Beranda blog Halaman 45

Dakwah Politik itu dengan Moral

0

Resume Taujih BPU; Penguatan Pakta Integritas Silatnas Hidayatullah 2023 (3)

HidayatullahSulsel.com — Jika kita renungi surah al-Fatihah ini, ini adalah surah kemenangan. Secara sederhana di dalam bayan 50 itu dirumuskan apa isi dan intinya.

Pertama, aqidah. Perbaiki keimanan kepada Allah secara Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa Sifat.

Ada lagi satu, Ihsan. Bekerja, berbuat karena ibadah seperti kita melihat Allah. Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan bekerja, itu ihsan.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

Kemarin itu ada santri ceramah di sini, bagus ceramahnya, kemarin itu, احْفَظِ اللهَ يحفظْك, bagus karena dia urai dengan nada yang bagus juga, lembut, tenang.

Itu anak STIS itu, ndak kalah dengan PUZ. Wahai PUZ, jangan sampai dikalahkan oleh STIS! Ini namanya assaabiqunas-saabiquun, perlombaan sehat. Demikianlah, berlombalah mengambil ilmu dan kesalehan sehingga semuanya nanti menjadi satu ikatan yang luar biasa.

Masya Allah, menyenangkan! Melihat anak-anak berpakaian putih-putih, duduk berdzikir, setelah shalat berdo’a. Saya berkeyakinan, ini di rumahnya anak-anak ini pasti berbeda dengan yang lain, pergaulannya di rumahnya pasti berbeda dengan yang lain.

Nabi saja mengatakan begini, kalian ingin melihat orang beriman maka lihatlah dia bagaimana dia bolak-balik masuk masjid, kalian mau melihat orang baik maka lihatlah bagaimana dia masuk masjid. Ini baru bolak-balik ini, belum dibilang bagaimana dia kencang mengambil posisi yang memang mustajab, yang memang elit.

Kan Nabi manyampaikan, posisi shaf pertama itu posisi elit. Jadi ada pertanyaan, bagaimana kita kasian yang di belakang? Sama-sama dapat, yang penting disini ada persaingan. Sudah setengah mati, ternyata masih kalah kita. Tapi kekalahan itu mendapat dua karena sudah bermujahadah luar biasa.

Yang masalah kalau tidur di masjid, di kunci di atas, nyenyak tidurnya, ndak bangun dia, aii.. masalah ini!! Makanya saya akan sidak nanti itu pak, sebelum shalat subuh saya akan periksa itu kamar-kamar. Subuh, kamar itu harus terbuka. Waktu-waktu shalat kamar itu harus terbuka, ndak boleh terkunci.

Kalau saya jalan seperti itu karena punya kepentingan menjaga agama ini, bagaimana kamar-kamar di atas itu, belum ideal, dengar ini PUZ, belum ideal! Kenapa ada kasur di tempat kuliah, kursinya berantakan, ada tempat sampah yang penuh. Saya sering katakan, tata ulang. Anda keluar dari ruangan itu tata ulang, tata kembali sebelum keluar.

Saya belajar dari rumah ini, kita bangun tidur ganti handuk, celana, sarung, ditaruh begitu lalu masuk kamar mandi. Setelah berwudhu langsung pergi dalam keadaan masih berantakan.

Itu namanya membangun karakter, membiasakan, itulah yang disebut karakter, dan itu tingkatan paling rendah. Yang di atas karakter itu namanya moral, di atasnya moral itu namanya akhlak.

Saya sampaikan ke pak Ketua, tolong nanti harus ada manajemen pengawasan ini. Jangan dibiarkan lagi kumuh dan tidak tertib. Jangan dibiarkan gedung-gedung itu kumuh.

Di sana itu di asrama Abdullah Said, sandalnya ditaruh, kalau kumur-kumur di situ, buang kopi, buang teh, sampai hitam semua depan jendela, kumuh!

Kita datang, apakah ini rumah susun? Apakah penghuninya itu orang-orang yang menyewa? Penghuninya tidak mau tahu apa yang terjadi, siapa penghuninya, ternyata PUZ penghuninya, la haula wala quwwata illa billah.

Siapa Direkturnya, menjalar terus itu pak. Siapa Ketua Yayasannya, siapa Pemimpin Umumnya, menjalar terus.

Izzah, tidak ada izzah!!

Tidak ada izzah di hadapan Allah, tidak ada izzah di hadapan manusia. Inilah makanya akhlak itu luar biasa agungnya, sampai Allah mengatakan,

{وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ} [القلم : 4]

Inilah makanya pak Naspi perlu diperjuangkan, duduk di sana, lakukan perubahan, kita mau tunggu siapa yang mau datang di Cipinang, dan kita harap semuanya lolos 3 ini supaya berjamaah nanti, ramai-ramai melakukan transformasi kasih-sayang kepada siapa saja baru dibawa ke Cipinang.

Ah, ini fikiran saya ini, kaya. Saya kaya sekali ku rasa, mau semua dijangkau. Cuman itu, belum hafal Qur’an juga. Masalah ini karena belum hafal Qur’an. Belum bisa bertutur dengan bahasa Arab, berdiplomasi, ah!!!

Saya sampaikan kepada anak-anak saya, kamu jangan sampai menyesal punya orang tua seperti saya. Saya ini orang tua hebat di hadapan mu, kau bisa kah kalahkan saya? Dalam segala hal. Aku militan, pekerja keras, beribadah keras, berdoa keras, dermawan. Saya bilang di hadapan mereka, maaf ya kepada semua.

Saya ingin kalau dia belum bisa begitu, anak-anaknya ada yang begitu. Saya ingin, jika saya mati nanti mereka punya memori untuk anak-anaknya, eh kakek mu itu begini dulu, kakek mu itu bukan orang sembarangan, saya mau begitu.

Guru-guru saya banyak dari para kyai di tanah Jawa sana, kalau saya sempat dengar ada seorang kyai di suatu tempat maka saya berusaha datangi, apalagi saat itu saya masih belajar di Pendidikan Ulama Jogjakarta.

Saya mendengar ada di Jepara seorang ulama Hadramaut, saya datangi. Karena katanya, anaknya AR Fakhruddin belajar juga di sana.

Kalau di Jawa ada ulama, apalagi di Jogja tempat saya tinggal, pokoknya ku sapu bersih semua, ku datangi.

Baru-baru ini saya lewat di airport yang baru di Jogjakarta itu, oh saya pernah ke tempat ini, dahulu pernah ada kyai saya di tempat ini, Kyai Dimliati namanya. Saya belajar di situ kitab Alfiyah ibnu Malik, di Wates nama tempatnya itu.

Banyak para kyai besar, misal Kyai Raden Hajid, beliau adalah murid pertama daripada Kyai Ahmad Dahlan. Ada pula Kyai Basyir, Kyai Dolhar, ada seorang bertitel Insinyur tapi Kyai juga.

Kyai Hamka, Kasman Singodimejo, Prof Kahar Muzakkir sang perumus Piagam Jakarta, saya temui semua. Pokoknya kapan saya dengar orang terkenal dan tersohor punya ilmu, pasti saya datangi itu.

Tapi kesempurnaan perjalanan saya ini karena ketemu kembali dengan Allahuyarham ustadz Abdullah Said. Inilah kesempurnaan perjalanan saya, yang sebelumnya saya sudah pernah ketemu tahun 1969-1970 di kampung, beliau pernah tinggal di rumah saya.

Dan saya memetik satu nilai yang paling berharga bahwa beliau itu bangun tengah malam jam 12.00 langsung mandi lalu shalat malam. Setelahnya beliau membaca, mengetik, dia bawa terus mesin ketiknya itu. Kemudian saya kembali ketemu di sini pada tahun 1979, masuk disini bersama ustadz Abdul Latif.

Para tokoh-tokoh muda di Bandung, ketika Bang Imad mengatakan, siapa yang mau khatib hari ini? Dan ayat yang dibaca itu surat al-Fath ayat 29, aku lihat-lihat koq tidak ada yang angkat tangan, saya pun angkat tangan, saya!

Benar ini, tempatnya namanya Masjid Al-Mujahidin kalau ndak salah itu, tempatnya orang-orang keras itu, di Bandung waktu itu.

Alhamdulillah, semoga sisa-sisa umur ini masih dapat diabdikan untuk Allah, agama dan umat Islam ini, masih bisa, masih bisa. Mari kita bersama-sama mengabdikan diri, ambil peran!

Sebagaimana cerita sekelompok orang yang di deportasi dari Palestina antara tahun 1993 atau 1994 bersama 19 professor di tengah hutan Lebanon. Pada saat itu puncak musim dingin, banyak kalajengking di sekitar tempat itu.

Tapi luar biasa, berdiri sebuah universitas yang dalam setahun dapat melahirkan master, jadi para profesor tadi itu semua mengajar di tempat pengasingan itu, sehingga melahirkan master dan doktor, luar biasa itu!

Jadi, coba lahirkan pak Naspi ini ya. Tolong Tim Sukses benar-benar merumuskan sehingga kita menjalani ini pekerjaan bersama DPW. Bagaimana benar-benar bisa didudukkan ini.

Demikianlah penjelasan Pakta Integritas, bagaimana moral ini diturunkan, memenangkan pak Naspi itu pertarungan moral, karena kita bukan orang yang punya uang, hanya punya moral.

Tapi buktikan moral ini, moral ini mau dibuktikan! Adakah kesetiaan ini untuk menghadirkan ini dakwah vertikal ini di Senayan?

Ambil bagian, semua harus ambil bagian!!

Di sanalah kita ujicoba diri bahwa saya mampu menerangkan apa yang disampaikan Ustadz.

Benar ini, bukan main-main apa yang saya bilang ini. saya dulu begitu, dari rumah ke rumah. Saya tidak tinggalkan orang itu kalau dia tidak mengatakan iya atau tidak. Begitulah pola rekrutmen saya dulu di tanah Jawa.

Jadi kalau saya dakwahi orang, tidak saya pergi tinggalkan dia kalau dia tidak bilang, insya Allah kita ikut ustadz! Ataukan dia bilang, saya pending dulu pikir-pikir dulu, karena itu jawaban juga.

Dari rumah ke rumah pak, dari masjid ke masjid. Pokoknya kalau ada orang, sini dulu duduk di sini, kita bicara dulu, begitu.

Apakah saya masih harus seperti itu lagi!? Na kalian sudah banyak! Apakah kalian tidak malu, kalau Pemimpin Umumnya masuk ke pasar dan berdakwah begitu di situ!?

Kalau saya tidak malu saya, tapi kalian!?? Bersembunyi, tidak mau turun, ada alasannya. Kalau memang tidak mau, banyak sekali alasannya itu pak.

Ini namanya tidak ada moral, tidak ada iman. Imannya imitasi, impoten kata Allahuyarham ustadz Abdullah Said.

Wallahu’alam.(Sumariadi/habis)

Dakwah, Pekerjaan elit Pekerjaannya Nabi

0

Resume Taujih BPU; Penguatan Pakta Integritas Silatnas 2023 (2)

HidayatullahSulsel.com — Selain para pejabat, para ulama itu juga masuk kelompok elit. Orang alim, orang shaleh itu kelompok manusia elit. Bahkan dia bisa lebih elit, pengusaha bahkan politisi minta restu kepada para ulama.

Para ulama sebagai kelompok paling elit karena demikianlah firman Allah dalam QS: al-Mujadilah: 11.

Kendati demikian, para ulama mesti juga berkolaborasi dengan kaum dhuafa, karena Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa salam mengatakan, “Carilah keridhaan-Ku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian,” HR. Abu Dawud. Sehingga ini menjadi satu kesatuan yang harus diberi perlindungan.

Alhamdulillah, Gerakan Dakwah Vertikal memerlukan upaya ekstra, karena inti perjuangan syaitan di sini. Peranan syaitan adalah untuk tidak memberi ruang kepada orang baik untuk berperan. Karena jika orang baik berperan, “جاء الحق وزهق الباطل”.

Maka di Eropa ada namanya Islamophobia, sebenarnya takut. Amerika menstigmakan kelompok teroris itu adalah Islam. Itu sebenarnya wujud rasa takut yang luar biasa. Dan memang Qur’an bilang begitu, mereka itu punya rasa takut yang luar biasa.

Tapi di sinilah, bagaimana prinsip-prinsip Islam itu dihadirkan dalam preambul surah al-Fatihah seperti itu. Preambul Qur’an; Bismillahirrahmanirrahim, bismil-uluhiyah asma wa sifat, baru kita mengatakan Alhamdulillah Rabbil’alamin.

Semua akan hadir dengan keterpujian, hadir di muka bumi ini dengan keterpujian. Berfikir secara terpuji, alhamdulillah. Melihat secara terpuji, alhamdulilah. Mendengar secara terpuji, alhamdulilah. Berkerja secara terpuji, alhamdulilah. Semua terpuji karena Allah-lah yamg Maha Mengatur semesta alam, maka semuanya terpuji.

Maka ucapan kemenangan hadirnya terpuji itu, Allahuakbar. Itulah dzikir kemenangan. Bahwa yang menang ini Allah, bukan siapa-siapa yang menang di sini.

Itulah mengapa ibadah kita diikat dengan doa, ya Allah kami semua ini “نعبد”, hanya menyembah kepada-Mu. “ونستعين”, dan kami hanya meminta pertolongan kepada-Mu. Inilah ikatannya, ikatan ruh, ikatan moral.

Karena itu, ya Allah tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Mana itu jalan lurus? Jalannya orang-orang yang diberi nikmat, yaitu para Nabi.

Jadi inilah yang diperjuangkan Hidayatullah, sistem nubuwah, kepemimpinan nubuwah.

Kalau ada itu ada harga diri, kalau ada eksistensi jama’ah ini itu ada harga diri. Harga diri di hadapan Allah dan harga diri di hadapan manusia.

Makanya Allah tidak tanggung-tanggung; bukan jalannya orang yang dilaknat, bukan jalannya orang yang dimurkai.

Sebenarnya ayat-ayat Qur’an itu semua ada munsabahnya, tergantung kemampuan intuisi untuk menangkapnya, ada semua hubungannya.

Jadi kekuatan potensial, kekuatan aktual, yang kita mau ini kekuatan gerak! Karena Allah mengatakan begitu,

{وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ} [الأنعام : 132]

Kerja. Kerja itu adalah “ahsanu ‘amalan”.

Sebagaimana yang dipaparkan Pak Ketua (Yayasan Kampus Induk Ummul Quro) tadi, urutan-urutan kerja, anggaran Rp 70 miliyar habis ini untuk tahun 2023. Bagaimana the next ? Bagaimana berikutnya ? Apakah stagnan, atau melorot!? Atau meningkat!?

Kerja, kerja, lakukan silaturahim. Yang paling bertanggung jawab kerja keras ini DPW dan (struktur) ke bawahnya ini. Kerja keras!

Saya ini berfikir keras dan berdoa keras, dan saya minta kita bersama-sama kerja keras. Jangan ada warga Hidayatullah ini tidak kerja karena ini adalah Gerakan Dakwah Vertikal.

Jangan malu, karena ini jalan!

Saya pernah mendengar ketika Bapak Aksa Mahmud terpilih menjadi anggota DPD-RI Sulawesi Selatan. Beliau mengatakan, “Inilah salah satu karunia Allah, bahwa kemudian saya bisa melanglang ke seluruh dunia, ke mancanegara dengan fasilitas ini”

Saya ingin ustadz Naspi Arsyad seperti itu, dan bahkan lebih. Karena dia bisa membawa Hidayatullah dengan visi Membangun Peradaban Islam. Mengkomunikasikan ini Hidayatullah dengan menggunakan ini sebagai salah satu jalan.

Tawadhu iya, tapi beginilah kancah di era modern ini. Pasang itu titel, karena titel itu bukan sesuatu yang dibeli, titel itu diperjuangkan. Allah beri itu karena ada perjuangan. Pasang, sehingga nyambung nanti itu komunikasi kita.

Tolong dukung santri kami ini, pemimpin kami, ustadz kami, ini orang berilmu, tamatan Madinah, kami ingin mendudukkan di Senayan, supaya dia berdakwah di Senayan, agar makin banyak orang yang menerima dakwah Islam ini lewat Hidayatullah, supaya negara ini akan baik, punya moral.

Begitu, ada komunikasi. Ndak usah orang bertanya lagi siapa itu. Setelah diliat titelnya, ooo ini orang berilmu.

Jadi jangan ada yang tidak mengambil peran ini, turun! temui orang! Katakan seperti apa yang saya katakan tadi, katakan!

Sisir ini Balikpapan, Teritip, Gunung Binjai, masuk pasar Gunung Tembak.

Ini pekerjaan elit, pekerjaannya Nabi, inilah jalan-jalan yang kita mau lewati. Bahwa dia hadir secara konstitusional untuk merubah moral bangsa ini, moral kaum elit, dimana Hidayatullah hadir di situ lebih dekat lagi dengan komunikasi

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah Rabbil’alamin, Ar-rahmanirrahim, Maliki yaumid-Din, luar biasa sudah itu.(Sumariadi/Bersambung)

Sambut Ramadhan dengan Melatih Diri

0

Oleh : Ust Muh Al Muntazhar, Dai Hidayatulllah

HidayatullahSulsel.com — Rasulullah shallallahu alaihi wa salam dan para sahabatnya latihan (pempersiapkan dan mengkondisikan diri) berpuasa dan meningkatkan ketaqwaan enam bulan sebelum puasa Ramadhan tiba.

Ini menunjukkan betapa penting dan betapa besarnya pengaruh latihan dalam sebuah kesuksesan dan meraih kemenangan pada suatu pertarungan atau biasa Ramadhan disebut sebagai perang besar melawan hawa nafsu.

Maka sepatutnya kita sebagai ummat Rasulullah Muhammad untuk turut meneladani dengan berlatih menjelang Ramadhan yang akan kembali menjelang beberapa bulan lagi.

Kenapa kita harus berusaha latihan, bukan sekedar latihan biasa tapi dilakukan secara extra maksimal. Karena kemenangan dan keuntungan yang spektakuler dijanjikan Allah untuk kita hambya peroleh. Kemenangan dan keuntungan bagi siapa yang menang di Ramadhan tak terhingga nilainya.

Piala dunia sepak bola dengan hadiah yang sangat sedikit dengan ukuran atau dibandingkan hadiah yang dijanjikan Allah, para pemain dari negara peserta jauh hari dan dengan kesungguhan mempersiapkan diri

Padahal itu hanya sebatas kemenangan dan keuntungan di dunia saja. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh dan habis habisan. Lalu kenapa kita tidak lebih sungguh-sungguh dan habisan-habis pula untuk kebaikan dunia dan kemenangan kita di akhirat kelak ?

Karena puasa jauh lebih besar kemenangan dan lebih banyak keuntungan yang dijanjikan Allah untuk kita peroleh, untuk dunia dan terlebih bagi akhirat kita.

Semoga semua ummat mendapatkan kemenangan pada Ramadlan 2024 yang akan datang dengan kwalitas terbaik tentunya. Kemenangan dan amalan Ramadhan yang berkualitas tentunya akan membawa perubahan dunia yang dahsyat.

Sesungguhnya kemenangan berpuasa lebih mulia dari pada perjungan untuk memenangkan atau menjadi presiden dan wakil presiden apalagi sekedar menjadi anggota DPRD.

Tentunya perjuangan dakwah melalui politik bukannya tak penting. Maka kemenangan di Ramadhan mendatang dengan mempersiapkan diri lebih dini semoga juga membawa keberkahan bagi kemenangan di pelef dan pilpres mendatang.

Halaqah dan Dakwah Vertikal

0

Resume Taujih BPU; Penguatan Pakta Integritas Silatnas 2023 (1)

HidayatullahSulsel.com — Kepemimpinan itu memproteksi dan melindungi. Bahwa apa yang diperjuangkan tidak terdistorsi, tidak stagnan, tidak jalan di tempat, tapi ada langkah-langkah maju.

Kepemimpinan itu mengatur kehidupan bermasyarakat.

Pakta integritas itu kesetiaan moral. Itulah yang akan mengikat kita sehingga terselamatkan agama, iman, hati, pikiran, perasaan kita.

Diantara pakta integritas (Silatnas) adalah Halaqah sebagai salah satu model pengembangan dari civil society.

Civil society yang dimaksudkan adalah masyarakat yang berkemajuan. Maju dalam segala hal, maju secara spiritual, maju secara moral, maju secara ekonomi, politik dan lainnya.

Dari satu titik kecil namun dapat memberi pengaruh lingkungan, regional, nasional, sampai kepada visi besar Islam, yaitu kaaffatan linnas rahmatan lil ‘alamin.

Inilah kekuatan potensial yang dimiliki Hidayatullah yang hendaknya menjadi kekuatan aktual.

Lalu bagaimana kekuatan yang aktual menjadi sebuah pergerakan? Karena hanya dengan bergerak yaitu bekerja secara profetik dan profesional barulah ada yang namanya kemajuan.

Sudah luar biasa karunia yang diberikan Allah SWT, baik secara material, prasarana, infrastruktur, maupun secara suprastruktur, sudah luar biasa.

Selanjutnya bagaimana melakukan suatu gerakan dakwah yang bersifat elit, yang kalau saya mau istilahkan dengan “Gerakan Dakwah Vertikal”.

Gerakan politik itu gerakan elit jika berbicara strata. Para pengambil kebijakan itu adalah kelompok masyarakat elit.

Sifatnya Yahudi itu mappakereng-kereng, plin plan, tidak bisa di pegang kata-katanya. Makanya jangan ambil sifatnya Yahudi itu, yang mappakereng-kereng itu.

Tidak ada yang mau bertetangga dengan yahudi itu. Itulah mengapa Eropa beri mereka tempat, beri mereka negara supaya jangan kau ganggu kita ini (Eropa).

Yahudi itulah seburuk-buruknya manusia, diberi Nabi, Nabinya dibunuh.

Kita ini melakukan proses-proses bagaimana hadirnya Mahdi. Apakah Mahdi sudah ada sejak dahulu ataukah Mahdi akan dilahirkan kembali oleh zaman?

Dalam QS: Maryam: 58 terdapat kata وممن هدينا, semoga Hidayatullah termasuk dalam proses melahirkan Mahdi, kalau bukan Mahdi besar, ya… mahdi kecil. PUZ ini mahdi-mahdi kecil, ini mahasiswa Hidayatullah adalah mahdi-mahdi kecil, mereka inilah nanti yang mengarak Mahdi besar. Dimana nanti muncul Mahdi besar disitu nanti ada santri Hidayatullah.

Selain para pejabat, para ulama itu juga masuk kelompok elit. Orang alim, orang shaleh itu kelompok manusia elit. Bahkan dia bisa lebih elit, pengusaha bahkan politisi minta restu kepada para ulama.(Sumariadi/Bersambung)

*) Gunung Tembak, 17/12/2023

Di Workshop Bisnis MUI Sulsel, GM BTH Makassar Ungkap Tantangan Penetrasi Keuangan Syariah

0

Makassar, HidayatullahSulsel.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel menggelar Workshop Literasi Praktis Bisnis Syariah di Ruang Sidang/Seminar Prof Arifin Tumpa Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin, Sabtu (16/12/2023).

Kegiatan dibuka langsung Ketua MUI Sulsel Prof Dr KH Najamuddin MA. Tampil sebagai narasumber
Prof Dr M Arfin Hamid SH MH, Prof Dr H Muh Natsir Hamzah SE MSi, Dr Sanusi Fattah SE MSi, Dr Ir H Idris Parakassi MM dan Direktur/General Manager (GM) Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH) Makassar Baso Zulfikar.

Pada kesempatan tersebut, Baso mengungkapkan realitas ummat yang masih minim pemahamannya tentang ekonomi syariah khususnya keuangan syariah

“Saat ini sangat penting dimaksimalkan edukasi ekonomi syariah kepada kaum muslimin, sebab masih banyak kaum muslimin yang tidak paham terkait akad syariah ini,” urainya.

Keadaan ini membuat kinerja lembaga keuangan syariah belum sesuai target, meski terus terjadi peningkatan penetrasi pasar baik perbankan maupun baitul Tamwil.



BTH yang merupakan salah satu lembaga keuangan syariah yang kini melayani masyarakat. BTH di Sulsel ada dua cabang yakni di Makassar Jl Tamalanrea Raya, BTP dan BTH Bone.

“Melalui BTH Hidayatullah ingin mengambil peran mempraktekkan sistem ekonomi syariah di masyarakat,” ujarnya.

Kepada peserta workshop tersebut, Baso juga memanfaatkan kesempatan itu menjelaskan produk, layanan dan akad-akad syariah dalam pembiayaan syariah yang terapkan dalam sebuah lembaga keuangan khususnya di BTH.(rls/fir)

Alhamdulillah Silatnas Sudah Luar Biasa

0

Ceramah BPU, Evaluasi Panitia Silatnas

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Saya baca tadi ayat, firman Allah: “Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya…” (An-Naml [27]: 59). Alhamdulillah, ini terpilih semua.

Saya sangat menjaga diri supaya dapat prima melaksanakan tugas, mengendalikan acara di masjid dan menyampaikan apa yang bisa saya sampaikan. Karena semua penyampaian saya itu harus dari tetesan shalat malam. Saya tidak berani mencoba keluar dari itu.

Sehingga satu kerugian besar saya karena tidak pernah turun shalat malam di masjid, itu satu kerugian saya, kerugian besar. Selain karena harus ya jadi memang tiga malam acara puncak Silatnas dan tiga malam pula saya harus menyiapkan air di rumah.

Karena banyak tamu di rumah jadi harus siapkan air. Kalau tidak, justru itu mengganggu saya. Tapi spiritnya ada, bahwa inilah pengorbanan sedikit menghadapi acara Silatnas ini, melayani tamu di rumah yang dari kampung,  semua naka-anak hadir semua, cucu-cucu hadir semua

Alhamdulillah, walaupun tamu-tamu di rumah itu saya tidak kasi makan telur itik, padahal saya pesan telur asin dari Sulsel. Ternyata saya hanya bagi ke tetangga, ada yang ke Gunung Binjai, itu sebagai bentuk pelayanan juga, kalau tamu-tamu yang datang ini dipesan khusus saja, satu kali makan coto (Makassar) dan pelayanan satu hari itu bahkan sampai malam.

Dan di situ energinya juga, bahwa alhamdulillah ternyata bisa saja berjalan itu. Jadi walaupun saya tidak turun di masjid, tapi harus saya selesaikan wirid-wirid, mejelang jam tiga jam empat, walaupun tidak full juga yang penting sudah terpenuhi wirid-wirid itu. Karena dalil-dalil itu mengesankan kalau itu memberi energi

Ada itu di surah apa ya? … fasabbih bihamdi Rabbika…
Firman Allah: “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar),” (Ath-Thur [52]: 49)
Firman Allah: “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat,” (Qaf [50]: 40)

Bahwa di shalat itu banyak tasbih ternyata setelah shalat juga disuruh bertasbih juga. Energi ini perlu disampaikan, karena itu bisa menjalar, bisa membuat lurus pikiran dan omongan juga, jadi lurus pikiran, omongan dan jiwa juga jadi lurus. Saya selalu apa itu mengulang, kalau apa yang saya baca itu belum masuk di hati, saya ulang lagi.

Tadi saya baca alhamdulillah. Itu kadang baru bertutur saja, tidak konek di hati. Itu harus dikonekkan. Apalagi membaca “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” tidak hanya bertutur di lidah tapi juga bertutur ke hati.

Ini penting sekali disampaikan ya. Bahkan kita akan merancang lagi khusus untuk Ummul Qura untuk para santri dan semua warga. Alhamdulillah kalau hal-hal yang bersifat material itu sudah sukses besar. Karena orang yang datang itu sudah biasa yang begitu, kurang-kurang itu sudah biasa, maka saya menyambutnya dengan energi itu.

Firman Allah: “(Sambil mengucapkan): Salamun ‘alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu,” (ar-Ra’d [13]: 24). Karena mereka memang sudah bersabar sebagaimana kita selama ini sudah bersabar.

Kalau hal-hal itu dengan sendirinya sudah bisa dimaklumi semua. Namun kita sebagai tuan rumah namanya pelayanan itu harus prima kita siapkan. Sebagai tuan rumah semua harus disiapkan dan dikerahkan. Kalau sudah dikerahkan ya sudah.

Tapi yang harus selalu menjadi titik tekan dari kita semua bahwa benar-benar pertemuan ini membuat silaturahim itu sampai ke dalam. Benar-benar sampai ke dalam. Sampai kepada ta`liful qulub. Benar-benar bisa dirasakan sebagai “bi nikmatihi ikhwanan”

Karena persoalan-persoalan yang ada ini, dimana saja. Di rumah tangga juga seperti itu. Persoalan-persoala yang terjadi di pelosok dimana petugas Hidayatullah berada ya karena persoalan itu. Pesoalan hati saja, tidak ada yang lain

Sehingga inilah yang perlu kita usahakan benar-benar di masjid itu ada kesan adanya kenikmatan beribadah kenikmatan baca Qur’an, walaupun ada yang saya koreksi satu yaitu bertutur satu suara yang dipimpin dalam membaca tawajjuhat (wirid pagi sore). Sebenarnya tidak perlu. Tinggal di komando di halaqah. Bahwa semua bertutur dengan tawajjuhat. Bertutur sendiri. Tapi karena tidak siap semua tawajjuhatnya. Makanya saya katakan menjelang acara (Silatnas) itu semua harus punya (buku saku) tawajjuhat, semua harus mengantongi itu.

Kedua, ada waktu khusus membaca al-Qur’an. Semua membaca al-Qur’an di (halaqah) asyratul kiram itu. Semua membaca al-Qur’an paling tidak dua lembar dalam sekali shalat sebelum atau sesudahnya. Artinya benar-benar masih bisa tamat al-Qur’an. Masih bisa baca al-Qur’an satu juz satu hari.

Saya terlalai di hari pembukaan itu karena hanya bisa baca satu juz. Selainnya itu masih bisa baca dua dan tiga juz. Di hari pembukaan itu sulit sekali tidak bisa. Padahal seharusnya memang semua yang hadir itu masih bisa baca satu juz satu hari. Dan saya merabanya merenungkan itu sedikit yang bisa baca satu juz satu hari.

Jadi secara fisik itu sudah luar biasa. Pelayanan semuanya. Bahkan mungkin berlebihan sudah. Karena orang-orang yang dilayani kecuali yang baru datang baru hadir di Hidayatullah. Itupun sebenarnya orang yang baru datang itu bisa terpesona dengan keadaan yang ada, bisa merasakan nikmatnya terasa shalat kegiatan di masjid, tapi kita yang punya harapan besar ke depan. Itu masih angkanya harus di-upgrade. Makanya harus sigap, jangan biarkan energi itu berlalu. Harus sigap. Seperti energi al-Waqi’ah itu.

Firman Allah: “Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),” (Al-Waqi’ah [56]: 10-11)

As-sabiquna as-sabiqun. Bagaimana setelah Silatnas itu perlombaan benar-benar terjadi. Kalau tidak berarti biasa-biasa saja. Kalau tidak terjadi maka harus sigap warga Ummul Qura ini. Bagaimana nanti santri, mereka sigap ke masjid. Karena ketika ini dilakukan sabiqun bil khairat itu lebih mudah sebenarnya. Karena kalau orang sudah merasakan jadi mudah memang.

Terbukti yang saya lihat dan perhatikan secara langsung karena banyak membaca al-Qur’an lebih mudah dikomandoi secara jama’i. Mungkin kalau yang lain itu lebih mudah juga tapi belum mampu untuk berjamaah.

Anak tahfizh (Ahlus Shuffah Gunung Binjai) itu MasyaAllah dalam semua hal. Bukan main itu setiap hari bolak balik (jarak Gunung Binjai ke Gunung Tembak tujuh kilometer) dan ada pionernya seperti Pak Kaspan ini. Jadi “sabiqun bil khairat” itu tergantung eksistensi yang dibangun di situ. Ini yang harus di-follow up.

Alhamdulillah panitia sudah solid. Jangan pengalaman ini bubar lagi. Itu harus bergerak. Yang di pendidikan bagaimana energinya itu, yang bergerak di dunia dakwah bagaimana energinya itu. Itu sudah dulu.

Kalau dari segi SC (Panitia Pengarah) yang saya evaluasi SC itu menghadirkan tamu-tamu nasional yang kurang sigap. Untung ada ustadz Nashirul (Ustadz Nashirul Haq, Ketua Umum DPP Hidayatullah) sudah punya komunikasi yang baik. Jadi bisa mengambil tamu yang tabligh akbar itu (KH. Cholil Nafis), karena memang sudah berteman jadi mudah saja. Termasuk juga wakil Menteri itu bisa datang karena komunikasinya sudah baik.

Padahal, muballigh kondang yang pernah datang di sini, Pak Shomad (Ustadz Abdul Shomad) beberapa tahun lalu dia datang itu, ada tiga tahun ya? Itu dulu sudah dibisik. Kenapa bisa dikatakan tidak bisa hadir karena sudah penuh acaranya, tiga tahun tidak mungkin. Hanya satu tahun saja mungkin. Ini kelalaian.

Termasuk yang dicanangkan khatib Jumat (Ustadz Adi Hidayat) sudah dicanangkan tapi tidak dikerjakan dengan baik. Bahkan ketua SC-nya pernah mengatakan, sudah cukup Pak Zainuddin (Ustadz Zainuddin Musaddad, Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah), saya bilang tidak tidak begitu. Ini alasan mati.

Karena acara nasional jadi mau menghadirkan tokoh-tokoh nasional itu. Jadi itu alasan mati. Alasan karena tidak bisa. Ini termasuk persoalan besar bagi saya. Karena melalaikan tugas nasional.

Kalau ini pelaksanaan ini sudah bagus, berlebihan sudah. Bahkan memberi inspirasi dan pengalaman bagi kita. Bahwa ternyata menghadirkan orang sekian banyak itu sudah ada polanya. Jadi sudah dipolakan. Di antaranya yang besar misalnya warga sudah bisa melayani tamu. Kalau perlu dirikan memang tenda di rumahnya.

Pak Sahlan (warga senior, tukang di kampus Gunung Tembak) saja itu lebih dari empat puluh orang di rumahnya, Pak. Sampai tidur-tiduran di emperan di luar itu. Dan dia bukan orang, bukan juga apa namanya. Artinya masih miskin juga itu. Sama-sama miskinnya kita itu. Semua bisa menerima tamu. Apalagi kalau diperbanyak lagi, memang kita sudah siapkan tenda besar di rumah.

Ada hikmah besar juga yang saya lihat. Ketika Kodam (Kodam VI Mulawarman, Balikpapan) tidak memberikan kendaraan. Ini senang sekali taxi (kendaraan angkutan umum di Balikpapan). Berdoa itu taxi, Pak. Semoga nanti ada acara-acara besar nasional Hidayatullah lagi. Panen Pak.

Dan itu diperlukan karena itu dakwah. Bagaimana kita menindaklanjuti para sopir taxi itu. Seandainya bisa semua sopir taxi nomor tujuh (rute Balikpapan Timur) itu diundang semua. Diucapkan terima kasih baru dikasi snack. Itu dakwah, Pak. Dakwah paling bagus ini.

Termasuk juga mengundang semua pemilik katering kecil di lingkungan (pesantren) ini. Dari Manggar sampai sini. Makanya saya bilang kemarin seribu katering mau dihadirkan. Karena itu dakwah juga. Selain kita dakwahi bahwa kalau bapak melayani tamu ini dengan baik ada berkahnya itu karena ini semua pejuang.

Kita dakwahi. Dan boleh jadi dia tidak hanya mencari keuntungan di situ. Tapi juga mencari berkah. Kalau sudah masuk dalam memorinya yang namanya berkah. Itu Allah akan kasi tambah berkahnya. Ini kan semuanya dari Allah. Bukan dari kita. Kita ini hanya jadi mediator-mediator saja. Jadi kita siap-siap menjadi tuan rumah yang melayani tamu.

Saya bingung juga. Waktu mengatakan sepuluh juta. Itu saya pinjam dari DPP (Hidayatullah) dari BMH Pusat itu. Saya meminjam uang itu. Karena ada juga pembiayaan yang harus saya lakukan. Membayar tukang. Saya pinjam itu. Sudah. Saya pikir bagaimana ini ya, masih harus ada pengeluaran sampai dua puluh juta itu. Tapi darimana uangnya. MasyaAllah ada yang kasi uang itu. Begitu saya bilang ke pak Erwin. Pesankan saya untuk (porsi) 250 orang di Torani (Rumah Makan Torani di Balikpapan). Tapi belum ada uangnya itu. MasyaAllah.

Pak Imran itu, adiknya Pak Mannan (ustadz Ali Imran dan Ustadz Abdul Mannan rahimahullah) kasi uang sepuluh juta. Langsung tidak singgah uang itu. Langsung. Lima belas juta itu biaya kateringnya dari Torani. Dan banyak lagi biaya-biaya makanan itu.
Orang di rumah itu, tamu saya yang dari kampung itu bilang darimana makanan-makanan ini? Allah kasi datangkan itu. Ada dari Sulawesi kasih ikan kering. Ada yang kasih madu. yang bawakan telur mentah. Pokoknya ada.

Sehingga energinya ada. Bahwa ternyata melayani tamu itu luar biasa juga. Justru yang saya pikir ini, aku mau ke Sulawesi belum ada uangku lagi. Masih ada beban di sana. Dan saya mau bikin di sana Silaturahim Regional. Sudah bikin pamflet besar. (Baliho) ukuran besar (di acara Silatnas) itu sudah saya kirim. Beberapa famplet sudah kukirim kesana.

Saya mau bikin di sana di lapangan di kampung. Karena ternyata ini menarik. Baru kita undang orang-orang. Orang Pinrang kita undang. Ada cara baru yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan Hidayatullah. Bahwa begini Hidayatullah.

Alhamdulillah Silatnas sudah luar biasa. Lebih dari apa yang terbayang-bayang di pikiran saya. Sehingga bagaimana lagi, saya bilang mimpikah saya punya sepuluh trilyun?

Kemarin ustadz Nashirul pamit. Pamit  ustadz. Karena ini ada musyawarah MUI (di Jakarta). Beliau hadiri acara MUI di sana. Saya sudah sampaikan bahwa ustadz Nashirul sudah harus keliling dunia. Mencari siapa yang memiliki uang banyak dan mau mendirikan desa modern klasik dan alamiah di Kawasan Gunung Tembak ini. Beliau harus keliling cari itu orang yang punya duit. Kita doakan. Ada raja telurkah? Atau siapa saja. Keliling Indonesia dan keliling dunia.

Fa idza faraghta fanshab (Jika engkau sudah tuntas mengerjakan satu aktifitas, maka segera kerjakan aktifitas lain yang bermanfaat). Karena kalau jadi Jambore Internasional. Kita akan menghadirkan anak-anak muda semua. Kalau 2025 nanti presidennya baru. Maka komunikasi harus terus ada. Supaya presiden baru itu yang harus hadir nanti. Benar-benar hadir secara fisik. Jadi jambore nasional di Gunung Tembak ini. Bahkan penasihat (ahli hukum) Kapolri (Dr. Choirul Huda) itu mengatakan, harus internasional.

Jadi itu luar biasa. Sehingga begini. Pendidikan ini benar-benar mengefektifkan pelajaran. Jangan anak-anak itu dikorbankan. Benar-benar diefektifkan. Guru-guru betul-betul disiplin. Ditambah jam Pelajaran. Tidak jam tujuh pagi masuk sekolah. Bukan jam tujuh pagi. Tapi habis halat malam habis ahlat Subuh sudah masuk sekolah.

Benar-benar ini bukan saya omong kosong. Harus seperti itu. Dan bahkan akan memiliki prestasi yang lebih dengan cara ini. Karena saya sudah tempuh itu. Guru saya di Yogyakarta jam dua malam sudah datang. Memang ketat sekali. Sudah shalat malam kita, mengajar dia. Habis shalat Shubuh, mengajar lagi. Dan pelajaran abis shalat Shubuh itu minimal sampai jam delapan pagi. Sudah itu bersih-bersih makan, sapu-sapu, angkat air, setelah itu masuk kelas lagi.

Jadi ini harus di-upgrade. Kalau bisa tidur semua di masjid. Saya lihat LPPH ketawa. Benar-benar ini, Pak. Militansinya ada. Naik turun (tangga masjid) Baca semua buku. Jangan keluar dari perpustakaan. Membaca. Baca semua buku.

Jadi ini inspirasinya yang datang kepada saya. Anak-anak akan jadi korban kalau konvensional dan manual acaranya. Mengajarnya konvensional. Cara pendidikan konvensional. Tidak bisa. Kembalikan ruhnya pendidikan. Kita kan semua orang pintar ini. Sarjana doktor. Mana ada ulama dengan cara ini. Dengan cara konvensional ini. Mana ada ulama besar lahir. Tidak ada. Lihat perjalanan sejarah. Apa yang saya katakan itulah yang pasti. Itu saja penutupnya dulu. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.(*)

Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, Ahad (2/12/2023)

Legacy Sang Mujahid

0


Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ada peribahasa sangat populer, ‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Setiap mahluk hidup termasuk manusia, memiliki jatah waktu dan tidak hidup abadi, tertinggal hanya kebesaran nama yang dikenang

Ketika seseorang tiba ajal berarti tugas besar dalam hidupnya juga berakhir. Dia pun akan dikenang dalam dua hal dari amalan hidup, karena jasa-jasanya, karena warisan kebaikannya. Atau sebaliknya, seseorang dikenang sebagai orang yang buruk karena kesalahan-kesalahannya.

Disadari, fitrah manusia pada hakekatnya berkeinginan meninggalkan dan dikenang sebagai manusia baik. Meninggalkan legacy atau peninggalan warisan kebaikan dan kebermanfaatan bagi generasi penerus.

Terlebih bagi mujahid, yakni orang yang bersungguh-sungguh dalam mengembang amanahnya dan mewujudkan cita-citanya. Seperti mujahid dakwah, yang menghibahkan waktu dan pikirannya demi kemaslahatan dan kebaikan umat dalam berbagai metode dan karya yang dilakoninya.

Mujahid dakwah itu akan dikenang sebagai mujahid sejati manakala memiliki legacy yang menjadi nilai utama perjuangan dakwahnya. Yang dapat menjadi pembeda dengan yang lainnya berdasarkan prestasi dan peran keummatannya.

Dia adalah mujahid sejati, sepanjang hayat sang mujahid dakwah dihabiskannya hanya untuk menyadarkan umat agar berilmu dan ber-Islam dengan baik dan benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Legecy nilai-nilai kebaikan seorang da’i adalah contoh perannya sebagai penolong agama Allah (Ansharullah). Mujahadahnya terasa berkesan dan bermanfaat dalam merubah karakteristik umat menjadi lebih taat dan baik.

Sehingga legecynya akan terus dikenang sekalipun sang mujahid dakwah sudah tidak lagi hadir di tengah-tengah umat berdakwah. Dan nilai-nilai kebaikan dan prinsip kehidupannya akan tertransformasikan dalam tatanan hidup yang baik dan kebermanfaatan.

Legacy Kebaikan dan kebermanfaatan

Disebut orang besar ketika selalu meninggalkan legacy. Legacy yang ditinggalkannya penuh kebaikan dan kebermanfaatan, mulai dari nilai-nilai filosofis sampai kepada bagaimana mewujudkan nilai-nilai yang diyakininya tercipta secara konkrit dalam tatanan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Contoh legecy historis adalah Ibadah haji yang dilakukan umat Islam setiap tahun adalah warisan ibadah yang diserukan oleh Nabi Ibrahim AS. Firman Allah:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 27)

Tidak hanya mujahid dakwah, setiap muslim pun punya kesempatan dan mengharuskan dirinya memawariskan lagacy yang diwaqafkan atau disumbangkan untuk dakwah dan kebaikan umat. Dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Legecy tidak harus fenomenal dan bersifat monumental. Bisa dalam bentuk lain berupa apa saja sifatnya untuk kebaikan di jalan Allah. Seperti kegemaran berdonasi infaq dan shadaqah untuk pembangunan dan kegiatan kemasyarakatan, dan keummatan.

Juga gerakan literasi, membuat buku atau tulisan yang dibaca oleh banyak kalangan hingga generasi setelahnya. Dan kebaikan-kebaikan lainnya yang memiliki manfaat serta untuk dapat diteladani hingga dalam waktu panjang.

Legacy baik terletak pada kemanfaatan yang luas dan dalam kurun waktu yang lama. Semakin luas jangkauan, cakupan dan konstribusi pada pihak-pihak yang mendapat manfaatnya, dan terus meningkat dan berkembang luas maka legacy itu semakin bernilai tinggi dan mulia

Betapa pentingnya setiap orang meninggalkan legecy. Sampai Rasulullah SAW bersabda, ‘sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi hari kiamat maka hendaklah dia menanamnya’ (HR. Imam Ahmad).

Tentu saja sebuah legacy tidak muncul spontan begitu saja, harus melalui proses gagasan, direncanakan dan diwujudkan secara konkrit dalam pengorganisasian yang baik, secara infirody (individu), ataupun jama’ih (organisasi)

Dalam konteks keorganisasian, legacy yang dihasilkan adalah pemikiran kepemimpinan visioner. Merumuskan dan merencanakan konsep pengkaderan yang mampu melahirkan generasi pelanjut estafeta perjuangan dakwah.

Namun, legacy terpenting adalah sejauh mana mujahid dakwah sukses mencetak sumber daya insani, berupa kader biologis yang terlahir dari rahim orang tua, atau kader ideologis terlahir dari gerakan tarbiyah (pendidikan) dan dakwah.

Sehingga lahir legacy emas, generasi terbaik yang siap secara mental, intelektual. spirituali dan skill diperlukan untuk berkemampuan tinggi dalam berkompetitif disemua kondisi dan tantangan jaman kini dan esok.(*)

Selamat Jalan Wahai Kawan-kawanku

0

(Bagian akhir taujih ustadz Abdurrahman Muhammad hafidzahullah pada penutupan Silatnas Hidayatullah 2023)

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — “Selamat jalan wahai kawan-kawanku, bersyukurlah kepada Allah Subhana wa ta’ala dan bersabarlah dalam perjalanan jihad ini. Allahu Akbar!” (Bapak pemimpin umum)

Setelah epicentrum gerakan spiritual dan moral, berikutnya adalah menjadikan kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia sebagai epicentrum gerakan keilmuan. Karena itu, di kampus pusat Ummul Qura ini mulai kita kembangkan perpustakaan dengan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp 800 juta dialokasikan untuk membangun perpustakaan.

Harapan kita ke depan, para santri dapat mengembangkan wawasan dan keilmuan sehingga menguasai berbagai disiplin ilmu dan dapat berdialog dalam bidang apa saja. Target ini in sya Allah bisa dicapai oleh generasi supra-struktur di lembaga ini. Sebab, jika ingin memimpin dunia maka harus bisa berdialog dalam berbagai aspek; politik, ekonomi, budaya dan lainnya.

Allah Subhana wa ta’ala yang mengangkat kita untuk mengemban amanah ini, bukan siapa-siapa, mungkin bayangan ini terlihat sederhana, ustadz Abdullah Said rahimahullah mengatakan, mungkin orang menganggap ini hanya mimpi, dalam kesempatan lain beliau mengatakan, klise ini sudah mau dicetak agar bayang-bayang itu menjadi dhohir atau menjadi kenyataan.

Ini tantangan untuk para kader, siapa yang siap untuk mencetak kader seperti ini, kader yang mampu menangkap irfan (pengetahuan), bayanah (penjelasan), burhan (petunjuk) dan furqonnya (pembeda) wahyu, inilah santri atau kader yang ditunggu-tunggu zaman.

Gerakan Infrastruktur

Selain membangun epicentrum supra-struktur kita juga perlu membangun epicentrum infra-struktur. Ada perkembangan dan kemajuan pada fasilitas berupa bangunan dan lainnya, jangan sampai ada bangunan yang sudah mau roboh tidak diperbaiki. Kader harus berpikir maju, sehingga terasa ada perkembangan, ada kesejukan dan keramahan di tempat itu.

Membentuk Tim Tawajjuh

Pernah ada wacana dalam diskusi saya dengan ustadz Mannan, ustadz Abdurrahman, ustadz Aziz Qahhar, ustadz Hamim Thohari, untuk membentuk tim tawajjuh di masjidil haram dan disepakati ustadz Mannan yang dikirim untuk duduk di sana sebagai tim tawajjuh difasilitasi ustadz Dzikrullah tetapi qadarullah, beliau lebih dulu wafat.

Wacana ini mengemuka karena kita harus selalu menyiapkan diri untuk mengaplikasikan perintah Allah Subhana wa ta’ala,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎وَا ذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا

“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 😎

Ayat yang kita maknai sebagai perintah untuk melakukan kontemplasi atau bergua hiro, untuk membuka wawasan kepemimpinan global.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎رَبُّ الْمَشْرِقِ وَا لْمَغْرِبِ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَا تَّخِذْهُ وَكِيْلً

“(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 9)

Sebuah wawasan kepemimpinan global yang meliputi timur dan barat di atas landasan tauhid “Laa ilaha illallah.”

Intinya, profil Hidayatullah ke depan adalah sebagai epicentrum identitas gerakan spiritual, moral dan keilmuan.
Karena itu mari kita berlomba mengaplikasikan apa yang Allah Subhana wa ta’ala perintahkan di dalam al Quran;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,” (QS. Fatir 35: Ayat 29)

Dengan membaca al Quran,
sholat dan berinfaq maka kita tidak akan pernah merugi. Inilah kunci kebahagiaan dan pencerahan, termasuk di antaranya mengerjakan amalan sunnah seperti sholat dhuha, karena berdasarkan pengalaman, saya sering mendapat banyak inspirasi dan harapan (munajat) ketika sholat lail, ternyata semuanya harus diverifikasi dalam sholat dhuha.

Mengambil Peran

Kalau ustadz Abdurrahman dari Surabaya kemarin mengatakan, kita jangan menjadi beban, jangan menjadi bagian dari masalah, maka saya perlu tambahkan, kita harus mengangkat beban, harus mengambil bagian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎اِنْفِرُوْا خِفَا فًا وَّثِقَا لًا وَّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 41)

Ketaatan dalam mengambil peran dalam perjuangan merupakan indikator bahwa kita memiliki iman. Dengan tekad ini maka Allah Subhana wa ta’ala akan mencerahkan kita sebagaimana disebutkan di dalam surah Al Insyirah ayat 1-8.

Allah Subhana wa ta’ala akan mengangkat sebutan, derajat dan izzah (kemuliaan) siapa yang mau memikul beban perjuangan, baik skala pribadi dan keluarga maupun skala jamaah. Semakin banyak beban yang dipikul maka semakin tinggi izzah atau kemuliaan yang Allah Subhana wa ta’ala berikan, di antaranya diberikan wawasan dan sikap mental “Rahmatallil alamin kaffatalinnas” (menjadi rahmat bagi seluruh alam dan manusia secara keseluruhan).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَا مُوْا عَلَى الطَّرِ يْقَةِ لَاَ سْقَيْنٰهُمْ مَّآءً غَدَقًا

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (air minum yang banyak, rezeki dan berbagai kenikmatan).” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 16)

Masya Allah, ternyata berjihad itu adalah puncak keimanan; iman kepada Allah Subhana wa ta’ala, iman kepada Rasul-Nya dan beriman untuk berjihad di jalan Allah Subhana wa ta’ala.

Selamat Jalan, Kawan-kawan!

Alhamdulillah sudah empat hari kita menjalani silatnas, selamat jalan para kader Hidayatullah, kita datang bersilaturrahim di sini in sya Allah keberadaan kita di sini Allah Subhana wa ta’ala akan balas paling tidak sepuluh kali lipat, tetapi saya yakin Allah Subhana wa ta’ala telah memberikan lebih dari sepuluh hal kepada kita semua.

Sehingga jalan perjuangan menuju “Asyaratul kiram” dan termasuk jalan perjuangan menuju pembebasan Palestina yang saat ini sedang berjihad menghadapi kaum zionis semakin terbuka, karena tidak ada yang lebih baik hari ini kecuali berniat untuk menjadi bagian dari pembebasan Palestina. Silatnas ini diadakan untuk mempersiapkan generasi yang siap untuk “Li ‘ilaa’i kalimatullah hiyal ‘ulya.”

Itu yang dapat saya sampaikan, selamat jalan wahai kawan-kawanku, bersyukurlah kepada Allah Subhana wa ta’ala dan bersabarlah dalam perjalanan jihad ini. Allahu Akbar!

(Disusun Jiho Manshur)
Saat menuliskan paragraf terakhir tidak terasa air mata menetes karena rasa haru.
Fery Balikpapan-Surabaya, 4 November 2023

Melahirkan Generasi Supra-Struktur

0

Bagian kedua taujih ustadz Abdurrahman Muhammad hafidzahullah pada penutupan Silatnas Hidayatullah 2023

Silatnas, HidayatullahSulsel.com — Landasan gerakan moral tertuang di dalam surah al Mujadalah dan surah al Hujurat, para kader perlu mengilmui dan mengambil bayanah (penjelasan) serta furqon (pembeda) dari dua landasan ini.

Sebenarnya paradigma ilmu dan moral sudah lengkap tertuang di dalam surah al Alaq, termasuk unsur yang di dalam filasafat yang disebut ontologi, epistemologi dan aksiologi. Jadi sangat luar biasa sistematika wahyu ini.

Saya mengusulkam agar di semua kampus Hidayatullah ada tim tawajjuh (tim yang tugasnya fokus dan penuh konsentrasi berdzikir dan melakukan ibadah guna memberikan energi dalam bentuk doa kepada tim di lapangan agar selamat dan sukses menjalankan tugas dakwah).

Karena kalau hanya mengurus infra-struktur tanpa supra-struktur maka yang didapatkan hanya fatamorgana, bukan pertolongan Allah yang datang tetapi yang terjadi justru malapetaka dan pertikaian.

Karena itu para kader perlu untuk memberikan perhatian pada aspek ruhiyah; masjid harus diurus dengan baik, kalau ke Mekkah kita bisa melihat bagaimana masjidil Haram diurus dengan peralatan-peralatan yang modern, menunjukkan bahwa peradaban terus berkembang.

Pertanyaannya apakah peradaban ruhani juga berkembang? Iya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Al-imani yazidu wa yanqusu” (iman itu terkadang naik terkadang turun).

Pada waktu tertentu kita menangis mendengarkan al Quran itu berarti iman sedang naik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

Yang malas membaca al Quran berarti sedang terbelenggu oleh syaithan, itulah manfaatnya Attawajjuhat (wirid pagi dan sore) serta GNH (gerakan nawafil Hidayatullah) untuk menjaga dari agar tidak mengalami penurunan iman yang drastis.

Melayani tamu 100 ribu orang itu mudah kalau terbangun gerakan moral dan iman. Misalnya untuk konsumsi, ada kesadaran “wa ath’amu tho’am” semua terpanggil untuk memberi makan para tamu. Atau kita mengundang seribu catering lalu panitia mensubsidi catering tersebut sehingga para tamu dapat menikmati makanan yang layak dengan harga yang terjangkau.

Alhamdulillah kita sudah empat hari menjalani silatnas, para panitia sudah bisa tersenyum meski masih ada juga yang merenung. Tetapi bagi saya, prinsipnya “asy syakuru al ‘aliyu al kabir” sesuai asmaul husna. Memang ukuran kualitas dalam perjuangan itu sabar, tetapi rasa syukur memberikan wawasan kemuliaan, ketinggian dan kebesaran sesuai sifat Allah dalam asmaul husna.

Karena itu saya juga menitipkan kepada peserta silatnas untuk menghafalkan asmaul husna. Di masjid Ummul Qura, selain lafadz Laa ilaha illallah, Muhammadarrasulullah, kita juga akan memasang asmaul husna di dinding masjid agar menjadi arahan dalam perjalanan dan menunjukkan bahwa di sini ada ruhiyah dan ada jasadiyah, ada hakikat dan ada eksistensi.

Terkait dzikir Laa ilaha illallah, saya mendapati sebuah hadits yang menggambarkan lafadz ini sebanyak zaman, sebanyak gelombang dan air di lautan, sebanyak benih dan pohon, sebanyak derai air hujan, sebanyak tetesan mata air, dari hari ini sampai ditiupkannya sangkakala, “Laa ilaha illallah” lebih baik dari apa yang dikumpulkan manusia.

Salah satu hadits Qudsy mengatakan, Laa ilaha illallah adalah benteng-Ku, siapa yang masuk ke dalamnya maka dia akan aman. Kalau para kader mengamalkan attawajjuhat, GNH, dzikir, sholawat, asmaul husna, maka itulah identitas epicentrum gerakan spiritual.

Jika masuk ke masjid-masjid Hidayatullah akan terasa ada ruh yang hidup. Saya pernah mendatangi sebuah pesantren di Jawa, sebelum adzan santrinya sudah di masjid untuk berdzikir, berdoa dan membaca al Quran, insya Allah kita sedang berproses menuju ke sana, karena itu telah dituangkan dalam grand desain Hidayatullah. (bersambung)

Disusun oleh Jiho Manshur

Membangun Episentrum Gerakan

0


(Bagian pertama taujih penutupan silatnas KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah)

HidayatullahSulsel.com — Para tokoh Hidayatullah sudah merumuskan landasan untuk menapaki perjalanan Hidayatullah ke depan. Dalam grand desain Hidayatullah telah ditetapkan epicentrum gerakan; pertama, supra-struktur dan kedua, infra-struktur.

Hadirnya supra-struktur di Hidayatullah untuk melanjutkan sistematika wahyu. Sebagaimana program Grand MBA (gerakan mengajar dan belajar al Quran) dan rumah quran serta halaqah yang inspirasinya muncul di tanah haram Mekkah. Landasannya adalah surah Hud ayat 96.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِـَٔايَٰتِنَا وَسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata,

Al Quran adalah mujizat terakhir yang Allah Ta’ala turunkan di muka bumi ini, dan Allah Ta’ala mengatakan:

‎اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)

Rumah-rumah quran adalah epicentrum mujizat al Quran, jika rumah-rumah quran eksis maka sesuai janji Allah, kebatilan akan sirna.

Yang pertama, membangun epicentrum gerakan spiritual sebab hanya orang yang dekat dengan Allah Ta’ala yang bisa mendapatkan bantuan, ma’unah dan kekuatan dari Allah Ta’ala. Untuk mengidentifikasi orang yang dekat Allah (muqarrabun) kita dapat membuka al Quran pada surah Al Waqiah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎وَا لسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَ

“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),” (Ayat 10)

‎اُولٰٓئِكَ الْمُقَرَّبُوْنَ

“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),” (Ayat 11)

‎فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

“berada dalam surga kenikmatan,” (Ayat 12)

‎ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَ وَّلِيْنَ

“segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,”(Ayat 13)

‎وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰ خِرِ يْنَ

“dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian,”
(Ayat 14)

Kita ingin kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia menjadi epicentrum atau pusat gerakan spiritual. Aktivitas orang- orang di dalamnya mengindikasikan orang-orang yang mencontoh ‘asyraful qiram’.

Ini yang harus digerakkan ketika para kader kembali ke tempat masing-masing, bagaimana menjadi “assabiqunassabiqun ulaaikal muqarrabuun”.

Yang kedua, membangun epicentrum gerakan moral. “Sabiqun bil khairat atau bersegera dalam kebaikan, berikan contoh terdepan dalam hal kebaikan, itulah akhlak. Kalau para kader kembali ke tempat masing-masing dan menggelar acara baik kecil maupun besar, wujudkanlah spirit moralitas ini sebagai perwujudan dari peradaban Islam.

Dengan menjadi pelopor kebaikan, mewujudkan peradaban Islam dari hal-hal yang sederhana, ini akan menjadi magnet atau power (kekuatan). Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam dalam kepemimpinannya memiliki power spiritual dan power morali, karena yang Allah Ta’ala telah memberi penelanan pada aspek akhlakul karimah. Seluruh pemimpin di Hidayatullah termasuk DPW, DPD dan lainnya hendaknya menjadi pelopor moral.

Misalnya, boleh saja makan di warung di pinggir jalan berulang-ulang tetapi harus memiliki target dakwah kepada pemilik warung dan harus ada jaminan sebagaimana para rasul menjamin dirinya, “inni rasulun amiin,” (sesungguhnya aku adalah rasul yang terpercaya).

Kita semua harus menanamkan di dalam diri satu sikap mental bahwa kita adalah para pembawa dakwah yang bisa dipercaya. Kita hadir di tengah ummat sebagai utusan Allah untuk membawa “ahsanu qaulan mimma da’a ilallah wa ‘amila shalihan wa qala innani minal muslimin (seabik-baik perkataan untuk mengajak kepada Allah Ta’ala dan berbuat kebaikan dan mengatakan sesungguhnya aku seorang muslim).

Di kampus-kampus Hidayatullah terbangun kejujuran pada diri sendiri, istri, anak-anak dan teman-teman di sekitarnya serta lingkungan secara umum. Jika ini bisa ditegakkan, maka Allah akan angkat apa yang menjadi hijab-hijab atau sekat antara satu dengan yang lain.

Tadi malam seusai sholat tahajud saya merenung, di mana letak poros moral di dalam al Quran, qadarullah ustadz Baharun baru saja membaca surah al Hujurat yang memuat kandungan bahwa moral pertama adalah jangan melampaui imam dan ayat-ayat selanjutnya yang merupakan tatanan moral yang harus diwujudkan, karena itu halaqah di silatnas ini kita beri nama “asyratul kiram” sebuah upaya menjadi manusia-manusia ahlul jannah yang dijanjikan masuk syurga. (bersambung).

Disusun oleh Jiho Manshur