bulan Ramadhan. 29/30 hari sebulan. 7 hari seminggu. 24 jam sehari. Bisa bayar zakat pagi atau malam. Kala terang atau saat petang. Imsyak di hari pertama puasa, sudah sah membayar zakat.

Menunaikan zakat di akhir waktu, sebelum naik khutbah idh hukumnya wajib. Namun jika telah matahari naik, sholat idh tertunaikan maka berubah menjadi batal zakat fitrahnya. Amal fitrahnya tertolak dan bernilai sedekah saja.

Menyegerakan berzakat fitrah akan lebih memudahkan proses pencatatan dan pendataan oleh lembaga-lembaga resmi. Waktu yang lebih luang akan memberikan kesempatan untuk dilakukan verifikasi atau pencocokan data antar lingkungan atau lembaga sehingga distribusi zakat tidak menumpuk kepada orang-orang miskin tertentu atau terjadi keterlambatan distribusi hanya karena waktu yang terbatas. Mari bersegera zakat fitrah. (*)

Ponpes Hidayatullah Pangkep Kembali Terima Bantuan Tonasa

0

Pangkap, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep menghadiri undangan dan kembali menerima bantuan PT Semen Tonasa di Auditorium kantor pusat PT Semen Tonasa, Selasa (4/4/2023).

Dengan mengambil tema “Bahagia Bersama dalam Indahnya Ramadan”, Semen Tonasa memberikan bantuan sosial kepada 6 pondok pesantren dan 7 panti asuhan yang ada di Kabupaten Pangkep, serta penyerahan bantuan 4.200 paket sembako kepada masyarakat sekitar perusahaan

Kegiatan Safari Ramadhan ini dihadiri langsung oleh Direktur Utama SIG Doni Arsal, Direktur Operasi SIG Yosviandri, Direksi SDM dan Umum SIG Agung Wiharto, Direktur Utama PT Semen Tonasa Mufti Arimurti, Direktur Operasi PT Semen Tonasa Mochamad Alvin Zaini, dan Direktur Keuangan Anis, karyawan Band 1, 2 dan 3 PT Semen Tonasa, serta tamu undangan pengurus pondok pesantren dan panti asuhan, serta ratusan santri dan penghuni panti asuhan.

Dalam sambutannya, Doni Arsal mengungkapkan rasa bahagianya karena dapat bertemu dan bersilaturahmi dengan para undangan.

Ia juga menyatakan, dengan semakin terkendalinya Covid-19, tahun 2023 ini dapat menjadi awal bagi pemulihan tidak hanya kehidupan keseharian, tetapi juga perekonomian nasional dan ruang-gerak SIG grup bersama seluruh anak perusahaan, termasuk Semen Tonasa.

“Dari tahun ke tahun, Semen Tonasa bersama SIG terus bersinergi untuk menjadi motor dan berkontribusi penuh dalam mendukung agenda pembangunan negara, serta menjalankan peran BUMN dalam memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Semen Tonasa disebut sebagai jejaring penting SIG untuk melayani masyarakat di Timur, Utara, dan Timur Laut Indonesia khususnya di Ibu Kota Nusantara (IKN) nantinya.

“Semangat itu kami wujudkan dalam berbagai upaya untuk memperkuat SIG sebagai BUMN solusi bangunan yang terbesar dan terkuat di Indonesia dan regional. Berbagai inovasi untuk menghadirkan produk dan jasa konstruksi dan infrastruktur yang ramah lingkungan, serta program-program sinergi untuk memberikan manfaat positif kepada masyarakat.” urainya.

Doni menambahkan, dalam momen bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan, pihaknya ingin berbagi dengan saudara-saudara di lingkungan masyarakat Pangkep. Dengan harapan dapat membantu meringankan beban dan membahagiakan kemenangan.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas hubungan yang baik dan kerja sama yang telah terbangun antara SIG, Semen Tonasa dan masyarakat selama ini. Ia berharap, semoga kedepannya dapat terus memperkuat sinergi untuk mendukung pembangunan di daerah dan memperluas manfaat positif pembangunan di Indonesia secara keseluruhan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Tonasa Mufti Arimurti mengatakan, bahwa pada tahun ini Semen Tonasa kembali menyalurkan berbagai program Kebaikan Ramadhan dengan total nilai bantuan hampir Rp 800 juta. Diantaranya bantuan kepada pondok pesantren dan panti asuhan di Pangkep, serta penyaluran bantuan 4.200 paket sembako kepada warga desa Ring 1.

“Selain kedua program kebaikan tersebut, PT Semen Tonasa juga mendukung berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh stakeholder. Mulai dari kegiatan Amaliyah Ramadhan, berbagai perlombaan keIslaman, hingga pemenuhan kebutuhan penyelenggaraan ibadah serta perbaikan infrastruktur masjid serta bangunan sosial lainnya seperti pesantren dan panti asuhan.” pungkasnya.

Ari berharap, agar bantuan ini tidak semata dilihat dilihat dari nilainya. Ia berharap agar yang dinilai adalah ketulusan perusahaan untuk membantu masyarakat sekitar perusahaan yang membutuhkan. Pada kesempatan tersebut, Ari juga memohon do’a baik serta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, semoga PT Semen Tonasa dan SIG dapat lebih sukses, dapat lebih maju, serta dapat mencapai performance kinerja yang ekselen, baik di tahun ini maupun di tahun-tahun mendatang.

Kegiatan Safari Ramadhan 1444 H ini sendiri, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh SIG bersama anak usahanya, dengan memberikan beragam bantuan di seluruh wilayah operasional perusahaan, yakni Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Disamping itu, Karding Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin menyampaikan Terima kasih kepada seluruh jajarannya PT Semen Tonasa yang sudah memberikan bantuan dan selalu membersamai pembangunan yang ada di Hidayatullah Balocci.

“Sejak berdirinya Hidayatullah Balocci ini, PT Semen Tonasa alhamdulillah selalu hadir dalam membersamai pembangunan yang ada di pondok kami, hingga sampai saat ini,” jelasnya.(rls/*)

Lunturnya Amal Kebajikan

0

Oleh : Bachtiar Aras, Trainer Life Revolution

HidayatullahSulsel.com — Tersebutlah seorang calon karyawan diwawancarai tentang motivasi dan niat ia melamar kerja. Boleh jadi ketika ditanya saat itu, ia bisa lolos dengan memberikan jawaban yang lancar dan masuk akal disertai argumentasi yang bagus.

Boleh saja ia menjawab ingin mengaktualisasikan dirinya di tempat ia bekerja kelak. Namun lama kelamaan, suatu saat akan terlihat niatnya bekerja. Kalau memang niatnya sesuai dengan hati nuraninya, ia akan enjoy di pekerjaan itu.

Namun tak dapat dipungkiri, di dunia kerja, seseorang akan terefleksi niatnya dari apa yang dilakukannya dibanding apa yang diucapkan. Kepiawaian lisan seseorang dalam menyusun kata-kata apalagi berniat berdusta, kelak akan berbalas dengan prilaku sehari-harinya di tempat kerja.

Artinya, apa yang diniatkan ketika diterima di sebuah perusahaan akan terlihat dalam perilakunya sehari-hari di tempat kerja. Perilaku lebih jujur dibanding sekedar untaian kata-kata.

Kita boleh terpukau dengan kelihaian lisan seseorang tapi kita akan sangat merasa kesulitan untuk mengetahui isi hatinya. Boleh saja ada orang yang di kala ia belum menduduki jabatan, ia dengan berapi-api menunjukkan kebolehannya membius khalayak dengan sekian macam iming-iming.

Tetapi di saat ia menduduki jabatan tersebut, malah jauh bertolak belakang dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya. Yang tadinya ia menentang korupsi. Setelah menduduki jabatan penting, malah korupsinya lebih hebat dari pejabat sebelumnya.

Di sinilah perlunya selalu menjaga niat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu sesuai niatnya, dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya”.

Bila niat seseorang tertuju pada dunia, ia akan memperoleh sesuai apa yang ia niatkan. Setiap hasrat untuk memiliki bagian dari dunia yang dianggap membahagiakan, ia pun akan meraih apa yang ia niatkan.

Dalam hal ini fungsi hati sebagai ‘generator’ yang bekerja melalui isyarat-isyarat dalam jiwa. Isyarat-isyarat ini ada kemungkinan mengendalikan hati dengan segala gerakannya semata bagi Allah, namun adakalanya juga bisa mengendalikan hati dan segala gerakannya bagi selain Allah swt.

Bagi seorang muslim, ikhlas adalah sesuatu yang paling prioritas. Segala sesuatu yang berarti bisa tidak memiliki arti tanpanya. Segala kebajikan bisa menjadi sirna bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Amal kebajikan sebesar gunung bisa menjadi debu-debu berserakan yang tidak memiliki arti tanpa keikhlasan. Karena ikhlas adalah pangkal dari segalanya.

Rangkaian-rangkaian ibadah dalam rukun Islam, mulai syahadat hingga haji, semua dituntut adanya keikhlasan. Karena keihklasan adalah penentu diterimanya amalan-amalan yang dilakukan.

Dalam shalat saja, Allah swt mengecam orang yang riya’ dalam shalatnya. Walaupun misalnya kita shalat tarawih hingga tiga puluh rakaat, kalau motivasi selain kepada Allah, maka esensi shalat tidak akan diperoleh bahkan dikategorikan sebagai orang yang celaka sebagaimana firman-Nya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’.

Begitu halnya dengan puasa. Di kala keikhlasan itu ditinggal, maka puasa yang dilakukan sama sekali tidak memiliki power. Sabda Rasulullah Saw, “Berapa banyak orang yang berpuasa, hasil yang diperoleh dari puasanya hanya rasa lapar dan haus saja”.

Dalam hal zakat, infak dan shadaqah, Allah swt melarang keras menyebut-nyebut sedekahnya itu. Dengan kata lain, ada semacam perasaan ingin dipuji atau riya’ sehingga mengungkit-ungkit pemberiannya.

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian….” (QS Al Baqarah 264)

Riya’ adalah penyakit yang sangat berbahaya sampai-sampai Rasulullah sangat cemas melihat umatnya yang terkena penyakit ini.

Syaddad bin Aus ra, seorang sahabat Rasulullah saw, suatu ketika melihat rona pada wajah nabi. Dalam keadaan penasaran ia bertanya, “Wahai Rasulullah, demi ayah ibuku, kulihat ada kelainan di wajahmu?”

“Aku cemas, umatku terkena syirik”.

“Adakah umatmu akan menjadi musyrik sepeninggalmu yaa Rasulullah?”

“Wahai Syaddad, memang mereka tidak menyembah matahari, tidak menjadi kaum paganis, tidak juga menyembah batu. Namun mereka beramal karena ingin meraih pujian manusia”

Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Khuluq Al Muslim membagi lima golongan riya’. Pertama, riya’ dalam soal tauhid. Seolah-olah memperlihatkan iman yang benar, tapi I’tikad tidak demikian. Inilah yang diistilahkan dengan munafik.

Kedua, riya’ dalam melaksanakan amal ibadah. Ketiga, riya’ dalam amalan sunnah. Di muka orang banyak, ia bersungguh-sungguh berdzikir, shalat tarawih, tapi bila tidak ada orang, sunnah-sunnah itu tidak dikerjakan lagi. Keempat, riya’ karena menyebut amal-amal kebajikan.

Dan yang terakhir, riya’ dalam sikap dan kesungguhan dalam beribadah. Seolah-olah menampakkan kekhusyukan dalam shalat, merendahkan dan melemahkan suara agar kelihatan alim dan shaleh.

Penyakit riya’ ini akan menghilangkan kebaikan dan pahala. Biasanya, riya’ ini dikerjakan oleh orang berjiwa lemah dan berakal kurang.

Akhirnya kita berupaya untuk menanamkan keikhlasan dalam jiwa kita dengan tidak akan mencampuri semua amal dengan harapan-harapan yang bersifat duniawi. kita senantiasa membersihkan hati dari segala kotoran – sedikit ataupun banyak – sehingga tujuan dari taqarrub benar-benar murni karena Allah Swt, bukan yang lain.

Hal ini hanya akan datang jika kita mencintai Allah dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya. Semoga pada bulan ramadhan ini, kita memupuk keikhlasan dalam diri kita perlahan-lahan.(*)

Zakat Goes to School BMH Sulsel di SMAN 21 Makassar, Pekan Depan

0

HidayatullahSulsel.com — Tim Laznas BMH Sulsel berkunjung ke SMA 21 Makassar di perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar, Kamis (6/4/2023).

Kunjungan tersebut terkait rencana Laznas BMH menyelenggarakan kegiatan Zakat Goes To School. Tim BMH diterima langsung oleh Kepala Sekolah SMAN 21 Makassar, Andi Ernawati.

Ia berharap agenda kegiatan Zakat Goes To School bisa di laksanakan di Senin pekan depan. “Syukur Alhamdulillah di SMA 21 juga sudah datangmi Laznas BMH,” ujarnya.

“Dalam kegiatan ini, Laznas BMH akan kembali menghadirrkan konten kreator anak muda milenial Makassar Rijal Djamal,” jelas Kadiv Markom BMH Sulse, Rizki.

Ia mengatakan melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa mendapatkan pemahaman terkait zakat dan para siswa bisa menyerap inspirasi dari Rijal Djamal.(rls/*)

Merawat Iman

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Merawat adalah suatu usaha dan peran aktif untuk memelihara; menjaga, mengurus, atau membela sesuatu yang dianggap penting, dilakukan dengan cintai atau pun harus dilakukan karena kewajiban.

Sehubungan dengan istilah merawat, berikut ini kisah menarik betapa dahsyatnya ketika orang yang senang merawat. Kisah seorang penjahat selama hidupnya bisa bernasib luar biasa karena merawat

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya “Mukasyafatul Qulub”, dilansir dari laman NUonline mengisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pria Basrah yang jahat di masa hidupnya, dan ketika meninggal tidak ada satupun orang yang mau menshalati dan mengantarkan jenazahnya ke tempat pemakaman.

Bahkan sang istripun sampai membayar dua orang untuk memikul jenazah suaminya untuk dibawa ke musholla, agar dishalati. Namun tidak ada seorangpun yang mau menshalati jenazah suaminya tersebut, sehingga sang istripun membawa jenazah suaminya tersebut ke lahan luas untuk dimakamkan.

Namun tak jauh dari lahan luas yang menjadi tempat untuk memakamkan suaminya tersebut, hiduplah seorang ahli ibadah yang rumahnya berada di atas gunung.

Sang istri seakan-akan melihat sang ahli ibadah tersebut turun gunung untuk menshalati jenazah suaminya tersebut, yang dicap sebagai orang jahat dan tidak ada yang mau menshalatinya, serta mengantar jenazahnya ke tempat pemakaman.

Sang ahli ibadah yang akhirnya turun gunung, dan berniat untuk menshalati jenazah orang jahat tersebut didengar oleh para penduduk yang sebelumnya tidak mau menshalati jenazah tersebut.

Sehingga, kabar tentang turunnya sang ahli ibadah yang berniat untuk menshalati jenazah orang jahat tersebut, didengar oleh para penduduk. Banyaknya para penduduk yang mendengar kabar tersebut, kemudian ikut untuk menshalati jenazah orang jahat itu.

Para penduduk yang selesai menshalati jenazah tersebut merasa heran, dan mempertanyakan apa yang menjadi sebab sang ahli ibadah mau turun gunung untuk menshalati jenazah itu.

Sang ahli ibadah menjawab pertanyaan para penduduk tersebut, bahwasanya, “Aku mendengar dalam mimpiku; turunlah ke si fulan, karena tidak seorangpun yang mau menshalatinya. Maka shalatkanlah, sebab ia telah diampuni oleh Allah SWT”.

Jawaban yang keluar dari mulut sang ahli ibadah semakin membuat para penduduk penasaran, amalan apakah yang telah dilakukan oleh almarhum yang merupakan seseorang yang jahat dalam hidupnya, sehingga semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Kemudian sang ahli ibadah tersebut, memanggil istri almarhum dan menanyakan perilaku suaminya semasa hidupnya. Sang istri yang ditanya oleh sang ahli ibadah, menjawab, “Sebagaimana orang-orang ketahui, bahwa almarhum suami saya sehari-harinya hanya berbuat dosa dan selalu mabuk-mabukan”.

Mendengar jawaban tersebut, sang ahli ibadah meyakinkan Istri almarhum untuk mengingat lebih dalam lagi tentang perbuatan almarhum. “Cobalah Anda teliti kembali, apakah ada amalan kebaikan yang pernah dilakukannya semasa hidup?”

Istri almarhum kemudian ingat dan menjawab, “Oh ya, saya ingat. Ada tiga amalan kebaikan yang selalu dilakukan oleh almarhum suami saya di masa hidupnya. Pertama, ketika dia sadar dari mabuknya di waktu subuh, dia segera mengganti pakaiannya. Kemudian berwudhu, dan ikut shalat berjama’ah subuh.

Kedua, di rumah kami tidak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim, dan kebaikan almarhum suami saya terhadap anak yatim melebihi kebaikannya terhadap anaknya sendiri.

Ketiga, suatu ketika almarhum pernah sadar dari mabuknya di tengah malam, dia menangis dan berkata; ‘Ya Tuhanku, letak neraka jahannam manakah yang engkau kehendaki untuk meletakkan orang terkutuk sepertiku ini?”

Apa yang dikisahkan di atas adalah wujud inplementasi keimanan. Sejahat apapun seseorang ketika masih ada sebiji jarrah iman di dada niscaya akan terpanggil kepeduliannya untuk berbuat baik kepada orang lain, termasuk kepada anak yatim.

Demikianlah halnya iman yang telah tertanam dalam diri seseorang, adalah bukan pemberian cuma-cuma dari Allah Ta’ala. Iman akan tumbuh dan kokoh oleh sebuah perjuangan dan pengorbanan pengorbanan yang tinggi.

Sehingga iman ini harus selalu ditumbuhkan dan dirawat. Makna merawat dalam perspektif keimanan adalah keistiqomahan. Suatu upaya konsisten agar iman itu tetap eksis dalam kehidupan keseharian hingga akhir hayatnya.

Iman dan istiqomah adalah padanan karakteristik seorang muslim yang berpengaruh sebaliknya, mampu merawat keselamatan dan kebagiaan hidupnya.

Sejalan dengan bagaimana merawat iman, dalam sebuah hadits, dari Abu ‘Amrah bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim).(*)