Beranda blog Halaman 46

Hadirkan 1.300 Peserta Silatnas, DPW Hidayatullah Sulsel Raih Penghargaan Panitia

0

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel meraih penghargaan sebagai DPW terbanyak menghadirkan peserta di ajang Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah.

Penghargaan diterima langsung Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dari Ketua Panitia Silatnas Hidayatullah Ust Arfan pada penutupan Silatnas di Masjid Ar Riyadh kampus induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad (26/11/2023).

DPW Sulsel menghadirkan 1.300 peserta pada ajang yang sukses menyedot 20 ribu kader, jamaah dan serta simpatisan Hidayatullah bersama keluarganya selama empat hari pelaksanaan Silatnas.

“Ini adalah prestasi bersama hasil kolaborasi antara DPW, kampus utama, DPD dan kampus madya dibawah koordinasi kepanitiaan wilayah,” jelas Ust Nasri.

Atas pencapaian tersebut, Ust Nasri menyampaikan apresiasi atas kerjasama dan keterlibatan semua pihak.

“Ucapan terima kasih kepada panitia wilayah yang telah bekerjasama dan keterlibatan semua pihak,” ucapnya.

Ke depan di Silatnas mendatang pada 2028, harapnya, DPW Hidayatullah Sulsel bertekad untuk memberangkatkan lebih banyak lagi peserta.

“InsyaAllah kita akan bekerja dan berjuang bersama memberangkatkan lebih banyak lagi peserta hingga 10 ribu orang untuk penuhi 100 ribu peserta Silatnas di 2028 nanti,” tegasnya.

Ia optimis dengan kerja yang lebih profesional dan kerjasama yang lebih baik dan semangat semua jamaah dan kader Sulsel pada Silatnas 2028 akan berkontribusi besar menyukseskan Silatnas yang akan kembali dilaksanakan lima tahun lagi tersebut.(fir)

Life Revolution – Life Journey

0

Oleh : Bachtiar Aras, Trainer Life Revolution

HidayatullahSulsel.com — Penulis memulai dengan sebuah pertanyaan, “Apakah sesungguhnya yang paling berharga dalam hidup, yang mampu mendatangkan kebahagiaan?”

Silahkan anda menulis di secarik kertas hingga seberapa yang anda bisa tulis. Kemudian, di antara sekian banyak yang anda tulis, maka ambillah empat hal saja yang anda anggap paling berharga dalam hidup dan mampu membuat anda bahagia.

Dan kita sedikit bersimulasi, jika karena satu dan lain hal, anda harus dituntut untuk melepaskan dua hal paling berharga tersebut dan dua hal lainnya masih tetap dipertahankan.

Maka sekarang, dua hal yang anda harus lepaskan, silahkan anda pegang di tangan kiri anda sedang dua hal yang anda masih pertahankan, silahkan diletakkan di tangan kanan anda.

Dan ternyata, karena satu dan lain hal lagi, dari dua yang paling berharga yang ada di tangan kanan anda, anda dituntut untuk melepas salah satunya. Maka, silahkan pilih satu yang anda anggap paling berharga dalam hidup anda dan letakkan di tangan kanan anda, sementara yang anda lepaskan, silahkan letakkan di tangan kiri.

Yang tersisa di tangan kanan anda adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidup anda dan bisa memberikan kebahagiaan. Silahkan disimpan kertas itu untuk kemudian kita akan melihat kesimpulan akhir dari tulisan ini. Yang in syaa Allah akan terjawab bahwa ternyata ada hal yang paling berharga dalam kehidupan di dunia ini.

Dari sekian banyak pelatihan yang penulis sampaikan, beberapa jawaban yang sering muncul berkisar pada hal-hal yang menyangkut kekayaan, keluarga (istri/suami, anak), pangkat dan jabatan, ibadah, cinta, kasih sayang, sahabat, waktu, harga diri, kebaikan, kejujuran, tawa riang, kesehatan, belajar, bersenang-senang, makan, minum, pakaian, mobil, percaya diri, dan lain sebagainya.

Namun kemudian, kalau kita melihat garis besarnya, maka ada tiga yang menjadi “choice Majorities” atau mayoritas pilihan yang dipersepsikan oleh hampir sebagian besar umat manusia di muka bumi ini, yang menurut mereka paling berharga dalam hidup dan juga mampu mendatangkan kebahagiaan buat mereka, yaitu : uang atau harta, jabatan tinggi, suami/istri atau pasangan hidup.

Apa yang dicari oleh manusia?
Seorang suami rela meninggalkan keluarganya, anak dan istrinya, pergi pagi pulang petang dalam rangka ia mencari nafkah. Bagi yang berprofesi pegawai negeri (ASN) atau karyawan karyawati swasta, mereka harus masuk ke kantor jam 7.30 dan pulang jam 17.00, belum lagi jam-jam lembur yang ditetapkan oleh kantor ataupun perusahaan.

Kurang lebih 8 jam mereka bekerja keras, tanpa kenal lelah dalam rangka mencari nafkah dengan gaji yang mereka dapat setiap bulannya. Masih syukur bagi karyawan kantoran, mereka tetap masih merasa nyaman dengan suasana kantor yang adem karena difasilitasi dengan puluhan AC.

Pernahkah kita bayangkan, para pekerja kasar seperti kuli bangunan, kuli pelabuhan, calo penumpang, pedagang kaki lima dan sejenisnya, mereka harus meninggalkan tempat tinggalnya di kala matahari mulai menampakkan wajahnya. Di kota kota besar seperti Jakarta atau Surabaya misalnya, mereka rela bergelantungan di sisi kiri kanan kereta api bahkan ada yang rela duduk di atas gerbong kereta api karena tidak kebagian tempat sementara harus mencari mata pencaharian di tempat lain.

Nyawa pun menjadi taruhannya dalam rangka mereka mendapatkan nafkah untuk keluarganya. Pemandangan ini sering kita lihat di stasiun stasiun kereta api di Jakarta.

Ada juga sebagian dari kita yang tergiur untuk mencari nafkah di negeri orang nun jauh di sana. Mereka tertarik dengan iming-iming gaji yang tinggi. Namun setelah tiba di sana, justru kesengsaraanlah yang mereka dapatkan karena ternyata kedatangannya dianggap sebagai tenaga kerja ilegal.

Termasuk TKW yang dikirim ke luar negeri, walaupun status mereka legal namun tidak sedikit dari mereka mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari majikan majikan mereka. Ibarat pepatah, “Maksud hati meraup uang di negeri orang, apa daya kesengsaraanlah yang diperoleh”.

Lagi-lagi yang dicari adalah uang dan uang.
Tidak sedikit juga kita saksikan, banyaknya single parent, atau janda-janda yang memiliki anak yang masih kecil, mereka rela bekerja keras sampai pada tingkat mereka harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai fitrah mereka. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh kaum Adam, apa boleh buat karena desakan ekonomi sehingga menjadi “pengangkut batu cadas” bukan lagi hal yang tabu buat mereka.

Ironis, beban hidup sudah berat sebagai seorang single parent ditambah lagi beban mengangkat batu semakin berat pula. Astaghfirullah…

Selanjutnya, ada orang yang harus rela bergumul di tempat tempat yang kotor, bau busuk yang menusuk hidung setiap orang yang lewat sekitar tempat itu. Mereka adalah para pekerja di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Mengais-ngais barang-barang buangan yang masih bisa diuangkan. Bayangkan, kalau kita lewat sekitar pembuangan sampah itu, pastilah kita tidak tahan dengan bau busuk yang sangat menyengat. Tapi bagi mereka (pekerja sampah), sudah terbiasa dengan hal tersebut. Semuanya itu mereka lakukan dalam rangka mendapatkan nafkah, kalau bahasa sedihnya, mencari sesuap nasi untuk keluarga.

Kemudian, beberapa orang yang mencari nafkah dengan menjajakan barang-barang kelontongan keliling kampung. Tersebutlah seorang bapak paruh baya, dalam rangka mencari nafkah yang halal, ia rela bekerja sebagai pedagang kuali keliling kampung.

Kuali atau peiruk yang terbuat dari tanah liat itu diikat dengan tali rafiah di setiap sisi sepedanya yang butut. Pernahkah kita bayangkan kalau saja sepedanya jatuh, pastilah barang-barangnya hancur semua. Boro boro dapat untung malah jadi buntung.

Tapi itulah kehidupan, dalam rangka mencarinya, segala cara bisa ditempuh, yang penting halal.
Lain yang bekerja sebagai pedagang kecil, lain juga yang bekerja sebagai karyawan pabrik.

Karyawan dan karyawati pabrik bisa saja bekerja seperti sibuknya mesin produksi sehingga tidak sedikit dari pabrik semisal perusahaan rokok merekrut ratusan bahkan ribuan pekerja agar pabrik bisa memproduksi lebih banyak lagi.

Sehingga bisa kita bayangkan kalau manusia bekerja seperti mesin yang bisa saja lupa makan, lupa tidur, lupa beribadah, tapi karena mereka butuh duit, gaji, nafkah, maka itulah yang mereka lakukan.

Pernahkah juga kita bayangkan bagaimana orang yang bekerja di bursa efek. Dengan suasana kursi yang mepet satu sama lain. Hampir tidak ada celah antara kursi yang satu dengan yang lainnya. Para pekerja duduk rapat, hanya ada kotak kecil di depan mereka untuk melihat pergerakan bursa. Saking padat dan mepetnya kursi kerjanya sehingga sekedar keluar saja untuk buang air kecil, sulitnya setengah mati.

Namun hal itu menjadi biasa bagi yang sudah lama menggeluti pekerjaan tersebut. Karena terjebak pada rutinitas pekerjaan, nyaris mereka lupa yang lainnya, yang penting kerja, kerja, kerja dan dapat gaji.

Pernahkah juga kita bayangkan bagaimana seorang wanita karier yang dilanda sesuatu yang dilematis antara karier dan keluarga. Ia memiliki seorang anak usia satu setengah tahun. Sebelum ia berangkat kerja, ia menyantap sarapan sambil matanya tertuju ke handphone yang diletakkan dekat piringnya.

Sementara tangan kirinya memegang dot berisi susu instant yang disodorkan ke mulut anak kecilnya. Sembari memasukkan makanan ke mulutnya, ia membaca SMS atau Whatsapp ditambah lagi, sambil menyuap susu dot kepada anaknya.

Ya, setali tiga uang alias three in one, tiga aktivitas dalam waktu yang bersamaan ia lakukan. Bayangkan saja, di saat sang ibu menyuapkan susu dot ke anak kecilnya sambil melihat handphonenya plus mengunyah makanan, anak kecilnya pun menatap tajam ke wajah ibunya.

Seandainya anak itu bisa berbicara, ia akan berkata, “Bu, mana tatapan kasih sayangmu padaku?”. Kalau suasana seperti ini rutin terjadi, menyebabkan anak kehilangan sentuhan kasih sayang dari ibunya. Bukankah sentuhan kasih sayang yang paling pertama dan utama itu seharusnya datang dari ibu?

Bukankah ibu adalah madrasah pertama dalam rumah tangga? Namun karena tuntutan ekonomi, kasih sayang ibu anak terbengkalai bahkan lenyap ditelan bumi. Kalau sudah demikian, wajar kalau kita pernah mendengar sebuah kisah di kala seorang anak diperhadapkan dua orang yaitu ibu kandungnya dan pembantu rumah tangga yang mengasuh sang anak.

Di kala sang anak ditanya saat ia usia remaja, “Yang manakah ibumu di antara dua perempuan ini?”. Sungguh mengagetkan tatkala sang anak menjawab bahwa ibunya adalah yang merawat dan melayani ia setiap hari, yaitu ternyata pembantu alias asisten rumah tangganya.

Ibu kandung sang anak pun merasa sedih dan menyadari kekhilafannya selama ini.
Hal ini bisa saja terjadi, betapa tidak, ibu yang berprofesi wanita karier ini berangkat ke tempat kerja sementara sang anak masih tidur dan ia kembali dari kerja di malam hari di kala anaknya sudah terlelap tidur.

Lagi-lagi ironis, antara karier dan keluarga menjadi dilema hanya untuk memperoleh nafkah.(*)

Dari HidayahNya Terlahir Generasi Rabbani

0

Oleh : Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Kita orang Hidayatullah adalah santri Allah, bukan blok dan nonblok. Setiap masalahnya harus dikembalikan kepada Allah, dan hanya bertanya ke-Dia, bukan kepada yang lainnya, apalagi dukun.

Kita ingin mencetak generasi Rabbani, yang ditarbiyyah dan mampu mentarbiyyah. Mencontoh Rasul-Nya, serius mendapatkan solusi sebagaimana Nabi Muhammad berjuang bertakhannus ke Gua Hira untuk mencari solusi problematika umatnya

Kader Hidayatullah adalah menjadiikan Allah sebagai sumber penyelesaian problem, dengan berpedoman pada lima surah. Sehingga dalam perjalanan ini, ‘Hidayatullah’ dilindungi oleh Allah dikawal malaikat.

Santri Hidayatullah harus sukses di dunia, kaya materi dan terhormat, dan selamat di akhirat. Semua yang kita lakukan sementara on the track. Di atas hidayah-Nya kita akan memiliki kekuatan dalam beberapa hal, sebagai jati diri orang beriman.

Sebagai generasi Rabbani harus mampu menghadapi berbagai ujian di dunia ini. Generasi yang juga berfungsi sebagai murobbi. Dan juga mampu mencetak generasi Rabbani. Adapun ciri-ciri antara lain;

Pertama, Menguasai ilmu Dengan Al-Alaq dia menguasai ilmu berdasarkan keyakinan akan adanya Allah tempat berlindung. Dan mampu mendapatkan ilmu tentang eksistensi Allah sebagai tempat bergantung segala pemalasalahan

Ketika generasi Rabbani memiliki pemahaman yang baik mengenai ketauhidan maka dia akan bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Mengantarkan dirinya mendapatkan hidayah Allah.

Kedua Faqih, mampu menguasai ilmu, dan profesional di bidangnya. Generasi Rabbani ahli dalam satu bidang profesi.  Karena kemampuan manusia tidak mungkin untuk menguasai dan ahli dalam semua bidang. Harus faqih atau paham betul dalam bidang tertentu. 

Sehingga hasilnya akan lahir karya menumental dan inovasi-inovasi baru tercipta. Serta mempersiapkan diri menghadapi permasalahan-permasalahan baru senantiasa hadir.

Ketiga, Memiliki kemampuan manajemen yang baik. Hidayah yang datang kepadanya membuat memiliki kualitas hebat. Generasi yang banyak memiliki aktivitas yang bermanfaat. 

Diperlukan manajemen yang baik mengatur waktu dan kegiatan. Dengan manajemen baik membuat diri sendiri mampu diatur, maka juga peluang untuk mampu mengatur orang lain pun juga bisa berjalan dengan baik

Keempat, kemampuan ilmu siasah Generasi Rabbani yang mendapatkan hidayah harus memahami banyak tentang siasah atau politik. Baik itu dunia perdagangan, pemerintahan, bermasyarakat dan lainnya.

Bahkan dalam dakwah dan tarbiyah juga dalam mencari nafkah pun perlu politik. Sehingga pemahaman tentang politik perlu untuk dikuasainya.

Kelima Mengamalkan ilmu. Punya bashira, ahli diberbagai bidang dan wajib mempertanggung jawabkan ilmunya.

Generasi Rabbani kelak menjadi pemimpin yang mampu menjalankan Qur’an dan Sunnah. Mempertanggung jawabkan ilmu dan amalnya didunia dan akhirat.

Generasi itu ditunggu dari santri Hidayatullah. Sehingga kelak nanti kader Hidayatullah akan memimpin bangsa Indonesia, baik sebagai presiden, gubernur, bupati hingga RT. Juga menjadi Rektor, pengusaha, dan ahli diberbagai bidang. Allahu Akbar.(*)

*) Disarikan dari taushiyah Ust Abdurrahman SE, Anggota Badan Pertimbangan Hidayatullah

Wakil Ketua DPRD Sulsel Hadiri Silatnas Hidayatullah di Gunung Tembak

0

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Wakil Ketua DPRD Sulsel, Muzzayin Arif hadir dan menyampaikan tausiyah singkat kepada peserta Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah di Masjid Ar Riyadh kampus induk Gunung Tembak Hidayatullah, Kamis (23/11/2023).

Politisi dari PKS itu juga mengungkapkan baru-baru ini telah menyelesaikan jihad konstitusi pembuatan perda fasilitas ponpes untuk penguatan eksistensi ponpes di masyarakat agar menjadi arus utama pendidikan moral di masyarakat.

“Bahwa lembaga pendidikan Islam harus menjadi rujukan pendidikan masyarakat.
Hidayatullah adalah bagian penting pengembangan tarbiyah, dakwah dan perjuangan Islam di Indonesia,” tegasnya.

Muzzayin merupakan cucu keponakan dari pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said. Di kesempatan yang sama hadir juga saudaranya Muthahhir Arif yang juga anak dari pendiri Ponpes Darul Istiqomah Maros.

Kepada para dai dan kader Hidayatullah ia mengajak untuk menjadi bagian penting perjuangan dan dakwah di Amerika Serikat.

Imam masjid di beberapa negara bagian Amerika Serikat itu mengungkapkan di tengah terjadinya Islamophobia di Amerika terjadi perkembangan luar biasa dakwah di Amerika Serikat.

“Jumlah mualaf meningkat dan setiap hari hadir dan dibangun satu masjid, ini lahan dakwah bagi kader Hidayatullah,” ujarnya.(fir)

Apresiasi 3 Buku DPW Sulsel, Ketua Umum Hidayatullah Ajak Jadikan Tradisi

0

Silatnas, HidayatulllahSulsel.com — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nasrul Haq LC MA menyampaikan apresiasi atas terbit dan dirilisnya tiga buku dari DPW Hidayatullah Sulsel di ajang Silatnas Hidayatullah.

“Saya mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada DPW (Hidayatullah) Sulsel atas terbitnya 3 buku, terkhususnya untuk buku tulisan Ust Nasri,” ucapnya di sela kegiatan Rakernas Hidayatullah di Asrama Haji, Balikpapan, Rabu (22/11/2023).

Tiga buku yang diterbitkan merupakan program Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel oleh tim redaksi HidayatullahSulsel.com berjudul “Geliat Dakwah Hidayatullah di Sulsel”, “Ujian Sabar dan Kesungguhan, Antologi Pemikiran Dai Daiyah Hidayatullah Sulsel”.

Dan buku kumpulan Essay tulisan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd berjudul “Percik-percik Ketaatan” yang juga dihimpun dari artikel di portal berita HidayatullahSulsel.com.

Nasrul Haq menyebut menerbitkan buku seperti yang dilakukan oleh DPW Hidayatullah Sulsel tersebut sebagai mujahadah ilmiah yang sangat bermakna dan bermanfaat.

“Semoga mujahadah seperti ini menjadi tradisi yang harus terus dikembangkan dan ditularkan. Sekali lagi semoga kader Hidayatullah lebih produktif menghasilkan karya tulis yang akan menjadi warisan monumental bagi generasi masa depan,” harapnya.

Nasri Bukhari menjelaskan buku sengaja diterbitkan untuk memeriahkan kegiatan Silatnas dan menyambut ajakan Pemimpin Umum KH Abdurrahman Muhammad untuk berdonasi buku.

Tiga buku yang merupakan “trilogi” tersebut masih berbentuk mock up, selanjutnya akan diterbitkan resmi setelah melalui revisi dan penyempurnaan.

“Insyallah melalui penerbitan perdana buku ini bisa memotivasi pengurus dan kader Hidayatullah di Sulsel untuk semakin gemar membaca dan menulis sehingga syiar dan dakwah semakin luas dan maksimal,” ujar Nasri.(fir)

Menikmati Suasana Rekreatif Pinggir Danau, Sebagian Kafilah Sulsel Memilih Berkemah di Arena Silatnas

0

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Ragam cara menikmati sisi lain dari Silaturahim Nasional (Silatnas) yang kian dipadati oleh peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah.

Tiba pada hari Senin Shubuh (21/11/2023) di kampus Gunung Tembak, sebagian peserta memilih tidak menuju ke lokasi gedung penginapan yang disediakan oleh panitia.
Mereka justru melipir ke bawah pepohonan yang tumbuh rindang di sepanjang danau di tengah pesantren.

Tak butuh lama, sekitar sepuluh kemah ukuran kecil segera berdiri dengan menggelar alas menutupi rerumputan yang basah kena embun sebelumnya.
“Alhamdulillah, lebih asyik di sini. Pemandangan lebih terbuka dan suasana lebih santai untuk silaturahim,” ucap Owan, peserta asal Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.

“Banyak angin di alam terbuka begini, beda kalau di kamar rasanya agak gerah,” timpal Nuzul. lulusan SMA Al-Bayan Makassar yang kini mengabdi di Hidayatullah Masamba, Luwu Utara.

Menilik lokasi yang cukup rekreatif, tak heran, deretan kemah outdoor dengan corak warna-warni tersebut ramai dikunjungi oleh tamu dan peserta yang lain. Baik dari sesama kafilah Sulawesi Selatan ataupun dari daerah lainnya yang sengaj mampir ke lokasi kemah.

Pantauan media di lapangan, seperti pagi itu (22/11/2023), sebut saja Ismail, asal Kalimantan Utara dan Ibnu Suyuti, dari Balikpapan, yang ikut bertandang ke lokasi tenda.

Selain ngobrol dan silaturahim, hal yang menarik adalah setiap tamu selalu disuguhi dengan gilingan kopi hitam dan beberapa butir telur asin khas Sulawesi Selatan.
“Pokoknya, kalau mau ngopi datang saja ke sini, ustadz. Gratis, selama persediaan masih ada,” ucap Mardi, asal Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Ditemani awan mendung, pagi itu obrolan mereka tampak makin cair dan intim. Sesekali terdengar ada yang tertawa dan tergelak bahagia. Maklum pagi itu, para dai pemuda tersebut sedang me-replay cerita-cerita konyol mereka ketika jadi santri dahulu.

Menilik informasi yang dihimpun dari panitia, hampir di setiap gedung penginapan diakui penuh sesak oleh peserta yang terus berdatangan dari daerah.
Khusus kafilah Sulawesi Selatan, kloter pertama kedatangan yang memakai jasa KM. Pelni Bukit Siguntang saja sudah mencapai 1000 orang lebih, baik putra ataupun putri.

Belum termasuk yang berdatangan menggunakan maskapai penerbangan atau memakai kapal fery atau kapal Pelni pada jadwal berikutnya.
“Alhamdulillah, seperti tagline Silatnas. Tersenyum panitinya, bahagia pesertanya, dan tercerahkan spiritnya,” lanjut Mardi yang mengaku bahagia dengan kemah-kemah yang didirikan bersama kawan-kawannya.(*)

Penulis: Tim Media Silatnas

Semakin Aktif Menulis Semakin Gila Membaca

0

Oleh : Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Dengan menulis kita akan semakin kering dan haus ilmu dan terkadang kehilangan inspirasi ide dan pemikiran. Menulis membuat kita akan ‘gila’ membaca menutupi kehausan ilmu dan dahaga inspirasi.

Membaca adalah jendela ilmu dan menulis adalah ‘pengebor’ ilmu. Semakin banyak kita membaca semakin banyak ilmu yang ditahu. Tapi semakin banyak kita menulis semakin aktif membaca dan terus membaca.

Begitu pentingnya tulis menulis, untuk menggambarkan akan kekuasaan ciptaan Allah dan karunia wahyu-Nya, Allah pun bersumpah dengan Qalam-Nya (tulisan), seperti dijelaskan pada QS.al-Qalam:1-2.

Juga begitu pentingnya membaca sampai Allah menjadikan rangkaian awal turunnya wahyu dengan perintah membaca. Dan perintah membaca _iqra’_ ditekankan sampai dua kali dalam rangkaian lima ayat wahyu pertama, termaktub dalam QS.96:1-5.

Pada ayat tersebut mengandung perintah dari Allah untuk membuka tabir hakikat segala ilmu. Yakni tentang hakekat manusia sebagai yang dicipta dan Rabb sebagai Dzat Yang Maha Pencipta

Perintah Allah juga mengandung arti bahwa segala sesuatu yang Allah perintahkan pasti mengandung hal penting. Dan membaca adalah merupakan perintah Allah yang pertama, di kalimat pembuka wahyu pertama dalam Al-Qur’an.

Sehingga pertanda bahwa membaca adalah perkara terpenting dan utama dalam kehidupan manusia sebelum perkara lain dalam perkara agama.

Dengan membaca ilmu akan mengalir ke petala akal dan hati, menumbuh subur kesadaran jiwa. Hanya saja ilmu dari hasil bacaan akan mudah lepas kecuali diikat dengan tulisan.

Imam Syafi’i  rahimahullah  juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”. (Diwan Asy-Syafi’i).


Rajin menulis gila membaca

Sang penulis akan banyak menemukan ide dan inspirasi dari banyaknya referensi yang dibacanya. Di saat idenya terus mengalir deras bagai sungai dan dia menulisnya, maka dia akan semakin ‘gila’ membaca dan terus membaca.

Kalau pun saat tertentu ‘ngadat’ inspirasi dan kekurangan referensi untuk ditulis maka pelariannya adalah kembali baca membaca. Karena tiap kalimat yang dituliskan akan mengalir mudah, karena sudah mempunyai bekal informasi.

Penelitian Stephen D. Krashen dalam bukunya yang berjudul Writing: Research, Theory, and Application, menemukan bahwa ada hubungan antara kegiatan membaca dan menulis. Responden yang merupakan para penulis itu ternyata gemar membaca sejak kecil dan mengaku sudah terbiasa menulis sejak masih sekolah.

Kalau dengan menulis kita akan banyak membaca. Maka seharusnya setelah banyak bacaan berarti banyak informasi dan ilmu diperoleh, untuk mengikatnya dan menjadi warisan pemikiran adalah dengan juga seharusnya banyak menulis.

Namun aktifitas menulis dan membaca yang terbaik adalah yang bermakna dan mendapatkan ridho dari Allah. Dan itu akan diraih dan dinikmati bagi yang melakukannya dengan ‘bismirabbik’ (dengan nama Allah).
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Penmrah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq:1-5)

Dengan ‘bismirabbik’ akan mendorong ghiro (semangat), ikhlash berbuat tanpa batas membaca dan menulis. Jadikan diri semakin gemar dan aktif menulis, niscaya anda akan semakin ‘gila’.membaca.(*)

Menatap Kedepan Hidayatullah di Puncak Kematangan Usia 50 Tahun

0

Oleh: Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Usia 50 tahun adalah usia puncak kematangan pikir dan jiwa untuk siap mengembang berbagai beban amanah. Hidayatullah pun sebagai organisasi setelah memasuki 50 tahun, kini telah berada pada kematangan berorganisasi.

Beban amanah umat kepada Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan pendidikan sejak awal berdirinya ditunaikan dengan baik. Sehingga mampu tumbuh berkembang dari lembaga pendidikan berbentuk pesantren, selanjutnya ormas hingga bermetamorfosa menjadi Badan Perkumpulan.

Keistiqomahan Hidayatullah pada visi dan misinya berdasarkan manhaj nubuwah, dan dikuatkan dengan sistem kemimpinan dan keorganisasian adalah modal besar menjadi lembaga maju dan berpengaruh.

Kematangan usianya memasuki lima puluh tahun berbanding lurus dengan kesuksesan gerakan tarbiyah dan dakwahnya Hidayatullah ke seluruh pelosok tanah air.

Menilik pada proses pembentukan kematangan para Nabi dan Rasul dalam mengembang amanah dakwah. Umumnya diawali kematangan pola fikir diusia 40 tahun untuk menerima wahyu. Pertanda matangnya juga usia untuk tandang ke gelanggang mengembang amanah dakwah.

Rasulullah SAW sendiri dinyatakan oleh Allah telah siap menerima wahyu pertamanya di Gua Hiro adalah disaat usianya telah memasuki usia 40 tahun..

Demikian halnya Musa, seperti dalam firman -Nya. _”Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”_. (Q.S Al-Qasas [28] :14)

Para ahli tafsir seperti Imam mujahid Qatadah dan Ibnu zaid berkata dalam Kitab Zadul Masir Ibnu Jauzi bahwa usia matang menerima wahyu adalah 40 tahun

Dalam Tafsir Jalalain, bahwa (dia Musa) diusia tiga puluh tahun atau tiga puluh tiga tahun adalah kematangan akal. Dan empat puluh tahun Allah memberikan hikmah, kebijakansanaan, serta ilmu agama kepadanya sebelum menerima wahyu

Kematangan Membutuhkan Proses

Ketercapaian kematangan fikir dan jiwa tergantung proses. Seperti Rasulullah SAW sendiri menjadi manusia terhebat sepanjang sejarah adalah karena Allah memprosesnya sedemikian rupa sejak masih dalam kandungan hingga siap menerima wahyu.

Fase-fase proses itu dijalaninya dalam hidupnya dengan sangat baik dan sempurna. Yang oleh Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, mengistilahkan proses itu dengan fase keyatiman, menggembala, berdagang, be-Khadijah dan ber-Gua Hiro (menerima wahyu pertama)

Walaupun Muhammad sewaktu masih mudah adalah pemuda terbaik di Mekah sampai mendapat julukan Al-Amin. Namun setelah Rasulullah menerima wahyu dan mendakwakan nya ke masyarakat Arab dan sekitarnya barulah dia mendpatkan tantangan dan ujian yg sangat besar dari masyarakatnya sendiri.

Tantangan dakwah yang dilajani selama 13 tahun di Makkah dengan sendirinya semakin membangun karakteristik Rasulullah menjadi semakin matang dan hebat dalam mewujudkan keyakinan pada Allah dari risalah yg dibawanya.

Sampai akhirnya di usia Rasulullah lima puluh tahun atau lima puluh tiga tahun setelah berhijrah ke Madinah, dia bersama sahabatnya setelah _step by step_ baru mampu mewujudkan konsep masyarakat Islam secara totalitas.

Tatanam masyarakat yang dibangun Rasulullah bersama sahabatnya tersebut tercatat dalam sejarah sebagai masyarakat dan zaman terbaik (khaerul Qurun)

Hidayatullah pun sejak awal pendirian hingga saat ini telah melewati proses pendewaan yang panjang. Diusia ke-lima puluh tahun dalam eksistensi dakwahnya kerapkali menghadapi ujian demi ujian. Membuat Hidayatullah tetap semangat mengabdi pada pola dan metode dakwah mengabdikan diri kepada umat.

Setelah dakwahnya mampu eksis di seluruh provinsi, termasuk di beberapa wilayah dakwah baru di Papua, semakin menunjukkan kemampuannya dan tumbuh sebagai organisasi besar yang semakin berpengaruh ditingkat nasional.

Sepanjang Hidayatullah sebagai organisasi dan juga oleh kader serta jamaahnya masih tetap komitmen dengan Kejati Dirian-nya. Serta tetap konsisten pada mainstream tarbiyah dan dakwahnya keniscayaan tercapai visi _membangun peradaban Islam_ insyaAllah terwujud.

Betepatanr diusia limu puluh tahun, Hidayatullah menghelat Silaturrahmi Nasional (Silatnas), dmana akan berkumpul dua puluh ribu jamaah dan juga akan dihadiri oleh tokoh dan pejabat nasional berlangsung di Kampus Induk Ummul Quro’ Hidayah Gunung Tembak Balikpapan.

Di Silatnas tahun 2023 ni adalah babak baru Hidayatullah 50 tahun menatap kedepan untuk merumuskan perubahan dan langkah konkrit kontribusi Hidayatullah kepada Indonesia yang maju dan bermartabat

Semoga dari Silatnas 2023 kita kembali me-rekonsolidasi, me-rekontruksi dan me-rekomitmen diri dan jamaah menjadikan Hidayatullah sebaga leadher nasional dan dunia

Selamat dan sukses Silatnas Hidayatullah 2023

Jelang Silatnas, Hidayatullah Sulsel Terbitkan 3 Buku

0

HidayatullahSulsel.com — Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel menerbitkan tiga buku sekaligus menyambut pelaksanaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah di Balikpapan, akhir November ini.

Tiga buku yang diproduksi oleh tim redaksi HidayatullahSulsel.com itu berjudul “Gerak Dakwah Hidayatullah di Sulsel”, “Percik-percik Ketaatan” dan “Ujian Sabar dan Kesungguhan”.

“Sementara buku baru berbentuk mock up dan dalam waktu dekat akan segera diterbitkan secara resmi, agar bisa dinikmati luas,” jelas Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel Ust Sumariadi.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bukhari MPd memberikan apresiasi terbitnya buku Trilogi DPW Hidayatullah Sulsel untuk memeriahkan Silatnas itu.

“Menerbitkan buku ini menjadi hal pertama dilakukan DPW Sulsel, dan tentunya sejarah bagi saya pribadi bisa menulis dan diterbitkan menjadi karya buku,” ujarnya.

Buku “Gerak Dakwah Hidayatullah Sulsel” berisi kumpulan berita kegiatan dan program DPW dan DPD Hidayatullah se-Sulsel. Sedangkan buku kedua “Percik-percik Ketaatan” berisi 58 esai karya Ust Nasri Bukhari.

Serta buku ketiga “Ujian Sabar dan Kesungguhan” merupakan antologi pemikiran para dai dan Daiyah Hidayatullah di Sulsel.

“Semoga menulis dan menerbitkan buku bisa menjadi tradisi intelektual dan baik bagi syiar dakwah dan lembaga Hidayatullah di Sulsel,” harap Pempred HidayatullahSulsel.com yang juga Direktur Albayan Media Corp (AMC) Firmansyah Lafiri yang merupakan editor dari tiga buku tersebut.(*)

Rindu di Atas Rindu

0

Oleh : Dra.Syamsiah Abdullah, Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Setiap insan yang sempurna memiliki rasa rindu. Dari aspek manusiawi rindu adalah keniscayaan bagi setiap manusia yang memiliki nafsu dan hasrat. Kerinduan adalah keinginan kuat untuk bertemu dengan yang dirindukan.

Rindu adalah titik temu antara harapan dan kerinduan. Rindu akan muncul secara tiba-tiba ketika memiliki hubungan dan ikatan emosi dalam kenangan hidup yang membekas dalam dirinya, yang ketika merindukannya tidak menemukan atau merasa kehilangan.

Al Gazali mendefinisikan rindu sebagai mahabba (cinta), cinta terhadap suatu obyek. Dengan cinta rindu akan datang dengan sendirinya. Rindu adalah suatu kondisi emosional tinggi untuk bisa bertemu dengan yang dirindukan.

Rindu datangnya dari cinta. Semakin tinggi rasa cinta seseorang semakin besar kemungkinan untuk rindu, ketika tak bertemu atau berpisah dengannya. Seseorang yang mengungkapkan rasa rindu tanpa cinta itu adalah rindu semu dari cinta semu, bahkan karena tak ada dasar cinta sama sekali.

Di saat kerinduan muncul baik tiba-tiba atau pun sesuatu yang direncanakan sebelumnya untuk bertemu membuat tercipta kerinduan.

Agar rindu kita bermakna dan benar, kita harus memiliki analisis terhadap kerinduan itu, yang mana boleh atau tidak boleh, yang mana dibenarkan atau terlarang, seperti penjelasan berikut;

Pertama, Merindukan seseorang. Pada dasarnya manusia memiliki sifat manusiawi yang saling merindukan antara satu dengan yang lainnya, kerinduan semacam ini adalah fitrah insaniyah. Dimana manusia memiliki rasa sayang dan cinta yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Rindu dibolehkan sesama insan adalah rindu yang dilandasi atas dasar cinta karena Allah dan sesuai syariat Allah serta sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Yakni rindu karena saling mencintai karena Allah, seperti yang dijamin oleh Rasulullah dalam hadisnya. Tentang diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan di akhirat disaat tidak ada lagi naungan selain dari naungan Allah

Dalam hadits Rasulullah oleh riwayat Bokhari, salah satu golongan itu adalah “dua orang saling mencintai karena Allah, mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah”

Saat tak dapat bertemu pun dengan seorang yang dirindukannya, masih ada jalan pelepas rindu baginya yakni dengan mendoakannya dari jauh “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR Muslim)

Kalau rindu karena cinta kepada saudara dan sesama seiman dibangun dengan dasar semata karena cinta kepada Allah. Demikian halnya benci dan rindu adalah juga karena Allah.

Merindukannya karena keimanan dan ketaatan atas perintah Allah, juga membenci keburukan dan kemaksiatan saudara kita, bukan membenci orangnya namun perbuatan maksiatnya kepada Allah.

Kedua, rindu kepada Rasulullah. Tidak ada cinta melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Nabi-Nya. Tidak akan menemukan rindu yang lebih berat kecuali kepada Rasulullah SAW, menyebabkan cintanya kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh umat manusia.” (HR Bukhari).

Ekspresi rindu para sahabat kepada Rasulullah dinampakkan begitu mendalam. Karena rindunya kepada Nabi, sampai Bilal tidak mampu lagi mengumandangkan azan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Istrinya sedih, sebab ia akan berpisah dengan Bilal, suaminya.

Abu Bakar ash-Shiddiq, juga demikian. Katanya, “Sungguh, malam yang paling bahagia adalah malam kematianku. Sebab, aku akan segera bertemu denganmu wahai Rasulullah.”. Sepeninggal beliau, rindunya kepada Nabi tidak pernah bertepi.

Dalam hadits lain juga disebutkan, “Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya, nicaya ia akan merasakan manisnya iman; orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selainnya, orang yang mencintai saudaranya karena Allah, ….” (HR Bukhari).  

Beda cinta pada manusia umumnya dibanding cinta pada Rasulullah, sebab tidak hanya melahirkan rindu, tapi juga ketaatan pada Rasul-Nya.

Ia pun akan tunduk serta patuh kepadanya secara keseluruhan “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 3).

Dahsyadnya cinta dan rindu kepada Rasulullah, walau tak pernah kita dan tidak dapat lagi bersua dengannya. tetapi sosoknya bisa kita kenal melalui sirahnya. Tak kita dapati manusia seagung dia, yang akan dibela mati-matian ketika ada yang menghinanya.

Wujud rindu padanya adalah menteladani akhlaqnya adalah sebagai bagian dari keimanan. Akhlaknya adalah Alquran dan sunnahnya. Mempelajari sosoknya serta mengamalkan sunnahnya akan menjadi manusia mulia dan besar. Rindu ummat kepadanya karena beliau juga sangat cinta dan rindu pada umatnya.

Ketiga, Rindu kepada Sang Khaliq, Allah Ta’ala. Adalah rindu hakiki, dan tiada kerinduan melebihi kerinduan kepada Allah Ta’ala.

Dalam kerinduan kita kepada Allah akan selalu menghadirkan diri menggapai cinta yang hakiki dalam keabadian yang pasti.

Kepastian bahwa rindu dan cinta yang hakiki hanya akan kita temukan dalam kasih dan sayang sang Khaliq, Allah Azza Wajalla.

Buah dari ketulusan cinta adalah munculnya rasa rindu. Di sanalah hati akan menemukan makna cinta yang hakiki, cinta yang lahir dari kesadanan dzikir dan fikir hingga menyentuh relung kalbu yang paling dalam dan terpendam kuat. Tak tergoyahkan oleh goncangan waktu dan problematika kehidupan.

Sedangkan cinta yang tulus dimiliki seseorang dengan yang dicintainya adalah ketika selalu rindu ingin bertemu dengan yang ia cintai.

Cinta sejati pada Allah adalah ketika tak ada keinginan yang lebih penting dan lebih utama dari pada selain berjumpa dengan kekasih-Nya.

Seorang mukmin yang mencintai Allah niscaya akan selalu mengingat dan menyebut nama-Nya. baik dalam ibadah dan dalam segenap aktivitas kesehariannya disemua kondisi.

Sehingga hatinya merasa senang dan tenteram saat menghabiskan waktu berjumpa dengan-Nya. Tak sekedar melaksanakan ibadah wajib, dia menyengaja meluangkan waktu secara khusus untuk bermujahadah mendekatkan diri kepada-Nya.

Abu Razin Aluqaili pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah keimanan itu?” Rasul menjawab; “Menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang lebih engkau cintai daripada yang lain.”

Sekali lagi, rindu pada Allah diatas kerinduan kepada selain-Nya. Sebaik-baik cinta dan rindu adalah menyandarkan semua cinta kita hanya pada Allah semata.

Kalaupun ada makhluk yang kita sangat cintai, sepantasnya kita mencintainya karena cinta kita kepada Allah juga.

Bukti cinta dan rindu seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan terhadap perintah-Nya dalam amalan keseharian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasullah melalulu sunnahnya.

Selain itu memiliki tanggung jawab sosial dengan mendakwakan akan indahnya beriman kepada Allah kepada seluruh umat manusia di permukaan bumi.
Membela Din-Nya ketika akan menganggu dan melecehkannya.

Serta mewujudkan bukti kebenaran Islam ini dalam tatanan masyarakat berperadaban Islam. Yakni masyarakat yang hidup damai dan bahagia dengan syariat-Nya, dalam naungan cinta dan kasih Allah Taala.(*)