Beranda blog Halaman 51

Guru, Pendidikan dan Pesantren

0

Oleh : Fatahillah Abu Sitta, Kepala BMH Maros

HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, rute perjalanan menuju gerbang generasi cerdas, sholeh dan bertaqwa, serta memelihara kaum lemah, rakyat jelata, melalui pembangunan infrastruktur pendidikan dan pembangunan kesehatan jiwa dan raga, merupakan jalan terbaik untuk kesuksesan keberkahan secara jama’i.

Kata Imam Syafi’i jika ingin sukses dunia mesti pintar, punya ilmu, begitu juga sukses akhirat dengan ilmu. Artinya betapa pendidikan menjadi nyawa bagi kemajuan individu dan masyarakat.

Untuk Sulawesi Selatan berapa jumlah guru yang ada? Bagaimana kualitasnya ? Dan bagaimana peta cluster pendidikan? dan dari hasil pendidikan bagaimana menopang roda gerakan perjuangan?

Dan seperti apa konsep pendidikan gratis berkualitas? Bagaimana menjadikan pesantren mandiri, maju dan berdaya saing?

Begitu banyaknya tanggung jawab moral dan sosial terkait pendidikan. Maka perlu fokus dan konsentrasi tinggi untuk meriset, mengkaji dan mentilawah pendidikan sehingga melahirkan guru-guru yang memiliki jiwa ikhlas yang kuat, guru yang siap berkorban jiwa raga, berjiwa peka dan peduli, tentu selalu terdepan dalam memberikan keteladanan.

Pesantren merupakan pabrik sekaligus laboratorium untuk melakukan pembinaan generasi, terobosan gagasan yang berani, narasi dan inovasi gerakan harus lebih fokus dalam mentilawah, di era ini pesantren menjadi solusi solutif untuk terjaganya generasi dari segala bentuk pengaruh negatif yang setiap saat menyerang generasi

Hadirnya guru berjiwa Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madya Mangun Karso Tut Wuri Handayani, adalah hal utama untuk kemajuan pembinaan generasi, standarisasi guru diperlukan untuk mengokohkan akar kesuksesan generasi.

Atmosfir Al Alaq harus terus menjadi nyawa bagi seorang guru dan santri, bagaimana menata dan mengelola agar warisan baca ini terus menjadi nafas kehidupan?

Jangan sampai guru dalam sehari tidak membaca.
Pernyataan Edwin Louis Cole, yang menegaskan “Kebodohan adalah hasil dari hilangnya kebiasaan membaca”. Pernyataan Edwin Louis diperkuat dengan pernyataan salah seorang novelis terkemuka Austria, Frans Kafka yang lebih tegas lagi menyebutkan bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku dalam diri manusia. Yang dimaksud lautan beku adalah kebodohan.

Kaisar Jepang ketika mendengar berita pemboman Jepang oleh Amerika serikat, Kaisar selaku pemimpin tertinggi Jepang pada saat itu langsung mengumpulkan para jenderal yang tersisa dan bertanya berapa jumlah guru yang tersisa. Pertanyaan ini lantas membuat bingung para Jenderal. Sebab, semula mereka mengira sang Kaisar akan menanyakan perihal tentara, alih-alih guru yang masih tersisa.

Kaisar mengatakan bahwa Jepang telah jatuh. Kejatuhan ini dikarenakan mereka tidak belajar. Jenderal dan tentara Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi tidak memiliki pengetahuan mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika

Kaisar Hirohito kemudian menambahkan bahwa Jepang tidak akan bisa mengejar Amerika jika tidak belajar. Karenanya, ia kemudian mengimbau pada para Jenderalnya untuk mengumpulkan seluruh guru yang tersisa di seluruh pelosok Jepang. Sebab, kepada para gurulah seluruh rakyat Jepang kini harus bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan.

Baca: Hiroshima Peringati 75 Tahun Bom Atom Kaisar Hirohito kemudian bergerak untuk mengumpulkan sekitar 45.000 guru yang tersisa pada saat itu dan memberi mereka arahan.

Kehadiran guru pada saat itu manjadi hal krusial bagi seluruh lapisan masyarakat Jepang. Karenanya, perlahan negara ini dapat kembali bangkit dari keterpurukan.
Sumber: SindoNews

Pembangunan manusia melalui pendidikan menjadi arah kekuatan bagi pesantren, ukuran keberhasilan ditinjau dari melahirkan guru yang memiliki full skill dan memiliki power GNHalaqohmabit, guru yang selalu fokus mengurus generasi di pesantren

Bila fokus pada pembangunan manusia melalui investasi pendidikan dengan fokus dan serius, kedepannya akan maju dan berkembang di segala sektor, karena penggerak roda pesantren telah tersibgoh dengan baik melalui pendidikan gratis berkualitas

Hari ini dibutuhkan fokus dan serius, peran dan fungsi pemegang kebijakan sejatinya membuat sebuah rumusan dan terobosan untuk hadirnya guru-guru hebat menghebatkan yang telah melewati fase pra Wahyu secara alami ilmiah, dan mempelajari , mahami dan mengamalkan sistematika Wahyu dengan penuh semangat membara

Dengan itu pendidikan menjadi arus terang menyala untuk perubahan dan perbaikan, yang mengokohkan akar kekuatan jiwa raga generasi.(*)

Ana Khairan Minhum Bibit Kesombongan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Pertarungan tersohor beberapa tahun lalu adalah duel antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor. Sampai memuncaki daftar pertarungan UFC di Las Vegas AS sebagai pertarungan dengan pendapatan terbesar dalam sejarah.

Rivalitas keduanya telah dimulai sebelum naik ring hingga insiden usai pertarungan. Itulah membuat laga ini sangat menarik.

Sebuah pertarungan antara kepercayaan diri dengan kesombongan. Menyita perhatian dunia lantaran provokasi emosi dari McGregor yang sombong, memandang remeh Khabib yang taat menjalankan syariat. Dan akhirnya kemenangan pun diraih oleh Khabib.

Drama kehidupan antara kesombongan dan kepercayaan diri sebagai buah dari ketawadukan adalah sesuatu yang ada sejak manusia tercipta dipermukaan bumi.

Penciptaan Nabi Adam as, memfragmenkan kompotisi antara kepercayaan diri Adam oleh kelebihan ilmu yang diajarkan oleh Allah kepadanya, yang berseberangan dengan sikap sombong ditunjukkan Iblis yang enggan mentaati perintah Allah.

Keengganan iblis untuk taat pada perintah Allah tidak sebagaimana ketaatannya semua malaikat untuk sujud kepada kepada Adam atas perintah Allah.

Seperti yang diceriterakan dalam QS:2;31;35 bahwa Allah memberikan kelebihan pada Adam dari pada malaikat. Karena Allah memberi kemampuan kepada Adam untuk bisa menjadi pemimpin di permukaan bumi.

Walaupun malaikat adalah makhluk yang lebih duhulu diciptakan dan selalu taat pada Allah. Namun tetap diuji ketaatannya dengan diperintahkannya untuk sujud kepada Adam. mahluk new comer, pendatang baru.

Semua malaikat pun taat pada perintah Allah, yakni sujud kepada Adam. Kecuali iblis karena merasa lebih mulia dari pada Adam.

Berdasarkan peristiwa dalam ayat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kesombongan adalah karakter dari sikap mental mahluk. Sikap mental merasa lebih baik karena memiliki kelebihan dari yang lainnya.

Termasuk diantaranya sikap mental sombong oleh keengganannya iblis untuk mentaatiNya, disebabkan karena tidak menerima dan mengakui kelebihan Adam dari pada malaika, termasuk iblis.

Dalam persepsi iblis tergambar pemahaman terbalik. Mengapa saya harus sujud kepada Adam. Bukankakah saya ini adalah mahluk yang lebih mulia dari Adam ?

Merasa lebih mulia dari yang lain, Inilah asal muasal timbulnya sifat-sifat kesombongan pada mahluk, tak terkecuali pada diri manusia.

Alasan kesombongan Iblis yang lebih mulia daripada Adam sebagai manusia tercantum dalam firmanNya QS: Al-A’raf: 12 (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Sikap merasa lebih yang dimiliki Iblis karena diciptakan dari api sementra Adam hanya dari tanah membuat Iblis memposisikan dirinya lebih baik dari Adam.

Rupanya sifat ini menjadi penyakit mental yang menjangkit dan menulari anak cucu Adam. Merasa lebih, menyebabkan lahir sikap ana khairun minhu (saya lebih baik dari dia)

Sifat tersebut lahir bisa karena merasa lebih memiliki status sosial, keilmuan, fisik, kepangkatan, kesenioran, jabatan, atau pun oleh berbagai faktor lain. Yang membuat dirinya merasa posisinya lebih mulia dari yang lainnya.

Dampak lebih buruk dari sifat sombong itu adalah terjadinya kompotisi tidak sehat. Mentalitas tidak memahami kekurangan dirinya serta tidak mengakui kelebihan orang lain akibatnya munculnya sifat buruk, seperti saling menyakiti, saling membenci, saling menjatuhkan, bahkan saling menghancurkan.

Lebih mengkhawatirkan dari sikap kesombongan ini bisa jadi membias kepada kesombongan kepada Allah, dengan mengakui sifat keMaha Kuasaan Allah. Sehingga tidak mau tunduk pada perintah dan menjalankan syariat Allah.

Sementara ukuran kemuliaan seseorang adalah ketundukan dan kepatuhan pada perintah Allah. Dan sikap ini muncul ketika jiwa bersih dari berbagai bentuk kesombongan.

Ketika hati dan jiwa bersih niscaya menumbuhkan kesadaran diri, mengakui akan kekurangan dirinya. Selanjutnya kembali kefitrah ketauhidannya, mengakui kebesaran hanya Milik Allah yang dipatuhi dan disembah

Sebagaimana dalam firmanNya. “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya.” (Doa Dzun Nuun, Al-Anbiya: 87).(*)

Cintai Istri Sepenuh Hati Sebelum Berfikir Menikah Lagi, Menjaga Hati Bidadari

0

Oleh : Dwi di Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Di dunia ini mencari kawan yang mau diajak susah sulitnya bukan main, diantara ratusan kawan mau pun relasi belum tentu kita dapati walau seorang saja.

Kalau mencari yang mau diajak senang atau masuk ke zona nyaman pastilah mudah, semudah menggerakkan ujung jari.

Demikian pula mencari kawan setia atau “bestie” sekualitas Abu Bakar As-Shidiq atau Ali Bin Abi Thalib yang tanpa keraguan sedikit pun rela mengorbankan dirinya untuk keselamatan jiwa rasulullah Muhammad SAW, dan sanggup bertahan dengan kondisi yang serba sulit dan penuh ancaman.

Jika mencari kawan yang setia sangat sulit maka mencari pasangan hidup yang setia sehidup semati atau sehidup sesurga, jauh lebih sulit .

Menemukan lawan jenis yang mampu setia dan tabah mengayuh bahtera cinta dalam iman dan ketaatan adalah anugerah terindah bagi seorang manusia.

Salah satu kekuasaan dan kagungan Allah SWT, adalah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Sejak awal diciptakannya manusia pertama Adam, Allah pun tak membiarkan Adam kesepian di dalam surga hingga menciptakan dan menganugerahkan Sitti Hawa sebagai pasangannya.

Di dalam surga yang bertabur kenikmatan sekalipun jiwa kelaki-lakian Adam tetap merasakan kesepian, sehingga Allah kemudian menciptakan makhluk yang bernama wanita yang kita kenal sebagai Ibunda seluruh manusia yakni Siti Hawa.

Hawa ada untuk melengkapi kebahagian Adam dan bukan sekedar untuk menemani Adam di dalam surga.

Dalam episode selanjutnya ketika Allah menurunkan mereka dari surga ke alam dunia dan memisahkan keduanya sebagai bentuk hukuman. dua belahan jiwa yang sebelumnya menyatu dalam kebahagiaan dan ketaatan di dalam surga akhirnya harus merasakan kepayahan hidup di alam dunia dan harus terpisah sekian lama hingga Allah pertemukan kembali di jabal rahmah sebagai bentuk kasih sayang dan penganpunan Allah.

Cinta keduanya yang telah tumbuh subur di dalam surga kembali bersemi dan berbuah ranum. Sayangnya tak banyak referensi tentang romantisme kehidupan keduanya yang jelas cinta keduanya tak lekang, tak berkurang dan tak luruh walaupun di surga dijamu dengan berbagai kenikmatan.

Sedangkan di dunia di dera dengan segala kesulitan dan kepayahan dalam menjalankan amanah sebagai hamba dan khlaifah di dunia ini.

Justru dalam kepayahan menjelajah dunia, mengarungi samudera kehidupan dunia yang penuh ombak dan badai, bersama-sama merasakan suka duka, pahit dan getir kehidupan dunia semakin menambah ikatan cinta keduanya.

Wajarlah jika kelak manusia telah kembali ke surga maka dari puluhan bidadari yang Allah siapkan di dalamnya maka secantik-cantiknya dan seranum-ranumnya bidadari surga, maka yang lebih utama di antara mereka adalah pemimpin para bidadari yakni bidadari yang terlahir di dunia sebagai istri yang sholehah.

Mereka itulah istri-istri para penghuni surga yang telah menjadi bidadari sejak di dunia, mereka itu bidadari dunia akhirat.

Penggalan kisah kedalaman cinta Nabi kepada Khadijah yang memicu kecemburuan Aisyah adalah bukti bahwa derajat kecintaan sangat ditentukan oleh derajat pengorbanan pasamgan hidup.

Semakin tinggi nilai pengorbanannya akan semakin tinggi juga derajat kecintaannnya. Dari seorang bangsawan terpandang dan kaya raya, diakhir kehidupan dunianya untuk mendapatkan selembar kafan untuk membungkus jasadnya pun cukup kesulitan.

Seluruh harta dan jiwanya telah totalitas dihibahkan untuk perjuangan dakwah menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Inilah yang membuat sosok Khadijah tetap bertahta di hati Nabi, walaupun telah hadir sosok-sosok wanita pendamping Nabi.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Kalau Nabi sangat cinta kepada Khadijah mengapa beliau menikah lagi dengan sekian banyak wanita, setelah Khadijah wafat, bahkan setelah menikah dengan Aisyah yang masih gadis belia pun masih menikahi wanita-wanita lainnya hingga yang terakhir adalah Maimunah Binti Harits?”

Kenyataannya beliau mencintai semua istri-istrinya sepenuh hati, bukan separuh hati atau seperempat hati.(bersambung)

Dedikasi Ustadz HR dan Hidayatullah di Kendari

0

Oleh : Ust H Dwi Di Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Seorang Ustadz Senior sebut saja dengan “Ustadz HR” yang juga termasuk salah seorang pejuang perintis dakwah di Sulawesi Selatan kemudian hijrah ke Kota Kendari Sulawesi Tenggara di awal tahun 90 an untuk melanjutkan perjuangan merintis dakwah di sana.

Di sebuah kota kecil yang terkenal dengan julukan kota Lulo. Berawal dari rumah kontrakan sederhana di jalan Melati, beliau memulai kiprah dakwahnya dengan mengajar Al Qur’an di Masjid Agung Kota Kendari dan membina beberapa santriwati mahasiswi.

Para santriwati itu saat ini sudah tersebar di berbagai penjuru Sulawesi Tenggara sebagai mujahidah-mujahidah tangguh yang berperan besar dalam perintisan kampus-kampus peradaban di wilayah tersebut.

Geliat dakwah di Sulawesi Tenggara diawali dengan dirintisnya pondok pesantren Hidayatullah Kendari di beberapa petak lahan empang yang diwakafkan oleh seorang purnawirawan almarhum H Hamid.

Begitu banyak kisah heroik yang sarat dengan muatan hikmah mengiringi perjalanan Ust HR merintis dakwah di Kota Kendari. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan beliau mendidik santri-santri awal, yang mayoritas berasal dari kepulauan Buton dan Muna.

Selain dikenal ramah dan sangat dekat dengan para santrinya, Ust HR juga dikenal sebagai sosok yang pemaaf, santun dan berwibawa. Suatu ketika terjadi kegaduhan di pondok putra yang disebabkan raibnya salah satu kendaraan dinas pondok yang dicuri pada saat sholat subuh.

Peristiwa itu pun ramai menjadi perbincangan di kalangan warga dan pengurus. Tak sedikit di antara mereka yang menyesalkan dan menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada guru yang diamanahi memegang kendaraan tersebut.

Apalagi malam hari sebelum kejadian, motor tersebut dipinjam oleh salah seorang pengasuh santri untuk urusan kuliah, saat kunci dikembalikan ia tidak sempat mengecek keamanan kendaraan itu yang diparkir di sisi kantor dekat masjid.

Sang guru pun sempat shock karena peristiwa kehilangan motor dinas tersebut. Mendengar kegaduhan tersebut Ustadz HR pun datang menenangkan suasana, dengan bijak beliau berkata,

“Kader itu mahal, kalau motor yang hilang insha Allah bisa diganti” Seuntai kalimat singkat, namun kandungan maknanya sangat dalam.

Ada pula sebuah kejadian unik yang menimpa salah seorang kader pemgurus yang mengalami “kegoncangan” dan ingin pindah ke wilayah lain, karena merasa tak sanggup menerima beban amanah yang berat dan ujian fitnah yang menerpa dirinya.

Saat Ia menghadap Ustadz HR untuk mengutarakan keinginannya untuk pamit meninggalkan medan juang pindah ke wilayah lain, ternyata Ustadz HR sudah mendengar informasi terkait rencana kepindahan salah satu kadernya itu. Di tengah sejuknya embun pagi masih menyelimuti kawasan pondok pesantren putri, saat keduanya bertemu di samping musholla putri, berbincang layaknya seorang ayah dan putra kesayangannya.

Nasehat dan pertimbangan yang diberikan ternyata belum menyurutkan keinginan sang kader untuk segera membawa keluarganya meninggalkan tempat pengabdian mencari suasana baru di tempat lain.

Sambil menahan nafas Ustadz HR berpikir keras mencari jalan untuk bisa membuat kadernya tetap bertahan di tenpat tugasnya, tak lama kemudian beliau berucap “Oke lah kita sudah cukup lama bersama-sama berjuang di tempat ini, kalau antum ingin pergi ,ayo kita sama -sama pergi meninggalkan tempat ini!”

Mendengar ucapan Ustadz HR, kader tersebut pun tertegun dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk lari dari medan perjuangan.

Tugas berat para pejuang perintis dakwah adalah menjaga niat dan keikhlasan dalam berjuang. Godaan ketertarikam kepada duniawi tak pernah sepi menhampiri setiap mujahid dakwah, demikian pula yang dialami ustadz HR.

Menyaksikan dedikasi dan pengorbanan beliau merintis berdirinya kampus peradaban pesantren Hidayatulllah Kendari maka pewakaf lahan pesantren tergugah hatinya untuk memberikan sebidang tanah kapling di sebelah rumahnya untuk pribadi Ustadz HR.

Seirimg dengan perkembangan waktu, tanah tersebut kemudian di barter dengan lokasi lain yang berdekatan dengan masjid pesantren. Tak lama setelah itu, pengurus pesantren berinisiatif membangun rumah beliau di atas lahan tersebut. Belum setahun rumah tersebut di tempat , beliau harus berhijrah ke Ibukota untuk menerima amanah baru di kantor pusat Jakarta.

Rumah beserta tanah yang menjadi hak beliau kemudian dihibahkan ke pesantren. Beliau merasa cukup diberi biaya transport kepindahannya ke Jakarta.

Sikap mental seperti ini hanya bisa dimiliki oleh para pejuang dakwah yang berjiwa murobbi yang setiap prilaku dan sepak terjangnya selalu menjadu teladan dan inspirasi bagi generasi pelanjut.(*)

Mari Raih Kemuliaan dan Keberkahan Hari Jumat

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Hari yang paling utama dari semua hari dalam sepekan adalah hari Jumat. Kemuuliaannya dikhususkan hanya bagi kaum Muslimin yang beriman.

Hari Jumat memiliki arti sangat istimewa sebagai hadiah dari Allah atas penyambutannya dengan semangat beribadah yang tinggi.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukan keutamaan dan kemuliaan hari Jumat. Hari yang penuh barakah dan keagungan. Dari beberapa keutamaan itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Rajanya hari dan lebih agung dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha

Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits: “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada Hari Raya Qurban dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Pada hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahim. Kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat.”

Rasulullah kembali menjelaskan hal yang mengistimewakan hari Jumat dengan beberapa peristiwa besar, Sebagaimana dalan hadist riwayat Muslim;
“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.”

Kedua, Hajinya orang yang tidak mampu. Haji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu. Bagi yang bergembira dengan hari Jumat mendapatkan ganjaran senilai dengan ibadah haji.

Sehingga bagi yang tidak mampu beribadah haji, ketika menjalankan shalat Jumat mendapatkan ganjaran senilai haji.

Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:  “Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir.”

Terkait hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan bahwa yang dimaksud berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan ibadah Jumat.

Ketiga, terdapat waktu-waktu dikabulkannya do’a.
Dalam hari Jumat terdapat waktu yang Allah mengabulkan doa seseorang. Sebagaimana dalam haditsnya; “Pada hari Jumat terdapat waktu yang tidaklah seorang hamba muslim salat dan meminta kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya.” (HR Bukhori dan Muslim). 

Beberapa ulama memberi penafsiran berbeda terhadap waktu yang tepat untuk berdoa. Dari semua pendapat itu, terdapat dua pendapat yang paling kuat yaitu waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat Jum’at. Hal itu sebagaimana pendapat Imam an-Nawawi rahimahullah.

Pendapat lain, bahwa batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘Ashar.
“Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘Ashar.”(HR Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud)

Keempat, Dosa-dosanya diampuni diantara dua hari Jumat. Keberkahan ini diberikan kepada siapa saja yang menunaikan shalat Jum’at sesuai dengan tuntunan adab dan tata cara yang benar.

Sebagaimana hadits Rasulullah, maka dosa-dosa ummat yang terjadi antara Jum’at tersebut dengan Jum’at sebelumnya akan diampuni.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu. Dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.”

Selanjutnya dalam hadist Shahih Muslim terdapat tambahan tiga hari. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mandi lalu berangkat Jum’at, kemudian mendirikan shalat semampunya, selanjutnya diam mendengarkan khutbah (imam) hingga khutbahnya selesai kemudian shalat bersama imam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi.”

“Shalat fardhu lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut jika ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Para ulama mensyaratkan terampuninya dosa pada hari Jumat ke hari Jumat berikutnya. Selama seseorang menjauhkan dari al-kabaa-ir (dosa-dosa besar) sebagai keutamaan gugurnya dosa-dosa kecil.

Kelima, adalah ketika bersegerah menuju ke masjid melaksanakan ibadah shalat Jumat.

Hari Jumat sebagai hari raya kaum muslimin adalah hari berkumpulnya di masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan mendengarkan dua khutbah.

Dalam prosesi ibadah itu adalah merupakan pengajian akbar pekanan. Di dalamnya mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum Muslimin untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Keberkahan dan keutamaan yang besar bagi siapa saja yang bersegera berangkat ke masjid lebih awal untuk shalat Jum’at. Sebagaimana dalam Hadits Abu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah lalu segera pergi ke masjid, maka seakan-akan berqurban dengan unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada jam yang kedua, maka seakan-akan ia berqurban dengan sapi betina, dan barangsiapa pergi pada jam yang ketiga, maka seakanakan ia berqurban dengan domba yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi pada jam yang keempat seakan-akan ia berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia berqurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam telah keluar (untuk berkhutbah), maka para Malaikat turut hadir sambil mendengarkan dzikir (nasihat/peringatan).”

Muslimin yang baik dan bijak adalah sejauh mana mampu bersegera mensikapi dengan antusias dari berbagai motivasi dari beberapa hadist Rasulullah tentang kemuliaan dan keberkahan hari jumat di atas.(*)

Penutupan Workshop Enterpreneur Hidayatullah Sulsel. Ini Pesan Kabid Ekonomi DPP

0


Barru, HidayatullahSulsel.com — Workshop enterpreneur Hidayatullah Sulsel secara resmi ditutup sore ini, Kamis, (7/9/2023).

Dalam sambutan penutupan workshop tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Drs Nasri Bukhari MPd, mengatakan, “Kita perlu langkah berani untuk membuat perubahan pada pengembangan ekonomi (Hidayatullah) di Sulsel.”

Ust Nasri juga berharap agar semua amal usaha di Hidayatullah Sulsel harus dikelola secara profetik dan profesional. “Semua itu agar bisa menghasilkan,” tambahnya.

Ia meminta agar semua DPD Hidayatullah membuat usaha, untuk kemandirian ekonomi di tempat tugas masing-maasing.

Sementara Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah, Ustad Wahyu Rahman, berharap, “Kawan-kawan berani melakukan usaha ekonomi di daerah masing-maasing. Meskipun memulainya masih terasa ruwet.

Sebelumnya Ust Wahyu dalam pemaparan materi workshop menguraikan, berdagang itu bagian dari fase berIslam, “Kita jangan langsung berkhodijah, padahal belum berdagang.”

Workshop Entrepreneur dihadiri pengurus DPD Hidayatullah dan Kadep Ekonomi se-Sulsel yang bertempat di Hidayatullah Barru, 6-7 September 2023.

“Hanya orang kaya yang bisa berhaji dan berzakat olehnya itu kita harus berusaha, belum sempurna keislaman kita jika belum berhaji dan berzakat” jelas Wahyu Rahman.

Ekonomi juga menjadi penopang dakwah dan gerakkan perjuangan Islam, olehnya itu ekonomi harus dikuatkan. Kita harus mengambil bagian, dalam jihad ekonomi.

Ust Wahyu memberi contoh, salah satu sukses ekonomi di Hidayatullah yang telah berjalan adalah Sakinah Mart, saat ini ada 30 cabang dan bisa menghasilkan laba bersih Rp 20 mikiar per tahun.

“Giat ekonomi ini harus di kuatkan di Hidayatullah Sulsel, jika ada kawan yang punya peran ekonomi, kuatkan dia, fokuskan dia. Agar bisnis itu bisa berkembang” terang beliau.

“Hidayatullah lahir dari rahim sosial, dan kita memproses diri untuk mewujudkan ekonomi di Hidayatullah,” tegasnya.(Sarmadani)

Rapat FKPP Pangkep di Ponpes Hidayatullah. Kemenag dan Pengurus Apresiasi Dakwah Hidayatullah

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.com — Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se- Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan mengadakan Rapat Rutin di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Balocci, Kamis (7/9/2023).

Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Boarding School Pesantren Hidayatullah Pangkep, Ustadz Karding, dalam sambutannya mengaku bergembira atas kunjungan para kyai dan pengurus Ponpes se Kabupaten Pangkep di Ponpes Hidayatullah Pangkep.

“Alhamdulillah, akhirnya terealisasikan rapat rutin FKPP di londok kami. Padahal sebelumnya sudah 4 kali ditunda dikarena jalan menuju pondok waktu itu terputus dikarenakan tanahnya longsor sehingga motor dan mobil tidak bisa lewat,” jelasnya.

Pada pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Pangkep, Kepala Seksi PD Pontren Kemenag Pangkep, Pimpinan Pontren se-Kabupaten Pangkep dan pengurus FKPP Kabupaten Pangkep.

Pada kegiatan tersebut dibahas tentang persiapan Hari Santri Nasional (HSN) dan evaluasi program kerja FKPP.

Ketua FKPP KH M Nazwarulhaq MM, mengatakan, rakor FKPP di Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep butuh perjuangan sampai di sini. Sebenarnya dakwah sesungguhnya seperti ini yang dilakukan Hidayatullah Pangkep.

“Luar biasa perjuangan ustadz-ustadz di Hidayatullah ini, dibandingkan kami berdakwah di kota belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ustadz yang ada di Hidayatullah Pangkep,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, hadir pula sebagai pembicara Kakan Kemenag Pangkep H Muhammad Nur Halik. “Hidayatullah ini luar biasa, karena berdakwa di tempatnya yang terisolir. Sebenarnya orang dulu buat pondok memang harus jauh dari keramaian,” ujarnya.

Ia menuturkan, “Sebelum saya kenal Hidayatullah Pangkep ini, saya pernah bertugas di Fakfak di kementerian dan kenal Hidayatullah di sana juga menunjukkan memang perjuangan dakwah Hidayatullah sangat luar biasa,” terangnya.

Ia berharap pelaksanaan Hari Santri Nasional pada 22 bulan Oktober 2023 ini Pondok Pesantren se Kabupaten Pangkep harus maksimalkan menyukseskannya.(rls/*)

Ruhyadi: Kuatkan Ekonomi Berbasis Halaqah.

0


Barru, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menggelar Workshop Ekonomi dan Entrepreneur di Hidayatullah Barru, 6-7 September. Acara tersebut dihadiri oleh Kadep Ekonomi DPD Hidayatullah se-Sulsel.

Kepada Departemen Keuangan DPP Hidayatullah, Drs. Ruhyadi, turut menjadi pematerinya.

Dalam pemaparannya, Ruhyadi mengajak kepada seluruh pengurus Hidayatullah untuk bisa mengupgrade pendapatan ekonominya.

Salah satu bentuk usaha ekonomi yang diharapkan, adalah ekonomi berbasis halaqah. Membangun kemandirian ekonomi yang awalnya dimulai dari halaqah taklim yang ada.

Anggota halaqah tersebut bersyarikah mengumpulkan modal, dan membentuk sebuah wirausaha. Hingga kemudian usaha tersebut bisa berjalan dan menghasilkan.

Ruhyadi memberi contoh, berupa usaha penjualan air galon. Usaha yang bersifat sederhana tapi cukup mengena dan dibutuhkan masyarakat.

Materi yang disampaikan Ruhyadi, lebih bernuansa teknis, untuk membentuk kemandirian ekonomi berbasis keluarga dari halaqah. Mulai dari cara memulai usaha, penanaman modal, sistem permodalan, mekanisme kerja, hingga bagi hasil. (Sarmadani)

Sekretaris DPD se-Sulsel Ikuti Pelatihan Sistem Data Hidayatullah

0

Belopa, HidayatullahSulsel.com — Puluhan sekretaris dan operator dari berbagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sulsel mengikuti pelatihan sistem data yang digelar di Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa. Sabtu (2/9/2023).

Kegiatan yang bertujuan pengoptimalan pengelolaan Aplikasi Sistem Data Hidayatullah (SISTAHID) tersebut, dihadiri langsung oleh Ketua Yayasan Al-Jihad Islamic Boarding School Ponpes Putri Hidayatullah Belopa Ustadz Hamzah Sultan, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel Sumariadi, dan dibuka secara resmi oleh Kadep Organisasi dan SDI Hidayatullah Sulsel, Ustadz Anwar Baits.

Di depan peserta pelatihan, Anwar Baits menyampaikan bahwa, sistem data adalah hal yang sangat penting di era informasi digital.

“Salah satu latar belakang diselenggarakannya pelatihan Sistahid ini, karena mengingat Hidayatullah adalah ormas terbesar ketiga. Itu kata Bapak Jusuf Kalla. Sering sekali beliau berkata seperti itu. Sehingga, sistem data keanggotaan Hidayatullah ini sangat penting di era informasi digital seperti sekarang,” tutur Anwar jelang pembukaan pelatihan.

Senada dengan Ustadz Anwar Baitz, dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) Hidayatullah Pusat, Ustadz Asih Subagyo, menjelaskan bahwa salah satu pentingnya sistem data yakni kemudahan dalam melihat potensi dan kompetensi kader.

“Sistem informasi itu sangat penting. Begitupun juga dengan sistem data keanggotaan Hidayatullah. Jadi, dengan optimalnya sistem ini, kita akan lebih mudah memetakan para kader. Siapa ada di mana dan potensinya apa. Semua akan terdata,” jelas Ustadz Asih Subagyo via Zoom.

Sehingga, urainya, ketika lembaga ingin menugaskan kader bukan lagi pertimbangannya karena suka atau tidak suka. Melainkan dengan cara melihat data, dan pada data tersebut bisa melihat kader yang sesuai kompetensi dengan amanahnya.(Ian Kassa)

Agar Lisan tak Merjerumuskan

0

Oleh : Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ampuhnya kata-kata dalam mempengaruhi pikiran dan perilaku orang, karena kata-kata adalah manifestasi dari pikiran. Kata-kata yang positif dapat membangun fikiran dan prilaku positif.

Demikian halnya kata-kata negatif yang dilontarkan kepada orang lain dapat merusak hubungan. Karena itu lebih banyaklah mengucapkan kata-kata yang bernada positif. Saat sedang marah pun, tetap memilih kata-kata secara hati-hati agar tidak melukai lawan bicara, walau yang diucapkannya adalah benar adanya.

‘Memang lidah tidak bertulang’, adalah ucapan yang seringkali kita dengar. Dari lidahnya mulutnya menjadi mulut harimau. Lidah membangunkan macam yang tidur, bahkan menjadikan seseorang menjadi harimau menerkam balik yang menghinanya.

Inilah yang terjadi beberapa saat lalu pada seorang dosen di UIN Surakarta, menjadi korban kata-kata pedas dari lisannya sendiri. Permasalahannya nampak sepele. Akibat dari ketidak puasan dari hasil kerja tukang pada renovasi rumahnya, terlontarlah kata-kata yang tak terkontrol.

Dwi Perianto, nama tukang itu, mengaku bahwa korban menggerutu kepadanya, melontarkan kata-kata bernada menghina, seperti ‘tukang amatiran’, ‘dibodoh-bodohin’ dan ‘ditolol-tololin’.

Hal itu berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Pelaku merasa sakit hati karena merasa sudah bekerja dengan baik, pelaku pun merasa dendam,” dan menghabisi nyawanya pemilik rumah itu

Dahsyatnya kata-kata dari lidah yang tak bertulang’ itu. Bahkan orang Arab mengumpamakan lidah dengan pedang yang bisa melukai dan menyakiti orang lain. Dalam satu haditsnya, Rasulullah mengingatkan bahwa yang menyebabkan manusia banyak masuk ke neraka disebabkan karena lidah dan farji (kemaluan).

Beberapa tuntunan Rasulullah tentang pentingnya menjaga lidah dalam berkata-kata, seperti “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari).

Hendaklah berhati-hati dengan lisan, jangan sampai digunakan untuk mencemooh, mengejek orang lain. Boleh jadi dengan lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan.

Rasulullah SAW pernah berbicara dengan Mu’adz bin Jabal ra; “Maukah ku beritahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Tergambar dalam hadist tersebut bahwa seseorang harus menjaga diri sesuatu yang membinasakannya. Hendaklah seseorang berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka.

Diam Itu Emas

Memilih diam adalah jalan keselamatan dari lisan menjerumuskan kebinasaan. Diamnya seseorang menjadi emas bila diamnya menyangkut keburukan atau topik-topik yang sesungguhnya tidak patut dibicarakan. Karena keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

Diam adalah emas, tidak berarti tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Keutamaan diam, adalah bilamana lisan tidak mampu memunculkan kebaikan, maka diam menjadi pilihan terbaik.

Iman Suyuthi menguatkan bahwa diam tidak bersifat mutlak. Artinya, hendaknya seorang Muslim berbicara, tetapi tetap dalam konteks kebaikan. Diamlah bila menyangkut keburukan atau topik-topik yang sesungguhnya tidak patut dibicarakan.

Ini bermakna bahwa karena menjaga dari ketergelinciran keperkataan sia-sia akan menjadi perhiasan bagi orang berakal dan penutup akan ketidaktahuan atau kebodohan.

Rasulullah bersabda dalam hadist riwayat Abu Hurairah ra, “Diam itu ibadah yang paling tinggi” (HR. Ad-Dailami) 

Juga dalam hadits riwayat Abu Syaikh, Rasulullah bersabda, “Diam adalah perhiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh”. (HR. Abu asy-Syaikh) 

Sepatutnya orang beriman berkata-kata dengan sesuatu yang bermanfaat, baik dengan lisannya maupun lewat tulisannya. Ataukah lebih baik diam ketika membicarakan hal yang tidak bermanfaat atau hanya obrolan sia-sia.Terlebih jika pembicaraan yang mengandung dan mengarah kepada dosa.

Lebih dari itu orang berakal sehat selalu mampu mengendalikan lisan sebelum berbicara agar mampu terselamatkan dari permusuhan. Menjadi seseorang dengan lisannya menyejukkan dan membahagiakan dirinya dan orang lain.(*)