Beranda blog Halaman 59

Mantan Santri

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Santri diidentikkan dengan status pelajar pada sebuah pondok pesantren, memiliki masa dan standar usia belajar. Namun yang aneh jika ada yang mengaku santri padahal tidak pernah dan tidak sementara belajar di pesantren.

Demikian sosok Asnawi Arbain contohnya, mantan walikota Balikpapan di era tahun 70-an.
Bagi santri awal Pesantren Hidayatullah Balikpapan semua pasti mengenai dengan.sosok ini. Mengaku santri Hidayatullah padahal dia tidak pernah tinggal menyantri di pondok.

Baik ketika menjabat ataupun sampai saat usianya telah tua, di beberapa forum tertentu dan obrolan-obrolan, dengan penuh rasa bahagia dan bangga kerapkali dia selalu mengaku sebagai santrinya K.H Abdullah Said, pendiri Hidayatullah Balikpapan.

Status kesantrian yang dia nobatkan pada diri Asnawi Arbain sendiri mengandung makna bahwa status dan predikat santri itu tidak hanya disandangkan pada seorang yang masih sementara menempuh pendidikan di pesantren. Dan tentu terbatasi oleh usia dan rentang waktu belajar di pondok

Kesantrian Asnawi Arbain menampakkan status santri dalam perpektif moral dan moril, untuk berbuat lebih baik dari yang lainnya, sesuai pengetahuan yang dimilikinya, tak terkecuali ketika menjadi pejabat publik sekalipun.

Secara moral dia menampakkan tentang bagaimana pejabat publik berkewajiban untuk berkarakter baik dalam aspek perbuatan dan sikap. Serta keberanian, penuh semangat dan bertanggung jawab menampakkan dengan percaya diri sebagai santri yang layak dipanuti

Pengakuan kesantrian Asnawi Arbain juga terkandung kebanggaan dan percaya diri, bahwa status kesantrian seseorang mengandung makna keterjagaan dan kepengawasan terhadap diri dari segala hal yang merusak moral dan akhlaqnya seorang pemimpin.

Diapun pun sadar betul bahwa hanya dengan ajaran Islam yang diterapkan di pesantrenlah yang mampu membentuk dan menumbuhkan kesadaran yang baik dan melekat. Dan hanya dengan Islam juga mampu menstimulasi seseorang menjadi bersemangat dan optimis memperbaiki dan membangun moralitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat.

Mantan Santri

Bagaimana pula dengan yang betul-betul pernah menjadi santri di pondok pesantren. Mulai dari yang hanya beberapa tahun belajar hingga tak sedikit yang lebih lama lagi, mulai dari jenjang TK, SMA hingga perguruan tinggi. Bahkan ada yang sebelum lahir sudah tinggal di pesantren, karena kedua orangtuanya juga dulu adalah santri di pondok itu.

Orang seperti itu disamping darah daging adalah 24 karat benar-benar asli santri. Dengan sendirinya juga akhlaq dan budayanya terbentuk dalam suasana dan budaya pesantren.

Yang menjadi tanda tanya adalah apakah yang pernah hidup menjadi santri di pesantren adalah penjamin dari keterjagaan moral dan akhlaq kesantrian?. Semestinya siapapun yang pernah menempuh proses belajar di pesantren akan dengan sendirinya terbentuk karakter kesantrian dengan akhlaq karimah yang menghiasinya

Sebab sistem dan metode pendidikan pesantren sangat berbeda dengan dengan pendidikan yang lainnya. Disamping memberi pelajaran tentang berbagai pengetahuan tentang Islam, juga membimbing santri bagaimana hidup ber-Islam, menerapkan pola hidup Islam pada diri dan lingkungannya. Berakhlaq dalam belajar Islam dan belajar hidup berakhlaq dalam kultur Islami.

Aksiomatik karakteristik kesantrian seharusnya demikian, dimana akan senantiasa melekat pada kepribadian seorang yang pernah belajar di pesantren, atau lebih dikenal dengan karakter mantan santri.

Namun pada kenyataannya disaat keluar dari lingkungan pondok, mereka diperhadapkan dengan budaya yang berbanding terbalik dengan yang sekian tahun dijalaninya di lingkungan pondok.

Saat seperti inilah karakter kesantriannya benar-benar akan teruji. Ujian hidup dari hidup serta teratur, terbimbing dan terawasi ke kehidupan yang mandiri dan cendrung bebas tanpa batas aturan ketat seperti dialamin di pondok.

Jadilah dia berada dipersimpangan jalan, dengan kegamangan pilihan. Apakah tetap mampu menjalani perobahan status dan bertahan dari gempuran budaya yang terasa asing baginya, dengan tetap istiqomah pada karakter kesantriannya. Atau secara pelan tapi pasti budaya di lingkungan masyarakatlah yang menggerus karakter kesantriannya hingga yang teraisa tinggal nama, mantan santri.

Tentulah semua tak menghendaki menjadi orang merugi, dimana pengorbanan pendidikan kepesantrenannya, berupa Ilmu yang diperolehnya, waktu belajar dijalani, biaya yang sedikit, dan berbagai pengorbanan yang tak terhitung nilainya akhirnya menjadi sia-sia.

Harapan berbagai pihak, khususnya orang tua, memasukkan anaknya ke pondok demi untuk mengantar anaknya menjadi generasi Qur’ani, yang sholeh, kelak sebagai calon pemimpin. Tak nampak pada dirinya.

Namun bisa jadi justru sebaliknya, yang dilihat adalah hilangnya karakteristik kesantriannya. Sehingga respon yang muncul bukanlah kebahagiaan orang tua tapi kekecewaan atas sikap anaknya yang tak mencerminkan karakter ke santri.

Agar tidak terjadi demikian, sepatutnya orang tua, pendidik, mau masyarakat ummumnya tidak memandang dan berekspektasi terlalu melangit kepada santri yang telah selesai belajar di pesantren sebagai orang sempurna ilmu dan kepribadiannya. Dia masih dalam proses belajar mewujudkan ilmu yang dipelajarinya

Jangan biarkan mereka berjalan tanpa bimbingan dan arahan yang tepat dan benar. Dibutuhkan bimbingan dan panduan khususnya seperti dalam memiih pendidikan lanjuan. Sehingga tidak gampang memilih jenjang pendidikan lanjuan, dan disamping tetap mempertimbangkan aspek bakat dan kemampuan dirnya, juga mempertimbangkan kondisi budaya pergaulan dimana dia akan belajar.

Disamping itu dengan membuat mereka tetap dalam ikatan psikologi dan pembinaan dari almamater sebelumnya. Memberi ruang dan media berpekspresi, berkreasi dan berkomunitas, dalam sebuah organisasi pergerakan kepemudaan. yang baik vusi dan miainya. Serta memberi pekerjaan dan kegiatan yang menumbuh kembangkan jiwa kemandian.

Sehingga akan tetap terjaga kultur atau budaya pondok.dimanapun dia berada, seperti kultur belajar, kemandian, kerja sama dan keorganisasi, semangat ibadah serta saling menghargai.

Sesungguhnya tidak ada istilah mantan santri. Karena santri adalah ketika dia sementara belajar di jenjang pendidikan di pondok pesantren, dan juga santri adalah yang pernah belajar di ponsok pesantren. Namun terdapat istilah mantan yang baik disandang, yaitu mantan preman lalu menjadi santri

Spiritual Itu Menentukan Kinerja

0

Oleh : Ust Sumariadi SPdi, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel dan Dewan Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah Towuti

HidayatullahSulsel.com — Rapat gabungan yang dilaksankaan adalah untuk mengetahui sudah diposisi mana kinerja yang telah kita lakukan.

Ibarat sepuluh anak tangga, kita sudah di anak tangga ke berapa. Dengan begitu kita bisa mengukur program apa yang selanjutnya akan kita kerjakan

Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik maka yang harus dilakukan adalah bekerja dengan ikhlas. Bekerja dengan ikhlas saja tentu tidak cukup, tetapi juga harus dengan semangat yang tinggi.

Semangat inilah yang menjadi fokus untuk ditingkatkan dan itulah yang disebut perjuangan.

Mungkin ada program yang kita jalankan belum berjalan maksimal, atau mungkin sudah berhasil kita laksanakan, tapi di semua aktivitas itu apakah Allah Ta’ala sudah maksimal juga kita libatkan di sana.

Inti dari semua aktifitas itu ada kekuatan spiritual yang harus selalu kita jaga, sebab kekuatan spiritual itu akan menjadi benteng dalam setiap aktifitas kita.

Maka sangat disayangkan kalau ada program di lembaga ini yang kita laksanakan tidak melibatkan Allah Ta’ala di dalamnya.

Mungkin kita berhasil melaksanakan tugas, menjalankan program dengan baik tapi kalau itu tidak menambah spiritualitas kita, maka itu akan menjadi sia sia.

Sebab hiburan bagi orang beriman bukan karena prestasi dunia, bukan pula karena berhasil melaksanakan suatu pekerjaan, tapi hiburan bagi orang beriman itu ketika spiritualnya semakin meningkat.(ridwan)

*) Disarikan dari sambutan dalam rapat gabungan Yayasan Ponpes Hidayatullah Towuti, Kamis, (18/5/2023).

Anggota DPRD Lutim Heryanti Hadir di Penamatan Santri Hidayatullah Lambara. Terlibat Sejak Perintisan Ponpes

0

Luwu Timur, HidayatullahSulsel.com — Anggota DPRD Luwu Timur dari Fraksi Partai Golkar, Heryanti Harun SE menghadiri Penamatan Santri dan Santriwati Pondok Pesantren Hidayatullah Lambara, Desa Laro Kecamatan Burau, Luwu Timur, Sabtu (20/5/2023).

Penamatan dilaksanakan di halaman sekolah Pondok Pesantren Hidayatullah Lambara Desa Laro. Turut hadir Kepala Desa Laro Suharman SPd, Camat Burau Akbar Bahar SE, tokoh masyarakat dan para orangtua wali santri.

Hadir pula Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Ir H Abd Majid MA, sekaligus mengisi ceramah panamatan santri-santriwati Hidayatullah Laro.

Dalam tausiyahnya Ustadz Abd Majid mengajak wali dan orangtua santri sering membaca Al-Quran dan mengamalkanya, dan bersama-sama menjaga dan menguatkan karakter qurani sejak dini maupun menjaga apa yang sudah dipelajari selama di pondok.

“Membaca Alquran dapat menjadikan suasana sekitar menjadi lebih damai, tenang dan penuh dengan keberkahan. Maka dari itu seseorang yang membaca Alquran akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah SWT sebagai manusia yang soleh”, ujarnya.

Kehadiran Heriyanti untuk bersilaturahim dengan Pengurus Pesantren Hidayatullah Laro, yang memang merupakan anghota legislatif dari dapil pemilihan II Wotu dan Burau.

“Alhamdulillah sangat bersyukur bisa bersilaturahim dengan Pengurus Pesantren Hidayatullah dengan adanya kegiatan penamatan santri-santriwati. Apalagi kami sejak awal sudah terlibat di awal-awal perintisan pondok di Lambara ini,” ujarnya.”

Heryanti yang juga Ketua Komisi 2 DPRD Luwu Timur itu akan maju sebagai calon legislatif perempuan di DPRD Sulsel dari Partai Golkar mewakili Luwu Raya Dapil 11 (Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur).(Mrd/*)

Manusia Mulia Bukan Karena Ibadah dan Amal Sosialnya

0

Oleh : Ustadz Yusuf Gatti, Anggota Badan Pembina Hidayatullah Towuti, Luwu Timur

HidayatullahSulsel.com — Manusia itu mulia bukan karena ibadahnya kepada Allah atau kemampuannya menjaga bumi serta memiliki amal sosial yang banyak kepada manusia, sebab kalau kemuliaan manusia diukur dengan itu maka ada banyak makhluk Allah yang lebih pantas dan menguasai itu.

Jika ibadah adalah ukuran kemuliaan manusi, siapa yang bisa menandingi ketaatan malaikat dalam beribadah. Tidak ada satupun perintah yang Allah Ta’ala sampaikan yang mereka bantah, semua dilaksanakan secara sempurna.

Pun demikian dengan perintah Allah kepada manusia untuk menjaga bumi. Lalu apakah tugas itu menjadikan manusia mulia di sisi Allah Ta’ala ? Mungkin iya tapi belum tentu mampu menandingi makhluk lain seperti misalnya cacing yang bisa menyuburkan tanah untuk kepentingan hidup manusia.

Lalu kemulian manusia dengan amal sosial dan lain sebagainya. Matahari, rembulan, gugusan bintang, itu semua sempurna menjaga dan merawat alam bumi ini.

Lalu manusia dikatakan sempurna itu dari sisi mana? Manusia itu mulia sebab kita bisa mengurus agama Allah di muka bumi ini. Keterlibatan kita dalam mengurai mekanisme perjuangan itulah yang dinilai oleh Allah.

Kaitannya dengan program yang dikerjakan di lembaga ini adalah pekerjaan mulia yang merupakan bagian dari mengurus agama Allah. Sehigga kita harus terlibat dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho dari Allah Ta’ala.

Kita tidak perlu tegang menghadapi dan melaksanakan program lembaga ini kerena semua urusan kita serahkan kepada Allah. intinya kita cukup terlibat dengan ikhlas serta niat kita tulus kepadaNya maka Allah akan memberikan pertolongannya.(ridwan)

*) Disarikan dari tausiyah spirit kelembagaan kepada pengurus yayasan dalam Rapat Gabungan Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan Hidayatullah Towuti di Kampus Madyah Hidayatullah Towuti, Luwu timur, Kamis, (18/5/2023).

Badan Pembina Imbau Jaga GNH pada Rapat Gabungan Kampus Madya Hidayatullah Towuti

0

Lutim, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti menggelar Rapat Gabungan Monitoring dan Evaluasi program kerja periode 2023 di kampus Madya Hidayatullah Towuti, Luwu Tomur (Lutim), Kamis (18/5/2023).

Rapat dihadiri oleh unsur pembina, pengawas dan jajaran pengurus Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Towuti ini, digelar untuk mengetahui sudah sejauh mana kinerja pengurus dalam menjalankan program yang telah dilaksanakan selama 4 bulan berjalan (Januari-April).

Ketua Badan Pembina Ustadz Ir. H. Abdul Majid, MA. menyampaikan, rapat gabungan ini adalah musyawara, musyawarah merupakan perintah dari Allah ta’ala yang harus dijalankan.

“Musyawara ini sifatnya syariat. untuk mengetahui sejauh mana kinerja yang telah dilaksanakan. Kalau kita tidak musyawarah berarti banyak masalah dan kendala maka musyawarah itu penting, sebab ia akan melahirkan kekuatan yang luar biasa,” jelasnya.

Lebih jauh Ustadz Majid menjelaskan, bahwa semua unsur yang terlibat di lembaga, baik yang paling besar maupun yang terkecil itu pasti memiliki ide dan gagasan maka musyawara menampung kekuatan itu untuk merapatkan dan menguatkan barisan perjuangan.

“Kalau itu kita satukan, pasti program yang kita jalankan akan lebih kencang dan lebih baik lagi. beda itu kalau kita berfikir sendiri. makanya Allah Ta’ala mencintai orang yang bermusyawarah,” tambahnya.

Selain musyawarah, di lembaga ini juga harus mengedepankan kepemimpinan, sebab pemimpin itu mengontrol semua aktivitas. “Mungkin di antara pengurus ada yang memiliki kekurangan. Maka kekurangan itu bisa dikendalikan sebab ada kontrol di sana sehingga kepemimpinan itu menjadi penting dalam sebuah organisasi,” rincinya.

Selanjutnya adalah Ukhuwah, ini adalah ikatan yang mahal. karena ukhuwah yang kuat akan menambah kekuatan dalam berlembaga. Maka Allah ta’ala memperingati, urai Ust Majid, kalau ada di antara saudara kita berselisih maka saudara yang lain harus mendamaikan.

“Untuk mengontrol perjuangan kita dalam menjalankan tugas lembaga yang tentu saja merupakan perintah dari Allah Ta’ala tersebut adalah memastikan bahwa kita senantiasa banyak bermusyawarah, kemudian taat kepada pemimpin dan menjaga ukhuwah,” tegasnya.

Semua Hal itu sebenarnya, sambungnya, bisa terwujud kalau kita mau lebih serius dalam menghidupkan GerakanNawafil Hidayatullah (GNH).

“Karena kalau GNH betul-betul baik maka pasti semua masalah yang kita hadapi akan selesai sebab AlQuran pasti akan membimbing kita dan Allah Ta’ala pasti akan mberikan jalan keluar,” tandas Ustadz Majid.(ridwan)

Pasukan Al Alaq dan Gerakan Pencerah Semesta

0

Oleh : Fatahillah Abu Sitta, Bendahara DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com — Kekayaan lembaga perjuangan dan dakwah adalah manusia (baca: kader) bukan amal usaha, menyadari akan pentingnya sumber daya manusia, kehadirannya sebagai pelopor dan penggerak dan berfungsi melanjutkan visi estafet perjuangan untuk kesuksesan membangun peradaban Islam.

Ikhtiar melakukan proses standarisasi, pelatihan, edukasi, menjaga stamina GNH halaqoh mabit, memastikan tidak satupun warga yang tidak sholat berjamaah, fokus dan totalitas terhadap amanah yang diberikan, menjalankan semua aturan demi melahirkan generasi yang cerdas, sholeh dan bertaqwa adalah wujud dari tersibgohnya energy Al Alaq

Ketika terjadi sebuah pelanggaran misalnya, anggota pasukan yang tidak sholat jamaah, tidak memahami fungsi dan tugasnya, maka ada tindakan, doa, edukasi, dan peringatan, sebagai manisfesto imani

Pasukan yang terawat, terjaga, terkontrol dan terbimbing, menjadi energy positif dalam menyongsong kebangkitan islam, mencegah terjadinya kerusakan moral, menjadi tanggungjawab bersama, melatih kedisiplinan, kebersihan, dan kepedulian merupakan harga dasar dalam membangun kekuatan jiwa raga generasi

Amanat founding father Republik ini adalah ” Bangunlah jiwanya, bangunanlah badanya, ” Ketika telah paham bahwa membangun jiwa raga manusia menjadi faktor penentu untuk lebih baik lagi maka kerahkan tenaga, fikiran dan dollar untuk mewujudkan nya

First we make people than we make product, ungkapan pengakuan bahwa faktor penentu segala aspek kehidupan tergantung sejauh mana kehadiran manusia yang tercerahkan

Kebutuhan bangsa ini terletak kepada kwalitas sdm yang dimiliki nya, seorang yang senantiasa mengamalkan apa yang telah diyakininya, yang telah disepakati, dan dimusyawarahkan (walk the talk). Merupakan manusia yang telah tercerahkan dan siap mencerahkan kehidupan masyarakat

Sebagai seorang muslim dan berkaca kepada sejarah emas kejayaan islam, dan bagaimana sosok teladan Nabi Muhammad melahirkan para ksatria pancasila berjiwa GNH atau Kader militan progesive Revolusioner dalam bahasa qur’an Manusia taqwa, maka meneladani Nabi Muhammad menjadi nilai tinggi yang wajib di ikuti

Pertama sependek pengetahuan saya, konsep landasan gerakannya adalah Al Alaq, ibarat pohon Al alaq adalah akar, ibarat bangunan ia adalah pondasi, ketika akarnya kuat pondasinya kokoh, maka ia akan memiliki ketahanan dari segala ganguan baik internal dan eksternal

Kekuatan alaq akan memiliki peran dan fungsi ke bermanfaat baik diri, keluarga, masyarakat dan negara, akar akan menyuplai nutrisi ke batang,tangkai, daun dan buah, hasilnya pohon akan memberikan multifungsi dan multi manfaat bagi mahluk dan alam semesta itulah pencerah yang tercerahkan,

Jadi orang bertauhid dipikirannya bagaimana bisa berbagi sebanyak-banyak untuk pergerakan perjuangan, bagaimana berkontribusi sebanyak mungkin kepada semua mahluk dan Alam semesta, hati, fikiran dan tindakan terkoneksi apalagi yang bisa dibagi untuk perjuangan

Tauhid yang baik melahirkan insan yang tegar dalam ujian, disaat yang bersamaan selalu memberikan pelayanan dan kepedulian terhadap masyarakat dan memeberikan pencerahan terhadap semesta dengan menghadirkan program pendidikan dan dakwah

Manusia bertauhid tidak asik sendiri tapi berusaha membangun sinergitas untuk mewujudkan semesta bercahaya dengan al alaq, begerak secara efektif dan efesien dan melahirkan produktivitas untuk kesuksesan keberkahan secara jama’i

Tauhid membangun kesadaran dan membentuk prilaku team work yang baik, yang menciptakan energy yang optimal didalam mencapai tujuan mencerahkan ummat menebar kemurnian aqidah

Meminjam ungkapan Almarhum ustadz jamal orang yang bertauhid itu tidak pasif ia aktif bergerak, lincah dan dinamis, dari ilustrasi ini dapat kita petik betapa pentingnya terus bergerak tentu dalam bingkai amanah.

Allahuyarham Ustadz Abdullah Said menasehati
Inilah tantangan yang harus kami jawab
sekarang dan esok,
Mampukah kita mempertahankan
apa yang telah dicapai kini ?
dan mampukah kita meningkatkannya
di hari mendatang ?
Mari kita jawab dengan praktek
dan kenyataan.
Selamat berjuang di alam realita, bukan di alam cerita.
Selamat bertemu di alam kenyataan,
tidak di alam pernyataan.

Teruslah berjuang menguatkan jiwa raga generasi dengan mengokohkan akar Tauhid, sehingga api optimis telah sedang lahir generasi yang selalu siap berkorban tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa letih demi kejayaan islam.

Pesantren Hidayatullah Parepare Ikuti Bimtek Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren di Bogor

0

Bogor, HidayatullahSulsel.com — Pesantren Hidayatullah Parepare menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren di Hotel Swiss Belcourt Kota Bogor, Jawa Barat, Senin-Rabu (15-17/5/2023).

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare, Abdul Jabbar, mengaku bersyukur sebab Pesantren Hidayatullah Parepare menjadi salah satu dari 300 lesantren yang proposalnya lolos seleksi sehingga berhak mengikuti Bimtek Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren angkatan 8.

“Alhamdulillah, sangat patut bersyukur sebab Allah Ta’ala memberikan kemudahan untuk kami mengikuti Bimtek Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren angkatan 8 Tahun 2023 dari 300-an Pesantren dari berbagai wilayah, Pesantren Hidayatullah Parepare menjadi salah satu peserta dari Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Bimtek tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, berlangsung selama tiga hari,

Tujuan kegiatan tersebut untuk mendorong kemandirian pesantren. Sekretaris Jenderal Kementrian Agama Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag menjelaskan, “Pemerintah mendorong pesantren untuk mandiri dengan memaksimalkan potensinya melalui bantuan inkubasi bisnis. Meningkatnya ekonomi pesantren akan mendorong tercapainya tiga fungsi pesantren sesuai undang-undang no. 18 tahun 2019 yaitu pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.”

Kegiatan ini menghadirkan narasumber terbaik, selain Sekjen Kementrian Agama), juga Dr. H. Basnang Said, S.Ag, M.Ag (Kepala Sub. Direktorat Pendidikan Pesantren) dan Dr. Karunia Dianta A. Sebayang, S.Ip, ME (Inspektorat Jendral Kementrian Agama RI).(Sahlah al-Ghumaishaa)

BMH Maros Beri Layanan Akomodasi Mujahid Dakwah

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — BMH Gerai Maros menyiapkan unit ambulance. Selain untuk pelayanan jenazah masyarakat umum juga untuk transport mujahid dakwah.

“Alhamdulillah spirit peduli dan melayani bukan sekedar slogan, tapi menjadi sebuah gerakan yang hidup, kehadiran ambulance menjadi tambahan energi untuk lebih maksimal dalam melayani ummat dan Ummahat, dan total tanpa tapi, tanpa nanti, dan tanpa letih,” tutur Ketua BMH Gerai Maros Ust Fatahillah Abu Sitta di Maros, Ahad (14/5/2023).

Ahad kemaein, ambulance BMH Maros kembali melakukan mengantarkan jenazah Halim ke ke kuburan di Makasar. “Selain pelayanan jenazah, kami juga membuka layanan antar jemput bandara dan pelabuhan bagi para mujahid dakwah, dan persiapan pendistribusian hewan qurban hingga Toraja insya Allah,” tambahnya.

Menuritnya, antusias para mujahid dakwah luar biasa, ada yang diantar ke pelabuhan dan juga diantar jemput bandara. Terlebih di hari libur BMH Maros juga menyiapkan tempat penginapan bagi dai yang transit, sehingga ambulance senantiasa standby demi pelayanan maksimal, semua terkolaborasi antara DPD Hidayatullah Maros, BMH dan masyarakat.

Bagi yang ingin menggunakan layanan Ambulance dapat menghubungi +62 813-5634-4450, di upayakan informasi sehari sebelumnya karena ambulance ini multifungsi dan multimanfaat, untuk antisipasi agar dapat memberikan layanan prima.(*)

Mantan Guru

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Dengan tergopoh-gopoh seorang jama’ah yang masih tergolong muda mendatangi saya, usai melaksanakan shalat jamaah di masjid. Saking gembiranya dia, dari jauh telah menyodorkan jabatan tangan sambil senyum hangat yang mendahului langkahnya hanya untuk bisa bersalaman dengan saya.

Tergambar di wajahnya penuh rasa rindu bertemu dengan gurunya. Walau sejujurnya kuakui akan kekurangan saya, yang sangat berat mengingat wajah seseorang yang lama tak pernah bertemu, apalagi kejadiannya puluhan tahun lalu.

Kucoba membuka memori sambil bertanya padanya, “Siapa ki dih ?” (dialeg Makassar), “Siapa sebenarnya Anda” ?. Dia mengaku sebagai murid saya beberapa tahun lalu di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan.

Dalam obrolan singkat tergambar kebahagiaan kami berdua saat di pondok dulu. Dia merasakan kebahagiaan sebagai santri dan saya pun juga bahagia berjumpa kembali dengan murid dulu yang kini telah sukses berkarya di masyarakat.

Perjumpaan saya di masjid itu adalah gambaran fragmentasi dalam kehidupan masyarakat tentang keterikatan emosi dan cinta antara guru dan murid. Cinta yang tak akan lapuk karena suasana dan kondisi serta tak akan terlupakan karena perjalanan waktu.

Sehingga saya pun sering mengistilahkan, baik dalam ngobrol ataupun dalam forum tertentu, bahwa dari segi esensi di dunia pendidikan ataupun kepengajaran dan pengasuhan, sesuatu itu bisa saja berakhir karena karir atau jabatan, sehingga diapun akan dikenang sebagai mantan atau ‘bekas….’.

Namun istilah mantan tidak berlaku pada status seseorang antara orangtua dan anak. Walau telah berpisah, baik berpisah karena telah wafat di antara keduanya ataupun berpisah karena bercerai antara kedua bapak dan ibunya.

Demikian halnya hubungan seorang guru dan muridnya. Fungsi dan peran pengabdiannya seorang guru terhadap muridnya, yang mendidik penuh tulus ikhlas, adalah jasa yang mampu dibalas dengan tanda jasa dan juga materi. Tak akan memisahkan hubungan psikologis guru dan murid.

Pemberian totalitas keIlmuan yang dimiliki dan kesabaran dan ketekunan seorang guru telah berhasil mendidiknya hingga berhasil mencetak manusia-manusia hebat, adalah sebuah karya sejarah yang tak akan dan tak boleh terlupakan.

Atas peran dan jasa itulah, maka sungguh sangat tidak elok dan sepertinya tak tahu berbalas budi ketika seorang guru yang dulu pernah mengajar dan mendidiknya, lalu setelah masa berlaku diapun memanggil dan mengistilahkannya sebagai “mantan guru”

Guru mungkin bukanlah orang terhebat, mungkin yang diberikannya tak seberapa, tapi dia telah memberikan sepenuh hati dan jiwanya tentang arti sebuah keikhlasan, ketulusan dalam memberi. Dia telah tunjukkan kesabaran dan keteguhan dalam menjalankan amanah.

Guru tetaplah guru, yang dengannya seseorang sukses dan melahirkan orang hebat dalam berbagai bidang kehidupan di kemudian hari.

Bukan banyaknya ilmu yang diberikan, tapi jiwa ketulusannya yang sangat bermakna, Rasulullah bersabda: “Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fiqih, dan ulama. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit yang lama-lama menjadi banyak” (HR Bukhari).

Begitu hebatnya karakter seorang guru, ketika menjalankan tugasnya dia selalu tampakkan kegembiraan dan kebahagiaan menghadapi berbagai tingkah laku anak murid, di saat mungkin dia sendiri menghadapi problematika kehidupan rumah tangganya.

Dia selalu bahagia menjadi pendidik untuk menumbuhkan jiwa bahagia pada anak didiknya dalam menghadapi tantangan hidupnya ke depan.

Itulah karakteristik guru abadi, saat masih menjalankan tugas profesinya sebagai guru atau sesudah tak lagi menjalaninya. Tak nampak perubahan sikap dan sifatnya, tetap wajahnya menyenangkan dan membahagiakan.

Dari segi peran guru merupakan orang tua kita di sekolah. Guru banyak berjasa kepada kita, karena guru mengajari dan mendidik kita dalam banyak hal. Sehingga menghormati guru setara dengan menghormati orangtua.

Allah memerintahkan kita menghormati orang tua umumnya dan kedua bapak ibu. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Yang dimaksud berbuat baik menurut Ibnu Katsir adalah berkata lemah lembut dan melarang berkata dan berbuat kasar, bersikap santun dan taat pada nasehat dan perintahnya walau telah berusia lanjut.

Tapi ada guru senior pernah mengatakan, ketika berjumpa dengan murid yang pernah dulu dididiknya, dia sangat santun dan sangat menghargai gurunya, tapi kadang tidak cukup guru itu dihormati perlu juga sesekali “dihargai”.(*)

Ujian Sabar dan Kesungguhan

0

Oleh : Sarmadani Karani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap

HidayatullahSulsel.com — Ini inspirasi Ramadhan 1444 H, yang baru sempat dinarasikan lewat tulisan. Kisah tentang sabar dan kesungguhan.

Ini juga sudah menjadi pengalaman. Dari tempaan amanah dalam lembaga perjuangan di Hidayatullah. So, rasanya, dan bukan sekedar rasa-rasa saja, kita masing-masing telah melakoninya.

Kita tidak perlu bilang “Cinta itu berat.” Yang berat adalah ujian. Bahwa setiap kita akan diuji, dengan berbagai cobaan dengan metode dan gaya yang berbeda-beda. Semua tidak sama.

Toh kalau ada sama, kadar berat dan ringannya lagi berbeda. Disitulah titik beratnya kehidupan ini.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (QS. Al Ankabut:2)

Allah bertanya kepada manusia yang telah mengaku beriman, bahwa apakah mereka akan dibiarkan begitu saja mengaku beriman tanpa lebih dahulu diuji?

Tidak, malah setiap orang beriman harus diuji lebih dahulu, sehingga dapat diketahui sampai di manakah mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?… (QS. 2: 286).

Jelas sekali, bahwa untuk mengukur kualitas seseorang, maka mutlak baginya untuk mengikuti tahapan demi tahapan ujian yang Allan berikan kepadanya.

Hanya saja, ujian itu ibarat lembaran soal yang diberikan kepada kita saat ujian nasional. Jawabannya bukan pilihan ganda, atau esai, tapi ada pada jihad (kesungguhan) dan kesabaran kita dalam melalui ujian tersebut.

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا یَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ جَـٰهَدُوا۟ مِنكُمۡ وَیَعۡلَمَ ٱلصَّـٰبِرِینَ
[سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ: ١٤٢]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3: 142).

Jalan untuk masuk surga memang tidak semulus jalan tol yang tanpa hambatan. Ujian yang di hadapan kita, berupa amanah jabatan, harta, dan keluarga (anak isteri) harus kita lalui dengan kesungguhan dan kesabaran.

Titik kuncinya, apakah dalam setiap ujian ini, kita mampu bersungguh- sungguh dan bersabar melaluinya ? (bersambung/*)