Beranda blog Halaman 60

Membangun Spirit Silaturahim, Raih Faedah bagi Perjuangan

0

Oleh : Drs Ust Muhammad Kaisar, Ketua DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com — Silaturahim, selain memanjangkan umur juga diperintahkan di dalam syariat Islam. Silaturahmi juga mempunyai dampak kemanfaatan yang sangat luar biasa.

Dengan menjaga silaturahim, Allah ta’ala akan menurunkan banyak keberkahan dalam kehidupan kita, akan menjadi washilah turunnya rahmat dan pertolongan Allah.

Semakin sering kita bersilaturahim maka akan semakin banyak orang mengenal kita. Semakin kita dikenal banyak kalangan maka akan semakin banyak orang yang tahu maksud dan tujuan kita.

Hingga kemudian akan berefek pada respect atau simpati orang lain kepada kita. Dan ketika seseorang sudah mulai respect dan percaya kepada kita, maka sudah otomatis mereka akan sukarela membantu dan menjadi bagian dari perjuangan kita.

Seseorang yang senantiasa menjaga tali silaturahmi maka Allah akan melapangkan rezeki dan memperpanjang umurnya. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR. Bukhari – Muslim).

Mengingat amanah kita cukup besar dan banyak tantangan, menuntut kita untuk terus bergerak menjalin dan menyambung silaturahim.

Kalau mengambil istilah dan spirit bunda Siti Hajar terus melakukan Sa’i naik turun lembah, niscaya Allah akan menurunkan atau menunjukkan sumber mata air zamzam-nya dari arah yang tidak disangka-sangka. Wallahuallam.(*)

Perubahan yang Terbelenggu

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Berubah itu bisa dikatakan susah, bisa juga dikatakan mudah. Susah ketika hal yang lama telah menjadi karakter pada diri seseorang, dan mudah ketika menemukan jalan yang begitu mudah berubah, yang kadang tanpa diduga dan tak disangka.

Ada kisah menarik tentang bagaimana susahnya berubah walau waktu dan jaman telah berubah termasuk pada dirinya, karena pikirannya telah terkooptasi untuk tidak perlu berubah.

Beberapa dekade lalu ada salah satu hiburan paling menarik, yaitu pertunjukan sirkus, sering mempertontonkan binatang buas termasuk gajah. Bagaimana bisa gajah yang besar, liar dan buas bisa tunduk patuh pada pawangnya. Itu karena pembiasaan bertahun-tahun sejak kecil.

Gajah sirkus itu sejak masih kecil diikat dengan rantai yang sangat kuat, sehingga meskipun meronta maka ia kesulitan melepaskan dirinya dari belenggu rantai. Bahkan akhirnya ia kesakitan setiap kali mencoba untuk melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya.

Setiap kali mencoba melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya ia selalu kesakitan. Yang pada akhirnya, walaupun gajah yang seharusnya memiliki tenaga sangat besar, namun tak mampu melepaskan dari belenggu itu. Sampai memiliki keyakinan bahwa ia tidak mungkin lagi bisa lepas dari rantai yang membelenggunya.

Sehingga kemudian menjadilah gajah tersebut sebagai gajah sirkus. Walaupun berbadan besar dan bertenaga besar namun telah kehilangan tabiat gajahnya yang asli, kehilangan semangat untuk keluar dari ikatan imajinernya.

Gajah sangat fenomenal berubah menjadi penurut dan jinak setelah dilatih oleh pelatih sirkus. Demikian halnya saat rantainya dibuka, maka gajah pun tidak berusaha melarikan diri. Dalam fikirannya selama ini merasa selalu saja ada rantai yang selalu mengikatnya.

Dalam benak gajah itu telah ada “rantai” yang membelenggunya. Padahal rantai itu bisa jadi tidak ada. Sementara tenaganya yang sangat besar sebetulnya memampukan gajah itu untuk berbuat lebih banyak. Tidak hanya melepaskan rantai yang membelenggunya, tapi bisa mengamuk serta menghancurkan di sekelilingnya, khususnya kepada yang dianggap mengganggu kenyamanannya.

Demikian pula gambaran tentang manusia dalam merubah sebuah keyakinan dan pemahamannya, dari sebuah doktrin yang secara tidak sadar bekerja terhadap kehidupannya.

Kebenaran dari keyakinan yang difahami dipegangnya erat dan kuat, padahal itu hanya doktrin yang sudah ketinggalan dari perkembangan kehidupan, sehingga tidak layak lagi dipertahankan. Dipertahankannya kebenaran itu padahal itu hanya doktrin dan perilaku yang hanya tepat pada zaman masa lalu yang dialaminya.

Salah satu contohnya adalah pemahaman dalam metode pendidikan dan dakwah, sebelumnya mengandalkan metode tatap muka face to face, ditambah dengan kedekatan dari hati ke hati secara langsung. Sehingga mampu mentransformasi ilmu dan nilai ke audiens.

Setelah perkembangan teknologi ditandai dengan tersedianya alat dan media komunikasi modern yang mudah dan cepat. Mampu mendekatkan batas jarak dan waktu. Walau media komunikasi adalah alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang baik dan buruk. Namun harus dimaksimalkan pemanfaatannya untuk kepentingan dakwah dan pendidikan mempermudah dan mempercepat transformasi ajaran tauhid ke masyarakat.

Membuka cakrawala fikiran, bahwa siapa yang berfikir terbuka dan progresif dalam menyikapi perubahan, tak terkecuali pada aktivitas dakwah niscaya akan menjadi penggerak dan pelopor perubahan ke arah kehidupan umat yang lebih baik.

Orang seperti itu akan dicatat sebagai golongan yang kehadirannya senantiasa membuat perubahan ke arah positif, “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)” (QS. Al-An ‘aam: 160).(*)

Iman, Puasa dan Takwa

0

Oleh : KH Aqib Junaid, Anggota Dewan Muzakarah Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Tema dari dari Silaturrahim Syawal ini adalah “Raih taqwa dengan semangat berqur’an dan berbagi”. Kata “Raih” mengawali “taqwa” sehingga rasanya terkesan Ramadhan yang baru berlalu tetapi taqwa belum tercapai belumlah diraih.

Apakah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan kemarin belum cukup untuk takwa itu diraih?

Sangat mengherankan kemudian kalau-kalau ada yang merasa yakin betul dengan percaya diri merasa telah maksimal dan meraih taqwa

Sebuah Kkarunia yang besar bisa bertemu Ramadhan sebab di Hidayatullah sepertinya malaqul maut cukup aktif, sehingga di group-group WA bermuncupan informasi-informasi yang diawali dengan innalillahi wainna ilaihi rooji’uun, selama Ramadhan kemarin.

Di Bontang enam orang warga Hidayatullah meninggal di
Batam dan di Solo berentetan kader-kader menghadap Allah

Patut bersyukur kita termasuk orang-orang yang diberi kesempatan untuk menikmati Ramadhan satu bulan penuh.

Pada dasarnya manusia dalam menghadapi dan melalui Ramadhan dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok yakni orang-orang yang sukses dan kedua orang-orang yang gagal.

Orang sukses adalah orang menang, sedangkan orang gagal berarti tidak sukses. Tingkatan kesuksesan seseorang bervariasi

Jarak terdekat antara sukses dan gagal adalah antara hampir sukses atau hampir gagal.

Tingkatan sukses pun itu ada tiga jenis, jenis pertama Sukses, kedua Sukses Betul dan Sangat Sukses Sekali.

Umumnya orang sukses pasti gembira. Tidak ada orang yang sukses yang tidak senang, bahkan tidak jarang sukses ini di ekspresikan

Lucu dan aneh dan bahkan menjadi objek wisata kalau ada orang gagal tetapi ikut bergembira juga. Apalagi kegembiraannya sama dengan orang sukses bahkan kegembiraannya melebihi orang sukses.

Hari raya Idulfitri itu adalah bentuk kegembiraan bagi orang-orang yang sukses, orang yang berupaya keras memaksimalkan diri beribadah di bulan suci Ramadhan.

Maka akan sangat lucu jika ada orang yang gagal ikut juga bergembira. Malaikat bingung dan bahkan mungkin menertawakan bahwa ada orang yang gagal tetapi ikut juga senang. Takbiran juga, baju barunya paling mahal, sendalnya serasi sama bajunya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pernahkah kita mencermati serius tentang ayat ini. Bahwa ada 3 kata kunci yang Allah sebutkan yakni Iman, Puasa dan Takwa. Ini tiga hal yang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Artinya Takwa bisa diperoleh oleh yang puasanya benar dan imannya beres. Sehingga kita tidak bisa menglaim secara subyektif karena ada standarnya.

Bicara iman saja bukanlah hal yang sederhana. Kita bisa saja mengerjakan pekerjaan orang beriman tetapi sebetulnya tidak beriman hanya untuk menutupi ketidakberimanannya.

Iman itu tidak identik dengan keimanan sesorang. Dijelaskan Allah dalam surah al Hujurat ayat 14 dan 15


۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

14. Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” 15. Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Syaratnya beriman itu adalah “tidak ada keraguan sedikit pun juga”. Bicara keyakinan bukan di buat-buat tetapi butuh proses dan tahapan. Kalau sudah yakin pasti tidak mudah goyah. (Mansyur/bersambung)

*) Disarikan dari tausiyah pada Silaturahmi Syawal 1444 H Hidayatullah Sulsel

Tantangan Murabi dan Karakter Kader Generasi Ketiga Hidayatullah

0

Oleh : Dr KH Tasmin Latif MPd, Ketua Dewan Murabi Pusat Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Dalam lembaga perjuangan ini, di Hidayatullah ini, makin banyak anggotanya tapi bukan kader pejuang pasti membawa masalah

Tetapi kalau makin banyak kader maka akan banyak permasalahan yang bisa diselesaikan.

Hidayatullah di awal-awal pendiriannya oleh Allahuyarham Ust. Abdullah Said dan kawan melahirkan dan mewariskan tiga konsep pergerakan yang menjadi jati diri Hidayatullah kepada kader-kadernya

Yakni Manhaj Sistematika wahyu (SW), sistem kepemimpinan Imamah jama’ah dan biah (berkampus). Tiga hal inilah yang murni menjadi warisan dari Allahuyarham ustadz Abdullah Said.

Namun setelah wafat dan seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang menjadi tujuan pergerakan Hidayatullah? Hal ini mau tidak mau harus dijawab.

Bahwa tujuan besar Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam yang sesuai dengan manhaj ahlussunnah wal jama’ah.

Dalam salah satu jati diri Hidayatullah ada konsep imama jama’ah Konsep imamah jama’ah itu adalah murni konsep yang berasal dari ahlussunnah waljama’ah, bukan milik syiah notabene populer di kalangan mereka.

Kemudian ada Al Haraqah Al Jihadiyyah (gerakan perjuangan Islam) yang lebih besar daripada ormas, dimana ormas itu hanya hubungan yang terkait dengan negara.

Kemudian ada Al Washotiyyah yang salah satu maknanya adalah membangun rasa adil, menyikapi perbedaan di tengah-tengah ummat dengan bijak. Selama ada hujjah yang kuat maka boleh di terima

Sebagaiman yang terjadi tahun ini dengan adanya perbedaan pelaksaan shalat Idulfitri, Hidayatullah sudah tidak kaget lagi dan menyikapinya dengan bijak. Ini juga wujud aplikasi dari jati diri Hidayatullah yaitu Jama’atumminal Muslimin, bahwa Hidayatullah bagian dari jama’ah muslimin.

Pernah dalam salah satu agenda dengan Pemuda Hidayatullah, ditanya mengapa generasi milineal atau kader-kader Hidayatullah saat ini sangat berbeda dengan generasi-generasi Hidayatullah sebagaimana di zamannya Allahuyarham Ust Abdullah said.

Ada tiga ciri perbedaan menonjol pada kader Hidayatullah setiap generasinya.

Generasi Awal : Kemampuan iqro’nya, bismirobbik dan
ibadahnya kuat atau pritual dan kulturnya kental. Mereka betul-betul melebur dalam perjuangan, sedang saat itu kaum akademisi masih kurang.

Generasi kedua : Iqro’ dan bismirobbiknya kuat, akan tetapi spritualnya sudah tidak seperti di zaman Allahuyarham Ustadz Abdullah Said . Namun pada generasi ini sudah muncul akademisi-akademisi dan intelektual yang melahirkan gugus kendali konsep seperti PO dan PDO dan konsep-konsep lainnya.

Generasi ketiga : Generasi ini didapati jeblok betul spritualnya tetapi dari segi ulumuddinnya kuat. Mereka kuat menghafal, dari segi keilmuan mumpuni tetapi susah mempraktekannya

Generasi ini hafal qur’an bahkan bersanad tetapi belum bisa mengamalkan apa yang dihafalnya. Juga mengetahui keutamaan-keutamaan shalat lail tetapi susah betul bangun shalat lail.

Tentu hal ini bukanlah kesalahan dari mereka tetapi sistemnya yang harus terus berbenah. Generasi ketiga harus didesain kuat intelektualnya, spritualnya, dan ulumudinnya.

Hal ini erat kaitannya dengan peran seorang murobbi. Dari murobbi harus memperlihatkan akhlaq yang baik karena itu dilihat dan dicontohkan oleh mutarabbinya.

Maka akhlaq murobbi harus meyakinkan, pendengarannya harus berfungsi dan mampu menjelaskan dengan baik. Sehingga mampu memberikan pengaruh kepada kader atau generasi saat ini.

Maka seorang murobbi dibutuhkan kemampuan madiyyah, kemampuan metodologi, kemapuan kaifiyyah, dan kemapuan uswah atau keterkaitan jiwa.

Pernah seorang tokoh ulama’ Sulsel pernah menyampaiakan, “Waktu saya masih menangani pendidikan ulama semua peserta didikku seluruhnya menjadi kader, menjadi ulama’, tetapi begitu saya mendirikan perguruan tinggi di Maros tidak ada yang jadi”

Ini menandakan bahwa keterkaitan jiwa itu penting. Kalau ada murobbi yang tidak bisa mentransformasikan maka kerdil itu.(mansyur)

*) Disarikan dari penyampaian spirit pada Silaturahmi Syawal Hidayatullah Sulsel di Bone

Silaturrahim Syawal Hidayatullah Sulsel di Kampus Madya Bone Hadirkan Asatizh Pusat

0

Bone, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menyelenggarakan Silaturahmi Syawal dengan tuan rumah DPD Hidayatullah Bone di kampus madya Ponpes Hidayatullah Bone, Ahad (23/4/2023).

Kegiatan Silaturahmi Syawal merupakan agenda rutin tiap tahun setelah melewati bulan Suci Ramadhan, sebagai ajang silaturrahim bagi kader-kader dan pengurus Hidayatullah dari seluruh daerah di Sulsel.

Selain menjadi ajang silaturrahim juga menjadi wahana untuk menambah wawasan dan menguatkan spirit kader dari para asatizh Hidayatullah. Juga menjadi ajang evaluasi dan refleksi ibadah Ramadhan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Drs Nasri Bukhari MPd mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan dan kehadiran peserta.

“Acara ini luar biasa, biasanya waktu-waktu seperti ini orang-orang sudah pada mudik, berziarah dengan keluarga di kampung, tetapi kawan-kawan semua menyiapkan waktu seluas-luasnya untuk hadir di acara ini, sebab sebenarnya kalau mau beralasan tentu banyak sekali alasan, perjalanan yang jauh dari daerah masing-masing dan lain-lain,” ujarnya.

Ia memberikan arahan kepada seluruh pengurus di daerah untuk senantiasa menjaga spirit ibadah, menjaga ukhuwah dan saling percaya dan menguatkan demi menyukseskan program-program dakwah Hidayatullah di daerah.

Beberapa tokoh dan asatizh yang hadirkan sebagai pemateri, anggota Muzakarah DPP Hidayatullah KH Aqib Junaid, Ketua Dewan Murabi Pusat Hidayatullah Dr KH Tasmin Latif dan Ketua DMW Hidayatullah Sulsel Ir KH Abdul Majid MA.

(Baca isi ceramahnya di artikel HidayatullahSulsel.com)

Menjelang akhir acara beberapa ketua DPD berkesempatan memberikan refleksi Ramadhan sekaligus laporan perkembangan kampus dan program dakwah Hidayatullah di daerah masing-masing, di antaranya DPD Pangkep, DPD Toraja Utara, DPD Soppeng, DPD Takalar dan DPD Pinrang.(masyur)

Khataman Santri Tahfidz Hidayatullah Tanralili Lampaui Target DPW Sulsel

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Ketua Yayasan Darul Hijrah Hijrah Hidayatullah Tanralili Maros Ustadz Abdul Hadi. S. Pd.I memberi apresiasi hadiah bagi santri dan santriwatinya yang paling banyak mengkhatamkan Al Qur’an selama Ramadhan, Jumat, (21/4/2023).

Khataman yang dilakukan para santri yang mendapatkan apresiasi tersebut melebih target yang ditetapkan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah SulSel. Dalam edaran nya, DPW Sulsel menargetkan pengurus dan santri Hidayatullah harus mengkhatamkan al Qur’an sebanyak tiga kali bagi pengurus dan 10 kali bagi santri dalam bulan Ramadhan ini.

“Syukur kepada Allah SWT dan terima kasih kepada seluruh pengurus yayasan dan pengasuh yang terlibat dalam mengontrol kegiatan khataman ini sehingga para santri dapat mencapai target bahkan ada beberapa santri yg melampaui target dengan 12 kali khatam,” ujar Ust Hadi.

Lebih lanjut ia memotivasi dan berpesan kepada para santri agar pasca Ramadhan tetap istiqomah dengan amaliah yang dilakukan sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Dipenghujung acara Sekretaris DPD Hidayatullah Maros ini menyerahkan langsung hadiah berupa THR dan bingkisan kepada santri yang terbanyak mengkhatamkan al Qur’an.

Sebelumnya, pada Senin (17/4/2023) bertepatan dengan hari ke 26 bulan Ramadhan lalu, Pengurus Pondok Tahfidz Hidayatullah Tanralili menerima wakaf Rp 150 juta untuk pembangunan lantai dua masjid pondok dari Hj Syamsiah.

Wakaf tersebut langsung diterima Ketua DPD Hidayatullah Maros Drs Muhammad Kaisar. (M. Basri)

Hidayatullah Sulsel Tebar 50an Dai Khutbah Idul Fitri Hingga Daerah Minoritas

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menugaskan 50an dai ke sejumlah wilayah di Sulsel sebagai khatib shalat Idul Fitri 1444 H.

“Pada hari raya Idul Fitri seperti biasa, Hidayatullah Sulawesi Selatan mengambil bagian setiap tahunnya dengan menebar para dai nya untuk mencerahkan ummat,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd di sela itikaf di Masjid Umar Al Faruq Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar, Kamis (20/4/2023).

Di tahun ini, Hidayatullah Sulsel menebar 50 lebih dai ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat bahkan sampai ke Kalimantan.

“Ini demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Para dai yang tersebar tidak hanya bertugas perkotaan tetapi juga melayani daerah pinggiran, pegunungan sampai pada daerah muallaf dan minoritas muslim,” jelasnya.

Kadep Dakwah dan Layanan Umat DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Rezkyaman SW SPd MM menambahkan harapan pihaknya dari upaya tebar dai yang dilakukan oleh Hidayatullah Sulsel ini akan semakin mendekatkan program-program dakwah Hidayatullah dengan umat Islam yang ada dis Sulsel. (*/fir)

Jadwal Khutbah Idul Fitri Hidayatullah Sulawesi Selatan 1444 H / 2023 M

1. KH. Ir. Abdul Majid, M.A Lapangan KU Al-Bayan Hidayatullah Makassar

2. Ustadz Ahmad Zaki Ibrahim, Lc Masjid Mawaddah Warahmah BTP Blok AD Makassar

3. Ustadz Abdul Qadir Mahmud, M.A. Komp. Bukit Delta Mas Daya Makassar

4. KH. Muh. Nasrullah Alwi, Lc, Komp. Samalewa Permai Bungoro Pangkep

5. Ustadz Baso Dzulfikar, S.H, Masjid Fathul Khaer Panaikang Makassar

6. Ustadz Sumariadi, S.Pd, Kampus Hidayatullah Panyula Bone

7. Ust. Reskyaman S.W, S.Pd, MM, Masjid Ibu Kota Mappedeceng, Luwu Utara

8. KH. Dr. Nasrullah Bin Sapa, Lc., MM, Masjid Multazam Bumi Sudiang Indah Makassar

9. Habibi Nursalam.B, Masjid Babul Falah Kompleks PT.UWTL.Baras Pasangkayu

10. Ustadz Drs.Nasri Bukhari,M.Pd, Maccanang Bone

11. Ustadz Mukhtar Dg Lau,S.Pd.I, Masjid Ats-Tsabat Tamalanrea Mas, Makassar

12. Ustadz Aqsha Abu Umar, Masjid Abdul Razak Celebes Land Samata

13. Abdullah abu Jundi, Lapangan Desa Benteng kec. Mappedeceng Luwu Utara.

14. Ahmad Syahril, Masjid Al Ihsan Kec. Wonomulyo. Kab Polman

15. Ustadz Syamsul,S.Pd, Masjid Lukmanul Hakim Villa Mutiara, Makassar

16. Ustadz K.H Ahkam Sumadiana,M.A, Perumahan FINDARIA Mas 1

17. Ustadz H. Muhammad Arif, Masjid Miftahul Khaer Citta Kec.Citta Kab.Soppeng

18.Ustadz Suparman, S.pd, Masjid babul Jannah, Desa Garanta, Ujungloe Bulukumba

19. Ustadz Dr. Misjaya Muhammad Khairun, M.pd.I, Lapangan Pesantren Hidayatullah Bulukumba

20. Ustadz Imran Djufri,S.Pd, Rutan Polda Sulawesi Selatan, Makassar

21 . Ustad Drs Muhammad Kaisar, Masjid Baitul Karim D Queen Tanralili

22.Ustad Muhamad Robianto S.Pd, Masjid An Nur Bontobira Tanralili

23. Ustadz.Amaluddin, Masjid. Jami Balocci Baru

24. Muh. Qayyum, S.Pd, Lapangan Toradda, Luwu Utara

25. Nuzul Usman, S.Pd, Lapapa Luwu Utara

26. Sukron Amin, S.Pd.I, Mario Baru, Luwu Utara

27. Herman, S.Pd.I, Tulak Tallu, Luwu Utara

28. Holil, A.Md.BA, Lapangan Waelawi Malangke, Luwu Utara

29. Amal, S.Pd.I, Desa Uri Rongkong Luwu Utara

30. Drs. Muh. Akbar Rasyid, SH, Masjid Nurul Masyita Sabbang Luwu Utara

31. Ustadz. Muntazar, Masjid Husain Mu’Minin to Karau Toraja Utara

32. Ikhsan, S.Pd.I, Masjid Balusu Kec. Balusu Toraja Utara

33. Ustadz. Lukman Al Fath, S.Pd.I, Kec. Patimpeng Mico kab. Bone

34. Muh. Fatahuddin Al Ansyar, S. SoS. I, Kec. Rongkong, Luwu Utara

35. Ustadz H. Burhanuddin Jabbar M.Pd. Masjid Makmur PGB. Arasoe, Bone

36. Ustadz. Ikhwanul Muslimin
Masjid Almubarak Kaluku Bodoa, Takalar

37. Ustadz Ilham Syawal, SH.I
Masjid Baiturrahman Laiyya, Enrekang

38. Ustadz Abd. Aziz Basyier, SH.I Masjid Al-Ikhwan To’kulo, Enrekang

39. Ust. Muharram, S.Pd.I Lapangan Salulemo, Luwu Utara

40. Ustadz Kholil, Masjid Nurul A’la, Hidayatullah Bollangi, Gowa

41. Ustadz Zainal Basri, Masjid 45 Malakaji, Gowa

42. Ustadz Hamzah Sulthan, Masjid Al Ikhlas Polres Kab. Luwu

43. Ustadz Muh. Arifuddin, Masjid Babul Jannah Taddette, Luwu

44. Ust. Syahril, S.Pd.I, Masjid Nurul Huda BUNTU BATU, Luwu

45. Ust. Thoriq, Radda Jln Lingkar, Luwu Utara

46. Ustadz Armin Karim, S. Hi, Masjid Jabal Nur Kec. Kindang Bulukumba

47. Muh. Yani, S.Pd.I, Masjid Darussalam Rogo Desa Sumbang Kec. Curio Enrekang

48. Muammar, S.Pd, Masjid Desa Issong Kalua Toraja Utara

49.Firdaus Abu Iftitah, Pondok Tahfidz Putri Dusun Baku Desa Lekopancing Tanralili Maros

50. Ihsan Wahyuddin S.Pd.I, Masjid Qubaa Kampung Solo Kelurahan Mappasaile Pangkep

51. Amrullah, S.Fil.I, Bolong Walenrang Utara, Luwu

52. Mursalim, S.Pd, Lalong Walenrang, Luwu

53. Ustad Munir Salahuddin, S. Pd.I, Masjid Baitul Kariim Hidayatullah, Unhas-Makassar

54. Sarmadani, Masjid Dakwaturrahim, Patok Merah, Manggar

55. Burhanuddin, S.Pd.I, M.Pol*
Palopo. (*/fir)

Kata Kunci Hidup BerIslam

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Kata kunci sering dimaknai dengan kata sandi, adalah tulisan atau kode rahasia yang biasanya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, Kata kunci menjadi pembuka sistem bahkan pintu menyingkap misteri, rahasia dan keluar-biasaan

Islam adalah agama yang penuh keluar-biasaan, agama yang datang paling akhir dari agama samawi (wahyu) lainnya. Tidak hanya pelengkap tapi juga paling lengkap dari agama sebelumnya, juga agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia (kaafatan linnaas) dan untuk seluruh alam (rahmatan lil’alamiin).

Itu sebabnya Islam bukan agama misteri yang penuh rahasia dan membatasi ajarannya dipelajari dan dianut hanya kepada orang tertentu. Islam agama dakwah yang wajib dibuka dan disiarkan keseluruh umat manusia, menembus lintas batas status sosial, suku, ras, dan bangsa.

Namun ada kata kunci yang menjadi pegangan utama dalam menjalani kesuksesan hidup berIslam dimanapun berada dan dengan permasalahan apapun yang dihadapinya.

Kata kunci itu dapat kita cermati pada hadits, “Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.”Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim).

Dari hadits tersebut dapat dilahami bahwa “Qul amantu billah”, beriman kepada Allah adalah pokok dan pondasi utama segala permasalahan dalam kehidupan beriman dan berIslam, hal itu terkait dengan amalan hati pada diri seorang muslim.

Adapun “kemudian istiqamahlah” berarti sifat konsistensi dalam ketaatan kepada Allah, dan hal ini adalah termasuk amalan lahiriyah atau amalan jasmani.

Keimanan yang baik dalam hati adalah ketika mampu melahirkan komitmen hati untuk tetap dalam iman dan amal shaleh, jalannya orang yang istiqamah.

Istiqamah merupakan bentuk konsistensi keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Meski demikian keistiqamahan itu bukan perkara mudah, namun harus tetap dijalani setiap muslim.

Imam Nawawi mengatakaan, istiqamah adalah seseorang senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Senada dengan hal itu, al-Maraghi dalam buku Tafsir al Maraghi mengungkapkan istiqamah adalah teguh dalam beriman sehingga tidak tergelincir, serta ibadah dan itikad-itikadnya tidak dilanggar.

Karena istiqamah adalah penjaga atas keimanan seseorang. Sehingga istiqamah mesti terpatri betul dalam hati menjadi karakter setiap muslim.

Oleh karenanya seorang muslim yang benar manakala iman yang benar itu melahirkan keyakinan. Keyakinan yang tak boleh ragu terhadap eksistensi Allah.

Keimananlah yang akan melahirkan keyakinan dan untuk menjaga keyakinan agar tidak tagi muncul keraguan di tengah jalan adalah dengan istiqamah.

Sebuah kaidah fiqhi mengatakaan اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ “keyakinan seseorang tidak bisa dihilangkan dengan keraguan”. Keyakinan adalah kemantapan hati. Kemantapan hati yang tidak menyisakan keraguan sama sekali.

Kata kunci iman dan istiqomah ini kita bisa dalami dan rasakan pada kandungan surah Al-Fatihah. Pada ayat 1 – 4 yang startin poinnya pada ayat 1 dengan basmalah, selanjutnya berisi pujian-pujian serta total pengabdian dan keimanan kepada Allah.

Barulah setelah itu ada modal besar pada ayat berikutnya untuk bermohon kepada Allah untuk tetap pada jalan benar, istiqamah dalam menjalankan keta’atan kepada.

Kedudukan surah Al-Fatihah tersebut, di samping berfungsi sebagai salah satu dari rukun shalat. Juga terkandung di dalamnya beberapa makna kata kunci ‘beriman kepada Allah kemudian istiqamah’.

Dan selain itu penulis berharap supaya pembaca yang budiman tentu selalu istiqamah membaca dan menyimak tulisan saya dan jangan lupa istiqamah pula menshare kekawan-kawan lainnya agar menjadi amal kebaikan berbuah pahala jariyah bersama. (*)

Siapakah Khalifah Itu?

0

Oleh : Drs KH Ahkam Sumadiana MA, Murrabi Hidayatullah dan Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — Siapakah Yang dimaksud “khalifah” oleh Allah SWT yang ditolak oleh para malaikat dan terutama Iblis? Ternyata dia adalah “basyar” yang memiliki kemampuan untuk mewakili dan menjaga serta melestarikan kehidupan manusia di atas dunia, melalui proses berkembang biak untuk keturunannya dengan visi membangun peradaban, berikut firman Allah SWT;

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلاَّ تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ ﴿٣٢﴾ قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٣٣﴾

Artinya: “Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”Berkata Iblis:”Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada “Basyar” yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. [al-Hijr [15]:32-33].

Iblis hanya memandang dari satu sisi yaitu asal usul “basyar” sehingga mengambil kesimpulan secara ekstrim tentang keberadaan “Basyar” puncaknya dijadikan alasan utama oleh Iblis untuk tidak mau sujud kepada “basyar”, pada saat yang sama Iblis memberikan argumentasi tentang asal-usul dirinya lebih baik daripada “basyar”, karena Allah SWT menciptakan-Nya dari api. Berikut argumentasi Iblis di hadapan Allah SWT;

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢﴾

Artinya; ”Allah berfirman:”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang “basyar” Engkau ciptakan dari tanah”. [Al-A’raaf [7]:12.

Pada dasarnya keterangan tentang “basyar” dipakai untuk menyebut seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan, perorangan maupun keseluruhan. Kata “basyar” adalah jamak dari kata “basyarah” yang berarti permukaan kulit muka, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ibn Barjah mengartikannya sebagai kulit luar.

Al-Laits mengartikannya sebagai permukaan kulit pada wajah dan tubuh manusia, karena itu kata mubasyarah diartikan mulamasah yang berarti persentuhan antara kulit laki-laki dan kulit perempuan, disamping itu kata mubasyarah diartikan sebagai al-wath’ atau al-jima` yang berarti persetubuhan. [Manzhur: h, 124-126. 1968].

Pemakaian kata “basyar” di beberapa tempat dalam Al-qur’an memberikan pengertian bahwa yang dimaksud adalah anak adam yang biasa makan dan berjalan di berbagai macam tempat termasuk di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan.

Selanjutnya “basyar” juga dipergunakan untuk menyebut semua makhluk jelata yang lainnya, karena mempunyai ciri-ciri tertentu dan persamaan umum. Adapun ciri-ciri itu antara lain adalah kenyataan lahiriah yang menempati ruang dan waktu, serta terikat oleh hukum-hukum alamiahnya.

Manusia dalam pengertian basyar mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada dalam alam semesta ini, dan oleh bertambahnya usia, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya.

Iblis melihat bahwa “Khalifah” dalam sosok “basyar” sepenuhnya tergantung kepada alam sekitarnya, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan dan diminumnya. Dengan demikian bahwa “basyar” dalam dimensi alamiahnya mempunyai ciri-ciri pada umumnya yaitu, berkembang biak, makan, minum, sakit dan kemudian mati.

Eksistensi Basyar Sebagai Makhluk Jelata

Hakekat “basyar” yang memiliki banyak kompotensi untuk mewakili dan menjaga serta melestarikan kehidupan manusia di atas dunia, melalui proses berkembang biak untuk keturunanya dengan visi membangun peradaban. Berikut firman-Nya;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ﴿٢٠﴾

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) ”basyar” yang berkembang biak”. [Ar-ruum [30]:20].

Penjelasan dalam tafsir tentang ayat yang mulia tersebut di atas bahwa Allah ta’ala berfirman وَمِنْ آيَاتِهِ dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, yang menunjukkan keagungan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah, أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ‘Dialah yang menciptakan kalian dari tanah’. ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ‘Kemudian kamu tita-tiba menjadi “basyar” berkembang biak’ Asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina, lalu dibentuk menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, lalu menjadi tulang-belulang yang berbentuk manusia, lalu Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh kedalam tubuhnya. Lalu dia dapat mendengar dan melihat.

Kemudian dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatan dan daya geraknya. Kemudian semakin panjang umurnya, maka semakin sempurna pula kekuatan dan daya geraknya, hingga menjadi seperti sekarang ini, mampu membangun kota-kota dan benteng pertahan, melakukan perjalanan di pelosok bumi, mengarungi samudra, mengelilingi berbagai benua dan menghimpun berbagai harta. Diapun memliki pemikiran dan pendalaman, kejelian, pendapat, ilmu dan wawasan tentang perkara-perkara dunia dan akhirat sesuai dengan kemampuannya.

Maha suci Rabb yang memberikan kekuatan kepada mereka, memperjalankan, mengatur dan mendistribusikan mereka dalam berbagai jenis kehidupan dan usaha serta terjadinya berbagai tingkatan dikalangan mereka dalam bidang ilmu, pemikiran, kebaikan dan keburukan, kekayaan dan kemiskinan serta kebahagiaan dan kecelakaan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله خلق أدم من قبضة قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على قدر الأرض جاء منهم الأبيض و الأحمر والأسواد وبين ذلك والخبيث والطيب والسهل والحزن وبين ذلك.

Artinya:“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dari satu genggaman yang digenggamnya dari seluruh bumi. Lalu datanglah anak-anak Adam sesuai dengan bumi, ada yang putih, merah, hitam, dan ada diantara yang demikian. Ada pula yang jahat, baik, senang, dan yang berduka serta ada diantara yang demikian”. (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari beberapa jalan, dari ‘Auf al-A’raby. At-Tirmidzi berkata Hadts ini hasan shahih”. [Abdullah Bin Muhammad Bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 (Dar al-Hilal Kairo: Pustaka Imam Asy-Syafie’ Muassasah, 2008), h.363].

ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
(Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) “Basyar” yang berkembang biak. Asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina (many), lalu dibentuk menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, lalu menjadi tulang-tulang yang berbentuk manusia, kemudian Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh kedalam tubuhnya.

Lalu ia dapat mendengar dan melihat. Kamudian, dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatan dan daya geraknya. [Imam Jalaluddin al-Mahally. Imam Jalaludin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, (Bandung: CV Sinar baru: tth), h. 1720].

Satu sisi sebagai makhuk ciptaan Allah “Basyar” memiliki potensi yang sama persis dengan kebanyakan makhluk hidup lainnya khususnya kebutuhan akan makan, minum dan berkembang biak, dapat sakit dan mati.

Namun kesamaan tersebut justru memberikan gambaran bahwa memang semua yang dilakukan “Basyar” sifatnya samagat manusiawi artinya seluruh pekerjaannya juga dapat dikerjakan oleh orang lain.(*)

Ke Ponpes Hidayatullah Gowa,
KAHMI Makassar Ditantang
Jadi Panitia Pembangunan Masjid

0

Gowa, HidayatullahSulsel.com — Pondok Tahfizh Ashabul Jannah Hidayatullah Gows marak dikunjungi tamu, dari tamu perorangan sampai tamu rombongan.

Kehadiran mereka tidak sekedar berkunjung untuk berbagi, melainkan ada diantara mereka sengaja datang untuk menginap, disamping untuk menikmati khusyuknya beribadah sekaligus menikmati indahnya pemandangan dari puncak Bollangi.

Salah satu rombongan tamu dari KAHMI Kota Makassar. Ahad (16/4/2023). Diterima langsung Ketua Pembina Yayasan Ust Mustaqim. Ia menyampaikan aat ini Pondok Tahfizh Ashabul Jannah sementara menyelesaikan beberapa proyek pembangunan salah satunya pembangunan masjid yang menelan biaya Rp 14 miliar.

“Meski tidak ditarget bahwa Masjid harus selesai dalam waktu cepat, namun setidaknya kami telah berbuat untuk generasi penjaga Qur’an di masa yang akan datang,” ujarnya.

Menurut Ust Mustaqim, kepanitiaan pembangunan masjid baru memasuki tahap pertama, masih ada lagi sembilan tahap. “Jika tidak keberatan kami ingin menawarkan kepada KAHMI untuk menjadi Panitia Pembangunan ditahap kedua, ” ucapnya disambut tawa rombongan KAHMI.

Ketua KAHMI Kota Makassar Prof DR Andi Pangerang Munta mengaku sangat bersyukur bisa bersilaturrahim dengan para santri dan ustadz di pondok Hidayatullah Gowa. “Semoga masih bisa berkunjuung di waktu yang akan datang,” ucapnya. (Imran Djufri)