Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, kita telah melaksanakan Rakerwil dengan sukses. Ini adalah Rakerwil istimewa buat kita di Sulsel, karena langsung dihadiri dan didampingi oleh Ketua Umum (Ketum) Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, Lc, juga Ustad kandidat Doktor, Sholeh Utsman, Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah.
Alhamdulillah, keistimewaan lain dari Rakerwil kali ini adalah dengan kehadiran tokoh nasional, anggota DPD RI, Bapak Drs Tamsil Linrung. Tak kalah pentingnya adalah kehadiran tokoh Muhammadiyah sekaligus Bupati Wajo, Dr H Amran Mahmud SSos serta Rektor As’adiyah dan Ketua MUI Wajo, Dr H Muh Yunus P Andi Padi.
Apresiasi dan penghargaan juga kami sampaikan kepada tuan rumah, Ustad Sudirman, Ketua DPD Hidayatullah Wajo beserta tim, yang telah berusaha dan bersusah payah, untuk mensukseskan Rakerwil ini, dari awal persiapan hingga acara ini selesai.
Untuk mensukseskan agenda Rakerwil ini ke depan, di tahun 2024, ada lima i, (5-i) yang harus kita jalankan.
I yang pertama, adalah Iqro, kedua adalah Isal, ketiga Ijtima, keempat Ikhtiar, dan kelima adalah Islam.
Pertama adalah Iqro. Tidak bisa berjalan program-program kita ini, tanpa Iqro yang baik. Banyak membaca, kembangkan potensi diri, dengan banyak belajar.
Kedua, Isal. Isal ini akronim dari Issengi alenu. Pahami dirimu. Banyak diantara kita yang tidak mengenal dirinya. Sehingga kadang tidak bisa bekerja. Jadi harus tahu diri. Isal Ki.
Ketiga, Ijtima. Untuk menjalankan program-program ini, kita perlu bersama, berkolaborasi dengan semua unsur, baik internal maupun lembaga di luar Hidayatullah.
Keempat, Ikhtiar. Tidak bisa sukses tanpa adanya Ikhtiar yang kuat. Program kerja ini harus dikawal dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Dan yang kelima, Islam, ini akronim dari isi lambung. Artinya, kita juga harus memperhatikan kesejahteraan kader dan anggota Hidayatullah. Kita berusaha untuk mensejahterakan mereka. Kebutuhan logistik, harus terpenuhi. Jadi juga harus ada Islam.
Terakhir, saya menyampaikan, alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, atas bimbingan dan pertolongan Allah swt., Rakerwil DPW Hidayatullah Sulsel 23-24 Des 2022 di Gedung PGRI Wajo terlaksana dengan sukses. Kesemuanya itu tentu karena sinergi, kolaborasi dan peran aktif semua pihak.
Untuk itu, kami dari pengurus DPW Hidayatullah Sulsel mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Ketum DPP (Ust KH DR.Nashirul Haq LC.MA) & Kadep Pengkaderan DPP (Ust. DR.Sholeh Usman).
2. Bapak Tamsil Linrung (Ang DPD RI dn Calon ang DPD RI 2024)
3. Bapak Dr. Amran Mahmud, S.sos, Bupati Wajo dan jajarannya.
4. Rektor IAI As’adiyah/Ketua MUI Wajo.
5. Instruktur Nasional, Ust Sumadiana MA, Ketua dn Anggota DMW Sulsel, Perwakilan BMH, KU-AB Makassar, PW Mushida dn PW Pemhida & STAI Al-Bayan, BTH Sulsel dn amal usaha lainnya.
6. Pengurus DPD Hidayatullah dan Kampus Madya se-Sulsel.
7. Ormas-ormas, Partai-partai, tokoh masyarakat, Alim Ulama, santri dan jamaah binaan se-Bosowa dan sekitarnya, Serta Travel Haji Umroh MHU
8. Juga kepada SAR Sulsel, dan Santri SDH Sultanbatara.
9. Secara khusus kepada Panpel DPW dn lokal (DPD Hidayatullah Wajo).
Sehingga Rakerwil DPW Hidayatullah Sulsel terlaksana dengan baik. Semoga sinergi dn kolaborasi terus kt wujudkan ke depan dalam mensukseskan gerakan dakwah dn tarbiyah di Sulsel.(*)
Terima Kasih dan 5-i
Catatan Rakerwil Hidayatullah Sulsel, Kemandirian itu…
Oleh: Sarmadani Karani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap
Rakerwil, HidayatullahSulsel com — Sebuah rencana tanpa kerja, ia cerita belaka. Sebuah kerja tanpa rencana, adalah merencanakan kegagalan.
Dari arena Rakerwil Hidayatullah Sulsel, 22-24/12, yang digelar di Gedung PGRI Sengkang, Kabupaten Wajo Sulsel, menghasilkan sebuah tagline.
Tageline di 2024 itu adalah “Kemandirian Amal Usaha dan Jama’ah, Mewujudkan Organisasi Unggul dan Berpengaruh”.
Aku dapat tugas, membuat catatan khusus untuk tagline ini, dari seorang pejabat teras pengurus DPW Hidayatullah Sulsel. Kemarin, saat Rakerwil tidak sempat menulis ini. Hari ini, sambil menunggu rebusan 350 butir telur asin, saya coba mengurai tagline tersebut.
Saya tidak mau berspekulasi tentang kemandirian itu, bahwa kemandirian itu di tahun 2024 ini harus mulai terbangun, baik organisasi dan jama’ah. Secara pribadi, usaha telur asin ini adalah bagian dari upaya kemandirian tersebut. Meski hanya usaha kecil menengah, atau di bawahnya lagi.
Pada dasarnya, dakwah Rasulullah dimulai dengan berdagang. Rasulullah mencoba menjualkan barang milik seorang janda kaya di Makkah saat itu, Khadijah.
Lewat usaha dagang yang Muhammad rintis, banyak orang tertarik dengan cara dan akhlak dagangnya. Beliau jujur dan amanah dalam dagang. Tidak pernah berbuat curang, selalu bayar utang, dan menepati janji. Kalau ada barang cacat, bisa kembali. Apalagi kalau hanya telur yang busuk, dijamin ada garansi bisa diganti.
Hal ini yang membuat juga, Khadijah tertarik kepada Rasulullah. Karena akhlak dagangnya.
Membangun jiwa berdagang, dalam jiwa setiap jama’ah Hidayatullah, rasanya mutlak adanya. Bahwa kita, jama’ah Hidayatullah yang terus banyak dan berkembang, tidak mungkin lagi hanya mengharapkan gaji dan natura dari lembaga. Ini skala pribadi.
Ustad Dr Sholeh Usman, Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah, pun menceritakan pengalaman dagangnya, saat menjual telur bebek mentah ke jama’ah. Beliau juga membuat branding kopi telur bebek yang diberi nama “Jamu Aba”.
Jiwa dagang ataupun enterpreneur dalam diri kader harus terbangun. Yang kemudian, jika kader-kader ini berhasil kaya, tidak dikhawatirkan lagi, kemana harta dan jiwanya akan berlabuh, kecuali untuk perjuangan. Dia meleburkan seluruh hidupnya dalam perjuangan ini, baik harta dan jiwa.
Amal usahanya pun demikian. Harus bisa tampil mandiri, dan bersaing dengan yang lain. Istilahnya, berfastbiqul khairat.
Pendidikan formal, non formal, panti asuhan, apalagi usaha ekonomi, semua harus dikelola secara profetik dan professional, agar kemandirian itu bisa terbangun.
Meminjam istilah dari Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustad Drs Nasri Buhari MPd, tidak adalagi sekolah yang dikelola abal-abal, semua lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional. Untuk menghasilkan kader yang militan dan tangguh.
Tagline ini menjadi lebih menarik. Bahwa dari kemandirian jama’ah dan organisasi, nantinya akan terwujud Hidayatullah yang unggul dan berpengaruh di Indonesia bahkan dunia.
Dari tagline tersebut dapat diurai. Pertama adalah kemandirian, kedua amal usaha, ketiga jama’ah. Selanjutnya keempat mewujudkan, kelima organisasi yang unggul, keenam berpengaruh.
Alhamdulillah, di Hidayatullah Sulsel, dengan upaya yang masih tertatih, kemandirian itu terus dibangun. Pendidikan di kampus Madya sudah mulai serius berbenah.
Usaha ekonomi telah mencatatkan pendapatan atau laba sebesar Rp 100 juta di tahun 2023. Juga BTH yang telah mulai menggeliat.
Tahun 2024 nanti, masih ada setahun masa jabatan para pengurus DPW. Semoga bisa berdiri Griya Sehat, dan Pos Dai Hidayatullah Sulsel yang bisa dikelola secara profetik dan professional. Amin.
Bulcen, 25/12/2023
Kita Semua ini Pejuang
Sambutan Shubuh Kadep Pengkaderan DPP Hidayatullah Ustad Dr Sholeh Utsman MA
HidayatullahSulsel.com — Kita meyakini, bahwa hadirnya kita di lembaga perjuangan ini, karena keputusan Allah
Yuddillu bihi manyasya, wayahdiibihi manyasya….
Kita semua punya kualitas keimanan. Apa yang kita jalani ini merupakan proses terhadap kualitas keimanan itu. Warisan iman ini, warisan dari pada nabi, shiddiqin, dan para syuhada.
Kelas iman kita ini, kualitas iman ekspor. Maka masuk lah istilah bahwa dia mukmin dia mujahid, karena kualitas imannya lebih di atas dari yang lain.
Sebagaimana ayat,
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَـٰرَةࣲ تُنجِیكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِیمࣲ
[سُورَةُ الصَّفِّ: ١٠]
Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
Tidak ada pilihan lain, bagi kita yang beriman, selain meniti jalan iman ini dengan jihad fii Sabilillah.
Saya sering dialog dengan kader muda, berdiskusi dengan mereka. dalam hitungan kita, rasionalisasi kehidupan ini ada. Bagaimana kebutuhan hidup, natura, anak-anak di masa akan datang, jika kita berada di Hidayatullah ini?
Rasionalnya, kira-kira bagaimana mau berjuang jika natura hanya Rp 800 ribu, sementara UMR Rp 3 juta.
Jika kita buka lembaran sejarah, perjuangan Abdullah Said dulu, sangat luar biasa. Tidak dibangun dengan materi yang cukup.
Kita bisa liat ketua DPW Sulsel sekarang, naturanya saat guru di Gutem, hanya Rp 25.000. Ini tidak rasional. Sementara gaji di luar saat itu sudah tinggi.
Doktrin ini harus selalu diperkuat dengan sosok seorang figur yang senantiasa memberikan pencerahan. Sosok Murobbi untuk mencetak seorang pejuang, yang bisa memiliki kualitas iman yang baik, ini adalah penanaman nilai dari murobbi yang teraktualisasi lewat aktivitas sehari hari.
Di Gutem, waktu itu, kuat sekali penekanan ayat, kabura maktan indallah… (Amat besar kebencian Allah…)
Kalau ketemu ustad-ustad senior di Gutem kaburamaktan itu teringat lagi, misalkan jumpa dengan Ustad Madong.
Kalau ada santri yang ibadahnya terlihat bagus, tapi kerjanya di lapangan malas, pasti akan mendapatkan ejekan dari kawan santri.
Semangat jihad ini harus dikuatkan, tidak boleh dilemahkan. Luar biasa komunikasi allahuyarham Ustad Abdullah Said, yang kemudian bisa mengantarkan kader-kadernya menjadi para pejuang yang sangat luar biasa.
Apa yang beliau lakukan, itu wujud dari kata-kata itu, yang teraktualisasi lewat perbuatan. Sebuah ucapan yang harus dibuktikan dan teruji lewat aksi di lapangan.
Istilahnya ustad Akib, bukan sekedar tahallul, sampai dia cukur kulit kepalanya itu. Itu gambaran ustad Akib, berapa seriusnya itu memproses kader itu. Bukan sekadar gundul, tapi sampai pada tingkat menguliti.
Hari ini kita menarasikan spirit perjuangan ini, jangan terlalu ditampakkan kalau banyak uang, karena masih banyak betul pejuang lain yang miskin, masih banyak pejuang yang kere. Masih banyak pejuang lain yang menderita.
Semoga kita senantiasa tetap Istiqomah salam garis perjuangan ini. (Sarmadani Karani)
*) Sambutan subuh di arena Rakerwil Hidayatullah Sulsel di Wajo, Ahad (24/12/2023)
Dakwah Pedalaman dan Komunitas Program Strategis Departemen Dakwah Hidayatullah Sulsel
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Kepala Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, Ustad Rizkiaman mengungkapkan program strategis departemennya pada 2024 yakni dakwah bagi daerah pedalaman dan dakwah komunitas.
Hal itu diutarakannya saat pemaparan program di arena Rakerwil Hidayatullah Sulsel di gedung PGRI Wajo Sengkang, Sabtu malam (23/12/2023).
“Selain Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) dan Rumah Qur’an, Departemen Dakwah saat ini menggagas program dakwah komunitas dan dakwah pedalaman,” ujarnya.
Dakwah Komunitas, jelasnya, adalah program dakwah berbasis komunitas, orang kantor, pegawai, dan perkumpulan komunitas tertentu.
Dalam waktu dekat ini, dakwah komunitas akan menggelar dakwah komunitas kepada seluruh Karyawan BSI di Parepare.
“Insyaallah, dakwah komunitas ini akan kita mulai dengan dakwah kepada seluruh pegawai BSI di Parepare, sebagai bentuk kerjasama dakwah dengan BSI” ungkap Rizkiaman.
Sedangkan dakwah pedalaman akan menyentuh daerah-daerah terpencil, seperti di Kecamatan Seko Luwu Utara, dan Toraja.
Dakwah pedalaman ini, tuturnya, adalah komitmen dakwah Hidayatullah Sulsel untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di daerah terpencil. “Program ini bekerjasama dengan Pos Dai Hidayatullah dan Baitul Maal Hidayatullah,” jelasnya. (Sarmadani Karani)
Ketika Militansi Dakwah Berada di Persimpangan
Tausiyah Shubuh Ketua DMW Hidayatullah Sulsel Ustad Ir. H. Abdul Majid MA
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, kita patut bersyukur karena masih diberikan nikmat yang begitu besar.
Shalawat dan salam tak lupa terkirim kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad Saw.
Saya ingin menyampaikan satu ayat,
{ وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ }
[سُورَةُ فُصِّلَتۡ: ٣٣]
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).”
Ayat ini, terkait dengan seperti apa semangat kita dalam dakwah.
Saya mau bertanya, siapa punya binaan masjid, rutin setiap pekan? Angkat tangan.
Saya agak sedikit keras, tugas departemen Dakwah wilayah, ini harus diperkuat. Mengapa kita tidak punya binaan, karena spirit dakwah kita lemah.
Di Parepare, ada SDH, seharusnya binaan dakwahnya harus maksimal. Santri dan dosen SDH ini harus banyak binaannya.
Militansi dakwah kita tidak boleh turun, mainstream gerakan tarbiyah dan dakwah kita tidak boleh tumpul.
Lemahnya militansi dakwah ini, membuat rekrutmen kita lemah. Dakwah ke dalam dan dakwah eksternal. Kader di dalam pun tidak maksimal pembinaannya.
Sistem penjelas di Hidayatullah sudah ada. Manhaj ini sudah jelas. Desain perkaderan berupa halaqah sudah ada. Materi pada jadwal bayani sudah tuntas.
Ini kemudian ter-breakdown lewat GNH. Dan hal ini sudah kita kuatkan.
Lewat kader ula dan wustha, semua program kita yang susah akan jadi mudah, jika GNH ini berjalan maksimal.
Kita kadang sibuk dengan hal tidak jelas. Main hape sampai tengah malam. Kadang kita hanya memanfaatkan sisa-sisa waktu untuk program kita.
Kita kuatkan DPW dengan GNH, semoga semua program-program itu bisa terwujud.
GNH, bacaan Qur’an dan Shalat lail, harus ada catatannya. Berapa ayat yang dibaca, berapa rakaat shalat lailnya.
Saya ini secara fisik sudah mulai berkurang. Semua bisa loyo, lemah. Tapi militansi dakwah ini jangan turun.
{ وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ }
Siapa yang paling baik ucapannya, dan beramal sholeh, barulah dia bisa mengucapkan, saya ini muslim.
Militansi itu semangat yang terus dibarengi kedisiplinan. Perlu ada penguatan. Melakukan proses yang begitu kuat.
Saya sampaikan ke Kadep Dakwah, jangan di Parepare terus, ayo ke Makassar untuk kuatkan dakwah di Makassar, sinergi dengan kampus utama dan Fokus Islam di BTP.(Sarmadani Karani)
*) Dari arena Rakerwil Hidayatullah Sulsel di Wajo, Ahad (24/12/2023)
Rakerwil Hidayatullah Sulsel Spesial, Didampingi Ketum dan Kadep Perkaderan DPP
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Hari pertama Rakerwil Hidayatullah Sulsel, Sabtu (23/12/2023), dimulai dengan arahan Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc MA.
Sesi kedua dan ketiga, adalah pemaparan dari departemen Perkaderan, Departemen Pendidikan, Departemen Sosial dan Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel.
Sesi ketiga Sabtu malam, pemaparan dari Departemen Sosial oleh Ustad Armin Karim, dan Departemen Dakwah, Ustad Rizki Aman.
Keistimewaan sendiri bagi DPW Hidayatullah Sulsel kali ini, Rakerwil yang digelar di Wajo, Jumat-Ahad (22-24/12/2023), secara khusus mendapatkan pemantauan khusus dari Ketua Umum (Ketum) dan pendampingan oleh Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah, Ustad Dr Sholeh Utsman MA.
“Kita patut bersyukur, Rakerwil Hidayatullah Sulsel kali terasa istimewa, karena mendapatkan pengawalan khusus dari Pak Ketum,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Buhari MPd.
(Sarmadani Karani)
Kader Hidayatullah Harus Ambil Peran Jaga Stabilitas Bangsa
Oleh : Dr KH Nashirul Haq Lc MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com —
Kader Hidayatullah itu harus mengambil peran dan bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas bangsa termasuk memastikan Indonesia itu tetap sesuai dengan jatidirinya.
Indonesia saat ini sudah tidak lagi berangkat dari jatidirinya melainkan telah berangkat dari sekularisme. Sehingga ada upaya pemisahan antara Islam dan pemerintah.
Kita tidak bisa tutup mata bahwa pasti ada pihak-pihak yang memprovokasi kalau Islam itu tidak memiliki peran dalam merumuskan bangsa ini.
Padahal kalau kita melihat sejarah, Indonesia ini adalah milik Islam. Coba kita lihat kembali bagaimana empat pilar kebangsaan itu sangat Islami. Adalah Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI
Poin dari empat pilar ini adalah bagian intisari ajaran Islam. Maka kalau kita mau Indonesia ini beradab, kita harus memahami dulu empat pilar itu sebagai jati diri bangsa.
Pertama, Pancasila.
Poin pertama dari sila pertama itu adalah Ketuhanan yang Maha Esa atau dalam bahasa Islamnya adalah “Hifdzu din”, yang artinya menjaga agama. kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yaitu “hifdzun nafs” atau menjaga jiwa.
Ketiga persatuan Indonesia atau “Hifdzul’aql” menjaga akal. Empat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan adalah “hifdzun nasl” atau menjaga keturunan. dan kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia atau (hifdzul mal) menjaga harta.
Kedua UUD.
Pembukaan UUD 1945 itu diawali dengan menyebut nama Allah SWT. Sangat Islami. Dimana UUD 45 ini mencantumkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi pijakan filosofis bagi seluruh isi konstitusi.
Ketiga Bhineka Tunggal Ika
Bhneka Tunggal Ika itu artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Mengajarkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam suku, agama, dan budaya, persatuan dan persaudaraan harus tetap dijaga.
Kira-kira agama mana yang bisa menyatukan perbedaan itu selain daripada Islam. Ini harus kita dipahami sehingga kita tidak mudah di benturkan.
Keempat NKRI, NKRI ini harus menjadi kesadaran kita semua bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri di atas kemajemukan, keragaman, multikultur termasuk agama yang beragam
Artinya Islam selalu memberi ruang pada sebuah perbedaan dan keragaman. Islam bukan agama egois dan Islam tidak pernah memaksa untuk memeluk agama dan menjadi golongan tertentu yang syarat dengan politik identitas.
Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa empat pilar kebangsaan ini tidak ada yang bertentangan dengan Islam, justru sangat Islami. Cuma memang banyak yang tidak memahami sehingga sangat mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak senang jika Indonesia ini kembali ke jati diri bangsa.
Maka tugas para kader Hidayatullah saat ini adalah mengembalikan jati diri itu dengan mengambil peran dalam mengawal empat pilar kebangsaan ini.(Ridwan gagah)
*) Disarikan dari pidato pada pembukaan Rakerwil Hidayatullah Sulsel
Galeri – Semarak Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Sulsel
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com – Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Sulsel berlangsung semarak oleh kehadiran tokoh dan peserta dari unsur pengurus DPW, DPD, amal usaha dan pengurus organisasi pendukung Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah.

















Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Sulsel Diisi Dialog Kebangsaan
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Rakerwil Hidayatullah Sulsel dilaksanakan di gedung PGRI Wajo, Sengkang, Jumat-Ahad (22-24/12/2023). Rakerwil kali ini juga dirangkaikan dengan Dialog Kebangsaan dengan tema “Mengokohkan Ukhuwah dan Sinergi Keummatan Untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Beradab.”
Rakerwil Hidayatullah Sulsel dibuka oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq Lc MA.
Dalam sambutannya, Nashirul mengingatkan kepada seluruh pengurus dan kader Hidayatullah agar tetap mengedepankan kekuatan ukhuwah islamiah dalam berormas. “Mari kita tetap mengutamakan satu tujuan dan tidak terpecah pada hal-hal yang sifatnya perbedaan madzhab fiqih,” ujarnya.

Rakerwil dihadiri oleh sekitar 200an peserta, dari unsur pengurus DPW dan DPD Hidayatullah se-Sulsel, juga dihadiri pengurus amal usaha dan organisasi pendukung (orpen), Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah tingkat Wilayah.
Pada pembukaan tersebut, juga dihadiri oleh tamu-tamu penting dari tingkat Nasional dan wilayah. Di antaranya Anggota DPD RI Drs H Tamsil Linrung, Asisten 3 Pemkab Wajo Muh. Ilyas, Kepala Kemenag Wajo Dr H Muh Yunus serta hadir pula Ketua MUI Kab Wajo/ Rektor IAI As’adiyah Sengkang, Andi Padi.
Usai pembukaan Rakerwil, kegiatan dilanjutkan dengan Dialog Kebangsaan, menghadirkan Nashirul Haq sebagai keynot speakar, dengan pemateri Tamsil Linrung, Muh Yunus, Andi Padi dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Dialog kebangsaan tersebut dipandu langsung Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah Dr Sholeh Utsman MA.
Dialog kebangsaan diikuti antusias oleh peserta Rakerwil berakhir menjelang Dhuhur.(Sarmadani Karani)
Ketua Umum DPP Hidayatullah Buka Rakerwil Hidayatullah Sulsel di Wajo. Ini Pesannya
Rakerwil, HidayatullahSulsel.com — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat DPP Hidayatullah Ustad Dr KH Nashirul Haq Lc MA hadir membuka Rapat kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulsel di gedung PGRI Wajo, Sabtu (23/12/2023).
Berikut petikan pesannya kepada pengurus DPW dan DPD Hidayatullah se-Sulsel dalam sambutan pembukaan kegiatan yang juga dihadiri politisi nasional Tamsil Linrung tersebut :
Alhamdulillah, saya tak memberikan arahan dulu. Saya menggaris bawahi beberapa hal saja.
Hal ini butuh penjabaran yang lebih dalam, sebelum kita membahas program kerja di Rakerwil ini.
Pada kesempatan ini, kami tegaskan kembali beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian secara serius, antara lain:
1. Menggalakkan rekrutmen anggota dan pembinaan kader, sebagai mainstream gerakan dan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan SDI (sumber daya insani) di tingkat wilayah dan daerah.
2. Menindak lanjuti pembinaan lulusan SLTA yang sedang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi non Hidayatullah.
3. Melengkapi database anggota dan kader melalui SISTAHID untuk perencanaan Sumber Daya Insani (SDI) di struktural dan non struktural yang kompeten, profetik dan professional di berbagai bidang.
4. Menindaklanjuti penetapan amal usaha wilayah dan daerah dengan penunjukan badan pembina untuk amal usaha wilayah dan daerah.
5. Melanjutkan program legalisasi asset dan optimalisasi potensi aset dengan memanfaatkan tanah milik organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.
6. Mengimplementasikan nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha dan badan usaha.
7. Melaksanakan komitmen kontribusi kepada organisasi dan amal usaha sesuai peraturan keuangan, termasuk DPW/DPD/amal usaha yang belum memenuhi komitmen kontribusi atas gedung dakwah dan Silatnas/Masjid Ar Riyadh.
Pada kesempatan yang sama ulama muda kelahiran Wajo itu juga menyegarkan kembali amanah silatnas 2023 di Balikpapan akhir November lalu, berupa pakta integritas yang telah diikrarkan bersama.
Adapun isi dari pakta integritas adalah sebagai berikut:
1. Menjadikan rumah tangga sebagai rumah Al-Qur’an untuk anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
2. Menjadikan silaturahmi sebagai gerakan dakwah dan rekrutmen jama’ah dalam kerangka besar membangun peradaban.
3. Menjadikan halaqah sebagai model pengembangan komunitas masyarakat Madani yang mandiri, berperadaban dan unggul.
4. Mendorong dan memfasilitasi gerakan muda, khususnya mahasiswa, professional, dan cendekiawan untuk berperan dan menggambil bagian dalam gerakan Hidayatullah.
5. Menjalankan semua peraturan Hidayatullah, baik visi dan misi, Pedoman Dasar Organisasi, kebijakan Pemimpin Umum dan organisasi, serta Grand Design Hidayatullah.(Sarmadani Karani)












