Oleh : Dra.Syamsiah Abdullah, Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Setiap insan yang sempurna memiliki rasa rindu. Dari aspek manusiawi rindu adalah keniscayaan bagi setiap manusia yang memiliki nafsu dan hasrat. Kerinduan adalah keinginan kuat untuk bertemu dengan yang dirindukan.
Rindu adalah titik temu antara harapan dan kerinduan. Rindu akan muncul secara tiba-tiba ketika memiliki hubungan dan ikatan emosi dalam kenangan hidup yang membekas dalam dirinya, yang ketika merindukannya tidak menemukan atau merasa kehilangan.
Al Gazali mendefinisikan rindu sebagai mahabba (cinta), cinta terhadap suatu obyek. Dengan cinta rindu akan datang dengan sendirinya. Rindu adalah suatu kondisi emosional tinggi untuk bisa bertemu dengan yang dirindukan.
Rindu datangnya dari cinta. Semakin tinggi rasa cinta seseorang semakin besar kemungkinan untuk rindu, ketika tak bertemu atau berpisah dengannya. Seseorang yang mengungkapkan rasa rindu tanpa cinta itu adalah rindu semu dari cinta semu, bahkan karena tak ada dasar cinta sama sekali.
Di saat kerinduan muncul baik tiba-tiba atau pun sesuatu yang direncanakan sebelumnya untuk bertemu membuat tercipta kerinduan.
Agar rindu kita bermakna dan benar, kita harus memiliki analisis terhadap kerinduan itu, yang mana boleh atau tidak boleh, yang mana dibenarkan atau terlarang, seperti penjelasan berikut;
Pertama, Merindukan seseorang. Pada dasarnya manusia memiliki sifat manusiawi yang saling merindukan antara satu dengan yang lainnya, kerinduan semacam ini adalah fitrah insaniyah. Dimana manusia memiliki rasa sayang dan cinta yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Rindu dibolehkan sesama insan adalah rindu yang dilandasi atas dasar cinta karena Allah dan sesuai syariat Allah serta sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Yakni rindu karena saling mencintai karena Allah, seperti yang dijamin oleh Rasulullah dalam hadisnya. Tentang diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan di akhirat disaat tidak ada lagi naungan selain dari naungan Allah
Dalam hadits Rasulullah oleh riwayat Bokhari, salah satu golongan itu adalah “dua orang saling mencintai karena Allah, mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah”
Saat tak dapat bertemu pun dengan seorang yang dirindukannya, masih ada jalan pelepas rindu baginya yakni dengan mendoakannya dari jauh “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR Muslim)
Kalau rindu karena cinta kepada saudara dan sesama seiman dibangun dengan dasar semata karena cinta kepada Allah. Demikian halnya benci dan rindu adalah juga karena Allah.
Merindukannya karena keimanan dan ketaatan atas perintah Allah, juga membenci keburukan dan kemaksiatan saudara kita, bukan membenci orangnya namun perbuatan maksiatnya kepada Allah.
Kedua, rindu kepada Rasulullah. Tidak ada cinta melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Nabi-Nya. Tidak akan menemukan rindu yang lebih berat kecuali kepada Rasulullah SAW, menyebabkan cintanya kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh umat manusia.” (HR Bukhari).
Ekspresi rindu para sahabat kepada Rasulullah dinampakkan begitu mendalam. Karena rindunya kepada Nabi, sampai Bilal tidak mampu lagi mengumandangkan azan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Istrinya sedih, sebab ia akan berpisah dengan Bilal, suaminya.
Abu Bakar ash-Shiddiq, juga demikian. Katanya, “Sungguh, malam yang paling bahagia adalah malam kematianku. Sebab, aku akan segera bertemu denganmu wahai Rasulullah.”. Sepeninggal beliau, rindunya kepada Nabi tidak pernah bertepi.
Dalam hadits lain juga disebutkan, “Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, nicaya ia akan merasakan manisnya iman; orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selainnya, orang yang mencintai saudaranya karena Allah, ….” (HR Bukhari).
Beda cinta pada manusia umumnya dibanding cinta pada Rasulullah, sebab tidak hanya melahirkan rindu, tapi juga ketaatan pada Rasul-Nya.
Ia pun akan tunduk serta patuh kepadanya secara keseluruhan “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 3).
Dahsyadnya cinta dan rindu kepada Rasulullah, walau tak pernah kita dan tidak dapat lagi bersua dengannya. tetapi sosoknya bisa kita kenal melalui sirahnya. Tak kita dapati manusia seagung dia, yang akan dibela mati-matian ketika ada yang menghinanya.
Wujud rindu padanya adalah menteladani akhlaqnya adalah sebagai bagian dari keimanan. Akhlaknya adalah Alquran dan sunnahnya. Mempelajari sosoknya serta mengamalkan sunnahnya akan menjadi manusia mulia dan besar. Rindu ummat kepadanya karena beliau juga sangat cinta dan rindu pada umatnya.
Ketiga, Rindu kepada Sang Khaliq, Allah Ta’ala. Adalah rindu hakiki, dan tiada kerinduan melebihi kerinduan kepada Allah Ta’ala.
Dalam kerinduan kita kepada Allah akan selalu menghadirkan diri menggapai cinta yang hakiki dalam keabadian yang pasti.
Kepastian bahwa rindu dan cinta yang hakiki hanya akan kita temukan dalam kasih dan sayang sang Khaliq, Allah Azza Wajalla.
Buah dari ketulusan cinta adalah munculnya rasa rindu. Di sanalah hati akan menemukan makna cinta yang hakiki, cinta yang lahir dari kesadanan dzikir dan fikir hingga menyentuh relung kalbu yang paling dalam dan terpendam kuat. Tak tergoyahkan oleh goncangan waktu dan problematika kehidupan.
Sedangkan cinta yang tulus dimiliki seseorang dengan yang dicintainya adalah ketika selalu rindu ingin bertemu dengan yang ia cintai.
Cinta sejati pada Allah adalah ketika tak ada keinginan yang lebih penting dan lebih utama dari pada selain berjumpa dengan kekasih-Nya.
Seorang mukmin yang mencintai Allah niscaya akan selalu mengingat dan menyebut nama-Nya. baik dalam ibadah dan dalam segenap aktivitas kesehariannya disemua kondisi.
Sehingga hatinya merasa senang dan tenteram saat menghabiskan waktu berjumpa dengan-Nya. Tak sekedar melaksanakan ibadah wajib, dia menyengaja meluangkan waktu secara khusus untuk bermujahadah mendekatkan diri kepada-Nya.
Abu Razin Aluqaili pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah keimanan itu?” Rasul menjawab; “Menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang lebih engkau cintai daripada yang lain.”
Sekali lagi, rindu pada Allah diatas kerinduan kepada selain-Nya. Sebaik-baik cinta dan rindu adalah menyandarkan semua cinta kita hanya pada Allah semata.
Kalaupun ada makhluk yang kita sangat cintai, sepantasnya kita mencintainya karena cinta kita kepada Allah juga.
Bukti cinta dan rindu seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan terhadap perintah-Nya dalam amalan keseharian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasullah melalulu sunnahnya.
Selain itu memiliki tanggung jawab sosial dengan mendakwakan akan indahnya beriman kepada Allah kepada seluruh umat manusia di permukaan bumi.
Membela Din-Nya ketika akan menganggu dan melecehkannya.
Serta mewujudkan bukti kebenaran Islam ini dalam tatanan masyarakat berperadaban Islam. Yakni masyarakat yang hidup damai dan bahagia dengan syariat-Nya, dalam naungan cinta dan kasih Allah Taala.(*)
Rindu di Atas Rindu
20 November, 1000 Peserta Silatnas dari Sulsel Tiba di Gunung Tembak
HidayatullahSulsel.com — Panitia Silatnas Hidayatullah Wilayah Sulsel akan memberangkatkan sebanyak 1.000an peserta Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah Ahad, (19/10/2023) mendatang.
“Peserta Silatnas dari Sulsel yang sudah mendaftar yang akan menggunakan kapal Pelni sebanyak 800 peserta, sisanya naik pesawat dan kapal fery,” jelas Panitia Silatnas Wilayah Sulsel Ust Reskiaman Abu Dzaki di Makassar, Ahad (5/10/2023).
Koordinasi panitia wilayah dan daerah, ungkapnya, semakin intens dilaksanakan untuk memastikan kelancaran pemberangkatan peserta.
Rombongan yang menggunakan kapal Pelni KM Bukit Siguntang diperkirakan tiba sekitar pukul 03.00 pagi di Balikpapan, kampus Gunung Tembak, sekaligus akan menjadi rombongan terbesar dari Sulsel.
Peserta Silatnas dari Sulsel terdiri dari para pengurus, kader, santri, jamaah dan simpatisan bersama keluarga masing-masing.
Rombongan yang menggunakan angkutan kapal fery merupakan keluarga kader yang membawa mobil pribadi dan tim Hidayatullah Bikers menggunakan motor.
Dengan keberangkatan pada Ahad 19 November tersebut maka sebagian besar rombongan Silatnas dari Sulsel akan berada 10 hari di kampus Gunung Tembak, kembali ke Makassar 28 November, sehari usai pelaksanaan Silatnas digelar.
Selain karena beberapa agenda Silatnas di Gunung Tembak, keikutsertaan peserta kali ini juga dipicu oleh keingintahuan peserta terhadap Ibu Kota Nusantara (IKN).
IKN hanya berjarak tempuh singkat dari lokasi Silatnas. Diperkirakan akan menjadi lokasi trip utama peserta.(fir)
Perjuangkan Perda Pondok Pesantren, FKPP Takalar Ajak Bupati Diskusi
Takalar, HidayatullahSulsel.com — Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) menggelar Forum Diskusi di Rumah Jabatan Bupati Takalar, Kamis (2/11/2023)
Diawali dengan ceramah oleh Kyai Hafid Zainul Mustafa, Forum Diskusi membahas bagaimana upaya menyukseskan atau menghadirkan adanya Perda Fasilitasi Pondok Pesantren di Takalar
“Ada harapan besar bagaimana bisa wujud Perda Fasilitasi Pondok Pesantren di Takalar sebagai turunan dari Undang Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pondok Pesantren,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Arham Baharuddin saat memimpin forum diskusi tersebut.

Ia juga menyampaikan ucapan terimakasih sebesar besarnya kepada perintah Kabupaten Takalar telah disambut untuk berdiskusi dan semoga bisa terus ikut mendukung, memfasilitasi dan mengawal tahapannya hingga terbit perda tersebut
“Kami dari FKPP berharap semoga perda bisa difasilitasi dan dikawal hingga selesai,” ucap Pimpinan Pondok Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar sebagai jubir FKPP Takalar
Pj Bupati Takalar, Dr Setiawan Aswad MDev Plg, menyambut baik dan menegaskan dukungannya untuk ikut terus bersama-sama FKPP dan Kemenag tentunya dalam mengawal proses ranperda ini.
Ia juga memberikan arahan arahan strategis terkait proses dan tahapan penyusunan sebuah ranperda hingga jadi perda nantinya
Turut hadir dalam forum diskusi ini pimpinan pondok pesantren sekabupaten Takalar, unsur Forkopimda mewakili Kapolres, Kajari dan Dandim Takalar, kepala OPD Takalar dan beberapa tokoh masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar, Solihin, juga turut mengawal, membersamai dan memberi arahan untuk tetap menjajaki tahapan langsung melalui Kantor DPRD sebagai penyampaian aspirasi
“Saran saya ke FKPP ada baiknya juga melalui Pak Dewan, menyurat resmi ke Kantor DPRD untuk menyampaikan aspirasi, kita tempuh saja semua jalannya” tuturnya.(mansur)
Siswa-siswi SMPN 2 Maros Infak Peduli Palestina Melalui BMH
Maros, HidayatullahSulsel.com — Siswa-siswi SMP 2 Maros menyalurkan infak dan sumbangan peduli Palestina melalui BMH Gerai Maros.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 2 Maros Sudirman mengaku pihaknya sangat antusias sehingga ia melakukan ajakan kepada semua siswa untuk berinfak melalui BMH
Nisa seorang siswi selain menitipkan sumbangannya juga berharap semoga Palestina bisa segera merdeka dan masyarakatnya dapat hidup damai.
Ketua BMH Maros Fatahillah menerima infak tersebut, “Kami berterimakasih kepada seluruh rakyat Maros dan terkhusus para Guru dan, siswa siswi SMPN2 Maros, telah ikut serta dalam peduli Palestina, ini merupakan pendidikan utama membangun rasa kepedulian dan menumbuhkan semangat berbagi,” ujarnya Selasa (31/10/2023).
BMH Gerai Maros merupakan lembaga resmi konsentrasi di bidang Infak, sedekah, zakat dan wakaf. Fokus gerakannya pada program pendidikan, dakwah sosial dan kemanusiaan.(rls)
Semarakkan Hari Santri, Pondok Ahlul Jannah Apel dan Penggalangan Dana Palestina
Takalar, HidayatullahSulsel.com — Masih dalam semarak dan semangat Peringatan Hari Santri, pondok pesantren Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar mengelar apel santri dan penggalangan dana untuk Palestina, Jum’at (27/11/2023)
Pimpinan pondok tahfidz Ahlul Jannah Takalar Ust Arham, menyampaikan, kegiatan ini sengaja dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para ulama, kiyai dan kaum santri di masa penjajahan.

“Kegiatan ini kita adakan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang Allah berikan kepada kita melalui perjuangan pendahulu kita, para ulama’ kyai dan kaum santri, harapannya dengan dilaksanakannya kegiatan ini menjadi pengingat bagi generasi muda terutama satri untuk selalu mengenang perjuangan di masa lalu dan semangat mengisi kemerdekaan dengan karya-kaya terbaik sehingga membawa perubahan besar untuk bangsa, negara dan ummat,” ujarnya.
Kegiatan apel santri juga dirangkaikan dengan penggalangan dana bantuan untuk Palestina.
Menurut Ustadz Arham,
hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian dan keprihatinan terhadap penjajahan yang berkepanjangan terjadi di tanah Palestina yang tentu saja sangat membutuhkan bantuan do’a maupun materi.
“Di sisi lain juga tujuannya adalah untuk memberikan edukasi kepada santri sehingga memiliki jiwa solidaritas yang tinggi dan memiliki sikap tolong menolong,
melakukan kebaikan dengan mengajak masyarakat sekitar untuk ikut peduli terhadap saudara-saudar kita yang dilanda musibah di Palestina,” jelasnya.(Mansyur)
Bangun Kesepahaman Program, DPW Hidayatullah Audiensi DPRD Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan bersilaturahmi ke kantor DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (24/10/2023).
Rombongan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran diterima langsung Wakil Ketua DPRD Sulsel H Muzayyin Arif SPdI MPd.
Dalam suasana diskusi yang penuh keakraban tersebut, Muzayyin Arif memaparkan tentang program Pemerintah Sulawesi Selatan, diantaranya yang terkait keberpihakan terhadap pondok pesantren di Sulawesi Selatan.
“Kita tinggal menunggu dari PJ Gubernur sebagai eksekutif untuk dijadikan Perda,” ungkapnya.
Ketua DPW mengapresiasi kebijakan Pemprov dan DPRD Sulsel yang akan memaksimalkan peran pesantren. Pada kesempatan itu Ust Nasri juga menuturkan rencana pelaksanaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah November mendatang.
“Selain sebagai ajang menguatkan ukhuwah, Silatnas juga kita harapkan semakin meneguhkan komitmen dai dan kader Hidayatullah untuk semakin berperan membangun peradaban Islam di Sulsel,” tambahnya.
Ketua Panitia Silatnas Wilayah Sulawesi Selatan, Anwar Baits juga memaparkan beberapa agenda Silatnas diantaranya 1 orang peserta silatnas membawa 1 buku ke acara Silatnas Hidayatullah.
Sebelumnya, terkait program 1 juta pohon pisang Pemprov Sulsel yang diuraikan Muzayyin, Imran Djufrie selaku Kadep Ekonomi dan Aset DPW Hidayatullah Sulsel memaparkan tentang lahan yang dimiliki oleh Pesantren Hidayatullah di Sulawesi Selatan seluas lebih kurang 30 hektar yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman pohon pisang.(rls/*)
Dipimpin Bupati Takalar, Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Apel Hari Santri
TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — Santri dan pengasuh pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Pondok Modern Mahyajatul Qurra’ Lassang, Takalar, Ahad (22/11/2023).
Dalam acara yang bertemakan “Jihad Santri Jayakan Negeri” itu dihadiri dan dipimpin langsung oleh Pj Bupati Takalar.
Dalam amanatnya, ia menjelaskan jihad bukanlah semata mengangkat senjata tetapi jihad memiliki makna yang luas, diantaranya adalah jihad melawan hawa nafsu, meningkatkan kualitas diri juga termasuk jihad.


“Kita ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa jihad itu bukanlah hanya mengangkat senjata untuk berperang tetapi jihad memiliki makna yang luas, misalnya jihad melawan hawa nafsu, mengUpgrade atau meningkatkan kualitas diri juga termasuk jihad”
Jihatnya santri, menurutnya, adalah meningkatkan kualitas diri dengan menguatkan literasi yaitu berupa tekstual dan kontekstual
“Tekstual yakni Al-qur’an banyak membaca dan menghafalnya, kontekstual adalah apa yang kita membaca dari ciptaan Tuhan dengan melihat gejala-gejala alam” terang beliau
Selain itu ia juga menyampaikan bahwa dengan memiliki kualitas diri yang baik, maka hal itu akan memberi pengaruh dan manfaat besar terhadap masyarakat demikian adalah salah satu bentuk jihad dimasa sekarang ini.
Turut Hadir sebagai peserta pada pelaksanaan apel santri Kepala Kantor Kementrian Agama Takalar dan jajarannya, Unsur Polres Takalar, Unsur Kodim Takalar, Ketua Ormas Islam, Baznas Takalar Kepala Madarasah, Pimpinan Pondok dan santri dari pondok sekabupaten Takalar
Ust. Arham Baharuddin Jabbar Pimpinan Pondok Pesantren Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar sekaligus sebagai Ketua Panitia merasa senang bisa melibatkan santri ya pada pelaksanaan apel hari santri kegiatan lainnya.(Mansyur)
Kadep Dikdasmen DPP Hidayatullah Roadshow Konsolidasi Pilot Project Pendidikan Sulsel
TARBIYAH, HidayatullahSulsel.com — Mengawal kebangkitan pendidikan di Sulsel, DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan mengundang Kadep. Dikdasmen DPP Dr Nanang Noerpatria MPd untuk melakukan kunjungan konsolidasi dan assesmen pilot project Pendidikan Hidayatulllah Sulsel.
Roadshow dilakukan di tiga Sekolah Unggulan Tingkat SD/MI yang ada di Kampus Madya Hidayaullah Parepare, Towuti dan Bone, 18-21 Oktober 2023.
Kunjungan pertama di SD Taman Qur’an Hidayatullah Parepare yang terletak di lokasi yang sangat strategis berada tak jauh dari kantor walikota dan DPRD Parepare tepatnya di Jalan Sakinah Kelurahan Bumi Harapan Kecamatan Bacukiki Barat Kota Parepare.

Roadshow di Kampus Madya Hidayatullah Parepare rangkaiannya konsolidasi dan assesmen sekolah serta talkshow kinerja guru visioner, yang diawali dengan survei lokasi dan visitasi sekolah.
Survei lokasi dikutii oleh anggota pembina, pengurus yayasan Ar Risalah Parepare Drs Nasri Bohari MPd dan manajemen Sekolah Taman Qur’an Hidayatullah Parepare.
Konsolidasi dan rekomtruksi Sekolah menjadi topik pembahasan utama dalam rapat gabungan pengembangan Sekolah pilot project di Kampus Madya Hodayatullah Parepare.
Kunjungan kedua dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ilmi Hidayatullah Towuti Kabupaten Luwu Timur yang berjarak kurang lebih 600 kilometer dari Makassar.

Setelah menempuh perjalanan jauh yang cukup melelahkan Dr Nanang Noerpatria yang didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Drs Nasri Bohari MPd langsung melakukan survei dan visitasi sekolah di MI Darul Ilmi Towuti yang dilanjutkan dengan pertemuan curah gagasan dengan komponen Yayasan Pesantren Hidayatullah Towuti dan Pengelola MI Darul Ilmi Towuti .
Dr Nanang mendorong seluruh jajaran pengelola MI Darul Ilmi Towuti untuk meningkatkan kualitas layanan dan membidik segmen siswa dari kalangan karyawan dan pengusaha yang ada di Kecamtan Towuti dan sekitanya dengan tetap memberikan kuota siswa dari kalangan dhuafa sebanyak 10% dari keseluruhan siswa MI.
Roadshow Konsolidasi dan Asesmen Sekolah terakhir dilaksanakam di SDIT Al Hikmah Kampus Madya Hidayatullah Bone pada Jumat (20/10/2023) diawali dengan parade smaphore Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) Santri Putri Wustho dan siswa-siswi SDIT Panyula Bone.
Setelah melakukan survei dan assesmen di SDiT Al Hikmah dan Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) Wustho Al Fath Hidayarullah Panyula Bone dari pukul 08.00 – 11.00 Wita, kegiatan roadshow dilanjutkan dengan talkshow kinerja Guru Visioner di Gazebo Abdullah Said yang diikuti oleh guru, tenaga kependidikan dan pengasuh SDIT Al Hikmah dan PPS Wustho Al Fath.
Dalam kesempatan kunjungan hari ketiga di Kampus Madya Bone Dr Nanang, menekankan pentingnya membangun team work yang solid dan penyediaan fasilitas pembelajaran yang standar dan memadai sebagai daya tarik para orangtua untuk menyekolahlan anaknya di sekolah-sekolah milik Hidayatullah.
Rangkaian roadshow Kadep Dikdasmen DPP ditutup dengan kegiatan rapat koordinasi dan konsolidasi bersama Tim Pendidikan DPW Sulsel di ruang rapat DPW Sulsel.
Kadepdik DPW Hidayatullah Sulsel Ust H Dwi Subagyo yang memandu rapat tersebut menyampaikan hasil rekomendasi workshop PPDB dan Assesmen Sekolah Zona 1 yang memutuskan kebangkitan pendidikan Hidayatullah Sulsel.akan dimulai dari jenjang TK /RA dan SD/MI.(Dwi Fii Amanillah)
Laznas BMH Serahkan Beasiswa Kader Dai untuk 25 Mahasiswa STAI Al Bayan
LAYANAN UMAT, HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi menyerahkan bantuan beasiswa untuk 25 mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Makassar.
Beasiswa senilai Rp 70 juta se tahun tersebut diberikan untuj dua kategori, beasiswa tuntas kuliah dan beasiswa stimulan yang bersifat insedentil.
Ketua Yayasan Al Bayan Makassar, Ust Suwito Fatah MM menyampaikan apresiasinya pada Laznas BMH atas kolaborasi untuk bersama mewujudkan generasi pelanjut yang memiliki aqidah yang benar, tsaqofah keislaman.

Ketua STAI Al Bayan Abdul Kadir Mahmud MA menjelaskan STAI telah membina tiga angkatan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 181 orang yang tersebar di tiga prodi, yakni ekonomi syariah, tadris Matematika dan PGMI.
Sementara, Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menyampaikan harapannya kepada seluruh mahasiswa dapat mengunakan dana yang diterima untuk keperluan pendidikan, terlebih dalam belajar menjadi harapan terbesarnya.
“Sesuai nama program yang adik-adik ini adalah orang pilihan. Beasiswa kader dai ini dimaksudkan untuk menyiapkan dai muda yang memiliki keilmuan dan daya juang untuk berdakwah rahmatan lil alamin keberbagai wilayah di nusantara bahkan dunia,” pungkasnya.
Penyerahan beasiswa tersebut melalui buku tabungan Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH) Sulsel yang diatasnamakan masing-masing mahasiswa.(bas)












