Beranda blog Halaman 58

Mendapat Hidayah Tidak Mesti Masuk Surga

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Hidayah dapat dipandang sebagai perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia.

Hidayah adalah pangkal segala kebaikan, sebab tidak mungkin menggapai keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat tanpa petunjuk dari Allah.

Hidayah adalah ketentuan dari Allah, bisa terjadi pada setiap orang, tanpa kita duga atau kita tebak sebelumnya. Peran manusia hanya berfungsi sebagai pengantar, namun tentu ada peran penting berupa mujahadah untuk mendapatkan hidayah.

Dberikannya hidayah kepada yang dikehendakiNya dan disesatkanNya kepada siapa yang tidak mengikuti petunjukNya.
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).

Sesungguhnya hidayah tidak diberikan hanya kepada manusia saja. Muhammad Abduh dalam Tafsir Al- Manar, menyatakan bahwa hidayah pada hakekatnya diberikan Allah kepada semua makhluk-Nya. 

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Miftah Daar As-Sa’adah. Ada empat tingkatan hidayah dan disebutkan dalam Al-Qur’an.

Tingkatan pertama: adalah hidayah dalam bentuk umum. Pengetahuan umum kepada semua makhluk tentang apa yang baik dan buruk tentang kehidupannya
“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’laa: 1-3).

Dalam ayat ini disebutkan empat perkara: (1) khalaqa (menciptakan), (2) fasawwa (menyempurnakan), (3) qaddaro (menentukan kadar sebab maslahat dalam kehidupan dan aktivitas), (4) fahadaa (memberi petunjuk).

Ibnu Katsir mengatakan, “Dia (Allah) telah menciptakan makhluk dan menyempurnakan setiap makhluk-Nya dalam bentuk yang paling baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kadar bagi makhluk-Nya dan memberi mereka petunjuk kepada takdirnya”.

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah “yang memberi petunjuk kepada manusia untuk celaka dan untuk bahagia, dan memberi petunjuk kepada hewan ternak untuk memakan makanannya di padang-padang tempat penggembalaannya.”

Dengan kasih sayang Allah kepada mahlukNya, Dia berikan petunjuk tidak hanya kepada manusia tapi kepada semua mahlukNya. Sehingga semua mahluk hidup bisa melangsungkan dan mempertahankan kehidupannya

Tingkatan kedua: Hidayah bayan wa dalalah (hidayah penjelasan dan petunjuk).

Yang dimaksud adalah hidayah berupa penjelasan kepada hamba dan hal ini tidak mengharuskan mendapatkan hidayah yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman mengenai tingkatan kedua dari hidayah adalah ayat,  “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.” (QS. Fussilat: 17)

Tingkatan ketiga: Hidayah taufik dan ilham.

Hidayah ini diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki sebagaimana disebutkan dalam ayat, “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus: 25)

Ada yang diberikan hidayah berupa penjelasan, tetapi belum tentu mendapatkan hidayah taufik. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Qasas: 56)

Tingkatan keempat: Hidayah di akhirat menuju surga atau neraka.

Ada juga mendapatkan hidayah atau petunjuk tapi atas kemaksiatannya kepada Allah dia pun mendapatkan petunjuk. Namun bukannya petunjuk ke surga tapi ke neraka, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala
“(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. As-Saffat: 22-23)

Menurut Ibnu Katsir, hidayah ini bermakna yakni “tunjukkanlah mereka jalan menuju ke Jahanam.” Atas segala perbuatannya maka Allah memberi balasan kepada mereka jalan tol masuk surga, Jalan itu adalah hidayah dari Allah, walaupun jalan itu adalah jalan ke neraka

Semakna dengan ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat dengan muka mereka (diseret) dalam keadaan buta, bisu, dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya. (Al-Isra: 97)

Karena perbuatan buruknya seorang hamba mendapatkan balasan jalan ke neraka. Sebagaimana halnya seseorang karena perbuatan baiknya maka mereka juga mendapatkan jalan yang baik menuju syurga. Sesuai perkataan penghuni syurga;
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)

Dia telah menciptakan makhluk dan menyempurnakan setiap makhluk-Nya dalam bentuk yang paling baik. Demikian! halnya telah menentukan kadar bagi makhluk-Nya, dan juga memberi mereka petunjuk kepada takdirnya. yg buruk jalannya pasti keneraka

Namun atas kasih sayangNya, Al-Quran diturunkan sebagai hudan dan syifa’ Allah Ta’ala berfirman dalam .QS. Yunus Ayat 57, “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

Al-Quran sebagai hudan. Tidak mungkin orang itu tersesat ketika berQur’an, yang seharusnya berfungsi sebagai syifa atau obat. Ketika Al-Quran tidak menjadi syifa, berarti ada penyakit dalam dadanya yang harus diobati.

Untuk apa diobati ? Agar manusia yang ber-Quran akan mendapatkan rahmat-Nya dan diapun menebar kasih sayang, serta rasa cintanya kepada sesama temannya semakin baik. Dan dengan ber-Qur’an manusia akan mencapai kesempurnaan ketaqwaan menuju jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.(*)

Pemimpin Umum Hidayatullah di Halaqah Sulsel Ajak Pos Dai Ekspansi Gerakan Qurani ke Mancanegara

0

Pinrang, HidayatullahSulsel.com — Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan Halaqah Gabungan dan Silaturrahmi di Rumah Qur’an Hidayatullah Parengki, Kecamatan Suppa Pinrang, Sabtu (3/6/2023).

Kegiatan tersebut dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad. Ia memberi pencerahan bagi kiprah dai Hidayatullah di setiap daerah untuk melahirkan kader yang bisa menjadi pelanjut generasi. Selain tentang pentingnya Furqan sebagai seorang kader.

“Itulah yang menjadi bekal penting bagi setiap kader yang ditugaskan hingga di berbagai pelosok negeri. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan ada dai yang dikirim ke mancanegara seperti di negara-negara Asia Tenggara,” harapnya.

Ke depan, ungkapnya, akan ada kerja sama yang dibangun oleh Pos Dai dengan para dai di Asia Tenggara tepatnya di negara Filipina dengan berbekal ilmu Qur’an.

Program tarbiyah Quran yakni dengan metode Grand MBA (Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an) di Filipina akan diluncurkan pada ajang Silaturahmi Nasional Hidayatullah November mendatang.

“Semoga dengan hadirnya para dai di berbagai penjuru Nusantara bahkan di berbagai mancanegara dapat membawa perubahan dengan memohon bantuan dan pertolongan Allah SWT melalui gerakan Al-Qur’an,” tambah Ketua Pos Dai Sulawesi Selatan, Ust Reskyaman SW merespon rencana program tersebut.

Di Sulsel, Pos Dai telah menggelar berbagai program dakwah dan tarbiayah Quran di wilayah pelosok dan Islam minoritas seperti di Toraja.

“Kami mengajak kaum muslimin dan muslimat yang ingin membantu program Pos Dai Sulsel menghubungi 082337090381.
Donasi bisa mengirim ke rek BNI 0855735056,” ajaknya. (*/fir)

Ketahuilah !  Inilah 12 Adab Bermusyawarah

0

▪️Oleh : Ust Ir H Abdul Majid MA Murobbi Halaqah Wustha Ali Bin Abu Thalib

HidayatullahSulsel.com — Mengawali pembahasan tentang adab, perlu rasanya terlebih dahulu mengenal kata adab itu sendiri, secara bahasa bermakna ad-du’a (undangan/ajakan). Maka kata ma’dubah (الْمَأْدُبَة) artinya undangan kepada hidangan makanan. Maka adab dinamakan adab karena ia adalah sesuatu yang orang diajak kepadanya.

Adab adalah kumpulan sifat-sifat terpuji yang dilaksanakan oleh seorang hamba baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sifat-sifat tersebut merupakan akhlaq yang mulia, yang baik, bagus dan indah.

Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

Adapun musyawarah merupakan kelaziman fitrah manusia dan termasuk tuntutan stabilitas suatu masyarakat.

Musyawarah (Asy-Syuura) adalah penyampaian pendapat ahli ilmu untuk mencapai perkara yang lebih mendekati kepada kebenaran, dan hal yang dimusyawarahkan adalah perkara yang tidak terdapat keterangan tentangnya dari Allah (Al-Qur’an) dan dari RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Hadits).

Musyawarah disyariatkan dalam agama Islam untuk mewujudkan keadilan di antara manusia, dan juga untuk memilih perkara yang paling baik bagi mereka, sebagai perwujudan tujuan-tujuan syari’at dan hukum-hukumnya, oleh karena itu musyawarah adalah salah satu cabang dari cabang-cabang syari’at agama, mengikuti serta tunduk pada dasar-dasar syari’at agama.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Q.S Ali-Imran 3 : 159

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“ Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya ”

Ayat di atas berbicara tentang kewajiban bermusyawarah.

Allah Subhanahu wata’ala berkeinginan agar Nabi-Nya menetapkan asas musyawarah ini kepada umatnya, dimulai dari diri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu, agar umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajarinya dan tidak bersikap sombong terhadap konsep musyawarah tersebut. Allah berfirman.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (Ali-Imran/3 : 159)

Adab-adab musyawarah di bawah ini hendaknya dikuatkan dengan menjaga dan menguatkannya, di antaranya :

1. Luruskan niat. Musyawarah yang dilakukan oleh seorang muslim, bukan bertujuan untuk memenangkan hujjah, bukan pula untuk mengalahkan dan menundukkan orang lain.

2. Mulailah dengan basmallah. Musyawarah yang dilakukan dengan tujuan mulia hendaknya dimulai dengan membaca asma Allah.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam musyawarah. Ketahuilah, bahwa Anda adalah salah seorang yang mendapatkan kepercayaan dan amanah yang mulia.

4. Jangan berbicara tanpa ilmu. Janganlah berbicara tentang sesuatu yang kita sendiri tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

5. Jadilah pendengar yang baik.
Ibnu Muqaffa’ berkata: “Belajarlah menjadi pendengar yang baik, sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Sebagian dari sifat pendengar yang baik adalah memberikan kesempatan kepada orang yang berbicara untuk menyelesaikan pembicaraannya secara tuntas, tidak banyak memberikan komentar dan jawaban, mengarahkan wajah kepada sang pembicara dan memperhatikan kepada apa yang diucapkan”.

6. Jangan mendominasi peserta. Musyawarah memiliki hak yang sama untuk mengutarakan gagasan dan pendapatnya.

7. Berbicaralah dengan jelas. Jika l mendapatkan kesempatan untuk berbicara maka gunakanlah waktu sebaik-baiknya.

8. Bersikaplah yang jujur. Sampaikanlah apa yang difahami dan yang diketahui apa adanya.

9. Kendalikan amarah. Agar musyawarah berjalan dalam suasana ruhama (kasih sayang). Dalam suasana ruhama, komunikasi akan menjadi cair tanpa hambatan psikologis.

Allah ta’ala berfirman yang artinya “Dan disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri
sisimu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu” (QS.Ali Imron [3]: 159)

10. Mintalah petunjuk kepada Allah.

11. Bertawakkallah kepada Allah. Jika telah diambil kesepakatan.

12. Akhiri dengan do’a. Akhirilah majelis musyawarah dengan do’a kaffaratul majelis, sebagaimana yang selalu dibaca oleh Rasulullah Shollahu alaihi wasallam

Adab musyawarah yang seperti inilah yang dilakukan Rasulullah dan para shahabatnya yang harus kita contoh dan napaktilasi dalam berIslam dengan khitah sebagai garis pergerakan.(Edi Qays)


*) Disarikan dari kajian Jatidiri Hidayayatullah, Halaqah Wustha Ali Bin Abi Thalib Hidayatullah Sulawesi Selatan

Dua Pesan untuk Pemuda Hidayatullah Sulsel

0

Oleh : Ust Ir H Abdul Majid MA, Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Terinspirasi dari Q.S Al-Ma’idah Ayat 54, Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui (QS. Al-Ma’idah Ayat 54)

Tantangan yang dihadapi pemuda di masa yang akan datang tidaklah ringan. Salah satu tantangan itu adalah kemampuan untuk melakukan revitalisasi pembangunan kepemudaan. Untuk menghadapi tantangan ini, semangat saja tidak cukup, tetapi diperlukan pemuda yang siap melahirkan sebuah karya dan karakter

Organisasi kepemudaan tidak bisa lagi hidup dalam lingkungan yang eksklusif yang jauh dari kehidupan nyata masyarakat agar organisasi kepemudaan dapat beradaptasi pada arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin deras

Pemuda harus bermanfaat menggerakkan seluruh potensi kepemudaan untuk berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada karena pemuda memiliki energi perubahan diyakini selalu lebih besar dibandingkan generasi sepuh

Betapa momentum pemuda dari semangat untuk melakukan perbaikan selalu lebih menggelora dibandingkan elemen-elemen masyarakat lain.

Sementara itu, militansi yang merupakan kunci pengembangan dan pergerakan pemuda harus direkayasa dalam rangka membentuk sebuah karakter yang bisa diteladani

Sehingga ada 2 hal yang harus dimiliki oleh pemuda, di antaranya :

1. Progresif. Sikap progresif melahirkan pola pikir dan sikap untuj meningkat lebih baik

Dalam Surat Al Fathir Ayat 32 Allah Ta’ala berfirman

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ


“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

Ayat Quran di atas mengandung pesan untuk lebih progresif dalam mengamalkan isi Al Quran itu sendiri, baik melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan larangan-larangannya (Muqtashid), maupun orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan sunah, meninggalkan segala perbuatan yang haram dan makruh, serta sebagian hal-hal yang mubah (Sabiqun bil khairat)

2. Beradab atau akhlak. Dalam Quran surat Al-Qalam Ayat 1-7 diantara kandungannya adalah pemantapan keinginan hatinya agar tetap teguh pada kebenaran

Di dalam hadits penuturan Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata :

كان النبي صلى الله عليه وسلم أحسن الناس خلقًا (رواه أبو داود والترمذي)


Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang terbaik akhlaknya.’ (HR: Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Istri Nabi Aisyah radiyallahu anha saat beliau ditanya oleh para Shahabat tentang bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ

كان خلقه القرآن (رواه مسلم)

Akhlak Rasulullah ﷺ adalah al-Quran (HR Muslim)

Pemuda beradab atau akhlak itu mereka yang menanamkan aqidah yang benar.

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya”.(Edi Qays)

*) Disarikan dari Muswill VIII Pemuda Hidayatullah Sulsel

Hidayatullah Makassar Ikuti Bimtek Ormas dan LSM Badan Kesbangpol Makassar

0

Makassar, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar melalui Departemen Organisasi menghadiri Bimtek pendaftaran Ormas Permendagri No. 57 Tahun 2017 Angkatan III tingkat Kota Makassar TA 2023

Kegiatan diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Makassar di Hotel Mercure Makassar Nexa, Jalan AP. Pettarani No. 4 Makassar, Senin ( 22/05/2023).

Kepala Bidang Politik dalam Negeri, Amru Mandasini, mewakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Zainal Ibrahim, dalam sambutannya pembukaan acara menyampaikan, pertemuan seperti ini akan meminimalisir terjadinya konflik  internal ormas ataupun konflik yang sifatnya eksternal.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 125 perwakilan ormas dan LSM. “Dengan kegiatan ini akan memberikan pemahaman terkait mekanisme dan persyaratan pendaftaran ormas sekaligus terkait perpanjangan SKT yang di miliki,” ujar Amru Mandasini.

Amru berharap, ”Kami berharap bimtek ini bisa meminimalisir potensi konflik di internal ormas itu sendiri, kemudian meminilisir potensi konflik terkait dengan afiliasi ormas terhadap masyarakat.”

Selanjutnya, tambahnya, bagaimana membangun sinergitas antara ormas dan pemerintah selaku organisasi yang diharapkan berkontribusi dalam membangun masyarakat khususnya Kota Makassar.

Ia juga menyampaikan bahwa dengan kegiatan ini akan memberikan pemahaman terkait mekanisme dan persyaratan pendaftaran ormas sekaligus terkait perpanjangan SKT yang di miliki. (Edi Qays)

RQ-MQ Hidayatullah Makassar Wisuda Perdana Santri 30

0

Makassar, HidayatullahSulsel.com — Rumah Quran Hidayatullah dan Majelis Quran Hidayatullah Makassar menggelar kegiatan wisuda santriwan santriwati angkatan pertama di Masjid Baitul Kariim, Jl. Damai Lr. Tamalanrea Indah, Unhas Makassar, Ahad (28/5/2023).

Turut hadir Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Makassar Dr Nasrullah Sapa Lc MM, Manajer BTH Makassar Baso Zulfikar SHi, Ketua DKM Baitul Karim Edi Qays, para Muallim/Muallaimah RQH, wali santri, majelis taklim Baitul Kariim dan masyarakat sekitar Unhas

Di hadapan para wisudawan santri RQH-MQH, Ketua DPD Hidayatullah Makassar Dr Nasrullah Sapa memberikan motivasi keutamaan penuntut ilmu, baik di dunia maupun di hari kiamat

“Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka (HR. Baihaqi),” terang Nasrullah menjelaskan hadits

Sementara itu, Koordinator RQH-MQH DPD Hidayatullah Makassar Muh Firdaus Umar SHi mengatakan, “Kegiatan wisuda santri ini merupakan salah satu program kerja dakwah yang dilaksanakan di Masjid Baitul Kariim” ucap Firdaus.

Pihaknya juga menyampaikan bahwa total peserta wisudah angkatan pertama sebanyak 30 orang santri terdiri dari 3 RQH/MQH yaitu RQH Baitul Kariim, RQH Al Ikhlas Taman Telkomas, RQH Yaa Bunayya BTP.

Ketua Takmir Masjid Baitul Kariim, Edi Qays SE MM pada kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama dari fasilitas tempat sekaligus mohon maaf dari segala kekurangan yang ada, pengurus masjid terus mendukung program yang bisa dikerjasamakan,” ucap Edi.(red/*)

Ustadz Aziz Beri Pencerahan Konsep Berlembaga di Musyawarah Kampus Madya Hidayatullah se-Sulsel

0

Palopo, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ustadz Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi memberikan pencerahan tentang konsep berlembaga kepada pengurus yayasan kampus madya pada musyawara khusus kampus madya Hidayatullah Se-sulsel di Ponpes Hidayatullah Palopo, Ahad, (28/5/2023).

Ustadz Aziz menguraikan, lahirnya semua konsep di Hidayatullah itu adalah dengan sistem kepemimpinan kolektif atau kepemimpinan syuro. Wujud nyata dari kepimpinan syuroh itu melahirkan konsep seperti jati diri Hidayatullah yang menjadi pedoman berlembaga.

Poin-poin yang terdapat pada Jati Diri Hidayatullah itu bukan lahir begitu saja tapi dibuatkan tim khusus untuk memikirkan dan melahirkan poin-poin tersebut dan itu semua melalui musyawarah panjang.

“Maka tugas kita saat ini adalah menjalankan konsep itu dengan baik.” tegasnya. Ia menerangkan, tugas Kampus Madya adalah memiliki mindset tarbiyah dan dakwah dengan pelaksananya adalah badan pembina dan pengurus.

“Maka dua steuktur ini harus memiliki chemistry dan kompak. karena kalau dua ini berjalan dengan baik maka yayasan itu akan lebih berkualitas,” harapnya.

Tugas Dewan Pembina jelasnya, adalah menyukseskan konsolidasi Jadi Diri Hidayatullah di Kampus Madya. Artinya yang pertama dilakukan oleh badan pembina adalah pencerahan tentang manhaj.

Disamping itu, pembina harus juga terus menerus memberi semangat. Karena tugas pembina itu adalah bagaimana mengaplikasikan semangat. “Artinya kita harus selalu bergerak, karena apa yang mau ditunggu kalau tidak bisa bergerak,” ujar pembina Hidayatullah Sulsel ini.

“KH Abdullah Said itu paling pantang melihat kalau ada orang yang tidak bergerak, maka beliau selalu mengontrol semua jamaah. Memastikan jamaanya terus bergerak, harus sa’i terus,” kenang Ustad Aziz.

Selain itu, tambahnya, pembina juga harus bisa memastikan spiritual anggotanya agar tetap terjaga. Disamping memastikan juga mereka untuk terus bergerak. Karena tugas pemimpin dalam kepemimpinan nubuwah itu adalah harus bisa selalu memberi semangat untuk tampil berjuang.

“Kalau ada suatu kampus, yang di situ jam tiga malam belum ada shalat lail di masjid maka yang bertanggung jawab adalah dewan pembina,” kata Ustadz Aziz

Idealnya di kampus madya itu minimal ada satu badan pembina yang tinggal. karena di kampus ada yang harus dibina, seperti masalah spiritual, syariat itu adalah tanggung jawab badan pembina.

Selanjutnya ketua yayasan. Ketua ayasan itu bertanggung jawab menjalankan tugas operasional dengan mensukseskan enam pilar organisasi yang mencakup, Regulasi, Sistim Administrasi, Managemen, Kepemimpinan, Sistematika Wahyu dan Gerakan Nawafil Hidayatullah.

“Jadi kalau kita bisa memahami tugas pokok ini dengan baik, maka sistem yang kita kerjakan ini akan semakin rapi dan baik.” tandanya.(ridwan)

Merawat 3 Quwwah untuk Mengelola Perjuangan

0

Oleh : Ust Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah dan Pembina Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ada tiga Quwwah (kekuatan) yang menjadi pemacu spirit dalam menumbuhkan kekuatan kita dalam mengelola perjuangan di lembaga ini (Hidayatullah). Tiga Quwwah tersebut adalah Al Quwwah Jismiyah, Al Quwwah Aqliyah dan Al Quwwah Ar Ruhiyah.

Sebagai orang beriman, tiga kekuatan ini mesti harus ada pada diri kita yang terus menerus kita benahi secara simultan. Harus ada rekayasa secara peribadi dan juga membangun sistemnya secara kelembagaan.

Tiga Quwwah ini juga harus berjalan seirama tidak boleh hanya menonjol satu saja dalam diri kita secara pribadi dan maupun secara kelembagaan. Sebab Quwwah ini adalah paket komplit yang melengkapi satu sama lain.

Maka kita bisa memahami bahwa rohani itu harus tampil dalam fisik. Karena sekalipun fisik kuat tapi tidak melibatkan Rohani yang terjaga asupan nutrisinya sebagai bekingan disana maka fisik yang kuat itu juga cepat kendor.

Begitu pula dengan Quwwah Aqliyah. Walau akal atau pemikirannya baik tapi rohaninya tidak, maka juga akan rawan fluktuasi.

Sehingga banyak kita temukan orang pintar secara Intelektual, tapi karena lemah di Rohani maka ilmunya itu digunakan dengan cara-cara yang tidak baik.

Ada yang kuat Rohaninya tapi ilmunya kurang, itu juga akan rawan terjadi guncangan. Orang kuat shalat lail misalnya, tapi ilmu tidak cukup, kemudian diuji dengan dunia akhirnya spiritualnya luntur. Jadi ilmupun ini sangat penting sebagai kekuatan.

Sebab tidak mungkin kita membangun organisasi Hidayatullah ini tanpa beking keilmuan. Sekalipun kita sadari bahwa tradisi keilmuan ini masih belum begitu maksimal. Sebagaimana KH Abdullah Said telah contohkan. Tapi minimal kita ada keseriusan dalam menumbukan minat keilmuan itu.

KH Abdullah Said dalam sejarah, sebelum Hidayatullah ini didirikan beliau mempersiapkan Ilmunya dulu dengan banyak belajar. Beragam buku yang beliau baca. Sampai sampai kalau ke Surabaya atau Makassar beliau akan mengangkut buku berkardus-kardus, karena kesadaraan beliau tentang ilmu.

Buku yang KH Abdullah Said baca bukan hanya tentang pemikiran Islam, tapi juga berbagai macam pemikiran sehingga terkenal kutipan penyataan beliau di Hidayatullah. “Anda melihat saya beli buku-buku barat bukan berarti saya mau menjadi pengikuti pikiran mereka tapi untuk memastikan kesalahannya. tidak mesti saya panuti itu. Ada buku saya beli untuk mengetahui bahwa ini pemikiran salah.”

Dengan budaya menuntut Ilmu yang dibangun KH Abdullah Said inilah kemudian Hidayatullah itu berdiri dan bisa eksis sampai sekarang.

Masa Transisi Hidayatullah

Hidayatullah itu pernah mengalami cobaan yang sangat dahsyat sepeninggalan KH Abdullah Said, sebab kita kehilangan pemimpin karismatik. Sosok yang menguasai atau pemilik tunggal konsep Sistematika Wahyu (SW). Sehingga banyak tokoh waktu itu di Sulsel berfikir bahwa Hidayatullah hanua akan seumur KH. Abdullah Said. Tapi masyaAllah kita sangat sukses melalui masa transisi itu.

Tapi saat ini akan terjadi kembali masa transisi yang kedua. Saya selalu mengatakan, masa transisi ini mungkin akan berlangsung 10 sampai 15 tahun ke depan.

Transisi ini kurang lebih sama tapi dengan muatan yang berbeda. Sebab kalau dulu kita ditinggalkan Pemimpin One Man Show, yang benar-benar tunggal dan matang pemikirannya tapi transisi kedua ini adalah periode ketika orang orang yang dikader langsung oleh KH Abdullah Said sudah hampir semua meninggal dunia.

Sehingga yang akan tampil berikutnya sebagai pemimpin Hidayatullah adalah orang-orang yang tidak merasakan secara langsung pola pengkaderan KH Abdullah Said.

Masa transisi itu selalu melahirkan perubahan besar, sebagaimana ketika KH. Abdullah Said meninggal. Siapa yang tetap bertahan dan tetap berjuang maka mereka itulah orang-orang pilihan.(ridwan)

*) Disarikan dari ajang Musyawarah Khusus Kampus Madya Hidayatullah se-Sulsel di Ponpes Hidayatullah Palopo

Sekda Kota Palopo Apresiasi Program Dakwah DPD Hidayatullah Palopo

0

Palopo, HidayatullahSulsel.com — Pengurus DPD Hidayatullah Palopo melakukan kunjungan silaturahim ke Sekda Kota Palopo Drs H Firmanza DP SH MSi di Rujab Sekda Palopo, Sabtu (27/5/2023).

Rombongan dipimpin oleh ketua DPD Hidayatullah Palopo Ustadz Burhanuddin, hadir pula Ustdz Drs Sumadiana instruktur nasional Hidayatullah, Ustadz Imran Jufri SPd Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel.

H Firmanza menyambut dengan hangat kedatangan Rombongan dari Hidayatullah. H. Firmanza sebelumnya pernah menjabat sebagai Camat di Towuti, Luwu Timur dan banyak bersinergi dengan Hidayatullah Towuti.

“Silaturahmi adalah momentum yang dapat memupuk kebersamaan serta mempererat persaudaraan. Apresiasi kami kepada Hidayatullah Palopo,” ujarnya.

Kunjungan ini, tambah Ust Burhanuddin, untuk memperkuat sinergi yang telah terjalin dengan baik selama ini antara pemerintah dan Hidayatullah kaitanya dengan pembinaan ummat dan masyarakat.

“Semoga apa yang sudah terjalin erat antara Pemerintah Kota Palopo dengan DPD Hidayatullah Palopo dapat terus terjalin dengan baik, dan dapat ditingkatkan lebih lanjut, bersinergi demi memberikan pelayananan dalam hal pembinaan umat dan masyarakat,” ucapnya.(Mrd)

Ketua DPW Beri Spirit dan Buka Musyawarah Khusus Kampus Madya Hidayatullah se-Sulsel

0

Palopo, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menggelar Musyawarah Khusus Yayasan Kampus Madya Hidayatullah se-Sulsel di Kampus Madya Hidayatullah Palopo, Sabtu (27/5/2023)..

Kegiatan ini dihadiri pengurus dari lima kampus madya Hidayatullah Towuti Luwu Timur, Masamba Luwu Utara, Kota Palopo, Kota Parepare dan kampus madya Hidayatullah Bone.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bukhari MPd dalam sambutannya menyampaikan bahwa musyawarah khusus yang diselenggarakan untuk membahas program kerja yang sedang dan akan dilaksanakan pada 2023 ini.

“Kenapa dikatakan khusus, sebab ini sifatnya terbatas untuk memusyawarahkan apa yang sedang dan akan kita bicarakan pada periode ini, sebab kampus madya adalah barometer atau prototipe fakta kerja ril khususnya di bidang dakwah dan tarbiyah,” jelasnya.

Bahwa, rincinya, pergerakan atau implementasi dari membangun visi peradaban Islam itu dibangun atas tarbiyah dan dakwah. “Misi ini untuk mencetak atau mengkader generasi masa depan sebagai pelanjut estafet perjuangan ini,” ujarnya.

Maka kampus madya Hidayatullah menjadi kampus yang diperankan sebagai pelopor pembawa gerakan terhadap kampus-kampus lain.

Sehingga, tambahnya, tema yang diangkat dalam kegiatan inipun menjadi tema yang dahsyat dan memiliki makna yang dalam. yakni “Konsolidasi Jati diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi, dan Integritas Sistemik Kampus Madya se-Sulawesi selatan.”

“Garis pertama yang harus kita lakukan paling awal adalah menuntaskan konsolidasi jati diri terhadap diri kita terlebih dulu, sebab tidak mungkin kita melakukan konsolidasi atau mengkader orang lain kalau memantapkan diri kita dulu belum tuntas,” ucap Ust Nasri dalam sambutan pembukaan musyawarah tersebut.

Jadi untuk memantapkan diri kita itu, urainya, tentu dengan melibatkan Allah Ta’ala sebagai pembimbing dalam semua aktifitas kehidupan di manapun kita berada sebagaimana dalam konsep dasar manhaj dakwah Sistematika Wahyu Hidayatullah.(ridwan)