Beranda blog Halaman 39

Skala Getaran Tanpa Batas (10)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Bahagia dan membahagiakan, terasa nikmat dalam perjalanan dakwah sepekan, menelusuri wilayah selatan di Sulawesi Selatan.

Ketulusan menerima tugas dakwah di wilayah manapun, niscaya akan mengantarkan mujahid dakwah ke pintu kebahagiaan. Termasuk kebahagiaan itu terasa nikmat saat menjalankan tugas dakwah dari Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, dalam paket program Safari Ramadhan di 24 kabupaten-kota di Sulsel.

Walau wilayah tugas kami terbilang daerah yang sering dikunjungi, diantaranya; Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone dan Selayar. Perjalanan dakwah tahun ini menyisahkan kenangan dan hikmah tersendiri.

Di daerah tersebut, kami mendapati banyak pelajaran dari berbagai bentuk perbedaan, baik oleh faktor bahasa, kultur, maupun pemahaman pelaksanaan tata cara beribadah khususnya antara yang belatar belakang pemahan tradisional ataupun reformis.

Namun semuanya dapat hidup berdampingan menjalankan ibadah Ramadhan, dalam suasana aman, damai, penuh dan saling pengertian.

Termasuk perbedaan pilihan dari percaturan politik beberapa bulan lalu, tak memberi dampak serius pada kebersamaan dan ukhuwah diantara kelompok satu dengan yang lainnya. Yang nampak adalah, jama’ah tetap menikmati khusu’nya beribadah dan kebahagiaan beramal shaleh.

Berkat kemuliaan Ramadhan, membuat setiap perbedaan menjadi kekayaan hidup yang dinikmati sebagai kebahagiaan hidup dalam menjalankan syariat Islam. Mungkin juga karena masyarakat semakin tertarbiyyah, menjadikan dapat memahami Islam dengan luas dan dalam. Sehingga tertanam akhlaq baik, saling menghargai, saling memahami dan saling bantu membantu.

Perbedaan itu adalah kekayaan ke-Indonesiaan yang mayoritas muslim. Tentu ini juga adalah berkah dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu. Dan kini tetap terwariskan semangatnya ke para mujahid dakwah muda, yang terus berdakwah tanpa lelah dan tanpa henti. Umat pun akhirnya semakin tercerahkan, semakin arif mengedepankan ukhuwah Islamiah diatas perbedaan pemahaman.

Dipenghujung perjalanan dakwah Tim Safari Ramadhan di Zona Selatan, di-closing dengan ceramah subuh di Masjid Agung Kabupaten Selayar. Setelah itu, kamipun balik kanan, dengan menumpangi kapal fery Selayar-Bira selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke markas dakwah di Makasar, untuk melanjutkan tugas dakwah berikutnya.

Hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan dakwah tersebut, bahwa begitu luasnya jalan dan medan dakwah untuk mengantar diri dan umat menuju pintu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seluas langit dan bumi, hadiah khusus dari Allah bagi para muttaqin (QS.3:133).

Sahabat, Insya Allah kita sepakat, bahwa syurga itu akan diraih dengan kesungguhan penuh. Bukan datang sendiri, seperti judul film lawas “Kejarlah Daku Kau Kutangkap…..” (*)

DPD Hidayatullah Parepare Dakwah Go to Campus UNM

0

Parepare, HidayatullahParepare.com — Ketua DPD Hidayatullah Parepare, ustadz Ahmad Syahril, mengisi materi kultum menjelang berbuka puasa pada kegiatan Upgrading pengurus Biseru 17 di kampus V UNM Kota Parepare, Ahad, 31 Maret 2024 (20 Ramadhan 1445 H)

Biseru 17 merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan UNM Parepare. Kultum dengan tema. Kultum diikuti oleh beberapa dosen pembimbing mahasiswa, mahasiswi aktif dan pengurus Biseru 17.

Menurutnya, pemuda itu identik dengan semangat dan progresif. Auranya selalu ikut andil sebagai agent of change. “Oleh karena itu selayaknya masa muda kita dihiasi dengan isian yang bermutu yaitu ilmu,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, imam Syafii menguraikan karakter pemuda muslim dalam sya’irnya “Hayatul fata wallahi bil ilmi wattuqo, yang utamakan ilmu dan takwa. “Karena jika tidak maka tidak ada sesuatu yang bisa direkeng dalam hidup pemuda itu,” tegas ustadz Ahmad Syahril.

Menurutnya setiap kita ini butuh di-upgrade tidak hanya dalam materi lokal tapi kemudian lebih dari itu yakni upgrade ketakwaan.

“Sudah sepantasnya menjadi rasa syukur kita telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini adalah dengan memanfaatkan setiap detik momen Ramadhan menjadi momen perbaikan upgrade diri untuk menjadi alumni Ramadhan yang sukses yaitu hamba yang mendapat predikat takwa,” rincinya

Ust Syahrir juga pada kesempatan tersebut memaparkan program Qur’an GranD MBA dan berharap ada sinergi dalam program-program keummatan.

Turut hadir membersamai DPD Hidayatulllah Parepare dakwah di kampus ituSekretaris POS Da’i Sulawesi Selatan sebagai Mitra sinergi Dakwah Pelayanan Ummat DPD Hidayatullah Parepare.(Abu Haniyyah)

Skala Getaran Tanpa Batas (9)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Tiada amalan terbaik yang menggetarkan keimanan selain dengan taqarrub Ilallah, berlomba mendekatkan diri kepada-Nya disepuluh terakhir Ramadhan.

Yang memahami kemuliaan perlombaan ini, tidak akan melewatkannya kecuali dengan semakin fokus dan kencang beribadah, berdzikir dan beristighfar kepada-Nya, Bahkan tak sedikit mukminin bemujahadah mengencangkan taqarrubnya dengan beri’tikaf.

Walau disadari bahwa Allah itu memiliki sifat Ghafurun Rahim, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Namun untuk mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala, tak akan didapatkan kecuali dengan bemujahadah bersegera dan berlomba menggapainya. brbrItulah sebabnya Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya yang bertaqwa untuk bersegera mengejar ampunan-Nya. Sebagai mana frman-Nya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Q.S Ali ‘Imran [3] :133).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut: “bahwa Allah menganjurkan mereka agar bersegera mengerjakan kebaikan dan berlomba memperoleh derajat taqarrub”. Adapun menurut Tafsir Muyassar adalah: “berlomba-lombalah kamu dalam mentaati Allah’ dan Rasul-Nya agar meraih ampunan yang besar dari Tuhan kalian.”

Demikian halnya Ali Bin Abi Thalib, mengingatkan kita untuk jangan terlena mengejar dunia, dan menjadilah pengikut perlombaan mengejar akhirat: “Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal”.

Semoga kita termasuk golongan yang beruntung. Karena kita tergolong yang mencontoh semangat Rasulullah di sepuluh akhir Ramadhan, dengan semakin kencang ibadah dan amalianya, bahkan mampu beri’tikaf di masjid dan di rumah bagi muslimah.

Sahabat, di akhir Ramadhan, kita diperhadapkan pada dua pilihan, menjadi pengikut perlombaan taqarrub Ilallah, atau justru kita adalah pengikut perlombaan berburu diskon dan cuci gudang menjelang Hari Raya Idul Fitri….. (*)

Skala Getaran Tanpa Batas (8)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Dahsyatnya sedekah, selain menjadi amalan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bersedekah juga akan memperbaiki hubungan sosial, serta menularkan kebaikan.

Sebaiknya kita simak kisah berikut dalam Kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi, diceritakan. Bahwa suatu masa Aisyah RA membebaskan seorang budak wanita karena merasa kasihan. Meski sudah dibebaskan, budak tersebut ikut ke rumah Aisyah.

Tiba-tiba Malaikat Jibril mendatangi rumah tersebut dan menyampaikan kepada Rasulullah SAW.”Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu! Karena sesungguhnya dia adalah ahli neraka,” kata Jibril.

Rasulullah dengan berhati-hati menyampaikan kata Jibril tersebut ke Aisyah. Dia terkejut dengan omongan Rasulullah, sebab Aisyah mengaku membebaskan budak wanita itu karena iba tanpa mengetahui penyebab budak itu dilabeli ahli neraka.

Dia pun menuruti permintaan Rasulullah dan melepaskan budak tersebut pergi. Namun dia juga membekali budak itu dengan beberapa kurma untuk bekal di perjalanan. Budak itu pergi berurai air mata. Di perjalanan, dia merasa kelaparan dan kelelahan.

Kurma pemberian Aisyah pun dimakan. Namun baru makan satu buah, datang pengemis faqir meminta kurma itu karena belum makan. Iba melihat pengemis tersebut, budak itu ikhlas memberikan semua kurma yang tersisa meski rasa lapar masih bersarang di perutnya.

Tak lama, Jibril kembali ke rumah Nabi Muhammad SAW. Jibril membawa perintah ke Rasulullah mengambil kembali budak wanita itu untuk tinggal di rumahnya. Sedekah telah mengantar budak wanita ahli neraka itu menuju surga.

Kebaikan sekecil apapun akan memberi kebahagiaan kepada yang memberi dan menerima. Malaikat turut mendoakan kepada orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Allah menjanjikan dari setiap kebaikan dalam bentuk apapun dengan diberikan-Nya balasan tak terhingga oleh-Nya, Sebagaimana firman-Nya: “Dan kebaikan apa saja yang engkau perbuat untuk dirimu, niscaya kamu akan memperoleh balasannya di ssi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Muzammil : 20).

Karenanya, selama ada kesempatan berbuat baik, saat lapang atau sempit segera bersedeqah, walau hanya selintas senyum. Tentu tidak sembarang tersenyum. Seperti senyum-senyum sendiri, ini bukan kebaikan, tapi kekhawatiran, boleh jadi terjadi gangguan pada dirinya…… (*)

Skala Getaran Tanpa Batas (7)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Kali ini, kita ingin mengambil hikmah bagaimana sebuah kebaikan walau kecil memberi getaran tanpa batas. Yakni tentang AIR SUSU DIBALAS DENGAN NYAWA.

Kita tentu sangat hafal pepatah Air Susu Dibalas denhan Air Tuba, Tetapi kali ini adalah Air Susu Dibalas dengan Nyawa.

Mari kita simak kisah nyata berikut yang membuat bergetar hati.

Suatu hari, anak seorang lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, di kantongnya hanya tersisa beberapa rupiah uang, tidak cukup untuk beli makanan dan minuman, dia kecapean dan sangat lapar.

Dia memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya.

Akan tetapi, anak tersebut kehilangan keberanian. Saat itu seorang wanita muda membuka pintu rumah.

Anak itu tidak jadi meminta makanan, dia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir, bahwa anak lelaki tersebut pasti lapar, oleh karena itu, dia membawakan segelas susu, dan anak lelaki tersebut meminumnya dengan lambat.

Kemudian dia bertanya: berapa aku harus membayar untuk segelas susu ini? Wanita itu menjawab: Kamu tidak perlu bayar apa pun. “Agama kamin mengajarkan jangan menerima bayaran untuk KEBAIKAN,” kata wanita itu.

Kemudian anak lelaki itu menghabiskan susunya dan berkata: “Terima kasih atas kebaikan Ibu, semoga ALLAH membalas kebaikan yg tulus ini dengan berlipat ganda.” “Sama²… kita saling mendo’akan. Kamu juga harus jadi orang sukses”.

Sekian tahun berlalu ternyata wanita baik hati tersebut mengalami sakit jantung yang sangat serius, para dokter ahli di kotanya sudah tidak sanggup menanganinya.

Akhirnya, wanita baik hati tersebut mereka kirim ke Jakarta dimana ada dokter spesialis jantung yang mampu menangani penyakit jantung yang langka tersebut.

Dokter Spesialis dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Salah satu Dokter mendengar kota asal wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh di hatinya. kok se kampung dengan saya, ya,” kata Dokter.

Ia segera bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit menuju kamar rawat wanita baik hati tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran, dia menemui wanita itu.

Dokter tersebut langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang, terdiam membisu.

Kemudian, Dokter kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu.

Mulai hari itu, Dokter selalu memberikan perhatian khusus untuk kasus wanita tersebut. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.bWanita itu sembuh!

Kemudian, dokter tersebut meminta ke bagian administrasi Rumah Sakit agar mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu kepadanya.

Dokter melihat biaya tagihan dan menulis sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut, lalu mengirimkannya ke kamar pasien wanita tersebut…

Saat menerima resep tagihan, Wanita baik hati itu sangat gelisah sewaktu akan membukanya…

Dia sangat khawatir, tidak akan mampu membayar tagihannya, sekali pun harus dicicil seumur hidupnya.

Namun akhirnya… dia memberanikan diri untuk membuka tagihan tersebut. Ternyata pada pojok atas lembar tagihan, ada tulisan yang menarik perhatian.

Dibacanya tulisan yang berbunyi: TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS SUSU !!! Tertanda: Dokter Spesialis Jantung.

Seketika Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita itu.

Anda tahu, siapa dokter Spesialis tersebut? Dia lah anak penjual asongan yang pernah diberinya segelas susu. Betapa sebuah kebaikan kecil, tapi kebaikannya yang tulus, walau telah lama berlalu, boleh jadi dapat menyelesaikan masalah kita di masa yang akan datang.

Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Q.S Al-Qasas [28] : 84)

Asal tidak berpersepsi, saat memberi infak buka puasa dengan segelas es buah dan beberapa butir kurma, mengharap kelak ada dokter yang menggratiskan saat berobat atau operasi.(*)

Skala Getaran Tanpa Batas (6)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com – Kita lanjutkan obrolan tentang Bismirabbik.

Kita awali dengan pertanyaan, kenapa Allah sengaja tidak memperkenalkan namanya pada ayat pertama di wahyu pertama itu ?. Tapi justru dengan kata bismirabbik, memperkenalkan sifat-Nya ?

Saya dapatkan jawaban menggetarkan dari Ust Anwari Hambali. Bahwa kedudukan bismirabbik pada ayat tersebut adalah ‘taukifi’, hak prerogatif Allah secara tanziliyah dan kandungan ayat, berarti kita tak boleh mempertanyakan kedudukan katanya, tapi boleh memahami makna katanya.

Ust Anwari lanjut menuturkan, untuk lebih mudah memahami maknanya, adalah mengibaratkan kita dalam pesawat besar nan canggih. Kekaguman kita pada pesawat itu tidak langsung mencari tahu siapa pembuatnya. Tapi yang timbul dalam benak kita adalah rasa ingin tahu dulu tentang bagaimana kecanggihan dan kehebatan pesawat tersebut, serta apa nama pesawatnya. Barulah setelah itu, kita mencari tahu siapa gerangan pembuat pesawat canggih itu.

Metode Allah memperkenalkan identitasnya sebelum memperkenalkan nama-Nya sendiri, adalah cara untuk kita lebih faham akan kakekat siapa sesungguhnya Allah itu. Sehingga kita lebih terantar mengenal hakekat Allah yang sesungguhnya, dibalik kebesaran nama-Nya.

Jika dikaitkan dengan keberadaan hidup dan kehidupan kita, maka setiap kali kita ingin sukses dalam di masyarakat, diperlukan interaksi yang baik antara satu dengan yang lainnya. Salah satu kuncinya adalah perlunya ‘lita’arafu’, saling kenal mengenal, baik identitas namanya ataupun sifatnya, karakteristik dan keunikannya.

Ibnul Qayyim menjelaskan pentingnya nama, beliau berkata, “Sesungguhnya pemberian nama pada hakikatnya berfungsi untuk menunjukkan definisi/identitas penyandang nama (yang diberi nama), karena jika ia didapati tanpa diketahui (tanpa nama), maka ia tidak bisa dikenali.”

Karenanya, memahami dengan baik sifat dan edintitas terhadap sebuah nama, dapat menjalin hubungan psikologis dan cinta yang sangat penting dan erat. Hubungan cinta yang menggetarkan tatkala disebut namanya. Sebagaiman halnya ketika dipanggil nama-Nya, maka kita pun dipastikan akan memahami eksistensi-Nya, yang menimbulkan getaran jiwa, semakin mengimani dan mencintai-Nya.

Bagaimana dengan bait, “Mengapa jiwaku mesti bergetar?…..” pada lagu klasik berjudul ‘Lagu Untuk Sebuah Nama’. Tergetarkah perasaan anda mendengarnya ?. Kalau tergetar, berarti mungkin anda penggemar setianya Ebiet G. Ade.(*)

RQH-MQH Se-Parepare Buka Bersama

0

Parepare, HidayatullahSulsel com — Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) se Kota Parepare menggelar buka puasa bersama di RQH Husnul Khotimah, Jalan Phinisi Cappa Galung Kota Parepare, Ahad, 13 Ramadhan 1445 H (24/03/2024).

Bukber perdana itu mengangkat tema “Dengan Bukber Mengikat Hati, Menjalin Silaturahmi di Bulan Penuh Berkah.” selain dihadiri Pengurus Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Gerai Parepare, Pengurus DPD Hidayatullah Parepare, PD Mushida Parepare, juga para asatidz dan santri Hidayatullah Parepare.

Menambah keberkahan buka bersama dirangkai dengan tausyiah oleh ustadz Ahmad Syahril motivasi terkait hamba yang bersyukur, keutamaan bulan Ramadhan serta keutamaan orang-orang yang senantiasa  mempelajari al-Qur’an untuk menjadi pribadi beriman dan bertaqwa.

Menurutnya bahwa salah satu motivasi mengapa semua harus senantiasa semangat dalam mempelajari al-Qur’an sebab orang yang dikehendaki Allah padanya untuk berbuat kebaikan, dan memberi  kemudahan padanya dalam mempelajari al-Qur’an, beramal sholeh, dan bersedekah berarti Allah Ta’ala menginginkan kebaikan padanya termasuk bagi yang semangat hadir dalam silaturahmi buka puasa bersama.

Terakhir, ia mengingatkan kembali (agar seluruh jamaah RQH senantiasa konsisten dalam  mempelajari al-Qur’an sebab kelak di Yaumul Qiyamah akan datang dan mencari para sahabat al-Qur’an.

Dikatakan konsisten atau istiqomah apabila sudah tidak tahu sudah dipertemuan berapa halaqah Qur’annya. Bukanlah suatu kesia-siaan bagi mereka yang telah menyiapkan waktu terbaiknya sekali dalam sepekan untuk mempelajari al-Qur’an diantara adanya kesibukan-kesibukan yang lain.

Selain itu, Ibu Halimah selaku tuan rumah sangat antusias menyambut para tamu buka puasa bersama dan mengharapakan limpahan keberkahan atas jalinan silaturahmi diantara para jamaah RQH Se kota Parepare, “semoga acara buka puasa bersama ini berjalan dengan baik, dan dilimpahkan keberkahan oleh Allah Ta’ala, serta dikabulkannya setiap hajat di pinta kepada-Nya.” Para jamaah turut mengaminkan.brbrAcara Bukber ini pun  dirangkaikan dengan sosialisasi dari Tim BMH Gerai Parepare serta penyerahan al-Qur’an kepada Jamaah RQH Se Kota Parepare.(Sahlah al-Ghumaishaa’)

DPW Sulsel Kembali Gelar Safari Dakwah Ramadhan

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel kembali melaksanakan program rutin tahunan Safari Dakwah di Ramadhan tahunini.

“Safari Dakwah (Safwah) Ramadhan kali ini berlangsung dari 11-20 Ramadhan yang dibagi zona,” jelas Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskyaman, pekan ini.

Zona 1 untuk wilayah Makassar, Maros, Gowa, Pangkep, Takalar, dan Barru menjadwalkan Safwah oleh Ketua Dewan Murrabi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel KH. Abdul Majid MA, Kadep Pengkaderan DPW Ust Nasrullah Alwi Lc, Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel Ust. Abdurrahman Sibghatullah Lc dan Bendahara DPW yang juga Ketua BMH Susel Ust Kadir SPdI MM.

Zona 2 untuk kabupaten Bone, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bohari MPd, Kadep Sosial DPW Ust Armin Karim SHI, Kadep Tarbiyah DPW H Dwi Subagyo SSi dan Ust Muh Erwin SH

Zona 3 untuk Parepare, Pinrang, Enrekang, Sidrap, Wajo, Soppeng bersama Anggota DMW KH. Ismail Mukhtar, Kadep DPW Ust. Anwar Baits SPd, Sekretaris DPW Ust. Sumariadi MPd.I, Ust. Habibi Nursalam B SPd.I dan Ust Muharram SPd.I.

Dan Zona 4 di Palopo, Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Tana Toraja, Toraja Utara bersama anggota DMW KH Dr. Misjaya Muh. Khairun MPd.I, Kadep Ekonomi DPW Ust Imran Djufrie SPd.I dan Ust Reskyaman SW SPd MM, Dr. H. Muh. Iman Hermansyah MPd.I dan Burhanuddin SPd.I.

“Jadi kita libatkan semua pengurus DPW dan DMW, serta para dai di setiap zona, dengan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dari ceramah Ramadhan, kunjungan pondok pesantren Hidayatullah se Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Diharapkan juga dilaksanakan dakwah fardiyah (silaturrahim) dengan tokoh setempat dan warga pedalaman ceramah subuh, mengisi materi pesantren kilat hingga buka puasa bersama pejabat kota/kabupaten setempat.

Selain dilaksanakan di masjid besar seperti masjid agung, masjid raya juga, tambahnya, Safwah pada Ramadhan ini tetap dilaksanakan di masjid-masjid di pedalaman dan pegunungan maupun masjid-masjid instansi seperti perusahaan dan lainnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bukhari menambahkan, Safwah selain sebagai dakwah dan tarbiyah memanfaatkan momentum Ramadhan juga untuk semakin mendekatkan Hidayatullah dengan masyarakat.

“Terutama di wilayah minoritas Islam seperti daerah Toraja dan sekitar yang sudah ada Hidayatullah di sana. Kehadiran pengurus DPW dan DMW juga akan menambah spirit dakwah para da’i kita,” ujarnya.(*/fir)

Skala Getaran Tanpa Batas (5)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Saat kegalauan mencari inspirasi untuk terus menulis, saya terngiang dengan motivasi Allahu Yarham Ust Anshar Amiruddin. Dia katakan, seorang ustadz itu tak akan kehabisan materi karena banyak betul tema menarik dalam Al-Qur’an. Bukankah Al-Qur’an itu isinya 114 surat dan lebih 6000 ayat.

Untuk itu, ada baiknya kita lanjutkan pembahasan tentang iqra’, atau membaca sebagai sesuatu yang menggetarkan. Tentu sebelumnya kita perlu bertanya dulu, iqra’ manakah yang menggetarkan itu ?

Sebab kalau sekadar iqra’, maka kita bisa katakan, mengapa banyak orang be-riqra’brkita temui dengan sebaik-baik iqra’, tapi tak mampu menggetarkan jiwanya, apalagi menggetarkan orang lain.

Letak pembedanya adalah pada kata tambahannya dari iqro’, yakni ‘bismirabbik’, artinya dengan nama Tuhan, sebagaimana dalam firman-Nya di QS Al-Alaq;1. Yakni Iqra’ yang dilakukan adalah dengan mengatas namakan Rabb atau tuhan pencipta dan pengatur.

Kita tinjau dulu ‘iqra’ bismirabbik’ dari aspek bahasa. Iqra’ adalah fi’il amr (kata kerja perintah) dengan fa’il-nya (pihak yang memerintah) adalah Allah subhaanahu wata’aala sebagai Rabb.

Sedangkan, ‘bismirabbik’ menjadi hal (keterangan kondisi) dari iqra. Sehingga, kata bismirabbik tidak boleh terpisahkan dari kata iqra’ itu sendiri. Sebab iqra’ tanpa bismirabbik, maka iqra yang dilakukan seseorang tidaklah sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

Itulah sebabnya iqra akan bermakna dan memiliki getaran manakala digandengkan dengan bismirabbik. Demikian halnya ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an lainnya, maka efek bacaannya niscaya menggetarkan.

Untuk itu momentum Ramadhan ini, kita berupaya mengantar diri kita menjadi diri yang asyik dan bahagia membaca. Khususnya menikmati indah dan dalamnya makna-makna kandungan Al-Qur’an. Niscaya akan terasa dentuman getarannya terhadap kesadaran berfikir, bersikap dan dalam bermuamalah dengan lingkungan sekitar.

Ada pengalaman menarik ketika masih SD, bagaimana jantung bergetar a’dumba-a’dumba’ membaca Al-Qur’an. Saat dipanggil namaku tampil membaca ayat suci Al-Qur’an di MTQ tingkat desa. Tapi, Alhamdulillah dapat juga juara lll, karena kebetulan cuma tiga orang ji pesertanya.(*)

Skala Getaran Tanpa Batasan (4)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Getaran pertanda masih adanya kehidupan. Sekalipun diam tak bergerak sama sekali, setelah dicek masih ada getaran nadi, berarti masih dianggap hidup.

Jantung kalau masih berdetak berarti masih hidup dan memberi kehidupan. Getaran nadi pertanda masih berfungsinya pusat getaran pada jantung. Sehat dan prima seseorang tergantung kuat dan stabil detakan jantungnya.

Dalam tinjauan jasmani jantung adalah pusat getaran, dan secara ruhiyyah esensi kehidupan manusia berpusat pada hati dan jiwanya. Untuk memahami esensi kehidupan ini diperlukan cara tepat dan efektif.

Oleh Al-Qur’an dituntun dengan satu kata, yakni iqra’. Yang berarti membaca, merenungkan, mengkaji dan meneliti. Lebih jelasnya bisa dipelajari secara baik di QS.Al-Alaq:1-5.

Uniknya kata Iqra pada ayat tersebut, terdapat di surat pertama, di kalimat pertama dan wakyu pertama pula. Eksistensi iqra’ di ayat itu ternyata memiliki kekuatan dahsyat, baik dari makna perintah, kandungan maupun positioning ayatnya.

Wajar jika Rasulullah Muhammad saat menerima wahyu pertama itu, jiwanya ketakutan dan goncang serta gemetaran berat, sampai menggigil. Sampai-sampai ketika malaikat Jibril menyuruh membaca ayat itu, Muhammad tidak mampu membacanya.

Ketakutan dan beratnya membaca disebabkan beradunya dua beban. Beban konsekuen logis dari wahyu itu, serta ketidakmampuan Muhammad membaca, karena ke-ummy-annya

Nantilah setelah Jibril merangkul dan menuntunnya, barulah Muhammad mampu membacanya dengan baik. Dan lebih tercerahkan hatinya setelah mendapatkan penjelasan Waraqah bin Naufal, bahwa ayat tersebut pertanda pelantikan kerasulannya. Yang menuntut persiapan mental mengembang amanah yang tak ringan.

Pembaca yang budiman. Kehadiran Ramadhan mengkondisikan muslimin syahdu mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, yang dengan iman yang bersemi di dada akan tergetar hati saat mendengarkannya.

Cuman ada kekhawatiran, jangan sampai ada yang hatinya lebih tergetar apabila mendengar lagu romantis nostalgia dari pada mendengar ayat Al-Qur’an. Ini boleh jadi pertanda problem masa lalunya belum tuntas nih.(*)