Beranda blog Halaman 49

Menjadi Dai dan Berdakwah sebagai Pekerjaan Nabi

0

Oleh : Husain Kalado, Ketua Badan Pembina Hidayatullah Sidrap

HidayatullahSulsel.com — Ustad Abdullah Said, pendiri Hidayatullah mengatakan bahwa kita (dakwah) mengangkat pekerjaan nabi, padahal kita ini bukan nabi, dan bahkan kita bukan ulama. Jadi pekerjaan ini sebenarnya berat.

Kenapa bisa begitu, karena dakwah ini pekerjaan nabi, berjuang ini pekerjaan nabi. Dan kita ini pun menggunakan metode Sistematika Wahyu. Berdakwah sesuai dengan urutan turunnya wahyu.

Menggunakan metode ini dalam perjuangan Islam, kita hanya butuh daya dan kekuatan dari Allah. Semuanya hanya kita serahkan urusan kita itu kepada Allah. Tidak akan jadi pekerjaan di Hidayatullah ini jika kita togo, jika kita sombong.

Jangan kita merasa hebat, jangan kita merasa kuat, merasa hebat. Terus kita bilang, saya bisa. Oh belum tentu. Bahkan meskipun kita seorang penghafal Qur’an sekalipun, kalau urusan ini kita tidak melibatkan Allah, berat itu.

Metode sistematika wahyu (SW) ini, mutlak harus melibatkan Allah di dalamnya. Tanpa Allah, kita tidak bisa bergerak.

Perjuangan dengan SW ini, bukan kita sekedar pintar, bukan kita sekedar kaya atau juga kuat.

Pekerjaan kita ini, Allah langsung pimpro (pimpinan proyek) nya, kita hanya melaksanakan amanah, dan jujur di dalamnya. Kita hanya untuk serius berjuang di lembaga ini. Tidak usah banyak bertanya.

Tidak ada istilah tempat kering dan basah. Sama semuanya, intinya kita berjuang dengan sungguh-sungguh.

Ada juga orang yang sok sibuk, sepertinya dia paling terlibat. Padahal kalau orang kerja, dia datang paling lambat, pulang paling cepat. Allah tahu mana yang main-main mana yang pujungan. Allah turun langsung dalam kerja kita.

Ber-hidayatullah itu, dalam hidup berjamaah ini, adalah pengejawantahan kehidupan ber Islam yang sesungguhnya. Kekurangan dan kelebihan yang ada di dalamnya, harus kita nikmati.

Kekuatan ibadah itu menjadi kunci keberhasilan. Harus kuat ibadahnya. Kuat sholat lailnya. Baru kemudian kita bergerak di siang harinya.

(Pondok pesantren Hidayatullah) Gunung Tembak itu, dimulai dari modal nol. Dibangun dari awal, dulu belum ada gedung. Belum ada apa-apa. Dan kita bisa melihat hasil perjuangan saat ini.

Sekarang ini, kita sudah memasuki usia 25 tahun ketiga Hidayatullah. Alhamdulillah, pendidikan sudah maju, pembangunan sudah banyak, banyak kader penghafal Al-Qur’an, dan banyak alumni, tapi kemudian kita harus tetap bergerak dengan motode SW ini. Dengan senantiasa melibatkan Allah di dalamnya.

وَٱتَّبِعْ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيْكَ وَٱصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْحَٰكِمِينَ

Artinya: Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (QS. Yunus:109). (Sarmadani Karani)

*) Tausiyah subuh disampaikan di depan jamaah Hidayatullah Bone, Rabu (27/9/2023). Guru dan dai senior di Hidayatullah Balikpapan ini memberikan ceramahnya dengan gaya dan narasi yang masih berapi-api.

Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara Angkatan V Kuliah Perdana di DPRD Parepare

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Mahasantri Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara mengikuti kuliah perdana sehari di Gedung DPRD Parepare, Senin, (25/9/2023).

Kuliah perdana tersebut dibuka Ketua DPRD Kota Parepare Ir H Kaharuddin Kadir MSi juga menjadi pembicara inti. Pemateri lain oleh Instruktur Nasional GranD MBA Ust Muhdi Muhammad SSosI dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nashri Bukhori MPd.

Dalam sambutan Ust Nasri menguraikanayat spesial untuk seorang Dai, Surah Fushillat ayat 33. “Profesi terbaik itu adalah seorang Dai karena sempurna nawafilnya. Namun akhir ayat ini mengatakan (innaniy minal muslimin) yang artinya Dai itu harus superior harus percaya diri tuk amanah besar ini yakni membukikan Al Qur’an,” tuturnya.

Hari ini sangat spesial, tambahnya, karena kuliah umum ini berlangsung di tempat yang sakral yang semoga ini menjadi awal lahirnya dai-dai tangguh yang ke depan akan mengisi kursi-kursi parlemen ini.

Dalam materi kuliah yang disampaikan, Ust Nasri menguatkan spirit tentang kepemudaan. Bahwa seorang pemuda harus menjadi agent of change. Dai itu harus punya tanggung jawab besar ia akan selalu ikut andil dalam program keummatan.

“Juga pemuda atau para dai harus sadar akan peran iron stock yaitu manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya,” tegasnya.

Apresiasi disampaikan Kaharuddin dalam sambutannya. “Saya yakin ruangan ini akan makin mabarakka’ dengan diisi kegiatan-kegiatan Qur’an seperti ini. Adek-adek sekalian harus sadar bahwa proses inilah yang dimaksud Allah dalam Surah Al Mujadalah ayat 11 bahwa Allah itu meninggikan derajat orang yang berilmu.”

Ia pun mengutip perkataan, “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

Pada materinya, alumnus magister Program Study Administrasi tersebut mengangkat tema tentang Kepemimpinan.

“Kepemimpinan itu merujuk kedalam karakter atau sifat, siapa saja yang mampu memberikan pengaruh terhadap khalayak ramai maka itulah pemimpin,” urainya.

Selain itu, tambahnya, telah ada pada diri Rasulullah sosok pemimpin yang ideal nan sempurna, sifat Siddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah.

Sementara Ust Muhdi menegaskan bahwa rekontruksi aksi nyata mencetak generasi Qur’an bermodalkan 4 hal yaitu, Sadar Ilahi, Sadar Institusi, Sadar Jama’i, dan Sadar SDI.

Pada kesempatan itu dilaksanakan penandatanganan MoU Pos Dai Sulsel bersama Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara yang juga disaksikan oleh Ketua DPRD Kota Parepare. (Abu Haniyyah)

Akselerasi dan Gebrakan Dakwah Hidayatullah di Kota Cinta Habibi-Ainun Parepare

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Kota Parepare adalah sebuah kota kecil di propinsi Sulawesi Selatan. Parepare terletak di teluk yang menghadap ke Laut Makassar berbatasan dengan Kabupaten Barru dan Kabupaten Pinrang.

Wilayah kotanya tidak luas namun penduduk cukup padat, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang dan nelayan yang bermukim di daerah pantai, selebihnya bermukim di wilayah perbukitan berbatu cadas.

Memasuki gerbang Kota Parepare dari arah Kota Makasar (arah selatan) kita akan disuguhi pemandangan indah di sepanjang bibir sungai Tonrangeng yang ditata dengan sangat asri dan apik.

Di sisi kanan bibir sungai berjejer cafe-cafe menyerupai perahu besar dengan desain tradisional yang tampak sangat alami. Di sisi kiri ke arah muara sungai tampak perahu nelayan bercat dasar putih berjejer rapi tertambat di pinggiran sungai.

Di ujung muara sungai yang berbatasan dengan Laut Makassar berdiri megah Rumah Sakit Umum dr Ainun Habibi. Baliho besar bertuliskan “Selamat Datang Di Kota Cinta Habibi-Ainun” memberi sambutan hangat kepada siapa saja yang berkunjung atau melintas di Kota Parepare.

Parepare memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya lembaga perjuangan Hidayatulllah. Saat Allahuyarham ustadz Abdullah Said berhijrah ke Balikpapan transit di rumah kediaman ustadz Abdurrahman Muhammad di daerah pinggiran pantai Matirotassi Kota Parepare. Rumah bersejarah tersebut saat ini telah dibongkar dan digantikan dengan bangunan megah berlantai 3 sebagai Gedung Dakwah Hidayatullah (GDH) Sulawesi Selatan.

Geliat Dakwah Hidayatullah di Kota Parepare semakin terasa dengan kehadiran Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara Parepare yang saat ini (tahun 2023), sudah berhasil mencetak dan mewisuda kader-kader dai muda yang tangguh sebanyak 4 angkatan.

SDH Sultanbatara didirikan pada tahun 2019 oleh Dewan Pengarus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, DPW Hidayatullah Sulawesi Barat dan DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara. Nama SDH Sultabatara diambil dari akronim Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Walaupun usianya masih tergolong muda, SDH Sultanbatara Parepare dibawah bimbingan mudir dan para dosen alumni Timur Tengah, alumni LiPIA Jakarta, Ar Royyah Sukabumi dan alumni SDH Ciomas Bogor, telah mengukir prestasi yang luar biasa, khususnya dalam memajukan dakwah di 3 propinsi yaitu Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara, lebih khusus lagi di bumi Bandar Madani yang akhir-akhir ini tenar dengan sebutan “Kota Cinta Habibi-Ainun”.

Miltansi alumni SDH Sultanbatara dalam menghidupkan dan mengembangkan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) patut mendapat ancungan jempol. Bermula dari pendirian RQH Husnul Khotimah pada tahun 2021 yang dikerjasamakan dengan majelis taklim di Kecamatan Bacukiki Barat, kini telah berkembang menjadi 8 RQH yaitu RQH Husnul Khotimah, Ar Razak, Yasmin, Al Ummah, Ar Rahim, Hidayatullah, An Najm, Al Jazari, dengan jumlah santri RQH berjumlah 120 orang, yang semuanya diinisiasi oleh Departemen Dakwah Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Parepare dan 9 Majelis Taklim di Kecamatan Bacukiki Barat.

Gedung Dakwah Hidayatullah dengan fasilitas aula dan penginapan yang standar serta posisi yang sangat strategis menghadap ke laut Makassar, menjadi pusat kegiatan pendidikan dai dan pembinaan ummat khususnya di Sulawesi Selatan .

Untuk meluaskan jangkauan dakwah melalui media sosial maka Departemen Dakwah DPW Hidayatulllah Sulsel selaku penanggungjawab Gedung Dakwah Hidayatullah Sulsel melengkapi fasilitas berupa Studio Peradaban yang telah diresmikan oleh Ketua DPRD Kota Parepare Ir.H.Kaharuddin Kadir M.Si disaksikan Ketua Departenen Rekruitmen dan Pembinaan Anggota, Iwan Abdullah, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Drs Nasri Bohari MPd dan Kepala Cabang BSI Parepare.

Sinergi dan kolaborasi menjadi kunci sukses gerakan dakwah. Beberapa unsur penguat gerakan dakwah yang ada di Kota Parepare seperti Persaudaran Dai (Posdai) Sulsel, SDH Sultanbara, Gedung Dakwah Sulsel, Gerai BMH Parepare, DPD Hidayatullah Parepare dan Dewan Kemakmuran Masjid Al Mubarak Kampus Madya Hidayatullah Parepare serta majelis taklim kecamatan yang ada di Bacukiki Barat Kota Parepare bersinergi dan berkolaborasi dibawah komando dan kordinasi Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel sekaligus Ketua Posdai Sulsel Ustadz ustadz Reskyaman SW MM.

Setelah bekerjasama dengan majelis taklim untuk pemgembangan RQH, gerakan dakwah di Parepare diperkuat dengan menggandeng Ketua DPRD dan Pemerintah Daerah (Pemda) kota Parepare yang direalisasikan dengan kolaborasi pemgembangan SDH dan penambahan fasilitas Gedung Dakwah Sulsel, termasuk memberikan fasilitas ruang paripurna DPRD Parepare untuk Kuliah Perdana SDH Sultanbatara Parepare angkatan kelima dan kegiatan kegiatan dakwah keummatan yang diusung oleh Hidayatullah.

Ketua DPRD Parepare yang didaulat untuk memberikan sambutan dan dan membawakan materi kepemimpinan pada kegiatan Dauroh Ta’rifiyah atau Kuliah Perdana Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara 25 Desember 2023 yang digelar di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Parepare memberikan apreasiasi dan siap memberi dukungan untuk pemgembangan dakwah Islam di kota Parepare. (Dwi Fii Amanillah)

Laznas BMH-SDH Komitmen Bersama Lahirkan Dai Muda

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menandatangani nota kesepahaman dengan Sekolah dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara, Parepare, Ahad (24/9/2023).

Komitmen nota kesepahaman tersebut berupa pemberian beasiswa sebesar Rp 48 juta untuk periode dua semester di tahun ajaran 2023/2024. Tahun ini merupakan angkatan ke 5 yang menerima sebanyak 23 orang mahasantri.

SDH sekolah yang dikhusukan untuk mendidik para calon dai ini telah menempatkan para alumninya diberbagai wilayah untuk tugas dakwah.

Pembelajaran baru ini ditandai dengan kuliah umum yang dilaksanakan di Gedung Paripurna DPRD Kota Parepare, dengan keynote speaker Ketua DPRD Kota Parepare, Kaharuddin Kadir.

Hadir dalam kesempatan yang sama memberikan materi Instruktur Nasional GranD MBA Ustadz Muhdi Muhammad, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Drs Nasri Bohari MPd.

Direktur Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara, Ustadz Habibi Nursalam menyampaikan atensinya atas bantuan yang selama ini telah diberikan oleh Laznas BMH kepada lembaga yang dipimpinnya.

“Kerjasa sama ini terlaksana karena kita punya keinginan yang sama untuk bisa mendidik calon-calon dai muda yang siap dan komitmen untuk melaksanakan dakwah di berbagai wilayah di pedalaman, dan alhamdulillah para aluminya pun telah tandang ke gelanggang kebanyak tempat,” ujar Ustadz Habibi.(Basori)

Ingin Tenang Hati, Carilah di Tiga Tempat Ini

0

HidayatullahSulsel.com — Hidup tenang dan bahagia adalah dambaan setiap manusia. Siapapun dia, tabiatnya sudah pasti menginginkan untuk menikmati hidup tenang dan bahagia itu.

Tak ayal lagi, hanya untuk menggapai hal itu, dia pun tak memperdulikan seberapa pengorbanan yang harus diberikannya. Yang penting hatinya bisa menjadi tenang dan bahagia.

Lalu, bagaimana pula caranya agar memiliki hati yang tenang dan bahagia ?

Seperti kita fahami bersama, bahwa hati manusia adalah sepenuhnya dalam genggaman-Nya, Maka perkara hati tenang dan bahagia adalah hanya dengan pendekatan diri pada-Nya dalam bingkai keimanan.

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat”, yaitu ketika mendengarkan Al-Quran, di majelis dzikir (yang didalamnya diajarkan Al-Quran dan As-Sunnah) dan di waktu-waktu engkau menyendiri ketika bermunajat kepada Allah”

Manakala seseorang sudah bersusah payah berbuat dalam pencarian ketenangan hati di tiga tempat itu, tapi tak kunjung menemukannya, oleh Ibnu Qayyim selanjutnya mengatakan, “Jika engkau tidak dapati hatimu di tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah agar menganugerahkan hati karena sesungguhnya engkau tidak punya hati.”

Pertama, bahwa perlunya mendengarkan Al-Quran dengan baik. Karena berkat kemuliaan Al-Quran membuat seorang muslim memiliki adab dan kemuliaan dalam mendengarkannya.

Dengan mendengarkannya penuh pemaknaan, maka menjadikan Al-Quran sebagai obat hati (syifa’). Kala dada seseorang terasa sempit oleh berbagi macam penyakit hati, niscaya akan terobati dengan bacaan Al-Quran.

Allah Ta’ala Berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus : 57)

Betapa dengan mendengar bacaan Al-Quran sebagai Qalamullah, tidaklah seperti mendengarkan bacaan yang lain. Tentulah akan lebih menemukan ketenangan hati lebih dari mendengarkan bacaan-bacaan apapun. Tak terkecuali lebih dari sekedar mendengarkan suara musik.

Untuk itu, agar bisa menikmati ‘suara’ Ilahi dari Al-Quran, diperintahkan-Nya untuk mendengar dan menyimaknya saat dibacakan ayat Al-Quran. “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf; 204)

Yang kedua, bahwa ketenangan hati yang hakiki hanya dengan iman. Dan didapatinya dalam majelis dzikir dengan ilmu sya’i.

Rasakan dengan baik dan benar tentang ketenangan hatimu lewat majelis ilmu saat Al-Qur’an disenandungkan, ketika hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibacakan. Adakah terasa kenikmatan berbeda dengan bacaan dan senandung lainnya ?

Bagi pencinta ilmu dan majelis dzikir, Rasulullah memotivasinya dalam hadits riwayat Abu Hurairah ra, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)

Selanjutnya yang ketiga, ketenangan akan didapatkannya manakala mengkhususkan waktu-waktu untuk menyendiri dalam bermunajat kepada Allah.

Baik di siang hari di waktu ba’diah subuh, dhuha dan shalat lainnya, apalagi di sepertiga malam terakhir, adalah waktu-waktu terbaik untuk menyendiri dalam bermunajat kepada Allah.

Nikmatnya berjumpa dengan Sang Khalik, adalah kala manusia umumnya larut dan tidur pulas dalam istirahat malamnya. Justru seorang hamba menyibak selimutnya untuk bersegera bangun bersimpuh rukuk dan sujud, berdzikir dan istighfar di akhir malam.

Dalam keheningan malam, di sanalah akan merasakan lezatnya iman dan nikmatnya berkasih cinta dengan-Nya, sesuai perintah-Nya dalam QS. Al-Muzammil ayat 1-7.

“Bangun malam seperti itu menjaminkan terpujinya derajat seorang hamba. “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(QS.-Al-Isra: 79)

Bersegera meraih ketenangan dan kebahagiaan hati dengan bermunajat kepala-Nya dengan dzikir, istighfar dan do’a di waktu-waktu mustajab.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dalam Majmu’ Fatawa 10/637, menasehati, “Hendaklah seorang hamba memiliki waktu khusus menyendiri untuk berdoa, shalat, merenung, muhasabah dan memperbaiki hatinya”.

Mengetahui dan menyadari akan kondisi hati kita, patutlah kiranya kita berdoa kepada Allah. Doa yang dicontohkan baginda Rasulullah, agar kaum muslimin terhindar dari empat perkara.

Do’a tersebut dalam hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).”(*)

Ketua DPRD Parepare Buka Pelatihan GranD MBA bagi Dai Guru Mengaji. Turut Resmikan Studio Peradaban

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel dan DPD Hidayatullah Parepare menyelenggarakan Pelatihan GranD MBA di Gedung Peradaban Hidayatullah Parepare, Jum’at-Ahad (22-24/9/2023). Sebanyak 90 peserta kegiatan yang dibuka Ketua DPRD Kota Parepare Ir H Kaharuddin Kadir MSi itu.

Pelatihan menghadirkan dua instruktur DPP Hidayatullah. Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Rezkiyaman SW SPd MM mengatakan dengan pelatihan tersebut optimis Sulsel akan menjadi mercusuar kegiatan-kegiatan pelatihan Qur’an. “Bahkan ke depan kita yakin instruktur-instruktur Qur’an akan lahir di tanah Sulsel ini,” ujarnya.

Mengambil spirit QS Yunus ayat 57 Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Drs Nasri Bohari MPd dalam sambutannya mengungkapkan kehebatan efek dari ayat ini.

Bahwa Al Qur’an ini selain sumber dari segala ilmu juga Qur’an ini adalah penawar dari segala penyakit sumber kemudahan rujukan dalam menjalankan program keummatan.

“Jadi siapa saja yang berQur’an kaaffah maka dia akan benar-benar akan merasakan pertolongan dari Allah Subhanahu wa ta’ala,” tambahnya.


Dalam sambutan pembukaan Kaharuddin Kadir sangat mengapresiasi kegiatan ini rutin dilaksanakan.

“Di Parepare ini butuh sosok Dai seperti dai Hidayatullah yang tahan banting dan loyal akan amanahnya. Saya tahu betul itu bagaimana ritme di Hidayatullah. Bagaimana kemudian ketaatan kadernya ini sangat militansi mentaati perputaran penugasan kader yang sangat kencang tapi kemudian banyak hasil yang bisa kita liat, tak sedikit yang berkarya nyata di pedalaman menjadi dai dan guru ngaji,” tuturnya.

Saya mewakili Pemerintahan Kota Parepare, tegasnya, sangat siap bersinergi dengan program-program keummatan Hidayatullah ini. “Kantor saya akan selalu open bagi kader-kader dakwah Hidayatullah,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan pembukaan pelatihan tersebut di-launching studio peradaban yang berlangsung hangat dan khidmat dengan proses pengguntingan pita oleh Ketua DPRD Kota Parepare didampingi Iwan Abdullah MSi dan Muhdi Muhammad S.Sos (Instruktur Pusat Hidayatullah).

Kepala BSI Cabang Kota Parepare Andi Baso juga menyempatkan hadir diacara ini.

Alhamdulillah Ketua DPRD Kota Parepare dan Kepala Cabang BSI Kota Parepare keduanya menjanjikan sarana pendukung studio peradaban ini.(Abu Haniyyah)

Hidayatullah Maros-BMH Kembali Bangun Masjid

0

Maros, Hidayatullah Sulse.com – Dewan pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros dan Baitul maal Hidayatullah ( BMH) melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan masjid, Sabtu (23/9/2023).

Kegiatan dilaksanakan dilokasi tanah wakaf pondok pesantren Modern Tahfidzul Qur’an Yatimdhuafa Al Alaq, Dusun Mangngai Desa Damai, Tanrali, Maros.

Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan masjid agar menjadi ladang amal bagi siapa pun yang merindukan rumah di surga serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

“Tugas kita hanya perlu menjadi orang yang terlibat dalam pembangunan rumah Allah. Bagi yang punya harta lebih berarti dengan hartanya, bagi yang punya ilmu berarti membangun masjid dengan ilmunya, bagi yang punya tenaga, bagaimana bisa berkontribusi dengan tenaganya, karena dengan ikut serta membangun rumah Allah, berarti sama saja kita sedang membangun rumah di surga,” kata Ustadz Kaisar.

Hadir Ketua BMH gerai Maros Ust Fatahillah Abu Sitta. Ia menyampaikan pesantren dirancang modern yang memiliki nilai keterbukaan dalam segala aspek.

Pewakaf tanah turut hadir, dalam sambutannya, ia berucap dunia adalah sementara kita akan meninggalkannya untuk menuju kampung akhirat, maka perbanyaklah kebaikan, ia menitipkan wakaf ini agar digunakan untuk masyarakat sekitar, dikelola dengan penuh tanggung jawab

Ibu Rini warga sekitar sangat bahagia dan senang atas hadirnya pesantren. “Terlebih masyarakat disini juga tidak punya masjid, maka ini sangat membantu kami,” tuturnya.

Hadir pula pada kegiatan tersebut tokoh masyarakat, perwakilan KUA Tanralili, yang disaksikan kurang lebih 100an masyarakat dan santri.

Doa bersama dipimpin puang abu Agar berharap masjid yang dibangun menjadi ladang amal bagi siapa pun yang merindukan rumah di surga serta meraih kebahagiaan di dunia dilancarkan pembangunannya.

“Semoga tidak ada halangan, dan terkabulnya doa sehingga pembangunan masjid ini terwujud bagi kesejahteraan santri dan warga sekitar,” ucapnya.(rls/*)

Intens Berinteraksi dengan Al Quran Solusi Atasi Degradasi Spiritual

0

Oleh : Dwi Fii Amanillah, Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ada keprihatinan dan kegalauan yang menyeruak ke dalam hati, menyaksikan fenomena melemahnya ghiroh beribadah yang melanda sebagian besar generasi muda muslim saat ini.

Indikatornya sangat jelas terpampang di depan mata, seperti sulitnya para generasi muda milenial untuk hadir di saff terdepan ketika sholat subuh, atau pun hadir di majelis- majelis pengajian dan sangar sulit untuk bangun bergegas ke masjid saat adzan berkumandang.

Fenomena lainnya adalah banyak di antara terjebak pada keasyikan bermain game-game yang mengajarkan kekerasan, asyik nonton film melankonis dan video-video tak senonoh yang penuh adegan kemaksiatan serta tontonan lainnya yang kurang berfaedah.

Degradasi spiritual atau penurunan kualitas ruhiyah menjadi asbab terbesar degradasi dan kebobrokan moral yang melanda ummat manusia. Semakin jauh manusia dari tuhannya maka lebih mudah bagi setan untuk mempermainkan dan menjerumuskannya dalam lobang dan kubangan kemaksiatan.

Jika di zaman dahulu godaan yang sering membuat manusia jauh dari tuhannya adalah keasyikan memburu harta dan ketertarikan kepada wanita maka di era milineal seperti saat sekarang ini, godaanya sudah semakin komplit dan kreatif sesuai kencenderungan hawa nafsu sehingga tanpa disadari menghabiskan waktu dan umur.

Seakan tidak ada waktu yang terlewat begitu saja tanpa berselancar di dunia maya mencari kenalan dan hiburan.

Pada kegiatan Kuliah Subuh di hadapan calon mahasantri dan alumni Sekolah Daiyah Hidayatullah Bone Ustadz Dr Abdul Aziz Qahar Mudzakar, MSi menggambarkan kondisi manusia yang jauh dari Al Qur’an dengan mengutip ayat 179 Surah Al Araf,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.”.

Mereka itulah orang-orang yang lalai.yang sangat minim berinteraksi dan bersentuhan dengan Qur’an. Hatinya akan kosong dari pemahaman Al Quran dihinggapi oleh berbagai macam penyakit jiwa.

Al Qur’an adalah makanan bagi ruh manusia, sehingga ruhani tidak mungkin hidup tanpa berinteraksi dengan Al Qur’an. Manusia jika tidak eksis Qur’an dalam dirinya maka prilakunya bisa lebih bejat daripada hewan.

Sebinal-binalnya binatang tidak ada binatang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya sebagaimana yang dilakukan kaum LGBT.

Ustadz Aziz juga secara runut menguraikan 5 tahapan cara berinteraksi dengan Al Quran, Dimulai dari meyakini kebenaran Al Quran, mengilmuinya, mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkannya.

Contoh meyakini Al Qur’an adalah meyakini kewajiban berjihad di medan perang bagi laki-laki muslim yang taruhannya adalah nyawa dan syariat yang membolehkan poligami.

Maka jika ada wanita yang menolak poligami dengan mengatakan kepada suaminya “Jika engkau menikah lagi maka ceraikanlah aku atau langkahi dulu mayat ku, itu adalah sikap dan ucapan wanita-wanita kafir yang tentu saja bertentangan dengan isi kandungan Al Quran” ungkap ustadz Aziz dengan nada tegas.

Mengisi waktu dengan tadarrus Al Quran mentadabur dan mempelajari isi kandungannya akan memberikan ketentraman hati dan membangkitkan spirit serta menguatkan jiwa untuk mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkannya, agar nilai-nilai Al Quran bisa teraplikasi dalam kehidupan ummat manusia.

Kedekatan manusia kepada Al Quran tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalkan saja tapi harus disertai upaya yang sungguh-sungguh untuk memahami makna ayat-ayat Al Quran.

Menjadi penghafal Quran bukan jaminan untuk langsung mendapat tiket masuk ke dalam surga. Beberapa penghafal Qur’an yang hidup di zaman sahabat Nabi Muhamad SAW, justru ada yang murtad bahkan berbalik memusuhi Islam. Godaan kenikmatan duniawi berupa tahta, harta dan wanita menjadi penyebab runtuhnya kecintaan dan keyakinan terhadap Al Quran.

Berinteraksi dengan Al Quran secara intens dan mempraktekkan seluruh tahapannya secara sungguh-sungguh akan menjadi benteng bagi jiwa manusia agar selamat dari gempuran fitnah dunia yang semakin canggih dan banyak ragamnya.

Dan yang lebih penting adalah Al Quran menjadi menjadi syafaat di akhirat kelak bagi mereka yang senantiasa berinteraksi dengan Al Quran dengan penuh kecintaan.(*)

Laznas BMH Bangunan MCK dan Tempat Wudhu Santri Ponpes Al Hijrah

0

Lutra, Hidayatullah Sulsel.com — Santri Ponpes Al Hijrah di Desa Uraso Masamba, Luwu Utara, segera menikmati kemudahan mengakses sarana kamar mandi dan toilet. Selama ini harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai ke kamar mandi dan toilet.

Jarak asrama dan MCK santri cukup jauh, karena kondisi tempat tinggal yang belum di lengkapi dengan fasilitas MCK. “Bahkan Jika malam hari, santri yang hendak buang hajat harus lebih berhati-hati Selain gelap kadang ular atau binatang liar lainnya yang mengancam,” tutur seorang pengasuh, Amal Saleh.

Laznas BMH mulai membantu pembangunan fasilitas bagi kebutuhan santri tersebut

“Alhamdulillah Wa Syukurillah Ala Kulli Hal, hari ini harapan dari para santri memiliki Kamar mandi dan toilet yang dekat dari asrama sudah terlihat,” ujarnya.

Terlihat wajah gembira dari mereka saat petugas laznas BMH bersama mobil picup masuk ke pondok membawa material untuk pembangunan MCK dan Tempat wudhu mereka.

“Iya Insya Allah bulan ini (September) ini kita berikhtiar menghadirkan Fasilitas MCK & Tempat Wudhu untuk Santri di Uraso, material berupa closet jongkok, Batu pondasi, pasir dan besi sudah kita adakan sekarang sisa pengerjaanya dan sedikit menambah ongkos kerja dari tukang,” ungkap Basori Kadiv. Prodaya BMH Sulsel.

MCK dan tempat wudhu ini menjadi kebutuhan utama adik-adik santri yang saat ini sedang menuntut
ilmu. Terutama untuk bersuci dan buang hajat.

Semoga amal jariah bapak ibu, menjadi syafaat di yaumil akhir kelak, menghadirkan solusi untuk bersuci
dan menjadi wasilah atau jalan terbaik baik bagi adik-adik yang sedang menuntut ilmu di tempat ini.

“Semoga bisa ada tempat wudhu dan MCK di asrama ta’ cepat dibangun dan dimudhakan ki’ semua bmh dan donatur” doa harapan Ahyar salah satu santri di Uraso.(risky)

Dari Ustadz Bur ke Ustadz Dani, Sambut Fajar Kebangkitan Dakwah di Kampus Madinatul Quran Hidayatullah Bulu Cenrana Sidrap

0

Sidrap, HidayatullahSulsel.com — Kabupaten Sidrap termasuk daerah penghasil beras terbesar di Indonesia, ribuan hektar sawah terbentang luas dengan sarana pengairan yang memadai

Jaringan dakwah Hidayatullah mulai merambah di Kabupaten Sidrap pada 2012 lalu dengan hadirnya seorang kader dai handal Ustadz Burhanudin di lokasi lahan pesantren dengan luas lebih dari 3 hektar di kawasan Desa Bulu Cenrana Kecamatan Pituriawa, Sidrap.

Lahan tersebut diwakafkan oleh dai senior Hidayatullah asal Sidrap Ust Husen Kalado.

Ust Bur atau biasa pula disapa “Puang Karua” dengan gayanya yang gaul dan humoris juga dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan mantan pimpinan KPK Abraham Samad.

Asbab kedekatan tersebut Abraham Samad pun bersedia meminjamkan rumahnya untuk tempat pengkaderan mahasiswa melalui program Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) yang dikelola oleh Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulsel.

Selain itu Pulang Karua juga berperan besar dalam proses hibah bangunan 3 lantai Gedung Dakwah Hidayatullah Makassar.

Dengan bekal Surat Tugas, sosok lincah itu memulai membuka jaringan dakwah di Bumi Nene Malommo Sidrap pada 2012 dan menggarap lahan wakaf dan memulai perintisan Kampus Madinatul Qur’an Hidayatullah Bulu Cenrana Sidrap pada tahun 2016.

Jerih payahnya selama 4 tahun merintis Pesantren Hidayaullah Bulu Cenrana Sidrap membuahkan hasil dengan berdirinya 2 lokal bangunan permanen yakni masjid dan ruang belajar (belum rampung) yang merupakan bantuan dari Bupati Sidrap Dolla Mando.

Terdapat pula 2 bangunan rumah kayu yang berfungsi sebagai kantor dan rumah tinggal pengurus.

Kampus Hidayatullah Bulu Cenrana memiliki lahan dengan kontur berbukit, datar dan lembah. Di atas lahan yang berbukit berdiri bangunan masjid besar yang bisa menampung ratusan jamaah dan 2 ruang kelas yang saar ini berfungsi ganda sebagai asrama dan ruang belajar.

Ada pun lahan datar yang cukup luas hingga saar ini belum digarap secara maksimal, sedangkan lahan dengan kontur lembah dimamfaatkan sebagai kolam budidaya ikan nila.

Tahun 2021 terjadi rotasi pengurus di lingkup Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Bur mendapat amanah baru sebagai pendamping cabang perintisan Hidayatullah Kabupaten Toraja dan Toraja Utara. Pengurus Pesantren Madinatul Qur’an Hidayatullah Bulu Cenrana selanjutnya diserah terimakan kepada Ustadz Sarmadani Kirani yang sebelumnya menjabat Ketua Yayasan Madinatul Izzah Mubarak Hidayatullah Lamtanre Pinrang. Ust Dani sebelumnya mantan Ketua Badan Pengurus Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar.

“Kampus Pesantren Madinatul Qur’an bukanlah kampus utama di lingkup Hidayatullah Sulsel tapi merupakan kampus yang diutamakan karena memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kampus utama di masa depan,” ujar Ust Bur menyemangati pengembangan kampus tersebut.

Lahan yang luas dan lingkungan yang sejuk dan asri serta sumber air yang melimpah menjadi daya tarik sekaligus berpotensi untuk dikembangan menjadi kampus pesantren yang besar.

Qadarullah Ketua yang terpilih untuk memggatikan Ustadz Bur adalah kader tangguh memiliki pengalaman mengelola kampus utama Al Bayan Hidayatullah Makassar.

Berbekal pengalaman merintis dan mengelola 2 kampus besar yakni kampus Pesantren Hidayatullah Al Bayan Makassar dan Madinatul Izzah Mubarak Lamatanre Pinrang, Ustadz Sarmadani bergerilya dan bergerak cepat merampungkan masjid dan gedung sekolah buah karya pengurus sebelumnya (Ust Bur).

Saat ini bangunan masjid sudah bisa dipergunakan untuk tempat Ibadah dan kegiatan-kegiatan besar seperti halaqoh gabungan yang baru saja di helat pada pertengahan September 2023 .

Untuk menopang kemandirian pesantren, Ustadz Sarmadani yang lebih sering dipanggil Ustadz Dani mengembangkan budidaya ikan Nila dan pengolahan telur asin.

Telur asin dengan brand ” Telur asin Pak Dani” telah populer dan banyak diminati masyarakat di kota Tanru Tedong, Pangkajene dan kota Daeng Makassar serta cabang-cabang pesantren Hidayatullah baik di wilayah Sulawesi Selatan maupun di luar propinsi Sulawesi Selatan.

Bagi tamu yang pernah berkunjung ke Kampus Pesantren Madinatul Qur’an akan sangat terkesan dan merindukan suasana nyaman duduk bersila di saung yang terletak tak jauh dari masjid dan kolam ikan nila sambil menikmati kelezatan nila bakar dan ayam palekko yang dihidangkan panas-panas bersama nasi ketan hitam (sokko’ hitam). (Dwi Fii Amanillah)