Beranda blog Halaman 52

Sentuhan Dakwah di Cafe, Halaqah Wustho Abdullah Said Bone Berhalaqah di Cafe Kopi Teduh

0

Bone, HidayatullahSulsel.com — Suasana sore di Cafe Kopi Teduh Watampone belum terlalu ramai, di sudut ruangan anak-anak remaja putra dan putri seusia SMP tampak asyik bercanda sambil bermain asap putih dari rokok elektronik Vape yang dihembuskan menyerupai asap lokomotif kereta api tua, memenuhi setiap sudut ruangan.

Sangat miris melihat gerak-gerik tingkah mereka. Di usia yang sangat belia mereka telah terjebak dalam pergaulan lepas dari pantauan orang tua.

Pukul 16.00 waktu setempat, para peserta halaqah mulai berdatangan disambut ramah oleh pemilik cafe yang merupakan salah satu donatur rutin pesantren Hidayatullah Putri Panyula Bone. Sebuah ruangan VIP full AC di ujung sebelah kanan ruangan cafe, telah disiapkan oleh tuan rumah untuk tempat berhalaqah.

Kurang lebih 15 menit kemudian halaqah rutin pekanan halaqah kader wustho Abdullah Said dimulai dengan doa pembuka, berinfaq dan membaca Qur’ an secara bergiliran.

Halaqah kali ini diikuti oleh 15 orang peserta dan dipimpin oleh Ustadz H Burhanuddin Abdul Djabar MA selaku murobbi halaqah. Tidak seperti biasanya halaqah pekanan yang digelar pada abu 30 Agustus 2023 tidak dilaksanakan di pondok pesantren atau di rumah peserta halaqah secara bergilir, melainkan dilaksanakan di cafe Kopi Teduh.

Cafe Teduh, sebuah cafe terbesar dan ternama di kota Watampone milik salah seorang donatur pesantren. Ide untuk menggelar halaqah di cafe bertujuan untuk memperkuat silaturahmi dan memberikan sentuhan dakwah di lingkungan cafe yang selama ini identik dengan sebagai tempat hiburan dan hura-hura.

Kegiatan halaqah wustho yang membahas problematika keummatan dengan pendekatan kajian manhaj nabawi menjadi lebih hidup dan bermakna karena diperhadapkan langsung dengan tantangan pada obyek-obyek dakwah seperti lingkungan cafe yang notabene sangat jauh dari nuansa Islami.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan halaqah selesai dilaksanakan, pemilik cafe yang menjadi tuan rumah halaqah menyajikan jamuan makanan dan minuman gratis ala cafe yang jika dinominalkan jumlahnya cukup besar untuk ukuran peserta halaqah, jika ditaksir nilainya lebih dari tiga ratus ribu rupiah.

Namun bagi pemilik cafe jumlah itu tidaklah seberapa nilainya dibandingkan sentuhan dan nuansa dakwah yang dirasakan dengan kehadiran para peserta halaqah yang bermajelis ilmu di cafenya.

Bagi kaum muda milenial, cafe atau warung kopi ( warkop) adalah tempat yang paling nyaman untuk ngobrol santai , merokok, ngopi sambil mendengarkan alunan musik dan berselancar di dunia maya.

Cafe menjadi tempat pelarian sekaligus wadah pencarian jati diri bagi kalangan remaja dan pemuda. Tak jarang cafe pun menjadi tempat untuk bercengkrama dengan lawan jenis yang bukan muhrim atau pacaran.

Menjadikan lingkungan cafe sebagai obyek dakwah dengan kegiatan ngopi sambil ngaji , mulai menjadi trend di kalangan aktifis dakwah milenial, khususnya yang tergabung dalam komunitas bikers, seperti yang dilakukan bikers subuhan di Bulukumba dan di kota Watampone.

Kegiatan di cafe yang diinisiasi para aktifis dakwah milenial di dua kota tersebut juga melibatkan komunitas bikers Hidayatullah Celebes (Sulawesi) yang dikomandoi dai muda milenial DR Khaerun Misjaya MPd , yang saat ini menjadi salah satu anggota Dewan Murobbi Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Semoga inovasi dan terobosan dakwah yang dilakukan oleh aktifis dakwah milenia ini, lebih mengena pada sasaran dakwah utama mereka ,yakni kalangan generasi muda milenial yang saat ini sudah terhempas dan terbawa gelombang kehidupan hedonis yang mengancam dan menghancurkan masa depan mereka.(Dwi Fii Amanillah)

Di Daurah Ula, Ketua DPD Makassar Beber Tantangan Kader

0

Makassar, HidayatullahSulsel.id — Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Makassar menggelar Dauroh Marhalah Ula (DMU) di Gedung Pendidikan Yaa Bunayya Yayasan Al Islam Kampus pratama Hidayatullah Makassar, Ahad (27/8/2023).

Hadir sebagai Instruktur DMU Ustadz Drs H Ahkam Sumadiyana MA yang juga murobbi nasional Hidayatullah, Ustadz Drs Nasri Buhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Dr Misjaya Muh Khairun MPd anggota Dewan Murobbi Wilayah Sulsel dan Ustadz Nasrullah Alwi Lc Kadep Perkaderan DPW Sulsel.

DMU bertema “Mencetak dan Meningkatkan Kualitas Kader Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam” itu berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (25/8/2023).

Ketua DPD Hidayatullah Makassar Ustadz Dr Nasrullah Sapa Lc MM dalam sambutannya menekankan akan pentingnya mengikuti DMU tersebut. ini

“Ini adalah bagian terpenting dalam kaderisasi organisasi Hidayatullah, sehingga dalam prosesnya diharapkan dengan tergabungnya Ikhwa dalam proses kaderisasi ini menambah kekuatan perjuangan Hidayatullah,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan beratnya tantangan seorang kader di era 4.0 ini

“Hidayatullah sebagai organisasi masyarakat Islam mendapatkan tantangan dengan adanya pengembangan teknologi informasi 4.0 oleh generasi milenial ini sebagai tempat informasi dakwah. Artinya kader Hidayatullah harus adaptif terhadap digitalisasi,” jelas anggota Komisi Fatwa MUI Sulsel ini.

Sementara ustadz Nasri dalam sambutan membuka dauroh, menyampaikan, “Kegiatan daurah marhalah ula ini sangat penting dan dapat melahirkan kader pelanjut estafeta di lembaga Hidayatullah dalam rangka mengambil fungsi atau peran dilingkup Hidayatullah, penerus perjuangan,” ujarnya.

Ketua panitia DMU Hidayatullah Makassar Ustadz Munir salahuddin SPdI mengatakan l DMU kali ini diikuti sebanyak 13 peserta dengan delapan sesi materi harus diikuti dari awal hingga akhir. Sesi diantaranya ; problematika Ummat, Iqra 1, Iqra 2, Al Qolam, Al Muzammil, Al Muddatsir, Al Fatihah, dan ta’aruf Hidayatullah.(*)

Artikel: Edi Qays, Foto: Ikrar

Orangtua Seharusnya jadi Guru Terbaik

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Orangtua adalah figur pertama dan utama yang berperan begitu besar sebagai penanggung jawab pendidikan anak. Sehingga dalam proses pendidikannya anak bertumbuh dan berkembang menjadi siap memasuki gerbang kehidupan yang akan datang dalam kehidupan sesuai zamannya.

Ayah dan Ibu adalah sosok yang memiliki peran penting dalam keluarga. Keduanya memiliki peran masing-masing sesuai fungsinya. Ayah adalah pemimpin dalam keluarga, sedang ibu adalah pendamping suami dan pengaruh terbaik bagi anaknya.

Positioning rumah sebagai madrasah pertama bagi anak, dapat terciptakan manakala peran penting orangtua berfungsi secara optimal. Berperan sebagai guru pertama dan terbaik di rumah. Peran itu terwujud dengan beberapa upaya, seperti berikut ini;

Pertama, menyuasanakan rumah sebagai “baiti jannati” (rumahku surgaku). Suasana dalam kehidupan di rumah, khususnya hubungan antara ayah dan ibu, selalu memberikan contoh gambaran kehidupan pasangan yang baik penuh keharmonisan.

Sebab kondisi keluarga yang tidak harmonis antara Ayah dan ibu, seperti sering terjadi perdebatan bahkan pertengkaran akan membuat anak cenderung berperilaku negatif, agresif dan kasar. Ataupun sebaliknya, anak menjadi pendiam mengurung diri dan anti sosial

Begitu pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga antara ayah dan ibu, karena berdampak terhadap pola pendidikan anak. Menciptakan suasana batin keluarga dilingkupi dengan penuh kasih sayang.

Dengan sendirinya akan terbangun akhlaqul karimah, saling menghargai dan saling menghormati. Warna-warni kebahagiaan rumah tangga pun bersemi dalam naungan llahi. Demikianlah gambaran dari Hadist Rasulullah “baiti jannati”.

Walau disadari, era saat ini tidak mudah untuk mewujudkannya “baiti jannati”. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah budaya dan pola hidup masyarakat hingga menyelinap ke sistem kehidupan dalam rumah. Tidak sedikit rumah yang seharusnya menjadi surga malah menjadi neraka.

Upaya mewujudkan “baiti jannati” harus berasal dari pihak paling utama dulu, yaitu ayah dan ibu. Dan ini merupakan mujahadah yang luar biasa, membutuhkan banyak pengorbanan, kesabaran, komitmen dan konsistensi mewujudkannya

Kedua, memperanaktifkan eksistensi orangtua sebagai guru kehidupan di rumah, penuh keakraban dn kesetaraan. Sifat anak baik kanak-kanak maupun remaja, selalu membutuhkan kawan bermain dan berbagi beban fikiran dan perasaan terhadap yang dirasa setara dengannya.

Ketika mendapati orangtua yang terlalu aktif di luar dan sedikit waktu saat di rumah untuk berinteraksi dengan anak, membuat kurangnya kesempatan berkomunikasi dan berakrab dengan anak. Anakpun bisa jadi mencari fitrahnya, mencari teman bermain dan berbagi.

Sementara tak selamanya teman itu adalah kawan terbaik dalam pembentukan karakternya.

Kebutuhan fitrawi anak akan teman bermain dan berbagi harus diisi oleh kefiguran orangtua. Membimbing, mengasuh dan mengantarnya menjadi anak tangguh dan berkarakter.

Fungsi keguruan orangtua tentu tidaklah sebagaimana guru yang mampu mentransformasi berbagi ilmu seperti di sekolah.

Aksiomanya, orangtua adalah performa guru kehidupan di rumah dan di kehidupan masyarakat, yang bangga ditiru. Karena sudah menjadi sifat alami anak untuk meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Oleh karena itu, suasana dalam kehidupan rumah tangga, khususnya ayah dan ibu selalu memberikan contoh yang baik.

Ketiga, membangun jiwa kepemimpinan anak, agar kedepannya mampu mandiri menjadi sosok yang dinamis dalam kehidupan sosialnya

Membangun karakter kepemimpinan dalam diri anak dapat diterapkan dengan berinteraksi secara aktif dengan anak. Seperti menanyakan tentang pembelajaran dan tugas pembelajaran serta permasalahan pendidikannya. Mengajak anak berbicara perihal kesehariannya, berdiskusi perihal rencana masa depannya.

Dengan interaksi dan kedekatan anak akan merasakan begitu penting kehadiran orangtua di sisinya. Dia akan bisa belajar banyak dari sikap bijak orang tua. Bagaimana menncintai dan jiwa kesabaran sebagai orangtua.

Keterbukaan orangtua menumbuhkan mentalitas kepribadian anak yang aktif, kritis serta tertanam jiwa tangguh menghadapi permasalahan dalam kehidupan kesehariannya.

Keempat, menumbuhkan jiwa disiplin dan taat aturan. Orang tua hendaknya memiliki pengawasan dan sikap tegas pada kehidupan keseharian anak. Diwujudkan dalam bentuk peraturan keluarga dan normal yang berlaku di masyarakat. Memahamkan konsekwensi logis dari perilaku yang tidak taat hukum

Lebih penting lagi ketika berhubungan dengan pembentukan aqidah dan pelaksaan yang berkaitan dengan syariat Islam. Pencerahan dan pengawasan harus lebih optimal, walau tetap dalan pendekatan tarbiyyah kepada anak

Sebagaimana Rasulullah memerintahkan hal paling pokok dalam syariat Islam, yaitu perintah melaksakan shalat, dalam hadist yang masyhur: ‘Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud).

Hadis tersebut menuntun kita untuk bersikap tegas terhadap pelaksanaan syariat Islam berkaitan dengan ibadah kepadaNya.

Sehingga anak akan mampu menangkap pesan-pesan motivatif tentang eksistensi dirinya dalam kehambaan kepada Allah.

Karakter disiplin yang dimulai dari persoalan ibadah tersebut, boleh jadi selanjutnya berinplementasi pada kedisiplinan, kepatuhan aturan dan terbangunnya mentalitas kepemimpinan pada dirinya dan direalita kehidupan masyarakat.

Pembentukan karakter itu sudah barang tentu haruslah dibatengi dengan uswah dan ajakan yang baik dari orang tua, sebagai wujud menjadikan orangtua sebagai guru dan pendidik terbaik di rumah.

Sebagai sosok dan figur guru terbaik di rumah. Wajarlah orangtua seperti itu dipanuti, dipatuhi, berwibawa, dicintai serta bertahta di hati semua anggota keluarganya.(*)

Laznas BMH Resmikan Pengunaan Instalasi Air Bersih Ponpes Fath Bone

0

Bone, HidayatullahSulsel.com — Program sanitasi air bersih untuk pondok Tahfidz Al Fath Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Bone telah dimanfaatkan penggunaannya oleh para santri.

Dengan volume 2 tandon berkapasitas 4.800 liter  diharap mampu untuk memenuhi kebutuhan 170 santri, para ustadz dan warga setempat.

Peresmian instalasi air bersih yang ke 10 tersebut dihadiri Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir. Dalam kata sambutnya ia menyampaikan bahwa terlaksananya program tersebut berkat donasi dari para donatur yang telah mengamanahkan donasinya melalui Laznas BMH.

“Kewajiban adik-adik tahfidz di tempat ini juga untuk mendoakan para donatur,” ujar Kadir di hadapan para santri saat peresmian.

Sementara itu Ketua Yayasan Al Fath Ust H Dwi Subagyo mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Laznas BMH karena telah menjadi wasilah kebaikan di pondok Tahfidz yang pimpinnya. 

Selain pendidik formal, lanjutnya, pondoknya juga mengembangkan program takhasus tahfidz Al Quran dan juga pendidikan daiyah bagi santri putri.

“Adanya air ini menjadi berkah kepada semua pihak, terlebih yang memanfaatkan adalah para pelajar agama dan adik adik penghafal Al Quran,” tuturnya.

Manager Prodaya dan Pemberdayaan Laznas BMH Sulsel, Basori Shobirin, menjelaskan setelah menyelesaikan program ini, lembaganya akan membuat program yang sama untuk Ponpes Hidayatullah Kalaena di Luwu Timur.

Bagi masyarakat yang ingin berdonasi program air dapat  langsung menghubungi layanan di Kantor Laznas BMH Sulsel, jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BSI: 1000258225.(rls/*)

Secercah Cahaya Hidayah di Kaki Bukit Wawondula

0

Oleh: Dwi Fii Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Hawa dingin merasuk menembus kulit ari di sekujur tubuh, membuat siapa saja yang tersentuh olehnya menggigil kedinginan. Di tengah hembusan hawa dingin, di penghujung malam yang begitu hening, suasana di pondok pesantren Hidayatullah Wawondula saat itu begitu syahdu.

Hanya suara binatang malam yang sesekali terdengar bersahutan. Di musholla berdinding papan yang sudah mulai rapuh, tampak seorang lelaki separuh baya duduk bersimpuh di mihrab, sangat khusyuk menikmati lezatnya dzikir.

Sesekali beliau menengadahkan wajah, mengangkat kedua tangan memunajatkan doa, berharap kedekatannya kepada Sang Pencipta di malam itu membuahkan berkah ampunan menyucikan hatinya dari dosa-dosa yang mengotorinya.

Jarum jam dinding di sisi kanan musholla pondok menunjukkan pukul 24 lebih 10 menit, angka-angkanya masih cukup jelas terlihat karena pantulan cahaya lampu penerang di sudut belakang musholla.

Tak lama kemudian terdengar teriakan memecah kesunyian malam ” Sholat !, Sholat ! Sholatul lail”,, teryata piket malam sudah mulai membangunkan warga dan santri untuk sholat tahajud berjamaah di musholla.

Dua puluh menit kemudian warga dan santri laki-laki sudah berbaris rapi mengenakan seragam gamis panjang dan berkopiah putih, bertahan menahan kantuk dan dinginnya malam, menunggu imam bertakbiratul ihram.

Setelah Imam bertakbir, berdiam sejenak lalu melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan suara sangat merdu. Gemercik suara air sungai yang mengalir di sela bebatuan di tepian musholla berpadu dengan suara imam, sungguh perpaduan yang begitu indah seakan irama dan kesejukan surgawi menembus petala langit hingga turun ke bumi membasuh dan mensucikan jiwa-jiwa yang dahaga yang dilanda kegersangan.

Di awal sepertiga malam terasa jiwa semakin dekat dengan Ilahi, hingga air mata tanpa terasa mengalir membasahi pipi. Jiwa-jiwa yang suci akan semakin tunduk mendekat kepada Ilahi, jiwa jiwa yang bersalah berlumur dosa akan selalu merindukan tetesan rahmat Ilahi.

Kenikmatan sholat tahajud bersama santri di setiap malam adalah anugerah terindah yang seharusnya bisa terwarisi ke setiap generasi yang mencita-citakan wujudnya peradaban Islami di atas bumi.

Kultur ibadah dan kehidupan berjamaah yang sangat kuat, pola hidup yang sederhana dan besahaja serta tatanan kehidupan di kampus pesantren Hidayatullah yang terjaga dengan aturan dan penerapan syariat, menjadi taman surga bagi siapa saja yang sempat bertandang ke pesantren Hidayatullah Wawondula Towuti.

Di pesantren Hidayatullah Wawondula Towuti bisa menikmati suasana religius yang berpadu dengan panorama alam yang eksotic, berada di kaki bukit yang dialiri sungai kecil yang airnya sangat jernih dan segar.

Aliran sungai tersebut berasal dari mata air di sisi bukit yang lebih tinggi yang dipenuhi pepohonan hutan yang rimbun dan menghijau, menghadirkan hawa sejuk dan dingin di sekitarnya yang semakin terasa dingin seiring dengan datangnya malam.

Tak jauh dari musholla ada jembatan kecil yang dasarnya dipenuhi bebatuan besar yang konturnya cukup curam sehingga aliran sungai pun mengalir deras dan terpecah menjadi deburan air yang suaranya begitu indah mempersembahkan simphoni alam yang menyegarkan jiwa.

Menyaksikan para santri duduk di atas bebatuan merendamkan kaki di aliran sungai sambil murojaah hafalan Qur’an, seperi melihat benih-benih tanaman yang tumbuh subur di persemaian.

Panorama alam perbukitan dan hawa dingin menjadi kenikmatan tersendiri bagi penghuni pesantren dan tamu yang sempat menginap.di pesantren Hidayatullah Wawondula.

Seorang jamaah binaan yang menyempatkan diri berkunjung ke pesantren sempat berseloroh “Pantas warga di sini rata -rata anaknya banyak, rupanya karena pengaruh hawa dingin”.

Penulis yang saat itu masih dalam suasana bulan madu, hanya bisa menahan senyum membayangkan betapa sulitnya bersuci di kondisi hawa yang sangat dingin. Bagi penulis kesempatan untuk turut merasakan nikmatnya hidup dalam lingkungan pesantren adalah anugerah sekaligus hidayah.(*)

Berita Terbaru Hidayatullah di Maros

0

KLIK www.hidayatullahmaros.or.id UNTUK MENGETAHUI DINAMIKA DAN PROGRAM DAKWAH TARBIYAH HIDAYATULLAH DI MAROS

Menakar Cinta di Ujung Senja,
Refleksi Jiwa Pejuang Perintis Dakwah di Sulsel (3)

0

Oleh : Dwi Fii Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Kehadiran sosok para perintis pejuang dakwah atau lebih dikenal dengan sebutan “Ustadz Senior” di kampus-kampus pesantren Hidayatullah memberikan kesejukan tersendiri bagi segenap warga kampus dan jamaah binaan yang tersebar di beberapa masjid dan majelis taklim.

Wawasan keilmuan dan tarbiyah yang mereka berikan dalam majelis-majelis ilmu selalu menambah spirit dan energi baru yang memompa semangat untuk istiqamah di jalan perjuangan.

Keberadaan mereka sebagai pembina sekaligus murobbi khususnya di kampus-kampus peradaban memiliki peran yang sangat strategis sebagai motivator dan pelopor dalam kerja-kerja jama’i mengusung dan menyukseskan program keummatan, baik dalam ranah amal usaha tarbiyah di kampus-kampus pesantren maupun kegiatan dakwah dan pembinaan ummat di luar pesantren.

Salah satu contoh hal kongkrit dari upaya dan mujahadah mereka adalah proses pengembangan kampus Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar dan Kampus Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Maros.

Dengan sumbangsih pemikiran dan tenaga yang seakan tidak pernah mengenal lelah dari para pembinanya, kedua kampus tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesat, bermetamorfosa dari lembaga dakwah dan sosial menjadi lembaga dakwah, tarbiyah dan ekonomi yang unggul dan kompetitif tanpa menghilangkan sisi layanan sosialnya.

Semua kesuksesan tersebut tidak terlepas dari dedikasi dan support langsung dari Ust Dr H Abdul Azis Qahar Muzakkar MSi, Ust Drs H Ahkam Sumadiana MA dan Ustadz Ir H Abdul Majid MA selaku Badan Pembina Yayasan Al Bayan.

Dengan kesibukan dakwah yang luar biasa padatnya, mereka tetap memberikan perhatian serius terhadap kualitas spiritual para kader dan jamaah khususnya di kalangan generasi muda.

Mereka sangat menyadari bahwa tantangan dan godaan yang dihadapi kader-kader muda di era milenial sangat berat dan semakin canggih apalagi di tengah hegemoni peradaban materialis.

Pada suatu majelis pengajian Ust Ahkam Sumadiana berkata “Sebagai pejuang kita mungkin sanggup untuk senantiasa istiqomah di jalan dakwah dalam kondisi miskin dan penuh keterbatasan, namun ketika kita sudah mulai mapan dan berkecukupan, tidak sedikit yang kemudian putar haluan atau bahkan tumbang diterjang arus perdaban materialis, yang selalu mengukur kesuksesan dengan banyaknya harta yang dimillki”.

Hal ini senada juga selalu diwanti-wanti oleh Ust Abdul Azis Qahar, “Jika kemajuan yang kita raih tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas ruhiyah dan tidak lagi berada dalam koridor manhaj Nubuwah, maka bangunan-bangunan yang megah dan mewah sejatinya adalah barang-barang rongsokan”.

Perhatian dan keseriusan Ust Abdul Azis Qahhar terhadap kemajuan ummat Islam bukan hanya dicurahkan melalui jalur politik saja. Sejak masih berusia muda hingga menapak usia senja beliau tetap konsisten mengawal tumbuh dan berkembangnya kampus pesantren Hidayatullah Makassar dan Pesantren Hidayatullah Tompobulu dengan memgerahkan seluruh potensi yang dimiliki.

Beliau pun terlibat langsung secara fisik melebur tanpa segan dan riskan berjibaku dengan warga pesantren tersebut dalam momen-momen kerja bakti pembenahan kampus yang dilaksanakan hampir setiap pekan.

Penjagaan dan pengawalan kualitas ruhiyah kader melalui penguatan kultur ibadah dan kultur keilmuan menjadi kesibukan rutin harian Ust Abdul Majid selaku Ketua Dewan Murobbi Wilayah Sulsel sekaligus pembina yang bermukim di Kampus Al Bayan Hidayatullah Makasar.

Walaupun secara fisik kondisi kesehatan beliau mulai menurun langkah pun kadang gemetar, namun spirit juang beliau tidak pernah padam, selalu setia mengawal dan membersamai para santri dan mahasantri menegakkan kultur keilmuan dan ibadah.

Spirit juang tak kenal lelah juga dicontohkan oleh Ust Ahkam Sumadiana yang masih tampak kuat dan bugar di usia yang tak lagi muda. Semangatnya dalam menuntut ilmu berimbang dengan semangat menjaga kekuatan fisik, sehingga tidak heran kalau beliau masih sanggup menempuh perjalanan jauh layaknya bikers muda dan selalu siap memenuhi permintaan ceramah dimana saja dan juga siap menerima tantangan berlaga di lapangan bulutangkis.

Menjaga orientasi hidup, spirit perjuangan dan mentalitas kader menjadi perhatian serius para “Ustadz Senior” untuk mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran bahkan perasaan untuk memberikan bimbingan dan memberikan teladan langsung dalam kehidupan nyata, istilah populernya “Mempraktekan langsung di alam kenyataan bukan sekedar beretorika di alam pernyataan”.

Mereka mereka hadir sebagai sosok orangtua dan guru peradaban yang mengayomi dan mengajarkan banyak hal tentang hakekat kehidupan.(*)

DPD Hidayatullah Makassar-Notaris Muslim Indonesia Sinergi Pengelolaan Rumah Quran

0

Makassar, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah (DPD) Makassar bersama Notaris Muslim Indonesia (NMI) Korwil Sulselbar melakukan penandatanganan kesepahaman kerjasama (MoU) di De Capitol Cafe Jln Dr Leimana Makassar, Ahad (19/8/2023).

MoU pengelolaan Rumah Quran itu oleh Ketua DPD Hidayatullah Makassar Dr Nasrullah Sapa Lc MM dan NMI Korwil Sulselbar Hj Sri Rahmawati SH MKn.

Pendamping Hidayatullah Makassar Abdul Kadir SPd, Edi Qays SE MM dan Muh Firdaus Umar SHi Abdul Haris, dan pengasuh Rumah Quran.

Sri Rahmawati mengungkapkan, salah satu program NMI adalah Rumah Quran (RQ). “Sehingga MoU kali ini adalah awal dari sebuah sinergitas yang baik, dan Hidayatullah Makassar memiliki program dan tujuan yang sama,” ucapnya.

Pihaknya juga menyampaikan NMI akan memberikan bisyaroh bulanan kepada pengajar, dan uang tunjangan hari raya (THR) serta kenaikan bisyaroh 10% setiap setahun 1 kali

Sementara itu Nasrullah Sapa mengapresiasi dan menaruh harap bahwa MoU ini akan melahirkan sesuatu yang memiliki manfaat besar

“Semoga harapan dan do’a akan terwujud dari seluruh pelaksana yang terlibat dalam mensukseskan program Rumah Quran agar masyarakat Makassar khususnya maupun warga muslim lainnya lebih familiar dengan program kealquranan dan pengembangan AlQuran,” ucapnya.

Pihaknya juga mengatakan bahwa dalam proses pembinaan RQ, Hidayatullah akan mengirim pengajar yang berkompeten memberikan pembinaan.

“Apa yang kita lakukan ini sesuatu yang kecil, namun akan melahirkan sesuatu yang besar, kader anak sholih ahlul Quran,” pungkasnya.

Muhammad Firdaus Umar SHi selaku kadep Dakwah DPD Hidayatullah Makassar, mengatakan jumlah RQ di Makassar semakin bertambah dan masyarakat semakin percaya dari keberadaan Rumah Quran Hidayatullah. “Kami masih membuka peluang bagi masyarakat atau lembaga yang mau bekerjasama,” kata Firdaus. (Edi Qays)

Kelembutan Orangtua Kebahagiaan Anak

0

HidayatullahSulsel.com — Faktor terpenting dalam kebahagiaan anak adalah kelembutan orangtuanya. Kelembutan terlahir dari kesholehan dan kebaikan orangtua yang memiliki sifat kelemah-lembutan.

Menarik untuk menyimak kisah di zaman Rasulullah
Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang ibu, Sa’idah binti Jazi, bersama anaknya yang baru berumur satu setengah tahun.

Lalu Rasul pun memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rasulullah SAW. Dengan spontan, sang ibu itu pun menarik anaknya dengan kasar.

Melihat sikap ibu itu, Rasulullah SAW pun menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rasul.

Terdapat pelajaran berharga (ibrah) dari kisah tersebut kepada kita sebagi orangtua, dan pendidik bahwa Rasulullah SAW secara tegas melarang melakukan pendekatan dengan kekerasan dalam mendidik anak.

Jika sikap pada anak selalu dipenuhi dengan suara keras, lantang, kekasaran, bentakan, apalagi dengan pukulan terhadapnya, melahirkan jeritan ketidak berdayaan dan penolakan anak.

Malah akan membentuk karaktek kasar, keras, bahkan puncaknya perlawan dari anak, buah hati orang tua.

Beberapa hari lalu, kita disentakkah oleh peristiwa yang menyayat hati. Terjadi penganiayaan oleh anak kepada orangtuanya sendiri akibat dari rasa kesal yang berkepanjangan yang diterimanya sejak SD hingga dewasa oleh kata-kata terlontar sepanjang hari dari orang tuanya.

Rifki Azis Ramadhan, nama anak tersebut, dari perlakuan orangtuanya sampai tega dia menghabisi nyawa ibu kandungnya, dan bapaknya pun dalam keadaan kritis.

Peristiwa tersebut tetap sangat disesali oleh Rifki, dan dia juga memohon maaf atas kesalahannya kepada bapaknya yang masih terselamatkan dari amukannya.

Namun di sini berlaku sikap aksiomatif, walaupun sepatutnya anak seharusnya menaruh penuh hormat pada kedua orangtua, tetapi pendidikan yang salah, kasar dan keras, berakibat melahirkan anak yang keras, bahkan keras akibatnya.

Saat seorang anak dimarahi terus menerus dan diperlakukan secara kasar sejak kecil dengan kata-kata dan tindakan, lama kelamaan mengakumulasi menjadi energi negatif.

Energi itu pada akhirnya meluap tak terbendung dan tak terkontrol untuk dilampiaskan kepada siapa saja menekan jiwanya, tak terkecuali kepada orangtuanya, yang harusnya paling dicintai dan dihormatinya.

Disinilah harus kita sadari, bahwa betapa pentingnya kelembutan dan kebaikan akhlaq dari sosok orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan.

Sejalan dengan itu, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid dalam bukunya Cara Nabi Mendidik Anak, mengatakan, ‘kesholehan dan kebaikan orangtua membawa pengaruh besar terhadap pembinaan jiwa anak’.

Bentuk kesholehan orang tua diantaranya adalah kelemah lembutan akhlaqnya. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR Bukhari).

Sebagai uswatuh hasanah, Rasulullah juga telah mencontohkan sikap lemah lembut dalam pergaulannya. Sebagaimana yang Rasulullah contohkan dalam mendidik anak.

Bahwa sifat kelembutan dan kasih sayang orang tua (termasuk guru) merupakan sumber kekuatan yang bisa menggugah jiwa kesadaran anak.

Kedekatan dan kasih sayang yang diberikan orang tua menanamkan dan menumbuhkan ketenangan batin, kepercayaan, juga hubungan batin yang semakin menguat antara seorang anak dan orang tuanya termasuk terhadap guru dan penghasuhnya.

Tidak hanya pada anak, kelembutan akhlaq dalam rumah kehidupan rumah tangga oleh suami-isteri niscaya akan melahirkan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Kelembutan dari suami ke isteri atau sebaliknya dari isteri ke suami adalah sumber kebagiaan, tidak hanya bagi kedua belah pihak, yakni suami dan isteri, tapi juga terhadap tumbuh kembang anak. Yang menjadikan anak berkarakter dan berakhlah mulia yang dihiasi dengan kelembutan, berkomunikasi, bersikap, bertingkah laku keseharian.

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah akan memasukan kelembutan kepada mereka..”
(HR Ahmad dan dishohikan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 523)

“Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada- Nya.” (QS Ali Imran [3]: 159). (*)

Pemhida Sulsel Tebar Al Quran dan Mukena di Kampung Mualaf

0

Makassar, HidayatullahSulsel.com — Pemuda Hidayatullah Sulsel (Pemhida Sulsel) melakukan silaturahmi ke Kampung Muallaf, Bontosomba, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (12/8/2023).

Kegiatan silaturahmi yang dirangkaikan dengan tebar Al-Qur’an dan Mukena tersebut, start dari Kampus Utama Hidayatullah Makassar dan transit di Pesantren Tahfidzul Qur’an Ummul Quro Hidayatullah Tompobulu, Maros.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Bontosomba Desa Bontobonto dengan durasi perjalanan selama dua Jam. Jalanan bebatuan, tanjakan ekstrim dan penurunan yang curam menjadi pemandangan selama perjalanan.

Sekitar jam 14.30 rombongan yang berjumlah 9 orang tiba di desa lokasi. sambutan hangat para warga membuat para rombongan kian bersemangat, meski rentetan drama terjadi selama perjalanan.

Ahmad Munir, selaku ketua panitia, mengatakan kegiatan ini terlaksana atas dukungan dan kerjasama dengan BMH, Kampus Utama Hidayatullah Makassar, dan donatur.

Sementara itu, Ketua Pemuda Hidayatullah Abdurrahman Sibghatullah turut hadir pada kesempatan tersebut. Ia mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan menyambut rakerwil Pemuda Hidayatullah di Palopo.

“Semoga kedepannya Pemuda Hidayatullah di Sulsel banyak melakukan kegiatan-kegiatan touring sambil bakti sosial di masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Ibu Ibnah merasa senang telah mendapatkan bantuan Al-Qur’an dan mukenah. “Semoga bermanfaat dan dimudahkan rezkinya para donatur,” ucapnya.(Hanif)