Beranda blog Halaman 40

Skala Getaran Tanpa Batasan (3)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Cinta itu bisa dirasakan tapi tak mudah didefinisikan dengan bahasa yang tepat. Rasa cinta hanya bisa diketahui dengan isyarat di hati, berupa getaran. Yakni getaran hati saat ada sesuatu yang terkait dengan yang dicintai.

Timbulnya getaran bisa muncul ketika ada keterkaitan hati, pikiran atau persentuhan rasa dengan yang dicintai. Misalnya saja, saat melihat barang milik yang dicintai, hubungan rasa akan bergetar, tersambung dengan yang dicintai.

Pemahaman cinta dengan sesama insan, begitu kompleks, tentatif dan relatif. Karena jiwa dan pikiran sering dan mudah berubah-rubah, dipengaruhi oleh kepentingan dan kebutuhan sesaat. Kerumitan memahami makna cinta pun karena kriteria tentang cinta yang berbeda-beda pula.

Lain halnya dengan cinta kepada Allah, tak boleh dan tak mudah berubah-rubah. Ketika keyakinannya sudah tertanam kuat di jiwa, tak mudah digoyah oleh apapun yang merongrongnya.

Cinta kepada Allah sangat ril dan jelas. Itu sebabnya, mudah juga didefinisikan. Dia Allah, tidak pernah menyembunyikan apa saja yang membuat Ia bisa dicintai oleh kita, Allah jelaskan semuanya dalam Al Qur’an.

Sehingga sangat mudah juga mendeteksi getaran cinta antara hamba dan dengan-Nya. Getaran itu adalah buah dari keimanan. Dengan mendengar ayat-ayat-Nya saja disana akan terdeteksi apakah ada getaran atau tidak.

Barangsiapa ketika dibacakan atau mendengarkan ayat-ayat Allah hatinya tergetar berarti ada kekuatan cinta Allah pada dirinya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannya mereka bertawakal”.(Q.S Al-Anfal [8] : 2).

Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menafsirkan ayat tersebut, bahwa “Sesungguhnya orang-orang mukmin sejati ialah orang-orang yang apabila nama Allah Subḥānahu wa Ta’ālā disebut maka hati mereka merasa takut, kemudian hati dan tubuh mereka tergerak untuk taat (kepada-Nya). Apabila ayat-ayat Allah dibaca, maka mereka merenungkannya sehingga iman mereka terus bertambah dan bertambah. Dan hanya kepada Rabb mereka saja mereka bersandar dalam meraih kebaikan dan menghindari keburukan.

Khauf atau rasa takut, ditandai dengan getaran jiwa dan hatinya, sebagai pertanda ada respon iman ketika mendengarkan disebut nama-Nya. Saat dibacakan ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyyah dalam Al-Qur’an maupun kauniyya yang nampak dalam ciptaannya dengan pendekatan pembacaan, ‘iqro’ bismirabbik’. Maka akan menambah ilmunya dan bertambah pula imannya.

Mencintai Allah azza wa jalla karena dzat-Nya yang Maha Mencipta dan Maha Kuasa, niscaya menimbulkan Khauf atau getaran takut. Getaran ta’dzim kepada-Nya yang Maha Mulia, membuat tunduk dan patuh pada perintah-Nya. Fan getaran takut kepada-Nya membuat seseorang bemujahadah menjauhi larangan-Nya.

Adapun kecintaan terhadap segala sesuatu yang dicintai selain Allah, termasuk manusia, adalah instingtif, bercinta dan berkasih sayang antara manusia. Namun dengan dasar imanlah yang mendorong seseorang cintai-mencintai hanya karena Allah.

Dengan cinta karena Allah, maka setiap kali ada cinta yang bergetar di hati, itu karena kasih sayang Allah yang mengaruniahi dan memerintahkan untuk saling cinta-mencintai karena-Nya.

Manakala getaran-getaran cinta ketika bertemu dan berjumpa antara seseorang dengan yang lainnya bukan atas dasar karena naungan syariat Allah, sesungguhnya itu hanya cinta semu, sering kali dipengaruhi oleh nafsu. yang cenderung menipu.

Getaran cinta yang dibangun oleh iman, akan mengatur hubungan cinta antara satu dengan lain dengan dasar syar’i. Semakin tinggi imannya semakin merasakan indahnya berkasih sayang dengan sesama.

Getaran itu tidak hanya membangkitkan keharmonisan dan kasih sayang diantara sesama anggota keluarga. Tapi juga menggelorakan hubungan cinta dan persaudaraan sesama kaum muslimin, tanpa mengenal batas teritorial bangsa dan negara.

Ada juga punya pengalaman menarik saat naik motor di jalan. Tiba-tiba saja terlihat di depannya lelaki berseragam lalu-lintas, jantungnya pun langsung bergetar a’dumba’-dumba’. Bukan bergetar karena ada hubungan cinta dengan polisi itu, tapi karena takut ditilang, sebab tidak pakai helm, SIM dn STNK lupa pula dibawanya. Antum juga mungkin pernah mengalaminya….? (*)

Skala Getaran Tanpa Batas (2)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Getaran 10 menit berbeda antara laki dan perempuan ketika masing-masing menghadapi masalah. Seorang isteri ketika menghadapi masalah lalu bertemu dengan suaminya maka dia akan tumpahkan semua isi hatinya sampai habis dan puas, adalah dengan kata-kata.

Berbeda halnya dengan suami, ketika menghadapi masalah. Saat sampai di rumahnya, lalu sang isteri menyambut dan melihat wajah suaminya yang nampak sedang dirundung masalah. Walau ditanya sama isteri, sampai terus didesak pertanyaan oleh isterinya, suaminya tetap saja membisu. Hingga isteri pun kesal karenanya.

Kenapa bisa demikian?, karena antara laki-laki dan perempuan berbeda-beda pada posisi otak bawa sadarnya. Perempuan dalam menyelesaikan masalah cenderung banyak berbicara dulu baru mikir. Bahkan memerlukan konselor tempatnyan berbicara, menuangkan permasalahannya. Dengan didengarkan isi hatinya, masalahnya bisa terselesaikan.

Adapun laki-laki, ketika ada masalahnya maka dia akan mikir terlebih dahulu baru mengatakan sesuatu kepada orang lain. Itulah sebabnya juga, laki-laki itu tidak banyak ke konseling. Analisa tersebut di atas, berdasarkan pendapat dari dr Aisah Dahlan.

Kajian psikologis tersebut menggambarkan secara gamblang bahwa makhluk Allah bernama manusia memiliki kelebihan antara satu dengan yang lainnya, termasuk karakteristik antara laki-laki dan perempuan.

Getaran kata seorang laki-laki sebagai suami, bapak ataupun pemimpin akan berwibawa dan berpengaruh, ketika setiap kali ingin berbicara dia pikirkan terlebih dahulu. Dan kalimat-kalimat yang keluar pun adalah kata-kata bijak dan bermakna.

Sebaliknya getaran kata seorang wanita akan berefek penuh kesan dan bermakna, ketika kata terlontar dari mulutnya adalah ungkapan kasih sayang penuh cinta serta penghormatan. Baik kepada anaknya, suaminya dan juga kepala yang lainnya.

Masing-masing antara laki-laki dan perempuan diberi kekuatan yang menggetarkan. Kekuatan laki-laki, terletak pada getaran berpikirnya. Ketika terjadi sesuatu, mengedepankan pemikirannya dari pada kata-kata yang terumbar begitu saja tanpa arti dan makna.

Sedang kekuatan perempuan terdapat pada getaran perasaan dan kelemah-lembutannya. Hati yang disirami oleh pikiran positif akan membuat hatinya peka dan sensitif pada hal-hal yang baik dan benar.

Hati perempuan yang suci itu niscaya akannbsp; sepenuhnya bersemi, lahir menjadi perasaan positif, mengalir ke lisannya, dan mengeluarkan kata-kata baik. Walau lembut kedengarannya, namun bermakna, menggetarkan jiwa. Mampu menyadarkan hati dalam mendidik mental kemandirian anaknya. Bahkan saat tertentu menjadi penasehat bagi suami dalam mengarungi bahtera kepemimpinan rumah tangga dan kepemimpinan umat.

Sebagai contoh kasus, adalah kisah suksesnya dari Pak Kapolda Sulsel, Andi Rian R Djajadi. Kata beliau, sebenarnya dia itu sebelumnya bercita-cita menjadi tentara, karena bapaknya juga tentara. Tapi karena nasehat dari ibunya, sambil memasak di dapur, dia menasehati Rian, sang pemuda waktu itu, untuk tidak ikut jejak bapaknya, tapi sebaiknya menjadi polisi saja. Atas bisikan nasehat sang ibu, mentakdirkan dia menjadi polisi, hingga bernasib baik menjadi jenderal seperti saat ini.

Kembali berbicara tentang getaran 10 menit. Perbedaan laki-laki dan perempuan yang memiliki kelebihan masing-masing, sesungguhnya adalah karunia dari Allah. Laki-laki diberikan karunia lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dengan potensi itu ditakdirkan menjadi pemimpin, baik di rumah tangga, maupun dimasyarakat.

Sebaliknya perempuan dengan komposisi otak yang dimilikinya menjadikan dia selalu banyak berkata-kata, membuat dia menjadi pendidik yang baik di rumahnya. Mengajari anak berbicara yang baik dan benar. Serta dengan polosnya, menyampaikan permasalahan rumah tangganya ke suaminya.

Dari kelebihan masing-masing itu, perempuan ditakdirkan lebih banyak berprofesi sebagai guru di tingkat PAUD dan SD. Sedangkan pendidik untuk tingkat dewasa dan kepala sekolah biasanya oleh laki-laki.

Allah Ta’ala yang Maha Kasa dan Maha Adil, memposisikan kedudukan dan kesempatan pada laki-laki dengan perempuan berbeda sesuai kodratnya. Tapi kedudukannya dan ganjarannya sama, dalam beribadah dan beramal shaleh. yakni ganjaran kebahagiaan surga di dunia dan diakhirat.

Sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S An-Nahl [16] : 97)

Dari ayat tersebut tergambar betapa Allah begitu menghargai potensi mahluk-Nya bernama manusia. Memberi ruang dan kesempatan yang sama untuk beramal shaleh sesuai kodratnya masing-masing, tetapi juga diberikannya pahala ganjaran yang sama.

Getaran-getaran keberkahan Ramadhan akan dirasakan, baik laki-laki maupun perempuan oleh berbagai macam amalan wajib dan Sunnah. Dan mendapatkan balasan yang sama bagi keduanya, sesuai mujahadahnya.

Getaran Ramadhan begitu dahsyat. Memberi skala getaran keberkahan kebahagiaan tanpa batas kepada siapa saja yang berbuat kebaikan. Siapa yang tidak tergetar hatinya dengan datangnya Ramadhan, berarti dia termasuk golongan yang merugi.

Tapi kata orang, ada getaran 10 menit awal yang begitu sangat menggetarkan, susah terlupakan dan sangat terkesan. Apa itu ? Kesan pengantin baru. Jantungnya berdebar ‘a’dumba’-dumba’, saat berhadapan dengan penghulu ketika akad nikah, dan saat pertama kali makan bersama di depan mertua.(*)

DPW Hidayatullah-Polda Sulsel Jajaki Sinergi Pembinaan Ummat

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menjajaki sinergi pembinaan ummat dengan Polda Sulsel.

Hal ini terungkap dari audiensi Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dengan Kapolda Sulsel Irjen Pol Andi Rian R Djajadi SIK MH di Markas Polda Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Jumat (15/3/2024).

“Alhamdulillah apa yang menjadi tugas pihak kepolisian searah dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatulllah serta bersesuaian dengan peluang perkembangan Hidayatullah di Sulsel yang telah berada di seluruh kabupaten/kota dan 48 DPC serta 50 pondok pesantren Hidayatullah di Sulsel,” jelas Ust Nasri.

Hadir pula mendampingi Ketua DPD Hidayatullah Makassar Ust Dr Nasrullah Sappa Lc MM, Ketua Yayasan Kampus Utama Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM, Kadep Sosial dan Ketua SAR Hidayatullah Sulsel Ust Armin Karim, Kadiv Prodaya BMH Sulsel Basori Sabirin MiCom, Branch Manager HiTrave Irfan Yahya dan Media dan Publikasi DPW yang juga Direktur Al Bayan Media Corp (AMC) H Firmansyah Lafiri ST.

Menanggapi informasi program dan perkembangan Hidayatullah di Sulsel tersebut, jenderal bintang dua asal Bone itu antusias dan menuturkan pula beberapa program yang menjadi konsen pendekatan dan pembinaan masyarakat bagi keamanan maupun pemeliharaan ketertiban.

“Kita bersyukur pada Pemilu kali ini Sulsel sangat aman hampir tak ada riak yang menganggu ketertiban, tentunya tak lain atas bantuan ormas termasuk Hidayatullah,” jelasnya.

Ust Nasri di hadapan jajaran pejabat utama Polda Sulsel itu juga menjelaskan program kemandirian ekonomi melalui keberadaan badan usaha, salah satunya travel haji umrah HiTrave.

Juga program sosial dan kepedulian dampak bencana melalui departemen sosial dan SAR Hidayatullah maupun BMH di Sulsel.

Sementara pada kesempatan pemaparannya, Ust Suwito menguraikan sejumlah program sinergi kampus utama Ponpes Al Bayan dengan Pemkot Makassar di Makassar dari Dakwah Lorong hingga rencana pembinaan Qur’an di Polsek.

“Al Bayan Hidayatullah Makassar di BTP telah dipercaya oleh Walikota Makassar sebagai halaman depan pembinaan dan dakwah khususnya di wilayah Tamalanrea dan Biringkanaya,” tuturnya.

Andi Rian menyempatkan pula mempertanyakan progres pembangunan Asrama Santri Tahfizh di Ponpes Al Bayan pada beberapa bulan lalu sempat dikunjunginya dan menyerahkan donasi.(fir)

Skala Getaran Tanpa Batas

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Tiada getaran kuat tanpa sumber getaran. Semakin kuat sumber getaran, semakin kuat pula skala getarannya. Getaran Ramadhan ada pada iman sebagai sumber kekuatannya. Kuatnya iman seseorang muslim, maka getarannya berdampak pada ghirohnya beribadah dan beramal shaleh.

Iman yang bergetar kuat adalah iman dari proses kesadaran memahami eksistensi dirinya dihadapan kebesaran Allah. Sehingga kesadaran imannya mendorong ketundukan dan kepatuhan penuh pada apa yang diperintahkan Rab-Nya kepdanya.

Iman benar, secara aksiomatik mendorong otomatis untuk semangat melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan. Kekuatan iman dalam dirinya adalah pusat energi kehambaan, membentuk hati dan jiwanya semangat ikhlas untuk beramal shaleh di bulan Ramadhan, khususnya puasa.

Puasa yang dilakukan atas dorongan iman yang kuat menjadikan puasanya pusaran energi kuat, mampu membentuk karakter atau akhlaq pribadi muslim. Memiliki tampilan dan perilaku yang ‘furqan’ (pembeda), yang mempesona dan menggetarkan jiwa.

Kuatnya getaran ibadah puasa dan ibadah lainnya oleh dampak skala pusat energi iman adalah wujud dari motivasi Rasulullah: “Barang siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 2014).

Energi Ramadhan benar-benar menggelorakan energi beribadah dan beramal shaleh. Mampu memotivasi kuat seorang muslim berupaya mengejar ganjaran pahala yang tak terhingga. Membangun optimalisasi kesholehan ‘infiradhi’ (pribadi) serta kepedulian pada umat dengan berbagi kebaikan tanpa batas.

Begitu dahsyat skala getaran Ramadhan, menggetarkan kesadaran kaum muslimin untuk kembali membersihkan dan mengosongkan diri dengan istighfar, memohon ampunan-Nya, lalu diisi dengan amalan kebajikan dan kesholehan.

Selain mampu membangun kesadaran kehambaan, bersimpah sujud dan rukuk kepada-Nya, dengan ibadah wajib dan nawafil. Juga menghidupkan fungsi masjid sebagai episentrum ibadah dan episentrum peradaban Islam.

Betapa tidak, selama ini diluar Ramadhan, kaum muslimin telah disibukkan dengan berbagai urusan keduniaan. Disebabkan oleh magnit power keberkahan Ramadhan, telah memantik kesadaran imannya untuk beramai-ramai ke masjid, mendirikan shalat berjamaah wajib dan tarawih.

Ditambah pula dengan ceramah-ceramah tarawih dan shubuh, mendapatkan pencerahan ilmu tentang bagaimana seorang muslim hidup berkah dan bahagia dengan menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan konsekuen. Membuat semakin bertambah keyakinan dan semangatnya berbuat kebajikan.

Begitu pun lantunan ayat suci Al-quran dan juga nasyid Islami juga terdengar di berbagai tempat. Mulai dari toa-toa masjid, di acara-acara bukaan, hingga ke pusat bisnis serta penjualan bagi kepentingan Ramadhan. Semua menikmati indah dan bahagianya kedatangan Ramadhan berkah.

Sekali lagi, getaran Ramadhan, menciptakan skala kebahagiaan tanpa batas, tidak hanya dinikmati oleh kaum muslimin yang melaksanakan puasa. Tetapi juga memberi keberkahan terhadap aktivitas muamalah di masyarakat secara umum.

Kaum pedagang ikut bergembira, menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan lainnya selama Ramadhan. Merasakan semakin menggeliat ekonominya dan meningkat keuntungannya. Begitu pun layanan jasa lainnya juga ikut merasakan keberkahannya.

Energi kebahagiaan Ramadhan begitu nikmat dirasakan lebih khusus bagi yang melaksanakan ibadah puasa. Dimana tergambar dan terbukti sangat nyata kebenaran seperti apa yang dijanjikan oleh Rasulullah: “Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).

Begitu dahsyatnya energi kebahagiaan Ramadhan, dampak skalanya luas menjangkau semua kalangan. Mulai dari orang dewasa yang tulus ikhlas berpuasa, hingga anak-anak. Bahkan non muslim pun juga ikut merasakan dampak kebahagiaan tersebut .

Getaran Iman itu telah membangun komitmen kaum muslimin, dengan prinsip kuat bahwa tidak boleh ada waktu sedikit pun terluang di bulan Ramadhan, kecuali untuk ibadah dan mengerjakan amalan kesholehan.

Sehingga pada akhirnya mendapatkan keistimewaan dari Allah, dengan ganjaran rezeki kebahagiaan tanpa dihisap dan tanpa batas, sebagaimana firman-Nya: “Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab”. (Q.S Ghafir [40] : 40).(*)

Sempurnanya Iman dengan Tiga Perkara

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Tiada urusan paling penting dan diutamakan bagi muslim selain urusan iman. Sebab dengan imanlah menjadi standar ukuran seseorang bisa selamat dan bahagia ataupun sebaliknya, baik di dunia maupun akhirat.

Keimanan adalah hidayah atau anugerah dari Allah. Imam al Ghazali, mengatakan “Iman adalah cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, sebagai anugerah dan hadiah dari sisi-Nya”.

Allah memiliki sifat Maha Kasih Sayang, dan yang diberikan cinta dan sayang-Nya kepada semua orang serta semua mahluknya. Namun lebih dikhususkan diberikan iman hanya kepada hamba terpilih yang di cinta-Nya

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta”.

Iman tidak datang begitu saja. Iman akan lahir dari proses kesadaran berpikir yang melahirkan keyakinan kuat dan mampu membenarkan keyakinannya. Sebagaimana makna iman yang berarti membenarkan (tashdiq),

Sempurnanya iman ketika seorang muslim memiliki jiwa ‘tashsiq’. Sebagaimana dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS.49:15)

Dari ayat tersebut bisa difahami bahwa iman adalah ”mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dalam perbuatannya”.

Dengan demikian, perkara kesempurnaan iman adalah ketika, pertama, keyakinannya sempurna dari sebuah proses iqra’ (pembacaan) tanpa paksaan.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas pada kata “Sesungguhnya orang-orang yang beriman”, adalah yaitu yang sempurna iman mereka.

Proses kesempurnaan Iman harus melalui proses iqra yang benar. Iman bukan keterwarisan dan bukan pula pemaksaan. Sebab pemaksaan tidak mewariskan keimanan melainkan kepura-puraan (hipokrit).

Kedua, adalah bahwa kesempurnaan iman Itu manakala tidak ragu dengan keimanan yang telah diyakininya “hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu. (Al-Hujurat: 15)

Selanjutnya menurut Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa, “Maksudnya, tidak ragu dan tidak bimbang dalam keimanannya. Bahkan teguh dalam suatu pendirian, yaitu membenarkan dengan setulus-tulusnya”.

Hal itu ditandai dengan getaran jiwa dari kecintaannya pada Allah. Semua aktivitas kesehariannya dan totalitas kehidupannya dipersembahkan hanya untuk Allah semata.

Demikian halnya saat disebut nama Allah dan dibacakan ayat-ayat-Nya hatinya bergetar takut dan hauf, cinta penuh harap. Melebihi cintanya pada siapapun selain-Nya.

Sifat itu sebagaimana tergambar dalam Q.S. Al-Anfal Ayat 2: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”

Dan ketiga, adalah diwujudkan dalam pengorbanan setiap yang diperintahkan Allah. Pengorbanan berupa harta, pikiran, tenaga, waktu bahkan dengan jiwanya. “dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. (Al-Hujurat: 15)

Dari iman yang kokoh dan kuat tanpa sedikitpun keraguan, dengan sendirinya akan tercipta jiwa yang terpanggil memberi pengorbanan yang tinggi. Mereka korbankan diri dan harta benda mereka yang disayanginya untuk ketaatan kepada Allah dan menggapai Rida-Nya.

Komitmen iman seperti ini, memposisikan cinta pada Allah diatas segalanya, baik terhadap harta, jabatan, keluarga bahkan dengan dirinya sendiri.

Kesempurnaan imannya jualah, memposisikan dunia ini bukan tujuan, tapi sebagai alat menggapai tujuan yakin kebahagiaan akhirat yang abadi. Sehingga ketamakannya pada dunia terkalahkan oleh imannya dan kecintaanya pada jihad fisabilillah.

Begitu dahsyat ketika bersemayam kesempurnaan iman itu dalam diri seseorang dari dengan tiga perkara tersebut. Yang disebutkan oleh Allah sebagai Shiddiq, yakin kesempurnaan karena membenarkan imannya dalam wujud nyata dalam kehidupannya.

Terhadap tiga perkara ini, Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Ahmad: “Orang-orang mukmin di dunia ini ada tiga macam, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah; dan orang (mukmin) yang dipercayai oleh orang lain terhadap harta dan jiwa mereka; dan orang (mukmin) yang apabila mempunyai rasa tamak (terhadap sesuatu), maka ia meninggalkannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.”(*)

Perjuangan untuk Kader

0

Oleh : Fatahillah Abu Sitta, Kader Hidayatullah Ketua BMH Maros

HidayatullahSulsel com — Berbicara perjuangan, maka program yang dilaksanakan berfungsi untuk melahirkan dan merawat kader sehingga dia mau menyerahkan nyawanya untuk Islam.

Ini yang menjadi konsentrasi di bumi Maros, kehadiran kita jangan sampai hanya menambah jumlah, tapi harus berbeda dari yang lain, jika sama maka cukup kita ikut bergabung dengan mereka.

Maka basis program yang diangkat, landasannya adalah nilai dalam surah Al Alaq, tujuannya melahirkan kekuatan generasi yang selalu siap tanpa tapi tanpa nanti dan tanpa letih.

Bangunan gerakan yang tsibgoh dari nawaitu yang suci tentu akan memberikan dampak positif signifikan kepada masyarakat, Al qolam menjadi visi utama dalam melakukan gerakan, sehingga ada arah dan landasan dalam bertindak, dalam mengambil keputusan, dan punya target yang memberikan manfaat untuk ummat dan Ummahat, sehingga apa yg nampak bukan lagi pencitraan belaka tapi sebuah syiar yg telah dilakukan jauh hari.

Al Muzammil sebagai syarat utama untuk membentuk kekebalan dan kekuatan internal, untuk menjaga kesehatan jiwa diri, keluarga dan, organisasi, bila halaqoh tidak hadir. Mabit tidak terlaksana, maka poin evaluasi ada di Al Muzammil

Al Mudatsir adalah panduan jitu dalam implementasi dari seluruh proses program dan pergerakan, harga dasar dari langkah kita telah dikuatkan dengan pondasi Al Alaq yang tajam, diperkuat dengan spirit Al Qolam, ditambah dengan Anti bodi bernama Al Muzammil, barulah kita terjun kelapangan menawarkan ke ummat akan nikmatnya makanan Ruhani yang sangat lezat dan bergizi bernama SW.

Insya Allah dengan itu semua akan memberikan hasil yang maksimal untuk lahirnya kader-kader militer langit. Kader yang telah dibentuk dengan niat suci, dan selalu siap berkorban untuk indonesia Maju dan adil Makmur untuk semua.(*)

Jangan Turunkan Standar Target Gapai Kemuliaan Ramadhan

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Ramadhan adalah karunia terbesar bagi hamba-Nya yang beriman. Dan hanya dengan iman yang kuatlah akan timbul kesadaran serta tekad untuk menggapai keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Antusiasme orang beriman menyambut Ramadhan, karena bulan ini memiliki keutamaan dan keistimewaan yang lebih besar dari bulan yang lainnya. Betapa tidak, semua amal soleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih baik dan berlipat ganda.

Keistimewaan Ramadhan itu tergambar dari sabda Rasulullah SAW; “Jika awal Ramadhan tiba, maka setan-­setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadhan); Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu. Pada setiap malam Allah SWT memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka,” (HR Tirmidzi).

Oleh karena itu, kita tak punya alasan untuk tidak menyergap kedatangan bulan yang begitu mulia ini. Kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan.

Anjuran ini selalu melekat pada diri seseorang yang memiliki kualitas iman yang tinggi dan kokoh. Stabilitas imannya jualah yang membuat dia mengupayakan agar Ramadhan tahun ini dapat lebih baik dari sebelumnya.

Agar tetap terjaga iman di dada dan terjaganya antusiasme beramal shaleh di bulan Ramadhan, bahkan mampu lebih meningkat dari Ramadhan sebelumnya.

Beberapa hal mesti dilakukan diantaranya adalah dengan beristighfar sepenuhnya berupa taubatan nasuha. Yakni kesungguhan bertaubat atas segala dosa telah diperbuat sebelumnya. brbrSebagaimana dalam Al-qur’an dikatakan, taubat yang baik adalah taubat nasuha. Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim Ayat 8, “Wahai orang-orang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan tobat nasuha.”

Taubat nasuha sebaiknya diupayakan sebelum memasuki bulan suci Ramadan, agar saat memasuki bulan mulia itu dosa telah diampunkan. Sehingga hati dan jiwa dalam kondisi bersih dan suci dari segala dosa dan noda kemaksiatan, untuk selanjutnya diisi dengan semangat beribadah dan beramal shaleh.

Pentingnya taubat tersebut, sebab bisa jadi dosa pada diri menjadi penghalang untuk mendapatkan kebaikan dan kecintaan beribadah dan berbuat kebajikan, serta ketaatan-ketaatan yang seharusnya kita lakukan. brbrDengan membersihkan dosa dari gangguan ketekunan beribadah sepanjang siang dan malam, disebabkan karena efek dari kemaksiatan yang kita lakukan. Akan menciptakan hati putih bersih dan siap ditorehi dengan berbagai catatan amal kebaikan Ramadhan.

Sebagaimana Rasulullah memotivasi dengan hadist, “Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum’at dengan jum’at berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada diantaranya, apabila tidak melakukan dosa besar,” (HR Muslim).

Kedua, kesungguhan beribadah dengan maksimalkan target secara kuantitas dan kualitas. Ini karena keistimewaan dan kemuliaan Ramadhan yang ganjarannya berlipat ganda. Memberi motivasi umat Islam untuk semakin lebih rajin lagi dalam berbuat kebaikan untuk mendapatkan ganjaran pahala amalan Ramadan.

Standar utama dan pertama adalah iman. yang kokoh. Rasulullah bersabda “Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Iman yang kuat menciptakan kualitas dan kuantitas ibadah, sebagaimana dalam hadits Rasulullah, “Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan.” (HR. Bukhari-Muslim).”

Hendaknya kedatangan Ramadhan disergap dengan program besar dalam ibadah dan dzikir. Berkomitmen untuk menjaga shalat wajib berjamaah, ibadah-ibadah namafil di waktu siang dan malam hari.

Dalam ibadah malam hari umpamanya, semangat bangun malam, shalat tahajud sepertiga malam, sebaiknya lebih dimaksimalkan pelaksanaannya dari pada shalat tarawih yang umum dilakukan setelah shalat Isya.

Sedangkan ketiga, Kepedulian pada umat. Inilah hebatnya ajaran Islam, termasuk Ramadhan. Disamping kemuliaan dengan pahala tertinggi pada ibadah infiradhi (amalan pribadi), juga terdapat ajaran kewajiban pada umat dan masyarakat, berupa kewajiban zakat dan anjuran infaq dan sedekah.

Amalan zakat infaq dan sedekah (ZIS) adakah metode mujarab pengikis kesombongan dan keangkuhan individual, menjadi berkepedulian sosial, serta peka terhadap nasib umat lainnya.

Kedatangan Ramadhan adalah kesempatan emas semakin menguatkan jiwa peduli. Juga mendekatkan gep sosial antara si kaya dan si miskin. Agar sama-sama merasakan kebahagiaan nikmatnya sahur dan berbuka dengan menu yang tak jauh beda.

“Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut,” (HR Ahmad).

Umat Islam yang menggencarkan bersedekah di Ramadhan oleh Rasulullah distimulasi dengan akan menggapai posisi mulia, Rasulullah SAW pernah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah di bulan Ramadhan,” (HR Tirmidzi).(*)

Laznas BMH Sulsel Peduli Masjid

0

HidayatullahSulsel.com — Hujan yang menguyur kota Makassar tidak menyurutkan para santri Al Bayan Hidayatullah Makassar, bergerak ke masjid-masjid di bilangan Tamalanrea.

Setidaknya ada 20 mesjid yang akan disasar oleh sebanyak 150 santri dan relawannbsp; untuk melaksanakan program peduli masjid, dengan fokus kegiatan pembersihan WC dan tempat wudhu, ruang ibadah, atau halaman. brbrKegiatan tersebut secara simbolis dilepas oleh Lurah Tamalanrea, Mirawati SE, didampingi oleh Sekertaris Lurah, dan kepala Bidang kelurahan.

“Ide program bersih-bersih masjid ini menarik, terlebih menjelang datangnya bulan Ramadhan. Dengan adanya relawan maka masjid yang dituju dapat dipastikan kebersihannya dan dapat membuat nyaman ibadah jamaah,” ujar Mirawati.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut para relawan dibekali dengan berbagai alat kebersihan, seperti sapu, sikat, cairan pembersih, alat pel dan termasuk melibatkan tukang AC untuk pencuciannya.

Kadiv Program BMH Basori Shobirin MKom menyampaikan, program ini merupakan kesiagaan dan kesiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan agar masyarakat muslim lebih nyaman beribadah.

Sementara itu, di bulan Ramadhan Laznas BMH telah menyiapkan berbagai program keumatan jika masyarakat yang ingin terlebih dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Laznas BMH dapat datang di kantor layanan Laznas BMH, Jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BSI: 1000258225.(*)

Halaqah Qubra Hidayatullah Sulsel Semarak Sambut Ramadhan

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — DPW dan DMW Hidayatullah Sulsel melaksanakan kegiatan Halaqah Kubra secara Hybrid di Kampus Madya Hidayatullah Parepare, Selasa-Rabu (5-6/3/2024).

Kegiatan dilaksanakan atas kerjasama yang baik antara DPD Hidayatullah Parepare dan KM Hidayatullah Parepare sebagai tuan rumah.

Pelaksana kegiatan oleh Departemen Perkaderan dan Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel.brbr”Halaqah Kubra ini juga dirangkaikan dengan kegiatan Upgrading Dai, launcing HiTravel dan Tarhib Ramadhan,” jelas Kadep Perkaderan DPW Ust Nashrullah Alwi Lc.

Turut hadir dalam acara ini, Murobbi Nasional Ust Ahkam Sumadiana MA, Ketua DPW Ust Nashri Bukhari M.Pd, anggota DMW Ust Ismail Mukhtar dan Ust DR Khairun Misjaya MPd, dan Dirut HiTravel H Muh Kamilul Khuluq.

Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskyaman MM menjelaskan pula kegiatan halaqah qubra dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang tersisa beberapa hari.

Dari pihak eksternal Hidayatullah turut membersamai Ketua DPD PKS Kota Parepare Muh Samsir Husain, Ibu-ibu anggota RQH dan MQH Kota Parepare dan tokoh-tokoh masyarakat.

Acara ini dihadiri kurang lebih 200 peserta dari anggota RQH dan MQH Kota Parepare dan dari Kader Wustha se Ajatappareng-Bosowa.

Ketua DPW Ust Nashri Bukhari berharap lewat acara ini akan terjadi kolaborasi yang kuat antar seluruh elemen masyarakat Kota Parepare dengan Hidayatullah agar menghasilkan dakwah yang rahmatan lil alamin serta mengajak lebih banyak kaum muslimin untuk terlibat dalam kerja-kerja dakwah yang merupakan kewajiban setiap ummat Islam.

Murobbi Nasional Ust Ahkam Sumadiana turut mengingatkan agar militansi dakwah kader-kader Hidayatullah tidak surut karena besarnya ujian dan tantangan, militansi dakwah harus kita miliki sebagai implementasi dari Jatidiri Hidayatullah dan manhaj Sistematika Wahyu yang telah dirumuskan oleh para pendiri Hidayatullah.(Nashrullah Alwi)

Semarak Sambut Ramadhan, Tiga Event Digelar di Parepare bagi Hidayatullah Ajatappareng Bosowasi

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com/strong — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menggelar tiga agenda besar di Kota Parepare, bertempat di Kampus Madya Hidayatullah Parepare, Selasa-Rabu (5-6/3/2024).

Tiga agenda yang terselenggara Halaqoh Kubro, Upgrading Dai, dan Tarhib Ramadhan. Kegiatan menghadirkan pemateri-pemateri dari unsur murobby nasional dan wilayah.

Halaqoh Kubro dan Upgrading Dai dimaksudkan untuk penguatan konsistensi berhalaqoh kader dan juga sebagai penguatan kader da’i sebelum nantinya banyak mengambil peran dakwah dan layanan ummat di bulan Ramadhan nantinya.

Dalam materi penguatan halaqoh, Ustadz Drs Ismail Mukhtar, Anggota Dewan Murobby Hidayatullah Sulawesi Selatan, berpesan jiwa kepemimpinan dalam membangun soliditas ini lahir dari konsistensi berhalaqoh, seorang kader harus merasa butuh berhalaqoh karena di dalamnya terdapat banyak sekali manfaat terutama manajemen keilmuan.

Upgrading Dai dimulai dengan materi murobby nasional Hidayatullah Ustadz Drs Ahkam Sumadiyana MA. Ia menyampaikan terkait hal fundamental dari ukuran militansi kader.

“Seorang kader itu dirinya sudah harus terQur’anisasi, shalat lailnya lama, melakukan ekspansi dakwah, berimamah jama’ah,” jelasnya.

Sedangkan untuk merawat militansi itu jelas Ust Sumadiana, dengan menumbuhkan semangat beramal jariyyah, menata hati untuk tetap ikhlasunniyyah, berbuat karena Allah saja, Sami’na wa atho’na terhadap amanah lembaga.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Drs Nasri Bohari MPd juga turut memberikan penguatan di Upgrading Dai. Ia menyampaikan seorang dai itu harus memiliki keimanan yang menimbulkan keikhlasan serta istiqomah dalam perjuangan.

“Dai juga harus selalu siap menghadapi tantangan dakwah sesuai zamannya dan da’i harus menjadi sosok teladan karena nampak kesholehannya,” urainya.

Di sela acara juga dirangkaikan dengan launching HiTravel sebagai tindak lanjut program kemandirian ekonomi Hidayatullah Sulsel, dan sebagai ikhtiar memudahkan kader Hidayatullah berangkat Umrah. Launching ini dihadiri langsung oleh Dirut HiTrave H Kaamilil Khuluq.

Dalam launching ini didampingi oleh Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Imran Jufri SPd, dan Manajer HiTrave Sulsel Probindo Ustadz Irfan Yahya SPd, mensosialisasikan program ekonomi keummatan dan kelembagaan.

Sementara Tarhib Ramadhan diikuti oleh seluruh kader Hidayatullah Ajatappareng Bosowasi dan binaan Rumah Qur’an DPD Hidayatullah Parepare.

Pemateri dalam Tarhib, Anggota DMW Hidayatullah Sulsel Ustadz Dr. Misjaya Khairun menyampaikan bahwa seorang mukmin adalah mereka yang sentiasa berbahagia dan bersiap menyambut Ramadhan, bekal terbaik menyambut Ramadhan adalah dengan BerQur’an.

“Hendaknya setiap kita betul betul punya manajemen waktu terbaik bersama Al Quran karena Bulan Ramadhan juga dinamakan Bulan Qur’an,” jelasnya.

Ia juga kembali mereview tentang syarat sah rukun puasa.

Yang menarik dari agenda ini adalah pembagian voucher umrah HiTravel kepada peserta yang hadir sebagai komitmen HiTravel untuk menjadi partner kemandirian ekonomi Hidayatullah Sulsel, juga ada hadiah menarik dari Probindo yaitu Pasta Gigi herbal siklus. (Abu Haniyyah)