Beranda blog Halaman 48

Dihadiri Bupati Luwu, Santri Hidayatullah Belopa Ikuti Upacara Hari Santri Nasional

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren, para tokoh-tokoh agama, beserta berbagai elemen-elemen pemerintah daerah se-Luwu memadati lapangan Andi Djemma Belopa dalam tajuk semarak Hari Santri Nasional (HSN) Ahad (22/10/2023).

Bupati Luwu, Dr H Basmin Mattayang MPd, menyampaikan pesan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada HSN bertema ‘Jihad Santri, Jayakan Negeri’.

“Jihad memiliki makna yang mendalam. Jihad tidak selalu soal pertempuran fisik. Tetapi jihad juga perlu disesuaikan dengan tantangan kontekstual saat ini. Ada banyak tantangan yang harus kita jawab. Seperti tantangan kesejahteraan, pendidikan dan ekonomi. Dan usaha untuk menjawab itu semua merupakan Jihad bagi kita,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Al-Jihad Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan SPd, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah karena telah mencanangkan hari yang spesial bagi seluruh ummat Islam tanah air, khususnya bagi para santri Indonesia.

“Hari ini merupakan wujud kepekaan pemerintah terhadap kontribusi besar yang telah diberikan oleh para santri, dan juga para ulama terdahulu yang telah rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ungkap ustadz kelahiran Bone tersebut.

Lebih lanjut, Hamzah Sultan menyebut keikutsertaan santri putri Hidayatullah Belopa dalam semarak Hari Santri Nasional sebagai wujud kecintaan terhadap Indonesia.

“Keikutsertaan santri kami dalam kegiatan perkemahan, maupun upacara perayaan Hari Santri Nasional dalam rangka memupuk kecintaan mereka kepada negeri ini. Dan napak tilas terhadap sejarah perjuangan para pahlawan dari kalangan santri dan ulama terdahulu,” kata Hamzah.

Secara historis, Hari Santri Nasional merupakan manifestasi dari Fatwa Resolusi Jihad yang diputuskan dalam Rapat Besar Konsul-Konsul se-Jawa dan Madura pada 21-22 Oktober 1945 di Surabaya, Jawa Timur.

Resolusi itulah yang kemudian menjadi tonggak bersejarah pertempuran sengit para pahlawan, santri dan ulama di Surabaya. Hari yang di mana kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan 10 November. (Ian Kassa)

Laznas BMH Gerai Maros Turunkan Pasukan Khusus Bela Palestina

0


LAYANAN UMAT, HidayatullahSulsel.com — Baitul maal Hidayatullah (BMH ) gerai Maros dan delapan relawan diturunkan untuk lakukan aksi bela Palestina dengan penggalangan dana untuk rakyat Palestina di Kabupaten Maros, Jumat (20/10/2023).


Ketua BMH Gerai Maros Fatahillah Abu Sitta hadir memberikan energi spiri Al Aqsa. Dalam penyampaiannya, niat suci menjadi poin utama, kedua yang dilakukan baik dan benar, Maka insya Allah kehidupan kita akan memberikan manfaat, terlebih lagi kegiatan aksi bela Palestina adalah panggilan iman dan kemanusiaan.

Staf Amil BMH, Refli Amil mengajak semua relawan melakukan doa bersama dan memberikan arahan agar kegiatan aksi berjalan dengan baik.

Koordinator lapangan (korlap), Edwin Umar mengatakan bahwa kegiatan aksi bela Palestina merupakan panggilan kemanusiaan, sejalan dengan tagline BMH Maros Peduli dan Melayani.

Kegiatan pengumpulan dana Peduli Palestina berlangsung di empat titik menjadi tempat aksi, lampu merah dekat BRI, masjid Al Markaz, dan masjid KPP pajak Maros, dan pasar Butta Salewangan.(rls)

Santri Hidayatullah Juara, Wakili Parepare di Aritmatika Sulselbar

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Dua siswa SMP Hidayatullah Parepare, Fitri Ramadhani dan Thalia Anugerah, mewakili Kota Parepare di tingkat provinsi se-Sulselbar dalam Ajang Kreativitas Matematika (Aritmatika) di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Sabtu (7-8/10/2023).

Kegiatan ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar.

Keduanya mewakili Parepare setelah berhasil menjadi tiga terbaik dalam Aritmatika tingkat kota Parepare.

Pendamping lomba, Irmayanti mengaku sangat bersyukur sebab ini adalah pengalaman pertama mereka mengikuti lomba dan meraih juara. Sehingga berhak untuk mewakili di tingkat provinsi maka selama dua pekan sebelum ke babak selanjutnya kedua finalis diberikan bimbingan tiga kali dalam sehari.

“Keduanya kami berikan pendampingan selama dua pekan, setiap hari, pagi, siang dan sore,” ujarnya.

Sebagai pendamping ia sangat termotivasi untuk menjadikan pengalaman pertama ini untuk bisa lebih mempersiapkan lagi dan berharap menjadi juara ditingkat provinsi di tahun selanjutnya. (Sahlah al-Ghumaishaa’)

Hidayatullah Takalar Bangun Mesjid di Empat Kecamatan

0

Takalar, HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Takalar membangun mesjid di empat kecaman, satu di antaranya telah difungsikan sejak bulan April lalu, saat ini tiga masjid lainnya sedang dalam proses pembangunan.

“Ini dalam upaya memaksimalkan layanan dakwah di tengah-tengah masyarakat,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Ust Arham Baharuddin, Selasa, (10/10/2023).

Salah satu ikhtiar kita untuk pelayanan ummat, rincinya, dengan membangun masjid yang saat ini sudah hadir di empat kecamatan di Takalar yaitu Kecamatan Sanrobone, Galesong Selatan, Polongbangkeng Selatan dan kecamatan Pattallassang.

Ia juga menyampaikan bahwa, nantinya ke empat masjid tersebut selain fungsi utamanya sebagi tempat ibadah juga akan dimaksimalkan fungsinya sebagai pusat pengajian keagamaan dan pendidikan Al-qur’an.

“Masjid yang kita bangun ini, selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah akan sebagai pusat pengajian dan kegiatan pendidikan Al-Qur’an, saatnya sekarang santri santri TPQ/TPA naik kelas menjadi penghafal Al-Qur’an” ungkapnya.

Pembangunan keempat masjid ini terselenggara atas dukungan dan do’a serta partisipasi dari Muhsinin/donatur sebagai pewakaf tanah, upah tukang dan tentunya biaya material bangunan, kepadanya kita doakan semoga menjadi amal jariyah yang terus menerus mengalir pahalanya

Semoga pembangunan mesjid tersebut dimudahkan dalam pengurusan dan pembangunannya sehingga bisa selesai tepat waktu dan dapat dimanfaatkan sebagaimana rencana.(Mansyur)

Geliat Dakwah Hidayatullah Di Toraja Utara

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Penugasan di Hidayatullah adalah sebuah metode pengkaderan. Jika kita ditugaskan di daerah “basah”, mungkin kita tidak menolak.

Tapi apa jadinya jika penugasan itu di daerah sulit, kita minoritas, dan baru merintis berdirinya pondok?. Kondisi inilah yang dialami oleh Ihsan Shaleh, 37 tahun, dai Hidayatullah yang ditugaskan di Toraja Utara.

Saat Ikhsan diberi SK penugasan pada Januari 2021, oleh DPW Hidayatullah Sulsel, Ikhsan tidak menolak. Ia taat. Ia langsung menerima tugas tersebut. “Sebagai bentuk kekaderan, ya harus diterima” ujar putra kelahiran Toli-Toli, Sulteng ini dengan tegas.

Berat. Itulah yang dirasakan Ikhsan saat mulai awal bertugas. Bagaimana tidak berat, Ikhsan harus berjibaku dengan urusan dakwah dan perintisan pondok di Toraja Utara. Yang namanya merintis, pondoknya sendiri waktu itu belum jelas keberadaannya.

Selain itu, IKhsan juga sudah memiliki tanggungan hidup, seorang isteri dengan empat orang anak. “Sementara waktu itu, rumah juga belum ada di Torut” jelas Ikhsan.

Dengan amanah yang ada, Ikhsan tidak goyah. Ia teguh untuk terus berjuang, maju terus pantang mundur. Prinsip yang diyakininya, “Barang siapa yang menolong agama Allah, pasti Allah akan menolongnya.”

Berbekal natura bulanan sebesar 700 ribu rupiah dari DPW Sulsel, Ikhsan terus bergerak. Untuk tiga bulan pertama, ia bolak balik dari Palopo ke Torut. Hidayatullah Palopo adalah tempat tugasnya, sebelum Ikhsan di pindah ke Torut.

“Sebenarnya, uang natura saja itu tidak cukup untuk transport, apalagi untuk keluarga, tapi yakinlah, pasti ada jalan lain” jelas Ihksan.

Awal tugasnya, Ikhsan belum memboyong keluarga. Ia hanya sendiri, dan terkadang mendapat pendampingan serius dari Ustad Burhan, yang menjadi sesepuh dan lebih dulu bertugas di Tator.

Satu bulan bolak balik Palopo Tator, Ikhsan mendapat tumpangan untuk menginap di Masjid Al Mulsafir, Kec. Sangalla, Kabupaten Toraja. Rekomendasi untuk menempati masjid tersebut atas bantuan dari Ibu Fatmawati salah seorang jamaah, dan Bapak Ali Mustafa, Kepala KUA Kec. Sangalla, Toraja.

Pesantren Hidayatullah Toraja Utara

Sambil menempati rumah tersebut, Ikhsan terus mencari lokasi untuk menjadi cikal bakal kampus Hidayatullah di Torut. Alhamdulillah, selama tiga bulan mencari tempat, Ustad Burhan mendapatkan sebuah rumah, dipinjamkan sementara, untuk dijadikan markaz kampus pesantren Hidayatullah Toraja Utara.

Rumah tersebut tergolong rumah mewah. Berdiri di atas lahan seluas ¼ ha, dengan luas bangunan rumah 20 x 30 meter. Rumah tersebut memiliki 6 kamar, 3 kamar mandi, dapur, ruang tengah, teras belakan, dan taman di sekitarnya.

Rumah tersebut adalah milik Bapak Murad Husain almarhum. Murad Husain dulunya adalah seorang Tator Muslim yang sukses menjadi pengusaha. Rumah besar yang berada di Kelurahan Sa’dan Malimbong, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Torut, kini telah menjadi markaz pesantren Hidayatullah di Torut.

Setelah rumah tersebut resmi dipinjam, melaui surat perjanjian yang ada, baru kemudian Ikhsan membawa semua keluarganya.

Saat ini, dakwah Ikhsan mulai bersemi. Ia sudah bisa mengisi ceramah dan khutbah Jumat di masjid-masjid terpencil di Torut. Bahkan Ikhsan sudah langganan mengisi pengajian di Koramil Torut. Selain itu, Ikhsan juga telah memiliki 10 orang santri, tentunya juga termasuk ke empat anaknya.

Dakwah di Torut memang tidak mudah. Bergeraknya harus pelan-pelan dan diam diam. “Saya hanya sendiri Islam di sini, semua di sekitar non Muslim” ungkap Ikhsan. Pergerakan diam-diam dan pelan ini juga menjadi amanat dari Pak Babinsa di Koramil. “Pelan-pelan saja Ustad,” ujar Ihksan menirukan.

Meskipun tetangga non muslim, tapi semua mereka cukup baik. Bahkan beberapa kali Ikhsan mendapatkan rizki, kiriman daging kerbau dari tetangga yang non muslim. Semoga Ustad Ikhsan Shaleh bisa terus berdakwah di Torut, Amin. (Sarmadani Karani)

Menjaga Stabilitas Ruhani di Arena Politik (2)

0

Oleh : Bachtiar Aras,
Aktivis Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Pada dasarnya, setiap fase hidup kita, seluruhnya harus selalu tersinari dengan stabilitas ruhiyah yang baik. Ada kalanya kita melewati sejumlah peristiwa yang memerlukan dukungan dan suplai ruhani lebih kuat dari peristiwa lainnya.

Fase pertarungan politik, adalah satu di antara fase perjuangan yang sangat memerlukan kualitas ruhiyah kuat. Itu karena seseorang dalam fase ini akan banyak bersentuhan dengan berbagai godaan, gangguan, bisikan setan yang bisa menjatuhkannya dalam lembah dosa dan maksiat.

Beberapa persiapan ruhiyah yang penting dijalankan di tengah kancah pertarungan politik adalah:

Pertama, terus menerus meluruskan niat dan memantau kadar keikhlasan. Seseorang yang memasuki arena pertarungan politik, berarti ia akan berinteraksi dengan sisi sensitif dalam kemanusiaannya, yakni yang berurusan dengan masalah harta dan kekuasaan.

Adakalanya orang menyangka bahwa jabatan atau kedudukan sosial bisa menghantarkannya pada kehormatan yang dapat membahagiakan. Untuk itu, banyak orang siap menyuap, menyogok dan berbuat apa saja untuk menduduki jabatan tertentu, ditambah dengan asumsi bahwa tempat itu nantinya terhomat dan tempat ‘basah’.

Biasanya cara perolehan jabatan seperti ini banyak menimbulkan masalah di belakang hari, terutama menjadi lahan subur bagi para penjilat dan kelompok ‘oportunis’.

Jika ini yang terjadi, bisa dipastikan, karir politik dan kekuasaan yang diperolehnya akan berakhir dan berujung dengan tumpukan kekecewaan, akibat landasan niatnya yang rapuh dan pengkhianatan amanat jabatan.

Jabatan tak selamanya membawa kebahagiaan, bahkan tanggung jawabnya berat di kemudian hari. “Apabila kamu lemah, jangan kamu memangku jabatan; karena itu adalah amanat dan akan jadi penyesalan di hari kiamat kelak.” Demikian petuah Rasulullah saw kepada Abu Dzar Al-Ghifari suatu saat.

Keikhlasan dan hakikat niat, tidak terletak pada ucapan seseorang melalui lisannya, ‘demi ini’ dan ‘untuk itu’. Tetapi keikhlasan niat harus merupakan dorongan dalam hati dan berfungsi saat seseorang melakukan ragam aktifitas.

Orang yang hatinya terbiasa menjalankan perintah Allah, akan lebih mudah baginya menghadirkan niat menuju kebaikan dan keikhlasan. Tapi orang yang condong pada dunia dan biasa tunduk pada hawa nafsunya, sangat sulit menghadirkan niat ikhlas dan sangat
sulit pula menjalankan aktifitas kebaikan yang harusnya ia lakukan, kecuali dipaksakan.

Kedua, janganlah mudah tersanjung, terlebih tergiur oleh pujian. Ada banyak kemungkinan dan ancaman di balik pertarungan politik. Seperti ungkapan yang banyak disebutkan orang bahwa dalam dunia pertarungan politik, tak ada teman maupun lawan abadi.

Sebuah dukungan, bisa saja bermakna ‘menjilat’ untuk meraih keuntungan sepihak. Sebuah pujian, mungkin berefek penjatuhan nama baik, bila pujian itu ternyata tak sesuai dengan kenyataan nantinya.

Itulah sebabnya dalam sebuah hadits dari Abu Bakrah ra disebutkan seorang lelaki telah memuji seorang lelaki di hadapan Nabi saw, lalu Rasulullah saw bersabda, “Celaka kamu. Kamu telah memenggal leher temanmu. Kamu telah memenggal leher temanmu.” Rasulullah saw mengulangi ucapan tersebut beberapa kali.

“Sekiranya seseorang di antara kamu mesti memuji sahabatnya maka hendaklah dia berkata aku kira si fulan itu begini-begini, Allah lah yang lebih mengetahui tentang dirinya. Aku tidak memuji siapa pun di hadapan Allah. Aku menganggapnya begitu dan begini, sekiranya dia memang mengetahui hal itu.” (HR. Muslim).

Dukungan dan pujian terhadap suatu partai politik, terkadang bisa memunculkan angin sepoi yang lalu menghanyutkan. Dukungan dan pujian dalam berpolitik, bisa membuat seseorang melambung tinggi, lalu jatuh.

Dukungan dan pujian dalam pertarungan politik, bisa mengakibatkan kelengahan dan kelalaian hingga mudah mengikuti keinginan pihak yang memuji. Dukungan dan pujian juga bisa menjadikan seseorang ujub dan bangga dengan dirinya sendiri, hingga mengecilkan pihak lain.

Perihal sombong, Rasulullah mendefinisikan dalam sebuah riwayat, “Al kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim).

Dua kata kunci, menolak kebenaran dan meremehkan manusia, itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri, ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yang dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majelis, ketika kita merasa tidak enak gelar ustadz tidak disebut, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut, maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita.

Islam mengajari kita cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik. Ketika kita melihat seseorang yang belum dewasa, kita bisa berkata dalam hati, “Anak ini belum pernah berbuat maksiat, sedangkan aku tak terbilang dosa yang telah kulakukan, maka jelas anak ini lebih baik dariku.”

Ketika kita melihat orang tua, “Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa, maka sudah semestinya ia lebih baik dariku.”

Ketika kita melihat seorang berilmu, “Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki, ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh, bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?”

Ketika kita melihat orang bodoh, “Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya, sedangkan aku? Aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat. Betapa besar tanggung jawabku kelak.” Inilah sepatutnya menjadi prinsip agar terhindar dari virus ujub atau kesombongan.

Ketiga, perbanyaklah hubungan dengan Allah SWT untuk memperkuat tarikan langit daripada tarikan dunia. Tarikan duniawi dalam fase pertarungan politik akan lebih keras ketimbang fase waktu lainnya. Di sinilah, seseorang akan lebih mungkin mempunyai interest, korupsi, manipulasi, untuk menarik keuntungan pribadi.

Memang realitasnya, pada level kekuasaanlah peluang terbuka lebih lebar bagi seseorang untuk menyalurkan hasrat nafsunya. Kondisi seperti ini, sangat mungkin diawali dari kekeliruan perkiraan, dan menganggap bahwa kebahagiaan terletak pada berapa banyak materi atau harta yang dimiliki.

Ambillah contoh anggapan, bahwa apabila seseorang mempunyai kedudukan tinggi, rumah mewah, mobil yang wah, pasangan menawan, perusahaan mentereng dan simpanan uang di bank yang menumpuk, serta kekayaan lainnya, maka orang itu bisa disebut bahagia.

Kenyataannya banyak orang kaya seperti gambaran demikian bahkan lebih, terkadang disebut milyarder, status sosialnya pengusaha, pejabat atau lainnya, ternyata kehidupannya menderita, hingga tak jarang ia terkena penyakit stress oleh berbagai terpaan masalah.

Masalah bisa timbul dari persoalan perusahaannya, kadangkala dari persoalan keluarganya, pasangan berlaku serong, anak yang tak henti memunculkan masalah, atau sebab lain. Dalam kondisi seperti itu nyatalah bahwa kedudukan dan harta tidak bisa selalu memecahkan masalah. Kedudukan dan harta tidak menjamin seseorang akan bahagia.

Hasan Al Bashri ra pernah mengatakan, “Sebaik-baik dunia adalah apa yang dimiliki orang beriman, sebab ia beramal dan mengambil dunia sebagai bekal meniti jalan menuju surgawi. Dan seburuk-buruknya dunia adalah apa yang dimiliki orang kafir dan munafik, karena ia telah menyia-nyiakan kehidupannya dan mencari bekal menapaki jalan ke neraka.”

Keempat, perbanyaklah bergaul dengan masyarakat, terutama masyarakat bawah, hingga kita dapat merasakan penderitaan mereka dan berusaha sekuat tenaga turut meringankan beban mereka.

Sikap ini penting untuk lebih banyak dilakukan pada fase pertarungan politik yang kian panas. Bukan untuk membeli dukungan dan menarik suara, tapi lebih pada mengingatkan keprihatinan, kesulitan, dan beban yang dirasakan masyarakat pada umumnya.

Seorang mukmin yang berjuang di bidang politik harus memiliki kekuatan ruhiyah memadai dengan banyak bergaul bersama masyarakat di bawahnya.
Tentu saja, hal ini tidak bisa dilakukan seseorang kecuali bila ia sering melakukan latihan. Mengunjungi mereka, merasakan penderitaannya, sambil memberikan bantuan serta solusi atau pemecahan atas penderitaan masyarakat yang dipimpinnya.

Umar bin Khattab pernah meneteskan air mata ketika melihat keadaan seorang ibu. Ketika Umar mengadakan inspeksi malam melihat kondisi sebenarnya masyarakat yang dipimpinnya. Ketika itu, Umar menyaksikan seorang pura-pura memasak gandum padahal ternyata batu, untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis menahan lapar.

Menyaksikan hal itu, sang khalifah langsung menuju gudang mengambil sekarung gandum. Masya Allah, dengan tangan dan pundaknya sendiri, beliau membawa sekarung gandum untuk diberikan pada sang ibu tadi.

Kelima, Memanfaatkan momen pendekatan diri pada Allah di malam hari. Setan akan selalu menyerang melalui bisikan-bisikan. Bisikan sifatnya halus dan nyaris tak terasa pengaruhnya. Setan, menjerumuskan seseorang dari segala kebaikan dengan cara menyukai keburukan.

Setan ada di mana-mana mengintai dari segala penjuru yang tidak kita sadari.
Dalam hiruk pikuk pertarungan politik, gangguan atau godaan setan lebih hebat lagi. Bisikannya akan lebih banyak lagi memenuhi lintasan hati dan pikiran.

Di sinilah, kita membutuhkan pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT. Salah satu cara yang paling baik untuk membentengi diri dari gempuran setan dengan tetap mengusahakan sepertiga akhir malam untuk mendirikan shalat tahajjud.(habis)

Jangan Menyerah, Ada Kekuatan Tersembunyi Bernama Keyakinan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Dahsyatnya sebuah keyakinan, karena dapat membangun kepercayaan tanpa tapi dan tanpa ragu. Dengan keyakinan itu pulalah dia akan berani melakukan apapun yang dia yakini.

Keyakinan adalah sumber motivasi yang kuat, sering disebut ‘believe system’. Yakni sistem keyakinan yang menggerakkan manusia dan mengubah kehidupan manusia.

Tak memandang apakah keyakinan itu benar menurut kaidah dan etika yang berlaku, atau pun salah. Keyakinan pada sesuatu menuntut untuk melakukan konsekuensi logis, apapun resiko dan pengorbanannya.

Terlebih lagi keyakinan berasaskan ketauhidan kepada-Nya, dapat menghasilkan energi besar. Energi tak terbatas dan terhingga, seluas kehendak dan kekuasaan Allah.

Itulah energi dahsyat tersembunyi. Hanya akan ditemukan oleh yang berkeyakinan kuat, yakni orang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Energi keyakinan itu tidak akan ditemui kecuali pada muslim yang memiliki sifat sebagai berikut;

Energi tawakkal. Energi yang menyerahkan secara totalitas semua urusan kepada Allah yang dibarengi oleh optimalisasi aktivitas fisik dalam ikhtiar.

Di sinilah sumber segala sumber kekuatan, dan kekuatannya sungguh luar biasa. Siapa yang lebih kuat dibandingkan Allah? Siapa yang bisa menghentikan kehendak Allah?

Dengan tawakkal, diyakini bahwa Dialah Allah yang menolong hamba-Nya. Saat itulah tidak ada yang bisa menghentikan energinya. Niscaya kan sanggup melakukan apa pun, dari yang ringan hingga berat, semua dilakoninya dengan baik

Tawakkal sebagai buah dari keyakinan pada Allah. menyebabkan dipasrahkannya semua yang telah dimujahadahkannya kepada Allah Yang Maha Besar.(QS;Thaha;3)

Energi kebahagiaan. Keyakinan juga melahirkan energi kebahagiaan pada segala kondisi. Semua tugas berat dan ringan serta permasalahan yang terjadi akan dihadapi dengan enjoy. dan dilakoninya tanpa mempermasalahkan pihak di luar dirinya.

Keyakinan akan mendorong semangat hidup. Melepaskan belenggu pesimistis ke jiwa penuh optimisme. Yakin akan kesuksesan yang diimpikan dan dicita-citakan serta selalu terbayang di hadapan mata, niscaya akan digapainya.

Sehingga dia pun menikmati dan menjalankan semua tugas-tugas pribadi, keluarga, lembaga dan keummatan serta aktivitas keseharian lainnya dengan tekun tanpa rasa takut akan kegagalan.

Dengan dzikir yang khusyu’, dalam arti senantiasa mendekatkan seorang hamba pada Allah pada apapun kondisinya, membuat hati tenang bahagia. Bahwa dengan taqarrub Ilallah dipastikan akan selalu ada jalan terbaik menggapai kebahagiaan.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S Ar-Ra’d: 28)

Energi syukur dan sabar Selanjutnya keyakinan menjadikannya menjadi manusia ajaib. Menstimuliasi dan menguatkan mentalitas jiwa agar tetap survive pada semua kondisi yang dihadapinya. Ajaibnya, ini tidak akan ditemui oleh siapapun selain pada diri.  muslim

Hebatnya lagi, apapun kondisi, suasana dan permasalahan yang dihadapinya adalah baik baginya. Apakah mendapatkan karunia dan kenikmatan hidup, atau tertimpa musibah dan cobaan hidup.

Semua itu adalah kebaikan dan keberkahan baginya, Sebagaimana dalam hadis Rasulullah
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur, Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar dan Itu pun baik baginya.” [HR. Muslim, no. 2999]

Syukur dan sabar adalah energi ajaib yang tertanam pada diri seseorang yang berkeyakinan kuat. Bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak dan kemauan Allah yang harus disyukuri dan dishabari.

Energi Pantang menyerah Begitu dahsyatnya potensi keyakinan kepada Allah. Sehingga dapat membentuk karakter muslim yang tidak mudah menyerah. Yang ada hanyalah  optimisme, kerja keras serta ikhtiar sepenuhnya.

Dipasrahkannya dengan sepenuh yakin bahwa Allah pasti akan memberi yang terbaik kepada hamba-Nya yang meyakini elsistensi-Nya. Dialah Allah, yang selalu menuntun hamba-Nya dalam meniti jalan hidupnya “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS. Al- Insyirah: 6).(*)

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Buka Rumah Tahfizh Jabal Nur Toraja

0

TORAJA, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Nasri Bohari MPd secara resmi membuka Rumah Tahfizh Jabal Nur di Tana Toraja pada Senin siang (2/10/2023).

Rumah Tahfizh yang beralamat di Lembang Randan Batu, Kecamatan Makale Selatan, Tana Toraja, tersebut berdiri menempati eks mess karyawan PT Bukaka Teknik Utama yang mengerjakan proyek konstruksi PLTA Malea Energy.

Dalam sambutannya Ustadz Nasri mengutip sebuah ayat dalam Surat Yunus ayat ke 57 yang memerintahkan kepada manusia untuk memberikan perhatian besar terhadap Al-Qur’an.

“Jadi Al-Qur’an ini merupakan pelajaran, sekaligus penyembuh, petunjuk dan rahmat bagi orang beriman,” terang ustadz Nasri setelah mengutip ayat tersebut.

Dia sangat meyakini bahwa hanya dengan Al-Quran hati ini menjadi tentram dan bahagia. Menurutnya, tentu hal ini juga menjadi keyakinan bagi semua orang-orang beriman.

“Sehingga inilah yang saya yakini menjadi dorongan bagi pemilik perusahaan ini untuk menghadirkan alquran di tempat ini, agar menjadi syifa,” tambahnya.

Ustadz Nasri juga berharap, sinergi pendirian rumah tahfizh ini dapat berjalan baik dan memenuhi harapan semua pihak.

“Pak JK (Wapres Jusuf Kalla) bagi Hidayatullah seperti orang tua bagi anaknya. Beliau adalah orang tuanya Hidayatullah,” terang ustadz Nasri.

Karena itu, kata dia, pihaknya akan berusaha menjaga amanah fasilitas yang disediakan PLTA Malea dengan baik untuk pengelolaan rumah tahfizh.

Seperti diketahui, PLTA Malea yang merupakan anak perusahaan milik Kalla Group menjalin sinergi dengan Hidayatullah Sulawesi Selatan untuk pengelolaan eks mess karyawan sebagai rumah tahfizh.

DPW Hidayatullah Sulsel kemudian bekerjasama dengan DPD Hidayatullah Bone sebagai penyuplai santri dan DPD Hidayatullah Tana Toraja sebagai pelaksana.

Dalam sambutannya juga, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel berharap Hidayatullah Bone dapat menjadi kabar bahagia untuk Owner PLTA Malea yang merupakan orang Bone.(Ayman)

Hidayatullah Toraja Gelar Pelatihan Menghafal Quran Sehari

0

TORAJA, HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Tana Toraja menggelar Seminar dan Pelatihan Sehari
Menghafal Al-Qur’an di ruang meeting mess karyawan PLTA Malea Energy, Sandabilik, Lembang Randan Batu, Kec. Makale Selatan, Tana Toraja, Senin pagi (2/10/2023).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Ahmad Jazi sebagai pemateri. Pemegang sanad qiroah sab’ah tersebut membawakan metode yang dikembangkan bersama tim yang disebut Metode Al-Jazi.

Kegiatan diikuti 18 santri tersebut merupakan bagian dari Pembukaan Rumah Tahfizh Jabal Nur Malea. Nama Jabal Nur diambil dari Yayasan Jabal Nur Hidayatullah Sibulue yang menjadi asal para santri sebelumnya.

Ketua DPD Hidayatullah Bone Ustad H Burhanuddin MAg mengatakan Rumah Tahfizh Jabal Nur adalah program sinergi Hidayatullah dan PLTA Malea.

“Jadi model sinerginya Malea Energy sebagai penyedia fasilitas, sedangkan Hidayatullah sebagai operator pelaksana. Untuk angkatan pertama kami hadirkan santri dari DPC Hidayatullah Sibulue Bone,” terangnya.

Ditambahkan alumnus Asadiyah Sengkang tersebut, karena lokasinya di Toraja, sehingga DPD Hidayatullah Tana Toraja diberi amanah sebagai pelaksana program.

Metode Al-Jazi merupakan metode menghafal Al-Qur’an yang telah teruji. Dikembangkan sendiri oleh ustadz Ahmad Jazi beserta tim Al-Qur’an Kreatif Internasional yang konsen dalam bidang pengembangan pengajaran Al-Qur’an yang berpusat di Bandung.(Ayman)

Latgab Sako Hidayatullah Sulsel, Hadirkan Pelatih dari Kostrad Gowa

0

GOWA, HidayatullahSulsel.com — Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah Sulsel bersama Yayasan Ashhabul Jannah Hidayatullah Bollangi Gowa gelar latihan gabungan, Ahad (1/10/2023).

Ketua Panitia, Kak Majid, dalam arahan pembukaan menyampaikan, “Latgab ini adalah salah satu dari program pendidikan Yayasan Ashabul Jannah yang bekerjasama dengan Sakoda Sulsel gelar kegiatan kepramukaan pandu Hidayatullah yang diarahkan pada tujuan membentuk peserta didik yang berkarakter.”

Kegiatan latihan gabungan dihadiri tak kurang sebanyak 70 peserta dari berbagai utusan daerah, dari Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, dan Takalar.

Kadepdik DPW Hidayatullah SulSel, Ustad H Dwi Subagyo SSi turut hadir membersamai rangkaian apel pembukaan. Di hadapan peserta dan pelatih turut memberikan motivasi.

“Tujuan utama dari latihan gabungan ini adalah untuk menyamakan persepsi antara pembina, pesertadidik serta pengambil kebijakan tentang aturan-aturan Sako Pramuka Hidayatullah serta dalam rangka menjalin silaturahim antar pelatih dari berbagi kota kabupaten,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pentingnya membangun jiwa dengan landasan utama dari surat Al Maidah 54, As Shaffat 102, An Nisa 9, Al Anfal 60, At Taubah 105

Kak Ismail, panitia pelaksana juga menyampaikan, “Untuk menumbuhkan semangat generasi muda melalui kegiatan Latgab, kita hadirkan Instruktur pelatih dari Kostrad Pakkatto Gowa yang berlangsung selama 2 hari.”

Yang menarik, menurut penuturan pengurus Sako Hidayatullah Sulsel kak Arfah dan kak Edi Qays bahwa materi puncak Latgab mencari jejak dengan mendaki gunung Bollangi yang dibagi menjadi tiga Pos.

Di setiap pos dihadapkan pada keseruan-keseruan dan tantangan yang mengasyikan di antaranya Pos 1 Yel Yel Fi’ah dan smart question (SQ), Pos 2 profil pandu Hidayatullah, dan Pos 3 Spiritual pandu sejati.(Edi Qays)