Beranda blog Halaman 50

Dakwah Odong-odong Ustad Arif, Kreatifitas Dakwah Hidayatullah Salaonro Soppeng

0

Sosok, HidayatullahSulsel.com — Haji Muhammad Arif terkenal sebagai dai dan pimpinan pesantren di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan yang multitalenta. Di tengah kesibukannya berdakwah dan membina para santri penghafal Qur’an di Pesantren Hidayatullah Salaonro Soppeng, ia juga aktif di komunitas Ikatan Wartawan Online (IWO) Watangsoppeng.

Sosoknya juga dikenal sebagai kolektor sekaligus montir mobil dan motor antik.

Kegigihannya dalam membina santri-santri tahfidz membuahkan hasil yang sangat menakjubkan. Prestasi gemilang para santriwan dan santriwati pesantren Hidayatullah Salaonro baik di tingkat kabupaten maupum tingkat propinsi telah mengundang simpati dan kepedulian pemerintah dan masyarakat kabupaten Soppeng.

Tak mengherankan jika berbagai jenis bantuan dari para dermawan pun terus berdatangan.

Tercatat ada belasan motor tua layak pakai dan beberapa mobil tua yang dihibahkkan oleh masyarakat untuk mendukung program-program pondok pesantren dan program dakwah keummatan melalui Rumah Quran Hidayatulah (RQH)

Selain memiliki profesi yang beragam, Ust Arif juga memiliki hobi yang cukup nyentrik, sangat piawai menyulap mobil dan motor tua menjadi kendaraan yang unik dan modis.

Baru-baru ini memodifikasi motor biasa dengan modal onderdil bekas menjadi motor mirip motor harley, memasang mesin kijang berbahan bakar bensin di mobil ranger yang semestinya berbahan solar.

Salah satu karya unik yang viral dan ramai diperbincangkan masyarakat luas adalah ketika memodifikasi jeep tua menjadi mobil “odong odong” yang saat ini dipergunakan keliling kota untuk menjemput dan mengantar santri-santri cilik Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan Rumah Qur’an Hidayatullah RQH.

Odong-odong tersebut bolak balik mengantar dan menjemput santri cilik secara bergiliran mulai siang hingga sore hari karena jumlah santrinya yang sangat banyak, melebihi 100 orang.

Jumlah tersebut belum termasuk santri yang mondok di 3 kampus yang jaraknya tidak berjauhan yang jumlahnya juga mencapai seratusan santri putra dan putri jenjang Wustho dan Ulya.

Keunikan kendaraan odong odong karya Ustad Arif menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di Kota Soppeng, karena selain berfungsi sebagaai kendaraan antar jemput santri yang digandrungi oleh santri cilik TPA dan RQH juga dimamfaatkan oleh para santri dan pengasuh pesantren untuk piknik ke tempat-tempat wisata atau berkunjung ke rumah orangtua santri yang berada di sekitar kota Warangsoppeng.

Menyaksikan keceriaan santri-santri kecil di atas odong odong ditemani emak-emak pengantarnya menjadi hiburan tersendiri bagi siapa pun yang melihat kendaraan unik tersebut melintas di jalan-jalan kota Watangsoppeng khususnya pada siang dan sore hari.

Keterampilan dan bakat seni Haji Muhammad Arif terlihat juga pada desain masjid di kampus putra yang tampil beda dengan ornamen dinding semen semi terbuka yang berukir serat kulit kayu, juga pada penataan lingkungan kampus yang dipenuhi dengan taman-taman bunga dan kolam ikan serta tempat duduk dari bahan semen yang di cor dan diukir menyerupai kulit kayu.

Selain dianugerahi banyak keterampilan dan bakat seni, ia juga hobi memelihara dan mengoleksi hewan peliharaan seperti ayam dan ikan hias serta berbagai macam jenis kucing Persia yang dibiarkan berkeliaran bebas di lingkungan pesantren.

Daya tarik pondok pesantren Hidayatullah Salaonro bukan hanya dari tampilan fisiknya saja. Semangat membaca dan menghafal Qur’an serta semangat kerja yang diiringi dengan ibadah yang kuat dari para pengurus, pengasuh dan para santrinya menjadi kultur harian.

Kultur ini tentunya mengundang rahmat dan bantuan Allah SWT melalui perantara para dermawan yang silih berganti memberikan bantuan untuk operasional dan pengembangan pondok pesantren.(Dwi Fii Amanillah)



.

Pemuda Hidayatullah Sulsel Rakerwil, Canang Program Progresif Beradab

0

Palopo, HidayatullahSulsel.com — Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulsel menggelar Rapat Kerja Wilayah selama dua hari di Kota Palopo, Sabtu-Ahad (16-17/9/2023).

Dengan mengusung tema “Tumbuhkan Progresivitas Pemuda yang Beradab untuk Membangun Sulawesi Selatan Unggul”, kegiatan ini dihadiri Wakil Walikota Palopo Dr Ir H Rahmat Masri Bandaso MSi sekaligus membuka Rakerwil.

Dalam sambutannya Rahmat sangat mengapresiasi gerakan Pemhida karena berbasis masjid.

“Saya yakin tagline Pemhida ini akan berdampak besar, mengapa. Karena diluar sana banyak pemuda yang progresif tapi melupakan inti dan ruh dari gerakan itu yaitu Beradab,” ujar wakil walikota yang telah menjabat dua periode ini.

Hadir pula pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, tampak Sekertaris DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Sumaryadi, Kadep Organisasi DPW Ustadz Anwar Baits, Ketua DPD Hidayatullah Palopo, Ketua kampus Madya Hidayatullah Palopo, serta puluhan fungsionaris Pemuda Hidayatullah yang datang dari berbagai daerah di Sulsel

Sementara itu, Ketua Pemhida Sulsel Abdurrahman Sibghatullah, mengatakankan, kegiatan ini merupakan, rakerwil Pemhida Sulsel pertama yang dilaksanakan pada awal periode ini.

“Semoga dengan Rakerwil ini Pemuda Hidayatullah Sulsel makin progresif berkarya,” harapnya.

Saat ini jaringan Pemuda Hidayatullah di Sulsel baru terbentuk 6 Pengurus Daerah di tingkat kabupaten/kota, Maros, Parepare, Palopo, Luwu Timur, Luwu dan Wajo.(Hanif)

Baru 2 Tahun, Pondok Hidayatullah SibuluE Bone Sukses Cetak Hafidz 30 Juz

0

Bone, HidayatullahMakassar.com — Pondok Tahfidz Pondok Hidayatullah SibuluE, Bone, telah sukses mencetak puluhan hafidz penghafal quran, walau baru berdiri dua tahun.

Wisuda bagi hafidz dilaksanakan akhir pekan lalu. Turut hadir menyemangati para “keluarga Allah” pada wisuda tersebut Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi dan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran.

“Alhamdulillah pada wisuda perdana ini untuk 13 santri penghafal 30 juz, hafidz 15 juz sebanyak 12 orang. Di antara hafidz 30 juz terdapat 1 orang santri yang baru duduk di kelas 6 SD,” ungkap Ketua DPD Hidayatullah Bone, Ustadz Burhanuddin Abdul Jabar MA.

Terhadap pencapaian tersebut, Ust Nasri memberikan apresiasi khusus. “Karena dikelola dengan serius, Pondok Hidayatullah SibuluE mampu menghasilkan santri penghafal 30 Juz dalam waktu hanya 2 tahun saja,” ujarnya dengan antusias.

Menurutnya prestasi ini bisa menjadi motivasi dan spirit bagi pengurus DPD dan yayasan yang mengelola pondok tahfidz maupun pondok pesantren di lingkup Hidayatullah di Sulsel khususnya.

Kegiatan wisuda hafidz berlangsung khidmat dihadiri semua orangtua mendampingi wisudawan di halaman Pondok Hidayatullah SibuluE yang berada di atas bukit, dalam kesederhanaan bangunan pondok yang serba darurat/sementara di tengah kebun jagung.

“Ustadz Burhanuddin Abdul Jabar dan pengurus berhasil membangun pondok dalam waktu yang cukup singkat kurang dari 2 tahun di Kecamatan Sibulu’e dan sedang merintis dua DPC lagi di Kecamatan Ponre dan Amali,” ungkapnya.(fir)

Hidayatullah Bone Wisuda Tahfizh. Disemarakkan Tabligh Akbar Bersama Ust Aziz

0

Bone, HidayatullahSulsel.com — Ponpes Hidayatullah Bone menggelar Wisuda Tahfizh dan Tabligh Akbar menghadirkan Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi di di Kampus Hidayatullah Sibulu’e, Bone, Sabtu (16/9/2023).

Kehadiran Ustadz Aziz dalam kegiatan ini, diharap oleh pengurus DPD Hidayatullah Bone untuk semakin menguatkan program tarbiyah dan dakwah Hidayatullah Bone.

Kegiatan juga dirangkai Kuliah Subuh di Kampus Hidayatullah Putri Panyula dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama Tahfizh Putra Hidayatullah Sibulu’e.

Kuliah Subuh Ustadz Aziz dirangkaikan Pengukuhan Pengurus Sekolah Daiyah Hidayatullah (SDH ) Sultan Batara Putri Bone Periode 2023 -2025. Kegiatan ini diikuti oleh calon Mahasantri dan SDH Sultanbatara Putri Bone serta santriwati Hidayatullah Panyiula.

Hadiri pada kesempatan itu Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel yang juga Pembina SDH Sultanbatara Drs Nasri Bohari MPd.

Dalam Kuliah Subuh dengan judul “Intens Berinteraksi dengan Al Quran, Solusi Mengatasi Degradasi Spiritual”, Ustadz Aziz menguraukan urgensi dan tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qu’an. Iamengutip makna yang terkandung dalam Surah Al A’raaf ayat 179.

Ia memberikan gambaran manusia yang hatinya kosong dari pemahaman Al Qur’an dan ruhnya kurang mendapatkan siraman ayat-ayat suci Al Qur’an maka kehidupan ya tidaklah lebih baik dari binatang ternak.

Ketua Dewan Pembina kampusbutama Al Bayan Hidayatullah Makassar itu menegaskan intreraksi dengan Al Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalkan saja tapi harus dibarengi dengan meyakini kandungan Al Quran, mengilmuiya, mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkan Al Quran.

Ia memberikan contoh dengan syariat potong tangan bagi pencuri dan syariat poligami yang kadang sangat berat untuk diterima dan dilaksanakan.

“Namun kedua syariat tersebut harus tetap diyakini kebenarannya walaupun dalam tataran pelaksanaannya terkendala hukum buatan manusia yang diterapkan oleh pemerintah,” ujarnya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah tiga periode itu menegaskan agar kaum muslimat jangan bersikap dan berprilaku seperti wanita-wanita kafir yang jika dipoligami minta dicerai atau berkata “langkahi dulu mayatku jika ingin menikah lagi” itu adalah sikap dan perbuatan yang kufur.

Di Kampus Putra Hidayatullah Sibulu’e yang lokasinya berjarak kurang lebih 15 kilometer dari Kampus Hidayatullah Putri Panyula Bone selain dilaksanakan Tabligh Akbar dan Wisuda Tahfizh juga digelar Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama Tahfizh.

Hadir pula pada kesempatan itu staf ahli Bupati Bone dan Kepala Seksi Pondok pesantren Kementrian Agama Bone, unsur pemerintah Kecamatan Sibulu’e serta tokoh masyarakat di kabupaten Bone .

Ust Nasri memberikan apresiasi kepada pengurus DPD Hidayatullah Bone dibawah kepemimpinan Ustadz Burhanuddin Abdul Jabar MA karena berhasil membangun pondok dalam waktu yang cukup singkat kurang dari 2 tahun di Kecamatan Sibulu’e dan merintis dua DPC lagi di Kecamatan Ponre dan Amali.

Di hadapan para tamu dan undangan yang memadati tenda acara Ustadz Azis kembali menekankan pentingnya hidup ber-Quran dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu membahu membantu kebutuhan pondok-pondok tahfiz dan rumah-rumah Quran sebagai investasi akhirat.

“Sebagai orang yang beriman, di mana lagi kita akan menginvestasikan harta kita kalau bukan di masjid dan pesantren ?” ujarnya. (Dwi Fii Amanillah)

Menjaga Stabilitas Ruhani di Arena Politik (1)

0

Oleh Bachtiar Aras, Aktivis Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Rakyat Indonesia kini bersiap menyambut pesta demokrasi serentak pada tahun 2024. Akan ada dua gelaran pemilihan untuk memilih calon pemimpin dari tingkat pusat hingga daerah, yaitu Pemilihan Umum (pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada), terkhusus lagi Pemilihan Presiden (pilpres).

Setiap calon yang akan maju tentunya mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bertarung di arena politik tersebut. Tidak tanggung tanggung, ada yang sudah mempersiapkan amunisi yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

Di negara kita yang mayoritas muslim ini, peluang bagi saudara saudara Muslim dan Muslimat terbuka lebar untuk ikut dalam kontestasi perpolitikan di tahun 2024. Tidak ketinggalan, beberapa sahabat penulis yang mencalonkan diri, untuk ikut bertarung di pentas politik.

Penulis bahkan pernah menyampaikan kepada mereka bahwa kalau sebagian besar calon yang memang memiliki banyak uang, wajar jika persiapan amunisinya juga dominan dengan uang. Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki idealisme tinggi untuk melakukan perubahan namun tidak ada atau minim bekal harta?

Nah, inilah yang melatari sehingga penulis mengangkat tulisan ini ke permukaan. Bisa dibayangkan, kalau seorang sahabat penulis yang “menjajaki takdir” ikut kontestasi pileg tahun depan, dengan visi yang luar biasa dengan mengutip sabda Nabi SAW, “Sebaik-baik manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.

Ia maju dengan persiapan bekal materi yang sangat minim, tapi self confidence-nya sangat tinggi.
Penulis salut dengan semangat dan motivasi sahabat untuk ikut bertarung. Dan semua saudara kita apalagi muslim, sah-sah saja bahkan wajib berpartisipasi memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Yang paling penting adalah kemampuan sahabat-sahabat untuk menjaga stabilitas ruhiyah selama sebelum, sedang dan setelah kontestasi tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, adakah kaitan antara gemuruh pertarungan politik dan kondisi batin atau ruhiyah kita ? Tentu ada.

Seorang Muslim, sudah sepatutnya menjadi orang yang senantiasa mengaitkan siklus kehidupannya dengan masalah ruhani dan batinnya. Begitulah Rasulullah saw dan para sahabatnya mengajarkan kita.

Dalam detik perjuangan yang maha genting pun, Rasulullah dan balatentaranya tetap memelihara penunaian sholat wajib. Dan dalam jenak waktu yang penuh ancaman dan marabahaya, Rasulullah saw mencari kesempatan menengadahkan tangannya ke langit, meminta bantuan dan pertolongan Allah SWT. “Ya Allah, andai Engkau hancurkan sisa-sisa (kaum Muslimin), maka Engkau tidak akan disembah lagi selamanya.”

Begitu cara Rasulullah SAW mengiba dan meminta dukungan Allah menjelang pertarungan di medan Badar.

Ruhani, jiwa atau hati, harus selalu hidup. Dan langkah-langkah untuk menghidupinya, adalah dengan tetap menjaga dan berpegang kuat terhadap ‘tali’ Allah.

Cara untuk tetap menyinarinya, adalah dengan selalu menyalakan hati dengan cahaya dzikrullah. Mengingat amanah hidup, mencamkan tanggung jawab yang diberikan Allah swt, Pemberi nikmat yang tak bisa dihitung.

Faktor-faktor yang bernuansa ruhani, kebersihan jiwa, cahaya dalam hati, adalah kendali dan syarat hidup matinya jasad lahir setiap orang. Faktor-faktor ruhaniyah juga yang menjadi timbangan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman seseorang dalam mengarungi hidup. Bukan faktor materi.

Dalam sabda Rasulullah yang terkenal, hati disebutkan menjadi titik penilaian baik tidaknya sikap seseorang. Baiknya hati menjadi indikator kebaikan sikap lahir seseorang. Begitupun sebaliknya. Lihatlah nasihat panjang Rasulullah yang disebutkan Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu anhu, “Fitnah itu diperlihatkan pada hati manusia laksana menggelar tikar. Tampak seutas demi seutas anyamannya.

Setiap hati yang terkena fitnah pasti ternoda jelaga hitam, dan bagi hati yang melawannya maka ia akan diberi noktah putih. Sehingga dengan begitu hati manusia terpilah jadi dua bagian. Bagian yang berwarna hitam lebam dan berdebu bagaikan teko yang dibalik. Tidak dapat membedakan antara hak dan batil, karena ia telah terbawa hembusan hawa nafsunya. Dan (kedua) hati yang berwarna putih, tidak akan terkena bahaya fitnah selama masih ada langit dan bumi.” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini, Rasulullah membagi hati manusia menjadi dua berdasarkan pengaruh fitnah yang menimpanya. Pertama, hati yang ketika bersentuhan dengan fitnah langsung menyerapnya, seperti tanah kering menyerap air.

Hati seperti inilah yang disebut seperti jelaga hitam. Dan begitulah rotasinya, setiap ada fitnah ia selalu aktif menyerapnya hingga akhirnya makin memekatkan dirinya dalam jelaga yang semakin hitam legam.

Kondisi hati seperti ini, akan memunculkan dua sikap. Pertama, kesamaran antara hak dengan batil. Tidak mampu melihat jelas sebuah kebatilan, atau justru memandang kebatilan sebagai kebenaran.

Kedua, orang yang memiliki hati seperti itu akan menjadi budak hawa nafsunya. Dengan kata lain, ia akan mengikuti kemana saja hawa nafsu menginginkannya.

Hati yang kedua, adalah hati yang putih bersih. Hati yang terpancar dari benderangnya cahaya iman. Hati seperti ini bukan tidak menghadapi fitnah. Fitnah yang dihadapinya sama persis dengan fitnah yang dihadapi oleh hati yang menjadi hitam legam tadi.

Bedanya, hati yang putih bersih ini akan sesegera mungkin berpaling, menghindar dan menjauhi fitnah hingga cahayanya makin terang benderang. Atau, setidaknya, mungkin saja hati itu ternoda terpaan fitnah yang menimpanya terus menerus. Tapi noda itu lalu dibersihkan lagi dengan kesadaran dan kembali pada kebenaran.

Inti dari sebuah perjuangan da’wah lewat jalur politik adalah melakukan perubahan pada sesuatu yang lebih baik. Semua perubahan ini tentu akan berarti jika didukung kekuatan ruhiyah yang kuat.

Salah satu keunikan Islam dalam melihat suatu hal adalah syumuliyah (komprehensif). Pada satu sisi, ada ajaran yang memandang kekuatan dan kelemahan segalanya ada pada quwwahmaddiyah/jasadiyah (kekuatan fisik/material) semata.

Di sisi lain, sebagian ajaran melihatnya hanya pada quwwah bathiniyyah (kekuatan batin). Penglihatan ini adalah penglihatan yang parsial.

Islam menilai bahwa kekuatan itu ada pada dua sisi. Sisi batin yang dengannya seseorang akan termotivasi untuk mendayakan kekuatan fisiknya secara maksimal. Kekuatan batin bersumber dari kekuatan ruhiyah yang dimiliki seseorang.

Sehingga sangat wajar jika Rasulullah saw kemudian bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir pada Allah dengan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” Kemampuan dzikir tidak lain merupakan refleksi kehidupan jiwa, dan kehidupan jiwa itu sendiri bertumpu pada kemampuan dalam berdzikir. (bersambung)

Peringati Hari Jilbab Internasional, Mushida Bagi Jilbab di Toraja

0

Toraja, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) Tana Toraja menggelar aksi berbagi jilbab di halaman Masjid Taqwa Minanga, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, Jum’at (15/9/2023).

Aksi sosial itu ber ltema “Muslimah Berhijab Menjunjung Tinggi Martabat”. Aksi bagi-bagi jilbab ini juga dilakukan pengurus Muslimat Hidayatullah di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut pengurus Mushida Tana Toraja, Nur Asia, aksi tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Solidaritas Hijab Internasional pada 4 September lalu.

“Mushida ingin mengambil peran nyata dalam momen tahunan ini sebagai wujud dukungan kebebasan berhijab bagi seluruh wanita,” terang Alumnus STIS Hidayatullah Balikpapan tersebut.

Untuk saat ini, kata dia, peran nyata tersebut baru sebatas bagi-bagi jilbab. Itupun hanya menyasar belasan orang saja. Dia berharap, semoga di tahun-tahun berikutnya, di momen yang sama, aksi tersebut dapat menjangkau lebih banyak orang di Toraja ini, yang juga merupakan daerah minoritas muslim.

“Harapannya ke depan, yang dibagi bisa lebih banyak lagi. Juga mungkin bisa dirangkaikan dengan kegiatan tabligh akbar bertema urgensi jilbab bagi wanita,” jelasnya lebih lanjut.

Kegiatan ini disambut baik oleh warga muslim Minanga. Mama Arsyad, seorang penerima jilbab mengaku senang dengan kegiatan tersebut. “Mudahan tahun depan ada lagi,” katanya berharap.

Hal senada juga disampaikan Imam Masjid Taqwa Minanga, Abdul Aziz, aksi seperti ini perlu dirawat dan dipikirkan untuk bisa menjangkau lebih banyak muslimah.

“Tetapi yang lebih penting dari itu adalah pembinaan yang berkelanjutan dan terstruktur, yang selama ini belum dianggap penting oleh komunitas muslim di luar Toraja,” jelas mahasiswa Pascasarjana Universitas Parepare tersebut.

Aksi bagi-bagi jilbab tersebut merupakan hasil sinergi dengan berbagai pihak, di antaranya Pengurus Daerah Mushida Enrekang juga Majelis Taklim Masjid Taqwa Minanga

Hari Solidaritas Hijab Internasional merupakan hari di mana para muslimah seluruh dunia merayakan hak mereka untuk menggunakan hijab.

Terbentuknya hari solidaritas yang jatuh setiap tanggal 4 September tersebut dilatarbelakangi oleh keputusan negara Perancis yang melarang penggunaan hijab di negaranya, dan itu untuk pertama kalinya terjadi di Eropa.

Hal itu juga diperkuat dengan kematian Marwa El Sharbini, seorang ibu rumah tangga yang dibunuh ketika akan memberikan kesaksian di pengadilan mengenai penghinaan yang dia dapatkan karena menggunakan hijab.

Larangan Perancis yang diikuti negara-negara lain di Eropa tersebut, akhirnya memicu terjadinya Konferensi London pada 4 September 2004. Konferensi bersejarah tersebut diikuti 300 delegasi dari 102 organisasi dari 36 negara.

Konferensi itulah kemudian yang menjadi acuan penetapan International Hijab Solidarity Day (IHSD) yang diperingati setiap tahunnya.(Dalilah Nurus Shalihah)

Laznas BMH-Depag Beri Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Ummat

0

Bulukumba, HidayatullahSulsel com — Sebanyak 10 orang penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi ummat mengikuti pelatihan kewirausahaan dan management keuangan di Kantor KUA Ujung Bulu, Bulukumba, Kamis-Jumat (14-15/9/2023).

Pelatihan dilaksanakan Lembaga Amil Nasional Zakat (Laznas) Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Sulsel dan Departemen Agama (Depag). Hadir sebagai pemateri Basori Shobirin MIKom dan Aditya SE dari Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel.

Dalam paparannya Basori mengungkapkan tujuan program tersebut menjadikan penerima manfaat menjadi seorang muzakki, atau mereka menjadi orang yang  mandiri secara finansial dan mampu menunaikan zakat.

Sebagai permodalan awal, pemerintah melalui Kementerian Agama yang bekerja sama dengan Laznas BMH telah menyalurkan bantuan modal kepada masing masing peserta senilai Rp 10 juta dengan skema pencairan sebanyak dua kali.

Bidang-bidang usaha peserta penerima manfaat meliputi pelayanan dan jasa, pertanian serta usaha rumahan. 

Zulkifli, seorang penerima manfaat yang menjalankan usaha kebutuhan rumah tangga mengungkapan rasa terimakasihnya. Ia berharap pelatihan yang diberikan dapat terus dilakukan oleh para pendamping.

“Kami perlu dibimbing pelatihan yang dibarengi dengan praktek pengelolaan keuangan maupun teknik marketing yang sesuai prosedur,” ujarnya.

Selain modal yang diberikan, para penerima manfaat juga akan mendapatkan pendampingan intensif dari Laznas BMH, baik materi-materi yang sifatnya teoritis, maupun praktik. “Setiap bulan, tim akan bertemu dan berdiskusi untuk memantau perkembangan  usaha penerima manfaat,” jelasbya.(rls/*)

Cintai Istri Sepenuh Hati Sebelum Berfikir Menikah Lagi, Menjaga Hati Bidadari (2)

0

Oleh : Ust H Dwi di Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Allah SWT telah menjadikan kisah kehidupan keluarga Nabiyullah Ibrahim a.s yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai ibroh bagi ummat manusia. Mulai dari kisah pengasingan Sitti Hajar dan bayinya di lembah bakkah, hingga perintah penyembelihan putranya yakni Nabi Ismail .

Kisah-kisah tersebut memberi keteladanan tentang karakter keluarga yang dibangun di atas landasan tauhid ysng benar, sehingga melahirkan anak keturunan yang memilik aqidah yang kokoh, ketaatan yang total tanpa keraguan dan keikhlasan menerima segala ketetapan Allah.

Pondasi keimanan menjadi kunci kekokohan dan kebahagian dalam rumah tangga. Keyakinan Nabiyullah Ibrahim yang sangat kuat terhadap kekuasaan dan pertolongan Rabbnya (Allah SWT) dibuktikan saat beliau dihukum dibakar hidup-hidup oleh raja Namruz.

Jilatan api yang panas membakar tidak mampu menyentuh tubuhnya, bahkan di saat api tengah membakar justru beliau merasakan kedinginan.

Keyakinan kuat inilah yang kemudian tertanam dan terwariskan pada keluarga Ibrahim, pada istri-istri dan keturunannya. Saat beliau meninggalkan anak dan istrinya di lembah Bakkah yang tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Saat itu ada kesedihan yang mendalam ketika beliau membalikan badan meninggalkan anak dan istrinya sendirian di lembah yang sepi dan tandus.

Dengan air mata bercucuran beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Ibrahim ayat 37)” .

Bagi seorang suami dan ayah yang telah sekian lama merindukan kehadiran buah hati pelanjut generasi meninggalkan anak dan istri di tempat yang sepi, gersang dan tandus bagi Nabi Ibrahim adalah ujian yang sangat berat.

Demikian pula bagi istri beliau Sitti Hajar, wanita mana sih yang kuat dan rela ditinggakan oleh suaminya sendirian bersama bayi mungilnya di lembah tandus ditengah padang pasir? .Namun karena itu adalah perintah dari Rabbnya Ia pun pasrah dan yakin Allah akan menjaga keduanya.

Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk membawa anak dan istrinya (Sitti Hajar) ke tempat yang jauh, berpisah untuk sementara waktu, dengan tujuan untuk meredam kecemburuan istri pertama beliau (Sarah) karena mereka tinggal bersama sehingga Sarah senantiasa cemburu melihat kebahagiaan Ibrahim dan Sitti Hajar.

Apalagi saat keduanya duduk bersama, bercengkrama sambil menimang bayi mungil mereka, sedangkan Sarah belum juga memdapatkan momongan setelah sekian lama bersama Ibrahim.

Sitti Hajar adalah budak yang dihadiahkan oleh Raja Mesir kepada keluarga Ibrahim. Menyaksikan kesholehan dan ketabahan Sitti Hajar, Sarah pun merasa sangat takjub dan kagum hingga Ia pun meminta Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar mengingat keduanya sudah semakin tua namun belum dikarunia anak.

Singkat cerita Ibrahim kemudian menikahi Sitti Hajar dan mereka hidup bahagia bertiga, bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Naluri kewanitaanya mulia terusik ketika Hajar mulai mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki.

Kecemburuan adalah fitrah seorang wanita yang kadang sangat sulit dipahami oleh laki-laki. Ketika seorang suami memberikan perhatian yang lebih kepada Ibunya, tak jarang sang istri merasa tersisih dan dinomorduakan, padahal suami melakukan itu demi baktinya kepada kedua orangtua terutama Ibunya yang telah mempertaruhkan nyawa, berjuang mati-matian, menjaga dan membesarkan serta memdidiknya dari kecil hingga dewasa.

Kisah romantisme keluarga Nabi Muhammad SAW bersama istri-istri beliau juga tak luput dari riak-riak kecil kecemburuan, seperti kisah kecemburuan Aisyah kepada Khadijah karena Nabi sering menyebut-nyebut namanya dan kecemburuan kepada Shafiyyah salah satu istri nabi dari keturunan yahudi yang terkenal karena kecantikannya.

Nabi sangat memahami kecemburuan di antara istri-istri beliau dan beliau bisa mengatasnya dengan adil, bijak dan penuh kelembutan.

Ketika seorang istri dituntut menjadi sebaik-baik perhiasan dunia, menjaga kehormatan diri dan keluarga, menyejukan pandangan suami, maka suami pun dituntut untuk menjaga hati, mengayominya, tidak menyakiti apalagi melukainya. Senantiasa bersikap dan berbuat baik serta berlemah lembut dengannya.

Dikisahkan suatu ketika Nabi bertandang ke rumah Aisyah, namun karena sudah larut malam Aisyah tertidur dan tidak mendengar salam dan suara ketukan pintu, maka Nabi pun bersabar rela tidur di depan pintu rumah Aisyah dan di kesempatan lain saat beliau lapar beliau bertanya “Adakah makanan yang tersedia?” jika tersedia beliau pun makan dan jika tidak ada beliau pun berpuasa.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Ibnu Majah). Hadits ini dapat dimaknai bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang terbaik sikapnya terhadap istrinya.

Dan Nabi adalah laki-laki terbaik dalam memperlakukan istri-istrinya. Kalau pun ada istri yang cerewet, bawel, sering uring-uringan dan suka menentang, jangan langsung menuding mereka itu keturunan Mak Lampir atau titisan istri Nabi Nuh, mungkin mereka menjadi seperti itu karena suami yang kurang memberikan pendidikan dan perhatian.

Karena kaum wanita kurang akalnya maka harus bersabar untuk memberikan pemahaman, karena mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok maka harus perlahan-lahan dalam meluruskanya, karena mereka seperti gelas-gelas kaca maka berhati-hatilah jangan sampai menjatuhkannya, karena mereka ibarat bunga mawar yang indah maka rawatlah dengan sunguh-sungguh agar terus mekar berkembang dan tak mudah layu.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Rumah ku adalah surgaku” Walaupun beliau tidak menyebut, “Istri-istriku adalah bidadari-bidadariku” namun rumah tangga Nabi adalah rumah tangga yang diberkahi, semua saling menyayangi, saling memberi salam, tak sedikit pun tersirat perasaan saling membenci sebagaimana kehidupan di surga. Padahal kehidupan rumah tangga nabi sangat sederhana bahkan kadang kekurangan.

Banyak kasus pertengkaran dalam keluarga yang dipicu oleh sikap suami yang terlalu cuek, tak peduli dan tak mau tahu perasaan istri. Menuntut istri kuat dan tabah seperti Hajar dan Khadijah, bisa tampil melayani bak bidadari yang tak pernah ngomel apalagi marah, tapi tidak memperlakukan mereka seperti bidadari.

Memperlakukan mereka sebagai bidadari bukan berarti memanjakan mereka dengan segala fasilitas yang serba mewah atau tunduk patuh diujung telunjuk mengikuti semua keinginannya.(*)

Ketika Kesombongan Menemukan Hidayah

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Pada dasarnya fitrah manusia senang dihormati dan dihargai, tidak suka dengan kesombongan. Baik diperlakukan dengan sombong ataupun berprilaku sombong terhadap orang lain.

Sebaliknya, sekalipun manusia berprilaku sombong dan angkuh, dalam dirinya tetap menyukai sifat kasih sayang, saling menghargai dan saling membantu.

Ketika kesombongan dan kebencian diperhadapkan pada sifa dan perilaku baik, seperti ketegaran, kelemah lembutan dan kesabaran dan lainnya, sering kali terjadi hal yang tak terduga sebelumnya.

Sikap sombong dan benci justru bisa berbalik hati menjadi sepenuh cinta dan sepenuh pengorbanan .

Arnoud Van Doorn, tahun 2008 lalu, pernah membuat marah umat Islam atas besutan filmnya berjudul Fitna (Hasutan). Film itu menggambarkan Nabi Muhammad SAW secara salah.

Setelah bertahun-tahun berpropaganda melawan ajaran Islam, pada akhirnya Van Doorn sang produser film tersebut kini justru menjadi pemeluk Islam tahun 2012.

Van Doorn, yang dulu adalah anggota Partai Kebebasan pimpinan Geert Wilders, politisi rasis Belanda, pun lalu naik haji tahun 2013

Dia pun menyesal telah mengambil bagian dalam produksi film penuh kebencian Fitna. Dia mengatakan, sekarang dia berada di Tanah Suci untuk menebus dosa-dosanya.

Demikian halnya peristiwa ke-Islaman para sahabat, banyak mengkisahkan betapa sebelumnya mereka membenci dan memusuhi Islam dan kaum muslimin bisa menjadi orang yang paling tinggi cinta dan pengorbanan pada pembelaan Islam.

Siapa yang tidak kenal dengan kebencian dan permusuhan Umar bin Khattab kepada Islam. Dia memandang kedatangan Islam membawa malapetaka pada tatanan masyarakat Arab, khusus kaum Quraisy di Mekah.

Oleh Umar menganggap gegara Islamlah keyakinan dan tradisi nenek moyangnya dirusak. Keakraban dan keharmonisan keluarga tercabik-cabik. Terpisahkannya anak dengan bapak atau ibu, serta sanak saudara yang satu dengan yang lainnya

Bagi kaum Quraisy, termasuk Umar, hanya satu jalan menghentikan dampak ‘kerusakan’ tatanam masyarakat dari kedatangan agama baru ini, yaitu memotong sumber ajarannya. Harus membunuh pembawa ajaran lslam itu, yaitu Muhammad.

Saat puncak amarahnya tak terbendung lagi, dan dengan penuh angkuh dan sombong, Umar berjalan berlagak sebagai jagoan Arab mencari Muhammad, hendak membunuhnya.

Dengan pedang terhunus, ia menuju rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Niatnya itu terhenti sejenak, ketika ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahham Al-‘Adawiy.

Orang itu bertanya, “Hendak kemana engkau, wahai Umar?” Dia menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Jawab Umar dengan keangkuhannya

Orang itu bertanya lagi, “Kalau Muhammad engkau bunuh, bagaimana engkau akan merasa aman dari kejaran Bani Hasyim dan Bani Zahrah?”

Orang itu berkata kepadanya, “Wahai Umar! Maukah saya tunjukkan sesuatu yang sangat penting pada kehormatan dirimu dn keluargamu ?”. Sesungguhnya saudara perempuan dan iparmu juga telah menjadi penganut ash-Shabiah (Islam) dan meninggalkan agama mereka berdua yang sekarang ini!”

Mendengar hal tersebut, Umar segera mencari keduanya. Fatimah (adiknya) dan Khabbab (suami Fatimah). Dan terjadilah penganiayaan dari Umar terhadap keduanya saat memasuki rumah saudarinya

Ketegaran Fatimah dan suaminya, serta keberaniannya menyampaikan ajaran Islam kepada Umar adalah buah dari keyakinannya pada kebenaran Islam

Iparnya berkata, “Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu berada pada selain agamamu?”

Saudaranya berkata, “Wahai Umar! Jika kebenaran ada pada selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

Mendengar itu, Umar langsung melompat ke arah iparnya, lalu menginjak-injaknya dengan keras. Saudari perempuan juga ditampar oleh Umar, sehingga darah mengalir dari wajahnya.

Ketika Umar melihat kondisi saudaranya yang berdarah, dia menyesal dan malu. Lalu ia berkata, “Berikan kitab yang ada di tangan kalian ini kepadaku dan bacakan untukku!”

Saudaranya berkata, “Sesungguhnya engkau itu najis, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya melainkan orang-orang yang suci. Oleh karena itu, berdiri dan mandilah!”

Kemudian dia mandi, lalu mengambil kitab tersebut dan membaca surah Thaha ayat 14. Setelah membacanya, ia berkata, “Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu, tolong bawa aku ke hadapan Nabi Muhammad!”

Kala Khabbab mendengar ucapan Umar, dia keluar dari persembunyiannya sembari berkata:

“Wahai Umar, bergembiralah karena sesungguhnya aku berharap engkaulah yang dimaksud dalam doa Rasulullah pada malam Kamis, Ya Allah! kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang yang paling Engkau cintai, Umar al-Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam.

Umar bin Khattab berangkat, lalu sampai di rumah Arqam bin Abi al-Arqam, tempat Rasulullah SAW berada. Ia mengetuk pintu, seorang penjaga pintu mengintip dari celah-celah pintu tersebut dan melihat Umar menghunus pedang. Penjaga tersebut kemudian melapor kepada Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW membuka pintu dan dengan cepat beliau memegang baju dan gagang pedang Umar, lalu menariknya dengan keras. Nabi bersabda,

“Tidakkah engkau akan berhenti dari tindakanmu, wahai Umar, hingga Allah menghinakanmu dan menimpakan bencana sebagaimana yang terjadi terhadap al-Walid bin al-Mughirah?”

Ia kaget juga kagum atas gerakan cepat dan ketegasan Rasul. Lalu ia berucap, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (Yang berhak disembah) selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.”

Umar bin Khattab pun masuk Islam, dan disambut dengan lantang takbir oleh penghuni rumah, hingga terdengar oleh orang yang berada di luarnya.

Ia mengabarkan keislamannya dengan terang-terang. Ia dengan pedang terhunus memasuki Ka’bah, mengabarkan pula ke-Islamannya dan tiada yang berani menentangnya.

Pembaca yang budiman!.
Kita harus yakin bahwa peristiwa ke-lslaman seseorang, seperti Van Doorn dan juga Umar, didalamnya terdapat bukti keMaha Kuasaan Allah, agar menjadi hikmah dan ibrar.

Bahwa kesombongan dan keangkuhan yang terjadi dipermukaan bumi ini adalah ladang Dakwah.

Untuk kita semakin menguatkan semangat dakwah, mentalitas kesabaran dan tentu semakin menguatkan keyakinan akan datang hidayah Allah kepada siapa yang dikendakinya

Allah SWT Berfrman dalam firmanNya QS Fissilat;34-35-“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan an-tara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

Bahwa urusan kita adalah terus berdakwah dan berdakwah. Datangnya hidayah pada seseorang adalah hak prerogatif dari Allah Ta’ala.

Termasuk kepada pembenci dan penyebar fitnah keji tentang Islam. Boleh jadi justru pada saat tertentu hidayah Allah turun kepadanya,

Allah lah yang membolak balik hati.hambaNya, dari pembenci Islam kepada penganut dan pencinta Islam. Yang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk Islam dan dakwah Ilallah.(*)

Pendidikan Berdimensi Dunia Akhirat

0

Oleh : Bachtiar Aras SPdI, Aktivis Hidayatullah di Sulsel

HidayatullahSulsel.com — “…Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengerti dengan orang-orang yang tidak mengerti?’…” (QS. Az-Zumar : 9)

Mengerti dan tidak mengerti merupakan titik pembeda, sebagai hasil dari proses pendidikan. Memang cakupan ‘mengerti’ dalam ayat ini sangat luas, bukan hanya berdimensi akal pikiran.

Mengerti ini menyangkut pemahaman, juga kesadaran nurani. Bedakan dengan ‘mengetahui’ yang berdimensi jasadi (melihat, menyaksikan, mendengar dsb.)

Pada dimensi ini, maka pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap generasi mencakup wilayah yang sangat luas. Bahkan pada dasarnya seluruh hiruk-pikuk kehidupan ini merupakan sarana pendidikan juga.

Tetapi tentu saja tidak semua orang bisa belajar dari lingkungannya. Dan lebih sedikit lagi yang bisa mengandalkan kemampuannya untuk mengambil pelajaran guna membekali hidupnya.

Diperlukan dasar-dasar kemampuan pribadi untuk bisa melakukan analisa, perhitungan, kalkulasi, prediksi dan sejenisnya. Lalu juga dibutuhkan kemampuan tambahan untuk mempergunakan hati nuraninya dalam pengambilan keputusan.

Islam memang menekankan begitu tegas, bahwa ilmu sangatlah penting. Menuntut ilmu dinilai lebih tinggi ketimbang menghabiskan semalaman untuk beribadah. Mereka yang mati di jalan menuju ilmu, bisa dikategorikan mati syahid.

Mereka yang berilmu juga ditinggikan beberapa derajat bersama orang-orang yang beriman.

Tentang perlunya bekal hidup di dunia berupa ilmu untuk mencapai kehidupan akhirat, mungkin kita sudah tidak mempersoalkan lagi. Sekarang yang kita hadapi adalah kenyataan, bahwa tidak semua lembaga ilmu memberikan bekal itu kepada anak-anak kita.

Kenyataannya, kita lebih sering harus memberikan kepada mereka bekal setengah-setengah. Artinya, dimensi bekal itu sendiri tidak bisa menyeluruh. Mungkin terlalu bernilai serba akhirat, terlepas dari dunia.

Hasilnya, anak didik tidak siap bersaing dalam gerak cepat dan gelombang keduniaan. Mereka tersingkir dari perputaran yang semakin cepat. Artinya peran mereka sangat kecil, karena aktivitasnya hanya meliputi lingkungan yang sangat sederhana.

Mereka tidak ada pun, tidak berpengaruh apa-apa terhadap masyarakatnya, apalagi terhadap stabilitas negara dan dunia.

Sebaliknya ada bekal yang terlalu mengagung-agungkan dunia. Seakan manusia hanya akan hidup sekali ini saja, sehingga surga dan neraka juga harus bisa disaksikan dan dirasakan saat masih hidup di dunia.

Dengan bekal sedemikian, banyak diantaranya yang berhasil meraih sukses. Kekayaan, kekuasaan, kemewahan, mereka nikmati tanpa beban apa-apa. Gaya hidup yang serba bebas dan glamour merupakan bumbu kehidupan keseharian mereka.

Senyum, tawa, dan bau parfum mereka merebak ke mana-mana. Tetapi karena salah didik, mereka lupa selain urusan dunia. Surga yang telah mereka minta semasa hidup, tidak akan lagi mereka dapatkan setelah mati.

Berapa kerugiannya? Ibarat tidur setengah jam di sore hari kemudian terbangun dan gelisah ketakutan sampai pagi dan diteruskan sampai malam berikutnya.

Bekal yang berdimensi dunia akhirat ini, kalau memang tidak bisa didapatkan di sekolah, maka tetap menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberikannya. Sebisa mungkin, orang tua harus mencarikan sekolah yang ideal, atau setidaknya paling ideal dari yang tidak ideal.

Tapi bila itupun ternyata masih kurang, orang tua wajib melengkapinya. Karena untuk memperoleh pendidikan, perlu adanya sinergi dan keterpaduan antara di rumah, sekolah dan masyarakat sehingga sekolah dalam hal ini bukanlah satu-satunya tempat anak didik untuk memperoleh bekal yang dimaksud.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap pendidikan anak? Tentunya orang tua yang bijak tidak akan pernah memicingkan mata terhadap wadah pendidikan yang disebut sekolah. Karena bagaimana pun juga, sekolah untuk anak-anak kita sangat diperlukan.

Di sekolah mereka bisa belajar banyak, bagaimana bersosialisasi. Bila mereka hanya dididik semata-mata di rumah sendiri, maka mereka tidak sempat merasakan sakitnya diejek teman-temannya, tidak pernah didorong masuk kolam, tidak juga mengerti bahwa temannya bisa menangis bila pensilnya direbut.

Akhirnya tidak lengkap juga didikan yang mereka peroleh jadinya. Yang penting kita bisa mengantisipasi kekurangan-kekurangan tempat mendidik anak-anak kita.

Berikan tambahan bila kurang, lengkapi bila masih pincang. Kita wajib sadar, bahwa mendapatkan pendidikan yang memadai merupakan hak bagi anak-anak.

Kondisi orang tua tidak boleh menjadi alasan bagi langkah ‘mengorbankan’ masa depan mereka. Kenyataan yang akan mereka hadapi sungguh berbeda dengan apa yang ada sekarang ini.

Kita boleh mendapatkan yang tidak ideal, dulu, dan seperti inilah kondisi kita sekarang. Tetapi jangan sampai hal ini menimpa pula anak cucu kita, karena kita dituntut untuk meninggalkan generasi yang lebih baik.(*)