Beranda blog Halaman 43

Pendidikan Berdimensi Dunia Akhirat

0

Oleh: Bachtiar Aras SSos.I, Dai Hidayatullah di Sulsel

HidayatullahSulsel.com — “…Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengerti dengan orang-orang yang tidak mengerti?’…” (QS. Az-Zumar : 9)

Mengerti dan tidak mengerti merupakan titik pembeda, sebagai hasil dari proses pendidikan. Memang cakupan ‘mengerti’ dalam ayat ini sangat luas, bukan hanya berdimensi akal pikiran. Mengerti ini menyangkut pemahaman, juga kesadaran nurani. Bedakan dengan ‘mengetahui’ yang berdimensi jasadi (melihat, menyaksikan, mendengar dsb.)

Pada dimensi ini, maka pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap generasi mencakup wilayah yang sangat luas. Bahkan pada dasarnya seluruh hiruk-pikuk kehidupan ini merupakan sarana pendidikan juga.

Tetapi tentu saja tidak semua orang bisa belajar dari lingkungannya. Dan lebih sedikit lagi yang bisa mengandalkan kemampuannya untuk mengambil pelajaran guna membekali hidupnya.

Diperlukan dasar-dasar kemampuan pribadi untuk bisa melakukan analisa, perhitungan, kalkulasi, prediksi dan sejenisnya. Lalu juga dibutuhkan kemampuan tambahan untuk mempergunakan hati nuraninya dalam pengambilan keputusan.

Islam memang menekankan begitu tegas, bahwa ilmu sangatlah penting. Menuntut ilmu dinilai lebih tinggi ketimbang menghabiskan semalaman untuk beribadah. Mereka yang mati di jalan menuju ilmu, bisa dikategorikan mati syahid.

Mereka yang berilmu juga ditinggikan beberapa derajat bersama orang-orang yang beriman.

Tentang perlunya bekal hidup di dunia berupa ilmu untuk mencapai kehidupan akhirat, mungkin kita sudah tidak mempersoalkan lagi. Sekarang yang kita hadapi adalah kenyataan, bahwa tidak semua lembaga ilmu memberikan bekal itu kepada anak-anak kita.

Kenyataannya, kita lebih sering harus memberikan kepada mereka bekal setengah-setengah. Artinya, dimensi bekal itu sendiri tidak bisa menyeluruh. Mungkin terlalu bernilai serba akhirat, terlepas dari dunia.

Hasilnya, anak didik tidak siap bersaing dalam gerak cepat dan gelombang keduniaan. Mereka tersingkir dari perputaran yang semakin cepat. Artinya peran mereka sangat kecil, karena aktivitasnya hanya meliputi lingkungan yang sangat sederhana.

Mereka tidak ada pun, tidak berpengaruh apa-apa terhadap masyarakatnya, apalagi terhadap stabilitas negara dan dunia.

Sebaliknya ada bekal yang terlalu mengagung-agungkan dunia. Seakan manusia hanya akan hidup sekali ini saja, sehingga surga dan neraka juga harus bisa disaksikan dan dirasakan saat masih hidup di dunia. Dengan bekal sedemikian, banyak diantaranya yang berhasil meraih sukses.

Kekayaan, kekuasaan, kemewahan, mereka nikmati tanpa beban apa-apa. Gaya hidup yang serba bebas dan glamour merupakan bumbu kehidupan keseharian mereka. Senyum, tawa, dan bau parfum mereka merebak ke mana-mana.

Tetapi karena salah didik, mereka lupa selain urusan dunia. Surga yang telah mereka minta semasa hidup, tidak akan lagi mereka dapatkan setelah mati. Berapa kerugiannya? Ibarat tidur setengah jam di sore hari kemudian terbangun dan gelisah ketakutan sampai pagi dan diteruskan sampai malam berikutnya.

Bekal yang berdimensi dunia akhirat ini, kalau memang tidak bisa didapatkan di sekolah, maka tetap menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberikannya. Sebisa mungkin, orang tua harus mencarikan sekolah yang ideal, atau setidaknya paling ideal dari yang tidak ideal.

Tapi bila itupun ternyata masih kurang, orang tua wajib melengkapinya. Karena untuk memperoleh pendidikan, perlu adanya sinergi dan keterpaduan antara di rumah, sekolah dan masyarakat sehingga sekolah dalam hal ini bukanlah satu-satunya tempat anak didik untuk memperoleh bekal yang dimaksud.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap pendidikan anak? Tentunya orang tua yang bijak tidak akan pernah memicingkan mata terhadap wadah pendidikan yang disebut sekolah. Karena bagaimana pun juga, sekolah untuk anak-anak kita sangat diperlukan.

Di sekolah mereka bisa belajar banyak, bagaimana bersosialisasi. Bila mereka hanya dididik semata-mata di rumah sendiri, maka mereka tidak sempat merasakan sakitnya diejek teman-temannya, tidak pernah didorong masuk kolam, tidak juga mengerti bahwa temannya bisa menangis bila pensilnya direbut.

Akhirnya tidak lengkap juga didikan yang mereka peroleh jadinya.

Yang penting kita bisa mengantisipasi kekurangan-kekurangan tempat mendidik anak-anak kita. Berikan tambahan bila kurang, lengkapi bila masih pincang. Kita wajib sadar, bahwa mendapatkan pendidikan yang memadai merupakan hak bagi anak-anak.

Kondisi orang tua tidak boleh menjadi alasan bagi langkah ‘mengorbankan’ masa depan mereka. Kenyataan yang akan mereka hadapi sungguh berbeda dengan apa yang ada sekarang ini. Kita boleh mendapatkan yang tidak ideal, dulu, dan seperti inilah kondisi kita sekarang.

Tetapi jangan sampai hal ini menimpa pula anak cucu kita, karena kita dituntut untuk meninggalkan generasi yang lebih baik.(*)

Buka Rakerda DPD Hidayatullah Luwu, Ustadz Imran Jufri Ajak Tajamkan Mujahadah dan Spiritual

0

Luwu, HidayatullahSulsel.com — Kepala Departemen Ekonomi dan Aset Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Imran Jufri, membuka Rapat Kerja Daerah Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Luwu di Luwu, Rabu (10/1/2024).

Pada kesempatan tersebut, Imran memaparkan urgensi rapat kerja dan mengungkapkan pentingnya seluruh unsur organisasi daerah untuk hadir dan merealisasikan bersama program kerja yang disepakati.

“Rapat kerja ini bertujuan agar kita bisa melakukan konsolidasi serta evaluasi dari semua program kerja yang telah kita lakukan di tahun sebelumnya. Itulah kenapa semua unsur organisasi di daerah, seperti organisasi pendukung dan amal usaha untuk hadir,” ujar Imran.

Lebih lanjut, sosok yang menggawangi bidang perekonomian DPW Hidayatullah Sulsel itu, sangat menekankan pentingnya “curhat” kepada Allah.

Menurutnya, ketika seorang kader berbicara tentang program kerja (proker), maka sudah seharusnya dia harus lebih dekat kepada Allah.

“Bicara proker itu berarti berbicara mujahadah. Mujahadah kita ini harus kuat. Akan tetapi, jangan lupa tajamkan spritual juga. Pertajam bacaan Qur’an misalnya, atau bangun qiyamullail. Dengan begitu, maka akan mengundang pertolongan Allah untuk kita.” jelas Imran di depan para peserta rapat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPD Hidayatullah Luwu, Ustadz Hamzah Sultan SPd turut menyampaikan bahwa para pengurus Hidayatullah Luwu akan berusaha untuk bisa fokus dengan program kerja di tahun 2024.

“Insya Allah, di tahun 2024 ini kita akan fokus dengan program kerja yang ada. Meski demikian, kita juga tetap akan berusaha menjaga dan menjalankan amanah di amal usaha,” ujar Hamzah.(Ian Kassa)

Galeri – Rakerda Sejumlah DPD Hidayatulllah se-Sulsel

0

HidayatullahSulsel.com — Hingga pekan ini, sejumlah Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Sulsel telah menyelesaikan agenda rapat kerja daerah.

Berikut beberapa tangkapan moment kegiatan Rakerda dari DPD Parepare hingga DPD Hidayatullah Selayar.

DPD Hidayatullah Maros Rilis Aplikasi Bantudana.com

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros meluncurkan aplikasi Bantudana.com di sela Rakerda Hidayatullah Maros di pondok Tahfidz Darul Hijrah Hidayatulllah Tanralili, Maros, Ahad (7/1/2023).

Aplikasi ini, menurut Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar hadir untuk mendukung program pembangunan infrastruktur pesantren oleh DPD Hidayatullah Maros, baik di pondok maupun masjid.

Hidayatullah Maros telah membangun 6 unit masjid di enam lokasi berbeda di Maros.
“Selama ini masih dengan cara biasa dengan program wakaf, maka dengan aplikasi ini akan lebih dikembangkan,” ujarnya.

Hadir Bupati Maros diwakili Asisten Bidang Pemerintahan Pemkab Maros Prayitno dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel membuka rakerda.

Terkait program kerja yang ditetapkan, Hidayatullah Maros pada tahun ini akan melaksanakan beberapa program unggulan, diantaranya peningkatan mutu layanan amal usaha pondok Tahfidz Darul Hijrah Tanralili dan pengajaran Al Qur an metode MBA.

“Juga akan memaksimalkan pengajaran Al Qur’an di masjid yang sudah dibangun serta mendirikan TK Tahfidz bekerjasama dengan Muslimat Hidayatullah Maros.(rls)

2023 Hidayatullah Enrekang Maksimalkan Silaturahmi

0

Enrekang, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Enrekang maksimal dan massif melakukan silaturahmi berbagai kalangan pada 2023 lalu.

“Hal itu berdampak pada penerimaan dan komunikasi yang terbuka dengan semua kalangan. Kami aktif dalam pertemuan resmi dan banyak memberikan saran dan masukan, sehingga Hidayatullah Enrekang dipercaya dan masuk dalam struktur pengurus MUI tingkat Kabupaten dan kecamatan,” jelas Ketua DPD Hidayatullah Enrekang Ust Syawaluddin pada pembukaan Rakerda Hidayatullah Enrekang.

Rakerda Hidayatullah Enrekang dilaksanakan di kampus Ponpes Yayasan Ulul AlBab, Sudu, Enrekang, Jumat (5/1/2023). Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd diwakili Ketua Departemen Ekonomi Ust Imran Jufri SPdI membuka kegiatan tersebut.

Hadir pula Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel Ustad Sumaryadi pendamping Rakerda.

Selain dihadiri pengurus DPW, Rakerda Hidayatullah Enrekang juga turut dihadiri pengurus inti, dewan pengurus cabang dan amal usaha DPD.

Hidayatullah Enrekang saat ini diperkuat oleh beberapa DPC diantaranya DPC Kecamatan.l Crio, DPC Alla, DPC Anggeraja dan DPC Kecamatan Enrekang. Turut disemarakkan pula dengan kehadiran puluhan pengurus, kader tingkat Ulaa dan Wustha serta pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida).

Dalam tertulisnya, Ketua DPW menyampaikan himbauan yang sama terkait beberapa hal sebagaimana disampaikan pada Rakerda Hidayatullah Sidrap pekan lalu.

Dari harapan agar DPD Enrekang menggalakkan rekrutmen anggota dan pembinaan kader, sebagai mainstream gerakan dan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan SDI di tingkat wilayah dan daerah.

Hingga melaksanakan komitmen kontribusi kepada organisasi dan amal usaha sesuai peraturan keuangan, termasuk DPW/DPD/amal usaha yang belum memenuhi komitmen kontribusi atas gedung dakwah dan Silatnas/Masjid Ar Riyadh.

Rakerda berlangsung selama dua hari, hingga Sabtu (6/1/2023).(Abu Khattab)

2024 ini Hidayatullah Sidrap Mulai Kembangkan Program Tahfidz Quran

0

Soppeng, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sidrap mulai tahun ini akan menggelar dan mengembangkan program Tahfizh Qur’an.

“Program Tahfizh Qur’an akan kami laksanakan di kampus Darul Qur’an Hidayatullah Bulucendrana,” ungkap Ketua DPD Hidayatullah Sidrap Ust Sarmadani Karani pada pemaparan program di Rapat Kerja Daerah (Rakerda) gabungan di Ponpes Hidayatullah Soppeng, Kamis (4/1/2023).

Menurutnya program Tahfizh yang akan dikembangkan diharapkan menjadi stimulus program lainnya. “Di awal tahun 2024 ini, DPD Hidayatullah Sidrap langsung tancap gas, agar menjadi program Tahfizh unggul dan profesional,” ujarnya dengan nada optimis.

Pada rakerda gabungan juga diikuti oleh DPD Hidayatullah Soppeng dan Hidayatullah Wajo.

Rakerda yang berlangsung dua hari ini mengangkat tema Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, Wawasan, Menuju Terwujudnua Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.

Rakerda DPD Hidayatullah Sidrap ini diikuti oleh semua pengurus Hidayatullah Sidrap, yakni ketua, sekretaris dan bendahara. Di tambah dengan tenaga baru dari STAI Al Bayan, Ismail.

“Tahfidz ini akan kita jadikan pilot proyek, pada program tahun 2024 ini. Semoga ke depannya, Hidayatullah Sidrap bisa terus berkembang. Mohon doa dan dukungan semua pihak,” tambahnya.(Abu Fathun)

Di Pembukaan Rakerda Hidayatullah Sidrap Soppeng Wajo, DPW Sulsel Imbau 8 Hal

0

Soppeng, HidayatulllahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menghimbau delapan hal untuk dioptimalkan pada 2024 ini.

Hal itu terungkap pada pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) gabungan Hidayatullah Sidrap Soppeng Wajo di Pondok Pesantren Hidayatullah Soppeng, Rabu (3/1/2024).

Delapan hal tersebut disampaikan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd diwakili Ketua Departemen Tarbiyah dan Kepesantrenan Ustad H Dwi Subagyo.

DPW Hidayatullah Sulsel mengimbau DPD Hidayatullah se-Sulsel untuk menggalakkan rekrutmen anggota dan pembinaan kader, sebagai mainstream gerakan dan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan SDI di tingkat wilayah dan daerah.

Kedua, menindaklanjuti pembinaan lulusan SLTA yang sedang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi non Hidayatullah.

Ketiga, melengkapi database anggota dan kader melalui SISTAHID untuk perencanaan Sumber Daya Insani (SDI) di struktural dan non struktural yang kompeten, profetik dan professional di berbagai bidang.

Keempat, menindaklanjuti penetapan amal usaha wilayah dan daerah dengan penunjukan badan pembina untuk amal usaha wilayah dan daerah.

Kelima melanjutkan program legalisasi asset dan memanfaatkan tanah milik organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.

Keenam, mengoptimalkan potensi asset dan memanfaatkan tanah organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.

Ketujuh, mengimplementasikan nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha dan badan usaha.

Serta terakhir, melaksanakan komitmen kontribusi kepada organisasi dan amal usaha sesuai peraturan keuangan, termasuk DPW/DPD/amal usaha yang belum memenuhi komitmen kontribusi atas gedung dakwah dan Silatnas/Masjid Ar Riyadh.

Rakerda gabungan ini akan berlangsung selama dua hari, hingga Kamis siang (4/1/2023) ini.

Sebelumnya Ketua-ketua DPD memaparkan program-program dari daerahnya masing-masing baik untuk program dakwah, tarbiyah dan bidang lainnya. (Sarmadani Karani)

Ustadzah Fatimah, Ummi Kammil
Mushida Pejuang Pantang Menolak Tugas Suami

0

HidayatullahSulsel.com — Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, Telah berpulang ke Rahmatullah malam ini (27/12) jam 23.40 Istri saya Bu Hasrianti. (Ummi Kamil alias Bu Fatimah) Binti Palla’, In syaa Allah jenazahnya langsung ke Rogo, Sumbang, Kec. Curio, Enrekang, dini hari ini.

Ini info via wa dari Ustad Muhammad Yani, suami dari Ustadzah Fatimah Ummu Kamil, malam itu yang masuk di beberapa WAG Hidayatullah Sulsel.

Satu lagi, kader Muslimat Hidayatullah Sulsel yang mendapat panggilan Allah. Menghadap kembali ke penciptanya, Ustadzah Hasriani atau yang biasa dipanggil Fatimah Ummi Kamil.

Saya sebagai penulis, tidak mengenal banyak sosok almarhumah, sang ibu pejuang ini. Tapi sang suami tercinta, Ustad Yani, adalah sosok yang sangat bersahabat dengan siapa saja, dan selalu bersiap bertugas dimana saja.

Saat sang suami ditugaskan, Ummi Kamil, tentu tidak pernah menolak ajakan pindah tugas. Wanita kelahiran Rogo, Curio, Enrekang, 21 September 1971 ini, selalu setia menemani tugas suaminya kemana saja, dan kapan saja ia ditugaskan.

Dia, sebagai isteri, tidak pernah protes, kemana suaminya bertugas. Ia sosok ibu pejuang. Bahkan untuk bertanya, apalagi menolak penugasan, bukan tipikal Ibu dari empat anak ini.

Fatimah Ummi Kamil menikah dengan ustad Yani, 1999, di Curio, Enrekang. Usai menikah, ia kemudian memutuskan untuk hijrah ke Hidayatullah bersama sang suami di Hidayatullah Wawondula, Luwu Timur, 2001. Tujuh tahun di Lutim kemudian pindah untuk merintis pondok pesantren Hidayatullah Pangkep, pada 2008 hingga 2012.

Dari Pangkep, Ustad Yani bersama isteri dapat tugas lagi untuk merintis Hidayatullah Tator. Satu tahun berjuang di Tator, Ustad Yani kemudian pindah ke Hidayatullah Sudu, Enrekang (2016).

Dari Enrekang, Ummi Kamil terus mengikuti sang suami untuk bertugas di Sidrap, Barru hingga tugas terakhirnya bersama sang suami di Kampus Hidayatullah Madinatul Izzah Mubarak, Lamatanre, Suppa, Pinrang.

Ummi Kamil, sosok isteri yang pantang menyerah. Saat tugas perintisan di Tator, Pangkep dan Sidrap dan Pinrang, ia selalu siap menemani sang suami. Meski dalam kondisi yang sesulit apapun. Tidak ada keluh dan kesah.

Bisa dibayangkan, bagaimana repotnya sang isteri bila suami pindah tugas. Mulai dari angkat barang, hingga menata rumah yang baru lagi, bukan pekerjaan yang mudah. Ummu Kamil sosok ibu Mushida (Muslimat Hidayatullah) di Sulsel yang patut mendapat apresiasi Surga, insyaallah.

Dari pindah tugas ke sana kemari, dan juga beliau tidak pernah intervensi, hingga awal 2021 lalu, Ahmad Yani mendapat SK baru di Hidayatullah Lamatanre, Suppa Pinrang.

Saat bertugas di sinilah, ibu dengan putra empat ini, mendapat ujian penyakit yang di deritanya, selama kurang lebih enam bulan, sejak Juli 2023, hingga 27 Desember.

Dimulai dengan sakit perut hebat, hingga kemudian dirawat di RSU Parepare, terus dirujuk ke RS. Wahidin di Makasar, kemudian pindah ke RS. Lakipadada di Tator.

Sempat menjalani dua kali operasi. Awalnya, Ummi Kamil menjalani operasi usus buntu, yang kemudian berlanjut ke tumor usus. Selain itu juga perawatan herbal sebagai alternatif juga dilakukan, hampir semua upaya pengobatan telah dilakukan sang suami, tapi hasilnya kembali kepada ketetapan Allah. Bahwa,
كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۖ ثُمَّ إِلَیۡنَا تُرۡجَعُونَ
سُورَةُ العَنكَبُوتِ: ٥٧
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.

Selamat jalan Ibu Fatimah Ummu Kamil, semoga Allah menempatkanmu pada surga terbaiknya. Amin YRA.(Sarmadani Karani)

Kenapa Mesti Berpura-pura Bahagia ?

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Siapa sih yang tidak ingin hidup bahagia? Tentu semua orang menginginkannya. Sayangnya, walau begitu berat beban hidupnya, seseorang berupaya tetap ingin terlihat bahagia.

Walau hidupnya penuh masalah, dia tetap menampakkan sebagai orang kuat, berpura-pura hidup bahagia, agar bisa meraih bahagia. Tapi benarkah berpura-pura bahagia akan merasakan bahagia yang sesungguhnya ?

Berpura-pura bahagia itu ibarat topeng yang bisa membuat orang lain senang dan bahagia melihatnya. Sementara topeng itu . sesungguhnya adalah kemunafikan diri menutupi keasliannya. Topeng itu pada akhirnya membuat hatinya gerah dari kepura-puraannya.

Begitu banyak publik figur dan pandai menghibur menciptakan suasana bahagia.

Apalagi manakala profesinya sebagai penghibur profesional, dia harus tampil terbaik dan menyenangkan. Semakin banyak orang tertawa bahagia semakin puas dan bahagia pulalah dia.

Ironisnya, orang lain tidak faham dibalik layar kehidupannya, penuh beban hidup dan kompleksitas masalah yang tak sanggup dia selesaikan sendiri.

Berpikiran positif dapat menjadi solusi untuk mengatasi problem hidup tertentu menggapai bahagia. Tapi terus-menerus berpura-pura bahagia dapat berdampak pada kesehatan mental.

Beberapa dampak negatif dari pura-pura bahagia. Pertama menahan emosi yang terpendam. Dengan selalu berupaya nampak senyum bahagia di balik emosi yang berkecamuk di hati.

Dia pun berupaya senyum untuk bahagia, bukan karena bahagia sehingga dia tersenyum. Dan hal itu boleh jadi adalah tanda-tanda toksik.

Toksik itu sendiri adalah hubungan tidak sehat, membuat individu yang terlibat di dalamnya merasa tidak bahagia, direndahkan, mengalami ketidakadilan, selalu menjadi sasaran amarah, berakhir pada kekerasan verbal, psikologis maupun fisik.

Kedua, keyakinan tidak realistis. Selama kita masih berpikir yang mengarah pada keyakinan tidak realistis, maka kita tidak bisa berfikir dengan baik dan bahagia. Dan tidak akan menikmati hasilnya dengan hidup baik dan bahagia pula.

Ketiga, memberi kesan bahagia, kita pun terus bertopeng senyum kebahagiaan. Padahal kita tahu sendiri bahwa kita telah memberi kesan yang tidak benar.

Sampai kapan kita terus berpura-pura bahagia ? Sampai kita mampu melepaskan kemunafikan diri. Menjadi berpikir dan bertindak realistis dan obyektif, bahagia di atas keaslian diri kita.

Bolehkah berpura-pura bahagia dalam Islam ?

Islam adalah ajaran rasional dan realistik, berpikir dan bersikap adil dan jujur. Tidak mengenal kepura-puraan dalam hidup. Bahagia itu harus dirasakan dengan penuh rasa, baik tersembunyi dalam diri ataupun terlihat dalam kehidupan keseharian

Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S An-Nahl [16] : 97)

Dari ayat tersebut tergambar bahwa degan iman dan amal yang didasari iman akan langsung menggapai kebahagiaan sempurna dan hakiki di dunia dan di akhirat kelak.

Keniscayaan, seorang muslim sejati pasti akan mendapatkan kebahagiaan sejati pula. Dan dirasakannya manakala dia patuh pada Allah tanpa alasan, senang berbagi tanpa sepi, sabar tanpa tapi serta memaafkan dengan ikhlas

Lebih sempurna lagi kebahagiaannya adalah dengan menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur di setiap kondisi, lapang atau sempit, sebagai kekayaan jiwa.

“Bukanlah diukur dengan banyaknya harta (ghina) atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).(*)

2023, BMH Sulsel Himpun Rp 13,4 Milyar

0

MAKASSAR, Hidayatullah Sulsel.com — Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sulawesi Selatan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Jln Andi Mappanyukki, Kota Makassar, Kamis (28/12/2023).

Rakerwil tersebut mengangkat tema “Meningkatkan Daya Saing Melalui Inovasi Berkelanjutan.”

Dari ajang tersebut terungkap, BMH Sulawesi Selatan menjadi lembaga ZIS terbaik berdasarkan audit syariah dari Kantor Kementerian Agama Sulawesi Selatan. BMH Sulsel pada 2023 menghimpun Rp 13,4 miliar atau 97% dari target yang ditetapkan oleh BMH pusat, juga telah berdiri jaringan BMH di 8 titik se-Sulsel.

“SDM terus ditingkatan kualitas dengan program memberikan kesempatan untuk para amil melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, kedepannya akan ada amil yang meraih gelar doktor,” urai Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Selatan Kadir saat pembukaan Rakerwil .

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel diwakili Kadep Pendidikan dan Kepesantrenan H. Dwi Subagyo Mpd dalam sambutannya menyampaikan untuk mewujudkan kekuatan pendidikan Hidayatullah dan ekonomi ummat, serta maju dan berdaya saing maka kuncinya adalah kolaborasi yang baik antara DPW dan BMH serta lembaga lainnya.

“Contoh kolaborasi yang baik terkait pendidikan, BTH memberikan pembiayaan, bagaimana bayarnya?, Disinilah perlu kolaborasi terbaik, baik BTH, BMH dan amal usaha lainnya,” urainya.

Ia menyampaikan pembiayaan pendidikan yang disubsidi BMH, diharapkan ke depannya juga dapat dinikmati guru-guru sehingga kemudian dapat menjadi Muzakki atau donatur BMH,” tambahnya.

Hadir membuka kegiatan, Bendahara DPP Hidayatullah, Abdul Chaliq. “Topik rakerwil merupakan amanah dan harapan founding BMH. Topik rakerwil tahun ini adalah doa dan harapan sehingga kedepannya BMH menjadi lembaga yang memiliki daya saing baik program dan terutama para Amil. Tidak hanya itu bmh juga merupakan pabrik kader Hidayatullah,” ujarnya.

Di sela Rakerwil diumumkan penghargaan. Salah satunya Ketua BMH gerai Maros Fatahillah Abu Sitta meraih penghargaan untuk kategori terproduktif tahun 2023.(rls)